Anda di halaman 1dari 36

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DETEKSI DINI KESEHATAN JIWA


Disusun oleh :
Kelompok 2
Septiani Lugina

220112160057

Wahyuni Susilawati

220112160058

Lia Dahlia

220112160071

Dadang Yoga Permana

220112160083

Zakiah Puteri R

220112160090

Yustin Usyani Tantry

220112160093

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan

: Kesehatan Jiwa

Sub Pokok Bahasan

: Deteksi Dini Kesehatan Jiwa

Sasaran

: Warga RW 03 dan 04

Tempat

: Rumah ketua RW 04

Waktu

: 13.00 14.00

Tanggal

: 8 Oktober 2016

Pemberi Materi

: Kelompok 2 Stase Jiwa Gelombang 3 PPN 32 Fkep

UNPAD

I.

Tujuan Intruksional Umum (TIU)


Setelah mengikuti penyuluhan sasaran dapat mengetahui deteksi dini
kesehatan jiwa.

II.

Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran dapat :

III.

IV.

1.

Mengetahui pengertian deteksi dini

2.

Mengetahui macam-macam kesehatan jiwa

3.

Mengetahui sehat jiwa (mental yang sehat)

4.

Mengetahui resiko gangguan jiwa (psikososial)

5.

Mengetahui gangguan jiwa (gangguan mental)

Materi
1.

Pengertian deteksi dini kesehatan jiwa

2.

Sehat jiwa (mental yang sehat)

3.

Resiko gangguan jiwa (psikosoial)

4.

Gangguan jiwa (gangguan mental)

Metode
Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan tanya jawab.

V.

Media Penyuluhan
Leaflet dan poster.

VI.
No
.
1

Kegiatan
Uraian Kegiatan
Penyuluh

Kegiatan

Pembukaa a. Mengucapkan salam.


n
5 Menit

b. Menyampaikan
kontrak

waktu,

a. Menjawab

perkenalan,
tujuan

pokok bahasan penyuluhan.

Page 2

Peserta

salam.

dan b. Mendengarkan

Penyuluha a. Memberikan
n
20 Menit

penjelasan a. Peserta

mengenai materi penyuluhan

menyimak

dimulai dari pengertian deteksi

penjelasan

dini khususnya untuk masalah

mendengarkan

dan

kesehatan jiwa dan macammacam kesehatan jiwa seperti;


sehat jiwa (mental yang sehat),
resiko

gangguan

(contohnya

jiwa
masalah

psikososial), dan gangguan jiwa


(gangguan mental),

b.

Peserta

b. Memberikan kesempatan pada menyimak


peserta untuk bertanya tentang

dan bertanya

hal yang belum dipahaminya


c. Menjawab pertanyaan peserta.

c.

d. Menganjurkan/memotivasi

menyimak

peserta

untuk

Peserta

menjelaskan d.Peserta

kembali tentang materi yang menyimak


telah dijelaskan.
3.

Penutup

menjelaskan

a. Melakukan evaluasi

a. Menjawab

5 Menit

pertanyaan
b. Menyimpulkan

materi b. Menyimak

penyuluhan

kesimpulan.
c. Menjawab

c. Mengucapkan salam

VI.

salam.

Evaluasi
Untuk mengetahui sejauhmana pemahaman sasaran setelah diberikan
penyuluhan selama 30 menit diberikan pertanyaan :

Page 3

dan

VII.

1.

Apa pengertian deteksi dini?

2.

Ada berapa macam hasil dari deteksi dini ?

3.

Apa yang dimaksud dengan gangguan jiwa (gangguan mental)?

Lampiran
1.
2.
3.
4.

Materi
Evaluasi kegiatan
Daftar hadir peserta
Dokumentasi

Lampiran 1. Materi

Deteksi Dini Kesehatan Jiwa

A. Pengertian Deteksi Dini

Page 4

Secara fitrah setiap manusia atau individu memiliki mental yang sehat,
akan tetapi karena suatu sebab ada beberapa individu yang mengalami atau
memiliki mental yang tidak sehat. Biasanya mental yang tidak sehat, diakibatkan
dari goncangan-goncangan atau konflik batin yang ada dalam diri (jiwa), dan
pengalaman hidup yang tidak menyenangkan.Untuk menghindari terjadinya sakit
mental tersebut, maka perlu upaya sedini mungkin untuk mengenal kondisi
mental.
Deteksi dini adalah upaya awal untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa
pada diri sendiri, keluarga ataupun tetangga di lingkungan tempat tinggal. Deteksi
yang biasa dilakukan ialah mengenali gejala-gejala abnormalitas (ketidakwajaran)
pada mental atau pada jiwa. Pendekatan diagnosis ini dilakukan untuk mencegah
terjadinya kekalutan mental yang lebih parah yang dapat merusak kepribadian.
Tujuan deteksi dini ialah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman
serta perhatian terhadap kondisi psikologis, yakni kondisi mental dan jiwa
spiritual yang ada dalam diri individu untuk menghindari dan menanggulangi
akan terjadinya gangguan-gangguan jiwa (mental). Deteksi dini juga sebagai
bentuk preventive (pencegahan) sejak awal terhadap indikasi-indikasi akan
terjadinya gangguan mental dan kejiwaan. Hasil dari deteksi dini ini adalah sehat
jiwa, risiko masalah psikososial dan gangguan jiwa.

B. Sehat Jiwa (Mental yang Sehat)


Menurut Zakiyah Darajat, (1975) bahwa kesehatan mental adalah
terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta
mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi,
dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemempuan dirinya. Kesehatan

Page 5

mental juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan


perkembangan fisi, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan
perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain. Fungsi-fungsi jiwa
seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat
saling membnatu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan
adanya keharmonisan yang menjauhakan orang dari perasaan ragu dan bimbang
serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin/konflik (Yusak, 1999).
Kondisi mental yang sehat akan melahirkan pribadi-pribadi yang normal
ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:
No.
1.

2.

Aspek Pribadi
Fisik

Psikis

Karakteristik
a) Perkembangannya normal
b) Berfungsi untuk melakukan tugastugasnya
c) Sehat tidak sakit-sakitan
a) Respek terhadap diri sendiri dan
orang lain
b) Memiliki insight-insght

dan

rasa

humor
c) Memiliki respon emosional yang
wajar
d) Mampu berpikir realistis dan objektif
e) Terhindar dari gangguan-gangguan
psikologis
f) Bersifat kreatif dan inovatif
g) Bersifat terbuka dan fleksibel, tidak

3.

Sosial

defensif
h) Memiliki perasaan bebas
a) Memiliki perasaan empati dan rasa
kasih sayang
b) Affection terhadap orang lain, serta
senang

Page 6

untuk

memberikan

pertolongan kepada orang-orang yang


membutuhkan.
c) Mampu berhubungan dengan orang
lain secara sehat penuh cinta kasih
dan persahabatan.
d) Bersifat toleran dan mau menerima
tanpa memandang kelas sosial, tingkat
pendidikan, politik, agama, suku, ras,
4.

Moral-Religius

atau warna kulit.


a) Beriman kepada Tuhan, dan taat
menjalakan ajaran-ajaran Nya dan
menjauhi segala larangannya.
b) Jujur, amanah (bertanggung jawab,
dan

ikhlas

dalam

beramal,

dan

berakhlakkul karimah).
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan atau diterapkan oleh individu
untuk mencegah ataupun mengurangi timbulnya gangguan mental yaitu:
1. Berusaha memahami diri sendiri yaitu mengenal kepribadian, dengan
mengenal kepribadian siapa saya, akan dengan mudah mengatasi setiap
persoalan yang menimpa, karena sudah mengenal tipe, watak dan
kepribadian yang kita miliki. Dan orang yang tahu siapa dirinya itulah
orang yang memiliki kecerdasan dan mental yang sehat.
2. Mencari sebab-sebab timbulnya konflik (faktor fencetus). Sadarilah
dengan segera setiap persoalan yang dihadapi, lalu carilah penyebab dari
setiap pemicu yang dikira dapat mengganggu kesehatan mental. Yang
paling efektif untuk menjaga kesehatan mental yaitu janganlah terlalu

Page 7

berta menanggapi suatu persoalan atau suatu problematika hidup yang


tidak menguntungkan.
3. Menggunakan mekanisme penyelesaian yang positif. Adapun mekanisme
penyelesaian yang positif bisa dilakukan dengan melakukan subsitusi
yaitu, mengubah rasa-rasa yang negatif dalam bentuk tingkah laku yang
positif-kreatif

dan

aktif.

Melakukan

sublimasi

yaitu,

mengubah

egosentrisme, egoisme, serta dorongan-dorongan yang rendah lainnya ke


dalam bentuk tingkah laku yang lebih terpuji dan lebih mulia sesuai
dengan harkat manusia berbudaya. Resignation atau resignasi yaitu
tawakal dan pasrah kepada ilahi dan, besinnung ialah berfikir secara
mendalam dan mawas diri.
4. Menanamkan nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai kepercayaan terhadap
tuhan. Barang siapa yang bisa menangkap arti serta nilai-nilai abdi
tersebut, akan dapat menemukan kebahagiaan dan ketenangan sejati.

C. Resiko Gangguan Jiwa (Psikososial)


Psikososial adalah perubahan individu, bersifat psikologik dan sosial yang
mempunyai pengaruh timbal balik sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan
atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.
Adapun

contoh

masalah

psikososial

yaitu

kehilangan

anggota

tubuh,

kehilangan/perpisahan dengan orang dicintai, kehilangan pekerjaan, harta benda,


tempat tinggal, dan sekolah, adapun keluarga yang menderita penyakit kronis
seperti TBC, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, ginjal dan reumatik, dan
keluarga dengan ibu hamil atau ibu melahirkan. Selain itu masalah psikososial

Page 8

juga ada masalah psikososial dan

lingkungan. Dalam DSM IV, masalah

psikososial dan lingkungan dibagi kedalam beberapa kategori diantaranya:


1. Masalah dengan primary support group
Salah satu contohnya adalah perceraian, perceraian berperan menjadi
masalah psikososial, hal ini dapat dicegah dengan support dari anggota
keluarga. Salah satunya dengan menyertakan anggota keluarga lain seperti
paman, bibi, nenek, sebagai penopang penderitaan. Orang tua juga
mencoba menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka
tidak bersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut
bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya. Hal lain yang perlu
dilakukan oleh orangtua yang akan bercerai adalah membantu anak-anak
untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan
rutin di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah satu
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

pihak.
Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial.
Masalah pendidikan
Masalah pekerjaan.
Masalah perumahan
Masalah ekonomi
Masalah akses ke pelayanan kesehatan
Masalah berkaitan interaksi dengan hukum/kriminal

D. Gangguan Jiwa (Gangguan Mental)


Gangguan mental adalah gangguan yang menyebabkan ketidakberesan
(ketidakwarasan) atau ketidakwajaran terhadap kesehatan metal atau jiwa. Dalam
terminologi yang lain gangguan mental ialah adanya ketidakseimbangan yang terjadi
dalam diri kita, berpusat pada perasaan, emosional dan dorongan (motif/ nafsu), yang
mengakibatkan

pada

ketidakharmonisan

antara

fungsi-fungsi

jiwa,

yang

menyebabkan kehilangan daya tahan jiwa, pada akhirnya jiwa menjadi labil dan

Page 9

orang yang terganggu mentalnya biasanya, pikirannya pendek,tidak memiliki


pandangan hidup yang luas, sikap hidupnya penuh perasaan pesimis, dan biasanya
suka menunda-nunda waktu, serta cenderung mengeluh. Apabila telah mengalami
kondisi psikologis semacam itu jelas kondisi psikis kita terganggu. Ciri yang
paling mudah dikenali dari kondisi mental yang tidak sehat yaitu perasaan selalu
malas berbuat sesuatu, kondisi tubuh merasa selalu capek, isi pikiran dan hati
diliputi perasaan iri, dengki, curiga, dan pikiran-pikiran aneh lain dan selalu
diliputi keinginan-keinginan yang tidak masuk akal (irrasional).
Gangguan mental sekecil apapun dapat merusak kepribadian atau citra
diri. Maka deteksi dini mutlak perlu dilakukan terhadap diri kitadengan tujuan
untuk mengenal kondisi kesehatan mental sedini mungkin,sehingga kita dapat
mengarahkan diri agar tidak menderita gangguanmental. Deteksi diri (psychodiagnostic) terhadap gangguan mental sejakdini perlu dilakukan oleh siapapun,
yang menyadari betapa penting danberharganya kesehatan metal yang melebihi
hal apapun. Hal ini bisa dilakukan sendiri maupun dengan bantuan orang lain.
Gejala-gejala yang timbul pada orang gangguan mental adalah:
1. Pikiran
Pikiran memiliki fungsi untuk mengetahui, mencipta, dan memecahkan
problema. Adapun kondisi pikiran yang sehat diantaranya yaitu, mampu berfikir
secara cepat, akurat dan sistematis, realistis, mampu berkonsentrasi, tidak merasa
lelah dan tidak merasa gundah dan kacau. Dengan demikian apabila diri seseorang
merasakan hal yang sebaliknya dalam pikirannya, ini merupakan suatu gejala
timbulnya gangguan mental ataupun gangguan jiwa secara umum.
2. Perasaan

Page 10

Disamping pikiran perasaan juga mempunyai peran untuk memberikan


pertimbangan bagaimana seseorang atau individu untuk berbuat dan bertingkah
laku. Perasaan juga termasuk naluri manusia yang banyak memberi pengaruh serta
mempengaruhi perkembangan sikap dan tingkah lakunya. Mental yang sehat
ataupun tidak itu bisa diukur sendiri, melalui kapasitas perasaan, yakni apakah
perasaannya dapat bekerja dalam batas kewajaran atau justru sebaliknya. Apabila
kondisi perasaan kita bekerja pada batas ketidakwajaran dan disertai dengan
gejala-gejala jasmaniah yang tidak seperti biasanya (tidak wajar) berarti mental
atau jiwa seseorang mulai terganggu. Kondisi perasaan seperti inilah yang bisa
disebut sebagai gejala terjadinya gangguan mental. Maka dari itu perasaan
seseorang perlu didik dan dilatih agar menjadi baik, wajar stabil, dan proporsional
dan bernilai positif, sehingga dengan sendirinya akan membentuk mental yang
sehat.
3. Emosi
Emosi ialah suatu kondisi perasaan yang melebihi batas, terkadang tidak
mampu menguasai diri dan menjadikan hubungan pribadi dengan dunia luar
menjadi terputus. Ketidakmampuan untuk mengendalikan perasaan tersebut
terhadap setiap problem akan melahirkan sikap yang emosional yang cenderung
negatif. Sikap emosional yang ada dalam diri manusia yang didasarkan pada arah
aktivitas tingkah laku emosionalnya itu ada empat bentuk yaitu:
1. Marah: yakni orang bergerak menentang sumber frustasi
2. Takut: yakni orang bergerak meninggalkan sumber frustasi
3. Cinta: yakni orang bergerak menuju sumber kesenangan

Page 11

4. Depresi: yakni orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan


emosi ke dalam dirinya sendiri.
Selama emosi berlangsung banyak terjadi perubahan perubahan pada alat
tubuh, perubahan-perubahan ini bisa membantu untuk mendeteksi berbagai reaksi
pada orang-orang atau individu yang sedang mengalami emosi.

4. Kehendak
Pikiran memiliki fungsi untuk mengatur dan mengontrol dan perasaan
berfungsi untuk merasakan (menilai) dan memberikan pertimbangan, maka
kehendak merupakan fungsi jiwa yang memiliki fungsi untuk menentukan
berhasil atau tidaknya suatu keinginan,karena kehendak atau kemauan merupakan
tujuan aktif untuk menuju pelaksanaan suatu tujuan.
Akan tetapi yang perlu diwaspadai dan disadari disini yaitu, bahwa
kehendak atau kemauan juga tidak bisa terlepas dari apa yang disebut dengan
hasrat ataupun nafsu yang bergejolak, yakni suatu keinginan yang kuat atau
meluap-luap, yang cenderung menggebu-gebu yang terkadang bisa mengganggu
atau pikiran, perasaan, emosi bahkan hasrat tersebut sampai menguasainya, kalau
pikiran, perasaan dan emosinya telah tertutup maka yang muncul adalah sifat
emosionalnya atau nafsunya yang begitu berkobar-berkobar, maka tidak menutup
kemungkinan perilaku atau sikap dan tindakan yang dilakukan pasti tindakan
berada diluar kontrol yang ada dalam dirinya.
Dengan demikian secara lahiriah orang tersebut mengalami gangguan
mental. Maka dari itu kita harus mampu mengatur dan mengendalikan kehendak
atau kemauan kita, jangan sampai terjebak pada hasrat dan nafsu yang cenderung

Page 12

mengarahkan sikap dan tingkah laku kita pada tindakan yang negatif. Gejala
gangguan mental disini juga bisa kita kenali atau kita deteksi sendiri lewat
kehendak atau kemauan kita.

5. Sikap dan Tingkah Laku


Tingkah laku manusia menurut tinjauan psikologis ialah beberapa macam
aktivitas, kegiatan dan tindakan manusia yang tampak secara riil (obyektif dan
terbuka) sebagai bentuk penampakan (ekspresi/manifestasi) dari adanya
dorongan-dorongan psikis untuk memenuhi atau mencapai suatu kehendak atau
kemauan dan tujuan hidupnya. Gejala psikis, yang merupakan indikasi dari
kondisi mental yang tidak sehat yang bisa menimbulkan terjadinya gangguan
mental, dengan ciri-ciri diantaranya yaitu:
a. Perasaan sering gelisah, menderita insomnia (kesulitan akan tidur), mudah
tersinggung, sering mimpi buruk, mudah marah, cenderung bersikap
agresif, dan mudah garang (kurang perhatian pada daerah sekitarnya).
b. Lekas jadi cemas, sering bingung, sering lupa, suka menyendiri, benci
terhadap keramaian, kehilangan nafsu makan dan seksual, dan cenderung
kehilangan kontrol diri, seperti suka ceroboh, sering berbuat dengan
tergesa-gesa dan lain-lain.
c. Sering terjadi disorientasi waktu, kadang-kadang berperilaku immoral,
terkadang lupa terhadap diri sendiri, terkadang berbicara ngelantur dan
tidak jelas.
d. Sering berbuat apatis, beku emosional, perasaan sering bergantiganti, tidak
mampu melakukan konsentrasi, ada kelesuan pada bagian interesnya.

Page 13

e. Aktivitas intelektualnya mundur dan juga kemampuan-kemampuan lain


menjadi lemah seperti tidak bisa berfikir secara cermat.
f. Merasa kesulitan dalam melakukan adaptasi dan sering datang perasaanperasaan putus asa.
g. Prestasi menurun, merasa kesulitan dalam beraktualisasi, sosialisasi, dan
komunikasi serta timbul perasaan-perasaan cepat bosan dan suka
mengumpat.
h. Tanpa disadari tiba-tiba bicara sendiri tanpa dengan obyek yang jelas
i. Sering kehilangan kesabaran, dan perasaan ingin menjerit.
Dari sekian gejala yang tampak dalam diri kita sebagaimana tersebutdi
atas, semua itu merupakan cerminan dari kondisi mental yang tidak sehat
(terganggu) yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa, sehingga pada ujungnya
dapat membentuk suatu kepribadian yang tidak sehat pula.
Dari kelima gejala kejiwaan itulah (pikiran, perasaan, emosi,kehendak dan
tingkah laku) perlu senantiasa kita perhatikan dan kitajaga agar selalu dalam
kondisi seimbang. Sehingga kondisi diri kita atau mental kita selalu dalam kondisi
yang sehat (tidak terganggu).
Faktor pencetus terjadinya gangguan mental ada dua faktor yang sangat
mempengaruhi terjadinya gangguan mental, yaitu faktor penyedia (predisposing
factor) dan faktor pencetus (participating factor). Adapun faktor internal maupun
eksternal pencetus terjadinya gangguan mental diantaranya yaitu:
1. Faktor genetik
Kerusakan pada gen yang bisa mengakibatkan ketidaknormalan pada
perkembangan individu baik secara fisik maupun psikis (intelektual), berpengaruh
pada kondisi mental. Kalau kita merasa kondisi fisik maupun psikis kita
mengalami ada semacam kelainan, itu akibat dari:

Page 14

a. Kekurangan nutrisi (gizi), terkena infeksi dan keracunan sewaktu


kita ada dalam kandungan.
b. Sewaktu ibu mengandung, ia menderita suatu penyakit, sehingga
ada pengaruh yang buruk pada janin (foetus intra uterine).
Sehingga janin (bayi) yang dilahirkan terindikasi akan menderita
toxemia, yaitu peristiwa keracunan pada darah, sehingga
mengakibatkan abnormalitas pada sistem syaraf.
c. Terjadi keracunan pada janin (intoxication) akibat atau efek dari
obatobat penenang yang mengandung racun, misal obat kontrasepsi
anti hamil yang sangat kuat mengandung racun, akan tetapi obat
tersebut gagal bekerja secara efektif. Atau akibat dari salah satu
orang tua yang pecandu. Sehingga mengakibatkan pertumbuhan
janin dalam kandungan tidak normal atau mengalami kerusakan
pada mental dan fisik. Dimana ini bisa mengakibatkan gejala
secondary amentia danfeeble minded, yakni mengalami lemah
ingatan pada anak, akibat janin mengalami keracunan zat besi
(plumbum; loodvergiftinging) dalam kandungan. Sedangkan obat
yang bisa merusak janin tersebut disebut dengan istilah
teratogenik.
d. Pada saat mengandung ibu mengalami tekanan mental, seperti
trauma, panik, sock, penuh ketakutan atau ibu sedang mengalami
psikhosa(jadi gila) atau menjadi gila disaat mau melahirkan.
Kondisi ibu yang semacam ini tidak menutup kemungkinan akan
melahirkan anak yang lemah bahkan cacat mental.
e. Pada saat ibu mengandung kandungannya terkena benturan yang
sangat keras sehingga mengenai kepala janin atau bagian vital lain.

Page 15

Jadi tidak heran apabila ada seseorang baru umur beberapa tahun
memiliki

kelainan

mental

seperti

idiot,

agresif,

dan

keterbelakangan mental lain sebagainya, ini semua tak lain akibat


gen yang dibawanya. Jadi gen merupakan salah satu faktor
pencetus terjadi gangguan mental.
2. Kondisi fisik yang tidak normal
Kondisi cacat fisik, secara fenomenalogis, hampir 75% mengakibatkan
terjadinya gangguan mental atau kejiwaan. Bahkan timbul dalam diri yaitu
perasaan-perasan hampa, seolah-olah hidupnya tidak ada artinya atau kehilangan
visi hidup (makna hidup), dan perasaan yang cenderung ingin mengakhiri hidup
(bunuh diri) kerap terjadi pada penderita cacat fisik.
Disamping kondisi fisik yang cacat, faktor pencetus lain yang bisa
mempengaruhi metal ialah kondisi fisik kita yang selalu tidak sehat (sering sakitsakitan) atau kita sedang mengalami sakit yang berkepanjangan bahkan dapat
vonis dari dokter bahwa penyakit yang dideritanya tidak bisa disembuhkan.
Kondisi yang semacam ini secara spontan, baik disadari atau tidak pasti akan
menyerang kondisi jiwa (mental), seperti perasaan cemas, takut, putus asa, ingin
mati, yaknihilangnya semangat hidup. Jadi kondisi fisik yang tidak normal juga
berpengaruh besar terhadap kondisi mental kita.
3. Keluarga
Keluarga merupakan faktor internal yang kerap kali merupakan faktor
terbesar pencetus terjadinya kekalutan mental. Misal apa bila kita sudah
berkeluarga

tuntutan-tuntutan

yang

ada

seperti,

pemenuhan

kebutuhan

keberlangsungan hidup yang harus dipenuhi setiap hari dan lain-lain yang ada
dalam keluarga, ini pasti akan membuat diri seseorang merasa tertekan untuk

Page 16

bagaimana untuk memenuhi kebutuhan itu semua. Begitu juga tidak ada kasih
sayang dari keluarga (orang tua) cenderung membuat diri kita merasa tidak
diperhatikan dan perasaan aneh lain yang timbul dalam diri kita. Perasaan aneh ini
disebut sebagai gejala ketidakwarasaan kondisi jiwa atau ketidaksehatan mental
kita. Dalam hal ini Kartini Kartono mengungkapkan bahwa suasana institusionalia
dan interaksional dalam keluarga, yang tidak disertai dengan kasih sayang akan
mengakibatkan retardasi pertumbuhan dari segala fungsi jasmaniah dan fungsi
kejiwaan anak, terutama terjadi hambatan-hambatan pada perkembangan
inteligensi (IQ) dan emosional (EQ).
4. Kehidupan modernisasi
Kehidupan modern atau modernisasi disamping membawakemajuan dan
perubahan pada taraf hidup manusia, juga bisa membawa bencana terhadap
kondisi psikologis (mental), apa bila tidak diimbangi dengan ketangguhan mental.
Kehidupan modern yang cenderung pada pola hidup materialistic dan hedonisme,
revalitas, penuh kompetisi, individualistic serta persaingan, mengakibatkan
stamina jasmani danruhani selalu terpacu (terkuras) untuk memenuhi tuntutantuntutan tersebut. Melihat realitas tersebut apabila seseorang tidak memiliki
mental yang kuat, dengan cepat kondisi mentalnya akan menjadi lemah
danterganggu, akibat ketidakmampuannya dalam menghadapi realitas kehidupan
tersebut, sehingga timbul perasaan cemas, stres, panik, ketakutan, putus asa dan
lain sebagainya. Tekanan-tekanan kehidupan modern inilah yang bisa mendorong
terjadi gangguan mental ataugangguan kejiwaan lainnya.
Dari beberapa gejala kehidupan yang berubah begitu cepat, bisa berakibat
buruk pada kondisi kejiwaan atau mental seseorang, seperti perasaan cemas,

Page 17

bingung, stress, depresi, agresif dan tekanan-tekanan mental lain, apa bila
berlarut-larut dan segera tidak diatasi dan disikapi dengan baik dan bijak, pada
gilirannya bisa mengakibatkan terjadinya gangguan mental yang lebih parah.
5. Hidup di lingkungan baru
Dalam hal ini yang dapat menjadi faktor pencetus terjadinya
gangguanmental ialah terkait dengan masalah penyesuaian diri (adjustment).
Hidup dalam lingkungan baru bisa timbul perasaan-perasan seperti, canggung,
malu-malu, dan takut, apabila perasaan ini berlarut-larut dalam diri, maka yang
terjadi tak lain adalah konflik batin yang diakibatkan dari ketidakmampuan dalam
melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Dan apa bila ini tidak
diwaspadai akan mengakibatkan terjadinya gangguan mental yang lebih parah,
yakni yang awalnya neurosis menjadi psikotik
Stressor sosial adalah setiap keadaan atau kejadian yang menyebabkan
perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang tersebut dituntut secara
terpaksa untuk melakukan adaptasi untuk menanggulanginya. Akan tetapi tidak
semua orang mampu untuk melakukannya, sehingga timbullah keluhan-keluhan
seperti, perasaan cemas, stress, bingung, perilaku aneh, depresi dan lain
sebagainya. Perlu diketahui bahwa banyak sekali stressor psikososial yang ada
dalam kehidupan sehari-hari, dan ini semua orang dituntut untuk bisa melakukan
penyesuaian dan penyikapan, sehingga diri kita tidak jatuh sakit, baik fisik
maupun psikis.

Bentuk-bentuk Gangguan Mental dan Gejalanya

Page 18

Secara umum gangguan mental itu digolongkan menjadi dua bentuk, yakni
gangguan mental yang sifatnya ringan dan gangguan mental yang sifatnya berat.
Orang yang menderita gangguan mental yang sifatnya ringan disebut neurosis,
dan orang yang menderita gangguan metal yang sifatnya berat disebut psychosis
atau Psychose. Orang yang menderita gangguan mental pada ujungnya akan
mengalami penyakit mental yang sesungguhnya (mental disorder).
Adapun faktor-faktor lain timbulnya psychoneurosis ialah:
1) Ketakutan yang terus menerus dan sering tidak rasional
2) Ketidakimbangan pribadi
3) Konflik-konflik internal yang serius, terutama sudah dimulai sejak masa kanakkanak
4) Lemahnya pertahanan diri (difence of mechanism) secara fisik maupun mental
5) Adanya tekanan-tekanan sosial dan kebudayaan yang kuat yang tidak mampu
diatasinya
6) Kecemasan, tekanan batin, kesusahan yang berkepanjangan.
Akibat dari disfungsi saraf itu yang dapat mengganggu kestabilan mental,
pada ujunganya akan membentuk suatu gejala gangguan mental serius (akut),
disebut dengan istilah neurasthenia.
Adapun sebab-sebab neurasthenia anatara lain:
1) Risau disebabkan oleh kekurangan kesibukan (menganggur).
2) Banyaknya ketegangan-ketegangan emosi akibat konflik-konflik, kesusahan
dan frustasi.
3) Adanya perasaan inferior sebagai akibat dari kegagalan di masa lampau, yang
disusul dengan tingkahlakuyang agresif.

Page 19

4) Faktor herediter akan tetapi kemungkinannya sangat kecil sekali.


Sedangkan gejala yang ditunjukkan ialah:
1) Rasa sangat lelah selalu ada, terasa sangat lesu, sekalipun tidak ada gejala sakit
pada jasmani.
2) Kondisi sarafnya; lemah, disertai perasaan-perasaan rendah dri dan selalu takut
akan membuat kegagalan
3) Penderita selalu diganggu oleh perasaan sakit dan nyeri yang berpindah-pindah
pada setiap bagian badannya; khususnya pada bagian punggung, dan kepala yang
disertai oleh rasa pusing.
4) Reaksinya cepat tetapi selalu bersifat ragu-ragu karena ada ketegangan saraf.
5) Biasanya diikuti oleh gerakan motorik pada inteleknya lemah. Seperti cepat
merasa suntuk, malas berfikir, dan lambat dalam mengambil
keputusan.
6) Sering mengalami depresi emosional yang biasanya disertai dengan menangis
atau suka menangis.
7) Nafsu makan menurun bahkan sampai kehilangan nafsu makan, seks,
menderita insomnia dan muncul gangguan-gangguan pada pencernaan.
8) Merasa ada kerusakan pada sebagian panca indranya, seperti pandangan kabur,
9) Cenderung egois dan introvert. Kehilangan kemampuan dalam berkonsentrasi,
mudah dipengaruhi, cepat bingung, semangat sensitif dan sikapnya selalu
antagonistik (selalu bertentangan) dan cenderung negatif.
Dari keterangan di atas dapat kita diketahui bahwa kondisi kesehatan
mental bisa dirasakan atau diamati melalui gejala-gejala tersebut. Dengan
demikian kita dapat mengenal sejauh mana kondisi kesehatan mental kita, apakah

Page 20

masih dalam kewajaran atau tidak. Sehingga kita selalu dapat mengantisipasi atau
menjaga kondisi kesehatan mental kita. Apabila tidak diperhatikan dan
diantisipasi sedini mungkin, pada akhirnya akan menyebabkan gangguan mental
yang lebih parah, yang disebut dengan psychosis.
Psikosis (psikosa fungsional) atau psikotik merupakan satu bentuk
gangguan mental yang parah, dimana penderita mengalami disorientasi pikiran,
gangguan-gangguan emosional, disorientasi waktu dan ruang, serta pribadi, dan
biasanya disertai halusinasi dan delusi-delusi (ilusi). Psikosis merupakan penyakit
mental secara fungsional yang berat dan non-organis sifatnya, yang ditandai oleh
disintegratif atau ke pecahan kepribadian dan maladjustment sosial yang berat,
dimana penderita tidak mampu mengadakan relasi sosial dengan daerah
sekitarnya, sering terputus sama sekali realitas hidup dan menjadi incompetence
secara sosial, serta terdapat pula gangguan pada karakter dan fungsi
intelektualnya.
Gangguan mental yang parah (psikosis) bisa diketahui atau diamati secara
langsung melalui tingkahlakuatau perilaku yang abnormal dan irasional. Dalam
pandangan umum perilakunya itu dapat membahayakan dirinya sendiri maupun
orang lain (lingkungan sekitar). Dari gejala-gejala yang timbul dapat diketahui
berbagai macam gangguan/ penyakit kejiwaan atau mental, seperti schizophrenia
(catatonic, hebephrenic, dan paranoid), manic depresi, paranoia, dan lain
sebagainya.
Adapun sebab atau faktor pencetus terjadinya psikosis yaitu sangat
komplek, tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Seperti halnya penderita
neurosis, penderita psikosis, semua berakar pada sebab-sebab yang murni

Page 21

psikologis, ada dua bentuk jenis penderita psikosis. Pertama, psychosis


fungsional, yaitu fungsi kepribadian penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana.
Kedua, psychosis organic yaitu penderita menderita psikosis diakibatkan oleh
perubahan dan kerusakan jasmani.
Ada bentuk gangguan mental lain yang disebut psychopath. Psychopath
adalah

bentuk

kekalutan

mental

yang

ditandai

dengan

tidak

adanya

pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi. Penderita biasanya tidak pernah


bertanggung jawab secara moral, adaptasi sosial tidak normal, dan selalu
bersitegang dengan norma-norma sosial dan hukum, karena sepanjang hidupnya ia
hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral yang diciptakan oleh
imajinasi sendiri.
Dari perasaan-perasaan tersebut mengakibatkan perasaan skeptis terhadap
lingkungan sosialnya, karena dia merasa aktualisasi yang dilakukan tidak pernah
mendapatkan perhatian dan penghargaan. Sehingga muncullah pikiran-pikiran
negatif yang selalu dipendam. Perasaan semacam inilah yang mendorong
terjadinya kekalutan mental, sehingga penderita biasanya cenderung bersikap dan
berperilaku apatis (kehilangan perasaan sosial) terhadap lingkungannya. Biasanya
jiwanya diliputi rasa benci, iri, dendam, curiga, penolakan, rasa dikejar-kejar dan
dituduh. Sehingga psikologisnya menjadi gelisah, tegang, penuh ketakutan, lalu
pikiran dan perasaannya (emosionalnya) menjadi kacau balau dan disertai pikiran
yang kegila-gilaan.
Kondisi psikologis semacam ini kemudian membentuk kepribadian
terbelah

(split

personality),

yakni

dirinya

mengalami

disintegrasi

dan

disorganisasi kepribadian tanpa memiliki rasa sosial dan rasa kemanusiaan

Page 22

(human) yang wajar. Ciri yang paling pokok gangguan psychopath yaitu
pribadinya selalu ingin berbuat yang aneh-aneh diluar norma-susila sosial di
lingkungannya. Psychopath ini merupakan gangguan mental yang paling berat,
karena kontrol dirinya sudah tidak berfungsi lagi, yakni antara akal (pikiran) dan
perasaan, antara id, ego, dan super ego, dan antara yang disadari dan tidak disadari
sudah tidak memiliki peran lagi pada dirinya, serta perilakunya bisa mengancam
ketenangan pada lingkungan. Dan manusia semacam ini bisa disebut dengan
istilah manusia yang tidak berakal dan tidak mempunyai hati, atau disebut juga
jasad yang hidup dengan jiwa yang mati.

DAFTAR PUSTAKA
M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky. 2001. Psikoterapi dan Konseling Islam;
Penerapan Metode

Page 23

Sufistik. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, hlm. 215.


Zakiyah Daradjat. 1990. Kesehatan Mental. Jakrta: Haji Masagung, hlm 10-11.
Yuska Burhanuddin. 1999. Kesehatan Mental. Bandung: Pustaka Setia, hlm 10-12

Page 24

Lampiran 2. Evaluasi Kegiatan


Kegiatan pendidikan kesehatan yang diadakan di rumah ketua RW 04
Desa Cilayung ini berjalan cukup lancar. Namun pada saat diumumkan kepada
warga-warga untuk hadir dalam acara penkes ini terjadinya miss komunikasi dari
pembawa pengumuman. Bahwa diberitakan didalam acara tersebut akan diberikan
pemeriksaan kesehatan dan diberikan obat-obatan. Alhasil, saat para warga mulai
berdatangan, mereka menanyakan mengenai obat yang akan diberikan. Untuk
pemeriksaan kesehatan, kami hanya bisa memberikan berupa pemeriksaan
tekanan darah saja. Warga yang datang didominasi oleh lansia. Namun, para
peserta yang datang cukup memperhatikan apa yang disampaikan oleh pemateri.
Dan ada beberapa warga yang bertanya terkait materi yang disampaikan maupun
terkait hal diluar materi, seperti berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan mereka
saat ini.

Lampiran 3. Daftar Hadir Peserta

Page 25

Lampiran 4. Dokumentasi

Page 26

Page 27

Page 28

Page 29

Page 30

Page 31

Page 32

Page 33

Page 34

Page 35

Page 36