Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA SISTEM PERNAFASAN DENGAN KASUS POLIP


DI RUANG OK RSUD DR. SOEKARDJO TASIKMALAYA

Oleh:
DESY NURIKASARI
4012170024

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA PUTERA BANJAR
2016

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Polip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan didalam
rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi
mukosa (Efiaty, dkk, 2007).
Menurut Nurbaiti, 2010, Polip nasi (polip hidung) ialah bentuk selaput
lendir yang turun (biasanya akibat radang kronik), licin, berwarna abu abu
atau merah muda dan biasanya bilateral.
Sedangkan menurut Erbek 2007, Polip nasi adalah suatu proses inflamasi
kronis pada mukosa hidung dan sinus paranasi yang ditandai dengan adanya
massa yang edema pada rongga hidung.
Polip hidung adalah massa lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang
terdapat dalam rongga hidung. Paling sering berasal dari sinus etmoid,
multipel dan bilateral. Polip koana adalah polip hidung yang berasal dari sinus
maksila yang keluar melalui rongga hidung dan membesar di koana dan
nasofaring. (Mansjoer, arif. 2001).
Polip hidung adalah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu-abuan
yang terdapat didalam rongga hidung. Polip berasal dari pembengkakan
mukosa hidung yang banyak berisi cairan interseluler dan kemudian terdorong
kedalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip dapat timbul dari tiap bagian
mukosa hidung atau sinus paranasal atau sering kali bilateral. Polip hidung
sering berasal dari sinus maksila ( antrum ) dapat keluar melalui ostium sinus
maksila, masuk kerongga hidung dan membesar di koana dan nasoparing.
Polip ini disebut polip koana ( Antro Koana ).
Secara makroskopis polip terlihat sebagai massa yang lunak berwarna putih
atau ke abu-abuan secara mikroskopis tampak sub mukosa hipertropi dan
sembab. Sel tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel eosinopil,
limpost, dan sel plasma yang letaknya berjauhan di pisahkan oleh cairan intra
seluler, pembuluh darah, saraf, dan kelenjar sangat sedikit. Polip ini dilapisi
oleh epitel thorax berlapis semu.

Dari beberapa pengertian diatas, polip adalah massa lunak, yang terdapat
didalam rongga hidug, licin, berwarna putih keabu abuan dan bilateral yang
terjadi karena inflamasi mukosa.
2. Klasifikasi Polip
Menurut Subhan Polip hidung terbagi menjadi 2 jenis yaitu:
a. Polip hidung tunggal adalah jumlah polipnya hanya satu, berasal dari selsel permukaan dinding sinus tulang pipi.
b. Polip hidung Multiple adalah jumlah polip lebih dari satu berasal dari
permukaan dinding rongga tulang hidung bagian atas (etmoid).
3. Anatomi dan fisiologi hidung
Hidung merupakan organ penting, yang seharusnya mendapat perhatian
lebih dari biasanya; merupakan salah satu organ pelindung tubuh terpenting
terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan.
Hidung mempunyai beberapa fungsi : sebagai indera penghidu,
menyiapkan udara inhalasi agar dapat digunakan paru-paru, mempengaruhi
refleks tertentu pada paru-paru dan memodifikasi bicara.
Alat pencium terdapat dalam rongga hidung dari ujung saraf otak nervus
olfaktorius. Serabut saraf ini timbul pada bagian atas selaput lendir hidung
dikenal dengan olfaktori. Nervus olfaktorius dilapisi oleh sel-sel yang sangat
khusus yang mengeluaran fibril yang sangat halus, terjalin dengan serabutserabut dari bulbus olfaktorius yang merupakan otak terkecil. Saraf
olfaktorius terletak di atas lempeng tulang etmoidalis.
Konka nasalis terdiri dari lapisan selaput lender. Pada bagian puncaknya
terdapat saraf-saraf pembau. Kalau kita bernapas lewat hidung dan kita
mencium bau suatu udara, udara yang kita isap melewati bagian atas dari
rongga hidung melalui konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat tiga pasang
karang hidung :
o Konka nasalis superior
o Konka nasalis media
o Konka nasalis inferior

Di sekitar rongga hidung terdapat rongga-rongga yang disebut sinus para


nasalis yang terdiri dari :

Sinus maksilaris (rongga tulang hidung)


Sinus sfeinodalis (rongga tulang baji)
Sinus frontalis (rongga nasalis inferior)
Sinus ini dilapisi oleh selaput lendir. Jika terjadi peradangan pada rongga

hidung, lender-lendir dari sinus para nasalis akan keluar. Jika tidak dapat
mengalir ke luar akan menjadi sinusitis.
4. Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau
reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip
hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi
dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan
adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa
hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga
hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel
radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau
pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang
pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan gejala dari
kistik fibrosis (mucoviscidosis).
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip, antara lain:

Alergi terutama rinitis alergi

Sinusitis kronik

Iritasi

Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan


hipertrofi konka.

5. Patofisiologi
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan
terdapat di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan
interseluler, sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses
terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan
turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk
polip.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab
tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang
lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema
mukosa. Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada
akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus
maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip terrus membesar di antrum,
akan turun ke kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret
yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis
alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak
terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen
terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus
membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.

Pathway

Alergi

Sumbatan Hidung oleh kelainan anatomi

Iritasi

Sinusitis Kronik

Reaksi Hipersensitif

POLIP HIDUNG

Bersihan jalan nafas tidak


efektif

Massa dalam Hidung


Pre op

Post op
Sumbatan Jalan Nafas
Intra
op

Tindakan pembedahan
Adanya luka insisi

Inflamasi

Kurangnya
informasi

Pertukarn O2 dan CO2 terg3


Nyeri

Terputus nyaInkonuitas
jaringan kulit

Pe fungsi Indra pembau

Proses penyakit

Kurang
pengetahu
an

Peningkatan
stresor

Pe O2 kejaringan
Takikardi

perdarahan

cemas

Pertahanan
jaingan kulit
Suhu tubuh me

Pe TD

Nyeri

Masuknya
kuman
patogen

Gangguan
mobiliasi fisik
Resiko
infeksi

Penurunan
nafsu makan

Perubahan
nutrisi kurang
dari
kebutuhan

6. Manifestasi Klinis
Gejala yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di
hidung. Sumbatan ini menetap, tidak hilang timbul dan makin lama semakin
berat keluhannya sumbatan yang berat dapat menyebabkan hilangnya indra
penciuman. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia
atau anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, maka sebagai
komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore.
Gangguan drainase sinus dapat menyebabkan nyeri kepala dan keluarnya
sekret hidung. Bila penyebabnya alergi, penderita mengeluh adanya iritasi
hidung yang disertai bersin-bersin. Pasien dengan polip yang masif biasanya
mengalami sumbatan hidung yang meningkat, hiposmia sampai anosmia,
perubahan pengecapan, dan drainase post nasal persisten. Sakit kepala dan
nyeri pada muka jarang ditemukan dan biasanya pada daerah periorbita dan
sinus maksila. Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip
tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea obstruktif dan
pernafasan lewat mulut yang kronik. Pada Rinoskopi anterior polip hidung
sering kali harus dibedakan dari konka hidung yang
menyerupai polip ( Konka Polipoid ).
Perbedaan antara polip dan konka :
Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak,
tidak nyeri bila ditekan, tidak mudah berdarah, dan pada pemakaian
vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.
Konka Polipoid tidak bertangkai sehingga sukar digerakkan,
konsistensinya keras, nyeri bila ditekan dengan pinset, mudah
berdarah, dan dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor.
Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala
obstruktif hidung yang dapat berubah dengan perubahan posisi. Walaupun satu
atau lebih polip yang muncul, pasien mungkin memperlihatkan gejala akut,
rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium sinus. Beberapa polip

dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga aliran udara tidak
terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Dalam hal ini dapat
timbul perasaan penuh di kepala, penurunan penciuman, dan mungkin sakit
kepala. Mukus yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi, sehingga
menimbulkan nyeri, demam, dan mungkin perdarahan pada hidung.
Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. Polip yang kecil
mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu
pemeriksaan rutin. Polip yang terletak posterior biasanya tidak teridenfikasi
pada waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip yang kecil pada
daerah dimana polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan
menghambat aliran saluran sinus, menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut
atau rekuren.
Gejala Subjektif:
-

Hidung terasa tersumbat


Hiposmia atau Anosmia (gangguan penciuman)
Nyeri kepala
Rhinore
Bersin
Iritasi di hidung (terasa gatal)
Post nasal drip
Nyeri muka
Suara bindeng
Telinga terasa penuh
Mendengkur
Gangguan tidur
Penurunan kualitas hidup

Gejala Objektif:
- Oedema mukosa hidung
- Submukosa hipertropi dan tampak sembab
- Terlihat masa lunak yang berwarna putih atau kebiruan
- Bertangkai
7. Diagnostik Test

Karena polip menyebabkan sumbatan hidung, maka harus dikeluarkan,


tetapi sumbatan karena polip tidak hanya ke dalam rongga hidung yang
menghalangi aliran udara , tetapi juga aliran sinus paranasal sehingga infeksi
di dalam sinus mudah terjadi. Apabila sewaktu polip dikeluarkan terjadi
infeksi yang tidak diketahui, maka dapat terjadi perdarahan sekunder. Atas
alasan ini maka sebelum setiap operasi dilaksanakan, perlu diadakan
pemeriksaan rontgen sinus dan pembuatan biakan hapus dari hidung.
Sehingga setelah polip dikeluarkan dan dilakukan pemeriksaan histologi,
sebaiknya klien dikirim ke ahli alergi untuk mencari penyebabnya serta
pengobatan.
8. Pengobatan
Polip yang masih kecil mungkin dapat diobati secara konservatif dengan
pemberian kortikosteroid per oral. Lokal disuntikkan ke dalam polip atau
topical sebagai semprotan hidung.
Polip yang sudah besar dilakukan ekstraksi polip / polipeptomi dan
menggunakn senar polip. Apabila terjadi infeksi sinus, irigasi perlu
dilakukan dan cara ini dilakukan dengan perlindungan antibiotic
Pada kasus polip yang berulang-ulang perlu dilakuka

operasi

etmoidektomi karena pada umumnya polip berasal dari sinus etmoid.


Etmoidektomi ada 2 cara, yaitu :
Intra nasal
Ekstra nasal
Polip bisa tumbuh kembali oleh karena itu pada pengobatan perlu
ditujukan pada penyebabnya, misalnya alergi.

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata
Nama, jenis kelamin, umur, agama, suku/bangsa, status perkawinan,
pekerjaan alamat, tanggal MRS, diagnosa medis, dan keluarga yang
mudah dihubungi.
b. Keluhan Utama : biasanya penderita mengeluh sulit bernafas, tenggorokan
c. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang
Apa keluhan utama, bagaimana sifat keluhan (terus menerus,
kadangkadang), apakah keluhan bertambah berat pada waktu-waktu
tertentu atau kondisi tertentu. Usaha apa yang dilakukan di rumah
untuk mengatasi keluhan tersebut

Riwayat Penyakit Dahulu


Apakah pasien pernah menderita penyakit hidung sebelumnya seperti
rhinitis, alergi pada hidung,penyakit akut,perdarahan hidung atau
trauma
- Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
- Pernah menedrita sakit gigi geraham

Riwayat Penyakit Keluarga


Apakah ada keluarga klien yang menderita penyakit ini seperti klien
saat ini dan pakah pernah / mengalami alergi / bersin

Pengkajian Psikososial dan Spiritual


Psikologis
Bagaimana perasaan pasien terhadap penyakit yang dialaminya
(cemas,sedih,dll)
Sosial

Bagaimana hubungan pasien dengan tim medis dan orang-orang


Spiritual
Bagaimana cara beribadah pasien sebelum dan saat sakit
d. Pola Fungsi Kesehatan
Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup
Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa
memperhatikan efek samping
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada
hidung
Pola Istirahat dan Tidur
Biasanya pasien tidak dapat tidur karena pilek yang dideritanya
Pola Persepsi dan Konsep Diri
Biasanya konsep diri pasien menjadi menurun karena pilek terus
menerus dan berbau
Pola Sensorik
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek
terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen)
e. Pemeriksaan Fisik
Status Kesehatan Umum
Keadaan umum, tanda-tanda vital, dan kesadaran
Pemeriksaan Fisik Data Fokus Hidung

o Inspeksi
Inspeksi lubang hidung, perhatikan adanya cairan atau bau,
pembengkakan atau ada obstruksi kavum nasi. Apakah terdapat
peradangan,

tumor.

Inspeksi

dapat

menggunakan

alat

Rinoskopi.
o Palpasi
Lakukan

penekanan

ringan

pada

cuping

hidung,

bila

konsistensinya lunak, tidak nyeri bila ditekan, tak mudah


berdarah; maka dapat dipastikan klien menderita polip pada
hidung

2. Analisa data
Pre op
No
1

Data Fokus
DS:

Klien

mengatakan

hidungnya seperti ada


sumbatan dan sering
banyak keluar secret

dan selalu bersin-bersin


Klien
mengatakan
penciumannya

pun

terganggu

Klien mengeluah tidak


bisa atau mengalami
gangguan pernapasan

Klien mengeuh sesak

DO:

Adanya

massa

berwarna putih seperti


agar-agar

Frekuensi nafas

Observasi suara nafas


tambahan

Kaji

adanya

dispnea

Etiologi

Masalah

Alergi, sinusitis kronik,

Bersihan Jalan

iritasi, sumbatan hiidung

Nafas

oleh kelianan anatomi

efektif

Reaksi hipersensitif
Polip hidung
Massa dalam hidung
Sumbatan jalan nafas
Bersihan jalan nafas tidak
efektif

tidak

dan sianosis

Pemeriksaan
THT

spesialis
dengan

illuminator : polipnya
menggantung

pada

konkha media masuk

ke rongga hidung
Klien tampak sulit
untuk

inspirasi

;ekspirasi
2

DS :

Polip hidung

Klien mengatakan nyeri

Massa dalam hidung

pada hidung
Klien mengeluh pusing

Sumbatan jalan nafas


Proses penyakit

DO :

Nyeri akut

Adanya

massa

berwarna putih seperti

Inflamasi
Nyeri

agar-agar

Adanya pembengkakka
mukosa, iritasi mukosa,
kemerahan

DS :

Polip hidung

Klien mengatakan tidak

Massa dalam hidung

nafsu makan
Klien
mengeluh

Sumbatan jalan nafas

penciumannya

Perubahan
nutrisi kurang
dari kebutuhan

terganggu
Klien mengeluh mual
Penurunan fungsi indra
pembau

DO :

Kien tampak lemas


Makan sedikit, tidak

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan

habis 1 porsi
4

DS:

Polip hidung
Klien mengatakan tidak
tahu

tentang

penyakitnya
Klien
mengatakan
penciumannya

pun

terganggu
Klien
mengatakan
kepada suster ruangan
dia khawatir hidungnya
pesek setelah operasi

DO :

Klien tampak bingung


dan cemas

Pemeriksaan
THT

spesialis
dengan

illuminator : polipnya
menggantung

pada

konkha media masuk


ke rongga hidung

Massa dalam hidung


Sumbatan jalan nafas
Proses penyakit
Interpretasi terhadap
informasi yang salah
Kurang pengetahuan

Kurang
Pengetahuan

Intra op
No
1

Data

Etiologi

DS :

Tindakan pembedahan

Masalah
Cemas

Klien mengatakan takut


dengan

tindakan

Kurangnya informasi

operasi
DO :

Peningkatan stresor
Klien tampak khawatir
Klien tampak gelisah
Cemas

Post op
No

Data

Ds :

Etiologi

Masalah

Tindakan pembedahan

klien mengatakan nyeri


pada

bagian

luka

Luka insisi

operasi
klien mengatakan nyeri
apabila beraktifitas dan
apabila

dilakukan

Terputusnya inkkunuitas
jaringan kulit

perawatan luka
DO :

Nyeri
klien tampak meringis
skala nyeri 3 (0-5)

Nyeri akut

TTV meningkat

DS :

Tindakan pembedahan
Klien

Resiko infeksi

mengatakan

badannya sering panas

adanya luka insisi

dingin
DO :

inkonuitas jaringan kulit

Klien

mengenakan sellimut
Klien
tampak

berkeringat
Suhu tubuh
normal

tampak

(normal

perdarahan

diatas
36-

37,5)
Tampak

pada luka operasi


Tampak adanya push

pertahanan jaringan kullit

kemerahan
suhu tubuh meningkat

masuknya kuman

resiko infeksi
3

Ds :

Tindakan pembedahan

mobilisasi fisik

klien mengatakan nyeri


apabila miring kanan

Luka insisi

kiri
DO :

Gangguan

Terputusnya inkkunuitas

jaringan kulit

klien tampak bedrest


klien tampak lemas
aktifitas klien dibantu
keluarga

Kelemahan fisik

Gamgguan mobilisasi fisik

3. Diagnosa Keperawatan
Pre op
a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Adanya
Obstruksi Pada Hidung (Polip) ditandai dengan
DS:

Klien mengatakan

banyak keluar secret dan selalu bersin-bersin


Klien mengatakan penciumannya pun terganggu

Klien mengeluah tidak bisa atau mengalami gangguan pernapasan

Klien mengeuh sesak

hidungnya seperti ada sumbatan dan sering

DO:

Adanya massa berwarna putih seperti agar-agar

Frekuensi nafas

Observasi suara nafas tambahan

Kaji adanya dispnea dan sianosis

Pemeriksaan

menggantung pada konkha media masuk ke rongga hidung


Klien tampak sulit untuk inspirasi ;ekspirasi

spesialis

THT

dengan

illuminator

polipnya

b. Nyeri Akut berhubungan dengan Kerusakan Mukosa Hidung Akibat


Pembesaran Mukosa ditandai dengan
DS :

Klien mengatakan nyeri pada hidung


Klien mengeluh pusing

DO :

Adanya massa berwarna putih seperti agar-agar


Adanya pembengkakka mukosa, iritasi mukosa, kemerahan

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan


fungsi indra pembau ditandai dengan
DS :

Klien mengatakan tidak nafsu makan


Klien mengeluh penciumannya terganggu
Klien mengeluh mual

DO :
Kien tampak lemas
Makan sedikit, tidak habis 1 porsi
d. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit ditandai
dengan
DS:
Klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya

Klien mengatakan penciumannya pun terganggu


Klien mengatakan kepada suster ruangan dia khawatir hidungnya

pesek setelah operasi


DO :

Klien tampak bingung dan cemas

Pemeriksaan spesialis THT dengan illuminator : polipnya


menggantung pada konkha media masuk ke rongga hidung

Intra op
a. Cemas berhubungan dengan tindakan operasi ditandai dengan
DS :
Klien mengatakan takut dengan tindakan operasi
DO :

Klien tampak khawatir


Klien tampak gelisah

Post op
a. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya inkonuitas jaringan kulit
DS :
klien mengatakan nyeri pada bagian luka operasi
klien mengatakan nyeri apabila beraktifitas dan apabila dilakukan
perawatan luka
DO :
klien tampak meringis
skala nyeri 3 (0-5)
TTV meningkat
b. Resiko infeksi berhubungan dengan
DS :

Klien mengatakan badannya sering panas dingin

DO :
Klien tampak mengenakan sellimut
Klien tampak berkeringat
Suhu tubuh diatas normal (normal 36-37,5)
Tampak kemerahan pada luka operasi
Tampak adanya push
c. Gangguan mobilisasi berhubungan dengan kelemahan fisik
DS :

klien mengatakan nyeri apabila miring kanan kiri

DO :

klien tampak bedrest


klien tampak lemas
aktifitas klien dibantu keluarga

4. Rencana Keperawatan
Pre op
a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Adanya
Obstruksi Pada Hidung (Polip)
Tujuan

: Jalan nafas menjadi lebih efektif

Kriteria Hasil

: * Frekuensi nafas normal


* Tidak ada suara nafas tambahan
* Tidak terjadi dispnoe dan sianosis

No
1.

Intervensi

Rasional

Kaji bunyi kedalaman dan gerakan Penurunan


dada

bunyi

nafas

dapat

menyebabkan atelektasis, ronchi dan


wheezing

menunjukkan

akumulasi

secret
2.

Pertahankan jalan nafas klien, Posisi

membantu

memaksimalkan

tempatkan klien pada posisi yang ekspansi paru dan menurunkan upaya
nyaman dengan kepala tempat pernafasan
tidur tinggi (posisi semi fowler)
3.

Catat kemampuan mengeluarkan Sputum berdarah kental atau cerah


mukosa/batuk efektif

dapat diakibatkan oleh kerusakan paru


atau luka bronchial

4.

Berikan

obat

sesuai

dengan - Mukolitik untuk menurunkan batuk

indikasi mukolitik, ekspektoran,


dan bronkodilator

- ekspektoran

untuk

membantu

memobilisasi secret
- bronkodilator

menurunkan

spasme

bronkus
- bronkodilator

menurunkan

spasme

bronkus

b. Nyeri Akut berhubungan dengan Kerusakan Mukosa Hidung Akibat


Pembesaran Mukosa
Tujuan

: Nyeri berkurang atau hilang

Kreiteria Hasil

:
* Klien mengungkapkan nyeri yang dialaminya
berkurang/hilang
* Wajah klien tidak menyeringai

No
1.

Intervensi
Kaji tingkat nyeri klien

Rasional
Mengetahui tingkat nyeri klien dalam
menentukan tindakan selanjutnya

2.

Jelaskan sebab dan akibat nyeri Dengan


pada klien serta keluarganya

sebab

dan

akibat

nyeri

diharapkan klien berpartisipasi dalam


perawatan untuk mengurangi nyeri

3.

Ajarkan
distraksi

tehnik

relaksasi

dan - Relaksasi :
Membantu pasien tetap tenang dan
mengurangi rasa sakit
- Distraksi :

Mengalihkan

perhatian

pasien

terhadap nyeri yang dialaminya


4.

Lanjutkan program dokter dalam Mengurangi


pemberian obat analgetik

rasa

nyeri

dan

mempercepat proses penyembuhan

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan


fungsi indra pembau
Tujuan
: Nutrisi adekuat
Kreiteria Hasil : Tidak mual, nafsu makan bertambah, dan perlambatan
penurunan BB yang cepat tidak terjadi.
No
1.

Intervensi

Rasional

Kaji status nutrisi dan perubahan Menyediakan


BB

data

memantau

dasar

perubahan

untuk
dan

mengevalluasi intervensi
2.

Kaji kemampuan mengunyah dan Faktor ini menentukan terhadap jenis


menelan klien

makanan sehingga klien terlindung dari


aspirasi

3.

Auskultasi
adanya

bising

usus

penurunan

peristaltik usus

catat Bising

usus

membantu

gerak dalammenentukan respon untuk makan


atau berkembangnya komplikasi seperti
paralitik illeus

4.

Kaji

pola

diet

dan

klien,mkanan kesukaan

nutrisi Pola diet sekarang dan dahulu dapat


dipertimbangkan

dalam

menyusun

informasi

mengenai

menu.
5

Kaji faktor-faktor yang dapat Menyediakan

merubah masukan nutrisi misal faktor lain yang dapat diubah atau
adanya anoreksia

dihilagkan

untuk

meningkatkan

masukan diet
6

Berikan makanan selagi hangat

Agar usus bekerja dengan baik dan


nafsu makan bertambah.

d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit


Tujuan
:klien dan keluarga paham tentang penyakit,kondisi dan
program pengobatan
Kreiteria Hasil
:
Klien tampak tenang
Klien dan keluarga memahami penyakit yang

No
1.

diderita
Ekspresi bingung tidak ada

Intervensi
Kaji

Rasional

tingkat

pengetahuan menentukan intervensi yang akan

klien dan keluarga.


2.

Jelaskan

tentang

dilakukan.
penyakit menjaga

klien dengan cara yang tepat.


3

perasaan

klien

keluarga.

Diskusikan pilihan terapi atau melibatkan pklien dan keluarga


penanganan penyakit klien

dalam mengambil keputusan.

Intra op
a. Cemas berhubungan dengan tindakan operasi
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam
cemas hilang
Kriteria Hasil
: klien tampak tenang
No

dan

Intervensi

Rasional

1.

Kaji penyebab cemas

Mengidentifikasi penyebab cemas

2.

Berikan informasi mengenai Informasi


tindakan operasi

3.

Berikan

membantu

mengurangi kecemasan

lingkungan

yang

nyaman dan tenang


4.

dapat

Lingkungan yang nyaman dapat


memfokuskan pikiran

Ajarkan teknik relaksasi

Teknik

relaksasi

dapat

menurunkan kecemasan
5.

Bantu dalam peran koping

Koping merupakan mekanisme


pertahanan diri yang efektif dalam
menghadapi

stresor

termasuk

cemas
Post op
a. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya inkonuitas jaringan kulit
Tujuan
:setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam
nyeri berkurang
Kriteria Hasil
:
Skala nyeri berkurang
Klien tampak tenang
No

Intervensi

Rasional

1.

Observasi TTV

Mengetahui perubahan dan tandatanda infeksi

2.

Kaji skala nyeri

Untuk

mengetahui

perubahan

status nyeri
3.

Atur

posisi

tidur

klien

Posisi

yang

nyaman

dapat

senyaman mungkin
4.

mengalihkan rasa nyeri

Anjurkan untuk melakukan Teknik ini akan menghambat


teknik relaksasi nafas dalam

5.

Kolaborasi

dengan

mengenai

pemberian

reseptor sehingga nyeri berkurang

dokter Obat analgetik dapat memblok


obat nyeri

analgetik
b. Risiko infeksi berhubungan dengan inflamasi
Tujuan
: tidak terjadi penyebaran infeksi
Kreiteria Hasil
:
Tanda-tanda infeksi tidak ada
TTV dalam batas normal ( TD: 120/80mmHg, S:
36-37,5 C, R:16-24x/m, N: 80-100x/m)

No

Intervensi

Rasional

1.

Observasi TTV

Mengetahui perubahan dan tandatanda infeksi

2.

Kaji tanda-tanda penyebaran Pengkajian yang tepat tentang


infeksi

tanda-tanda penyebaran infeksi


dapat

membantu

menentukan

tindakan selanjutnya.
3.

Anjurkan klien dan keluarga

Kebersihan

untuk

merupakan salah satu cara untuk

selalu

menjaga

kebersihan diri sela dalam

diri

yang

baik

mencegah infeksi

perawatan
4.

Kolaborasi

dengan

dokter Antibiotik

dapat

membunuh

dalam pemberian antibiotik

kuman

c. Gangguan mobilisasi berhubungan dengan kelemahan fisik


Tujuan
:setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam
diharapkan klien dapat melakukan mobilisasi fisik
Kriteria Hasil
:
Ada peningkatan kekuatan dan fungsi bagian

tubuh yang sakit


Mampu mendemostrasikan

mobilisasi

fisik

(miring kanan miring kiri)


No

Intervensi

1.

Periksa kembali kemampuan Mengidentifikasi


dan

Rasional

keadaan

secara secara

kerusakan

fungsional

dan

fungsional pada kerusakan mempegaruhi pilihan intervensi


yang terjadi
2.

akan dilakukan

Verikan bantuan untuk latihan Mempertahankan mobilitas dan


rentang gerak

fungsi

sendi/posisi

ekstremitas

dan

normal

menurunkan

terjadinya vena statis


3.

Bantu klien dalam program

Proses

penyembuhan

latihan dan penggunaan alat

lamabat

seringkali

bantu mobilisasi, tingkatkan

trauma dan pemulihan fisik

aktivitas

partisipasi

merupakan bagian yang sangat

dalam merawat diri sendiri

penting keterlibatan klien dalam

sesuai kemampuan

program latihan sangat penting

dan

untuk

yang

menyertai

meningkatkan

kerja

sama/keberhasilan program.

DAFTAR PUSTAKA

Soepardi, M Efiaty Arsyad, Sp. THT. 2000. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorokan Edisi Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Hal : 97
99
Higler, Adams Boies. 1997. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta : EGC.
Hal : 173
Junadi, Purnaman dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Kedua. Jakarta :
Media Aesculapius FKUI. Hal : 248 249
Syaifuddin, H, AMK. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi
3.Jakarta : EGC. Hal : 334
https://www.scribd.com/doc/58944681-klien-dengan-polip-hidung
https://www.scribd.com/109239960-polip-hidung
https://www.scribd.com/178399616-polip-hidung.com
https://www.scribd.com/83897460-askep-polip-hidung