Anda di halaman 1dari 6

STRUKTUR BETON PRATEGANG STATIS TAK TENTU

Seperti pada

beton bertulang dan bahan structural lainnya,

kontinuitas dapat terjadi di tumpuan-tumpuan antara pada balok menerus


dan dipertemuan balok dan kolom pada portal. Reduksi momen dan
tegangan di tengah bentang dengan cara desain system yang menerus
akan menghasilkan komponen struktur dengan tinggi lebih kecil sekaligus
mempunyai kekakuan lebih besar dan defleksi lebih kecil dibandingkan
dengan komponen struktur yang ditumpu sederhana dengan bentang dan
beban yang sama.
Dengan demikian, struktur yang lebih ringan dengan pondasi yang
lebih ringan pula akan menghasilkan harga bahan dan biaya pelaksanaan
yang lebih rendah. Selain itu, kestabilan structural dan tahanan terhadap
beban lateral dan longitudinal biasanya akan meningkat. Karena itu, rasio
bentang terhadap tinggi juga lebih besar, bergantung pada jenis system
kontinu yang sedang ditinjau. Untuk plat datar menerus, rasio antara 40
sampai 45 biasanya dapat dipakai, sedangkan untuk balok boks rasio
tersebut dapat diantara 25 sampai 30.
Keuntungan lain dari penggunaan struktur yang kontinu adalah
tidak adanya angker ditumpuan antara dengan cara menggunakan
pascatarik melalui beberapa bentang, sehingga mengurangi biaya bahan
dan pelaksanaan.
Kerugian kontinuitas pada beton prategang
Ada beberapa kerugian dalam menggunakan elemen prategang kontinu :
1. Kehilangan gesekan lebih besar karena tendonnya lebih panjang
dan lebih banyak mempunyai lengkungan.
2. Adanya momen dan geser ditumpuan, yang berarti mengurangi
kekuatan momen di penampang di daerah tumpuan.
3. Momen dan gaya-gaya lateral yang berlebihan di kolom, khususnya
jika kolom tersebut dihubungkan secara kaku dengan balok. Gaya-

gaya

ini

disebabkan

oleh

perpendekan

elastis

pada

balok

berbentang panjang yang mengalami prategang.


4. Efek tegangan sekunder yang besar akibat susut, rangkak, variasi
temperature dan penurunan tumpuan.
5. Momen sekunder akibat reaksi di kolom yang diakibatkan oleh gaya
prategang.
6. Kemungkinan

terjadinya

momen

yang

berbalik

arah

akibat

pembebanan di bentang yang berganti-ganti.


7. Nilai momen di tumpuan antara yang membutuhkan penulangan
tambahan di tumpuan, yang mungkin tidak dibutuhkan pada balok
yang ditumpu sederhana.

A. Metode Pratekan
Untuk memberikan tekanan pada beton pratekan dilakukan sebelum
atau setelah beton dicetak/dicor. Kedua kondisi tersebut mebedakan
sistem pratekan, yaitu Pre-Tension (pratarik) dan Post-Tension (pascatarik).

Pratarik
Pada cara ini, tendon pertama-tama ditarik dan diangkur pada

abutmen tetap. Beton dicor pada cetakan yang sudah disediakan dengan
melingkupi tendon yang sudah ditarik tersebut. Jika kekuatan beton sudah
mencapai yang disyaratkan maka tendon dipotong atau angkurnya
dilepas. Pada saat baja yang ditarik berusaha untuk berkontraksi, beton
akan tertekan. Pada cara ini tidak digunakan selongsong tendon.

Pascatarik
Dengan cara yang sudah disediakan, beton di cor disekeliling

selongsong (ducts). Posisi selongsong diatur sesuai dengan bidang


momen dari struktur. Biasanya baja tendon tetap berada didalam
selongsong selama pengecoran. Jika beton sudah mencapai kekuatan
tertentu, tendon ditarik. Tendon bisa ditarik disatu sisi dan sisi yang lain
diangkur. Atau tendon ditarik di dua sisi dan diangkur secara bersamaan.
Beton menjadi tertekan setelah pengangkuran.
B. Tahap Pembebanan

Tidak seperti beton bertulang, beton pratekan mengalami beberapa


tahap pembebanan. Pada setiap tahap pembebanan harus dilakukan
pengecekan atas kondisi serat tertarik dari setiap penampang. Pada tahap
tersebut berlaku tegangan ijin yang berbeda-beda sesuai kondisi beton
atau tendon. Ada dua tahap pembebanan pada beton pratekan, yaitu
Transfer dan Service.

Transfer
Tahap

transfer

adalah

tahap

pada

saat

beton

sudah

mulai

mengering dan dilakukan penarikan kabel prategang. Pada saat ini


biasanya yang bekerja hanya beban mati struktur, yaitu berat sendiri
struktur ditambah beban pekerja dan alat. Pada saat ini beban hidup
belum

bekerja

sehingga

momen

yang

bekerja

adalah

minimum,

sementara gaya yang bekerja adalah maksimum karena belum ada


kehilangan gaya prategang.

Servis
Kondisi Service (servis) adalah kondisi pada saat beton pratekan

digunakan sebagai komponen struktur. Kondisi ini dicapai setelah semua


kehilangan gaya prategang dipertimbangkan. Pada saat itu beban luar
pada kondisi yang maksimum sedangkan gaya pratekan mendekati harga
minimum.
Pada setiap tahapan di atas ditentukan hasil analisis untuk
dievaluasi. Hasil analisis bisa berupa perhitungan tegangan atau kontrol
terhadap harga, misalnya lendutan terhadap lendutan ijin, nilai retak
terhadap suatu nilai batas, dan lain sebagainya. Perhitungan tegangan
dilakukan untuk desain terhadap kekuatan, sedangkan kontrol terhadap
harga dilakukan untuk desain kekuatan, daya layan, ketahanan terhadap
api ataupun tahap batas yang lain. Perhitungan untuk tegangan bisa
dilakukan dengan pendekatan kombinasi beban, konsep kopel internal
( Internal Couple Concept ) atau metode beban penyeimbang ( Load
Balancing Method ).
C. Prosedur Perencanaan

Ada dua metode perencanaan struktur beton, yaitu metode beban


kerja (working stress method) dan metode beban batas (limit states
method). Metode beban kerja dilakukan dengan meghitung tegangan
yang terjadi dan membandigkan dengan tegangan ijin yang bersangkutan.
Apabila tegangan yang terjadi lebih kecil dari tegangan yang diijinkan
maka dinyatakan aman. Dalam menghitung tegangan, semua beban tidak
dikalikan dengan faktor beban. Tegangan ijin dikalikan dengan suatu
faktor kelebihan tegangan (overstress factor). Untuk struktur beton,
metode ini diterapkan pada Peraturan Beton Indonesia (PBI 1971).
Metode beban kerja didasarkan pada batas-batas tertentu yang bisa
dilampaui oleh suatu sistem struktur. Batas-batas tersebut, terutama
adalah kekuatan, kemampuan layan, keawetan, ketahanan terhadap api,
ketahanan terhadap beban kelelahan dan persyaratan khusus yang
berhubungan dengan sistem struktur tersebut. Setiap batas dinyatakan
aman apabila aksi rencana lebih kecil dari kapasitas komponen struktur.
Aksi rencana dihitung dengan menggunakan faktor reduksi kekuatan.
Peraturan beton saat ini menggunakan pendekatan ini, termasuk di
Indonesia, SNI T15-1991-03, atau edisi barunya, SNI 03-2874-2002.
Beban pada struktur umumnya terdiri dari beban mati, beban hidup,
beban angin, prategang, gempa, tekanan tanah, tekanan air, dan lain-lain.
Beban yang digunakan dalam desain struktur dikalikan dengan suatu
faktor beban dalam suatu kombinasi pembebanan. Berikut ini kombinasi
pembebanan dari beberapa peraturan untuk tahap batas kekuatan
(Strength Limit States).
SNI 03-2874-2002 kode Indonesia.
Beban Mati : U = 1,4 D
Beban Mati dan Hidup : U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R)
Beban Angin : U = 1,2 D + 1,0 L + 1,6 W + 0,5 (A atau R)
Gempa

: U = 1,2 D + 1,0 L 1,0 E atau 0,9 D 1,0 E

ACI 318-83 (1983) Peraturan Amerika Serikat.


Beban Mati dan Hidup : U = 1,4 D + 1,7 L
Beban Angin : U = 0,75 (1,4 D + 1,7 L + 1,7 W) atau 0,9 D + 1,3 W
Gempa

: U = 0,75 (1,4 D + 1,7 L + 1,1 E) atau 0,9 G + 1,1 E

Tekanan Tanah : U = 1,4 D + 1,7 L + 1,7 E atau 0,9 D + 1,7 E

D. Material Beton Prategang

Beton
Beton adalah campuran air, semen dan agregat serta suatu beban

tambahan. Setelah beberapa jam dicampur, bahan-bahan tersebut akan


langsung mengeras sesuai bentuk pada waktu basahnya. Campuran
tipikal untuk beton dengan perbandingan berat adalah agregat kasar 44
%, agregat halus 31 %, dan air 7 %. Kekuatan beton ditentukan oleh kuat
tekan karakteristik, pada usia 28 hari fc. Kuat tekan karakteristik adalah
tegangan yang melampaui 95 % dari pengukuran kuat tekan uniaksial
yang diambil dari tes penekanan standar, yaitu dengan kubus ukuran 150
x 150 mm, atau silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm.
Pengukuran kekuatan dengan kubus adalah lebih tinggi daripada dengan
silinder. Rasio antara kekuatan silinder dan kubus adalah 0,8.
Beton

yang

digunakan

untuk

beton

prategang

adalah

yang

mempunyai kekuatan tekan yang cukup tinggi dengan nilai fc antara 3045 Mpa. Kuat tekan yang tinggi diprelukan untuk menahan tegangan
tekan pada serat tertekan, pengangkuran tendon, mencegah terjadinya
keretakan, mempunyai modulus elastisitas yang tinggi dan mengalami
rangka lebih kecil.

Baja
Baja yang dipakai untuk beton prategang dalam taktik ada empat

macam, yaitu :
1. Kawat tunggal (wires), biasanya digunakan untuk baja prategang pada
beton prategang dengan sistem pratarik.
2. Untaian Kawat (strand), biasanya digunakan untuk baja prategang
untuk beton prategang dengan sistem pascatarik
3. Kawat Batangan (bars), biasanya digunakan untuk baja prategang pada
beton prategang dengan sistem pratarik.

4. Tulangan biasa, sering digunakan unutk tulangan non-prategang (tidak


ditarik),

seperti

tulangan

memanjang,

sengkang,

tulangan

untuk

pengangkuran dan lain-lain.


Kawat tunggal yang dipakai untuk beton prategang adalah yang
sesuai dengan spesifikasi ASTM A 421 di Amerika Serikat. Ukuran dari
kawat tunggal bervariasi dengan diameter 3-8 mm, dengan tegangan
tarik (fp) antara 1500 17000 Mpa, dengan modulus elastisitas Ep = 200
x 10 Mpa. Untuk tujuan desain, tegangan leleh dapat diambil sebesar
0,85 dari tegangan tariknya (0,85 fp).

Anda mungkin juga menyukai