Anda di halaman 1dari 27

G3P1A1 hamil 32 minggu belum inpartu dengan HAP perdarahan

berulang e.c Plasenta Previa Totalis Janin Tunggal Hidup, Presentasi


Kepala
(Case Report)

Disusun oleh :
Rossadea Atziza
1518012169

Pembimbing :
dr. Rodiani, Sp.OG

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD Dr. Hi. ABDOEL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2016
0

KATA PENGANTAR

Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul G3P1A1
hamil 32 minggu belum inpartu dengan HAP perdarahan berulang e.c Plasenta Previa
Totalis Janin Tunggal Hidup, Presentasi Kepala

tepat pada waktunya. Adapun

tujuan pembuatan laporan kasus ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Rodiani, Sp.OG yang telah meluangkan
waktunya untuk saya dalam menyelesaikan laporan kasus ini.

Saya menyadari

banyak sekali kekurangan dalam laporan ini, oleh karena itu saran dan kritik yang
membangun sangat penulis harapkan. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat
bukan hanya untuk saya, tetapi juga bagi siapa pun yang membacanya.

Bandar Lampung, Juni 2016

Penulis

STATUS OBSTETRI
Tgl. Masuk RSAM

: 4 Juni 2016

Pukul

: 01.22 WIB

A. Anamnesa (Autoanamnesis)
I. Identifikasi
Nama

: Ny. YD

Suami

: Tn. Y

Umur

: 35 tahun

Umur

: 33 tahun

Suku

: Jawa

Suku

: Semendo

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan : SD

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Pekerjaan

Alamat

: Pasar Senen, Negara Ratu, Lampung Utara

: Wiraswasta

II. Keluhan
Utama

: Hamil kurang bulan dengan perdarahan dari kemaluan

III. Riwayat Haid


Menarche

: 14 tahun

Siklus haid

: 28 hari, teratur

Jumlahnya

: Jumlah darah normal, tidak nyeri

Lamanya

: 4-5 hari

HPHT

: 7 9 2015

TP

: 14 6 2016

IV. Riwayat Perkawinan


Menikah 1 kali, lamanya 7 tahun. Usia menikah 28 tahun.

V. Riwayat Kehamilan Sekarang


3 hari SMRS Os datang dengan keluhan perdarahan dari kemaluan. Darah
berwarna merah segar tanpa disertai rasa nyeri, sebanyak 4 kali ganti pembalut.
Sebelumnya Os dirawat di RS Handayani dengan keluhan yang sama selama 3
hari, dan akhirnya di rujuk ke RSAM. Os sebelumnya mengaku pernah USG di
RS Handayani, dikatakan bahwa ari-arinya menutupi jalan lahir. R/ nyeri (-), R/
perut mules semakin sering dan kuat (-), R/ keluar lendir (-), R/ keluar darah (+),
R/ keluar air-air (-), R/ trauma (-), R/ minum obat/jamu (+), R/ berhubungan
intim satu minggu terakhir (-). Os mengaku hamil kurang bulan dan gerakan
janin masih dirasakan.

VI. Riwayat Kehamilan Persalinan Nifas Terdahulu


Anak 1

2010, Abortus (usia kehamilan 12 minggu), di kuret

Anak 2

2011, lahir di bidan, spontan, post-term, perempuan, 4200 gram,

sehat

VII. Riwayat Penyakit Terdahulu


Pasien tidak menderita penyakit darah tinggi, penyakit jantung, penyakit ginjal,
asma dan kencing manis.

VIII. Riwayat Penyakit Keluarga


Di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit darah tinggi, penyakit
jantung, penyakit ginjal, asma dan kencing manis.

IX. Riwayat Kontrasepsi


Pasien mengaku tidak pernah menggunakan KB.
X. Riwayat Imunisasi Selama Hamil
Pasien mendapat 1x imunisasi TT
B. PEMERIKSAAN FISIK
I.

II.

Status Present
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,50 C

Tinggi badan

: 160 cm

Berat badan

: 66 kg

Status Generalis
Kulit

: Chloasma gravidarum (-)

Mata

: Konjungtiva anemis, sklera anikterik

Gigi / mulut

: Gigi geligi lengkap, Karies (-)

Thorax

: Dalam batas normal

Mamme

: Mamae tegang dan membesar

Jantung

: Ictus cordis tidak terlihat dan tidak teraba bunyi


jantung I II reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru

: Pergerakan hemithoraks kanan dan kiri sama,


Fremitus taktil hemithoraks kanan dan kiri sama

Sonor, suara vesikuler pada seluruh lapang paru,


ronchi, wheezing tidak ada
Abdomen

: Cembung, striae gravidarum (+), hepar dan lien


sulit dinilai

Extremitas

: Edema pretibial -/-

III. Status Obstetri


Pemeriksaan Luar
Inspeksi : Perut tampak membesar
Palpasi :
Leopold 1 : TFU 4 jari di bawah procesus xipoideus (30 cm), pada
fundus teraba massa bundar dan lunak, diperkirakan
bokong janin.
Leopold 2 : Letak Memanjang. Pada bagian dextra teraba bagian yang
memanjang, diperkirakan punggung janin. Pada bagian
sinistra terdapat bagian kecil-kecil janin, diperkirakan
ekstremitas.
Leopold 3 : Teraba massa bundar, melenting dan keras, diperkirakan
bagian terbawah kepala.
Leopold 4 : Kedua tangan konvergent, kepala janin belum masuk PAP
DJJ : 153 x/menit, reguler
His : (-)
TBJ : 2300 gram
Pemeriksaan Dalam
VT

: Tidak dilakukan

Inspekulo
Vulva dan vagina

: Tidak ada kelainan

Portio

: Livide
5

OUE

: Tertutup

Fluor

: (-)

Fluksus

: Darah (+)

Erosi

: (-)

Polip dan laserasi : (-)


Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium hematologi, Tanggal
Hematologi
Hb

Ht

LED

Leukosit

Trombosit

USG (3 April 2016)


- Tampak janin tunggal hidup, presentasi kepala
- Aktivitas dan gerakan janin dalam batas normal
- Biometri janin :

BPD ~32 minggu

- Ketuban cukup
- Plasenta di corpus belakang meluas ke bawah sampai menutupi seluruh OUI
- Kesan : Hamil 32 minggu JTH preskep + PPT
C. DIAGNOSIS
G3P1A1 hamil 32 minggu belum inpartu dengan HAP perdarahan berulang e.c
plasenta previa totalis Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala.

D. PENATALAKSANAAN
- Ekspektatif
- Observasi DJJ, TVI, dan tanda perdarahan
6

- Tokollitik dengan nifedipine 4x10 mg


- Injeksi dexamethasone 2x6 mg
- Injeksi Ceftriaxone 2 x 1 gr
E. PROGNOSIS
Ibu
Quo ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad functionam

: Dubia ad bonam

Anak
Quo ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad functionam

: Dubia ad bonam
Follow Up

HARI/
TANGGAL

CATATAN

INSTRUKSI

03/04/2016
14:00 WIB

S/ Keluhan
Hamil kurang bulan dengan
perdarahan dari kemaluan
O/ Status present
TD
: 110/80 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
RR
: 24x/menit
T
: 36.5 oC
Status Obstetri
FUT 4 jari diatas pusat (29 cm),
Memanjang, Puka, Kepala, His (-)
DJJ 145x, TBJ: 2480gr
Inspekulo: Portio Livide, Fluor (-),
Fluxus (+), Perdarahan tak aktif,
OUE tertutup, E/L/P (-).

- Th/ obs TVI,


DJJ, Perdarahan
- IVFD RL gtt
xx/menit
- Cek lab DR
- Nifedipine
4x10mg
- Dexametashone
2x6mg
- R/ USG
konfirmasi

A/ G2 P0 A1 hamil 34 minggu belum


inpartu dengan HAP perdarahan
berulang e.c PPT JTH preskep
16.00 WIB
KU: baik
Lab :
Hb: 8,6 gr/dl
Ht: 28%
LED: 39
mm/jam
Leukosit:
10.200/ul
Trombosit:
412.000/mm3
04/04/2016
08.00 WIB

USG Konfirmasi
- Tampak janin tunggal hidup,
presentasi kepala
- Aktivitas dan gerakan janin dalam
batas normal
- Biometri janin: BPD~34 minggu
- Ketuban cukup
- Plasenta di corpus depan meluas
ke bawah sampai menutupi
seluruh OUI

Pasien stabil pindah ke bangsal


O/ Status present
TD
: 110/70 mmHg
Nadi
: 80 x/menit

- Th/ obs TVI,


DJJ, Perdarahan
- IVFD RL gtt
xx/menit
- Nifedipine
8

05/04/2016
14.00 WIB

RR
: 20x/menit
T
: 36.5 oC
Status Obstetri
FUT 4 jari diatas pusat (29 cm),
Memanjang, Puka, Kepala, His (-)
DJJ 138x,
S/ perdarahan berulang aktif
O/ Status present
TD
: 110/70 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
RR
: 20x/menit
T
: 36.5 oC

4x10mg
- Dexamethasone
2x6mg

- Th/ obs TVI,


DJJ, Perdarahan
- R/ terminasi
perabdominal
- Lapor konsulen
- Acc terminasi
perabdominal

Status Obstetri
FUT 4 jari diatas pusat (29 cm),
Memanjang, Puka, Kepala, His (-)
DJJ 140x,
A/ G2P0A1 Hamil 34 minggu belum
inpartu dengan HAP perdarahan
berulang aktif e.c PPT, JTH Preskep
Pasien dipindahkan ke VK untuk
dilakukan observasi perdarahan
05/04/2016
17.30 WIB
17.35 WIB

17.38 WIB
19.00 WIB

06/04/2016
07.00 WIB

Pasien naik ke kamar operasi,


Operasi dimulai
Lahir neonates hidup perempuan
dengan SSTP BB 2400 gr, PB 46,
A/S 7/8 PTAGA
Plasenta lahir lengkap
Kondisi ibu baik pindah ke ruang
pulih sadar di bangsal, neonates
dirawat di NICU
A/ P1 A1 Post SSTP a.i HAP
perdarahan berulang aktif e.c PPT
S/ nyeri bekas operasi

Inj As.
Traneksamat
Ceftriaxone 2x1
Ranitidine 2x1

Cefadroxil 3x1
Paracetamol 3x1
9

07/04/2016
06.30 WIB

O/ Status present
TD
: 110/70 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
RR
: 21x/menit
T
: 36.5 oC
Status Obstetri
FUT 2 jari dibawah pusat, BAK (+),
BAB (-), lokia (+)

b-complex 3x1

S/ nyeri bekas operasi

Cefadroxil 3x1
Paracetamol 3x1
b-complex 3x1

O/ Status present
TD
: 120/80 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
RR
: 20x/menit
T
: 36.5 oC

08/04/2016
07.30 WIB

Status Obstetri
FUT 2 jari dibawah pusat, BAK (+),
BAB (-), lokia (+)
S/ tidak ada keluhan
O/ Status present
TD
: 120/80 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
RR
: 20x/menit
T
: 36.5 oC

09.00 WIB

Cefadroxil 3x1
Paracetamol 3x1
b-complex 3x1

Status Obstetri
FUT 2 jari dibawah pusat, BAK (+),
BAB (-), lokia (+)
Kondisi pasien baik, pasien
dipulangkan

II. PERMASALAHAN

10

1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?


2. Apakah tindakan pada pasien ini sudah tepat?
Analisis Kasus
1. Apakah anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetric, dan pemeriksaan
penunjang yang dilakukan sudah tepat dan lengkap untuk menegakkan
diagnosis G2P0A1 hamil 34 minggu belum inpartu dengan HAP perdarahan
berulang e.c plasenta previa totalis Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala?
Pada anamnesis didapatkan Os mengaku sedang mengalami kehamilan
yang kedua dan kehamilan pertama mengalami keguguran G2P0A1
Usia kehamilan: 34 minggu didapatkan dari perhitungan HPHT
08-8-2015. Sedangkan saat masuk rumah sakit tanggal 03-4-2016, maka
perkiraan kehamilan 34 minggu.

Dari anamnesis didapatkan keluhan Os adalah terdapat perdarahan


100cc (3x celana dalam) dari jalan lahir mendadak, tanpa disertai nyeri
pada perut, darah berwarna merah segar. Pasien

masih merasakan

pergerakan janin.
Pasien belum inpartu didapatkan dari anamnesa yang menyatakan bahwa
Os belum merasakan mules semakin sering dan kuat (his (-)), R/ keluar
darah (+), R/ nyeri (-), R/ keluar lendir (-), R/ keluar air-air (-). Didukung
juga dari pemeriksaan inspekulo, dimana OUE masih tertutup.
Janin tunggal hidup presentasi kepala karena pada pemeriksaan leopold
dirasakan hanya terdapat 1 sisi bagian besar janin dan sisi yang lain
merupakan bagian kecil. Kemudian pada palpasi bagian yang terdapat
fundus adalah bagian yang tidak keras sehingga kesan bokong, kemudian

11

letak bayi memanjang dan bagian paling bawah teraba keras dan lenting
kesan kepala. Kemudian denyut jantung janin masih terdengar dengan
menggunakan Doppler di daerah bawah pusat ibu sebelah kanan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah ibu normal 120/70
mmHg, nadi 84x/menit, pernafasan 20x/menit, dan suhu 36,8C, abdomen
cembung, tegang, striae gravidarum (+), nyeri tekan (-)
Dari Pemeriksaan Obstetri
Pemeriksaan luar
Tinggi fundus uteri 4 jari di atas pusar (29 cm), letak memanjang. Punggung
kanan, perentasi kepala, his (-), DJJ 145x/menit regular.

Pemeriksaan Inspekulo
Vulva dan vagina : Tidak ada kelainan
Porsio

: Livide

OUE

: Tertutup

Flour

: (-)

Fluksus

: (+) darah aktif

Erosi

: (-)

Laserasi

: (-)

Polip

: (-)

Vagina toucher

: Tidak dilakukan

2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat ?


Penatalaksanaan awal :
A.

Ekspektatif
12

- Observasi DJJ, TVI, dan tanda perdarahan


- Laboratorium : darah rutin, cross match
- Tokollitik dengan nifedipine 4x10
- Injeksi dexamethasone 2x6 gr
- Antibiotic ampisillin
- Transfusi darah sampai Hb 10gr/dl
B. Aktif
Diputuskan dilakukan tindakan segera terminasi kehamilan per
abdominam, tanpa memandang usia kehamilan dan maturitas janin
karena didapatkan perdarahan berulang aktif.

Kesimpulan
1. Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obsterik pada kasus ini sudah tepat
untuk menegakkan diagnosis G2P0A1 hamil 34 minggu belum inpartu dengan HAP
perdarahan berulang e.c plasenta previa totalis Janin Tunggal Hidup Presentasi
Kepala. Didukung dengan pemeriksaan penunjang USG yang menunjukkan bahwa
terdapat plasenta previa totalis.
2. Penatalaksanaan ekspektatif yang dilakukan pada pasien ini sudah tepat karena
setelah di observasi, perdarahan berkurang dan kehamilan dapat dipertahankan
walapun ternyata pada hari kedua didapatkan perdarahan berulang aktif dan harus
segera dilakukan segera terminasi kehamilan dengan perabdominam.

13

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA
A. DEFINISI
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri
internum. Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian atas uterus.
Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah
rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada

14

segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah


rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi.
Fungsi Plasenta :
a. Sebagai alat yang memberi makanan pada janin.
b. Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme.
c. Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2.
d. Sebagai alat pembentuk hormone.
e. Sebagai alat penyalur perbagai antibody ke janin.

Menurut Browne, klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya


jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu:
1. Plasenta Previa Totalis
Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi jelas
tidak

mungkin

bayi

dilahirkan

in

order

to

vaginam

(normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.

15

2. Plasenta Previta Parsialis


Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada
tempat implantasi inipun risiko perdarahan masih besar dan biasanya
tetap tidak dilahirkan melalui pervaginam.
3. Plasenta Previa Marginalis
Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa
dilahirkan pervaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.
4. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah)
Plasenta yang berimplasntasi pada segmen bawah rahim sedemikian
rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari
ostium uteri internum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta
letak normal.

B. PATOFISIOLOGI
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga dan
mungkin juga lebih awal, oleh karena telah dimulai terbentuknya segmen
bawah rahim, tapak plasenta akan mengalami pelepasan. Dengan melebarnya
isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang
berimplantasi disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan
pada desidua sebagai tapak plasenta. Di tempat laserasi tersebut akan terjadi
16

perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus
dari plasenta.
Perdarahan di tempat tersebut relatif dipermudah dan diperbanyak oleh karena
segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat
karena elemen otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan akibat
permbuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna.
Perdarahan akan berhenti karena terjadi permbekuan, kecuali jika ada laserasi
mengenai sinus yang besar dari plasenta maka perdarahan akan berlangsung
lebih banyak dan lebih lama. Karena pembentukan segmen bawah rahim
berlangsung progresif dan bertahap, maka laserasi baru akan mengulang
kejadian perdarahan. Oleh karena itulah pada plasenta previa, akan terjadi
perdarahan berulang tanpa sesuatu sebab lain.
Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa disertai rasa nyeri.
Pada plasenta yang menutupi seluruh OUI, perdarahan terjadi lebih awal
dalam kehamilan karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dulu pada
bagian terbawah yaitu segmen bawah rahim. Sebaliknya pada plasenta previa
parsialis atau letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau
mulai persalinan.
Perdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung lebih banyak pada
perdarahan berikutnya. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan
di bawah 30 minggu tetapi lebih separuh kejadiannya pada usia kehamilan 34
minggu.
Banyaknya perdarahan tidak dapat dilihat dan dinilai dari anamnesa,
melainkan dari pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan luar bagian terbawah
janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Sering disertai dengan
kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang.
17

C. ETIOLOGI
Beberapa faktor dan etiologi dari plasenta previa tidak diketahui. Tetapi
diduga hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas dengan asal dari
vaskularisasi endometrium yang mungkin disebabkan oleh timbulnya parut
akibat trauma operasi/infeksi.
Teori lain

mengemukakan

sebagai salah satu penyebabnya

adalah

vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat dari proses
radang atau infeksi.
Perdarahan berhubungan dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus
pada trimester ketiga. Plasenta yang melekat pada area ini akan rusak akibat
ketidakmampuan segmen bawah rahim. Kemudian perdarahan akan terjadi
akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk berkonstruksi secara
adekuat. Faktor risiko plasenta previa termasuk:

Riwayat plasenta previa sebelumnya.

Riwayat seksio sesarea.

Riwayat aborsi.

Kehamilan ganda.

Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun

Multiparitas, apalagi bila jaraknya singkat. Secara teori plasenta yang


baru berusaha mencari tempat selain bekas plasenta berikutnya

Adanya

gangguan

anatomis/tumor

pada

rahim.

Sehingga

mempersempit permukaan bagi penempatan plasenta.

Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya


dari indung telur setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.

Adanya trauma selama kehamilan.

18

Sosial ekonomi rendah/gizi buruk patofisiologi dimulai dari usia


kehamilan 30 minggu segmen bawah uterus akan terbentuk dan mulai
melebar serta menipis.

Mendapat tindakan Kuretase.

Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih


melebar lagi dan serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada
segmen bawah oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian
plasenta dari dinding uterus.
Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang sobek karena terlepasnya
plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari
plasenta.
Menurut Kloosterman (1973), frekuensi plasenta previa pada primigravida
yang berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan
dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun ; pada grande
multipara yang berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 4 kali lebih sering
dibandingkan dengan grande multipara yang berumur kurang dari 25 tahun.
D. GAMBARAN KLINIK
Gejala Utama
Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna
merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.
Gejala Klinik
a. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi
pertama kali biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan
berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan
pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
19

b. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak


mengeluh adanya rasa sakit.
c. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
d. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan
tidak jarang terjadi letak janin letak janin (letak lintang atau letak
sungsang)
e. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya
perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.

E. DIAGNOSIS
Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa
penyebabnya adalah placenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu
salah.
Anamnesis. Perdarahan jalan lahir pada kehamilan lebih dari 22 minggu
berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida.
Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari
pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan Luar. Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas
panggul. Apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung di atas
pintu atas panggul atau mengolak ke samping, dan sukar didorong ke dalam
pintu atas panggul. Tidak jarang terdapat kelainan letak janin, seperti letaklintang atau letak-sungsang.
Pemeriksaan Inspekulo. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah
perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan
vagina, seperti erosio porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri, polipus
20

servisis uteri, varises vulva dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari
ostium uteri eksternum, adanya placenta previa harus dicurigai.
Penentuan Letak Plasenta Tidak Langsung. Penentuan letak placenta
secara tidak langsung dapat dilakukan dengan radiografi, radioisotodi dan
ultrasonografi.
Ultrasonografi; penentuan letak placenta dengan cara ini ternyata sangat tepat,
tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya, dan tidak
menimbulkan rasa nyeri.
Penentuan letak placenta secara langsung. Untuk menegakkan diagnosis
yang tepat tentang adanya dan jenis placenta previa ialah secara langsung
meraba placenta melalui canalis servicalis. Akan tetapi pemeriksaan ini sangat
berbahaya karena dapat meimbulkan perdarahan banyak. Oleh karena itu
pemeriksaan melalui kanalis servikalis hanya dilakukan apabila penanganan
pasif ditinggalka, dan di tempuh penanganan aktif. Pemeriksaannya harus
dilakukan dalam keadaan siap operasi.
Plasenta mengalami perubahan, dari perubahan inilah bisa tejadi plasenta
berpindah atau lebih tepatnya bergeser secara relatif menjauhi jalan lahir,
seolah-olah bergerak ke atas. Itulah sebabnya sebelum masuk trimester
terakhir, sektar 28 minggu/7 bulan dibiarkan saja dulu asal tidak terjadi
perdarahan yang tidak bisa dikendalikan. Diharapkan setelah 7 bulan bisa
berpindah ke implantasi normal.
F. PENANGANAN
Setiap ibu hamil dengan perdarahan ante partum harus segera dikirim ke
Rumah Sakit yang memiliki fasilitas transfusi darah dan fasilitas untuk
melakukan operasi. Perdarahan yang pertama kali terjadi jarang menyebabkan
21

kematian, asalkan sebelumnya tidak dilakukan pemeriksaan dalam / vaginal


toucher ( VT )
Terapi Ekspektatif
1. Tujuan supaya janin tidak terlahir premature, penderita dirawat tanpa
melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis Syarat-syarat
terapi ekspektif :

Kehamilan preterm (< 37 minggu).

Perdarahan sedikit/minimal yang kemudian berhenti (Hb >8gr/dl).

Belum ada tanda-tanda in partu.

Keadaan umum ibu cukup baik.

Janin masih hidup.

2. Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.


3. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta.
4. Berikan tokolitik bila ada kontraksi :

MgS04 9 IV dosis awal tunggal dilanjutkan 4 gram setiap 6 jam.

Nifedipin 3 x 20 mg perhari.

Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru


janin.

5.

Uji pematangan paru janin dengan tes kocok dari hasil amniosentesis.

6. Bila setelah usia kehamilan diatas 34 minggu, plasenta masih berada


disekitar ostium uteri interim.
Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama,
pasien dapat dipulang untuk rawat jalan.
Terapi Aktif ( tindakan segera ).
22

Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervagina yang aktif dan
banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang
moturitas janin. Lakukan PDMO jika :
a. Kehamilan > 37 minggu ( berat badan janin > 2500 gram ).
b. Inpartu.
c. Janin telah meninggal (IUFD) atau terdapat anomali kongenital mayor,
seperti anensefali.
d. Perdarahan (500 cc/ lebih) atau telah dilakukannya transfusi berulang.
e. Keadaan umum pasien tidak baik (anemis Hb < 8gr/dl).
Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa seksio sesarea
1. Prinsip utama adalah menyelamatkan ibu, walaupun janin meninggal
atau tidak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan.
2. Tujuan seksio sesarea : persalinan dengan segera sehingga uterus
segera berkontraksi dan menghentikan pendarahan, menghindarkan
kemungkinan terjadi robekan pada serviks, jika janin dilahirkan
pervagina.
3. Siapkan darah pengganti untuk stabiliasi dan pemulihan kondisi ibu.

G. KOMPLIKASI
Ada beberapa komplikasi utama yang bisa terjadi pada ibu hamil yang
menderita plasenta pervia, diantaranya ada yang bisa menimbulkan
perdarahan yang cukup dan fatal
a. Karena pembentukan segmen bawah rahim terjadi secara ritmik, maka
pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang
dan semakin banyak, dan perdarahan yang terjadi itu tidak dapat
dicegah sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok
23

b. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim


dan sifat segmen ini yang tipis, jaringan trofoblas dengan kemampuan
invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke
perimetrium dan menyebabkan plasenta inkreta dan bahlkan plasenta
perkreta.
c. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi.
d. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak dapat dihindarkan
sebagian karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan
dalam kehamilan belum aterm.
H. PROGNOSIS
Prognosis ibu dan anak pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika
dibandingkan dengan masa lalu. Penurunan jumlah ibu hamil dengan paritas
tinggi dan usia tinggi berkat sosialisasi program keluarga berencana
menambah penurunan insiden plasenta previa. Dengan penatalaksanaan yang
baik, kematian ibu karena plasenta letak rendah dapat ditekan serendah
mungkin atau bahkan tidak ada sama sekali, kematian perinatal berangsur
angsur dapat diperbaiki. Walaupun demikian, hingga saat ini kematian
perinatal yang disebabkan prematuritas tetap memegang peranan utama
terjadinya kematian perinatal.

24

DAFTAR PUSTAKA

Antoni. Sinerang.1982. Patologi Kebidanan. Pengikat. Palembang


Kedaruratan Kebidanan. Buku Ajar Untuk Program Pendidikan Bidan Perdarahan
Antepartum Buku III. 1996.. Jakarta.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Prawirorahardjo. Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka.
Jakarta.
Sastrowinata. Sulaiman. 1983. Obstetri Fisiologi. Fakultas kedokteran Padjajaran.
Bandung.
25

26