Anda di halaman 1dari 3

ABSES PERIAPIKAL

Abses periapikal merupakan infeksi yang berasal dari perluasan


peradangan gigi di atasnya. Peradangan ini dapat disebabkan oleh bakteri yang
merupakan flora normal dalam mulut, yaitu bakteri dalam plak, sulkus ginggiva,
dan mukosa mulut. Yang ditemukan terutama bakteri kokus aerob Gram positif,
kokus anaerob Gram positif dan batang anaerob Gram negatif 1,2.
Peradangan

pada

pulpa yang

merupakan

lanjutan

dari

karies

menyebabkan pulpa menjadi nekrotik, sehingga sisa-sisa reaksi peradangan dan


cairannya akan terkumpul dalam rongga pulpa dan saluran akar. Karena jumlah
bakteri yang banyak, maka infeksi akan menyebar ke tulang spongiosa sampai ke
tulang kortikal. Penyebaran infeksi tergantung daya tahan tubuh dan jaringan.
Infeksi dapat menyebar melalui hematogen, limfogen maupun perkontinuitatum.
Yang paling sering terjadi adalah secara per kontinuitatum karena adanya
celah/ruang antara jaringan yang berpotensi sebagai tempat berkumpulnya pus 1,2.
Abses periapikal akan terjadi bila hasil peradangan tersebut lewat ke
foramen apikal gigi. Pada daerah ini akan terkumpul pus dan cairan lainnya,
mengelilingi bagian apeks gigi. Seiring dengan meningkatnya tekanan, maka
terbentuk saluran menuju tulang alveolar dan jaringan lunak, yang disebut sinus.
Ketika pus mencapai jaringan lunak, timbul manifestasi berupa bengkak. Bila
bengkak bertambah besar disebut selulitis 1,2,3.
Keluhan yang dirasakan oleh pasien dengan abses periapikal berupa 1 :

Nyeri terus menerus pada tempat yang terkena.

Nyeri bertambah saat mengunyah, ataupun pada saat berbaring.

Rasa tidak enak pada mulut.

Gigi yang sakit terasa lebih panjang dari gigi lainnya.

Malaise.

Pembesaran kelenjar limfe.


Sedangkan pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan 1:

Suhu tubuh meningkat.

Nyeri luar biasa pada tempat yang terkena saat disentuh.

Bengkak pada wajah.

Gigi goyah.

Pembesaran kelenjar limfe.


Abses periapikal tidak jarang sulit dibedakan dengan abses periodontal

yang meluas ke bagian apikal. Pada beberapa kasus yang berat, abses periodontal
dapat meluas ke apeks, mengakibatkan perubahan patologis pada apeks dan pulpa.
Dan secara teoretis abses periapikal mungkin menyebar ke bagian lateral akar
gigi. Namun, bila ditemukan keterlibatan bagian apikal dan lateral akar gigi dalam
bentuk lesi tunggal, biasanya lesi tersebut berasal dari abses periodontal 4.
Terbentuknya sinus pada bagian lateral akar cenderung ke arah
keterlibatan periodontal daripada periapikal. Bila sinus terbentuk pada abses
periapikal, biasanya muncul pada mukosa ginggiva bagian apikal. Namun tak
jarang muncul muara sinus di mukosa, sedangkan asal abses dari bagian lateral.
Hal ini sering ditemukan pada anak-anak. Dalam hal ini, sinus bukanlah tanda
patognomonik untuk membedakan suatu abses pariapikal dan periodontal 4.

Pemeriksaan radiologi diperlukan sebagai alat bantu diagnosis.


Bagaimanapun,

penemuan

klinis

lain

seperti

adanya

perluasan

karies,

pembentukan poket, vitalitas gigi, dan adanya hubungan antara batas ginggiva dan
daerah abses, dapat membantu menegakkan diagnosis dengan baik 4 .
Perawatan
Perawatan abses periapikal merupakan perawatan emergensi. Pemberian
antibiotik dan analgetik dilakukan bila perawatan gigi dan mulut tidak tersedia
dengan segera. Namun antibiotik saja tidak adekuat untuk menyembuhkan abses
periapikal, dan tidak dianjurkan 1,2,.
Untuk melihat keadaan abses, perlu dilakukan pemeriksaan radiologi
pada gigi yang terkena. Pada gambaran radiologi akan terlihat daerah radiolusen
di sekitar apeks gigi 1,2.
Perawatan abses yang utama adalah dengan melakukan insisi dan
drainase abses. Bila absesnya lunak, dapat dilakukan insisi dan drainase tanpa
anestesi lokal 1.