Anda di halaman 1dari 6

STOMATITIS APHTOSA

Stomatitis aphtosa merupakan slah satu bentuk peradangan yang terjadi di


mukosa mulut akibat faktor-faktor lokal atau sistemik, yang sapat mengenai
mukosa pipi dan bibir, palatum, lidah, dasar mulut, dan gusi. Penyakit ini ditandai
dengan lesi-lesi ulseratif keputihan kecil yang dikelilingi oleh pinggiran merah.
Berdasarkan kekambuhannya, stomatitis aphtosa ini terbagi dalam 2 bentuk yaitu :
1. Stomatitis simplek
2. Stomatitis recurrent (sembuh dalam 3 minggu, kemudian kambuh lagi).
Stomatitis ini dibagi menjadi dua berdasarkan ukuran lesi yaitu : ulserasi
minor bila diameter kurang dari 1 cm dengan penyembuhan tanpa skar dan
ulserasi mayor bila diameter lebih dari 1 cm, penyembuhan lama dan
meninggalkan skar.
Sedangkan berdasarkan bentuk lesinya, stomatitis ini dibagi menjadi :
1. Stomatitis aphtosa soliter
2. Stomatitis aphtosa multiple
Etiologi
Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi studi-studi dewasa ini
mencurigai adanya proses imunopatik yang melibatkan aktivitas sitolitik
diperantarai sel sebagai respon terhadap HLA atau antigen asing. Bentuk L dari
Streptokokus hemolitikus dicurigai menjadi penyebab dalm pembentukan ulserasi
aphtosa. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa timbulnya stomatitis
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1. Alergi (paling banyak)


-

Umumnya penyakit ini sering timbul setelah makan makanan tertentu,


seperti nenas, cabe, dan lain-lain.

Reaksi terhadap obat-obatan antihistamin dan kortikosteroid

Tanpa pengobatan umumnya sembuh sendiri

Setelah sembuh, dapat kambuh lagi (residif)

2. Gangguan endokrin / hormonal


Pada wanita sering terdapat pada waktu haid, menopouse, sebab pada wanita
tersebut hormon estrogen menurun sehingga menyebabkan epitel-epitel akan
menjadi tipis terutama didaerah selaput lendir
3. Faktor psikologi
4. Vegetatif imbalance
5. Hipovitaminosis C
6. Virus (Hepes simplex)
7. Trauma : Selaput lendir sering tergigit
8. Makan-makan yang pedas
Epidemiologi
Penyakit ini dapat dijumpai pada setiap orang, tetapi wanita dan orang
dewasa muda sedikit lebih rentan dibandingkan yang lain. Pola keturunan juga
dapat mempengaruhi timbulnya penyakit ini dan orang-orang yang merokok lebih
jarang terkena daripada bukan perokok. Tempat yang paling sering atau
mempunyai kecenderungan untuk terjadi yaitu pada mukosa bergerak yang
terletak pada jaringan kelenjar saliva minor. Seringkali terjadi pada bagian dalam

dari bibir dan pipi (31,40 %), lidah (23,45 %), paling jarang pada dijumpai pada
mukosa berkeratin banyak seperti gusi dan palatum keras.
Patogenesis
Mulai dari timbulnya gelembung kecil dengan permukan tipis pada rongga
mulut karena mukosa mulut tidak bertanduk (vesikel). Kemudian karena pengaruh
beberapa faktor menyebabkan vesikel tersebut pecah dan terjadilah erosi berupa
terbentuknya bercak putih karena banyak mengandung fibrin, dengan bentuk
sedikit cekung dan di sekitarnya terdapat zona hiperemis.
Gejala Klinis
Dari inspeksi akan tampak bercak putih dan sedikit cekung dengan daerah
sekitarnya hiperemis dan terdapat rasa nyeri. Nyeri yang dirasakan ini tidak sesuai
dengan ukuran lesi, kadang-kadang lesi yang kecil dapat menimbulkan rasa nyeri
yang cukup hebat. Rsa terbakar juga bisa menjadi keluhan awal diikuti denagn
sakit hebat dalam beberapa hari. Seringkali kelenjar submandibula, servikal
anterior dan parotis terasa nyeri terutama jika sudah terjadi infeksi sekunder.
Umumnya tidak terdapat demam, kadang-kadang bisa terjadi demam yang tidak
begitu tinggi dan hilang timbul. Stomatitis ini dapat sembuh sendiri dalam waktu
3-4 minggu tanpa dilakukan pengobatan.
Diagnosis Banding
Untuk Stomatitis aphtosa dengan lesi soliter dapat di diagnosis banding
dengan :

1. Ulcus decubitus
2. Chemical burn : karena koagulasi lapisan atas selaput menyebabkan timbulnya
bercak putih
3. Leukoplakia : merupakan tumor jinak dan bisa juga sebagai permulan
timbulnya karsinoma. Dimana secara patologi anatomi ditemukan adanya
hiperkeratosis lapisan atas epitel, epitel tidak ada lagi atau tidak tampak lagi.
4. Prekarsinoma
Untuk stomatitis aphtosa dengan lesi multipel dapat di diagnosa banding
dengan :
1. Dengan demam
-

Stomatitis nekrotikan : tak ada kelainan pada gusi, biasanya disebabkan


oleh virus dan selalu ada inclusion bodies.

Ulkus dari gingivostomatitis plaut vincent : selalu ada kelainan pada gusi

2. Tanpa demam
-

Fordys spot : bersifat kongenital, berupa bercak putih kekuningan yaitu


glandula sebasea yang ektopik, lokalisasi biasanya pada mukosa pipi
daerah molar.

Moniliasis : berupa bercak-bercak putih yang makin lama makin


membesar.

Pengobatan
Stomatitis aphtosa ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 3-4 minggu
tanpa pengobatan. Untuk pengobatannya, harus dicari penyebabknya terlebih
dahulu supaya dapat diberikan obat yang tepat dan adekuat sehingga dapat
dicegah kekambuhannya. Untuk pengobatan lokal dapat diberikan antiseptik

seperti obat kumur atau albothyl topikal liquid. Antibiotik juga dapat diberikan
bila sudah ada tanda-tanda terjadinya infeksi sekunder, untuk mengurangi rasa
nyeri dan untuk mengurangi jumlah ulserasi. Bila stomatitis ini sudah mengalami
rekuren atau pada kasus-kasus yang brat maka dapat diberikan obat kortikosteroid
seperti triamsinolon atau fluosinolon topikal sebanyak 3 atau 4 kali sehari setelah
makan dan menjelang tidur. Bila tidak responsif terhadap kortikosteroid atau
antibiotik, dapat diberikan dapson dan bila gagal juga makan diberikan
talidomoid.

DAFTAR PUSTAKA

.1

Langlais, R. P, Miller, C. S. Lesi-Lesi Ulseratif. Dalam Atlas Berwarna


Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim, Alih bahasa Drg. Budi Susetyo, Editor :
Drg. Lilian Juwono. Jakarta, Hipokrates. 1994 ; 94-97.

.2 Daliemunthe,

S.H.

Gingivostomatitis.

Dalam:

Pengantar

Periodonsia,

Perawatan Periodontal, Periodonsia Klinis. Edisai pertama, cetakan pertama.


Medan, Penerbit Universitas Sumatera Utara, 1996.
.3 Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W.I, Setiowulan W. Ilmu
Penyakit Gigi dan Mulut. Dalam Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga, jilid
satu. Jakarta, Media Aesculapius, 1999 ; 164-165.
.4 Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 26. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 1996.