Anda di halaman 1dari 17

DINAMIKA KERAK BUMI

MAKALAH
(Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Geologi Struktur dan Stratigrafi)
Dosen Pengampu : Irjan, M.Si

Oleh :
LAILATUL MAGHFIROH
13640046

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK
IBRAHIM MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bumi merupakan planet yang sangat dinamis. Jika kita dapat kembali ke
waktu satu milyar tahun yang lalu atau lebih, kita akan mendapatkan sebuah planet
yang permukaannya sangat jauh berbeda dengan keadaannya sekarang. Selain itu
kita juga akan mendapatkan bentuk dari benua (kontinen) yang berbeda dan berada
pada posisi yang berbeda dengan sekarang ini. Perubahan tersebut disebabkan oleh
proses-proses yang bekerja pada bumi ini. Bumi memiliki beberapa lapisan, salah
satunya adalah kerak bumi. Kerak bumi adalah lapisan terluar Bumi yang terbagi
menjadi dua kategori, yaitu kerak samudra dan kerak benua.
Gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung api semakin menguatkan teori
yang telah ada, yakni kerak Bumi terus bergerak secara aktif dan dinamis. Kerak
Bumi tempat manusia berada merupakan serpihan-serpihan raksasa yang
mengambang di atas inti Bumi. Teori Dinamika Bumi telah muncul di permukaan
semenjak 1960 silam, ketika Teori Pergerakan Lempeng Tektonik dari ahli
geofisika dan meteorologi Jerman, Alfred Wegener, dapat dibuktikan secara ilmiah.
Wegener bukanlah ilmuwan pertama yang meyakini bahwa benua-benua di
dunia terus bergerak. Sedari awal, teori pergerakan lempeng benua Wegener
menuai pro dan kontra. Kelemahan teori Wegener saat itu adalah ia tidak dapat
menjelaskan mekanisme dari gerakan kerak Bumi. Ketika teori lempeng
tektoniknya nyaris dilupakan, pada 1929 pakar geologi Inggris, Arthur Holmes,
melontarkan teori mengenai gaya konveksi inti Bumi yang mampu menerangkan
mekanisme gerakan lempeng tektonik dari Wegener. Teori Tektonik Lempeng dari
Alfred Wegener merupakan mainstream dalam ilmu kebumian. Dengan adanya
teori pergerakan lempeng tektonik dari Wegener dan para ilmuwan di generasigenerasi berikutnya, kini dinamika di dalam perut Bumi dapat dimengerti lebih
jelas.
Terbukti bahwa benua-benua tidak terpancang erat melainkan terus
bergerak saling menjauh atau saling bertumbukan. Setelah diketahui adanya

rangkaian gunung api di dasar samudra pada 1953 lalu, para ahli geologi dan
geofisika mulai meyakini adanya dinamika Bumi yang amat kompleks.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud kerak bumi ?
2. Bagaimana proses terbentuknya kerak bumi ?
3. Apa saja batuan penyusun kerak bumi ?
4. Apa saja macam-macam kerak bumi ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud kerak bumi
2. Untuk mengetahui proses terbentuknya kerak bumi
3. Untuk mengetahui batuan penyusun kerak bumi
4. Untuk mengetahui macam-macam kerak bumi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kerak Bumi


Kerak bumi merupakan bagian bumi yang paling luar dengan ketebalan 5
hingga 80 kilometer. Antara kerak dan mantel bumi terdapat batas yang dinamakan
Mohorovivic Discontunuity. Kerak bumi tersusun secara dominan oleh mineral
silikat dan feldsfar. Bumi tempat kita tinggal di permukaannya disebut dengan
kerak bumi dan pada kerak bumi inilah manusia dan maklhuk yang lain hidup di
atasnya serta melakukan aktivitas kehidupannya masing- masing. Lapisan kerak
bumi memiliki jarak beribu- ribu kilometer untuk mencapai lapisan yang lain.

Gambar 2.1 Lapisan bumi

Temperatur

kerak

meningkat

seiring

kedalamannya.

Pada

batas

terbawahnya temperatur kerak menyentuh angka 200-4000C. Kerak dan bagian


mantel yang relatif padat membentuk lapisan litosfer. Karena konveksi pada mantel
bagian atas dan astenosfer, litosfer dipecah menjadi lempeng tektonik yang
bergerak. Temperatur meningkat 300C setiap km, namun gradien panas bumi akan
semakin rendah pada lapisan kerak yang lebih dalam.
Unsur-unsur kimia utama pembentuk kerak bumi adalah: Oksigen (O)
(46,6%), Silikon (Si) (27,7%), Aluminium (Al) (8,1%), Besi (Fe) (5,0%), Kalsium

(Ca) (3,6%), Natrium (Na) (2,8%), Kalium (K) (2,6%), Magnesium (Mg)
(2,1%).Para ahli dapat merekonstruksi lapisan-lapisan yang ada di bawah
permukaan bumi berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap seismogram yang
direkam oleh stasiun pencatat gempa yang ada di seluruh dunia.
Kerak bumi purba sangat tipis, dan mungkin mengalami proses daur ulang
oleh lempengan tektonik yang jauh lebih aktif dari saat ini dan dihancurkan
beberapa kali oleh tabrakan asteroid, yang dulu sangat umum terjadi pada masa
awal terbentuknya tata surya. Usia tertua dari kerak samudra saat ini adalah 200
juta, namun kerak benua memiliki lapisan yang jauh lebih tua. Lapisan kerak benua
tertua yang diketahui saat ini adalah berusia 3,7 hingga 4,28 miliar tahun dan
ditemukan di Narryer Gneiss Terrane di Barat Australia dan di Acasta Gneiss,
Kanada. Pembentukan kerak benua dihubungkan dengan periode orogeny intensif.
Periode ini berhubungan dengan pembentukan super benua seperti Rodinia,
Pangaea, dan Gondwana.
2.2 Proses Terbentuknya Kerak Bumi
Kulit bumi dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Hal ini telah
menjadi bahan pemikiran para ahli untuk mengungkap proses perubahan dan
perkembangan kulit bumi pada masa lalu, sekarang dan prediksi pada masa yang
akan datang. Adapun berbagai teori terbentuknya kulit bumi yang dikemukakan
para ahli antara lain sebagai berikut :
1. Teori kontraksi (Contraction theory)
Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Descrates (1596-1650).Ia
menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengkerut yang
disebabkan oleh terjadinya proses pendinginan, sehingga di bagian
permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran. Teori
kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant (1852).
Mereka berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi proses
pendinginan di bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan
bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah.

2. Teori dua benua (Laurasia-Gondwana theory)


Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas dua benua
yang sangat besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar
kutub selatan bumi.Kedua benua tersebut kemudian bergerak perlahan ke arah
equator bumi, sehingga akhirnya terpecah-pecah menjadi benua benua yang
lebih kecil.Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa dan Amerika Utara,
sedangkan Gondwana terpecah menjadi Afrika, Australia dan Amerika Selatan.
Teori Laurasia-Gondwana kali pertama dikemukakan oleh Edward Zuess
pada 1884.
3. Teori pengapungan benua (Continental drift theory)
Teori pengapungan benua dikemukakan oleh Alfred Wegener pada
1912.Ia menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada satu benua maha
besar yang disebut Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian terpecahpecah dan terus bergerak melalui dasar laut.Gerakan rotasi bumi yang
sentripugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah barat
menuju equator.Teori ini didukung oleh bukti-bukti berupa kesamaan garis
pantai Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur, serta adanya
kesamaan batuan dan fosil pada kedua daerah tersebut.
4. Teori konveksi (Convection theory)
Menurut teori konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan
Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz, menyatakan
bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus
konveksi ke arah lapisan kulit bumi yang berada di atasnya, sehingga ketika
arus konveksi yang membawa materi berupa lava sampai ke permukaan bumi
di mid oceanic ridge (punggung tengah samudera), lava tersebut akan membeku
membentuk lapisan kulit bumi yang baru menggeser dan menggantikan kulit
bumi yang lebih tua. Bukti kebenaran teori konveksi adalah terdapatnya tanggul
dasar samudera (Mid Oceanic Ridge), seperti Mid Atlantic Ridge dan PasificAtlantic Ridge.Bukti lainnya didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang
membuktikan bahwa semakin jauh dari punggung tengah samudera, umur
batuan semakin tua.Artinya terdapat gerakan yang berasal dari Mid Oceanic

Ridge ke arah berlawanan yang disebabkan oleh adanya arus konveksi dari
lapisan di bawah kulit bumi.
5. Teori lempeng tektonik (Plate Tectonic theory)
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa planet bumi terdiri atas
sejumlah lapisan.Lapisan bagian atas bumi merupakan bagian yang tegar dan
kaku berada pada suatu lapisan yang plastik atau cair.Hal ini mengakibatkan
lapisan permukaaan bumi bagian atas menjadi tidak stabil dan selalu bergerak
sesuai dengan gerakan yang berada di bawahnya.Keadaan inilah yang
melatarbelakangi lahirnya teori Lempeng Tektonik.Lahirnya teori lempeng
tektonik (tectonic Plate theory) pada tahun 1968 merupakan kenyataan mutakhir
dalam geologi yang menunjukkan terjadinya evolusi bentuk permukaan bumi.
Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh Tozo Wilso.Berdasarkan teori
ini, kulit bumi atau litosfer terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada
di atas lapisan astenosfer, Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi
selalu bergerak karena pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan
astenosfer yang berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi.Litosfer sebagai
lapisan paling luar dari badan bumi, bagaikan kulit ari pada kulit manusia dan
merupakan lapisan kerak bumi yang tipis.Prinsip teori tektonik lempeng adalah
kulit bumi terdiri atas lempeng-lempeng yang kaku dengan bentuk tidak
beraturan.Dinamakan lempeng karena bagian litosfer mempunyai ukuran yang
besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan lebar), tetapi berukuran kecil
pada arah vertikal (ketebalan).
Bandingkan dengan daun meja, daun pintu, atau lantai di kelas kalian!
Lempeng ini terdiri atas lempeng benua (tebal sekitar 40 km) dan lempeng
samudera (tebal sekitar 10 km). Kedua lempeng tersebut berada di atas lapisan
astenosfer dengan kecepatan rata-rata 10 cm/tahun atau 100 km/10 juta tahun.
Astenosfer merupakan suatu lapisan yang cair (kental) dan sangat panas.
Panasnya cairan astenosfer senantiasa memberikan kekuatan besar dari dalam
bumi untuk menggerakkan lempeng-lempeng secara tidak beraturan.Kekuatan
ini dinamakan tenaga endogen yang telah menghasilkan berbagai bentuk di
permukaan bumi.Di bumi ini litosfer terpecah-pecah menjadi sekitar 12
lempeng.

Teori lempeng tektonik banyak didukung oleh fakta ilmiah, terutama


dari data penelitian geologi, geologi kelautan, kemagnetan purba, kegempaan,
pendugaan paleontologi, dan pemboran laut dalam. Lahirnya teori lempeng
tektonik sebenarnya merupakan jalinan dari berbagai konsep dan teori lama
seperti Teori Apungan Benua, Teori Arus Konveksi, Teori Pemekaran Lantai
samudera, dan Teori Sesar Mendatar, sebagaimana telah dijelaskan pada teoriteori di atas. Berdasarkan kajian para ahli, lempeng tektonik yang tersebar di
permukaan bumi dapat dilihat pada gambar berikut ini. Lempeng-lempeng
tersebut selalu bergerak dan mendesak satu sama lain. Lempeng tektonik bagian
atas disebut lempeng samudera, sedangkan lempeng tektonik pada bagian atas
terdapat masa kontinen disebut lempeng benua.Kedua lempeng ini memiliki
sifat yang berbeda. Apabila dua lempeng yang berbeda sifat tersebut saling
mendekat, umumnya lempeng samudera akan ditekuk ke bawah lempeng benua
hingga jauh ke dalam lapisan astenosfer.
2.3 Batuan Penyusun Kerak Bumi
Walaupun kerak bumi merupakan bagian dari bumi yang paling tipis, tetapi
merupakan bagian yang sangat penting. Kerak bumi merupakan bagian yang padat
yang disusun oleh mineral dan batuan. Batuan merupakan agregasi dari mineral.
Batuan yang menyusun kerak bumi dapat dikelompokan menjadi 3jenis
batuan berdasarkan proses pembentukannya, yaitu batuan beku, batuan sedimen
(batuan endapan) dan batuan metamorf (batuan ubahan). Ketiga macarn batuan
tersebut membentuk suatu siklus atau perputaran pada proses pembentukannya
yang disebut siklus batuan (rock cycles).

Gambar 2.2 Proses dan Material Batuan Penyusun Kerak Bumi

Konsep dari siklus; batuan yang dianggap sebagai kerangka dasar dalam
geologi fisik, secara langsung diungkapkan oleh James Hutton. Siklus batuan
seperti terlihat pada gambar 2.2 memperlihatkan proses-proses dan material yang
membentuk batuan-batuan penyusun kerak bumi. Dengan mempelajari siklus
batuan berarti kita mengamati banyak hubungan antara proses-proses geologi yang
sangat bervariasi, yang mengubah satu jenis batuan menjadi jenis batuan lainnya.
2.3.1 Batuan Beku
Batuan beku merupakan batuan keras yang terbentuk dari magma yang keluar
dari perut bumi dan membeku karena mengalami proses pendinginan. Karena itu,
batuan beku juga disebut sebagai bekuan. Magma merupakan material cair yang
panas yang terdapat di dalam bumi. Proses pembekuan magma disebut juga
kristalisasi, karena pada proses inilah terbentuknya kristal-kristaldari mineral
penyusun batuan. Proses ini dapat terbentuk baik di dalam bumi maupun di
permukaan bumi bersamaan dengan aktivitas gunung api.

Macam macam Jenis Batuan Beku Berdasarkan Tempat Keluarnya


Magma
Batuan beku dapat dibedakan berdasarkan tempat magma yang keluar

membeku menjadi tiga jenis yaitu :


1. Batuan beku dalam
Batuan beku dalam yaitu merupakan hasil pembekuan magma di bagian
dalam perut bumi, bahkan di dalam dapur magma. Karena proses pendinginan
yang terjadi berlangsung sangat lambat, maka dihasilkan hablur mineral yang
sempurna (teratur). Contoh batuan beku dalam antara lain sienit, granit, diorit
dan gabro.
2. Batuan beku luar
Batuan beku luar yaitu terbentuk karena adanya proses pembekuan magma
pada permukaan bumi. Biasanya proses pembentukan batuan ini terjadi secara
cepat akibat penurunan suhu yang mendadak. Contoh batuan beku dalam antara
lain obsidian, liparit, trachit, desit, anesit dan basalt.

Gambar 2.3 Contoh Batuan Beku Luar

3. Batuan beku korok


Batuan beku korok yaitu terbentuk karena proses penyusupan magma pada
celah celah litosfer bagian atas dan kemudian membeku. Oleh karenanya,
posisi batuan beku korok biasanya dekat dengan permukaan bumi. Batuan
beku jenis ini juga mengkristal. Beberapa contoh batuan beku korok antara
lain porfir granit, porfir diorit, dan ordinit.

Macam macam Jenis Batuan Beku berdasarkan Teksturnya


Di alam, kita dapat membedakan empat macam batuan beku berdasarkan

teksturnya, yaitu sebagai berikut.


1. Batuan granitoid, yaitu semua batuan yang butir-butir mineralnya cukup
besar untuk dapat dikenal dengan mata biasa (megaskopis).
2. Batuan felsitoid, (aphanit) yaitu batuan yang tersusun terutama atau
seluruhnya atas butir-butir mineral kecil yang hanya dapat dikenal jika
dilihat dengan bantuan lensa kuat (mikroskopis).
3. Batuan gelas, yaitu batuan yang tersusun seluruhnya atau sebagian besar
atas bahan gelas yang berkilap kaca.
4. Batuan pecahan (fragment), yaitu batuan yang tersusun terutama atas
bahan yang dikeluarkan vulkan.

2.3.2

Batuan Sedimen
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari batuan beku atau zat

padat yang mengalami erosi di tempat tertentu kemudian mengendap dan menjadi
keras. Batuan sedimen biasanya berlapis-lapis secara mendatar. Di antara batuan
ini, seringkali ditemukan fosil-fosil.

Macam macam Jenis Batuan Sedimen


Batuan sedimen dapat dibagi berdasarkan proses pembentukannya, yaitu

sedimen klastis, kimiawi, dan organik.


1. Batuan sedimen klastis
Batuna sedimen klastis adalah batuan yang terbentuk karena pelapukan atau
erosi pada pecahan batuan yang terbentuk karena pelapukan atau erosi pada
pecahan batuan atau mineral, sehingga batuan menjadi hancur atau pecah dan
kemudian mengendap di tempat tertentu dan menjadi keras. Sususan kimia dan
warna batuan ini biasanya sama dengan batu asalnya. Contoh batuan sedimen
klastis antara lain batu konglomerat, batu breksi dan batu pasir.
2. Batuan sedimen kimiawi
Batuan sedimen kimiawi adalah batuan yang terbentuk karena pengendapan
melalui proses kimia pada mineral mineral tertentu. Misalnya, pada batu kapur
yang larut oleh air kemudian mengendap dan membentuk stalaktit dan stalagmit
di gua kapur. Contoh batuan sedimen kimiawi lainnya adalah garam, batu
gamping dan dolomit.
3. Batuan sedimen organik
Batuan sedimen organik atau batuan sedimen biogenik adalah batuan
terbentuk karena adanya sisa sisa makhluk hidup yang mengalami
pengendapan di tempat tertentu. Contohnya, batu karang yang terbentuk dari
terumbu karang yang mati dan fosfat yang terbentuk dari kotoran kelelawar dan
batu bara.

Gambar 2.4 Contoh Batuan Sedimen

2.3.3

Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari batuan beku atau

batuan sedimen yang telah berubah wujud. Karena itu, batuan metamorf disebut
juga batuan metamorfosis.

Macam macam Jenis Batuan Metamorf


Batuan malihan dapat dibagi berdasarkan proses pembentukannya, yaitu

sebagai berikut :
1. Batuan metamorf kontak
Batuan metamorf kontak yaitu terbentuk karena adanya pemanasan atau
peningkatan suhu dan perubahan kimia karena intrusi magma. Contohnya, batu
marmer yang berasal dari batu kapur.
2. Batuan metamorf dinamo
Batuan metamorf dinamo yaitu terbentuk karena adanya tekanan yang besar
disertai pemanasan dan tumbukan. Tekanan dapat berasal dari lapisan lapisan
yang berada diatas batu dalam jangka waktu lama. Contohnya batu sabak yang
berasal dari tanah liat. Contoh lainnya batubara yang berasal dari sisa-sisa jasad
hewan dan tumbuhan di daerah rawa-rawa (tanah gambut).
3. Batuan metamorf thermal-pneumatolik
Batuan ini terbentuk karena adanya zat zat tertentu yang memasuki batuan
yang sedang mengalami metamorfosis. Contohnya, batu zamrud, permata, dan
topaz.

Gambar 2.5 Contoh Batuan Metamorf thermal-pneumatolik

2.4 Macam macam Kerak Bumi


Kerak bumi adalah bagian terluar dari bumi yang memiliki ketebalan 8
hingga 80 kilimeter. Kerak bumi menurut jenisnya dibedakan menjadi 2 yaitu kerak
samudera dan kerak benua di dunia.

Gambar 2.6 Penampang Kerak Samudra dan Kerak Benua

1. Kerak Samudra
Kerak samudra memiliki ketebalan sekitar 5 hingga 15 kilometer (Condie,
1982) yang tersusun atas mineral yang kaya akan sima atau Si, Fe dan Mg.
Kerak samudra juga disebut dengan basaltis mengingat batuan penyusun utama
dari kerak bumi adalah basalt. Contoh dari kerak samudra di dunia adalah kerak
samudra Atlantik dan kerak samudra Pasifik. Kerak samudra juga sering pula
disebut dengan lempeng samudra. Lempeng samudra yang tertekan oleh magma
menjadi penyebab naiknya bagian lempeng yang kemudian disebut dengan

pematang tengah samudra. Tekanan pada lempeng yang terjadi secara terus
menerus menyebabkan lempeng samudra begerak mendekati lempeng benua
yang berakhir dengan kedua lempeng saling bertabrakan. Akibat dari tabrakan
kedua lempeng tersebut adalah beberapa bagian yang naik atau terangkat dan
menjadi pegunungan dan mempercepat terjadinya penyebab tanah longsor.
Lapisan kerak samudera
1) Material lapisan kerak samudera paling atas tersusun dari material sedimen
yang tebalnya hingga 800 meter.
2) Lapisan kerak samudera mengalami pembaruan terus menerus oleh adanya
aktivitas vulkanisme di sepanjang celah-celah dasar laut.
3) Unsur dari kerak samudera termasuk muda yaitu 200 juta tahun
dibandingkan umur kerak benua yang berumur 3,8 miliar tahun.
4) Rata-rata berada pada 3.800 meter di bawah laut.

2. Kerak Benua
Kerak benua juga disebut sebagai lapisan granitis mengingat batuan
utama yang menyusunnya adalah granit. Kerak benua memiliki ketebalan
sekitar 30 hingga 80 km dengan temperatur kerak yang akan semakin meningkat
tergantung dengan kedalamannya. Contoh dari kerak benua yaitu kerak benua
Amerika Selatan, kerak benua Amerika Utara, kerak benua Afrika kerak benua
Asia dan eropa. Kerak samudra dengan usia tertua yang bisa ditemukan saat ini
adalah berusia 200 juta tahun. Namun nyatanya dibandingkan kerak samudra,
ada kerak benua tertua yang memiliki usia 3,7 hingga 428 miliar tahun yang
ditemukan di Acasta Gneisskanada serta di temukan pula di Narryer Gneiss
Terrane di arah barat Australia. Terbentuknya kerak benua dihubungkan dengan
masa atau periode orogeny intensif yang terkait erat dengan terbentuknya super
benua seperti Pangaea, Gondwana serta Rodinia.
Lapisan kerak benua
1) Material lapisan kerak benua pada lapisan atas berupa batuan granit ringan.
material lapisan kerak benua pada lapisan bawah berupa batuan basalt
yang lebih rapat.
2) Lapisan kerak benua tersusun pada zaman Prekambiun.

3) Rata-rata berada di 850 meter di atas permukaan laut.


Kerak benua merupakan rekaman utama kondisi Bumi selama 4,4 milyar
tahun terakhir. Pembentukannya mengubah komposisi lapisan mantel dan
atmosfer, ia mendukung kehidupan, dan tetap sebagai pencuci karbon dioksida
melalui cuaca dan erosi. Oleh karena itu, kerak benua memiliki peran utama
dalam evolusi Bumi, dan sekalipun begitu pewaktuan turunannya tetap menjadi
topik perdebatan hangat.
Secara luas diyakini bahwa kerak benua muda telah bertumbuh dari
mantel bagian atas yang menipis. Satu cara umum untuk mengetahui kapan
kerak baru terbentuk ialah dengan menentukan komposisi isotop radiogenik
dari sampel kerak, dan membandingkan ciri-ciri isotopnya dengan mantel yang
telah menipis. Dengan kata lain, isotop radiogenik dapat digunakan untuk
mengkalkulasi 'model umur' pembentukan kerak, yang merepresentasikan
waktu karena sampel kerak terpisah dari sumber mantelnya.
Konsep 'model umur' telah secara luas digunakan dalam studi-studi
evolusi kerak selama tiga dekade terakhir. Namun semakin jelas bahwa
menggunakan komposisi isotop dari mantel yang menipis sebagai sebuah
referensi kalkulasi model umur turunan kerak benua bisa membawa kepada
interpretasi yang tidak lengkap.
2.5 Teori Pertemuan Lempeng
Kerak bumi terpecah menjadi sekitar 12 lempeng yang saling bergerak
mendatar. Dinamakan lempeng karena bagian litosfer itu mempunyai ukuran yang
besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan lebar) tetapi berukuran kecil ada
arah vertikal.
Pergeseran lempeng yang tidak sama mengakibatkan ada tiga jenis batas
pertemuan antar lempeng, yaitu dua lempeng saling menjauh (divergent-junctions),
dua lempeng saling bertubrukan (subduction zobes), dan dua lempeng saling
berpapasan (transform fault). Berikut adalah penjelasan tentang teori pertemuan
lempeng.
1. Dua Lempeng Saling Menjauh (Divergent-Junctions)
Peristiwa ini terjadi apabila arah pergerakan lempeng (baik lempeng
benua maupun lempeng samudra) saling bertolak belakang. Contoh perbatasan

divergent lempeng samudra adalah punggungan samudra dan perbatasan


divergent lempeng benua adalah Lembah Retak Besar Afrika.
Kejadian yang dijumpai di daerah divergent junction yaitu :
a. Aktivitas vulkanisme laut;
b. Aktivitas gempa.;
c. Perenggangan lempeng yang disertai dengan tumbukan di kedua
tepilempeng
d. Pembentukan tanggul dasar samudra (mid ocean ridge).
2. Dua Lempeng Saling Menumbuk (Subduction zone)
Lempeng dasar samudra yang lebih tipis didesak ke bawah oleh
lempeng benua yang lebih tebal dan kaku. Dasar palung merupakan tempat
perusakan lempeng benua akibat pergesekan dua lempeng dan terjadi pula
pengendapan batuan yang berasal dari laut dalam maupun yang diendapkan dari
darat. Endapan campuran itulah yang dinamakan batuan bancuh atau mlange.
Bongkahan lempeng benua yang hancur akibat pergesekan akan menambah
campuran bancuh tersebut. Di sepanjang zone subduction bermunculan puncak
gunung api dan sering terjadi gempa bumi yang kadang-kadang sangat kuat.
Di daerah tumbukan dua lempeng terjadi beberapa fenomena, yaitu :
a. Lempeng dasar samudra menunjam ke bawah lempeng benua
b. Terbentuk palung laut di tempat tumbukan itu,
c. Pembengkakan

tepi

lempeng

benua

yang

merupakan

deretan

pegunungan,
d. Terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi, dan ektrusi,
e. Merupakan daerah hiposentrum gempa baik dangkal maupun dalam yang
dapat menyebabkan terjadinya gempa bumi tektonik dan gelombang
tsunami,
f. Penghancuran lempeng akibat pergesekan lempeng, dan
g. Timbunan sedimen campuran yang dalam geologi dikenal dengan nama
batuan bancuh atau melange.
Contoh fenomena yang diakibatkan oleh tumbukan dua lempeng,
antara lain Palung Jawa (sebelah Selatan Pulau Jawa), Pegunungan di pantai
Barat Amerika, deretan pulau Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara.

3. Dua Lempeng Saling Berpapasan/Pergeseran Mendatar


Di daerah seperti itu terdapat aktivizqtas vulkanisme yang lemah dan
gempa yang tidak kuat. Gejala pergeseran itu tampak pada tanggul dasar
samudra yang tidak berkesinambungan, melainkan terputus-putus.