Anda di halaman 1dari 127

KATA PENGANTAR

Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi siswa dari sisi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh. Keutuhan tersebut menjadi dasar dalam perumusan kompetensi dasar tiap mata pelajaran mencakup kompetensi dasar kelompok sikap, kompetensi dasar kelompok pengetahuan, dan kompetensi dasar kelompok keterampilan. Semua mata pelajaran dirancang mengikuti rumusan tersebut.

Pembelajaran kelas X dan XI jenjang Pendidikan Menengah Kejuruhan yang disajikan dalam buku ini juga tunduk pada ketentuan tersebut. Buku siswa ini diberisi materi pembelajaran yang membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterapilan dalam menyajikan pengetahuan yang dikuasai secara kongkrit dan abstrak, dan sikap sebagai makhluk yang mensyukuri anugerah alam semesta yang dikaruniakan kepadanya melalui pemanfaatan yang bertanggung jawab.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapai kompetensi yang diharuskan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, siswa diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serp siswa dengan ketersediaan kegiatan buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan- kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.

Buku ini sangat terbuka dan terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu, kami mengundang para pembaca memberikan kritik, saran, dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan. Atas kontribusi tersebut, kami ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia Merdeka (2045)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

 

ii

DAFTAR

GAMBAR

iv

DAFTAR

TABEL

vi

BAGIAN 1. PENDAHULUAN

1

 

A. Deskripsi

2

B. Prasyarat

2

C. Petunjuk Penggunaan

2

D. Tujuan Akhir

3

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

3

F. Peta Konsep

4

BAGIAN

2.

PEMBELAJARAN

5

 

BAB I. TEKNIK PEMANENAN IKAN (36 JP)

5

Kegiatan Belajar : Menerapkan Pemanenan Ikan

5

A. Tujuan Pembelajaran

5

B. Aktivitas Belajar Siswa

5

1. Mengamati / Observasi

6

2. Menanya

7

3. Mencoba/Mengumpulkan Informasi

7

4. Mengasosiasi / Menalar

8

5. Mengkomunikasikan

8

C. Rangkuman

43

D. Lembar Refleksi Diri

46

E. Tugas

47

F. Lembar Soal Tes Formatif

49

G. Penilaian Diri

51

Bab II. PENGENDALIAN MUTU HASIL PANEN IKAN (28 JP)

62

Kegiatan Belajar : Pengendalian Mutu Hasil Panen Ikan

62

A.

Tujuan Pembelajaran

62

B. Aktivitas Belajar Siswa

62

1. Mengamati/Observasi

63

2. Menanya

63

3. Mencoba/Mengumpulkan Informasi

63

4. Mengasosiasikan

63

5. Mengkomunikasikan

63

C. Rangkuman

94

D. Lembar Refleksi Diri

97

E. Tugas

98

F. Lembar Soal Tes Formatif

100

G. Penilaian Diri

102

BAGIAN III. PENUTUP

111

GLOSARIUM

113

INDEKS

116

DAFTAR PUSTAKA

118

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Sarang induk Ikan Gurame yang telah berisi telur

11

Gambar 2.

Pemanenan Telur Ikan Gurame

11

Gambar 3.

Larva ikan ( A ) dan Larva ikan yang biasa dipasarkan (B )

12

Gambar

4.

Grafik hubungan peningkatan suhu dan kandungan oksigen

13

Gambar 5.

Macam macam ukuran benih ikan. A. benih ikan bandeng, B. benih ikan Gurame, C.

benih ikan bawal, D. benih ikan patin, E. benih ikan kerapu, F. benih ikan nila merah,

G. benih ikan mas, H. benih ikan lele, I. benih ikan nila

14

Gambar 6.

Berbagai Jenis dan Ukuran konsumsi ikan A. Ikan Lele, B, Ikan Nila, C,. Ikan Patin

dan D ikan Kerapu

15

Gambar 7.

Waring sebagai tempat penampungan sortir ikan yang akan di panen

17

Gambar 8.

Pemanenan Ikan nila Segar

18

Gambar

9.

Pemanenan

telur

ikan gurame

20

Gambar

10.

Bak sortir nener Ikan bandeng

21

Gambar 11. Pemanenan larva Ikan Bawal

22

Gambar 12. Anco salah satu alat menangkap ikan

23

Gambar 13.

Menangkap benih ikan menggunakan jaring

24

Gambar 14. Pemanenan benih ikan di kolam dan penampungan benih ikan

25

Gambar 15. Panen gelondongan ikan bandeng

26

Gambar 16.

Petak Penangkapan ikan Bandeng

27

Gambar 17. Arah pergerakan wide/jaring untuk menggring ikan bandeng

28

Gambar 18. Penangkapan Ikan Bandeng di tempat penangkapan (kobakan)

28

Gambar 19. Penampungan ikan bandeng setelah selesai ditangkap

29

Gambar 20.

Pemanenan ikan di kolam menggunakan jaring dan pengeringan kolam

30

Gambar 21.

Ikan Lele dikumpulkan dalam penampungan untuk di sortir

31

Gambar

22.

Pemasangan Waring/tempat penampungan hasil panen ikan

31

Gambar 23.

Pemanenan Ikan di Kolam

32

Gambar 24. Jaring terapung untuk pembesaran ikan

33

Gambar 25. Pemanenan ikan di kolam jaring terapung

34

Gambar 26. Telur ikan gurame yang hidup (coklat kekuningan) dan yang mati (putih)

36

Gambar 27. Ukuran benih ikan lele, nila dan mas

37

Gambar 28.

Ukuran benih ikan Patin

37

Gambar

29.

Baskom grading benih ikan lele

38

Gambar 30. Cara grading benih lele menggunakan baskom grading

39

Gambar 31. Sortir dan Grading Ikan konsumsi Ikan Mas, Ikan Kerapu, Ikan Bandeng dan Ikan Lele

40

Gambar 32. Ikan Bandeng dalam kondisi segar

65

Gambar 33. Perbedaan insang ikan segar (B) dan ikan tidak segar (A)

68

Gambar 34. Bagian tubuh Ikan yang sering terserang bakteri

69

Gambar 35. Penurunan suhu ikan menggunakan es

90

Gambar

36.

Es

Curah untuk pendinginan Ikan

92

Gambar 37. Es balok dapat digunakan untuk pendinginan ikan

93

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ciri-ciri Ikan Segar dan yang Mulai Membusuk

74

Tabel

2.

Lembaran

Penilaian

Ikan

Segar

Tanpa

76

Tabel 3. Lembaran Penilaian Ikan Segar yang Diberi Perlakuan

78

Tabel 4. Persyaratan Bahan Baku Ikan Segar

 

83

BAGIAN 1. PENDAHULUAN

Kegiatan pemanenan dan pasca panen ikan merupakan salah suatu kegiatan yang terpenting dalam usaha budidaya ikan. Kegiatan pemanenan dan pasca panen ikan dapat meningkatkan pendapatan usaha budidaya ikan, sebaliknya kegiatan pemanenan dan pasca panen ikan yang salah dapat mengurangi pendapatan bahkan menjadi salah satu penyebab usaha budidaya ikan menjadi rugi.

Kata ”pemanenan” berasal dari kata ”panen” yang berarti hasil kolam, hasil sawah/ladang. Sedangkan pemanenan memiliki arti cara, proses, perbuatan memanen. Jadi kata pemanenan memiliki arti cara, proses mengambil hasil kolam/sawah/ladang. Pascapanen adalah tahap penanganan hasil budidaya ikan/tanaman/peternakan segera setelah pemanenan.

Dalam pertanian, panen adalah kegiatan mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya. Istilah ini paling umum dipakai dalam kegiatan bercocok tanam dan menandai berakhirnya kegiatan budidaya di lahan. Namun demikian, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, karena dapat dipakai pula dalam budidaya ikan atau berbagai jenis usaha tani lainnya, seperti budidaya jamur, udang, atau alga/gulma laut. Secara kultural, panen dalam masyarakat agraris sering menjadi alasan untuk mengadakan festival dan perayaan lain.

Kegiatan panen dan pasca pasca panen pada kegiatan budidaya ikan dilakukan pada kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan. Panen pada kegiatan pembenihan ikan harus dilakukan secara terencana baik waktu panen, ukuran ikan, peralatan yang dibutuhkan, penampungan, teknik pengemasan yang aka digunakan dan pengangkutan. Teknik pemanenan benih ikan berbeda menurut jenis, ukuran dan tempat pemeliharan benih ikan. Teknik pemanenan benih ikan lele yang dipelihara di bak berbeda dengan pemanenan benih ikan mas atau nila yang dipelihara di kolam pendederan. Demikian juga dengan pasca panen benih ikan berbeda sesuai dengan jenis dan ukuran ikan. Pasca panen benih ikan lele berbeda dengan benih ikan mas, udang, bandeng dan jenis ikan lainnya. Pasca panen benih ikan mas ukuran larva berbeda dengan benih ikan mas ukuran 5-7 cm. Demikian juga pada benih ikan bandeng, berbeda pasca panen nener dengan benih ikan bandeng ukuran gelondongan

Kegiatan panen dan pasca panen pada pembesaran ikan berbeda menurut dengan tempat pemeliharaan dan jenis ikan. Teknik pemanenan ikan yang dipelihara di kolam atau tambak dan jaring terapung berbeda. Pemanenan ikan di kolam atau ditambak dilakukan dengan mengeringkan kolam, sedangkan pemanenan ikan di jaring terapung dilakukan dengan mengangkat jaring.

Kegiatan pemanenan dan pasca panen ikan pada kegiatan pembesaran ikan berhubungan dengan pemasaran komoditas ikan. Umumnya masyarakat dibeli ikan air tawar seperti ikan mas, lele, nila

dan sebagainya dalam keadaan hidup. Sedangkan beberapa jenis ikan yang dipelihara di tambak

atau di laut umumnya membeli dalam keadaan mati

sebagainya. Kebiasaan tersebut akan berpengaruh terhadap teknik pemanenan dan pasca panen ikan.

seperti ikan bandeng, udang, kerapu dan

Kegiatan pascapanen bertujuan untuk mempertahankan mutu produk segar agar tetap prima sampai ke tangan konsumen, menekan kehilangan (losses) karena penyusutan dan kerusakan, memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai ekonomis hasil pertanian dan perikanan.

A. Deskripsi

Buku Panen dan Pasca Panen I ini akan mempelajari Prinsip - prinsip pemanenan dan perhitungan tingkat sintasan/kelulushidupan ikan, Prinsip-prisip pengendalian mutu, prosedur penanganan higienis, Prinsip - prinsip pengangkutan/ transportasi ikan, Teknik pengangkutan/transportasi ikan hidup dan segar, Prinsip - prinsip pemasaran dan Perhitungan kebutuhan dan jumlah konsumen.

B. Prasyarat

Untuk mempelajari buku panen dan pasca panen 1 ini anda terlebih dahulu telah memahami Teknik Pembenihan, Teknik Pembesaran ikan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit ikan serta penanganan ikan. Untuk dapat memahami isi buku ini, anda harus mempelajari dan memahami secara berurutan Bab demi bab serta mengerjakan setiap tugas- tugas dalam buku ini.

C. Petunjuk Penggunaan

Desain pembelajaran pada Buku panen dan pasca panen 1 ini sesuai kurikulum 2013, dimana pendekatan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik dimana keaktifan anda merupakan dominan dan utama dalam pembelajaran. Oleh sebab itu anda disarankan melaksanakan kegiatan pembelajaran 5 M yaitu mengamati, menanya, mengekplorasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan materi yang sedang dipelajari.

Berdasarkan hal tersebut di atas, anda disarankan mengumpulkan informasi baik pengalaman sendiri, masyarakat, pengetahuan, keterampilan tentang pemanenan dan pasca panen hasil perikanan. Pengumpulan informasi tersebut dapat berasal dari buku, majalah, surat kabar, tanya jawab dengan pengusaha, internet dan sebagainya. Informasi tersebut dikumpulkan untuk mendukung dan memahami mata pelajaran ini.

Selain itu hal tersebut diatas, yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman pelajaran sebelumnya yang telah anda dapat yaitu pembenihan, pembesaran, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama penyakit ikan.

D. Tujuan Akhir

Setelah mempelajari buku Panen dan Pasca Panen 1, anda akan memahami :

1. Prinsip-prinsip pemanenan ikan

2. Perhitungan tingkat sintasan/kelulushidupan ikan

3. Prinsip-prinsip pengendalian mutu ikan

4. Prosedur penanganan higienis

5. Prinsip-prinsip pengangkutan/transportasi ikan

6. Teknik pengangkutan/transportasi ikan hidup dan segar

7. Prinsip – prinsip pemasaran

8. Perhitungan kebutuhan dan jumlah konsumen

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

1. Kompetensi Inti KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia KI 3 : Memahami, menerapkan dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah KI 4 : Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung

2.

Kompetensi Dasar

3.1

Menerapkan pemanenan ikan

3.2

Menerapkan pengendalian mutu hasil panen ikan

3.3

Menerapkan sistem pengangkutan/ transportasi benih ikan hidup dan segar (tertutup dan terbuka)

3.4

Menerapkan sistem pemasaran produk ikan

4.1

Melakukan pemanenan ikan

4.2

Melakukan pengendalian mutu hasil panen ikan

4.3

Melakukan sistem pengangkutan/transportasi ikan hidup dan segar

4.4

Melakukan pemasaran produk ikan

F. Peta Konsep

sistem pengangkutan/transportasi ikan hidup dan segar 4.4 Melakukan pemasaran produk ikan F. Peta Konsep 4

BAGIAN 2. PEMBELAJARAN

BAB I. TEKNIK PEMANENAN IKAN (36 JP)

Kegiatan Belajar : Menerapkan Pemanenan Ikan

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari kompetensi pemanenan ikan, anda akan memahami :

1. Prinsip - prinsip pemanenan yang meliputi : Penentuan waktu panen berdasarkan ukuran ikan yang dipanen dan umur ikan yang dipanen, Teknik pemanenan berdasarkan panen total dan panen sortir/sebagian, Teknik penyortiran berdasarkan tahap sortasi ikan dan grading ikan

2. Perhitungan tingkat sintasan/kelulushidupan ikan

B. Aktivitas Belajar Siswa

Sebelum kita memulai belajar pemanenan dan pasca panen, saya ingin mengucapkan selamat bertemu kembali. Saya senang sekali bertemu dengan anda, dan kita dapat belajar bersama- sama kembali dalam menuntaskan pelajaran pembenihan ikan dan pembesaran ikan. Pada kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan, kegiatan panen dan pasca panen secara prinsip adalah sama. Namun terdapat beberapa langkah yang berbeda sesuai dengan ukuran dan jenis ikan. Langkah pada kegiatan panen dan pasca panen larva dan benih ikan berbeda dengan langkah pada kegiatan ikan yang berukuran konsumsi/Besar. Demikian juga kegiatan pemanenan pada jenis ikan yang memiliki toleransi suhu dan oksigen yang panjang misalnya ikan lele, sepat dan gabus berbeda dengan ikan yang memiliki toleransi suhu dan oksigen yang pendek misalnya ikan mas, nilem, nila.

Pelajaran panen dan pasca panen merupakan pembahasan kita yang terakhir dalam kegiatan budidaya ikan. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan tentang pemanenan dan pasca panen akan dapat meningkatkan nilai dan pendapatan hasil dari kegiatan pembenihan ikan dan pembesaran ikan. Sebaliknya, jika anda tidak menguasai pengetahuan dan keterampilan pemanenan dan pasca panen dapat menyebabkan kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan akan rugi dan bangkrut. Selain itu, penguasaan teknik pemanenan dan pasca panen ikan dapat menjadi pekerjaan yang meningkatkan pendapatan usaha budidaya ikan.

Sebelum kita memulai pelajaran pemanenan dan pasca panen, anda disarankan membuat kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok mengamati pengusaha/petani ikan yang sedang melaksanakan panen ikan. Beberapa kelompok mengamati kegiatan pemanenan benih ikan, sedangkan kelompok yang lain mengamati kegiatan pemanenan ikan ukuran konsumsi.

1. Mengamati / Observasi

a. Amati pengusaha/petani ikan sedang melakukan pemanenan ikan

b. Catatlah kegiatan yang dilakukan pada saat pemanenan ikan

Kegiatan Pemanenan

Pemanenan Di kolam / Tambak

No

Kegiatan

Catatan

1

Menutup pipa pemasukan air

 

2

Membuka Pipa pengeluaran/ pengurasan air

 

3

Alat menangkap ikan

 

4

Cara menangkap ikan

 

5

Memasang saringan air

 

6

Waktu pemanenan

 

7

Alat penampungan ikan

 

8

Jarak penampungan ikan dengan lokasi kolam panen

 

Dst

dst

 

Alat Pemanenan di kolam / Tambak

No

Nama Alat

Catatan / Jumlah

1

   

2

   

3

   

4

   

dst

   

Pemanenan Ikan di Jaring Terapung

No

Kegiatan

Catatan

1

Mengangkat pemberat

 

2

Memasukkan bambu /kayu ke bagian luar jaring terapu

 

3

Menarik/mengangkat jaring terapung

 

4

Menarik / menggeser kayu/ bambu sambil menarik jaring terapung

 

5

Cara menangkap ikan

 

6

Waktu pemanenan

 

7

Alat penampungan ikan

 

8

Jarak penampungan ikan dengan lokasi kolam panen

 

dst

dst

 

Alat Pemanenan di jaring terapung

No

Nama Alat

Catatan / Jumlah

1

   

2

   

3

   

4

   

dst

   

2. Menanya

Diskusikan dengan teman kelompok anda tentang:

a. Pengeringan kolam/tambak

b. Penangkapan ikan

c. Penampungan ikan

d. Suhu air kolam

e. Tingkah laku ikan dikolam dan tempat penampungan ikan

f. Waktu pemanenan ikan

3. Mencoba/Mengumpulkan Informasi

a. Coba anda melakukan pemanenan ikan di kolam/tambak, akuarium, jaring terapung

dan bak !

b. Bagaimanakah tingkah laku ikan pada saat anda menangkap ikan?

4.

Mengasosiasi / Menalar

a. Coba anda jelaskan hubungan antara waktu pemanenan ikan dengan oksigen terlarut dalam air

b. Bagaimana hubungan jarak penampungan ikan dengan mortalias ikan?

c. Apakah fungsi kamalir kolam/tambak pada saat pemanenan ikan?

5. Mengkomunikasikan

a. Buatlah laporan pemanenan dan presentasikan di depan kelas!

b. Coba anda jelaskan setiap langkah pemanenan ikan di kolam / tambak!

c. Coba anda jelaskan perbedaan pemanenan di kolam / tambak, jaring terapung dan bak/akuarium!

Uraian Materi Pembelajaran

1. Prinsip-prinsip Pemanenan Ikan

Dalam kegiatan pertanian (perikanan, peternakan dan tanaman) panen adalah kegiatan mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya. Istilah ini paling umum dipakai dalam kegiatan budidaya dan menandai berakhirnya suatu kegiatan kegiatan di lahan/kolam/kandang. Namun demikian, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, karena dapat dipakai pula dalam budidaya ikan atau berbagai jenis objek usaha tani lainnya, seperti jamur, udang, atau alga/gulma laut. Secara kultural, panen dalam masyarakat agraris sering menjadi alasan untuk mengadakan festival dan perayaan lain.

Pelajaran pemanenan ikan merupakan salah satu terpenting yang harus dikuasai oleh siswa maupun pengusaha budidaya ikan. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan pemanenan akan meningkatkan pendapatan budidaya ikan. Sebaliknya kegiatan pemanenan yang salah dapat menurunkan harga produksi bahkan ikan hasil produksi tidak laku di pasaran sehingga menurunkan pendapatan budidaya ikan. Produksi ikan yang tidak dapat dipasarkan atau harganya akan turun yang diakibatkan pemanenan yang salah adalah ikan yang cacat, luka atau mati.

2. Penentuan Waktu Pemanenan Ikan

Mengapa perlu dilakukan penentuan waktu panen ikan? Bagaimana hubungan penentuan waktu panen ikan dengan harga, ukuran dan suhu air kolam / tambak?.

Di atas telah disampaikan bahwa pemanenan merupakan kegiatan mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya dan menandai berakhirnya suatu kegiatan atau sub kegiatan budidaya ikan. Penentuan waktu panen sangat penting dilakukan khususnya berhubungan dengan ukuran ikan, harga ikan, iklim/cuaca. Ukuran ikan baik benih ikan atau ikan ukuran konsumsi sangat bervariasi permintaan pasar. Beberapa pengusaha pembesaran ikan lele memelihara benih ikan lele dengan ukuran 5-7 cm, tetapi ada pengusaha pembesaran ikan lele memelihara benih ikan lele mulai dari ukuran 7-9 cm atau 9-12 cm. Demikian juga pengusaha pembesar ikan mas, nila, bawal, gurame, bandeng dan sebagainya memelihara benih ikan untuk kegiatan pembesaran membutuhkan ukuran benih sangat bervariasi.

Harga ikan sering mengalami fluktuasi artinya pada waktu tertentu terjadi penurunan harga ikan, tetapi waktu tertentu terjadi kenaikan harga ikan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penentuan waktu panen ikan yaitu pada saat harga ikan tinggi/mahal. Iklim/cuaca berpengaruh terhadap suhu air kolam/tambak. Pemanenan ikan sebaiknya dilakukan pada saat suhu air kolam/tambak masih dingin yaitu pada pagi atau sore hari.

Dengan demikian pemanenan dilakukan pada kegiatan pembenihan ikan dan pembesaran ikan. Kegiatan pemanenan pada pembenihan ikan, pemanenan dilakukan terhadap telur ikan, larva ikan, dan benih ikan. Pemanenan telur ikan dilakukan pada kegiatan pemijahan ikan gurame, bandeng, bawal dan sebagainya. Sedangkan pemanenan ikan pada kegiatan pembesaran dilakukan terhadap ikan ukuran konsumsi.

a. Waktu Pemanenan pada Kegiatan Pembenihan Ikan

Pemanenan benih ikan umumnya memiliki dua tujuan yaitu menjual dan memelihara benih hasil panen. Jika menjual benih ikan hasil panen tersebut, tentunya anda telah menjajaki/ mencari pasar atau pembelinya. Pada saat menjajaki/mencari pembeli tersebut anda tentu akan melakukan negoisasi/menanyakan harga, ukuran dan jumlah benih ikan yang akan di beli.

Penentuan waktu pemanenan pada kegiatan pembenihan ikan sesuai dengan perencanaan produksi kegiatan pembenihan ikan dan permintaan pasar. Perencanaan produksi usaha pembenihan ikan merupakan rencana jenis/komoditas, ukuran dan kapasitas benih ikan yang akan di hasilkan pada kegiatan pembenihan ikan.

Pada saat membuat perencanaan produksi pembenihan ikan tentu salah satu yang dianalisis adalah permintaan pasar atau jenis dan ukuran benih ikan yang laku dipasaran.

Setelah diketahui jenis dan ukuran ikan banyak laku di pasaran, selanjutnya di analisis kapasitas yang diminta pasar atau berapa jumlah benih yang dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian pemanenan benih ikan dilakukan berdasarkan ukuran dan jumlah benih ikan yang diminta pasar.

Penentuan waktu pemanenan benih ikan harus mempertimbangkan iklim atau cuaca. Iklim atau cuaca akan mempengaruhi suhu air pada saat penangkapan benih ikan. Pemanenan benih ikan dilakukan pada saat suhu air masih rendah yaitu pada pagi atau sore hari. Suhu air yang rendah mengandung oksigen terlarut yang tinggi untuk pernapasan benih ikan. Selain itu, suhu rendah metabolisme bahan organik didalam air pada saat penangkapan ikan masih lambat sehingga benih ikan tidak stress.

Produksi pada kegiatan pembenihan ikan yang biasa di pasarkan adalah telur, larva dan benih ikan. Telur ikan yang biasa dipasarkan oleh pengusaha pembenih ikan adalah telur ikan gurame. Umumnya telur ikan gurame dipasarkan dengan hitungan per butir telur.

Penentuan waktu pemanenan telur ikan gurame (Osphronemus gurami) sesuai dengan pemijahan induk ikan, karakteristik dan fisiologis telur. Pemijahan induk ikan gurame diawali dengan pembuatan sarang oleh induk jantan ikan gurame. Sarang induk ikan gurame tersebut terbuat dari substrat seperti rumput-rumputan, ranting kayu, ijuk, dan bahan lain yang terdapat di dalam kolam. Selanjutnya induk jantan dan betina melakukan pemijahan dan telur-telur tersebut di simpan di dalam sarang yang telah di buat oleh induk jantan. Setelah selesai menyimpan telur di dalam sarang, selanjutnya sarang tersebut di tutup menggunakan substrat.

Waktu yang baik memanen telur ikan gurame (Osphronemus gurami) adalah setelah induk ikan selesai memijah di tandai dengan bagian depan sarang telur ikan gurame telah tertutup. Selain itu sarang ikan gurame dapat di periksa dengan cara menusuk sarang telur ikan gurame menggunakan lidi atau kayu kecil. Jika pada saat menusuk sarang ikan gurame, terdapat berupa minyak di permukaan air maka didalam sarang tersebut suda terdapat telur ikan gurame.

Gambar 1. Sarang induk Ikan Gurame yang telah berisi telur Pemanenan telur ikan gurame yang

Gambar 1. Sarang induk Ikan Gurame yang telah berisi telur

Pemanenan telur ikan gurame yang baik dilakukan selain setelah induk ikan gurame selesai memijah juga dilakukan pada saat pagi atau sore hari. Pada saat tersebut, temperatur air rendah. Pada saat pengambilan telur ikan gurame harus dihindari sinar matahari langsung mengenai telur ikan. Pemanenan telur ikan harus hati hati dari benturan benda keras supaya cacat atau pecah.

hati hati dari benturan benda keras supaya cacat atau pecah. Gambar 2. Pemanenan Telur Ikan Gurame

Gambar 2. Pemanenan Telur Ikan Gurame

Beberapa jenis ikan, ukuran larva ikan telah dapat dipasarkan seperti larva ikan bawal ikan air tawar (Colossoma macropomum), lele ( Clarias sp), bandeng ( Chanos chanos), ikan patin (Pangasius sp) dan sebagainya. Istilah larva ikan secara harafiah (arti sebenarnya) dan di pemasaran ( lapangan) terdapat sedikit perbedaan.

Pengertian larva secara harafiah adalah organisme yang masih berbentuk primitif dimana organ-organ tubuhnya belum lengkap seperti halnya tubuh (ikan) dewasa. Dari pengertian tersebut, larva ikan masih memiliki kuning telur, sirip belum lengkap, alat pencernaan belum sempurna dan sebagainya. Sedangkan pengertian larva pada pemasaran ikan/lapangan/petani ikan adalah benih ikan yang masih berukuran kecil.

ikan adalah benih ikan yang masih berukuran kecil. Gambar 3. Larva ikan ( A ) dan

Gambar 3. Larva ikan ( A ) dan Larva ikan yang biasa dipasarkan (B )

Penentuan waktu panen larva ikan disesuaikan dengan ukuran, jarak pengiriman dan permintaan pasar. Pada beberapa jenis ikan pemasaran larva ikan berbeda dalam hal ukuran. Permintaan larva ikan patin umumnya umur 1-3 hari yaitu sebelum larva tersebut makan atau kuning telurnya belum habis. Waktu pemanenan larva ikan patin umumnya dilakukan pagi atau sore hari, diharapkan pada pagi atau sore hari suhu air

dan udara rendah. Suhu air pada saat pemanenan larva ikan adalah berkisar 20-26 C. Penentuan waktu panen larva ikan patin harus memperhitungkan jarak pengiriman. Selama perjalanan pengiriman larva sebaiknya suhu air media larva tetap rendah.

Waktu pemanenan larva ikan bawal disesuaikan dengan ukuran larva, jarak pengiriman dan permintaan pasar. Larva ikan bawal umumnya diperjual belikan pada umur 9 - 14 hari. Namun beberapa pembenih ikan bawal air tawar membeli larva umur 2-5 hari selanjutnya larva tersebut di pelihara sampai umur 9-14 hari. Penentuan waktu panen larva bawal juga ditentukan oleh jarak dan waktu pengiriman jika jarak pengiriman relatif jauh maka pengiriman dilakukan sore atau malam hari dan. Selama pengiriman larva bawal, air media hidup larva harus memiliki suhu yang rendah karena hal ini berhubungan dengan waktu panen larva.

Secara umum penentuan waktu panen larva ikan dilakukan pagi atau sore hari. Hal ini berhubungan dengan suhu air pada saat panen dan selama perjalanan untuk dikirim.

Pemanenan benih ikan dilakukan pada saat cuaca dingin umumnya dilakukan pagi atau sore hari. Penentuan waktu panen benih ikan berhubungan dengan suhu udara dimana suhu udara akan mempengaruhi suhu air. Pada kualitas air, suhu merupakan indikator kunci. Artinya perubahan suhu akan berpengaruh terhadap pH, amoniak, oksigen terlarut, karbondioksida dan sebagainya. Suhu udara yang panas akan menyebabkan suhu air ikut panas. Suhu air yang tinggi (panas) akan berpengaruh terhadap kandungan oksigen terlarut dalam air. Semakin tinggi suhu air maka kandungan oksigen terlarut dalam air semakin rendah. Selain itu semakin meningkat suhu air maka aktivitas organisme air (ikan) semakin meningkat. Semakin meningkat aktivitas organisme air (ikan) maka kebutuhan organisme air (ikan) akan oksigen terlarut juga meningkat.

organisme air (ikan) akan oksigen terlarut juga meningkat. Gambar 4. Grafik hubungan peningkatan suhu dan kandungan

Gambar 4. Grafik hubungan peningkatan suhu dan kandungan oksigen terlarut. Sesuai

grafik di atas

bahwa dengan

meningkatnya suhu air maka persentase

kandungan oksigen akan menurun. Pada kegiatan pemanenan ikan juga demikian, semakin panas air kolam/ tambak/bak/akuarium maka persentase kandungan oksigen terlarut akan berkurang. Oleh sebab itu pemanenan ikan sebaiknya dilakukan pada saat suhu air rendah yaitu pada pagi atau sore hari. Pemanenan benih ikan yang baik

dilakukan pada suhu kisaran 24 – 26 C.

Pada Pemanenan benih ikan, ukuran benih yang akan dipanen sangat tergantung pada permintaan pasar. Permintaan pasar khususnya ukuran benih ikan berbeda-beda setiap daerah. Contoh permintaan benih ikan lele terdiri dari ukuran 1-3 cm, 3-5 cm, 5 – 7cm, 7-9 dan 9-12 cm. Benih ikan gurame yang biasa di pasarkan berukuran 2-3 cm, 3-4 cm, 5-6 cm, 6-7 cm dan 8-9 cm. Demikian juga ikan patin berukuran 0,5-1 inchi, 2- 3 inchi, dan 4-5 inchi. Berikut ini berbagai ukuran benih ikan yang biasa di pasarkan.

Gambar 5. Macam macam ukuran benih ikan. A. benih ikan bandeng, B. benih ikan Gurame,

Gambar 5. Macam macam ukuran benih ikan. A. benih ikan bandeng, B. benih ikan Gurame, C. benih ikan bawal, D. benih ikan patin, E. benih ikan kerapu, F. benih ikan nila merah, G. benih ikan mas, H. benih ikan lele, I. benih ikan nila

b. Penentuan Waktu Panen Ikan Ukuran Konsumsi

Pemanenan ikan ukuran konsumsi merupakan pemanenan ikan pada kegiatan

pembesaran ikan. Penentuan waktu panen ikan ukuran konsumsi tergantung

permintaan pasar dan cuaca khususnya suhu air. Penentuan waktu panen

berhubungan dengan permintaan pasar adalah mempertimbangkan harga dan ukuran

ikan. Pada saat ikan memiliki harga yang tinggi/mahal, sebaiknya ikan dipanen

sehingga mendatangkan keuntungan.

Ukuran ikan umumnya yang diminati oleh pasar berdasarkan berat per ekor.

Permintaan pasar terhadap ukuran ikan berbeda untuk setiap jenis ikan. Permintaan

pasar untuk ikan lele adalah 125 gr – 170 gr per ekor, sedangkan ukuran ikan lele yang

lebih besar dari 170 gr/ekor umumnya kurang diminati masyarakat sehingga harga ikan

ukuran tersebut lebih rendah. Tetapi jika ukuran ikan lebih kecil dari 125 gr / ekor di

pasarkan maka pengusaha pembesaran ikan akan rugi karena ikan masih berukuran

lebih kecil.

Permintaan pasar terhadap ikan kerapu adalah ≥ 250 gr per ekor. Sedangkan

permintaan pasar terhadap ikan bandeng adalah ≥ 200 gr per ekor. Sedangkan

permintaan pasar terhadap ikan gurame ukuran konsumsi adalah ≥ 500 gr/ekor.

Permintaan pasar terhadap ikan nila ukuran konsumsi adalah ≥ 125 gr per ekor.

ikan nila ukuran konsumsi adalah ≥ 125 gr per ekor. Gambar 6. Berbagai Jenis dan Ukuran

Gambar 6. Berbagai Jenis dan Ukuran konsumsi ikan A. Ikan Lele, B, Ikan Nila, C,. Ikan Patin dan D ikan Kerapu

Penentuan waktu panen juga harus mempertimbangkan jarak dan lama pengiriman

ikan sampai pada tujuan / pasar. Jika pasar yang relatif dekat, pemanenan ikan dapat

dilakukan malam hari atau jika tujuan pengiriman ikan relatif lama atau jauh,

pemanenan ikan dapat dilakukan pada sore hari.

3.

Teknik Pemanenan ikan

Panen merupakan salah satu bagian yang penting dari budidaya ikan tetapi sering terabaikan dan tidak terencana dengan baik. Pemanenan ikan harus dilakukan persiapan dengan baik meliputi peralatan, penampungan ikan, waktu panen, teknik pemanenan, pengangkutan, jarak pengiriman dan kondisi ikan yang akan di panen.

4. Persiapan Pemanenan Ikan

Mengapa perlu dilakukan persiapan pemanenan ikan? Seberapa perlukah persiapan pemanenan ikan?

Persiapan pemanenan merupakan hal yang terpenting dalam kegiatan pemanenan ikan. Persiapan pemanenan berhubungan dengan kondisi ikan yang akan dipasarkan. Umumnya ikan yang dipasarkan pada kondisi hidup dan ikan segar. Ikan yang akan dipasarkan dalam keadaan hidup dan segar akan berbeda persiapan pemanenannya baik peralatan, penampungan, waktu panen dan teknik pemanenan.

a. Persiapan Pemanenan Ikan Hidup

Persiapan pemanenan ikan yang akan dipasarkan dalam keadaan hidup meliputi pemberokan ikan (memuasakan ikan), pemasangan wadah penampungan ikan, penyiapan alat dan bahan pemanenan, tenaga pemanenan dan sebagainya. Pemberokan ikan yang akan di panen berhubungan dengan pengangkutan ikan. Tujuan pemberokan pada kegiatan pengangkutan ikan adalah agar makanan yang terdapat pada usus ikan keluar dalam bentuk feses di wadah pemberokan. Dengan demikian pada saat pengangkutan ikan, media air bebas dari kotoran. Jika kotoran ikan terdapat pada media air pengangkutan akan mempengaruhi kualitas air khususnya menurunkan kandungan oksigen terlarut dan meningkatkan kandungan amoniak.

Cara pemberokan ikan di kolam dengan tidak diberi makan selama 1x24 jam. Sedangkan jika pemanenan dilakukan di jaring terapung selain tidak diberi makan selama 1x24 jam juga dilakukan dengan mengangkat jaring sebanyak setengah dari kedalaman. Pengangkatan jaring dilakukan selama 3 jam sebelum pemanenan.

Pemasangan wadah penampungan ikan yang akan dipanen dapat berupa bak, jaring atau bak. Penampungan ikan yang akan dipanen sebaiknya di tempatkan pada air mengalir agar oksigen terlarut tetap tinggi dan ditempatkan pada tempat yang teduh.

Penampungan ikan yang dipanen sebaiknya harus dekat dengan kolam/tambak/bak yang akan di panen agar lebih mudah dan cepat ikan mendapat air segar. Wadah penampungan digunakan pada saat pemanenan ikan di kolam/bak/akuarium. Tempat penampungan ikan juga berfungsi sebagai tempat menyortir dan grading ikan.

juga berfungsi sebagai tempat menyortir dan grading ikan. Gambar 7. Waring sebagai tempat penampungan sortir ikan
juga berfungsi sebagai tempat menyortir dan grading ikan. Gambar 7. Waring sebagai tempat penampungan sortir ikan

Gambar 7. Waring sebagai tempat penampungan sortir ikan yang akan di panen

Penentuan waktu panen yaitu pagi atau sore hari merupakan salah satu perencanaan dalam kegiatan pemanenan ikan. Penentuan waktu tersebut berhubungan dengan suhu air/udara dan waktu pengangkutan. Suhu air dipengaruhi oleh suhu udara. Tinggi rendah suhu air juga berpengaruh terhadap aktivitas ikan. Tingginya suhu air akan mengurangi kadar oksigen terlarut. Keadaan suhu air dan oksigen terlarut (DO) akan mempengaruhi aktivitas ikan. Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dan laju konsumsi oksigen organisme air. Organisme poikiloterm seperti halnya ikan merupakan hewan ektoterm yang suhu tubuhnya ditentukan dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan eksternal sedangkan hewan homeoterm yaitu hewan endoterm yang suhu tubuhnya diatur oleh produksi panas yang terjadi dalam tubuh. Pemanenan ikan hidup sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari sehingga suhu air/udara sudah menurun/rendah.

b. Persiapan Pemanenan ikan Segar

Ikan dikatakan segar apabila perubahan-perubahan biokimiawi, mikrobiologik, dan fisikawi belum menyebabkan kerusakan berat pada ikan. Pemanenan ikan segar biasa dilakukan terhadap ikan yang akan dipasarkan dalam kondisi mati tetapi masih tetap segar. Sebelum dilakukan pemanenan terlebih dahulu disiapkan es balok dan styrofoam atau drum plastik sebagai tempat packing. Waktu pemanenan ikan segar berhubungan dengan jarak pemasaran. Pemanenan ikan segar dapat dilakukan pagi, sore atau malam hari sesuai jarak pemasaran ikan tersebut.

Gambar 8. Pemanenan Ikan nila Segar 5. Pemanenan Ikan Kegiatan pemanenan merupakan akhir dari proses
Gambar 8. Pemanenan Ikan nila Segar 5. Pemanenan Ikan Kegiatan pemanenan merupakan akhir dari proses

Gambar 8. Pemanenan Ikan nila Segar

5. Pemanenan Ikan

Kegiatan pemanenan merupakan akhir dari proses budidaya ikan. Keberhasilan pemanenan akan meningkatkan keuntungan budidaya. Sebaliknya kegagalan dalam pemanenan akan menurunkan hasil dan keuntungan budidaya ikan. Pada beberapa jenis ikan khususnya ikan air tawar dipasarkan dalam keadaan hidup. Ikan yang masih dihidup di pasar memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan ikan yang sudah mati.

Pemanenan merupakan kegiatan mengambil seluruh hasil budidaya (ikan) dari lahan (kolam, tambak, jaring terapung bak, akuarium). Kegiatan pemanenan dilakukan pada kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan. Pada kegiatan pembenihan, pemanenan dilakukan terhadap benih ikan dimana benih tersebut akan dipelihara/dibesarkan kembali. Keberhasilan pemanenan akan menentukan harga benih ikan. Benih ikan yang cacat atau stres dapat menyebabkan harga benih ikan turun bahkan tidak laku.

a. Pemanenan pada Kegiatan Pembenihan Ikan

Pemanenan pada kegiatan pembenihan ikan terdiri dari pemanenan telur ikan, larva, dan benih ikan. Teknik pemanenan ikan pada ketiga fase diatas masing masing berbeda. Perbedaan cara pemanenan tersebut dipengaruhi oleh karakter, daya tahan, ukuran dan spesies ikan. Pemanenan benih ikan baung berbeda dengan pemanenan benih ikan lele. Benih ikan lele lebih tahan terhadap perubahan suhu air dibandingkan benih ikan baung. Demikian juga pemanenan benih ikan mas berbeda teknik pemanenan benih ikan nilem atau nila.

Pemanenan telur ikan Secara umum telur ikan yang telah biasa dipasarkan adalah telur ikan gurame.

Pemanenan telur ikan gurame diawali dengan memeriksa

sarang ikan gurame

apakah pada sarang tersebut sudah ada. Pemeriksaan sarang ikan gurame dilakukan setiap hari baik pagi atau sore hari. Beberapa pengusaha pembenihan ikan gurame, pemeriksaan sarang telur ikan gurame dilakukan pada saat memberi makan. Ciri-ciri sarang yang telah berisi telur adalah bagian depan sarang telah tertutup rapat dan apabila bagian sarang ditusuk menggunakan lidi atau kayu kecil akan terdapat minyak di permukaan air. Selain itu sarang yang telah berisi telur akan dijaga induk betina di depan sarang tersebut.

Pengambilan telur dilakukan 1-2 hari setelah pemijahan ikan gurame atau setelah ciri-ciri sarang berisi telur diatas diketahui. Pengambilan telur yang terlambat menyebabkan telur menetas dan larva/benih berenang keluar sarang. Larva/benih yang telah berenang keluar sarang akan sulit ditangkap.

Pengambilan telur dilakukan pagi hari, saat suhu air masih rendah. Pengambilan telur ikan gurame pada siang hari atau pada saat suhu air masih panas harus dihindari. Telur ikan gurame yang telah dipanen jangan terkena sinar matahari secara langsung karena dapat menimbulkan kerusakan pada permukaan telur. Kerusakan telur tersebut dapat menurunkan daya tetas telur.

Pengambilan telur ikan gurame dilakukan dengan mengangkat sarang kedalam ember atau baskom yang berisi air bersih. Pengambilan sarang harus hati - hati agar sarang tidak rusak. Sarang yang rusak dapat menyebabkan telur ikan gurame keluar sarang sehingga menyulitkan untuk diambil kembali. Jika terdapat telur ikan gurame yang keluar sarang dan terapung di permukaan air dapat diambil menggunakan seser halus. Sarang yang sudah diangkat dimasukan dalam ember atau baskom plastik yang sudah diberi air. Air didalam ember/baskom tersebut berasal dari kolam pemijahan, agar kualitas airnya sama, terutama suhu. Untuk memudahkan pengambilan telur ikan gurame, ember /baskom yang digunakan sebaiknya warna gelap agar warna telur dan ember kontras sehingga memudahkan dalam pengambilan telur.

Sarang induk ikan gurame yang telah diambil dan dimasukkan kedalam ember/baskom di bawa ke dalam ruangan atau tempat teduh. Telur ikan gurame tersebut dikeluarkan dari sarang dengan cara memisahkan atau menarik sedikit demi sedikit bahan pembuat sarang/substrat (ijuk atau sabut kelapa). Telur yang telah terpisah dengan substrat (ijuk atau sabut kelapa) dipindahkan ke ember/baskom lain yang diisi air bersih. Pemindahan telur gurame tersebut dapat dilakukan menggunakan sendok atau gelas. Selanjutnya telur ikan gurame tersebut dapat di tetaskan atau di pasarkan.

Gambar 9. Pemanenan telur ikan gurame Selain telur ikan gurame, telur ikan bandeng juga biasa

Gambar 9. Pemanenan telur ikan gurame

Selain telur ikan gurame, telur ikan bandeng juga biasa di pasarkan. Pemanenan telur ikan bandeng dilakukan setelah melewati masa kritis. Masa kritis telur ikan bandeng terjadi antara 4-8 jam setelah pembuahan, oleh sebab itu pemanenan telur ikan bandeng dapat dilakukan setelah 4-8 jam dari pembuahan. Pemanenan telur ikan bandeng diawali dengan pemasangan saringan. Saringan yang digunakan untuk panen telur bandeng berukuran 40x40x50 cm dengan ukuran mata saringan 200 – 300 mikron yang berbentuk serokan. Saringan dipasang bagian luar bak penetasan telur pada bagian bawah pipa pengeluaran. Pemanenan dapat dilakukan dengan memanfaatkan arus air dalam tangki pemijahan. Pemanenan telur dari bak penampungan dapat dilakukan dengan menggunakan plankton net berukuran mata jaring 200-300 mikron dengan cara diserok. Telur yang terambil dipindahkan ke dalam akuarium volume 30-100 liter, diaereasi selama 15-30 menit dan didesinfeksi dengan formalin 40 % pada dosis 10 ppm selama 10-15 menit sebelum diseleksi.

Sortasi telur ikan bandeng dilakukan dengan cara meningkatkan salinitas air sampai 40 ppt dan menghentikan aerasi. Telur yang baik akan terapung atau melayang dan yang tidak baik akan mengendap. Prosentase telur yang baik untuk pemeliharaan selanjutnya harus lebih dari 50 %. Jika prosentase telur yang baik kurang dari 50 %, sebaiknya telur tersebut dibuang.

Pemanenan Larva Ikan Beberapa jenis larva ikan telah dapat di pasarkan seperti larva ikan bandeng dan ikan bawal. Umumnya panen nener bandeng dan larva ikan bawal dilakukan dengan cara pemanenan total. Pada pemanenan larva/nener bandeng dimulai dengan menurunkan volume air sebanyak 80%. Pada saat penurunan air bak dipasang kelambu panen (waring halus) pada ujung pipa pengeluaran air bak larva/nener. Sebaiknya kelambu panen (waring halus) terbuat dari jaring nylon yang berukuran mata jaring 250 mikron. Jika nener sudah terlihat banyak yang tertampung di dalam kelambu maka panen segera dilakukan dengan cara diseser dan dipindahkan ke bak sortiran. Bak sortir sebelumnya telah disiapkan dimana kualitas air sama dengan kualitas air bak nener yang akan dipanen.

air sama dengan kualitas air bak nener yang akan dipanen. Gambar 10. Bak sortir nener Ikan

Gambar 10. Bak sortir nener Ikan bandeng

Waktu pemanenan larva/nener dilakukan pada pagi hari. Pemanenan dilakukan pada saat larva berumur 17 hari (D17) sampai larva berumur 20 hari (D20). Pada umur tersebut larva bandeng telah mencapai ukuran 12 mm dengan berat 0,006 gram dan saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa.

Pelaksanaan pemanenan larva bawal di bak pemeliharaan hampir sama dengan pemanenan nener. Pemanenan larva ikan bawal dilakukan dengan cara pemanenan total. Pemanenan larva bawal dilakukan pada saat kondisi suhu air pemeliharaan 23-27 C. Awal pemanenan larva bawal dilakukan penurunan air bak pemeliharaan sebanyak 60-70%. Sebelum pipa pengeluaran air bak pemeliharaan di buka, terlebih dahulu dipasang saringan halus agar larva tidak lolos keluar. Penurunan air bak dilakukan secara perlahan-lahan agar larva tidak terbawa arus air.

Pemanenan / penangkapan larva dilakukan menggunakan seser halus. Penangkapan larva dilakukan dengan hati-hati dimana seser yang digunakan menangkap larva digerakkan searah (tidak bolak balik) agar larva tidak tertekan di dalam seser. Larva yang tertekan dalam seser menyebabkan stres dan terluka. Larva yang telah ditangkap dalam seser di pindahkan ke dalam ember atau baskom yang telah berisi air. Air yang berada didalam baskom sebaiknya berasal dari air bak pemeliharaan larva.

baskom sebaiknya berasal dari air bak pemeliharaan larva. Gambar 11. Pemanenan larva Ikan Bawal Pemanenan diawali
baskom sebaiknya berasal dari air bak pemeliharaan larva. Gambar 11. Pemanenan larva Ikan Bawal Pemanenan diawali

Gambar 11. Pemanenan larva Ikan Bawal

Pemanenan diawali dengan pengurangan volume air dalam tangki benih kemudian diikuti dengan menggunakan alat panen yang dapat disesuaikan dengan ukuran nener, memenuhi persyaratan hygienis dan ekonomis. Serok yang digunakan untuk memanen benih harus dibuat dari bahan yang halus dan lunak berukuran mata jaring 0,05 mm supaya tidak melukai nener. Nener tidak perlu diberi pakan sebelum dipanen untuk mencegah penumpukan metabolit yang dapat menghasilkan amoniak dan mengurangi oksigen terlarut secara nyata dalam wadah pengangkutan.

Pemanenan Benih Ikan Pemanenan benih ikan dilakukan pada wadah pendederan yang terdiri dari kolam, tambak, bak atau akuarium. Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, penting dilakukan perencanaan dan persiapan pemanenan benih. Perencanaan dan persiapan benih dapat dibaca pada penentuan waktu panen, diatas. Pemanenan benih ikan dikolam dilakukan dengan menurunkan air secara perlahan-lahan. Sebelum menurunkan air kolam, saringan dipasang di depan pipa pengurasan/pengeluaran air.

Pemanenan benih ikan dikolam dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menangkap ikan menggunakan jaring dan mengeringkan kolam. Menangkap ikan menggunakan jaring dilakukan sambil mengeringkan air kolam. Sebelum air kolam kering, benih ikan ditangkap menggunakan ancho atau jaring. Ancho yang digunakan untuk menangkap benih ikan diletakkan di dasar kolam. Setelah beberapa menit kemudian ancho diangkat. Benih yang terdapat dalam ancho di pindahkan ke waring penampungan ikan.

dalam ancho di pindahkan ke waring penampungan ikan. Gambar 12. Anco salah satu alat menangkap ikan

Gambar 12. Anco salah satu alat menangkap ikan

Pemanenan benih ikan di kolam banyak dilakukan dengan menangkap benih ikan menggunakan jaring. Jaring yang digunakan dengan panjang sama atau lebih dari lebar kolam, sedangkan tinggi jaring 1,5 kali lebih tinggi dari air kolam. Bahan jaring sebaiknya berasal dari benang nilon atau polyethilene. Penangkapan dengan menggunakan jaring dilakukan pada saat air kolam masih tinggi atau sudah dikeringkan sebanyak 20-30% dari total air. Mata jaring yang digunakan untuk menangkap ikan harus lebih kecil dari benih ikan yang ada di kolam. Menangkap benih ikan menggunakan jaring dilakukan olah 4-5 orang tergantung lebar jaring. Pada saat menggunakan jaring di kolam, bagian bawah jaring harus menempel pada dasar kolam sehingga benih ikan tidak ada yang lolos. Jaring ditarik dari ujung kolam yang satu ke ujung kolam yang lain secara bersamaan.

Benih ikan yang telah tertangkap dalam jaring ditangkap menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam ember yang berisi air untuk dipindahkan ke waring penampungan sementara. Jika benih ikan terlalu padat/ banyak dalam jaring, maka jaring dapat di perlebar agar benih ikan tidak berdesak desakan dan sebaliknya jika benih ikan tinggal sedikit, maka jaring dapat dipersempit agar

semua benih ikan dapat ditangkap menggunakan seser. Pemanenan benih ikan menggunakan jaring lebih baik dan lebih cepat sehingga benih ikan terhindar dari stress, luka dan kematian.

benih ikan terhindar dari stress, luka dan kematian. Gambar 13. Menangkap benih ikan menggunakan jaring Benih
benih ikan terhindar dari stress, luka dan kematian. Gambar 13. Menangkap benih ikan menggunakan jaring Benih

Gambar 13. Menangkap benih ikan menggunakan jaring

Benih ikan yang telah ditangkap menggunakan jaring kemungkinan masih ada yang tersisa di dalam kolam. Oleh sebab itu kolam dikeringkan dengan membuka pipa pengurasan. Sebelum pipa pengurasan dibuka terlebih dahulu dipasang saringan agar benih ikan tidak lolos keluar kolam. Air kolam yang telah kering, biasanya benih ikan akan berkumpul di kamalir dan di kobakan. Benih –benih ikan tersebut diambil menggunakan seser dimasukkan kedalam ember dan dipindahkan ke waring penampungan benih ikan. Benih hasil panen ditampung dalam ember besar dan dimasukan ke dalam bak penampungan/ hapa penampungan benih. Benih tidak boleh terlalu padat dan selama pemanenan berlangsung air harus tetap mengalir agar benih tidak stres (Prihartono dkk,2000).

Pemanenan benih dapat juga dilakukan dengan mengeringkan kolam secara total. Pemanenan benih ikan dengan mengeringkan kolam dilakukan pada pagi hari agar air kolam pada saat pemanenan masih dingin. Pengeringan air kolam dilakukan dengan membuka pintu pengeluaran air dan menutup pipa pemasukan air. Agar ikan tidak keluar terbawa air, pintu pengeluaran air diberi alat penyaring. Setelah air kolam surut dan ikan mulai berkumpul pada kemalir atau kobakan yang terdapat dalam kolam, ikan mulai ditangkap dengan menggunakan seser. Kemalir merupakan saluran mulai dari pipa pemasukan air sampai pengeluaran air atau saluran di sekeliling kolam. Kobakan merupakan bagian yang terdalam dari bagian kolam, umumnya dibuatkan di depan pipa pengurasan air. Penangkapan benih ikan dilakukan pada kobakan sampai habis, selanjutnya dilakukan penangkapan benih ikan yang mengumpul di kemalir. Ikan yang ditangkap pada bagian kemalir

di mulai dari bagian hilir terlebih dahulu dilanjutkan sampai depan pipa pemasukan air. Jika benih ikan terlihat kolaps atau stres yang ditandai dengan benih ikan berada di permukaan, secepat mungkin air dialirkan melalui pipa pemasukan air. Benih ikan yang telah ditangkap menggunakan seser dimasukkan kedalam ember selanjutnya dipindahkan ke dalam waring penampungan benih ikan.

dipindahkan ke dalam waring penampungan benih ikan. Gambar 14. Pemanenan benih ikan di kolam dan penampungan

Gambar 14. Pemanenan benih ikan di kolam dan penampungan benih ikan

Wadah penampungan yang berisi benih ikan harus dialirkan air secara terus menerus. Selain itu wadah penampungan ikan sebaiknya ditempatkan pada lokasi yang teduh. Benih ikan yang telah ditampung dibiarkan 30-60 menit agar segar dan tidak stress. Selanjutnya wadah penampungan dibersihkan dari sampah, lumpur, ikan liar, ikan yang cacat atau ikan yang mati. Jika ikan telah segar dan lincah dapat dilakukan penyortiran.

Pemanenan gelondongan ikan bandeng dilakukan untuk tujuan pemeliharaan berikutnya, oleh karena itu hasil panen harus dalam keadaan hidup. Pemanenan dapat dilakukan pada pagi, sore atau malam hari. Pemanenan pada waktu air pasang dapat dilakukan dengan cara memasukkan air baru ke dalam tambak. Hal ini menyebabkan ikan-ikan bergerak menuju arah masuknya air dan berkumpul di dekat pintu air. Dengan menggunakan jaring, prayang atau pukat ikan-ikan digiring menuju pintu air, kemudian secara perlahan-lahan lingkaran jaring diperkecil sehinggga ikan-ikan terkurung di dekat pintu. Penangkapan pada waktu air surut dilakukan terlebih dahulu untuk mengurangi air tambak sehingga air tersisa di dalam caren sekitar 20 cm. Ikan digiring perlahan-lahan dan lingkaran diperkecil sehingga ikan dapat berkumpul dekat pintu. Ikan-ikan yang sudah terkurung perlu dibera selama 1-2 hari sebelum dipanen untuk dipindahkan. Penangkapan ikan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kemungkinan luka-luka pada

tubuh ikan dan kehilangan sisik akibat gesekan. Jika lokasi engangkutan agak jauh, ikan perlu dikemas terlebih dahulu dalam kantong plastik yang telah berisi air laut dengan kepadatan 25-50 ekor/liter sesuai ukuran ikan diberi oksigen dengan perbandingan air dan oksigen 1:1,5 atau 1:2 tergantung jarak atau lama pengangkutan.

1:1,5 atau 1:2 tergantung jarak atau lama pengangkutan. Gambar 15. Panen gelondongan ikan bandeng b. Pemanenan

Gambar 15. Panen gelondongan ikan bandeng

b. Pemanenan Ikan Ukuran Konsumsi

Pemanenan ikan ukuran konsumsi biasa dilakukan di tambak atau kolam, kolam air deras dan jaring terapung. Teknik pemanenan pada setiap tempat pemeliharaan tersebut memiliki ciri dan cara tersendiri. Pelaksanaan panen bandeng yang tepat adalah pagi atau sore hari karena suhu air di dalam tambak saat itu rendah sehingga ikan bandeng tidak stress. Cara pemanenan ada 2 macam yakni pemanenan penjarangan dan pemanenan total. Panen penjarangan ikan bandeng dilakukan ketika tambak masih terdapat air, sedangkan panen total dilakukan melalui pengurasan air tambak. Sedangkan panen penjarangan ikan dikolam dilakukan menggunakan jaring atau ancho dengan mengeringkan air kolam terlebih dahulu.

Pemanenan penjarangan pada dasarnya dilakukan dengan memanfaatkan sifat ikan bandeng yang cenderung melawan arus air. Cara ini cocok jika tambak pemeliharaan bandeng dilengkapi dengan petak penangkapan ( kobakan ) yang letaknya di depan pintu air tambak pembesaran.

Pelaksanaan pemanenan ikan bandeng di tambak dimulai dengan menurunkan permukaan air tambak 30-50 cm. Penurunan air tersebut dilakukan dengan mengeluarkan air melalui pintu pengeluaran air tambak.

Pengeluaran air dilakukan pada saat air laut sedang surut. Setelah penurunan air selesai, pintu pengeluaran air ditutup kembali. Ketika ketinggian air mencapai puncak pasang, maka pintu pemasukan air dibuka dan saringan pintu air yang cukup kuat dan tinggi dipasang. Air baru yang masuk ke dalam tambak, ikan bandeng akan terangsang untuk menyongsong air baru sehingga berkumpul di sekitar pintu air atau di dalam petak penangkapan.

Ketika ikan sudah memenuhi petak penangkapan, maka saringan pada pintu petak penangkapan dipasang, agar ikan tidak dapat masuk kembali ke dalam petak pembesaran. Ikan-ikan yang bergerombol di petak penangkapan ini selanjutnya ditangkap menggunakan serokan, jala atau jaring secara berulang-ulang. Segera ikan yang tertangkap dimasukkan ke dalam tempat penampungan sementara. Panen penjarangan dilakukan untuk meringankan pekerjaan pada saat panen total, karena ikan yang dipanen berkurang. Panen ini juga bermanfaat untuk mendapatkan hasil tangkap yang berkualitas baik, karena ditangkap dalam keadaan hidup, sehingga masa kesegaran ikan akan lama/tidak cepat busuk, bahkan bisa diupayakan hidup hingga di tangan konsumen. Pemanenan penjarangan tidak bisa dilakukan jika ikan yang dipelihara tidak banyak atau hasil panen penjarangan terlalu sedikit, karena ikan panen tersebut terlalu sedikit juga untuk diangkut atau dijual.

tersebut terlalu sedikit juga untuk diangkut atau dijual. Keterangan : 1. Petakan penangkapan 2. Pipa pemasukan

Keterangan :

1. Petakan penangkapan

2. Pipa pemasukan air

3. Pipa pengeluaran air

4. Caren

5. Pelataran tambak

Gambar 16. Petak Penangkapan ikan Bandeng

Pemanenan ikan bandeng di Tambak Pemanenan total dilakukan melalui pengeringan tambak dan penangkapan seluruh ikan yang ada. Pelaksanaannya dimulai dengan pengeluaran air tambak, ketika air laut sedang surut, hingga air tambak hanya tersisa pada saluran dasar. Setelah itu pada caren di bagian ujung tambak dipasang sepasang wide/jaring atau krey. Wide/jaring ini berfungsi untuk menggiring bandeng agar berkumpul dan terkonsentrasi pada areal tertentu, sehingga mudah ditangkap. Wide/jaring yang satu digerakkan ke arah kiri dan yang lainnnya ke arah kanan, semuanya mengarah ke tempat penangkapan, yaitu di bagian caren yang berada di depan pintu air.

yaitu di bagian caren yang berada di depan pintu air. Gambar 17. Arah pergerakan wide/jaring untuk

Gambar 17. Arah pergerakan wide/jaring untuk menggring ikan bandeng

Selagi wide ini digerakkan ikan bandeng dan ikan rucah (terutama udang liar dan ikan-ikan yang lemah/mati) yang berkumpul sekitar wide sudah mulai ditangkap. Alat yang digunakan berupa serokan, atau dengan tangan langsung. Oleh karena itu harus ada orang yang bertugas menangkap ikan, selain yang menggerakkan wide. Penangkapan yang lebih intensif dilakukan ketika kumpulan ikan sudah terkonsentrasi di sekitar pintu air.

kumpulan ikan sudah terkonsentrasi di sekitar pintu air. Gambar 18. Penangkapan Ikan Bandeng di tempat penangkapan

Gambar 18. Penangkapan Ikan Bandeng di tempat penangkapan (kobakan)

Ikan yang telah tertangkap dikumpulkan pada suatu wadah penampungan untuk dibersihkan dan disortir. Setelah ikan bandeng dipanen semua maka dilakukan pembersihan dengan menyiram ikan bandeng menggunakan air bersih sehingga kotoran berupa lumpur dapat hilang dari tubuh ikan. Selanjutnya dilakukan pemisahan dan sortir ikan bandeng. Pada saat pemanenan kemungkinan terdapat udang dan ikan ikan lainnya pada tumpukan ikan bandeng oleh sebab itu dilakukan pemisahan. Sortir ikan bandeng dilakukan dengan memisahkan ukuran kecil, sedang dan besar. Sortir ukuran tersebut ditujukan agar pemasaran ikan bandeng lebih mudah dan menguntungkan.

agar pemasaran ikan bandeng lebih mudah dan menguntungkan. Gambar 19. Penampungan ikan bandeng setelah selesai

Gambar 19. Penampungan ikan bandeng setelah selesai ditangkap

Pemanenan Ikan di Kolam Sebelum dilakukan pemanenan ikan di kolam, dilakukan pemberokan dengan mempuasakan ikan selama 1-2 hari. Mempuasakan ikan dilakukan dengan tidak diberi makan. Pemanenan ikan di kolam umumnya adalah pemanenan ikan air tawar. Ikan air tawar umumnya di pasaran dijual dalam keadaan hidup. Oleh sebab itu ikan yang dipasarkan dalam keadaan hidup, cara pemanenannya harus hati hati. Sebelum dilaksanakan pemanenan terlebih dahulu disiapkan peralatan, penampungan ikan dan sebagainya ( baca pemanenan ikan hidup ). Pemanenan ikan dilaksanakan pada pagi hari pada saat suhu air masih dingin. Dengan demikian pengeringan kolam dapat dilaksanakan pagi pagi sekali (tergantung luas kolam) sehingga penangkapan ikan di lakukan sebelum matahari terbit ( suhu air panas ).

Pemanenan ikan ukuran konsumsi dikolam dilakukan dengan memasang saringan pada pipa pengurasan. Ukuran mata jaring yang digunakan sebagai saringan harus lebih kecil dari ikan yang akan di panen. Selanjutnya pipa pengurasan dibuka agar air kolam dapat kering. Pada saat bersamaan pipa pemasukan air kolam di tutup. Setelah air kolam kering, ikan akan berkumpul pada kemalir dan kobakan. Ikan –ikan tersebut ditangkap menggunakan seser atau lambit. Khusus untuk ikan gurame, penangkapan ikan tersebut dilakukan menggunakan langsung tangan tanpa menggunakan lambit atau seser. Ikan yang telah ditangkap dimasukkan kedalam ember dan segera dipindahkan ke tempat penampungan ikan. Penangkapan ikan dimulai dari kobakan sampai habis dan dilanjutkan kebagian hulu kolam sampai habis. Jika pada saat penangkapan ikan terlihat stres atau koleps maka dialirkan air dengan membuka pipa pemasukan air serta penangkapan ikan dihentikan sementara. Penangkapan ikan dilanjutkan jika ikan yang stres atau koleps sudah segar kembali.

Pemanenan ikan dikolam dapat dilakukan dengan cara menangkap ikan menggunakan jaring dan mengeringkan kolam. Menangkap ikan dikolam menggunakan jaring dilakukan dengan cara menurunkan air kolam sampai 40-50 cm. Panjang jaring yang digunakan lebih panjang dari dari lebar kolam. Bagian bawah jaring memiliki pemberat berupa batu atau rantai besi . Jaring dibentangkan sesuai lebar kolam, dimana bagian bawah jaring diletakkan sampai ke dasar kolam. Demikian pada sisi kanan dan kiri jaring harus menempel pada dinding kolam sehingga ikan tidak ada yang lolos. Jaring ditarik atau maju dari pipa pemasukan ke arah pipa pengeluaran secara perlahan-lahan sampai ujung kolam sehingga jarak antara jaring dengan dinding kolam rapat . Ikan yang telah berada didalam jaring dapat ditangkap menggunakan lambit atau seser kasar sampai ikan habis di dalam jaring. Jika masih ada ikan yang tertinggal maka dilakukan pengeringan kolam untuk menangkap ikan yang tertinggal.

pengeringan kolam untuk menangkap ikan yang tertinggal. Gambar 20. Pemanenan ikan di kolam menggunakan jaring dan
pengeringan kolam untuk menangkap ikan yang tertinggal. Gambar 20. Pemanenan ikan di kolam menggunakan jaring dan

Gambar 20. Pemanenan ikan di kolam menggunakan jaring dan pengeringan kolam

Ikan yang telah ditangkap di masukkan kedalam ember untuk di pindahkan ke waring/jaring penampungan. Penampungan ikan sebaiknya memiliki ukuran yang cukup besar sesuai jumlah ikan yang dipanen. Selanjutnya didalam penampungan ikan dilakukan pemilihan ikan. Pemilihan ikan dilakukan terhadap ukuran dan kesehatan ikan.

Pemilihan ikan dilakukan terhadap ukuran dan kesehatan ikan. Gambar 21. Ikan Lele dikumpulkan dalam penampungan untuk

Gambar 21. Ikan Lele dikumpulkan dalam penampungan untuk di sortir

Pemanenan ikan ukuran konsumsi di kolam dapat juga dilakukan dengan mengeringkan kolam secara total. Pengeringan air kolam dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara dan air masih rendah / dingin. Sebelum dilakukan pengeringan kolam, perlu dilakukan persiapan pemanenan ikan. Persiapan pemanenan meliputi persiapan alat dan wadah seperti ember, seser, waring, dan sebagainya. Waring atau tempat penampungan ikan hasil pemanenan harus sudah terpasang sebelum penangkapan dimulai. Waring/tempat penampungan hasil panen ikan sebaiknya di pasang berdekatan dengan kolam yang akan dipanen, teduh dan terdapat air mengalir. Jumlah waring/tempat penampungan ikan disesuaikan dengan jumlah ikan yang akan dipanen. Sebaiknya ikan tidak terlalu padat pada tempat penampungan agar tetap sehat dan tidak terluka.

pada tempat penampungan agar tetap sehat dan tidak terluka. Gambar 22. Pemasangan Waring/tempat penampungan hasil panen

Gambar 22. Pemasangan Waring/tempat penampungan hasil panen ikan

Pengeringan kolam di awali dengan pemasangan saringan di depan pipa pengurasan/pengeluaran air. Saringan pada pipa pengeluaran air dipasang harus kokoh dari tekanan air dan ikan. Pengeringan kolam dilakukan dengan membuka pipa pengurasan air dan menutup pipa pemasukan air. Penangkapan ikan dapat dilakukan jika air sudah surut dan berada pada kemalir kolam. Penangkapan ikan menggunakan seser atau waring dimulai dari petak pemanenan atau kobakan di depan pipa pengurasan air. Ikan yang sudah ditangkap segera dimasukkan ke dalam ember yang berisi air dan selanjutnya dipindahkan kedalam waring/tempat penampungan ikan. Jika ikan telah habis ditangkap di petak kobakan, dilanjutkan penangkapan di kemalir dari hilir sampai ke hulu/ depan pipa pemasukan. Jika selama proses penangkapan ikan terdapat ikan stress, maka pipa pemasukan air dibuka dan alirkan air kedalam kolam sambil menangkap ikan. Ikan yang stres ditandai dengan ikan berenang di permukaan air, ikan berenang terbalik (bagian perut di atas) dan gerakan tidak beraturan. Selain itu jika suhu udara atau air telah hangat maka penangkapan ikan dihentikan, pipa pengurasan air ditutup dan alirkan air kedalam kolam. Penangkapan ikan dapat dilanjutkan sore atau pada saat suhu air rendah.

ikan dapat dilanjutkan sore atau pada saat suhu air rendah. Gambar 23. Pemanenan Ikan di Kolam

Gambar 23. Pemanenan Ikan di Kolam

Ikan yang dipanen akan stress jika kadar oksigen terlarut dalam air berkurang, Berkurangnya kadar oksigen di perairan dapat diakibatkan oleh proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik, reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob dan proses pernapasan organisme yang hidup di dalam air. Proses oksidasi (pembongkaran) bahan organik pada saat pemanenan ikan di kolam adalah pada saat kolam ikan telah kering dan proses penangkapan ikan maka sisa pakan, kotoran ikan di dasar kolam terangkat dan bercampur air. Pada saat tersebut terjadi oksidasi yang menyebabkan kadar oksigen dalam air berkurang.

Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan sebaliknya jika suhu semakin tinggi maka kadar oksigen dalam air semakin sedikit. Suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan, peningkatan aktivitas metabolisme ikan dan penurunan gas (oksigen) terlarut. Menurut Achmad (2004), pengaruh suhu sangat penting dalam kasus oksigen. Kelarutan oksigen dalam air pada berbagai suhu berpengaruh terhadap kelarutan gas-gas dalam air. Dengan kenaikan suhu air, terjadi penurunan kelarutan oksigen (O 2 ) yang diikuti dengan naiknya kecepatan pernapasan organisme perairan, sehingga sering menyebabkan adanya suatu keadaan naiknya kebutuhan oksigen diikuti oleh turunnya kelarutan gas tersebut dalam air. Oleh sebab itu pemanenan ikan harus dilaksanakan pada saat suhu air rendah.

Pemanenan Ikan di Jaring Terapung Pemanenan ikan ukuran konsumsi di jaring terapung dilaksanakan pada saat suhu air rendah. Ikan yang akan dipanen dipuasakan /diberok terlebih dahulu selama 24 jam. Selama puasa pemberokan ikan tidak diberi makan. Pemberokan bertujuan untuk mengosongkan usus ikan dari makanan atau bahan organik lainnya. Jika usus ikan telah kosong dari makanan, maka air dalam pengemasan/packing tidak kotor pada saat pengangkutan, sehingga kandungan oksigen terlarut pada air pengemasan /packing tetap tinggi dan ikan tetap hidup sampai tujuan.

Jaring terapung biasa digunakan masyarakat untuk membesarkan ikan. Pembesaran ikan menggunakan jaring terapung dapat dilakukan di danau, waduk, sungai dan laut. Pembesaran ikan menggunakan jaring apung di laut umumnya adalah pembesaran memelihara ikan kerapu. Sedangkan pembesaran ikan menggunakan jaring terapung di air tawar biasanya pembesaran ikan mas, nila, patin, gurame, bawal, baung dan sebagainya.

pembesaran ikan mas, nila, patin, gurame, bawal, baung dan sebagainya. Gambar 24. Jaring terapung untuk pembesaran

Gambar 24. Jaring terapung untuk pembesaran ikan

Pemanenan ikan ukuran konsumsi di jaring terapung diawali dengan mengangkat pemberat jaring terapung (jangkar). Pemanenan ikan dijaring terapung dilakukan dengan mengumpulkan ikan pada salah satu sisi/sudut kolam jaring terapung. Mengumpulkan ikan pada salah satu sisi/sudut kolam jaring terapung dapat dilakukan dengan mengangkat salah satu sisi jaring terapung. Dengan demikian ikan akan berenang dan berkumpul ke arah salah satu sisi jaring terapung, seperti terlihat pada gambar 2.17. mengangkat salah satu jaring terapung sambil menggiring ikan untuk berkumpul pada salah satu sisi kolam jaring terapung dapat juga dilakukan menggunakan bambu. Bambu sepanjang kolam jaring terapung dimasukkan di bawah jaring terapung selanjutnya bambu tersebut di tarik atau didorong ke arah sisi lainnya sehingga ikan berkumpul pada sisi tersebut seperti terlihat pada gambar 2.17. Ikan yang telah berkumpul pada sisi jaring terapung ditangkap menggunakan seser/lambit kemudian dimasukkan ke dalam ember, di timbang dan dipacking/dikemas.

dimasukkan ke dalam ember, di timbang dan dipacking/dikemas. Gambar 25. Pemanenan ikan di kolam jaring terapung

Gambar 25. Pemanenan ikan di kolam jaring terapung

Pemanenan ikan dijaring terapung dilakukan dengan menarik jaring pada salah satu sisi atau sudut jaring. Sehingga ikan akan berkumpul pada sisi atau sudut jaring lainnya. Selanjutnya dari bawah jaring dimasukkan bambu sebagai penyanggah agar ikan tetap berada pada salah satu sisi jaring.

c. Sortasi dan Grading Ikan

Kegiatan sortasi pada pemanenan ikan merupakan kegiatan menyeleksi, membuang ikan yang mati/cacat. Sedangkan grading merupakan kegiatan mengelompokkan dan mengkelaskan berdasarkan ukuran. Kegiatan sortir dan grading ikan dilakukan setelah selesai panen pada tempat penampungan ikan. Pada tempat penampungan ikan dilakukan pemisahan ikan yang mati/cacat, berbeda spesies serta ikan ukuran kecil, sedang dan besar.

Pertumbuhan ikan dalam satu kolam sering kali tidak seragam sehingga pada saat panen, ikan yang didapat mempunyai ukuran yang beragam. Ukuran ikan yang beragam tersebut di lakukan grading dimana ukuran yang sama ditempatkan pada tempat yang sama. Sedangkan ukuran ikan yang sesuai dengan permintaan pasar dapat dijual dan ikan yang lebih kecil dipelihara.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab ketidak seragaman ukuran ikan. Faktor pertama adalah ketersediaan makanan dalam jumlah yang tidak mencukupi. Jika makanan yang tersedia kurang maka akan ada ikan yang tidak mendapat cukup makanan karena kalah dalam persaingan. Akibatnya sebagian ikan pertumbuhannya jadi terhambat, bahkan pada kondisi yang ekstrim ikan-ikan yang lebih kecil bisa diserang oleh ikan yang lebih besar sehingga mengalami luka-luka dan dapat mengakibatkan kematian.

Faktor kedua disebabkan oleh faktor keturunan atau genetik. Dalam satu populasi (kelompok) ikan yang berasal dari satu kali pemijahan (bisa beberapa induk) biasanya akan didapat 10-20 % ikan yang tumbuhnya lebih lambat, sebaliknya juga akan didapat ikan yang tumbuhnya lebih cepat dari rata-rata. Untuk itulah perlu dilakukan pemisahan ukuran (sortasi/grading) ikan pada tahap pendederan.

Grading dilakukan untuk memisahkan ikan-ikan yang tumbuh lebih cepat dan ikan-ikan yang tumbuh agak lambat. Ikan yang tumbuh lebih cepat akan mencapai ukuran besar dalam waktu lebih singkat sehingga dapat lebih cepat dijual. Bagi pembudidaya pembesar ikan kelompok ini disebut sortiran pertama, dan biasanya bisa dijual dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan harga benih ikan biasa. Sementara itu kelompok terakhir adalah ikan-ikan yang tumbuhnya sangat lambat, sebaiknya ikan ini tidak dijual sebagai benih karena pertumbuhannya sangat lambat dan bisa merugikan. Jika grading tidak dilakukan pada tahap pendederan maka keragaman ukuran karena faktor genetik akan berlanjut ke tahap pembesaran. Bahkan ada kalanya pada tahap pendederan keragaman ukuran tersebut belum terlihat mencolok sehingga sulit untuk melakukan grading.

Kegiatan sortir dan grading pada pemanenan telur ikan lebih cenderung pada seleksi telur ikan yang mati dan hidup. Umumnya telur ikan yang sering diseleksi adalah telur ikan gurame. Telur yang mati segera dibuang sedangkan telur ikan yang hidup di pelihara atau dipasarkan. Telur ikan gurame yang mati berwarna putih susu, sedangkan telur yang hidup berwarna kuning kecoklatan seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Seleksi telur ikan gurame tersebut dilakukan pada wadah penampungan atau pada wadah penetasan telur. Alat yang digunakan untuk seleksi telur gurame adalah sendok, gelas dan sebagainya.

Gambar 26. Telur ikan gurame yang hidup (coklat kekuningan) dan yang mati (putih) Di atas

Gambar 26. Telur ikan gurame yang hidup (coklat kekuningan) dan yang mati (putih)

Di atas telah dijelaskan bahwa sortasi merupakan kegiatan seleksi benih baik ikan yang mati, cacat atu ikan yang sakit. Ikan yang mati, cacat, luka atau sakit baik pada saat pemanenan atau saat proses budidaya harus dipisahkan dengan ikan yang sehat/normal. Jika ikan yang sakit ditebar dapat menularkan penyakit ke ikan yang sehat. Demikian juga pada saat ikan sakit di kemas/packing dengan ikan sakit dapat menularkan penyakit ke ikan yang sehat. Oleh sebab itu, penyortiran sangat penting dilakukan sebelum ditebar atau diangkut ke tempat lain.

Grading adalah mengelompokkan benih ikan berdasarkan ukuran. Kegiatan grading merupakan sebuah kegiatan untuk menyeleksi benih ikan sesuai dengan ukuran benih ikan yang diharapkan. Tujuan grading adalah untuk mendapatkan keseragaman ukuran benih ikan yang akan ditebar. Benih ikan yang di tebar dengan ukuran seragam mempunyai peluang mendapatkan makanan yang sama. Sebaliknya jika penebaran benih ikan yang berbeda ukuran maka benih ikan yang lebih besar akan mendapatkan makan lebih banyak sehingga pertumbuhan benih ikan yang berukuran besar akan lebih cepat dan sebaliknya. Penebaran benih ikan yang seragam untuk mengantisipasi sifat kanibalisme sesama benih dimana benih yang memiliki ukuran yang lebih besar berpotensi memakan benih yang berukuran lebih kecil sehingga pemeliharaan benih ikan yang berbeda ukuran harus dipisahkan.

Grading pada kegiatan pembenihan dilakukan bukan hanya untuk memisahkan ukuran tetapi juga untuk penjarangan sehingga semakin besar ukuran ikan kepadatan dalam kolam/jaring akan semakin berkurang. Melalui proses penjarangan ikan diberi kesempatan untuk dapat tumbuh normal. Jika setelah dilakukan grading ada kelompok ikan yang tidak mau tumbuh atau pertumbuhannya sangat lambat, maka sebaiknya pemeliharaannya dihentikan, ikan dijual atau dilepas. Kelompok ikan kuntet ini tidak akan mencapai ukuran normal dan hanya menghabiskan biaya pemeliharaan saja.

Grading benih ikan umumnya dilakukan terhadap ikan mas, nila, bawal, patin, baung, lele dan ikan lainnya. Grading terhadap benih ikan mas, nila dan bawal dilakukan dengan cara manual atau menggunakan jaring. Grading secara manual dilakukan dengan memilih ukuran ikan yang seragam menggunakan tangan. Grading juga dapat menggunakan jaring yang memiliki ukuran mata jaring ½ inch, ¾ inchi, 1 inchi, 1 ½ inchi dan sebagainya. Grading benih ikan mas dilakukan setiap 3 – 4 minggu. Pembenih ikan biasanya melakukan grading benih ikan mas dan nila sesuai dengan tahapan pembenihan ikan. Tahapan pembenihan ikan adalah pendederan I ukuran benih ikan 1-3 cm, pendederan II ukuran benih ikan 3-5 cm, pendederan III ukuran ikan 5-7 cm, pendederan IV ukuran benih ikan 7-9 cm.

ukuran ikan 5-7 cm, pendederan IV ukuran benih ikan 7-9 cm. Gambar 27. Ukuran benih ikan

Gambar 27. Ukuran benih ikan lele, nila dan mas

Grading benih ikan patin umumnya dilakukan setiap 3-4 minggu sekali. Grading benih ikan patin bertujuan agar pemeliharaan/pendederan dalam wadah memiliki ukuran yang sama. Pemeliharaan /pendederan benih ikan patin dengan ukuran yang seragam akan memudahkan dalam pemanenan, pengemasan/packing dan pemasaran. Benih ikan patin yang biasa dipasarkan memiliki ukuran ½ inchi, ¾ inchi, 1, inchi, 1 ½ inchi, 2 inchi dan 3 inchi. Setiap ukuran tersebut memiliki harga yang berbeda beda.

2 inchi dan 3 inchi. Setiap ukuran tersebut memiliki harga yang berbeda beda. Gambar 28. Ukuran

Gambar 28. Ukuran benih ikan Patin.

Benih ikan lele dan baung memiliki sifat kanibal sehingga pemeliharaan / pendederan dengan ukuran seragam sangat penting dilakukan. Grading benih ikan lele pertama sekali dilakukan pada umur 20 hari. Pada penyortiran pertama ini, biasanya akan mendapat 3 ukuran benih yakni: 2-3cm, 3-4cm, dan 5-6cm atau lebih. Untuk melakukan grading ukuran benih ikan lele tersebut dapat dilakukan secara manual atau menggunakan baskom. Grading secara manual dilakukan dengan memilih dan mengelompokkan benih ikan sesuai masing masing ukuran menggunakan tangan.

Grading menggunakan baskom dapat dilakukan menggunakan tiga baskom, dimana setiap baskom memiliki ukuran lubang sesuai ukuran benih ikan yang di harapkan. Grading benih ikan lele dimulai dari baskom yang memiliki lubang lebih besar. Sehingga ukuran benih ikan yang besar akan tertinggal di baskom sedangkan benih ikan lebih kecil akan lolos. Agar pekerjaan grading lebih efisien baskom grading disusun atau ditumpuk dari mulai ukuran lebih besar sampai ukuran lebih kecil. Beri ganjal batu antara masing masing baskom agar ada ruang untuk benih turun dengan sendirinya. Jika kolam ikan lele yang digrading hanya satu kolam, maka angkat semua benih tersebut kemudian tempatkan di dalam bak penampungan sementara berupa ember besar atau bak plastik atau dapat juga menggunakan jaring yang diletakan di atas kolam tersebut Usahakan air kolam tersebut dibuang atau diganti sama sekali. Masukkan kembali benih hasil grading ke dalam kolam tersebut, masing-masing ukuran 2-3 cm dan 3-4 cm. Sementara untuk ukuran 5-6cm ditempatkan dikolam tersendiri yang telah disiapkan sebelumnya.

dikolam tersendiri yang telah disiapkan sebelumnya. Gambar 29. Baskom grading benih ikan lele Grading ke dua

Gambar 29. Baskom grading benih ikan lele

Grading ke dua benih ikan lele dilakukan pada saat benih berusia 40 hari atau 20 hari sejak penyortiran pertama. Cara dan teknis penyortiran kedua sama dengan cara grading pertama. Biasanya untuk ukuran 2-3cm sudah tidak ada kalaupun masih ada

jumlahnya tidak banyak dan harus dipisahkan. Dan yang terbanyak adalah benih berukuran 5-6cm dan 7-9cm. Satukan kedua ukuran benih tersebut dengan benih 5- 6cm yang diperoleh dari sortiran yang pertama.

benih 5- 6cm yang diperoleh dari sortiran yang pertama. Gambar 30. Cara grading benih lele menggunakan
benih 5- 6cm yang diperoleh dari sortiran yang pertama. Gambar 30. Cara grading benih lele menggunakan

Gambar 30. Cara grading benih lele menggunakan baskom grading

Sortasi dan grading ikan ukuran konsumsi umumnya dilakukan terhadap ukuran, warna dan kesehatan ikan. Sortir ikan ukuran konsumsi dilakukan dengan memisahkan ikan yang sakit dan cacat. Ikan sakit dan cacat tidak ikut dipasarkan. Grading ikan untuk konsumsi umumnya dilakukan terhadap ukuran dan warna sesuai permintaan pasar. Permintaan pasar ikan lele umumnya ukuran 125 – 170 gr/ekor atau 6-8 ekor /kg. Ikan lele yang lebih besar 170 gr/ekor kurang diminati pasar. Demikian juga ikan mas, umumnya perminataan pasar adalah ukuran 125 – 250 gr/ekor. Pada beberapa daerah, permintaan ikan mas berwarna kuning keemasan sedangkan ikan mas warna abu abu kurang diminati. Tetapi pada beberapa daerah ikan mas warna kuning keemasan tidak diminati masyarakat bahkan yang diminati ikan mas yang berwarna kehitaman dan sebagainya. Berdasarkan keterangan diatas, grading ikan ukuran dan warna sangat penting sesuai permintaan pasar.

Gambar 31. Sortir dan Grading Ikan konsumsi Ikan Mas, Ikan Kerapu, Ikan Bandeng dan Ikan

Gambar 31. Sortir dan Grading Ikan konsumsi Ikan Mas, Ikan Kerapu, Ikan Bandeng dan Ikan Lele

d. Perhitungan tingkat sintasan/kelulushidupan ikan ( SR )

Tolok ukur keberhasilan kegiatan budidaya adalah prosentase kelangsungan hidup

ikan. Kelangsungan hidup (SR, survival rate dalam %) adalah jumlah ikan yang hidup

(Nt, dalam ekor) setelah dipelihara beberapa waktu dibandingkan dengan jumlah ikan

pada awal pemeliharaan (No, dalam ekor) dan dinyatakan dalam persen (Effendi,

2004).

Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kelulushidupan ikan adalah faktor biotik

dan abiotik. Faktor biotik antara lain faktor fisika, kimia air suatu perairan atau sering

disebut sebagai kualitas air. Kualitas air dalam media pemeliharaan akan

mempengaruhi kelulushidupan organisme. Kualitas air yang baik akan menyebabkan

proses fisiologi dalam tubuh ikan berjalan dengan baik, sehingga mendukung

kelulushidupan. Faktor abiotik terdiri dari kompetitor, kepadatan populasi, predasi,

parasit umur dan kemampuan organisme menyesuaikan diri dengan lingkungannya,

ketersediaan pakan serta penanganan manusia (Stickney, 1979). Selain itu keadaan

stress yang diakibatkan kondisi bersaing untuk bertahan hidup pada padat penebaran

tinggi membuat ikan banyak mengalami kematian (Puspitasari, 2000).

Mengetahui tentang kelangsungan hidup/kelulushidupan budidaya ikan dapat menjadi bahan evaluasi dan monitoring pengelolaan usaha budidaya ikan yang sedang dan akan dilakukan. Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh lingkungan perairan dan ketersediaan pakan. Lingkungan perairan meliputi kualitas air serta hama dan penyakit ikan. Ketersediaan pakan terdiri dari jumlah dan kualitas pakan. Setiap spesies ikan menghendaki lingkungan media yang berbeda. Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh kompetisi antar ikan, karena lingkungan media tidak cocok, atau bahkan serangan hama penyakit. Kematian ikan akibat saingan antar ikan itu sendiri terjadi apabila jumlah pakan yang diberikan kurang.

Kelangsungan hidup/kelulushidupan budidaya ikan dapat menjadi bahan evaluasi tentang teknik dan manajemen, padat penebaran ikan, pakan, kualitas air, kesehatan ikan, iklim/cuaca, genetik ikan, kesuburan kolam dan sebagainya. Untuk mengitung kelulusanhidupan ikan dapat menggunakan rumus :

mengitung kelulusanhidupan ikan dapat menggunakan rumus : Keterangan SR = Angka kelangsungan hidup Nt = Jumlah

Keterangan SR = Angka kelangsungan hidup Nt = Jumlah ikan pada hari ke t (saat ini) No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan

Contoh : Pada sebuah kolam dengan ukuran 20x10 m ditebar larva ikan mas dengan padat penebaran sebanyak 100 ekor/m 2 . Pakan yang diberikan adalah pelet sebanyak 5% dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Debit air mengalir kedalam kolam sebanyak 2 liter/menit. Setelah 40 hari pemeliharaan benih ikan mas di panen dengan hasil sebanyak 15000 ekor. Berapakah kelulushidupan benih ikan tersebut?

S

15000

20000

SR = 75%

100

Keterangan : dari hasil pemanenan benih ikan di atas dapat di evaluasi tentang :

pakan, kualitas air, kesehatan ikan, predator, padat penebaran, iklim/cuaca. Sehingga pengelolaan pembenihan ikan yang akan datang kelulusan hidup benih ikan dapat meningkat.

Untuk menghitung kelulusanhidup ikan, terlebih dahulu mengetahui jumlah ikan awal tebar dan jumlah ikan hasil panen. Untuk menghitung jumlah ikan tersebut dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu penghitungan langsung, volumetrik dan gravimetrik.

Penghitungan langsung

Penghitungan langsung dilakukan dengan cara ikan atau benih dihitung satu

persatu. Cara ini sangat efektif untuk ikan atau benih yang jumlahnya sedikit.

Sementara jika jumlah ikan atau benih banyak, cara ini kurang efektif karena

membutuhkan waktu yang lama dan ikan atau benih bisa stres.

Penghitungan volumetrik

Penghitungan volumetrik didasarkan pada volume benih yang ada. Sistem ini

sangat efektif untuk jumlah benih yang banyak. Penghitungan-nya diawali dengan

pengambilan beberapa sampel benih yang masing-masing bervolume sama,

misalnya satu liter. Jumlah benih masing-masing sampel dihitung, lalu dirata-

ratakan. Setelah itu, benih ditakar sehingga diketahui volume keseluruhannya.

Adapun jumlah keseluruhan benih dapat diperoleh dari perkalian jumlah rata-rata

setiap sampel dengan volume benih keseluruhan. Selain dengan cara memakai

takaran liter, penghitungan juga bisa menggunakan sistem gelas, sendok dan tutup

sirop atau alat lain. Perhitungan volumetrik dapat menggnakan rumus : X : x = V : v

 

Keterangan :

X

: Jumlah ikan yang akan dicari

x

: Jumlah ikan contoh

V

: Volume seluruh ikan

v

: Volume ikan contoh

Penghitungan gravimetrik

Penghitungan gravimetrik didasarkan pada berat ikan atau benih yang ada.

Perhitungan volumetrik dan gravimetrik hampir sama. Perhitungan volumetrik lebih

menekankan pada jumlah ikan dalam volume tertentu, sedangkan perhitungan

gravimetrik menekankan berat ikan sampel. Sistem ini sangat efektif untuk jumlah

ikan atau benih yang banyak. Selain itu, dapat diketahui berat total ikan atau benih

sehingga jumlah pakan selama masa pemeliharaan dapat ditentukan.

Penghitungannya diawali dengan mengambil beberapa sampel ikan atau benih

yang masing-masing berbobot sama, misalnya 1 kilogram. Bobot ikan atau benih

masing-masing sampel dihitung dan dirata-ratakan. Setelah itu, seluruh ikan atau

benih hasil panen ditimbang secara bertahap untuk mengetahui berat total.

Adapun jumlah keseluruhan ikan atau benih dapat diperoleh dari perkalian jumlah

rata-rata dengan berat total.

Penghitungan Pertumbuhan Ikan

Selain menghitung kelulushidupan (SR) ikan, pada kegiatan budidaya perlu

menghitung tingkat pertumbuhan ikan selama proses budidaya ikan. Pengukuran

pertumbuhan ikan, dapat dilakukan dengan laju pertumbuhan ikan harian dan

pertumbuhan mutlak ikan. Laju pertumbuhan harian adalah kecepatan

pertumbuhan ikan perhari. Sedangkan pertumbuhan mutlak adalah selisih

pertumbuhan dua waktu tertentu. Untuk menghitung laju pertumbuhan harian

dapat menggunakan rumus :

Wx=Wo (1+0.01 a) t

Keterangan:

Wx = Rata-rata bobot akhir ikan (mg)

Wo =

Rata-rata bobot awal ikan (mg)

a

= Laju pertumbuhan harian (%)

t

= Lama pemeliharaan (hari)

Rumus laju pertumbuhan mutlak adalah:

W=Wt 2 - Wt 1

Keterangan :

W = Pertumbuhan pada periode waktu tertentu

Wt 2 = Bobot rata-rata pada hari akhir

Wt 1 = Bobot rata-rata hari awal

Atau

GR = (Wt-Wo)/t

Keterangan :

GR : Growth Rate / pertumbuhan mutlak Wt : bobot rata – rata akhir (gr/ekor) W 0 : bobot rata – rata awal (gr/ekor) t : waktu (hari)

C.

Rangkuman

Pembelajaran teknik pemanenan ikan sangat penting dikuasai oleh siswa dan pengusaha

bidang perikanan. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan tentang pemanenan dan pasca

panen akan meningkatkan nilai dan pendapatan hasil kegiatan pembenihan ikan dan

pembesaran ikan. Sebaliknya kegiatan pemanenan yang salah dapat menurunkan harga

produksi bahkan ikan hasil produksi tidak laku di pasaran sehingga menurunkan pendapatan

budidaya ikan. Agar pembelajaran teknik pemanenan ikan lebih efisien dan efektif siswa

melakukan pendekatan pembelajaran (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,

mengasosiasi dan mengkomunikasikan) secara disiplin dan berurutan.

Pemanenan merupakan kegiatan mengumpulkan hasil usaha perikanan dari kolam/tambak/jaring terapung budidaya ikan. Penentuan waktu pemanenan pada kegiatan pembenihan ikan sesuai dengan perencanaan produksi kegiatan pembenihan ikan dan permintaan pasar. Perencanaan produksi usaha pembenihan ikan merupakan rencana jenis/komoditas, ukuran dan kapasitas benih ikan yang akan di hasilkan pada kegiatan pembenihan ikan.

Pemanenan pada kegiatan pembenihan ikan yang biasa di pasarkan adalah telur, larva dan benih ikan. Pemanenan benih ikan dilakukan beberapa tahap sesuai ukuran ikan. Sedangkan pemanenan pada kegiatan pembesaran adalah ikan ukuran konsumsi. Setiap jenis ikan, ukuran konsumsi yang diinginkan masyarakat berbeda-beda. Pemanenan ikan sebaiknya dilakukan pada saat suhu air masih dingin. Oleh sebab itu pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari.

Persiapan pemanenan ikan yang akan dipasarkan dalam keadaan hidup meliputi pemberokan ikan (memuasakan ikan), pemasangan wadah penampungan ikan, penyiapan alat dan bahan pemanenan, tenaga pemanenan dan sebagainya. Tujuan pemberokan pada kegiatan pengangkutan ikan adalah agar makanan yang terdapat pada usus ikan keluar dalam bentuk feses di wadah pemberokan.

Cara pemberokan ikan di kolam dengan tidak diberi makan selama 1x24 jam. Sedangkan jika pemanenan dilakukan di jaring terapung selain tidak diberi makan selama 1x24 jam juga dilakukan dengan mengangkat jaring sebanyak setengah dari kedalaman. Pengangkatan jaring dilakukan selama 3 jam sebelum pemanenan

Ciri-ciri sarang ikan gurame yang telah berisi telur adalah bagian depan sarang telah tertutup rapat dan apabila bagian sarang ditusuk menggunakan lidi atau kayu kecil akan terdapat minyak di permukaan air. Selain itu sarang yang telah berisi telur akan dijaga induk betina di depan sarang tersebut.

Pada pemanenan larva/nener bandeng dimulai dengan menurunkan volume air sebanyak 80%. Pada saat penurunan air bak dipasang kelambu panen (waring halus) pada ujung pipa pengeluaran air bak larva/nener.

Pemanenan benih ikan di kolam banyak dilakukan dengan menangkap benih ikan menggunakan jaring. Jaring yang digunakan dengan panjang sama atau lebih dari lebar kolam, sedangkan tinggi jaring 1,5 kali lebih tinggi dari air kolam. Bahan jaring sebaiknya berasal dari benang nilon atau polyethilene. Penangkapan dengan menggunakan jaring dilakukan pada saat air kolam masih tinggi atau sudah dikeringkan sebanyak 20-30% dari total air.

Pengeringan kolam di awali dengan pemasangan saringan di depan pipa pengurasan/pengeluaran air. Saringan pada pipa pengeluaran air dipasang harus kokoh dari tekanan air dan ikan. Pengeringan kolam dilakukan dengan membuka pipa pengurasan air dan menutup pipa pemasukan air. Penangkapan ikan dapat dilakukan jika air sudah surut dan berada pada kemalir kolam. Air kolam yang telah kering, biasanya benih ikan akan berkumpul di kamalir dan di kobakan. Benih –benih ikan tersebut diambil menggunakan seser dimasukkan kedalam ember dan dipindahkan ke waring penampungan benih ikan.

Setelah selesai dilakukan pemanenan maka dilakukan sortasi dan grading ikan. Kegiatan sortasi pada pemanenan ikan merupakan kegiatan menyeleksi, membuang ikan yang mati/cacat. Sedangkan grading merupakan kegiatan mengelompokkan dan mengkelaskan berdasarkan ukuran. Kegiatan sortir dan grading ikan dilakukan setelah selesai panen pada tempat penampungan ikan. Pada tempat penampungan ikan dilakukan pemisahan ikan yang mati/cacat, berbeda spesies serta ikan ukuran kecil, sedang dan besar.

Tolok ukur keberhasilan kegiatan budidaya adalah prosentase kelangsungan hidup ikan. Kelangsungan hidup (SR, survival rate dalam %) adalah jumlah ikan yang hidup (Nt, dalam ekor) setelah dipelihara beberapa waktu dibandingkan dengan jumlah ikan pada awal pemeliharaan (No, dalam ekor) dan dinyatakan dalam persen. Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh lingkungan perairan dan ketersediaan pakan. Lingkungan perairan meliputi kualitas air serta hama dan penyakit ikan. Ketersediaan pakan terdiri dari jumlah dan kualitas pakan. Setiap spesies ikan menghendaki lingkungan media yang berbeda.

D.

Lembar Refleksi Diri

Nama

Kelas / NIS :

:

Tanggal

Tugas

:

:

Buatlah Ringkasan dari tugas yang diberikan!

Hal apa yang paling bermakna selama mempelajari buku ini?

Kemampuan apa yang anda peroleh setelah mempelajari buku ini?

Kesulitan apa yang anda hadapi selama mempelajari buku ini?

Bagaimana kemampuan yang anda peroleh dapat dikembangkan lebih lanjut?

Tuliskan rencana yang anda lakukan sesuai kemampuan yang anda peroleh setelah mempelajari buku ini!

E.

Tugas

Judul

Waktu

: Memanen Benih Ikan : jam

Pendahuluan

Lembar Kerja

Pemanenan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam budidaya ikan. Pemanenan yang baik dapat meningkatkan pendapatan pengusaha ikan dan kepercayaan pelanggan. Petani pembesaran ikan akan mencari dan mengenali produsen benih yang baik dan sehat.

Teknik pemanenan ikan akan mempengaruhi kualitas ikan. Pemanenan ikan terdiri dari kegiatan mengeringkan kolam, menangkap benih, menampung benih dan memberok benih. Selain itu, perlu ditentukan waktu pemanenan baik untuk menentukan ukuran benih maupun kualitas air.

Alat dan Bahan

1. Wadah penampungan (baskom)

2. Bak /fiberglass

3. Seser halus

4. Ember

5. Blower

6. Hapa

7. Cangkul

8. Ancho

Keselamatan kerja

1. Gunakan pakaian praktek saat melakukan kegiatan di lapangan atau pakaian lab

2. Berhati-hati selama menggunakan peralatan kerja

Langkah Kerja

Pemanenan Ikan di kolam/tambak

1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

2. Tutuplah pipa pemasukan air

3. Pasanglah saringan pada pipa pengurasan air

4.

Pasanglah hapa/jaring penampungan ikan pada kolam yang terdekat dengan kolam yang akan di panen

5. Pada saat air sedang dikeringkan, tangkaplah ikan menggunakan ancho. Ancho dipasang pada kolam dan tiangkat setiap 10-15 menit.

6. Ikan yang tertangkap pindahkan pada hapa / penampungan benih

7. Jika air kolam telah kering, tangkaplah ikan menggunakan seser/lambit. Penangkapan ikan dimulai dari bagian hilir kolam. Penangkapan ikan dilakukan pada kamalir bagian hilir sampai ke hulu.

8. Pindahkan ikan yang tertangkap kedalam ember yang diisi air sebagai penampungan sementara. Selanjutnya ikan yang terdapat dalam ember dipindahkan kedalam hapa

9. Tangkaplah ikan dalam kolam sampai habis

10. Bersihkan hapa dari kotoran seperti lumpur, kerikil, plastik dan sampah lainnya

11. Sortirdan grading lah ikan sesuai kesehatan dan ukuran. Ikan yang memiliki ukuran kecil,sedang dan besar di pisahkan.

12. Beroklah benih ikan selama 2-3 jam.

F. Lembar Soal Tes Formatif

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dibawah ini.

1. Berikut ini yang tidak menjadi pertimbangan dalam melakukan kegiatan pemanenan total adalah:

a. Harga pasar yang tinggi

b. Pembudidaya membutuhkan uang

c. Ikan terserang penyakit

d. Adanya musim kemarau

e. Benih ikan tumbuh tidak seragam

2. Pengemasan benih ikan lele sebaiknya dilakukan secara

a. Tertutup

b. Terbuka

c. Setengah tertutup

d. Setengah terbuka

e. Tertutup dan terbuka

3. Faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengemasan ikan secara tertutup adalah

a. Perbandingan air dan oksigen 1: 2 dengan suhu 22 – 24 o C

b. Perbandingan air dan oksigen 1: 2 dengan suhu 24 – 27 o C

c. Perbandingan air dan oksigen 1: 3 dengan suhu 22 – 24 o C

d. Perbandingan air dan oksigen 1: 3 dengan suhu 24 – 27 o C

e. Perbandingan air dan oksigen 2: 3 dengan suhu 22 – 24 o C

4. Padat penebaran ikan lele dalam kantong kemas tergantung pada

a. Ukuran kantong kemas

b. Ukuran ikan yang dikemas

c. Sistem pengemasan

d. Lamanya pengangkutan

e. Jarak pengangkutan

5. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pengangkutan ikan adalah

a. Waktu pengangkutan dan jenis transportasi

b. Waktu pengangkutan dan jarak tempuh

c. Lama pengangkutan dan jarak tempuh

d. Lama pengangkutan dan jenis transportasi

e. Jarak tempuh dan jenis transportasi

Kunci Jawaban

1. B

2. B

3. A

4. C

5. C

G. Penilaian Diri

1.

Sikap

INSTRUMEN PENILAIAN PENGAMATAN SIKAP

DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan oleh peserta didik,

dengan kriteria sebagai berikut :

Nama Peserta Didik :

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik :

Tanggal Pengamatan :

Pertemuann ke :

No

Aspek Pengamatan

 

Skor

 

Keterangan

1

2

3

4

1

Sebelum memulai pelajaran, berdoa sesuai agama yang dianut siswa

         

2

Interaksi siswa dalam konteks pembelajaran di kelas

         

3

Kesungguhan siswa dalam melaksanakan praktek

         

4

Ketelitian siswa selama mengerjakan praktek

         

5

Kejujuran selama melaksanakan praktek

         

6

Disiplin selama melaksanakan praktek

         

8

Tanggung jawab siswa mengerjakan praktek

         

9

Kerjasama antar siswa dalam belajar

         

10

Menghargai pendapat teman dalam kelompok

         

11

Menghargai pendapat teman kelompok lain

         

12

Memiliki sikap santun selama pembelajaran

         
 

Jumlah

         
 

Total

   
 

Nilai Akhir

   

Kualifikasi Nilai pada penilaian sikap

Skor

Kualifikasi

1,00 – 1,99

Kurang

2,00 – 2,99

Cukup

3,00 – 3,99

Baik

4,00

Sangat baik

Skor

12

RUBIK PENILAIAN PENGAMATAN SIKAP DALAM PROSES PEMBELAJARAN

ASPEK

KRITERIA

SKOR

A. Berdoa sesuai agama yang dianut siswa

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

B. Interaksi siswa dalam konteks pembelajaran

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

C. Ketelitian siswa selama mengerjakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

D. Kejujuran selama melaksanakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

E. Disiplin selama melaksanakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

F. Memiliki sikap santun selama pembelajaran

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

G. Tanggung jawab siswa mengerjakan praktek

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

ASPEK

KRITERIA

SKOR

H. Kesungguhan dalam mengerjakan tugas

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

I. Kerjasama antar siswa dalam belajar

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

J. Menghargai pendapat teman dalam kelompok

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

K. Menghargai pendapat teman dalam kelompok

Selalu tampak

4

Sering tampak

3

Mulai tampak

2

Belum tampak

1

54

2.

Pengetahuan

INSTRUMEN PENILAIAN PENGAMATAN ASPEK PENGETAHUAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Nama Peserta Didik :

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik

:

Tanggal Pengamatan :

Pertemuann ke :

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dibawah ini

1. Ukuran ikan bandeng yang umum dipanen dari tambak adalah ……/ekor

a. 50 gram

b. 100 gram

c. 200 gram

d. 500 gram

2. Pengelolaan pemanenan ikan mas ukuran konsumsi ditujukan untuk :

a. Mendapatkan ikan yang memungkinkan ikan bisa hidup hingga ke tangan

konsumen

b. Mendapatkan ikan yang memungkinkan kesegarannya lama

c. Mengeringkan tambak

d. Menangkap seluruh ikan

3. Kegiatan ini dilakukan dalam pemanenan total kecuali :

a. Mengeluarkan air tambak/kolam

b. Menggiring ikan dengan wide

c. Memasukkan air ketika pasang untuk mengumpulkan ikan

d. Menangkap seluruh ikan

4. Kesegaran ikan bisa dipertahankan lama jika hasil pemanenan ikan :

a. Diselimuti lumpur

b. Dibiarkan terjemur beberapa jam sebelum dikemas

c. Segera dimatikan sebelum dikemas

d. Dibiarkan mati sendiri setelah meronta-ronta

5.

Panen ikan bandeng dengan cara menguras tambak pembesaran adalah:

a. Panen penjarangan

b. Panen sedikit

c. Panen total

d. Panen salah semua

6. Yang bisa mempercepat pembusukan ikan hasii pemanenan total adalah :

a. Ikan terlalu cepat dimatikan

b. Badan luka-luka dan memar

c. Bergerak aktif sebelum ditangkap

d. Semua benar

7. Yang menyebabkan ikan membusuk adalah :

a. Proses autolysis

b. Keberadaan bakteri

c. Enzym

d. Semua benar

8. Perbandingan yang baik antara es dan ikan untuk pengangkutan ikan mati segar dalam masa pengangkutan 4 jam adalah :

a. 4 :

1

b. 1

:

4

c. 1

:

6

d. 1

:

1

9. Suhu air yang baik selama pengangkutan berkisar antara:

a. 0 - 20C

b. 10 – 150C

c. 15 – 200C

d. 20 – 250C

10. Sifat wadah angkut yang baik untuk pengangkutan bandeng ukuran konsumsi jarak jauh adalah :

a. Penghantar panas yang buruk

b. Penghantar panas yang baik

c. Terbuat dari bambu

d. Terbuat dari logam

1. b

2. b

3. c

4. c

5. c

6. a

7. d

8. d

9. a

10. a

Lembar jawaban

3.

Keterampilan

INSTRUMEN PENILAIAN PENGAMATAN ASPEK KETERAMPILAN

DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Nama Peserta Didik :

Kelas

:

Topik

:

Sub Topik

:

Tanggal Pengamatan :

Pertemuann ke :

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan oleh peserta didik,

dengan kriteria sebagai berikut :

No

 

Aspek Pengamatan

   

Skor

 

Keterangan

1

2

3

4

1

Membaca buku bacaan / sumber belajar lainnya sebelum pelajaran

         

2

Memahami

materi

pelajaran

yang

akan

di

         

praktekkan

3

Melakukan persiapan wadah wadah budidaya biota air dengan baik

         

4

Melakukan pembenihan biota air dengan baik

           

5

Melakukan pembesaran biota air dengan baik

           

6

Menulis laporan praktek sesuai out line dianjurkan

yang

         

7

Menulis laporan dengan memaparkan dan membahas data hasil praktek

         

RUBIK PENILAIAN KETERAMPILAN

TEKNIK NON TES BENTUK PENUGASAN PROYEK

Tahapan

Deskripsi kegiatan

Kriteria

Skor

Persiapan

A. Persiapan sumber bahan (A)

Menuliskan 3 bahan ajar atau lebih

4

Menuliskan 2 bahan ajar

3

 

Menuliskan 1 bahan ajar

2

Tidak menuliskan bahan ajar

1

B. Persiapan Bahan dan alat ( B )

Menyediakan 3 bahan dan alat atau lebih sesuai kegiatan / proyek

4

Menyediakan 2 bahan dan alat sesuai kegiatan/proyek

3

Menyediakan 1 bahan dan alat sesuai kegiatan/proyek

2

Tidak menyediakan alat dan bahan

1

Pelaksanaan

A. Persiapan wadah

Melakukan pengolahan dasar wadah, perbaikan pematang/dinding wadah, bersih dari rumput/ kotoran, sanitasi, air telah diisi kedalam wadah, air pemeliharaan biota air subur, tersedia aerasi / air mengalir

4

Melakukan pengolahan dasar wadah, perbaikan pematang/dinding wadah, air pemeliharaan biota air subur, tersedia aerasi / air mengalir

3

Melakukan pengolahan dasar wadah, perbaikan pematang/dinding wadah. tersedia aerasi / air mengalir

2

Melakukan pengolahan dasar wadah.

1

B. Pembenihan Biota Air

Melakukan seleksi induk, pemijahan induk, penetasan telur dan perawatan larva, pengelolaan kualitas air, pemberian pakan larva/benih, pemeliharaan benih biota air, pasca panen

4

Melakukan seleksi induk, pemijahan induk, penetasan telur dan perawatan larva, pengelolaan kualitas air, pemberian pakan larva/benih, pemeliharaan benih biota air, pasca panen

3

Melakukan seleksi induk, pemijahan induk, penetasan telur dan perawatan larva, pemeliharaan benih biota air, pasca panen

2

Melakukan seleksi induk, pemijahan induk, penetasan telur dan perawatan larva.

1

Tahapan

Deskripsi kegiatan

Kriteria

Skor

 

C. Pembesaran biota air

Melakukan aklimatisasi benih, penebaran benih dengan baik, memberi pakan, mengelola kualiitas air, mengendalikan hama dan penyakit, sampling, pemanenan,

4

Melakukan aklimatisasi benih, penebaran benih dengan baik, memberi pakan, mengendalikan hama dan penyakit, sampling, pemanenan,

3

Melakukan aklimatisasi benih, penebaran benih dengan baik, memberi pakan, pemanenan,

2

Melakukan aklimatisasi benih, penebaran

1

benih dengan baik,

pemanenan,

Pelaporan

A. Penulisan laporan

Menulis laporan dengan out line yang baku, menggunakan bahasa Indonesia EYD, di ketik rapi, hasil karangan sendiri

4

Menulis laporan dengan out line yang baku, menggunakan bahasa Indonesia EYD, hasil karangan sendiri

3

Menulis laporan menggunakan bahasa Indonesia EYD, hasil karangan sendiri

2

Menulis laporan menggunakan bahasa Indonesia EYD, hasil contekan dari orang lain

1

B. Isi Laporan

Membuat laporan dengan data lengkap, membahas data, menghubungkan antar data, membuat kesimpulan dan saran, mengumpulkan tepat waktu

4

Membuat laporan dengan data lengkap, membahas data, menghubungkan antar data,

3

Membuat laporan dengan data lengkap, membahas data, menghubungkan antar data,

2

Membuat laporan dengan data lengkap,

1

Skor

DAFTAR NILAI SISWA ASPEK KETERAMPILAN TEKNIK NON TES BENTUK PENUGASAN PROYEK

Nama Peserta Didik :

Kelas

:

:

Topik

:

Sub Topik Tanggal Pengamatan :

Pertemuann ke :

Kegiatan No Nama Siswa Persiapan Pelaksanaan Pelaporan Jlh NA A B A B C A
Kegiatan
No
Nama Siswa
Persiapan
Pelaksanaan
Pelaporan
Jlh
NA
A
B
A
B
C
A
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
15
16
dst

BAB II. PENGENDALIAN MUTU HASIL PANEN IKAN (28 JP)

Kegiatan Belajar : Pengendalian Mutu Hasil Panen Ikan

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari kompetensi pengendalian mutu hasil panen ikan, anda akan memahami :

1. Prinsip-prinsip pengendalian mutu yang meliputi : kriteria mutu ikan sebagai bahan pangan dan persyaratan mutu hasil perikanan.

2. Prosedur penanganan higienis hasil perikanan

B. Aktivitas Belajar Siswa

nda pasti sering mendengar atau bahkan sering mengucapkan kata „mutu . Menurut anda apakah yang dimaksud dengan mutu?. Beberapa ahli mengatakan bahwa mutu memiliki pengertian tingkat baik buruknya sesuatu; kadar, derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dsb). Dalam kamus Oxford mutu atau kualitas diartikan sebagai the standard of something as measured against other thing of a similar kinds yang artinya secara bebas adalah standar sesuatu sebagai pengukur yang membedakan suatu benda dengan yang lain. Menurut kamus bahasa Indonesia pengertian kualitas atau mutu adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat sesuatu.

Pengertian mutu tersebut di atas berhubungan dengan pokok bahasan kita dalam materi pengendalian mutu hasil panen ikan. Pengendalian mutu ikan merupakan usaha mempertahankan kualitas/mutu ikan agar tetap baik / segar. Pada materi ini kita akan membahas cara mengendalikan dan mempertahankan hasil panen ikan agar mutunya tetap baik sampai pada konsumen.

Sehubungan dengan materi pengendalian mutu hasil panen perikanan anda diminta membuat kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok diminta mengamati mutu atau kualitas ikan di kolam (saat panen), warung, pasar, supermarket atau di tempat pelelangan ikan. Selain mengamati mutu ikan, anda juga diwajibkan mengetahui harga ikan yang memiliki mutu baik dan kurang baik.

1.

Mengamati/Observasi

a. Amatilah organ-organ (tubuh, mata, insang, perut, bau dan sebagainya) ikan yang masih segar!

b. Amatilah organ-organ (tubuh, mata, insang, perut, bau dan sebagainya) ikan yang tidak segar!

c. Catatlah ciri-ciri organ ikan segar dan ikan yang tidak segar yang diamati

2. Menanya

a. Coba anda diskusikan penyebab ikan masih segar dan ikan tidak segar!

b. Coba anda diskusikan kriteria ikan yang higienis.!

c. Bagaimana cara penanganan higienis ikan?

3. Mencoba/Mengumpulkan Informasi

a. Coba anda lakukan pembekuan hasil panen ikan !

b. Coba anda lakukan pengendalian mutu pada hasil panen ikan!

4. Mengasosiasikan

a. Coba anda analisis hubungan antara kebersihan, suhu dan pengendalian mutu hasil panen ikan!

b. Apakah penyebab menurunnya mutu hasil panen ikan yang mati?

5. Mengkomunikasikan

a. Coba anda diskusikan, buat laporan dan mempresentasikan di depan kelas hasil pengamatan ikan segar, tidak segar dan pembekuan hasil panen ikan yang telah anda lakukan

b. Coba anda diskusikan teknik penanganan higienis yang telah anda lakukan!

Uraian Materi

Mengapa harus dilakukan pengendalian mutu terhadap hasil panen ikan?

Pengendalian mutu hasil panen ikan atau disebut juga pasca panen ikan merupakan tahap penanganan hasil budidaya ikan segera setelah dilakukan pemanenan ikan agar kualitas ikan hasil panen tetap baik . Penanganan pascapanen ikan berbeda dengan pengolahan ikan karena tidak mengubah struktur fisik dan susunan kimiawi primer dari hasil pertanian secara signifikan. Penanganan pascapanen mencakup pengeringan, pendinginan, pembersihan, penyortiran, penyimpanan, dan pengemasan. Penanganan pascapanen menentukan kualitas hasil perikanan secara garis besar, juga menentukan akan dijadikan apa bahan hasil budidaya ikan setelah melewati penanganan pascapanen, apakah akan dimakan segar atau dijadikan bahan makanan lainnya.

Tujuan utama dari penanganan pascapanen adalah mencegah hilangnya kelembaban, memperlambat perubahan kimiawi yang tidak diinginkan dan mencegah kerusakan fisik. Sanitasi juga merupakan hal yang penting dalam mencegah keberadaan patogen perusak tubuh ikan

tempat

penampungan atau ruangan. Wujud dari tempat penampungan atau ruangan dapat berupa bak, waring, ruangan yang teduh dan air mengalir. Penyimpanan pada pascapanen berperan penting dalam mempertahankan kualitas hasil perikanan. Pengaturan kelembaban dan temperatur ruangan penyimpanan dibutuhkan untuk memperlambat penurunan kualitas bahan, dan dapat dilakukan dengan berbagai cara, alami maupun mekanisasi.

Setelah

dari

kolam/tambak,

penanganan

pascapanen

umumnya

dilakukan

di

1. Prinsip - Prinsip Pengendalian Mutu Hasil Perikanan

Pengetahuan dan keterampilan dalam pengendalian mutu hasil panen ikan sangat penting dimiliki oleh siswa dan pengusaha perikanan. Keterampilan pengendalian mutu akan meningkatkan nilai jual produk ikan. Pernahkan anda membeli suatu makanan baik buah, sayuran dan ikan di pasar? Manakah yang memiliki harga lebih mahal buah, sayuran dan ikan yang masih segar dengan yang sudah layu dengan kata lain mutunya telah menurun?. Tentu anda akan memilih buah/sayuran/ikan yang masih segar.

Berdasarkan pengertian diatas penting dilakukan menjaga mutu hasil perikanan. Sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan menekankan pada upaya pencegahan yang harus diperhatikan dan dilakukan sejak pra produksi sampai dengan pendistribusian untuk mendapatkan hasil perikanan yang bermutu dan aman bagi kesehatan manusia.

Peningkatan mutu produk perikanan budidaya lebih diarahkan untuk memberikan jaminan keamanan pangan mulai bahan baku hingga produk akhir hasil budidaya yang bebas dari bahan cemaran sesuai persyaratan pasar.

Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar. Ikan segar yang masih mempunyai sifat sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa, maupun teksturnya. Dengan kata lain, ikan segar adalah :

a. Ikan yang baru saja ditangkap dan belum mengalami proses pengawetan maupun pengolahan lebih lanjut.

b. Ikan yang belum mengalami perubahan fisika maupun kimia atau yang masih mempunyai sifat sama ketika ditangkap / dipanen.

yang masih mempunyai sifat sama ketika ditangkap / dipanen. Gambar 32. Ikan Bandeng dalam kondisi segar

Gambar 32. Ikan Bandeng dalam kondisi segar

Apakah penyebab daging ikan cepat mengalami penurunan mutu?. Bagaimana proses menurunnya mutu ikan?

Mutu mengandung arti nilai-nilai tertentu yang diinginkan pada suatu material. Pada ikan dan produk cepat busuk lainnya, mutunya identik dengan kesegaran. Ikan yang sangat segar baru ditangkap dikatakan bermutu tinggi. Istilah “segar” memiliki dua pengertian, yakni baru dipanen atau ditangkap dan mutunya masih asli belum mengalami penurunan mutu. Menurunnya mutu ikan mulai dari pemanenan / penangkapan melalui beberapa proses perubahan yaitu :

a. Hyperaemia

Hyperaemia merupakan proses terlepasnya lendir dari kelenjar-kelenjar yang ada di dalam kulit. Proses selanjutnya membentuk lapisan bening yang tebal di sekeliling tubuh ikan. Pelepasan lendir dari kelenjar lendir, akibat dari reaksi khas suatu organisme. Lendir tersebut terdiri dari gluko protein dan merupakan substrat yang baik bagi pertumbuhan bakteri.

b. Rigormortis

Perubahan rigormortis merupakan akibat dari suatu rangkaian perubahan kimia yang kompleks di dalam otot ikan sesudah kematiannya. Setelah ikan mati, sirkulasi darah terhenti dan suplai oksigen berkurang sehingga terjadi perubahan glikogen menjadi asamlaktat. Perubahan ini menyebabkan pH tubuh ikan menurun, diikuti pula dengan penurunan jumlah adenosine triposfat (ATP) serta ketidakmampuan jaringan otot mempertahankan kekenyalannya. Kondisi inilah yang dinamakan rigormortis. Waktu yang diperlukan ikan untuk masuk dan melewati fase rigormortis ini tergantung pada spesies, kondisi fisik ikan, derajat perjuangan ikan sebelum mati, ukuran, cara penangkapan, cara penanganan setelah penangkapan dan suhu selama penyimpanan.

Pada fase rigormortis, pH tubuh ikan menurun menjadi 6,2–6,6 dari pH semula 6,9– 7,2. Tinggi rendahnya pH awal ikan sangat tergantung pada jumlah glikogen yang ada dan kekuatan penyangga (buffering power) pada daging ikan. Kekuatan penyangga pada daging ikan disebabkan oleh protein, asam laktat,asam fosfat, TMAO, dan basa- basa menguap. Setelah fase rigormortis berakhir dan pembusukan bakteri berlangsung maka pH daging ikan naik mendekati netral hingga 7,7 –8,0 atau lebih tinggi jika pembusukan telah sangat parah.

Tingkat keparahan pembusukan disebabkan oleh kadar senyawa-senyawa yang bersifat basa. Pada kondisi ini, pH ikan naik dengan perlahan-lahan dan dengan semakin banyak senyawa basa yang terbentuk akan semakin mempercepat kenaikan pH ikan. Proses rigormortis dikehendaki selama mungkin karena proses ini dapat menghambat proses penurunan mutu oleh aksi mikroba. Semakin singkat proses rigormortis pada ikan maka semakin cepat ikan itu membusuk.

c. Autolysis

Fase ini terjadi setelah terjadinya fase rigormortis. Pada fase ini ditandai ikan menjadi lemas kembali. Lembeknya daging ikan disebabkan aktivitas enzim yang semakin meningkat sehingga terjadi pemecahan daging ikan yang selanjutnya menghasilkan substansi yang baik bagi pertumbuhan bakteri.

Setiap sel jaringan tubuh ikan mengandung enzim yang bertindak sebagai katalisator dalam pembangunan dan penguraian kembali setiap senyawa dan zat yang merupakan komponen kimia ikan. Pada ikan yang masih hidup, kerja enzim selalu terkontrol sehingga aktivitasnya menguntungkan bagi kehidupan ikan itu sendiri. Setelah ikan mati, enzim masih mempunyai kemampuan untuk bekerja secara aktif, namun sistem kerja enzim menjadi tidak terkontrol karena organ pengontrol tidak berfungsi lagi. Akibatnya enzim dapat merusak organ tubuh ikan. Peristiwa ini disebut autolysis dan berlangsung setelah ikan melewati fase rigormortis. Ciri terjadinya perubahan secara autolysis ini adalah dengan dihasilkannya amoniak sebagai hasil akhir. Penguraian protein dan lemak dalam autolysis menyebabkan perubahan rasa, tekstur danpenampakan ikan. Autolysis tidak dapat dihentikan walau pundalam suhu yang sangat rendah. Biasanya proses autolysis akan selalu diikuti dengan meningkatnya jumlah bakteri. Pasalnya semua hasil penguraian enzim selama proses autolysis merupakan media yang sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri dan mikroba lainnya.

d. Bact er i al decomposi ti on (dekomposisi oleh bakteri)

Pada fase ini bakteri terdapat dalam jumlah yang banyak sekali, sebagai akibat fase sebelumnya. Aksi bakteri ini mula-mula hampir bersamaan dengan autolysis, dan kemudian berjalan sejajar. Bakteri menyebabkan ikan lebih rusak lagi, bila dibandingkan dengan autolysis. Bakteri adalah jasad renik yang sangat kecil sekali, hanya dapat dilihat dengan mikroskop yang sangat kuat dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Jenis-jenis bakteri tersebut adalah: Pseudomonas, Proteus, Achromobacter, Terratia, dan Elostridium.

Selama ikan masih dalam keadaan segar, bakteri Pseudomonas, Proteus Achromobacter, Terratia, dan Elostridium tersebut tidak mengganggu. Akan tetapi jika ikan mati, suhu badan ikan menjadi naik, mengakibatkan bakteri-bakteri tersebut segera menyerang. Segera terjadi perusakan jaringan-jaringan tubuh ikan, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan komposisi daging yang mengakibatkan ikan menjadi busuk. Bagian-bagian tubuh ikan yang sering menjadi target serangan bakteri adalah :

Seluruh permukaan tubuh

Isi perut

Insang

Gambar 33. Perbedaan insang ikan segar (B) dan ikan tidak segar (A) Selama ikan hidup,

Gambar 33. Perbedaan insang ikan segar (B) dan ikan tidak segar (A)

Selama ikan hidup, bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan, insang, saluran darah, dan permukaan kulit ikan tidak dapat merusak atau menyerang bagian-bagian tubuh ikan. Hal ini disebabkan bagian-bagian tubuh ikan tersebut mempunyai batas pencegah (barrier) terhadap penyerangan bakteri. Setelah ikan mati, kemampuan barrier tadi hilang sehingga bakteri segera masuk ke dalam daging ikan melalui ke enam bagian tadi. Jumlah bakteri yang terdapat dalam tubuh ikan ada hubungannya dengan kondisi perairan tempat ikan tersebut hidup. Bakteri yang umumnya ditemukan pada ikan adalah bakteri Pseudomonas, Alkaligenes, Micrococcus, Sarcina, Vibrio, Flavobacterium, Corynebacterium, Serratia, dan Bacillus. Selain yang disebutkan di atas, bakteri yang terdapat pada ikan air tawar juga mencakup jenis bakteri Aeromonas, Lactobacillus, Brevibacterium dan Streptococcus. Selama penyimpanan pada suhu rendah, bakteri Pseudomonas, Aeromonas , Miraxelladan Acetobacter meningkat lebih cepat dibandingkan dengan organisme lainnya. Pada tahap pembusukan, bakteri-bakteri ini mencapai 80% dari total flora pada ikan.

Perbedaan jenis dan jumlah bakteri yang dijumpai pada ikan disebabkan oleh perbedaan suhu yang dipengaruhi oleh musim dan letak geografis, cara penangkapan, dan penanganan ikan. Senyawa yang dihasilkan dalam dekomposisi bakterial yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk tingkat kesegaran ikan diantaranya adalah indol, H2S, hipoksantin, histamine, volatile reducing substance (VRS), total volatile base (TVB), dan trimetilamin (TMA). Akibat serangan bakteri, ikan mengalami berbagai perubahan, yaitu lendir menjadi lebih pekat, bergetah, amis, mata terbenam dan pudar sinarnya, serta insang berubah warna dengan susunan tidak teratur dan bau menusuk. Bakteri-bakteri tersebut menyerang tubuh ikan mulai dari insang atau luka yangterdapat pada kulit menuju jaringan daging ikan dan dari permukaan kulit menuju kejaringan tubuh bagian dalam.

Gambar 34. Bagian tubuh Ikan yang sering terserang bakteri e. Perubahan karena Oksidasi Proses perubahan

Gambar 34. Bagian tubuh Ikan yang sering terserang bakteri

e. Perubahan karena Oksidasi

Proses perubahan pada ikan dapat juga terjadi karena proses oksidasi lemak sehingga timbul aroma tengik yang tidak diinginkan dan perubahan rupa serta warna daging kearah cokelat kusam. Bau tengik ini dapat merugikan, baik pada proses pengolahan maupun pengawetan, karena dapat menurunkan mutu dan harga jualnya. Mencegah proses oksidasi adalah dengan mengusahakan sekecil mungkin terjadinya kontak antara ikan dengan udara bebas disekelilingnya. Caranya, dengan menggunakan ruang hampa udara, antioksidan, atau menghilangkan unsur-unsur penyebab proses oksidasi.

Setelah ikan ditangkap dan diangkat dari dalam air, ikan tidak langsung menjadi mati. Meskipun keadaan ikan tersebut masih dalam tingkat kesegaran yang maksimal, tetapi biasanya tidak langsung dikonsumsi. Selain itu, pada kenyatannya ikan dengan kesegaran yang maksimal setelah dimasak rasanya kurang enak untuk dimakan, jika dibandingkan dengan ikan yang telah beberapa saat mati baru dimasak. Hal itu ada kaitannya dengan perubahan biokimiawi yang terjadi dalam daging ikan, antara lain timbulnya senyawa senyawa penyebab rasa enak tersebut.

Ikan yang ditangkap akan mati maka sirkulasi darah berhenti selanjutnya suplai oksigen berkurang maka potensial redoks menurun. Proses kematian ikan dan setelah kematian ikan adalah sebagai berikut ikan akan mati jika kekurangan oksigen, oleh karena itu, ikan tidak dapat hidup di udara terbuka dalam waktu yang terlalu lama. Oksigen yang dapat digunakan oleh ikan hanya yang berasal dari dalam air. Saat ikan mati, sirkulasi darahnya terhenti dan akibatnya dapat mempengaruhi proses biokimiawi yang ada pada tubuh ikan. Setelah ikan mati, perubahan biokimiawi berlangsung diikuti dengan perubahan fisika pada dagingnya.

Perubahan biokimia berlangsung terus hingga ikan akan menjadi bahan pangan yang enak (layak) dikonsumsi. Akan tetapi, rasa enaknya akan berkurang dan menurun diikuti dengan perubahan fisik daging menjadi berair dan akhirnya ikan membusuk.

Beberapa

sebagai berikut:

hal

yang

menyebabkan

ikan

mudah

diserang

oleh

bakteri

adalah

Ikan segar dan kerang-kerangan mengandung lebih banyak cairan dan sedikit lemak, jika dibanding dengan jenis daging lainnya. Akibatnya bakteri lebih mudah berkembang biak. Struktur daging ikan dan kerang-kerangan tidak begitu sempurna susunannya, dibandingkan jenis daging lainnya. Kondisi ini memudahkan terjadinya penguraian bakteri. Sesudah terjadi peristiwa rigor, ikan segar dan kerang-kerangan mudah bersifat alkaline/basa. Kondisi Ini memberikan lingkungan yang sesuai bagi bakteri untuk berkembang biak.

2. Proses Penurunan Mutu Hasil Perikanan

Sebagian besar ikan diperdagangkan dalam keadaan sudah mati dan beberapa jenis ikan seringkali dalam keadaan masih hidup. Pada kondisi hidup tentu saja ikan dapat diperdagangkan dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya dalam kondisi mati ikan akan segera mengalami kemunduran/penurunan mutu. Segera setelah ikan mati, maka akan terjadi perubahan-perubahan yang mengarah kepada terjadinya pembusukan. Perubahan- perubahan tersebut terutama disebabkan adanya aktivitas enzim, kimiawi dan bakteri. Enzim yang terkandung dalam tubuh ikan akan merombak bagian-bagian tubuh ikan dan mengakibatkan perubahan rasa (flavor), bau (odor), rupa (appearance) dan tekstur (texture). Aktivitas kimiawi adalah terjadinya oksidasi lemak daging oleh oksigen. Oksigen yang terkandung dalam udara mengoksidasi lemak daging ikan dan menimbulkan bau tengik (rancid).

Perubahan yang diakibatkan oleh bakteri dipicu oleh terjadinya kerusakan komponen- komponen dalam tubuh ikan oleh aktivitas enzim dan aktivitas kimia. Aktivitas kimia menghasilkan komponen yang lebih sederhana. Kondisi ini lebih disukai bakteri sehingga memicu pertumbuhan bakteri pada tubuh ikan. Dalam kenyataannya proses kemunduran mutu berlangsung sangat kompleks. Satu dengan lainnya saling terkait, dan bekerja secara simultan. Untuk mencegah terjadinya kerusakan secara cepat, maka harus selalu dihindarkan terjadinya ketiga aktivitas secara bersamaan. Penurunan mutu ikan dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu:

a. Penurunan mutu secara aut ol ysi s

Proses penurunan mutu secara autolysis (enzimatik) berlangsung sebagai aksi kegiatan enzim yang mengurai senyawa kimiawi pada jaringan tubuh ikan. Enzim tersebut bertindak sebagai katalisator yang menjadi pendorong dan motor segala perubahan senyawa biologis yang terdapat pada ikan, baik perubahan yang sifatnya membangun sel dan jaringan tubuh, maupun yang merombaknya. Setiap enzim beraksi semaunya menurut fungsinya yang berakibat jaringan dan organ ikan akan berubah ke arah yang kita sebut “busuk”.

b. Penurunan mutu secara kimiawi

Pada proses penurunan mutu secara kimiawi yang menyolok kegiatannya adalah perubahan oksidasi lemak pada ikan yang menyebabkan bau tengik, hingga gejala ini dinamakan ketengikan (Ilyas, 1983). Disamping terjadi perubahan pada ikan, dagingnya pun berubah ke arah coklat kusam. Hal ini bisa menyebabkan penampilan/penampakan ikan tidak menarik dan bau tidak segar lagi, semua ini disebabkan oleh lamanya ikan di tempatkan pada suhu tinggi (suhu kamar) yang sangat mempengaruhi lemak untuk beroksidasi dengan suhu tinggi. Pengontrolan suhu rendah sangat mempengaruhi aktivitas lemak untuk beroksidasi.

c. Penurunan mutu secara mikrobiologi

Akibat serangan bakteri yang dimulai sejak fase rigormortis berlalu, akibatnya kemunduran ikan berupa lendir menjadi pekat, bergetah dan amis, mata menjadi terbenam dan pudar sinarnya, insang dan isi perut berubah warna dengan susunan (isi perut) berantakan dan bau menusuk, akhirnya seluruh ikan busuk. Penurunan mutu secara bakterial dapat terjadi karena ikan tidak segera dilakukan penanganan, sehingga suhu pada ikan menjadi semakin meningkat. Dengan meningkatnya suhu tersebut, maka bakteri akan mudah untuk melakukan perkembangbiakan. Aktivitas bakteri dapat di hambat pertumbuhannya dengan cara melakukan penanganan secara cepat, suhu rendah dan penerapan sanitasi dan hygiene yang perlu diperhatikan secara khusus.

Waktu ikan mati, senyawa organik di dalam jaringan dipecah oleh enzim yang masih tetap aktif (sejak ikan masih hidup). Pada mulanya, glikogen terhidrolisa menghasilkan akumulasi asam laktat dan penurunan pH. Hal ini selanjutnya merangsang enzim untuk menghidrolisa fosfat organic. Fosfat yang mula-mula terurai ialah creatine phosphate, membentuk creatine dan asam fosfat. Proses ini diikuti oleh adenosine trifosfat (ATP) menjadi adenosine difosfat (ADP) dan asam fosfat.

Parameter untuk menentukan kesegaran ikan terdiri atas faktor-faktor fisikawi, sensoris/ organoleptik/kimiawi, dan mikrobiologi. Kesegaran ikan dapat dilihat dengan metode yang sederhana dan lebih mudah dibandingkan dengan metode lainnya dengan melihat kondisi fisik, yaitu sebagai berikut:

Kenampakan luar Ikan. Ikan yang masih segar mempunyai penampakan cerah dan tidak suram. Keadaan itu dikarenakan belum banyak perubahan biokimia yang terjadi. Metabolisme dalam tubuh ikan masih berjalan sempurna. Pada ikan tidak ditemukan tanda-tanda perubahan warna, tetapi secara berangsur warna makin suram, karena timbulnya lendir sebagai akibat berlangsungnya proses biokimiawi lebih lanjut dan berkembangnya mikroba. Lenturan daging ikan daging ikan segar cukup lentur jika dibengkokkan dan segera akan kembali ke bentuknya semula apabila dilepaskan. Kelenturan itu dikarenakan belum terputusnya jaringan pengikat pada daging, sedangkan pada ikan busuk jaringan pengikatnya banyak mengalami kerusakan dan dinding selnya banyak yang rusak sehingga daging ikan kehilangan kelenturan. Keadaan mata Parameter ini merupakan yang paling mudah untuk dilihat. Perubahan kesegaran ikan akan menyebabkan perubahan yang nyata pada kecerahan matanya Keadaan daging Kualitas ikan ditentukan oleh dagingnya. Ikan yang masih segar, berdaging kenyal, jika ditekan dengan telunjuk atau ibu jari maka bekasnya akan segera kembali. Daging ikan yang belum kehilangan cairan daging kelihatan basah dan pada permukaan tubuh belum terdapat lendir yang menyebabkan kenampakan ikan menjadi suram/kusam dan tidak menarik. Setelah ikan mati, beberapa jam kemudian daging ikan menjadi kaku. Karena kerusakan pada jaringan dagingnya, maka makin lama kesegarannya akan hilang, timbul cairan sebagai tetes-tetes air yang mengalir keluar, dan daging kehilangan kekenyalan tekstur. Keadaan insang dan sisik Warna insang dapat dikatakan sebagai indikator, apakah ikan masih segar atau tidak. Ikan yang masih segar berwarnammerah cerah, sedangkan ikan yang tidak segar berwarna coklat gelap. Insang ikan merupakan pusat darah mengambil oksigen dari dalam air. Ikan yang mati mengakibatkan peredaran darah terhenti, bahkan sebaliknya dapat teroksidasi sehingga warnanya berubah menjadi merah gelap. Sisik ikan dapat menjadi parameter kesegaran ikan, untuk ikan bersisik jika sisiknya masih melekat kuat, tidak mudah dilepaskan dari tubuhnya berarti ikan tersebut masih segar.

3.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Ikan

Anda sebagai calon pengusaha ikan sangat penting memahami apa yang mempengaruhi mutu ikan. Faktor faktor yang mempengaruhi mutu ikan adalah :

a. Jenis spesies

Setiap jenis/spesies ikan berbeda kecepatan proses pembusukan dan kerusakan. Ketika ikan didinginkan atau dibekukan, spesies berlemak seperti ikan mas, sarden dan mackerel akan membusuk lebih cepat dari pada spesies-spesies tak berlemak seperti ikan kod, nila. Perbedaan komposisi dalam satu spesies dapat menjadi penyebab adanya pengaruh sekunder dalam hal kualitas. Ketika disimpan di tempat pendingin, ikan tak berlemak dalam kondisi yang buruk jauh lebih cepat membusuk dari pada spesimenspesimen spesies yang sama dalam kondisi baik. Hal ini dapat dijelaskan dengan kandungan glikogen dalam daging.

Pada ikan tak berlemak berkualitas rendah, kandungan glikogen yang rendah menyebabkan peningkatan yang setara dalam pH daging. Setelah mati, glikogen dalam daging diubah menjadi asam laktat yang menentukan pH daging. Bakteri-bakteri penyebab pembusukan lebih aktif dalam daging dengan kadar pH lebih tinggi. pH daging yang rendah juga memiliki dampak yang tidak diinginkan pada kualitas ikan. “ Kepucatan” adalah suatu keadaan yang berkembang pada bagian ikan mentah yang dipotong dari ikan yang telah disimpan di es untuk waktu yang lama. Daging ikan terlihat putih dan pucat, seperti ikan yang sudah dimasak. Kondisi tersebut berkembang pada ikan yang pH dagingnya jauh dibawah nilai 6,0 setelah ikan mati.

b. Tempat penangkapan ikan

Lokasi tempat penangkapan ikan memiliki peran tidak langsung pada kualitas produk perikanan. Dalam suatu spesies, rasa mungkin berbeda dari satu tempat penangkapan ikan dengan tempat penangkapan ikan berikutnya dan juga mungkin berbeda dari satu musim ke musim berikutnya, bergantung pada sifat makanannya dan kondisi fisiologis spesies yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut berpengaruh pada jenis dan kelimpahan organisme makanan yang tersedia, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kondisi ikan.

c. Cara penangkapan ikan

Metode dan alat penangkapan ikan mempengaruhi mutu yang ditangkap sehingga perlu diperhatikan penyesuaian antara cara dan jenis alat penangkap dengan jenis ikan yang akan ditangkap. Ikan yang ditangkap dengan alat jaring akan berbeda

mutunya dari ikan-ikan yang ditangkap dengan alat pancing. Dengan jaring, ikan yang

tertangkap segera ditarik dari kolam, sedangkan dengan alat pancing, ikan yang

tertangkap dan mati dibiarkan agak lama terendam di dalam air sehingga keadaannya

sudah kurang baik sewaktu dinaikkan ke daratan.

d. Reaksi ikan menghadapi kematian

Ikan yang dalam hidupnya bergerak cepat, contoh lele, patin, nila, dan lain-lain,

biasanya meronta keras bila terkena alat tangkap. Akibatnya banyak kehilangan

tenaga, cepat mati, dan rigormortis cepat terjadi dan cepat pula berakhir. Kondisi ini

menyebabkan ikan cepat membusuk.

4. Penentuan Kesegaran Ikan

Sebagai calon pengusaha bidang perikanan, sangat penting bagi anda memiliki

pengetahuan dan keterampilan cara menentukan kesegaran hasil panen ikan.

Penentuan kesegaran ikan dapat dilakukan secara fisika, kimia, mikrobiologi dan sensorik.

Diantara metode yang ada, ada yang lebih mudah, cepat, dan murah adalah dengan

menggunakan metode fisik.

a. Metode penentuan ikan secara fisik

Secara fisik kesegaran ikan dapat ditentukan dengan mengamati tanda-tanda visual

melalui ciri-ciri seperti disebutkan di atas. Ciri-ciri ikan segar dapat dibedakan dengan

ikan yang mulai membusuk, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ciri-ciri Ikan Segar dan yang Mulai Membusuk

No

Parameter

Ikan Segar

Ikan Tidak segar/membusuk

1

Kenampakan

Cerah, terang, mengkilat, tak berlendir

Suram, kusam, berlendir

2

Mata

Menonjol keluar

Cekung, masuk kedalam rongga mata

3

Mulut

Terkatup

Terbuka

4

Sisik

Melekat kuat

Mudah dilepaskan

5

Insang

Merah cerah

Merah gelap

6

Daging

Kenyal, lentur

Tidak kenyal, lunak

7

Anus

Merah jambu, pucat

Merah, menonjol keluar

8

Bau

Segar, normal seperti rumput laut

Busuk, bau asam

9

Lain-lain

Tenggelam dalam air

Terapung diatas air

Sumber : Kepmen KP No : 01/Men/2002

b. Metode penentuan ikan secara Uji kimia

Penentuan kesegaran ikan secara kimia dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya sebagai berikut :

Analysis pH daging ikan Ikan yang sudak tidak segar pH dagingnya tinggi (basa) dibandingkan ikan yang masih segar. Hal itu karena timbulnya senyawa-senyawa yang bersifat basa misalnya amoniak, trimetilamin, dan senyawa volatile lainnya

Analisis kandungan hipoksantin Hipoksantin berasal dari pemecahan ATP, semakin tinggi kandungan hipoksantin maka tingkat kesegaran ikan rendah. Besarnya kadar hipoksantin yang masih dapat diterima oleh konsumen tergantung berbagai faktor diantaranya jenis hasil perikanan dan keadaan penduduk setempat.

Analisis kadar dimetilamin, trimetilamin atau amoniak Penguraian protein akan menghasilkan senyawa di atas, jika kesegaran ikan mengalami penurunan maka kandungan nitrogen yang mudah menguap akan mengalami peningkatan. Pola penguraian protein pada ikan laut berbeda dengan ikan darat. Ikan darat akan dihasilkan amonia, sedangkan ikan laut menghasilkan dimetilamin dan trimetilamin. Untuk ikan dengan tingkat kesegaran masih tinggi, analisis yang dilakukan adalah dimetilamin, sedangkan trimetil amin untuk ikan dengan tingkat kesegaran rendah.

Defosforilasi Inosin Monofosfat (IMP) IMP berkaitan dengan perubahan cita rasa daging ikan dan kesegaran ikan, sehingga dapat digunakan untuk menentukan kesegaran ikan. Kelemahannya sulit dilakukan karena proses defosforilasi IMP untuk setiap jenis ikan berbeda.

Analisis kerusakan lemak pada daging ikan Kerusakan lemak terjadi karena oksidasi, baik secara oto-oksidasi (enzimatis) maupun secara non enzimatis. Analisis kerusakan lemak dapat dilakukan dengan analisa kandungan peroksidanya atau jumlah malonaldehida yang biasanya dinyatakan sebagai angka TBA (thiobarbituric acid). Pengujian kesegaran ikan dengan analisis kerusakan lemak kurang akurat karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses penguraian lemak.

c.

Metode Penentuan secara Mikrobiologi

Ikan secara alamiah sudah membawa mikroorganisme, sehingga pada saat hidup ikan

memiliki kemampuan untuk mengatasi aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme

yang dominan penyebab kerusakan berupa bakteri karena daging ikan memiliki

kandungan protein tinggi, kadar airnya tinggi, dan pH daging ikan mendekati netral

sehingga menjadi media yang cocok untuk pertumbuhan bakteri.

Untuk mengetahui keberadaan dan jumlah bakteri pada daging ikan dapat dilakukan

secara mikrobiologi. Pengujian secara mikrobiologi dapat dilakuan dengan Total Plate

Count (TPC) yaitu hanya menghitung total jumlah koloni bakteri kemudian

dibandingkan dengan standar mutu ikan segar, pengujian itu dapat berlangsung lebih

cepat.

d. Metode Penentuan Ikan secara Sensorik

Penentuan ikan secara sensorik umum dilakukan khususnya di pabrik-pabrik

pengolahan ikan. Penentuan ikan secara sensorik lebih mudah dan lebih cepat karena

hanya menggunakan alat indrawi saja, tidak memerlukan banyak peralatan serta lebih

murah biayanya. Pengujian sensorik lebih banyak kearah pengamatan secara visual.

Sebagai parameter dalam pengujian sensorik berupa penampakan warna, cita rasa

dan tekstur. Penguji memberikan skor pada sampel yang diamati sesuai kondisi ikan

yang sedang diuji. Biasanya semakin segar ikan yang dianalisis skor akan semakin

tinggi. Sifatnya sangat subjektif hanya mengandalkan indera panelis, kepekaan

masing-masing berbeda dan keterbatasan kemampuan dalam mendeteksi, misalnya

membedakan antara bau busuk dengan bau amoniak atau bau indol. Pengujian secara

sensorik dapat dilakukan dengan mengamati baik warna, cita rasa dan tekstur daging

ikan dan menilai dalam lembar penilaian ikan segar. Berikut ini salah satu contoh

lembar penilaian ikan segar.

Tabel 2. Lembaran Penilaian Ikan Segar Tanpa Pendinginan.

No

Parameter

Bobot

Skor

 

Keterangan Hasil Penilaian

1.

Bau

20 %

10

Segar, Berbau ikan, spesifik menurut jenisnya.

9

Segar, bau ikan mulai berkurang.

8

Tawar, Netral.

7

Berbau susu, belum ada bau asam, ada bau seperti ikan asin.

6

Berbau susu asam atau seperti susu kental

5

Berbau seperti kentang rebus atau seperti logam.

No

Parameter

Bobot

Skor

 

Keterangan Hasil Penilaian

     

4

Berbau asam asetat, rumput atau seperti sabun.

3

Bau ammonia mulai timbul.

2

Bau ammonia kuat, ada bau H 2 S.

0

Bau Busuk, bau indol.

2.

Kenampakan

16

%

5

Cerah, pupil hitam menonjol dengan kornea jernih.

Mata

 

3

Bola mata agak cekung, pupil berubah abu-abu, kornea agak keruh.

2

Bola mata agak cekung, pupil putih susu, kornea keruh.

0

Bola mata dan pupil tenggelam, tertutuo lendir kuning tebal.

3.

Kenampakan

16

%

5

Warna merah cemerlang tanpa adanya lendir.

Insang

 

3

Mulai terjadi perubahan warna merah muda sampai merah coklat, terdapat sedikit lendir, bau asam mulai nyata.

2

Perubahan warna lebih nyata. Warna merah coklat, lendir tebal, bau kuat.

0

Warna Merah coklat, merah, atau abu-abu. Tertutup lendir tebal, berbau asam atau busuk.

4.

Keadaan

16

%

5

Lapisan lendir jernih, tembus cahaya (transparan), mengkilat cerah, belum ada perubahan warna, berbau segar.

Lendir dan

 

Permukaan

Badan

3

Lendir dipernukaan mulai keruh, warnanya agak putih susu, mulai suram. Mulai terjadi bau tidak sedap.

2

Lendir tebal terkadang menggumpal, mulai timbul perubahan warna karena aktifitas bakteri. Bau tidak enak semakin kuat.

0

Lendir berwarna kekuning-kuningan, coklat, tebal, warna kusam. Bau menusuk kuat, terjadi pengeringan lendir karena udara.

5.

Tekstur

16

%

5

Padat. Lentur, jika ditekan dengan jari bekasnya segera hilang, sulit menyobek dagingnya dari tulang belakangnya.Kadang- kadang agak lunak sesuai dengan jenisnya. Daging agak lunak, jika ditekan dengan jari

Daging

 

3

belum ada bekasnya. Lunak. Bekas tekanan jari lama hilangnya.

2

Sisik mudah dilepaskan. Sangat lunak. Bekas jari tak mudah hilang.

0

 

Daging mudah disobek dari tulang belakangnya.

6.

Keadaan

16

%

5

Sayatan daging berwarna cemerlang, tak ada warna merah sepanjang tulang belakang, perutnya utuh dan belum ada perubahan warna. Ginjal merah cerah, dinding perut utuh, isi perut berbau segar.

Daging dan

 

Perut

3

Sayatan daging cerah, dinding perut mulai lembek dan timbul perubahan warna. Warna ginjal pudar, bau tidak segar mulai timbul.

No

Parameter

Bobot

Skor

 

Keterangan Hasil Penilaian

     

2

Sayatan daging mulai berkurang kecerahannya, lunak dan terdapat warna merah sepanjang tulang belakang. Rusuk sudah lembek, bau isi perut makin kuat.

0

Daging warnanya pudar. Terdapat warna merah sepanjang tulang belakang. Dinding perut mulai hancur, isi perutnya hancur dan berwarna seperti tanah, berbau busuk.

Sumber : Kepmen KP No : 01/Men/2002

Tabel 3. Lembaran Penilaian Ikan Segar yang Diberi Perlakuan Pendinginan.

Skor

Bau

Ketengikan

 

Citarasa

5

Segar, manis

Negatif

Segar, manis, sedikit seperti bau kerang Kehilangan kesegarannya dan kemanisannya Netral atau sedikit asam

4

Kehilangan sedikit kesegarannya, ada sedikit perubahan bau

Sangat sedikit

3

Perubahan bau lebih nyata

Ketengikan mulai berperanan

2

Berbau asam atau tengik tetapi belum banyak

Ketengikan berperanan (dominan)

Asam, tetapi masih dapat dimakan

1

Bau asam atau tengik sangat kuat

Ketengikan berperanan (dominan)

Sangat asam, tak dapat dimakan

Sumber : Kepmen KP No : 01/Men/2002

5. Perubahan Setelah Ikan Mati

Proses perubahan setelah ikan mati terjadi karena aktivitas enzim, mikroorganisme dan

kimiawi. Ketiga hal tersebut menyebabkan tingkat kesegaran ikan menurun. Penurunan

tingkat kesegaran ikan ini terlihat dengan adanya perubahan fisik, kimia dan organoleptik

pada ikan.

Kesegaran ikan merupakan faktor utama yang menentukan mutu dan daya awet produk

yang diolah. Hasil perikanan yang baru dipanen, cepat sekali mengalami penurunan mutu

yang menjurus ke arah penguraian dan pembusukan. Penyebab utama penurunan mutu

adalah aksi enzimatik, kimiawi dan bakterial, dan sangat dipengaruhi oleh faktor suhu.

Segera setelah ditangkap, hasil perikanan akan menurun mutu kesegarannya apabila

penanganannya tidak benar yang ditandai dengan terjadinya perubahan sifat

organoleptiknya, yaitu : rupa, bau, citarasa dan teksturnya. Hanya bahan mentah yang baik

dan segar boleh dipasarkan atau diolah selanjutnya. Bahan mentah ikan yang rusak atau

menurun kesegarannya, busuk atau tercemar, sehingga tidak baik untuk makanan

manusia, tidak boleh digunakan sebagai bahan mentah untuk pengolahan. Oleh karena itu, bahan mentah perlu dilindungi sejak ikan dipanen hingga dipasarkan atau diolah oleh pabrik pengolahan ikan.

Pengamanan bahan mentah dilakukan dengan cara pemanenan yang tepat (ikan tidak luka atau cacat fisik). Pada jenis ikan tertentu (sidat, kepiting atau lobster, udang, kerang- kerangan) ketentuan persyaratan mutu menuntut keharusan penanganan hidup sebelum diolah di pabrik. Beberapa jenis ikan sangat cepat mengalami proses penurunan mutu bahkan pembusukan serta menghasilkan senyawa yang membahayakan kesehatan. Oleh sebab itu pada saat ikan masih segar harus dilakukan penanganan yang baik dan benar. Hal ini dilakukan selama pemasaran maupun sebelum dimasak atau diolah. Penanganan dapat dilakukan dengan pendinginan, pembekuan atau dimasak untuk menghambat

Penanganan hidup dilakukan dengan mengepak dalam keranjang

atau dalam wadah kedap air berisi air tawar atau air laut.

pertumbuhan mikroba

Ciri-ciri ikan yang masih segar memiliki penampilan yang menarik dan mendekati kondisi ikan baru mati. Ikan tampak cemerlang, mengkilap keperakan sesuai jenis dan warna aslinya. Pada ikan segar permukaan tubuh tidak berlendir atau berlendir tipis dimana lendir bening dan encer. Ciri-ciri lain ikan yang masih segar adalah sisik tidak mudah lepas, perut padat dan utuh, sedangkan lubang anus tertutup, mata ikan cembung, cerah dan putih jernih, tidak berdarah dengan pupil hitam, insang masih tampak merah cerah dan tidak berlendir. Selain itu daging ikan yang masih segar ikan masih lentur atau kaku dengan tekstur daging pejal, lentur, dan jika ditekan cepat kembali ke bentuk semula dan bau segar atau sedikit agak amis. Jika kondisi semacam itu masih dapat dikenali dengan baik, maka ikan dapat dikategorikan sebagai ikan yang masih segar dan bermutu tinggi.

Setelah ikan mati, berbagai proses perubahan fisik , kimia dan organoleptik berlangsung dengan cepat. Semua proses perubahan ini akhirnya mengarah ke pembusukan. Proses perubahan yang terjadi pada ikan mati meliputi perubahan prarigormortis, rigormortis, aktivitas enzim, aktivitas mikroba, dan oksidasi. Perubahan sejak ikan mati hingga busuk dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan yaitu :

a. Perubahan biokimiawi yang terjadi sebelum ikan menjadi kaku (keras). Pada saat itu yang paling banyak mengalami perubahan adalah pembongkaran ATP dan keratin-fosfat yang akan menghasilkan tenaga. Glikogen juga akan mengalami pembongkaran menjadi asam laktat melalui proses glikolisis sehingga menyebabkan keadaan daging menjadi asam dan aktivitas enzim ATP-ase dan keratin fosfokinase meningkat. Tahap pertama berlangsung dalam waktu antara 1-7 jam sejak ikan mati, tergantung jenis ikan.

b. Daging ikan akan menjadi lebih keras dari keadaan sebelumnya. Pada saat itu terjadi penggabungan protein aktin dan protein myosin menjadi protein kompleks aktomiosin.

c. Daging ikan akan kembali menjadi lunak Daging ikan akan kembali menjadi lunak secara perlahan-lahan, akibat proses kimia dan kerja bakteri. Lama proses kimia dan kerja bakteri sangat tergantung pada jenis ikan dan lingkungan. Tetapi pada umumnya, hal itu berlangsung singkat karena bakteri akan berkembang dengan cepat. Proses kimia dan kerja bakteri dapat diperlambat / ditunda dengan proses pendinginan atau pembekuan.

Selain proses pendinginan atau pembekuan untuk memperlambat/menunda proses pembusukan dapat dilakukan dengan mengeluarkan darah sebanyak banyaknya. Pengeluaran darah tersebut dapat dilakukan dengan pemotongan dan penyayatan. Darah dalam tubuh ikan dapat mempercepat proses pembusukan, karena darah merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan juga mikro organisme lainnya. Darah ikan memiliki sifat lebih cepat memadat (menggumpal) dari pada darah hewan-hewan darat. Kecepatan darah menggumpal dan menempel pada permukaan tubuh ikan dapat menyebabkan penampakan yang tidak menyenangkan bagi pembeli/konsumen. Darah yang akan menggumpal pada permukaan tubuh ikan akan berubah menjadi noda-noda berwarna merah gelap sebagai akibat teroksidasinya hemoglobin oleh oksigen dari udara menjadi methemioglobin.

Penanganan ikan segar harus dilakukan mulai dari pemanenan sampai konsumen. Pekerjaan penanganan ikan segar tersebut selain dilakukan oleh pengusaha perikanan dari kolam/tambak juga dilakukan oleh nelayan, pedagang, pengolah, penyalur, pengecer dan seterusnya hingga konsumen.

Penanganan ikan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan. Penanganan ikan laut pada dasarnya terdiri dari dua tahap, yaitu penanganan di kolam/tambak dan penanganan di penampungan. Penanganan ikan setelah pemanenan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual ikan yang maksimal. Salah satu faktor yang menentukan nilai jual ikan dan hasil perikanan yang lain adalah tingkat kesegarannya. Tingkat kesegaran ikan terkait dengan cara penanganan ikan. Ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya.

Kecepatan pembusukan ikan setelah pemanenan sangat dipengaruhi oleh teknik penangkapan dan pemanenan, kondisi biologis ikan, serta teknik penanganan dan

penyimpanan di kolam dan penampungan ikan. Oleh karena itu, segera setelah ikan ditangkap atau dipanen harus secepatnya diawetkan dengan pendinginan atau pembekuan. Dengan mendinginkan ikan sampai sekitar 0°C maka ikan dapat diperpanjang masa kesegarannya antara 12 – 18 hari sejak saat ikan ditangkap dan mati.

Melalui pendinginan kegiatan bakteri dapat dihambat, artinya bahwa bakteri pada kondisi itu masih hidup dan melakukan pengrusakan terhadap ikan tetapi lambat. Kegiatan pengrusakan oleh bakteri akan normal kembali bila suhu lingkungannya akan naik. Kegiatan bakteri dapat dihentikan bila ikan mencapai suhu – 12°C, suhu ini dapat dicapai melalui cara pembekuan ikan. Cara pengawetan dengan pendinginan terhadap ikan bertujuan mengawetkan sifat-sifat asli ikan seperti tekstur daging, rasa, bau, dan

sebagainya.

Efisiensi pengawetan dengan pendinginan sangat tergantung pada tingkat kesegaran ikan sesaat sebelum didinginkan. Pendinginan yang dilakukan sebelum regormortis merupakan cara yang paling efektif jika disertai dengan teknik yang benar, sedangkan pendinginan yang dilakukan setelah autolysis berjalan tidak akan banyak berguna.

Handling atau penanganan ikan dengan pendinginan dapat dilakukan dengan salah satu atau kombinasi dari cara-cara berikut ini :

a. Pendinginan dengan udara dingin

b. Pendinginan dengan es

c. Pendinginan dengan es kering (dry ice)

d. Pendinginan dengan air dingin :

e. Air tawar bercampur es atau air yang didinginkan dengan mesin pendingin

f. Air laut dingin bercampur es (chilled seawater, CSW)

g. Air laut yang didinginkan dengan mesin pendingin (refrigerated sea water, RSW)

Pengawetan dan pengolahan yang cermat dan cepat adalah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah proses pembusukan. Pengawetan tidak banyak berbeda dengan pengolahan. Pengawetan dan pengolahan berfungsi untuk mempertinggi daya tahan dan daya simpan ikan agar kualitas ikan dapat dipertahankan tetap dalam kondisi yang baik. Perbedaan pengolahan dan pengawetan terletak pada produk akhir. Produk akhir hasil pengawetan tidak berbeda jauh dengan bahan asli. Sedangkan produk akhir hasil pengolahan mempunyai bentuk yang jauh berbeda dibandingkan dengan aslinya. Pengawetan diartikan sebagai setiap usaha untuk mempertahankan mutu ikan selama mungkin sehingga masih dapat dimanfaatkan dalam keadaan yang baik dan layak. Peranan pengawetan :