Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Irritable

Bowel

Syndrome (IBS) adalah salah satu penyakit

gastrointestinal fungsional. Pengertian Irritable Bowel Syndrome (IBS) itu sendiri


adalah adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa gangguan
organik. Gejala yang dapat muncul pada pasien dengan IBS cukup bervariasi.
Disisi lain pemeriksaan fisik dan laboratorium yang spesifik pada pasien IBS tidak
ada, oleh karena itu penegakan diagnosis IBS kadang kala tidak mudah.1
Masalah utama pada IBS adalah penurunan kualitas hidup penderitanya
yang meskipun tidak terkait dengan progresivitas IBS, menjadikannya lebih serius
hingga menyebabkan mortalitas. Gejala klinik IBS berupa nyeri perut atau rasa
tidak nyaman di abdomen dan perubahan pola buang air besar seperti diare atau
konstipasi bergantian serta rasa kembung.2
Oleh karena patofisiologi dan penyebab IBS yang kurang dipahami,
pengobatan

utama

difokuskan

pada

gejala-gejala

yang

muncul

untuk

mempertahankan fungsi sehari-hari dan meningkatkan kualitas hidup pasien


dengan IBS.3
Pada dua dekade terakhir, Irritable bowel syndrome telah mendapatkan
perhatian yang cukup besar di bidang kesehatan akibat semakin tingginya
prevalensi dan gejala yang muncul bervariasi. IBS termasuk dalam kelompok
penyakit gastrointestinal kronik yang disebut sebagai functional bowel disorders
(FBD) yang diklasifikasikan oleh the Rome foundation.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau Sindroma Kolon Iritabel (SKI)
merupakan gangguan sistem gastrointestinal bersifat kronis yang ditandai oleh
nyeri atau sensasi tidak nyaman pada abdomen, kembung dan perubahan
kebiasaan buang air besar. Penyakit ini didasari oleh perubahan psikologis dan
fisiologis yang mempengaruhi regulasi sistem gastrointestinal, persepsi viseral
dan integritas mukosa.2
Irritable bowel disease merupakan gangguan fungsional pada saluran
cerna bagian bawah berupa adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola
defekasi tanpa gangguan organik. Gejala-gejala IBS biasanya tidak spesifik,
gejalanya biasanya seperti gejala yang sering ditunjukkan pada hampir semua
individu.4
2.

EPIDEMIOLOGI
Kejadian dari IBS mencapai 15 % dari penduduk Amerika, hal ini

didasarkan pada gejala yang sesuai dengan kriteria IBS. Kejadian IBS lebih
banyak pada perempuan dan mencapai 3 kali lebih besar dari laki-laki. Prevalensi
IBS bisa mencapai 3,6-21, 8 % dari jumlah penduduk dengan rata-rata 11 %.1

3. ETIOLOGI
Sampai saat ini tidak ada teori yang menyebutkan bahwa IBS disebabkan
oleh salah satu faktor saja. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya IBS

antara lain gangguan motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas sensoris,


abnormalitas dari interaksi aksis brain-gut, hipersensitivitas viseral,dan pasca
infeksi usus.1
Adanya IBS predominan diare atau predominan konstipasi menunjukkan
bahwa pada IBS terjadi sesuatu perubahan motilitas. Pada IBS tipe diare terjadi
peningkatan kontraksi usus dan memendeknya waktu transit kolon dan usus halus.
Sedangkan IBS tipe konstipasi terjadi penurunan kontraksi usus dann
memanjangnya waktu transit kolon dan usus halus.1
IBS yang terjadi paska infeksi dilaporkan hampir pada 1/3 kasus IBS.
Keluhan-keluhan IBS muncul setelah 1 bulan infeksi. Penyebab IBS paska infeksi
antara lain virus, giardia atau amuba. Pasien IBS paska infeksi biasanya
mempunyai gejala perut kembung, nyeri abdomen dan diare.1
Para peneliti telah menyimpulkan bahwa penyebab dari IBS adalah
gabungan dari beberapa faktor yang akan mengakibatkan gangguan fungsional
dari usus. Faktor-faktor yang dapat mengganggu kerja dari usus adalah sebagai
berikut :3
a. Faktor psikologis
Stress dan emosi dapat secara kuat mempengaruhi kerja kolon.
Kolon memiliki banyak saraf yang berhubungan dengan otak. Seperti
jantung dan paru, sebagian kolon dikontrol oleh SSO, yang berespon
terhadap stress. Sebagai comtoh pada saat kita takut detak jantung kita
akan bertambah cepat dan tekanan darah akan naik. Begitu pula dengan
kolon, kolon dapat berkontraksi secara cepat atau sebaliknya. Para peneliti
percaya bahwa sistim limbik ikut terlibat. Pada percobaan dengan
binatang, perangsangan stress akan menyebabkan pelepasan faktor
kortikotropin.

Gambar 1. Multicomponent model of irritable bowel syndrome (IBS).


(Sumber: Anthony J, et all. 1999)
b. Sensitivitasterhadapmakanan
Gejala IBS dapat ditimbulkan oleh beberapa jenis makanan seperti kafein,
coklat, produ-produk susus, makanan berlemak, alkohol, sayur-sayuran
yang dapat memproduksi gas ( kol dan brokoli) dan minuman bersoda.
a. Genetik
Beberapa penelitian menyatakan ada kemungkinan IBS diturunkan dalam
keluarga.
c. Hormon
Peneliti menemukan bahwa gejala IBS sering muncul pada wanita yang
sedang menstruasi, mengemukakan bahwa hormon reproduksi dapat
meningkatkan gejala dari IBS.
d. Banyak pasien yang menderita IBS melaporkan bertambah beratnya gejala
setelah menggunakan obat-obatan konvensional seperti antibiotik, steroid
dan obat anti inflamasi.

4. PATOFISIOLOGI

Perubahan motilitas usus, hipersensitifitas visceral, factor psikologik,


ketidak seimbangan neurotransmitter, serta infeksi telah diusulkan sebagai factor
dalam perkembangan Irritable Bowel Syndrome.6

Gambar 2. Faktor-faktor patofisiologi dan perkembangan Irritable Bowel


Syndrome (sumber : Horwitz, et all. 2001)
a. Perubahanmotilitasusus
Dalam 50 tahun terakhir, perubahan pada kontraktilitas kolon dan usus
halus telah diketahui pada pasien IBS. Stress psikologis atau fisik dan
makanan dapat merubah kontraktilitas kolon. Motilitas abnormal dari usus
halus selama puasa, seperti kehilangan dari komplek motor penggerak dan
adanya kontraksi yang mengelompok dan memanjang, kontraksi yang
diperbanyak, ditemukan pada pasien IBS. Juga dilaporkan adanya respon
kontraksi yang berlebihan pada makanan tinggi lemak. Nyeri lebih sering
dihubungkan dengan aktivitas motor yang ireguler dari usus halus.6
b. Hipersensitivitas visceral
Penelitian dengan distensi balon pada rektosigmoid dan ileum menunjukkan
bahwa pasien dengan IBS mengalami nyeri dan kembung saat volume balon
dan tekanan lebih rendah dari yang menimbulkan nyeri pada kontrol.
Fenomena yang disebut sebagai hipersensitivitas visceral. Salah satu
penjelasan yang mungkin adalah sensitivitas dari reseptor pada viscus dirubah
melalui perekrutan silence nociseptor pada respon terhadap iskemia, distensi,
kandungan intraluminal, infeksi, atau factor psikiatri. Mungkin ada
peningkatan perangsangan dari neuron di bagian kornu dorsalis medulla

spinalis, daerah yang kaya dengan neurotrasmiter seperti katekolamin dan


serotonin.

Gambar 3. Patofisiologi Hipersensitivitas Viseral (sumber: Mariadi, I


Ketut dkk. 2007)
Secara sentral mungkin ada perbedaan pada cara otak memodulasi signal
aferen dari neuron kornu dorsalis melalui jalur ascending. Dari sebuah
penelitian didapatkan adanya kelainan sentral primer dari proses nyeri
visceral. Beberapa penulis menyatakan bahwa kewaspadaan yang berlebihan
lebih bertanggung jawab dari pada hipersensitivitas visceral murni untuk
ambang nyeri yang rendah pada pasien IBS.7
c. Faktor psikososial
Stress psikologis dapat merubah fungsi motor pada usus halus dan kolon,
baik pada orang normal maupun pasien IBS. Sampai 60% pasien pada pusat
rujukan memiliki gejala psikiatri seperti somatisasi, depresi, dan cemas. Dan
pasien dengan diagnosis IBS lebih sering memiliki gejala ini. Ada atau
tidaknya riwayat abuse pada masa anak-anak (seksual, fisik, atau keduanya)
dihubungkan dengan beratnya gejala pada pasien dengan IBS. Ini telah
diusulkan bahwa pengalaman awal pada hidup dapat mempengaruhi sistem

saraf pusat dan memberikan predisposisi untuk keadaan kewaspadaan yang


berlebihan.7
d. Faktorgenetik
Data menunjukkan mungkin ada komponen genetik pada IBS meliputi:
pengelompokan IBS pada keluarga, frekuensi 2 kali meningkat pada kembar
monozigot jika dibandingkan dengan dizigot. Adanya polimorpisme gen yang
mengendalikan down regulation dari inflamasi (seperti IL-10 dsn TGF _1) dan
SERT. Ini tampaknya bahwa faktor genetik sendiri tidak merupakan penyebab,
tapi berinteraksi paling mungkin dengan faktor lingkungan untuk melengkapi
penampakan fenotip dari penyakit. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk
memperjelas keterlibatan faktor genetik pada IBS.8
Sampai saat ini belum ada model konsep tunggal yang dapat menjelaskan
semua kasus dari IBS.6
5. KLASIFIKASI
Menurut kriteria Roma III dan karakteristik feses, subklasifikasi IBS dibagi
menjadi: 5

IBS predominandiare (IBS-D) :


- Feses lunak >25 % dan feses keras<25% dalam satu waktu
- Diare pada pagi hari, sering dengan urgensi, biasanya disertai rasa sakit

dan hilang setelah defikasi


IBS predominankonstipasi (IBS-C):
- Feses keras >25% dan feses lunak<25% dalam satu waktu, sering pada
wanita
- Defekasi tidak lampias dan biasanya feses disertai lender tanpa darah
IBS campuran (IBS-M) :
- Pola defekasi berubah-ubah: diare dan konstipasi
- Sering feses keras di pagi hari dengan beberapa kali defekasi dan feses
menjadi cair pada sore hari.
Catatan: 25% waktu adalah 3 minggu dalam 3 bulan.
Selain kriteria Roma III, secara praktis sering juga digunakan kriteria
Manning yang lebih sederhana dan menitik beratkan pada keadaan pada onset

nyeri antara lain adanya buang air besar yang cair dan peningkatan frekuensi
buang air besar saat timbulnya nyeri. Untuk kriteria Manning, gejala yang
sering didapat pada penderita IBS yaitu :1
-

Feses cair pada saat nyeri


Frekuensi buang air besar bertambah pada saat nyeri
Nyeri berkurang setelah buang air besar
Tampak abdomen distensi

Dua gejala tambahan yang sering muncul pada pasien IBS :


-

Lender saat buang air besar


Perasaan tidak lampias saat buang air besar

Pada beberapa keadaan IBS dibagia dalam beberapa subgrup sesuai


dengan keluhan dominan yang ada pada seseorang pada subgrup IBS yang
sering digunakan membagi IBS dalam 4, yaitu :1
a. IBS Predominan Nyeri
- Nyeri di fosailiaka, tidak dapat dengan tegas menunjukkan lokasi
b.
c.
-

sakitnya
Nyeri lebih dari 6 bulan
Nyeri hilang setelah defekasi
Nyeri meningkat jika stress dan menstruasi
IBS Predominan Diare
Diare pada pagi hari sering dengan urgensi
Biasanya disertai rasa sakit dan hilang setelah defekasi
IBS Predominan Konstipasi
Terutama wanita
Defekasi tidak lampias
Biasanya feses disertai lender tanpa darah

d. IBS alternating pattern


- Pola defekasi berubah-ubah: diare dan konstipasi
- Sering feses keras di pagi hari dengan beberapa kali defekasi dan
feses menjadi cair pada sore hari

6. GEJALA KLINIS
Gejala klinik dari IBS biasanya bervariasi diantaranya nyeri perut,
kembung, dan rasa tidak nyaman di perut. Gejala lain yang menyertai biasanya

perubahan kebiasaan defekasi dapat berupa diare, konstipasi atau diarea yang
diikuti dengan konstipasi. Diare terjadi dengan karakteristik feses yang lunak
dengan volume yang bervariasi. Konstipasi dapat terjadi beberapa hari sampai
bulan dengan diselingi diare atau defekasi yang normal. Selain itu pasien juga
sering mengeluh perutnya terasa kembung dengan produksi gas yang berlebihan
dan melar, feses disertai mucus, keinginan defekasi yang tidak bisa ditahan dan
perasaan defekasi tidak sempurna. Gejalanya hilang setelah beberapa bulan dan
kemudian kambuh kembali pada beberapa orang.7
7. DIAGNOSIS
Diagnosis dari IBS berdasarkan atas kriteria gejala, mempertimbangkan
demografi pasien (umur, jenis kelamian, dan ras) dan menyingkirkan penyakit
organik. Melalui anamnesis riwayat secara spesifik menyingkirkan gejala alarm
(red flag) seperti penurunan berat badan, perdarahan per rektal, gejala nokturnal,
riwayat keluarga dengan kanker, pemakaian antibiotik dan onset gejala setelah
umur 50 tahun.7
Tidak ada tes diagnosis yang khusus, diagnosis ditegakkan secara klinis.
Pendekatan klinis ini kemudian dipakai guideline dengan berdasarkan kriteria
diagnosis untuk IBS diantaranya kriteria Rome III dan kriteria Manning. Menurut
kriteria Rome III, nyeri perut atau rasa tidak nyaman setidaknya 3 hari per bulan
dalam 3 bulan terakhir dihubungkan dengan 2 atau 3 simptom berikut: 7
-

Membaik dengan defekasi;


Onset dihubungkan dengan perubahan pada frekuensi buang air besar
Onset dihubungkan dengan perubahan pada bentuk feses

Tabel 1.Kriteria Rome II

Sedikitnya 12 minggu atau lebih (tidak harus berurutan) selama 12 bulan


terakhir dengan rasa nyeri atau tidak nyaman di abdomen, disertai dengan
adanya 2 dari 3 hal berikut :

Nyeri hilang dengan defekasi

Awal kejadian dihubungkan dengan perubahan frekuensi defekasi

Awal kejadian dihubungkan dengan adanya perubahan feses

Gejala lain :
o

Ketidaknormalan frekuensi defekasi

Kelainan bentuk feses

Ketidaknormalan proses defekasi (harus dengan mengejan ,


inkontinensia defekasi, atau rasa defekasi tidak tuntas)

Adanya mukus/lendir

Kembung

Kriteria terpenuhi selama 3 bulan terakhir dengan onset gejala setidaknya


6 bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Yang dimaksud dengan rasa tidak nyaman
pada abdomen adalah rasa tidak nyaman yang tidak dideskripsikan sebagai
nyeri. 7
Tabel 2. Kriteria Manning
Gejala yang sering didapat :

Feces cair pada saat nyeri

Frekuensi BAB bertambah pada saat nyeri

Nyeri kurang setelah BAB

10

Tampak abdomen distensi

Gejala tambahan yang sering muncul :

Lendir saat BAB

Perasaan tidak lampias pada saat BAB


Pemeriksaan penunjang untuk IBS meliputi pemeriksaan darah lengkap,

LED, biokimia darah dan pemeriksaan mikrobiologi dengan pemeriksan telur,


kista dan parasit pada kotoran.Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis diferensial, yaitu : 7
-

Pemeriksaan darah samar feses, darah perifer lengkap


Sigmoidoskopi
Kolonoskopi bila usia > 50 tahun

8. DIAGNOSIS BANDING
Beberapa penyakit harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dari IBS
karena penyakit-penyakit ini juga mempunyai gejala yang lebih kurang sama
dengan IBS. Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan untuk mencari
penyebab nyeri perut dapat dilihat pada tabel berikut.1
Tabel 3. Daftar pertanyaan untuk diagnosis IBS1

Pada IBS diare sering didiagnosis diferensial dengan defisiensi laktase.


Kelainan lain yang juga harus dipikirkan adalah :1

11

Inflammatory Bowel Disease


Kankerkolorektal;
Divertikulitis;
Obstruksimekanikpadausushalusataukolon;
Infeksiusus;
Iskemiausus;
Maldigestidanmalabsorbsi;
Endometriosis padapasien yang mengalaminyerisaatmenstruasi

Tabel 4. Perbedaan IBS dan IBD7


Patologi

Gejala

Pemeriksaan

Prognosis

IBS
IBS
merupakan
gangguan
fungsional
tanpa disertai adanya
inflamasi atau ulseratif
pada saluran cerna
Pasien dengan IBS dapat
disertai
lendir
pada
fesesnya tapi tidak ada
darah
Pasien IBS lebih banyak
menderita konstipasi atau
konstipasi yang diselingi
dengan diare
Tes feses, X-ray dan
endoskopi
tidak
menunjukan kelainan
IBS tidak berbahaya dan
tidak
menimbulkan
komplikasi kanker

IBS
IBD adalah suatu kondisi
yang
digambarkan
sebagai suatu inflamasi
dal ulserasi pada saluran
cerna
Pasien
dengan
IBD
biasanya menderita diare
yang disertai darah
Pasien biasanya lebih
banyak menderita diare
dibandingkan
dengan
konstipasi
Tampak kelainan pada Xray dan endoskopi
IBD adalah penyakit
serius
dengan
efek
samping yang besar dan
dapat
berkembang
menjadi kanker

9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan IBS meliputi modifikasi diet, intervensi psikologi, dan terapi
farmakologi. Ketiga bentuk pengobatan ini harus berjalan bersamaan. Dalam

12

memberikan obat-obatan mempunyai efek samping dan yang juga akan


memperburuk kondisi psikis pasien.1
a. Diet
Modifikasi diet terutama meningkatkan konsumsi serat pada IBS
predominan konstipasi. Sebaliknya pada pasien IBS dengan predominan diare
konsumsi serat dikurangi. Pada IBS tipe konstipasi peningkatan konsumsi
serat juga disertai konsumsi air yang meningkat disertai aktivitas olah raga
rutin. Selanjutnya menghindari makanan dan minuman yang dicurigai sebagai
pencetus, jika menghilang setelah menghindari makanan tersebut coba lagi
setelah 3 bulan secara bertahap.1
b. Psikoterapi
Terapi psikologis bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan gejala
psikologis lainnya serta gejala gastrointestinal. Intervensi psikologis ini
meliputi edukasi (penerangan tentang perjalanan penyakitnya), relaksasi,
hypnotherapy, terapi

psikodinamik

atau

interpersonal

dan

cognitive

behavioural therapy serta obat-obat psikofarmaka. 1


c. Farmakoterapi
Obat-obatan yang diberikan untuk IBS terutama untuk menghilangkan
gejala yang timbul antara lain untuk mengatasi nyeri abdomen, mengatasi
konstipasi, mengatasi diare dan antiansietas. Obat-obatan ini biasanya
diberikan secara kombinasi.1
Untuk mengatasi nyeri abdomen sering digunakan antispasmodik yang
memiliki efek kolinergik dan lebih bermanfaat pada nyeri perut setelah makan.
Obat-obat yang sudah beredar di Indonesia antara lain mebeverine 3x135 mg,
hyocine butylbromide 3x10 mg, chlordiazepoksid 5 mg, klidinium 2,5 mg 3x1
tablet dan alverine 3x30 mg.1
Untuk IBS konstipasi, tegaserod suatu 5-HT4 reseptor antagonis
bekerja meningkatkan akselerasi usus halus dan meningkatkan sekresi cairan

13

usus. Tegaserod biasanya diberikan dengan dosis 2 x 6 mg selama 10-12


minggu.
Untuk IBS tipe diare beberpa obat juga dapat diberikan antara lain
loperamid dengan dosis 2-16 mg per hari.1
Tabel 5. Obat-obatan untuk gejala yang dominan dari IBS.9

10. PENCEGAHAN
-

Hindari stress.

Konsumsi makanan yang mengandung seratdanhindarimakananpedas

Kurangi intake lemak.

Kurangi konsumsi alkohol, kafein, dan pemanis buatan.

Menjaga kebersihan makanan.7

11. PROGNOSIS

14

Penyakit IBS tidak akan meningkatkan mortalitas, gejala-gejala pasien IBS


biasanya akan membaik dan hilang setelah 12 bulan pada 50% kasus dan hanya
<5% yang akan memburuk dan sisanya dengan gejala yang menetap.1

DAFTAR PUSTAKA
.
1. Manan C, Syam AF. Irritable bowel syndrome (IBS). Dalam: Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiadi S, editor. Buku Ajar
IlmuPenyakitDalam. Edisi IV. Jakarta: FK UI. 2010. \h.583-0
2. Jacobus D. Irritable Bowel Syndrome (IBS) -

Diagnosis

danpenatalaksanaan. CerminDuniaKedokteranvol 41 no 10, 2014. h.72732.


3. Grundmann, oliver&Saunjoo L Yoon. Irritable bowel syndrome:
Epidemiology, diagnosis and treatment: An update for health-care
practitioners. Journal of Gastroenterology and Hepatology, 2009.
4. Quigley Eamonnet all. Irritable bowel syndrome: global perspective.2009
5. Mujaddid E. Sindromkoloniritabel. Dalam: Rani AA, Simadibrata M,
Syam AF. Buku Ajar Gastroenterologi. Jakarta: InternaPublishing. 2011.
h.208-16
6. Horwitz, et all. Massachusetts Medical Society. Irritable Bowel
Sindrome. The New England Journal of Medicine 344 (24), 2001. h.184650.
7. Mariadi, I Ketutdkk. PerkembanganTerkiniDalam Diagnosis Dan
PenatalaksanaanIrritable Bowel Syndrome. J PenyDalamvol 8 no 3,
2007.h.241-52.

15

8. Barbara G,et all. New pathophysiological mechanisms in irritable bowel


syndrome. Aliment Pharmacol Ther.2004
9. Longstreth GF, et all. Functional bowel disorders. Gastroenterology. 2006

16