Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

KASUS MATA
CORPUS ALIENUM MATA
Laporan kasus ini diajukan dalam rangka praktek dokter internsip sekaligus
sebagai bagian persyaratan menyelesaikan program internsip di
RSUD Kanjuruhan, Kepanjen, Malang

Diajukan kepada:
dr. Hendryk Kwandang, M.Kes (Pembimbing IGD dan Rawat Inap)
dr. Benediktus Setyo Untoro (Pembimbing Rawat Jalan)
Disusun oleh:
dr. Lilycia Elisabeth L

RSUD KANJURUHAN KEPANJEN


KABUPATEN MALANG
2016

HALAMAN PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS
KASUS MATA

CORPUS ALIENUM MATA

Laporan kasus ini diajukan dalam rangka praktek dokter internsip sekaligus
sebagai bagian persyaratan menyelesaikan program internsip di
RSUD Kanjuruhan, Kepanjen, Malang

Telah diperiksa dan disetujui


pada tanggal :

Oleh :
Dokter Pembimbing Instalasi Gawat Darurat dan Rawat Inap

dr. Hendryk Kwandang, M.Kes

ii

HALAMAN PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS
KASUS MATA

CORPUS ALIENUM MATA

Laporan kasus ini diajukan dalam rangka praktek dokter internsip sekaligus
sebagai bagian persyaratan menyelesaikan program internsip di
RSUD Kanjuruhan, Kepanjen, Malang

Telah diperiksa dan disetujui


pada tanggal :

Oleh :
Dokter Pembimbing Rawat Jalan

dr. Benediktus Setyo Untoro

iii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Bapa di surga atas bimbinganNya sehingga penulis telah
berhasil menyelesaikan portofolio laporan kasus yang berjudul CORPUS ALIENUM
MATA. Dalam penyelesaian portofolio laporan kasus ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih yang tak terhingga kepada:


1. dr.Hendryk Kwandang, M.Kes selaku dokter pembimbing instalasi gawat
darurat dan rawat inap
2. dr. Benediktus Setyo Untoro selaku dokter pembimbing rawat jalan
3. dr. Antarestawati, dr. Anita Ikawati, dr. Janny Fajar Dita, dan dr. Romualdus
Redy Wibowo selaku dokter jaga dua
4. Serta paramedis yang selalu membimbing dan membantu penulis.
Portofolio laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan
kerendahan hati penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharapkan
saran dan kritik yang membangun. Semoga laporan kasus ini dapat menambah
wawasan dan bermanfaat bagi semua pihak.

Kepanjen, Agustus 2016

Penulis

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI......................................................................................................2
BAB 1 LATAR BELAKANG.............................................................................3
BAB 2 LAPORAN KASUS...............................................................................4
2.1 Identitas Pasien.........................................................................................4
2.2 Anamnesa..................................................................................................4
2.3 Pemeriksaan..............................................................................................5
2.4 Assesment.................................................................................................6
2.5 Terapi.............................................................................6
BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................7
3.1 Definisi.......................................................................................................7
3.2 Etiologi.......................................................................................................8
3.3 Faktor Predisposisi...................................................................................9
3.4 Klasifikasi .................................................................................................9
3.5 Tanda dan Gejala......................................................................................10
3.6 Patofisologi...............................................................................................10
3.7 Gambaran Klinik.......................................................................................11
3.8 Diagnosis..................................................................................................11
3.9 Penatalaksaan..........................................................................................11
3.10 Pencegahan dan Komplikasi................................................................13
BAB 4 PEMBAHASAN....................................................................................14
BAB 5 KESIMPULAN......................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................16

BAB 1 LATAR BELAKANG

Corpus alienum adalah benda asing. Istilah ini sering digunakan dalam istilah
medis. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering mengenai
sclera, kornea, dan konjungtiva. Trauma mata adalah cidera mata yang dapat
mengakibatkan kelainan mata.
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, tetapi beberapa cedera bisa berakibat
serius . Apabila suatu korpus alienum masuk ke dalam bola mata maka biasanya
terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata dan terjadi
iridocylitis serta panophthmitis. Karena itu perlu cepat mengenali benda asing
tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk kemudian
mengeluarkannya.
Beratnya kerusakan pada organ organ di dalam bola mata tergantung dari
besarnya corpus alienum, kecepatannya masuk, ada atau tidaknya proses infeksi
dan jenis bendanya sendiri.Bila ini berada pada segmen depan dari bola mata, hal
ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila benda ini terdapat di dalam
segmen belakang.

BAB 2 LAPORAN KASUS


2.1 Identitas Pasien
Nama

: Rosyadi

Usia

: 44 tahun

Jenis Kelamin

: Pria

Status Perkawinan : Menikah


Pekerjaan

: Swasta

Agama

: Islam

Tanggal periksa

: 23 agustus 2016

Nomor RM

: 410125

2.2 Anamnesa
2.2.1 Keluhan Utama
Mata kiri terasa mengganjal.
2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli mata dengan keluhan mata kirinya terasa mengganjal
sejak 2 hari yang lalu. Awalnya saat pasien melakukan pekerjaannya yaitu
sebagai tukang las, lalu pasien merasakan sesuatu masuk ke dalam mata
kirinya, saat itu pasien merasakan kelilipan dan mata kirinya terasa pedas,
nyeri dan keluar air mata terus menerus. Mata merah (+), pandangan kabur
(-), nyeri (+), pedas (-), gatal (-), belekan (-), pusing (-), silau (-) sejak 2 hari
yang lalu. Pasien tidak berani mengucek matanya. Pasien mengaku
sebelumnya belum menggunakan obat apapun untuk mengatasi keluhannya
tersebut.

2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat darah tinggi

: disangkal

Riwayat kencing manis

: disangkal

Riwayat alergi obat / makanan: disangkal

Riwayat pakai kacamata

: disangkal

Riwayat trauma mata

: disangkal
4

Riwayat konsumsi obat-obat mata: disangkal

2.2.4 Riwayat Pengobatan


Pasien tidak meminum obat apapun untuk mengobati matanya.
2.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat darah tinggi

: disangkal

Riwayat kencing manis

: disangkal

Riwayat alergi obat / makanan: disangkal

Riwayat pakai kacamata

: disangkal

2.2.6 Riwayat Sosial


Pasien saat ini bekerja sebagai tukang las.
2.3. Pemeriksaan
3.1 Pemeriksaan pada Tingkat Individu
3.1.1 Pemeriksaan Fisik
- Status Generalis
KU: tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis GCS 456
Tax: 36,8C

TD: 120/80 mmHg

Nadi: 84 x/m

-Status Ophthalmology

1.0

VISUS

0.5

POSISI BM
Orthoporia
GERAKAN BM
Oedem (-), spasme (-) PALPEBRA

Oedem (-), spasme (-)

CI (-), PCI (-),

CI (+), PCI (-)

jernih,

CONJUNCTIVA

infiltrat(-), CORNEA

cicatrix(-)

jernih,
cicatrix(-),

infiltrat(-),
corpus

alienum (+) parasentral


jam 5,
Dalam

C.O.A.

Dalam

Rad line (+)

IRIS

Rad line (+)

Bulat, 3mm, RP (+), PUPIL

Bulat, 3mm, RP (+)

Jernih

LENSA

Jernih

n/p

T.I.O.

n/p

2.4 Assesment

Diagnosa

: Corpus alienum OS ec gram

2.5 Terapi
Ekstraksi corpus alineum
Pasien diberikan pengobatan berupa:
Bralifex tetes mata 6 x gtt 1 OS
Protagenta tetes mata 6 x gtt 1 OS
KIE
-

Menjelaskan ke pasien mengenai Corpus alienum serta komplikasinya


Tidak mengucek mata
Menggunakan kacamata atau Google saat bekerja
Kontrol kembali saat obat sudah habis

BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Corpus alienum adalah benda asing. Istilah ini sering digunakan dalam istilah
medis. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering mengenai
sclera, kornea, dan konjungtiva. Trauma mata adalah cidera mata yang dapat
mengakibatkan kelainan mata.
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, tetapi beberapa cedera bisa berakibat
serius . Apabila suatu korpus alienum masuk ke dalam bola mata maka biasanya
terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata dan terjadi
iridocylitis serta panophthmitis. Karena itu perlu cepat mengenali benda asing
tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk kemudian
mengeluarkannya.

Beratnya kerusakan pada organ organ di dalam bola mata tergantung dari
besarnya corpus alienum, kecepatannya masuk, ada atau tidaknya proses infeksi
dan jenis bendanya sendiri. Bila ini berada pada segmen depan dari bola mata, hal
ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila benda ini terdapat di dalam
segmen belakang. Oleh karena itu, perlu cepat mengenali benda tersebut dan
menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk kemudian mengeluarkannya Jika
suatu benda masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi salah satu dari ketiga
perubahan berikut :
1. Mecanical effect
Benda yang masuk ke dalam bola mata hingga melalui kornea ataupun
sclera. Setelah benda ini menembus kornea maka ia masuk ke dalam kamera oculi
anterior dan mengendap ke dasar. Bila kecil sekali dapat mengendap di dalam sudut
bilik mata. Bila benda ini terus, maka ia akan menembus iris dan kalau mengenai
lensa mata akan terjadi katarak traumatik. Benda ini bisa juga tinggal di dalam
corpus vitreus. Bila benda ini melekat di retina biasanya kelihatan sebagai bagian
yang dikelilingi oleh eksudat yang berwarna putih serta adanya endapan sel sel
darah merah, akhirnya terjadi degenerasi retina.

2. Permulaan terjadinya proses infeksi


Dengan masuknya benda asing ke dalam bola mata kemungkinan akan
timbul infeksi. Corpus vitreus dan lensa dapat merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan kuman sehingga sering timbul infeksi supuratif. Juga kita tidak boleh
melupakan infeksi kuman tetanus.
3. Terjadi perubahan perubahan spesifik pada jaringan mata karena proses
kimiawi ( reaction of ocular tissue )
Jenis Benda Asing pada Mata

Benda logam
Terbagi menjadi benda logam magnit dan bukan magnit
Contoh : emas, perak, timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga, besi.

Benda bukan logam


8

Contoh : batu, kaca, porselin, karbon, bahan pakaian dan bulu mata.

Benda Insert
Adalah benda yang terdiri atas bahan bahan yang tidak menimbulkan reaksi
jaringan mata, ataupun jika ada reaksinya sangat ringan dan tidak
mengganggu fungsi mata.
Contoh : emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, plastik tertentu

Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi


jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam,
seng, nikel, alumunium, tembaga

Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari 4 :


a.
b.
c.
d.

Besarnya corpus alienum,


Kecepatan masuknya,
Ada atau tidaknya proses infeksi,
Jenis bendanya.

3.2 Etiologi
Trauma mata dapat terjadi secara mekani dan non mekanik
Mekanik, meliputi :
a. Trauma oleh benda tumpul, misalnya :
1).

Terkena tonjokan tangan

2).

Terkena lemparan batu

3).

Terkena lemparan bola

4).

Terkena jepretan ketapel, dan lain-lain

b. Trauma oleh benda tajam, misalnya:


1).

Terkena pecahan kaca

2).

Terkena pensil, lidi, pisau, besi, kayu

3).

Terkena kail, lempengan alumunium, seng, alat mesin tenun.

c. Trauma oleh benda asing, misalnya:


Kelilipan pasir, tanah, abu gosok dan lain-lain
Non Mekanik, meliputi :
a. Trauma oleh bahan kimia:
1).

Air accu, asam cuka, cairan HCL, air keras

2).

Coustic soda, kaporit, jodium tincture, baygon

3).

Bahan pengeras bakso, semprotan bisa ular, getah papaya,

miyak putih
b. Trauma termik (hipermetik)
1).

Terkena percikan api

2).

Terkena air panas

c. Trauma Radiasi
1).

Sinar ultra violet

2).

Sinar infra merah

3).

Sinar ionisasi dan sinar X

3.3 Faktor Predisposisi


Mengendarai motor tanpa menggunakan helm yang disertai kaca penutup

Berjalan

dibawah

terik

matahari

dalam

waktu

begitu

lama

tanpa

menggunakan topi atau kaca mata pelindung

pekerja las dalam pekerjaannya tanpa menggunakan kaca pelindung mata

3.4 Klasifikasi
Berdasarkan keparahannya trauma mata diklasifikasi sebagai berikut:

Trauma Ringan
a. Trauma disembuhkan tanpa tindakan atau pengobatan yang berarti
b. Kekerungan ringan pada kornea
c. Pragnosis baik

Trauma sedang
a. Kekeruhan kornea sehingga detail iris tidak dapat dilihat, tapi pupil
masih tampak
b. Iskemik mekrosis pada konjungtiva dan sklera
c. Pragnosis sedang

Trauma berat
a. Kekeruhan kornea sehingga pupil tidak dapat dinilai
b. Konjungtiva dan sklera sangat pucat karena istemik nekrosis berat
c. Pragnosis buruk

10

3.5 Tanda Dan Gejala


Ekstra Okular
a.

Mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata

b.

Ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea, oleh


kedipan bola mata.

c.

Lakrimasi hebat.

d.

Benda asing dapat bersarang dalam torniks atas atau konungtiva

e.

Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat

Infra Okuler
a.

Kerusakan pada tempat masuknya mungkin dapat terlihat di kornea,


tetapi benda asing bisa saja masuk ke ruang posterior atau limbus
melalui konjungtiva maupun sklera.

b.

Bila menembus lensa atau iris, lubang mungkin terlihat dan dapat terjadi
katarak.

c.

Masalah lain diantaranya infeksi skunder dan reaksi jaringan mata


terhadap zat kimia yang terkandung misalnya dapat terjadi siderosis.

3.6 Patofisiologi
Benda asing di kornea secara umum masuk ke kategori trauma mata ringan.
Benda asing dapat bersarang (menetap) di epitel kornea atau stroma bila benda
asing tersebut diproyeksikan ke arah mata dengan kekuatan yang besar.4
Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi, mengakibatkan
dilatasi pembuluh darah dan kemudian menyebabkan edem pada kelopak mata,
konjungtiva dan kornea. Sel darah putih juga dilepaskan, mengakibatkan reaksi
pada kamera okuli anterior dan terdapat infiltrate kornea. Jika tidak dihilangkan,
benda asing dapat menyebabkan infeksi dan nekrosis jaringan. 4

3.7 Gambaran Klinik


Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, sensasi benda asing, fotofobia, mata
merah dan mata berair banyak. Dalam pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus
normal atau menurun, adanya injeksi konjungtiva atau injeksi silar, terdapat benda
asing pada bola mata, fluorescein (+) 3,4.

11

3.8 Diagnosis
Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan dengan 4 :
1) Anamnesis kejadian trauma
2) Pemeriksaan tajamm penglihatan kedua mata
3) Pemeriksaan dengan oftalmoskop
4) Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
5) Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita

3.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing tersebut dari
bola mata. Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva, kornea
maka dengan mudah dapat dilepaskan setelah pemberian anatesi lokal. Untuk
mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau jarum suntik tumpul atau tajam. Arah
pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda bersifat magnetik, maka dapat
dikeluarkan dengan magnet portable. Kemudian diberi antibiotik lokal, siklopegik,
dan mata dibebat dengan kassa steril dan diperban 3.
Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di
limbus, melalui insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk menarik benda
asing, bila tidak berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung
benda asing tersebut3.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan
dengan magnit sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik
dengan magnit, sesudah insisi pada limbus kornea, jika tidak berhasil dapat
dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi linier untuk usia muda dan ekstraksi
ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia yang tua 2,3.
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan
dengan giant magnit setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan
dengan operasi vitrektomi.
Setelah dilakukan ekstraksi corpal, dapat dilakukan terapi berikut
1. Antibiotik
Untuk mencegah superinfeksi.

Namun, tidak ada bukti yang mendukung

penggunaannya dalam cacat kornea superfisial setelah pengangkatan benda asing.


Salep antibiotik tetes mata (misalnya, bacitracin, ciprofloxacin) memiliki keuntungan
oleh berfungsi sebagai pelumas. Pastikan untuk memilih antibiotik fluorokuinolon jika
pasien memakai lensa kontak, karena risiko infeksi Pseudomonas lebih tinggi. Solusi
oftalmik (misalnya, sulfacetamide, ofloksasin) lebih mudah untuk menerapkan dan,
12

karena itu, meningkatkan kepatuhan pasien. Solusi mata kortikosteroid atau salep
harus dihindari karena mereka meningkatkan kemungkinan superinfeksi dan
penyembuhan lambat
2. Kontrol nyeri
Anestesi topikal memperpanjang penyembuhan epitel dan tidak boleh diresepkan
untuk menghilangkan rasa sakit. Agen analgesik opioid (misalnya, hydrocodone /
acetaminophen [Vicodin], oxycodone / acetaminophen [Percocet]) dapat digunakan
untuk menghilangkan rasa sakit dan telah ditemukan untuk memungkinkan pasien
untuk tidur lebih nyaman di malam hari. Obat antiinflamasi non steroid (NSAID)
solusi oftalmik (misalnya, ketorolak) dapat memberikan bantuan nyeri yang signifikan
dan

belum

ditemukan

untuk

memperlambat

penyembuhan.

3. Patching
Penggunaan patching telah menjadi kontroversi. Baru-baru ini, penelitian telah
menunjukkan bahwa lecet kornea akibat benda asing yang terbaik diobati tanpa
patching mata. Pasien dicatat penyembuhan lebih cepat, visi kurang kabur, dan
bahkan kurang rasa sakit tanpa penutup mata. Tambahkan kurangnya manfaat
terbukti ketidaknyamanan pasien, dan satu-satunya alasan yang mungkin untuk
menggunakan penutup mata adalah untuk melindungi lecet yang mencakup lebih
dari 50% dari kornea.
4. Vaksinasi tetanus
Ini harus diberikan kepada setiap pasien dengan benda asing intraokular atau
cedera yang menembus kornea atau sklera.
5. Tes Seidel
Gunakan tes Seidel untuk mencari penetrasi bola mata tersembunyi ketika tidak
jelas. Dalam kasus tanda Seidel positif, humor aqueous mengalir di lokasi penetrasi
melalui kornea muncul di bawah sinar ultraviolet sebagai "air terjun gelap,"
menyingkirkan kelebihan fluorescein pada kornea. Sebuah Seidel tanda positif
menunjukkan penetrasi bola mata dan membutuhkan konsultasi oftalmologi.
Mendokumentasikan Seidel tanda negatif setelah penghapusan benda asing kornea
adalah praktik yang baik, terutama setelah menggunakan alat yang tajam,
mengkonfirmasi bahwa tidak ada penetrasi iatrogenik kornea terjadi selama proses
ekstraksi.

13

3.10 Pencegahan dan Kompilkasi


Pencegahan agar tidak masuknya benda asing ke dalam mata, baik dalam
bekerja atau berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata pelindung 4.
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi, kedalaman, dan
efek dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di bagian sentral
dimana fokus cahaya pada kornea dijatuhkan, maka akan dapat mempengaruhi
visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum yang mengenai kornea
merupakan benda inert dan reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa timbul jika
menembus cukup dalam2,3,4.
Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder
seperti inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada media
refraksi yang berarti, prognosis bagi pasien adalah baik 2,3,4.

14

BAB 4 PEMBAHASAN
Pada pasien ini ditegakkan diagnosis corpus alienum OS ec gram Penegakan
diagnosa ini didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pada anamese, pasien mengeluh mata kirinya terasa mengganjal sejak 2 hari
yang lalu. Awalnya saat pasien melakukan pekerjaannya yaitu sebagai tukang las,
lalu pasien merasakan sesuatu masuk ke dalam mata kirinya, saat itu pasien
merasakan kelilipan dan mata kirinya terasa pedas, nyeri dan keluar air mata terus
menerus.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan gram pada kornea mata kiri, di parasentral
arah jam 5.
Pada pasien ini dilakukan ekstraksi kornea dengan ara diberi tetes pantokain
dahulu, setelah 5 menit diteteskan, corpal diambil dengan needle spuit 1cc (26g).
Terapi yang diberikan pada pasien ini setelah dilakukan extraksi kornea adalah
Bralifex tetes mata 6 x gtt 1 OS
Protagenta tetes mata 6 x gtt 1 OS
Bralifex tetes mata berfungsi sebagai antibiotic dan untuk mengurangi inflamasi.
Protagenta sebagai terapi tambahan agar mata pasien tetap licin sehingga
reepitelisasi lebih cepat.

15

BAB 5 KESIMPULAN
Corpus alienum adalah benda asing, merupakan salah satu penyebab
terjadinya cedera mata, sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva. Meskipun
kebanyakan bersifat ringan, beberapa cedera bisa berakibat serius. Apabila suatu
corpus alienum masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi reaksi infeksi yang
hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata. Oleh karena itu, perlu cepat
mengenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk
kemudian mengeluarkannya.
Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan dengan 4 :
- Anamnesis kejadian trauma
- Pemeriksaan tajamm penglihatan kedua mata
- Pemeriksaan dengan oftalmoskop
- Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
- Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita
Pencegahannya adaah agar tidak masuknya benda asing ke dalam mata,
baik dalam bekerja atau berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata
pelindung4.
Jika ukuran corpal besar, terletak di bagian sentral dimana fokus cahaya pada
kornea dijatuhkan, maka akan dapat mempengaruhi visus. Reaksi inflamasi juga
bisa terjadi jika corpus alienum yang mengenai kornea merupakan benda inert dan
reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup dalam 2,3,4.
Bila ukuran corpal tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder seperti
inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada media refraksi
yang berarti, prognosis bagi pasien adalah baik

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. 2008. Balai Penerbit FKUI Jakarta.
16

2. Anonim, 2008. Trauma Mata, diakses online pada 15 Oktober 2016,


http://www.rsmyap.com/component/option,com_frontpage/Itemid,1/
3. Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum, Edisi 17. 2010. Widya Medika Jakarta.
4. Bashour M., 2008. Corneal Foreign Body, diakses online pada 15 Oktober
2016, http://emedicine.medscape.com/ article/
5. Jason Wright, 2013, Corpus Alienum pada Mata, diakses online pada 15 Oktober
2016, https://www.scribd.com/doc/214155201/Corpus-Alienum

17