Anda di halaman 1dari 22

Laboratorium Bidang Studi dan Proporsi Ruang

  • A. Pengertian Laboratorium Laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat dilakukannya percobaan atau penelitian.Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap atau alam terbuka misalnya kebun botani.Suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum. Atas dasar inilah pembahasan kita tentang pengelolaan laboratorium akan dibatasi pada laboratorium yang berupa ruang tertutup.

Dalam pengelolaanlaboratorium, pengelolaannya meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut:

  • 1. Perencanaan Perencanaan merupakan sebuah proses pemikiran yang sistematis, analitis, logis tentang kegiatan yang harus dilakukan, langkah-langkah, metode, SDM, tenaga dan dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien.

  • 2. Penataan Tata letak peralatan adalah suatu bentuk usaha pengaturan penempatan peralatan di laboratorium, sehingga laboratorium tersebut berwujud dan memenuhi persyaratan untuk beroperasi. Tujuan Tata Letak laboratorium :

    • a. Mengurangi hambatan dalam upaya melaksanakan suatu pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

    • b. memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna/pekerja/operato.

    • c. Memaksimalkan penggunaan peralatan.

    • d. Memberikan hasil yang maksimal dengan pendanaan yang minimal

    • e. Mempermudah pengawasan. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun tata letak peralatan dan perabotan

laboratorium adalah:

  • a. mudah dilihat

  • b. mudah dijangkau

  • c. aman untuk alat

  • d. aman untuk pemakai

  • 3. Pengadministrasian Pengadministrasian sering juga disebut sebagai kegiatan menginventaris.Inventaris adalah sutu kegiatan dan usaha untuk mnyediakan catatan tentang keadaan semua fasilitas, barang-barang yang dimiliki sekolah. Daftar alat inventarisasi yang harus digunakan atau diisi, diantaranya:

    • a. Buku Induk Barang Inventaris

    • b. Buku Catatan Barang Inventaris

    • c. Buku Golongan Barang Inventaris

    • d. Laporan Triwulan Mutasi barang

    • e. Daftar Isian Barang

    • f. Daftar Rekapitulasi barang Inventaris

Contoh format dokumen/alat inventaris yang telah banyak dikembangkandan digunakan:

 

Nama

Barang

Daftar Isian Barang Inventaris Yang Dipakai

 

No

Inventaris

Nama Kelompok Barang

Kode Barang

Jumlah Barang

1

  • 4. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan Pada dasarnya pengamanan, perawatan danpengawasan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan.

Usaha yang dilakukan dalam memelihara kelancaran penggunaan laboratorium, antara lain:

  • a) Jadwal penggunaan laboratorium yang jelas

  • b) Tata tertib laboratorium yang dilaksanakan dengan tegas

  • c) Alat penanggulangan kecelakaan: pemadam kebakaran, kotak P3K, dll dalam keadaan baik dan dipahami Sarana pengamanan yang diperlukan dan harus ditaati di hampir semua laboratorium antara lain:

    • a. Saluran air dengan kran dan shower

    • b. Saluran gas dengan kran sentral

    • c. Jaringan listrik yang dilengkapi dengan sekering atau pemutus arus

    • d. Kotak p3k yang berisi lengkap obat

    • e. Nomor telepon kantor pemadam kebakaran, rumah sakit, dan dokter

    • f. Alat pemadam kebakaran yang siap pakai dan mudah dijangkau

    • g. Aturan dan tata tertib penanggulangan kecelakaan Dan untuk pengawasan biasanya hanya dilakukan olehara pengelola laboratorium yang memiliki pemahaman danketerampilan kerja di laboratorium, bekerja sesuai tugas dan tanggungjawabnya, dan mengikuti peraturan. Pengelola laboratorium di sekolah umumnya

sebagaiberikut:

  • a. Kepala Sekolah

  • b. Wakil Kepala Sekolah

  • c. Koordinator Laboratorium

  • d. Penanggung jawab Laboratorium

  • e. Laporan

  • B. Desain Laboratorium

Sebelum laboratoium itu dibangun harus tahu dulu untuk keperluan apa dan untuk dipakai

siapa laboratorium tersebut. Pada umumnya bentuk, ukuran dan tata ruang suatu laboratorium didesain sedemikian rupa sehingga pemakai laboratorium mudah melakukan aktivitasnya. Disamping bentuk, ukuran laboratorium perlu mendapat perhatian, karena fungsi laboratorium di sekolah-sekolah tidak hanya digunakan untuk percobaan yang bersifat individual. Umumnya laboratorium digunakan untuk berbagai kegiatan percobaan dalam konteks

proses belajar mengajar. Jumlah siswa yang melebihi kapasiitas ruangan laboratorium dalam satu kali percobaan akan mengganggu kenyamanan dan jalannya percobaan atau aktivitas lainnya. Sebuah laboratorium dengan ukuran lantai seluas 100 m2 dapat digunakan oleh sekitar 40 orang siswa, dengan rasio setiap siswa menggunakan tempat seluas 2,5 m2 dari keseluruhan luas laboratorium. Laboratorium untuk keperluan praktikum mahasiswa membutuhkan ukuran lebih luas lagi, misalnya 3 – 4 m2 untuk setiap mahasiswa.

  • 1. Jenis Laboratorium Jenis laboratorium disesuaikan dengan mata pelajaran yang membutuhkan laboratorium tersebut.Karena itu di sekolah-sekolah untuk pembelajaran IPA biasanya hanya dikenal laboratorium fisika, laboratorium kimia dan laboratorium biologi.Di SLTP mungkin hanya ada laboratorium IPA saja. Di Perguruan Tinggi, untuk satu jurusan saja, mungkin terdapat banyak laboratorium .. Contoh tata letak laboratorium dapat dilihat pada gambar berikut ini:

2. Tata Letak Laboratorium Pemakai laboratorium hendaknya memahami tata letak atau layout bangunan laboratorium. Banyak faktor
  • 2. Tata Letak Laboratorium Pemakai laboratorium hendaknya memahami tata letak atau layout bangunan laboratorium. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum membangun laboratorium. Faktor-faktor tersebut antara lain lokasi bangunan laboratorium dan ukuran- ukuran ruang. Lokasi laboratorium harus mudah dijangkau untuk pengontrolan dan memudahkan tindakan lainnya misalnya apabila terjadi kebakaran, mobil kebakaran harus dapat menjangkau bangunan laboratorium. Selain persyaratan lokasi, perlu diperhatikan pula tata letak ruangan.Ruangan laboratorium untuk pembelajaran sain umumnya terdiri dari ruang utama dan ruang-ruang pelengkap.Ruang utama adalah ruangan tempat para siswa atau mahasiswa melakukan praktikum.Ruang pelengkap umumnya terdiri dari ruang persiapan dan ruang penyimpanan. Ruang persiapan digunakan untuk menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan dipakai praktikum atau percobaan baik untuk siswa maupun untuk guru. Ruang penyimpanan atau gudang terutama digunakan untuk menyimpan bahan-bahan persediaan (termasuk bahan kimia) dan alat-alat yang penggunaannya tidak setiap saat (jarang). Selain ruangan-ruangan tersebut, mungkin juga sebuah laboratorium memiliki ruang gelap (dark room), ruangan spesimen, ruangan khusus untuk penyimpanan bahan-bahan kimia dan ruang adminitrasi / staf .Hal ini didasarkan atas pertimbangan keamanan berbagai peralatan laboratorium dan kenyamanan para pengguna laboratorium. Penyimpanan alat-alat di dalam gudang tidak boleh disatukan dengan bahan kimia.Demikian pula penyimpanan alat-alat gelas tidak boleh disatukan dengan alat-alat yang terbuat dari logam. Ukuran ruang utama lebih besar dari pada ukuran ruang persiapan dan ruang penyimpanan.Contoh apabila luas lantai untuk sebuah bangunan laboratorium 100 m 2 , 70 – 80 m 2 diguanakan untuk ruang utama tempat praktikum. Ruang penyimpanan harus dapat ditempati lemari yang akan digunakan untuk menyimpan alat-alat atau bahan. Demikian juga ruang persiapan, harus dapat ditempati meja dan alat-alat untuk keperluan penyiapan bahan-bahan atau alat-alat untuk percobaan.Contoh tata letak ruangan-ruangan laboratorium beserta ukurannya dapat dilihat pada gambar berikut.

C. Kebutuhan Perlengkapan Ruang Laboratorium Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai
  • C. Kebutuhan Perlengkapan Ruang Laboratorium Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya.Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum (utilities) dan fasilitas khusus.Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik, gas.Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, dan ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dll.

  • D. Menghitung Kebutuhan Laboratorium Untuk menjaga kelancaran pelaksanaan praktek di laboratorium dan menghindarkan adanya saling terganggu antara satu siswa dengan siswa yang lain, dalam menentukan ukuran ruang laboratorium, harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.Jenis aktivitas yang akan dikerjakan dalam praktek. 2.Jumlah siswa yang akan melakukan praktek. 3.Jenis peralatan dan perabot yang akan digunakan 4.Terpenuhi syarat minimum dan tidak melampaui batas maksimum luas ruangan agar pelaksanaan praktek dapat berjalan lancar serta efisien. 5.Mempertimbangkan aspek kesehatan kerja atau sanitasi lingkungan. Berdasarkan ketentuan yang dikemukakan oleh Storm, Brown, dan Spencer di atas tentang

kebutuhan ruang untuk setiap siswa adalah 50-60 square feet, dan apabila dikonversikan ke dalam meter adalah 4,64515 m 2 -6,50300 m 2 untuk setiap siswa, dengan catatan bahwa 0,0929 m 2 adalah konversi dari perhitungan 1 square feet. Jadi dengan demikian untuk laboratorium tata boga (24 siswa praktikum), kebutuhan luas ruangan adalah 168 m 2 dengan rincian sebagai berikut:

Ruang praktik Ruang penunjang

4 siswa x 5 m 20/100 x 120 m

= 120 m 2 = 24 m 2

 

Selasar(20%)

20/100 x 120 m Luas keseluruhan

= 24 m 2

= 168 m 2

Bentuk Ruangan

1)

Empat persegi panjang ( panjang 6-12 m)

2)

Dinding muka dan belakang merupakan dinding penuh

3)

Dinding samping untuk penerangan alami dan ventilasi

4)

Tinggi ruang 3-3,5m

5)

Ruang praktek memilki 2 pintu masuk dan 1 pintu keluar

6)

Daun pintu kearah luar

RUANG LAB = R.EKSPERIMEN (praktek/praktik) + RUANG PENUNJANG (instruktur + Gudang) Ruang eksperimen =( 77 -78 %) ruang lab Ruang penunjang = (22 – 23 %) ruang lab Selasar = 20 % ruang lab Bangunan lab = r. lab + selasar (100 % +20 %) Tanah kosong = 73 % bagunan LAB Kebutuhan tanah keseluruhan = 1,73 x bangunan laboratorium

  • E. Merencanakan Kebutuhan Ruang Laboratorium Perlengkapan ruangan yang digunakan untuk mengisi ruang laboratorium dibuat sesuai dengan ukuran dan kualifikasi tertentu.Perlengkapan ruangan tergantung pada jenis laboratorium dan bidang studi laboratorium. Didalam merencanakan hendaknya tidak statis kita harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan dari peralatan yang dimiliki:

    • 1. Dasar-dasar pemikiran umum.

      • a) Perkiraan apa laboratorium yang kita buat untuk masa sekarang atau perkembangan pada masa yang akan datang.

      • b) Mempunyai tujuan dasar yang jelas, apakah untuk sekolah atau kursus yang direncanakan.

      • c) Mengetahui jenis kelas apakah untuk permulaan atu tingkat lanjutan.

      • d) Jumlah, lama penyelenggaraan program dan ukuran maksimum dari laboratorium.

      • e) Luas laboratorium yang diperlukan umtuk setiap siswa

      • f) Mengetahui jumlah alat-alat yang diperlukan untuk spesialisasi.

      • g) Jumlah loker/lemari, kran cuci tangan dan toilat.

      • h) Apa ruang dibuat tetap atau pembagi ruang.

      • i) Penerangan dan ventilasi.

  • 2. Dasar-dasar penempatan peralatan. Dasar penempatan peralatan haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:

    • a. Mesin atau perlengkapan harus mudah dicapai.

    • b. Cahayanya cukup dan dari arah yang benar.

    • c. Jarak antar perlengkapan cukup dekat dengan pengoprasianya.

    • d. Letak mesin sudah tersedia sumber arusnya

    • e. Perhitungan ventilasi udara, untuk mengeluarkan debu sudah benar dan terencana.

    • f. Tersedia papan tugas pekerjaan.

    • g. Tersedia alat pemadam kebakaran

  • 3. Pembuatan perencanaan

    • a) Merencanakan atau membuat sktsa pada kertas garis skala, untuk memisahkan penempatan peralatan.

    • b) Dengan menggunakan model-model yang sesuai dengan bendanya sehinggadengan mudah digeser pada kertas yang direncanakan

    • c) Tentukan letak sumber arus untuk motor-motornya.

    • d) Tentukan luas ukuran ruang, apa sudah sesuai atau belum.

    • e) Perlu tidak penambahan penerangan untuk perlengkapan atau mesin.

    • f) Tentukan pula tempat-tempatsaluran daya atau gas bila ada. Dan lain-lain.

  • 4. Keselamatan Kerja di Laboratorium

    • a. Membawa sipenderita ke tempat yang baik dan tenang

    • b. Bila pendarahan terjadi pada sipenderita usahakanlah darah yang keluar itu dihentikan dengan jalan mengangkat bagian tubuh yang luka, sehinga yang luka itu berada di atas jantung

    • c. Usahakan sipenderita terbaring seleluasa mungkin,pakaian dilonggarkan

    • d. Segeralah minta pertolongan dokter

  • Personal Pengelolaan Laboratorium, Pengadaan dan Perawatan Laboratorium

    Pengelolaan merupakan suatu proses pendaya gunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Dalam pengelolaanlaboratorium, pengelolaannya meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut:

    • 1. Perencanaan

    • 2. Penataan

    • 3. Pengadministrasian

    • 4. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan

    Langkah-langkah Pengelolaan Laboratorium

    Mengelola adalah mengendalikan, menjalankan atau mengurus manajemen adalah suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai suatu sasaran. Manajemen laboratorium akan mencakup kegiatan perencanaan, pengorga-nisasian dan pengendalian. Hal-hal yang menyangkut dengan kegiatan tersebut diantaranya mengatur dan memelihara alat dan bahan, menjaga disiplin di laboratorium dan keselamatan laboratorium serta mendayagunakan laboratorium secara optimal.

    Pelaksanaan pengelola laboratorium bertujuan agar dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di laboratorium dan juga kegiatan penelitian agar berlangsung secara optimal. Dari sisi lain pengetahuan laboratorium merupakan usaha yang diarahkan kepada sarana dan prasarana serta personil yang terlibat dalam peran dan kegiatan laboratorium.

    Pengelolaan laboratorium dapat diartikan sebagai pelaksanaan dalam peng-administrasian, perawatan, pengamanan, perencanaan untuk pengembangannya secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuannya. Dalam pengelolaan laboratorium, ada 5 macam komponen laboratorium seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dapat dikategorikan dalam 2 kelompok, yaitu:

    • 1. Kelompok Pengelola

    Pengelola laboratorium sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya agar memiliki ketrampilan dan pemahaman tentang laboratorium, fasilitas, alat-alat dan bahan-bahannya. Pengelola dalam melaksanakan tugas di laboratorium untuk mencapai tujuannya kegiatan praktikum. Pengelola laboratorium perlu mendapat perhatian terutama dari segi penggunaan waktu kerja, disiplin yang diperlukan, kesehatan personal yang bekerja dilaboratorium, dan yang paling penting keselamatan kerja personal/siswa di Laboratorium.

    • 2. Kelompok yang Dikelola

    Kelompok laboratorium yang dikelola termasuk didalamnya bangunan gedung laboratorium, kebun sekolah, fasilitas laboratorium, alat-alat laboratorium, dan bahan-bahan praktikum. Untuk pengelolaan masing-masing komponen tersebut diatas dapat dilakukan berbagai system sesuai dengan landasan, fungsi dan tujuan laboratorium. Salah satu alternatif pengelolaan laboratorium IPA di sekolah dapat digambarkan sebagai berikut :

    1) Mengelola bangunan dan fasilitasnya ..

    Perabot laboratorium

    Instalasi listrik

    Instalasi air

    Instalasi gas

    Lingkungan sekolah

    2) Mengelola alat-alat laboratorium.

    Perencanaan (jumlah dan jenis alat yang ada)

    Desain ruang sesuai dengan alat yang ada

    Penetapan alat yang telah diidentifikasi

    Mengadministrasikan alat-alat yang ada

    Penggunaan alat secara ruti/periodic

    3) Mengelola bahan pratikum.

    Mengidentifikasi jumlah bahan yang dibutuhkan

    Mempersiapkan tempat penggunaan dan penyimpanan bahan praktikum

    Pengadministrasian bahan yang habis/sisa praktikum

    Pengadaan dan perawatan lab

    Pengadaan sarana dan prasarana dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sekolah, menggantikan barang-barang yang rusak, hilang, dihapuskan, atau sebab-sebab yang lain yang dapat dipertanggung jawabkan sehingga memerlukan pergantian, dan memenuhi kebutuhan rutin sekolah. Perencanaan pengadaan sarana dan prasarana sekolah merupakan suatu proses memikirkan dan menetapkan program upaya pengadaan sarana dan prasarana sekolah sesuai kebutuhan sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan yang akan dicapai dalam perencanaan pengadaan sarana dan prasarana adalah untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah dalam perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus diawali terlebih dahulu dengan menganalisis kebutuhan sekolah, kemudian menyusun rencana biaya, menyusun prioritas kebutuhan, dan yang terakhir adalah menunjuk staff untuk melakukan pengadaan sarana dan prasarana. Pengadaan adalah tahap untuk merealisasikan proses perencanaan. Proses pengadaan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, yang telah direncanakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Barnawi & M. Arifin (2012: 60) menjelaskan bahwa:

    Pengadaan merupakan serangkaian kegiatan menyediakan berbagai jenis sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuannya untuk menunjang proses pendidikan agar berjalan efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

    Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

    Proses pendidikan sangat membutuhkan sarana dan prasarana, agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Sementara itu, tidak semua sarana dan prasarana dapat bersifat tetap. Sarana dan prasarana akan mengalami penyusutan, baik penyusutan kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan dengan baik secara periodik dan terus menerus, agar fungsi dari sarana dan prasarana tersebut tidak berkurang. Barnawi & M. Arifin (2012: 74) menjelaskan bahwa:

    Pemeliharaan sarana dan prasarana adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan Depdiknas (2007: 8) menjelaskan pelaksanaan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan meliputi dua macam hal, yaitu :

    • a. Pemeliharaan/perawatan dan pencegahan berat, seperti pencegahan dari gangguan atau segala sesuatu yang mengakibatkan kerusakan peralatan yang bersangkutan

    • b. Pemeliharaan/perawatan ringan, seperti perbaikan papan tulis, buku penunjang.

    Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan pemeliharaan sarana dan prasarana dapat dilakukan dengan pemeliharaan yang bersifat terencana dan pemeliharaan yang bersifat tidak terencana. Pemeliharaan bersifat terencana meliputi pemeliharaan rutin atau berkala dan preventif. Pemeliharaan yang bersifat tidak terencana yaitu pemeliharaan darurat, yang pada umumnya kerusakan yang terjadi merupakan kerusakan berat. Penjelasannya sebagai berikut:

    • a. Perawatan rutin

    Perawatan rutin merupakan perawatan yang dengan rutin dilakukan. Barnawi & M. Arifin (2012:

    75) menjelaskan “perawatan rutin ialah perawatan yang dilakukan setiap kurun waktu tertentu”.

    • a. Perawatan darurat

    Perawatan darurat dilakukan secara sigap dan tanggap terhadap kerusakan suatu sarana dan prasarana pendidikan. Dalam perawatan darurat, pihak sekolah harus selalu siap dan sedia jika sewaktu-waktu terjadi kerusakan, dan harus segera diperbaiki. Barnawi & M. Arifin (2012: 75) menjelaskan “perawatan darurat adalah perawatan yang tidak terduga sebelumnya karena ada kerusakan atau tanda bahaya”.

    • c. Perawatan preventif

    Perawatan preventif dilakukan dengan periode waktu tertentu, yang dilakukan dengan menetapkan kriteria tertentu pada suatu sarana dan prasarana pendidikan. Dalam perawatan preventif biasanya merupakan tindakan perawatan sebelum terjadi kerusakan pada sarana

    dan prasarana pendidikan. Barnawi & M. Arifin (2012: 75) menjelaskan “perawatan preventif adalah perawatan rutin yang dilakukan dalam selang waktu tertentu dengan beberapa kriteria yang ditentukan sebelumnya”. Kegiatan memelihara sarana dan prasarana pendidikan di sekolah ada lima tahapan yang harus diperhatikan oleh warga sekolah. Barnawi & M. Arifin (2012: 228) menjelaskan “tahapan dalam memelihara sarana dan prasarana sekolah dapat dirumuskan menjadi 5P, yaitu penyadaran, pemahaman, pengorganisasian, pelaksanaan dan pendataan”. Tahapan yang dimaksud dijelaskan pada gambar sebagai berikut:

    Penjelasan kelima tahapan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah dijelaskan sebagai berikut: a. Penyadaran Pada tahap penyadaran

    Penjelasan kelima tahapan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah dijelaskan sebagai berikut:

    • a. Penyadaran Pada tahap penyadaran diperlukan adanya rasa memiliki terhadap sarana dan prasarana sekolah. Barnawi & M. Arifin (2012: 229) menjelaskan “tahapan yang paling awal dalam pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah adalah tahap penyadaran pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah”. Pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana saja, melainkan seluruh warga sekolah. Termasuk guru, siswa, penjaga sekolah, kepala sekolah, komite sekolah, maupun warga sekitar sekolah. Pengenalan dan penyadaran pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah salah satunya dapat dilakukan dengan cara menyosialisasikan tata tertib dan memasang pesan-pesan pengingat penggunaan sarana dan prasarana sekolah. Sosialisasi dilakukan kepada seluruh warga sekolah. Pesan-pesan pengingat dapat dipasang pada tempat-tempat strategis yang ada di sekolah.

    • b. Pemahaman

    Pemahaman pemeliharaan sarana dan prasarana dilakukan dengan memberikan penjelasan kepada stakeholders mengenai program pemeliharaan yang dibuat oleh sekolah. Barnawi & M.

    Arifin (2012: 232) menjelaskan “program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah mencakup manfaat pemeliharaan, tujuan dan sasaran, hubungan pemeliharaan dengan manajemen aset sekolah, jenis pemeliharaan, dan ruang lingkup masing-masing serta peran serta seluruh stakeholders”. Pemahaman terhadap program pemeliharaan harus dijelaskan secara utuh dan jelas agar tujuan pemeliharaan dapat tercapai.

    • c. Pengorganisasian Tahap pengorganisasian mengatur dengan jelas siapa yang bertanggung jawab, siapa yang melaksanakan, dan siapa yang mengendalikan. Barnawi & M. Arifin (2012: 236) menyebutkan “pengorganisasian pengelola pemeliharaan melibatkan semua warga sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, siswa, komite sekolah, dan tim teknis pemeliharaan”. Pengorganisasian pada dasarnya membagi personel pemeliharaan berdasarkan waktu pemeliharaan sarana dan prasarana. Kelompok yang melakukan pemeliharaan harian atau mingguan adalah guru dan siswa. Sedangkan kelompok yang melaksanakan pemeliharaan berkala adalah tim teknis pemeliharaan. Tim teknis pemeliharaan bertugas melaksanakan pemeliharaan berkala pada bagian yang sulit dijangkau dan memerlukan ketrampilan dan keahlian khusus.

    • d. Pelaksanaan Barnawi & M. Arifin (2012: 242) mengemukakan tahapan “pelaksanaan pemeliharaan

    terbagi menjadi pemeliharaan rutin dan

    pemeliharaan berkala”. Pemeliharaan rutin bertujuan untuk menjaga sarana dan prasarana agar tetap dalam kondisi baik dan siap pakai. Sedangkan pemeliharaan berkala bertujuan untuk merawat sekaligus memperbaiki jika ada kerusakan agar sarana dan prasarana dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

    e. Pendataan sarana dan prasarana dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh sekolah, yang bertugas mendata seluruh kondisi sarana dan prasarana sekolah yang ada. Barnawi & M. Arifin (2012:

    225)menjelaskan “pendataan sarana dan prasarana dilakukan untuk mengiventarisasi sarana dan prasarana sekolah terkait dengan ketersediaan dan kondisinya”. Hasil dari pendataan ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah untuk mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana dan segera melakukan tindakan perbaikan terhadap sarana dan prasarana yang rusak. Setiap sekolah memiliki prinsip-prinsip dan tata tertib mengenai penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, hal itu bertujuan untuk mempermudah pengelolaan dalam mengawasi dan me

    Pemahaman Sumber Belajar dan Laboratorium

    • I. Arti dan Jenis Sumber Belajar

    Dalam pasal 1 no 20 Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dari apa yang terdapat dalam Undang- Undang RI tentang Sisdiknas tersebut jelaslah bahwa sumber belajar, di samping pendidik, mutlak diperlukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang studi atau mata pelajaran yang dipelajarinya. Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology), terdapat enam macam sumber belajar yaitu pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar / lingkungan. Keenam sumber belajar tersebut juga merupakan komponen system pembelajaran, artinya dalam setiap kegiatan pembelajaran (padanan untuk kata instructional), selalu terdapat keenam komponen tersebut. Agar dapat berfungsi secara optimal dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, sumber belajar tersebut perlu dikembangkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya, yang meliputi berbagai kegiatan seperti pengadaan, produksi, penyimpanan, distribusi dan pemanfaatan, agar sumber belajar tersebut benar-benar dapat digunakan secara optimal untuk kepentingan kegiatan belajar dan pembelajaran. Lembaga yang mempunyai tugas untuk mengembangkan dan mengelola berbagai sumber belajar yang secara mutlak diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar dan pembelajaran tersebut adalah Pusat Sumber Belajar. Sebagai suatu lembaga atau unit yang tugasnya

    mengembangkan dan mengelola sumber belajar dalam rangka memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Bahan-bahan (sumber belajar) yang akan dikembangkan dan dikelola oleh Pusat Sumber Belajar untuk memberikan kemudahan untuk proses belajar dan pembelajaran dapat dibedakan dalam dua macam yaitu Sumber belajar yang dirancang (by design) adalah sumber belajar yang dirancang dengan secara sengaja dan sistematis untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan bahan atau sumber belajar tersebut diawali dengan suatu kegiatan menganalisis kebutuhan (“need analysis” atau disebut juga “need assessment”), kemudian dilanjutkan dengan perumusan tujuan yang ingin dicapai, menganalisis karakteristik peserta belajarnya, materi yang ingin diberikan, menentukan media yang cocok dengan tujuan dan karakteristik learner, pengembangan program prototipa, uji coba, serta diakhiri dengan revisi. Untuk itu dalam Pusat Sumber Belajar diperlukan tidak saja peralatan produksi media yang memadai tetapi juga sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam produksi dan pengembangan media pembelajaran. Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utilization) adalah sumber belajar yang pengadaannya tidak dirancang oleh Pusat Sumber Belajar sendiri untuk kepentingan kegiatan belajar dan pembelajaran para peserta belajar/ siswa di sekolah, tetapi diperoleh dari luar karena dibeli, hibah, dimanfaatkan dan sebagainya untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Sumber belajar yang dimanfaatkan ini awalnya tidak dirancang secara sengaja untuk keperluan pembelajaran di sekolah/madrasah tetapi kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar dan pembelajaran. Contoh yang sederhana misalnya buku-buku pelajaran, gambar di majalah, berbagai model (tiruan) seperti hati, jantung, dan sebgainya adalah merupakan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan pembelajaran. Semua bahan belajar yang telah dimiliki dan dikoleksi oleh bagian atau unit yang dinamakan Perpustakaan, yang sebenarnya merupakan awal Pusat Sumber Belajar, baik yang dirancang sendiri maupun yang dimanfaatkan, hendaknya dipelihara dan disimpan dengan baik agar tidak mudah rusak atau hilang dan dapat didistribusikan atau disirkulasikan penggunaannya secara optimal dalam lingkungan sekolah/madrasah, agar dapat menunjang dan memberikan kemudahan bagi pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakan di lembaga pendidikan tersebut. Dilihat dari segi fungsi dan peran setiap bahan (sumber) belajar, terutama kemampuannya dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan para peserta belajar, dapat dibedakan dua macam bahan belajar yaitu:alat peraga (teaching aids) atau alat audio visual (audio-visual aids) dan media pembelajaran. Alat peraga atau alat audio visual berfungsi untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, sehingga pelajaran yang diberikan kepada siswa tidak bersifat verbalistis yang

    bersifat abstrak melainkan sebaliknya bersifat konkrit, sehingga pesan yang disampaikan dalam proses pembelajaran dapat lebih mudah dipahami oleh learners. Michael Molenda dkk menyebut bahan belajar yang demikian dengan istilah ”Instructor’s dependent instruction” yang berarti bahwa instruktur memegang peranan yang dominan dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Ini berarti bahwa instruktur berperan sebagai sumber

    belajar utama, jika bukan satu-satunya. Pelajaran yang disampaikan menjadi sangat bersifat abstrak dan sulit dicernakan oleh siswa, karena lambang verbal yang diceramahkan bersifat abstrak. Begitu dominannya guru melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah tersebut sehingga menyebabkan guru kurang mempunyai waktu untuk memberikan bimbingan, bantuan dan kemudahan bagi murid-murid yang membutuhkannya. Sedangkan bahan belajar yang digunakan guru dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk membantu menjelaskan apa yang diuraikan atau disampaikan oleh guru, sehingga penjelasan guru makin konkrit dan tidak bersifat verbalistis dan dengan demikian pesan pembelajaran dapat diterima dan dimengerti dengan baik oleh murid-murid. Bahan belajar yang berfungsi sebagai media pembelajaran adalah bahan yang berfungsi sebagai saluran (channel) komunikasi yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa/peserta belajar. Molenda menyebut bahan yang berfungsi sebagai saluran komunikasi ini dengan istilah “instructor’s independent instruction” yang berarti bahwa media pembelajaran memegang peranan dominan dan berfungsi sebagai sumber belajar utama dalam pembelajaran karena mampu berkumunikasi secara interaktif dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta belajar (siswa). Syarat terpenting untuk mengembangkan bahan belajar yang bersifat “instructor’s independent instruction” yang berfungsi sebagai saluran komunikasi dengan peserta didik adalah bagaimana dapat diusahakan agar bahan belajar tersebut dapat digunakan secara interaktif dengan murid-murid dalam kegiatan pembelajaran. Agar murid dapat menggunakan secara aktif dan interaktif bahan belajar tersebut, maka dalam mengembangkan dan memproduksi bahan (media) tersebut hendaknya diperhatikan tiga hal berikut:

    • mencantumkan beberapa pertanyaan tentang materi atau bahan pelajaran yang disampaikan; • mencantumkan kunci jawaban untuk semua pertanyaan yang telah diberikan sebagai “feedback” bagi jawaban siswa yang telah diberikan, sehingga siswa mengetahui apakah jawabannya benar atau salah; Ini mendorong terjadinya penguatan (“reinforcement”) terhadap jawaban murid, yaitu mereka akan cenderung mengingat jawabannya yang benar dan melupakan jawabannya yang salah. • memberikan penjelasan ulang sebagai bahan remedial terhadap jawaban siswa yang salah, sebagai yang dilaksanakan dalam bahan belajar terprogram jenis bercabang (“branching programmed instruction”).

    Sudah jelas bahwa sumber belajar – dalam hal ini media pembelajaran –yang dapat berfungsi

    sebagai saluran komunikasi atau mampu berinteraksi dengan peserta belajar dalam suatu kegiatan

    pendidikan dan pembelajaran harus dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan dan tentu saja juga berdasarkan karakteristik para peserta belajar yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.

    Percival mengatakan “ a whole range of instructional media can be resources, examples including books, videocassettes, tape-slides programmes, computers, etc. Instructional media in all their various formats, are probably the most common type of learning resources, and these are often housed centrally in resoures centre” Selanjutnya dikatakan oleh Percival: Basically, the instructional media which comprise the actual learning resources in a resource centre can come from two sources: those that are “bought in” from commercial organizations or from other educational institutions, and those that are produced within an institution in order to caater for requirements of a given set of students within a specific subject area”

    Berikut adalah gambaran Pusat Sumber Belajar PSB menurut Petrson (1977).

    pendidikan dan pembelajaran harus dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan

    Fungsi Pusat Sumber Belajar

    1. Fungsi pengembangan sistem instruksional ialah fungsi yang bertujuan untuk menolong jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar, yang meliputi : a) Perencanaan kurikulum, b) Klasifikasi pilihan program pembelajaran, c) Seleksi peralatan dan bahan d) Perkiraan biaya, e) Pelatihan bagi tenaga pengajar tentang pengembangan sistem instruksional, f) Pendanaan program, g) Unsur evaluasi dan h) Dan program.

    kelompok kecil. c) Program belajar sendiri (individual). d) Pelayanan perpustakaan media/bahan pengajaran. e) Pelayanan pemeliharaan dan penyampaian. f) Pelayanan pembelian bahan-bahan dan peralatan.

    • 3. Fungsi produksi ialah Fungsi yang berhubungan dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial, yang meliputi : a) Penyiapan karya seni asli untuk tujuan pembelajaran. b) Produksi transparansi untuk OHP. c) Produksi fotografi (slide, bahan/cetak, dan lain-lain) untuk presentasi. d) Pelayanan produksi fotografi. e) Memprogram, mengedit, dan memproduksi rekaman pita suara. f) Memprogram, memelihara, dan mengembangkan system radio dan televisi.

    • 4. Fungsi administratif ialah fungsi yang berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai. Hal ini meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut : a) Pembinaan personalia untuk media. b) Pengembangan koleksi media untuk program pembelajaran. c) Pengembangan spesifikasi pendidikan untuk fasilitas baru. d) Jumlah siswa yang harus dibantu. e) Jumlah pengajar yang harus dibantu. f) Penyediaan pelayanan untuk pemeliharaan bahan, peralatan, dan fasilitas.

    • 5. Fungsi pelatihan ialah fungsi yang berhubungan dengan upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) baik untuk pengelola PSB maupun masyarakat pengguna.

    Tujuan Pusat Sumber Belajar

    Di antaranya meliputi pelatihan, pengembangan potensi pembelajaran, pelatihan pengembangan media pembelajaran (audio, audiovisual, multimedia, cetak, dan media sederhana), pelatihan pengembangan SDM dalam bidang teknis produksi dan sebagainya.

    Tujuan umum

    Pusat sumber belajar bertujuan meningkatkan efektivitas dan efesiensi kegiatan proses belajar-mengajar melalui pengembangan sistem instruksional. Hal ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara belajar yang baru (non-tradisional), yang paling sesuai untuk mencapai tujuan semua program pendidikan dan kewajiban-kewajiban institusional yang direncanakan lainnya. Misi yang terutama dari pusat sumber belajar adalah pengembangan sistem intruksional yang merupakan sarana utama untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi kegiatan belajar dan mengajar. Dalam fungsi dan kegiatan yang dilaksanakan pusat sumber belajar, termasuk pengadaan dan pelayanan perpustakaan bahan pengajaran, dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan misi tersebut.

    Tujuan Khusus

    • 1. berbagai

    Menyediakan

    macam

    pilihan

    komunikasi

    untuk

    membantu

    kegiatan kelas

    tradisional.

    3.

    Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindak lanjut mengembangkan sistem instruksional.

    • 4. Melaksanakan latihan bagi staf pengajar mengenai pengembangan sistem instruksional dan integritasi teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar.

    • 5. Memajukan penelitian yang akan membantu memajukan media pendidikan.

    • 6. Menyebarkan informasi yang akan membantu memajukan penggunaan berbagai macam sumber belajar dengan lebih efektif dan efisien.

    • 7. Menyediakan pelayanan produksi bahan pengajaran.

    • 8. Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desain fasilitas sumber belajar.

    • 9. Membantu mengembangkan standar penggunaan sumber-sumber belajar.

      • 10. Menyediakan layanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan media.

      • 11. Membantu dalam pemilihan dan pengadaan bahan-bahan media kelas dan peralatannya.

      • 12. Menyediakan pelayanan penilaian untuk membantu menentukan efektivitas berbagai cara pembelajaran.

    II.

    Perkembangan Pusat Sumber Belajar

    Salah satu sumber belajar yang sudah lama diperlukan – hingga sampai sekarang masih tetap demikian – dalam setiap lembaga pendidikan atau pelatihan adalah perpustakaan (library). Dalam penyelenggaraan suatu perguruan tinggi, pernah dikatakan bahwa perpustakaan adalah jantung suatu universitas. Dikatakan demikian karena perpustakaan yang mengkoleksi berbagai macam buku dan journal dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan sungguh sangat diperlukan oleh suatu universitas. Perpustakaan adalah merupakan perkembangan awal dari Pusat Sumber Belajar. Semua bahan belajar berupa rinted materials” yang telah dimiliki dan dikoleksi oleh bagian atau unit yang dinamakan Perpustakaan dipelihara dan disimpan dengan menggunakan system klasifikasi tertentu untuk memudahkan pemanfaatannya. Sistim pengklasifikasian bahan-bahan yang paling banyak digunakan adalah system Dewey Decimal Classification (DDC). Di Amerika Serikat, system pengklasifikasian bahan di perpustakaan yang umumnya digunakan adalah system Library Conggres (LC) karena volume buku dan bahan-bahan pustaka lainnya yang dikoleksi sangat banyak sampai meliputi ratusan ribu hingga jutaan buku jumlahnya. Dengan mengklasifikasi buku-buku dan bahan-bahan pustaka menggunakan system klasifikasi tertentu, maka bahan-bahan pustaka dapat didistribusikan atau disirkulasikan penggunaannya secara optimal dalam lingkungan olah/universitas sehingga dapat menunjang dan memberikan kemudahan bagi pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakan. Perpustakaan, baik perpustakaan umum, perpustakaan sekolah maupun perpustakaan universitas. dan perpustakaan

    lainnya, merupakan tempat penyimpanan informasi dan pengetahuan sehingga dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi semua peserta belajar, para profesional, para peneliti dan bagi siapapun yang memerlukan informasi dan pengetahuan. Sebenarnya perpustakaan melayani banyak fungsi yaitu untuk keperluan arsip, pendidikan dan pembelajaran, rujukan atau referensi, penelitian, dan rekreasi bagi masyarakat pada umumnya. Oleh karena perpustakaan berfungsi untuk kegiatan pendidikan, pembelajaran dan penelitian, maka istilah sumber belajar di ditambahkan pada koleksi perpustakaan, dan distribusi informasi mulai diarahkan pada kebutuhan belajar peserta belajar. Tingkatan belajar bergerak dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan tingkat belajar lanjut. Media yang digunakan meliputi berbagai jenis format seperti buku, majalah, microfilm, video, film, rekaman suara, dan computer. Mereka yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal dapat meneruskan studinya melalui kegiatan belajar secara informal secara belajar mandiri dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di perpustakaan. Dengan demikian perpustakaan memerankan fungsi demokratisasi dalam pendidikan karena memberikan kesempatan seluas- luasnya kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan pembelajaran. Satu syarat penting agar fungsi perpustakaan yang sudah dijelaskan di atas dapat secara optimal diwujudkan, anggota masyarakat yang akan menggunakan perpustakaan dituntut memiliki dua syarat penting yaitu kemampuan membaca dengan baik (reading ability) dan mempunyai kebiasaan membaca yang baik (reading habit), dua hal yang pada umumnya belum dimiliki oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Perpustakaan tidak saja mendorong berkembangnya “literacy” (kemampuan membaca dan menulis), tetapi lebih jauh dapat mengembangkan “functional literacy” (kemampuan membaca dan menulis secara fungsional) di rumah, pekerjaan dan masyarakt. Dan perpustakaan lebih lanjut dapat mengembangkan dan memenuhi apa yang disebut “ information literacy” yaitu kemampuan untuk memperoleh atau mencari informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan. Sesuai dengan perkembangan di bidang teknologi informasi maka information literacy dengan cepat berkembang ke suatu kebutuhan “electronic information technologies” yaitu informasi yang diperoleh melalui teknologi informasi. Hal ini mendorong suatu kebutuhan akan adanya perubahan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar. Pada awal 1960-an, khususnya di Amerika Serikat, beberapa perpustakaan universitas diubah namanya menjadi Pusat Sumber Belajar (Learning Resource Centre). Pusat Sumber Belajar ini memberikan layanan yang diperluas meliputi penelitian, pembelajaran, evaluasi belajar, pengembangan perkuliahan, layanan pelatihan, produksi bahan belajar di samping melaksanakan layanan bahan cetakan dan audio visual yang biasa dilaksanakan oleh perpustakaan, seperti seleksi (pemilihan), distribusi, dan penggunaan semua bahan belajar dan fasilitas. Tujuan yang utama adalah memperbaiki proses belajar peserta belajar dengan membantu mereview hasil penelitian, dan memilih metode pembelajaran terbaik dan bahan yang paling efektif yang akan diajarkan. Konsep

    Pusat Sumber Belajar mengubah organisasi informasi dan pengelolalaan perpustakaan dari “lingkungan hanya bahan cetak” menjadi “lingkungan bahan cetak dengan bahan non cetak” termasuk pada akhirnya semua teknologi yang lebih baru seperti bahan rekaman yang dibaca dengan mesin, CD-ROM, video disc. Melalui sumber dan layanan yang baru, pustakawan dapat membantu para pengajar mereview metode pembelajaran mereka dan menyarankan praktek yang lebih kreatif. Penyiapan bahan belajar yang baru, penyediaan bahan-bahan dan peralatan audio visual untuk menunjang perkuliahan menjadi suatu program bersama dengan layanan koleksi dan referensi perpustakaan yang sudah ada. Pengelolaan perpustakaan berubah karena dibutuhkan jenis- jenis personalia yang baru di samping staf perpustakaan yang sudah ada. Personalia yang dibutuhkan adalah yang mempunyai keterampilan dan pengetahuan dalam desain pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan bahan (media) pembelajaran, penyiapan bahan belajar, keterampilan dalam mengakses data atau informasi melalui internet. Tentu saja dibutuhkan juga staf teknis yang akan merawat agar semua peralatan dapat tetap berfungsi setiap saat digunakan. Pusat Sumber Belajar berfungsi melakukan pengadaan, pengembangan, produksi, pelatihan dan pelayanan dalam pemanfaatan sumber belajar (terutama bahan dan alat) untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran dibandingkan dengan perpustakaan yang hanya berfungsi melakukan pengadaan dan pelayanan pemanfaatan sumber belajar dalam rangka kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian perpustakaan mempunyai fungsi yang lebih sempit jika dibandingkan dengan fungsi Pusat Sumber Belajar, karena hanya melaksanakan sebagian saja fungsi yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar.

    Laboratorium Bidang Studi dan Proporsi Bangunan

    Pengertian Laboratorium

    Laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat dilakukannya percobaan atau penelitian.Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap atau alam terbuka misalnya kebun botani.Suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum. Atas dasar inilah pembahasan kita tentang pengelolaan laboratorium akan dibatasi pada laboratorium yang berupa ruang tertutup. Dalam pengelolaanlaboratorium, pengelolaannya meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut:

    • a. Perencanaan Perencanaan merupakan sebuah proses pemikiran yang sistematis, analitis, logis tentang kegiatan yang harus dilakukan, langkah-langkah, metode, SDM, tenaga dan dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien.

      • b. Penataan

    Tata letak peralatan adalah suatu bentuk usaha pengaturan penempatan peralatan di laboratorium, sehingga laboratorium tersebut berwujud dan memenuhi persyaratan untuk beroperasi. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun tata letak peralatan dan perabotan

    laboratorium adalah:

    • e. mudah dilihat

    • f. mudah dijangkau

    • g. aman untuk alat

    • h. aman untuk pemakai

    • c. Pengadministrasian

    Pengadministrasian sering juga disebut sebagai kegiatan menginventaris.Inventaris adalah sutu kegiatan dan usaha untuk mnyediakan catatan tentang keadaan semua fasilitas, barang-barang yang dimiliki sekolah. Daftar alat inventarisasi yang harus digunakan atau diisi, diantaranya:

    • g. Buku Induk Barang Inventaris

    • h. Buku Catatan Barang Inventaris

    • i. Buku Golongan Barang Inventaris

    • j. Laporan Triwulan Mutasi barang

    • k. Daftar Isian Barang

    • l. Daftar Rekapitulasi barang Inventaris

    • d. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan

    Pada dasarnya pengamanan, perawatan danpengawasan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan.

    Peryaratan Laboratorium.

    1. Bangunan/Gedung

    a. Persyaratan Umum

    • - Bentuk bangunan dan isinya berhubungan dengan kegiatan.

      • - penerangan cukup

      • - sirkulasi udara bersih dan lancar

    • - ruang gerak cukup

    • - tdpt tempat penyimpanan

    • - tdpt tempat pembuangan

    -Aman

    • b. Persyaratan lokasi Tidak terletak di arah angin menuju bangunan lainya Jauh dari sumber air bersih (10-15 m)

    Saluran pembuangan air yang baik Cukup jauh jaraknya dari bangunan lain:

    memberi ventilasi udara dan penerangan alami secara maksimal. Berada pada lokasi yang mudah dikontrol

    Mudah dicapai dari ruangan belajar lainnya Memilki halaman 2. Ruang Praktek

    • a. Bentuk Ruangan

    2)

    1) Empat persegi panjang ( panjang 6-12 m) Dinding muka dan belakang merupakan dinding penuh Dinding samping untuk penerangan alami dan ventilasi

    3) Tinggi ruang 3-3,5m 4.)Ruang praktek memilki 2 pintu masuk dan 1 pintu keluar 5) Daun pintu kearah luar

    • b. Penerangan

    1) memaksimalkan penerangan alami:

    - Jendela kaca

    - Penempatan: batas bawah 0,9m dari

    lantai dan

    batas

    atas 0,3 m dari

    LAngit-langit 2) ruangan memanjang dari Timur ke Barat

    untuk memperoleh pencahayaan

    sepanjang hari. penerangan buatan: 200 lux ( 40 watt x 20

    buah

    lampu neon)

    • c. Ventilasi 1) ventilasi silang pada kanan dan kiri dinding 2) berada dibawah langit-langit 3) kisis-kisi angina pada bagian bawah dinding tembok, untuk sirkulasi udara bagian bawah

    • d. Kenyamanan Perlunya pengaturan suhu dalam suangan dengan:

    memanam pohon pelindung lokasi tidak basah dan lembab

    • e. Keamanan 1) kegiatan lab dilakukan dngan pengawasan guru 2) menempatkan tabung gas secara sentral diluar ruangan, 3) pengaturan ruangan dengan memperhatikan ruang gerak siswa. 4) menyediakan alat pemadam dan keselamatan kerja lainya.

      • 3. Ruang Persiapan

      • 4. Ruang Penyimpanan

    BANGUNAN LAB = {(r.eksperimen + r.penunjang (instruktur & gudang))+ selasar + tanah kosong} = (100%+20% + 73 %) Dasar = kebutuhan m 2 setiap siswa X sejumlah siswa yang bereksperimen

    Strom, 50 – 65 square feet

    Strom, brown, spancer 50 – 70 sqr feet, jumlah siswa max 24 siswa Kebutuhan siswa 50 – 70 SF

    1 square feet = 0,0929 m 2

    1 siswa = 70 x 0,0929 = 6,48 m 2 untuk 20 siswa

     BAGUNAN LAB = RUANG + SELASAR = 144 M2  TANAH (UNTUK KENYAMANAN /SIRKULASI) =

    BAGUNAN LAB = RUANG + SELASAR = 144 M2 TANAH (UNTUK KENYAMANAN /SIRKULASI) = 73 % DARI BANGUNAN LAB 73/100 X 144 M2 = 105,12 M2 TOTAL AREA TANAH = 144 + 105,12 = 249,12 DIBULATKAN 250 M2

     Make up room= 240 area sq 40 number of student space  Dipecah = 240

    Make up room= 240 area sq 40 number of student space

    Dipecah

    = 240

    / 2 =120

    120 m 2 = P (15 m) x L (8m)

    40

    / 2 = 20

    Kebutuhan ; Selasar = 20 % X luas bangunan

    = 20 /100 X 120 = 24 m 2 24/Pjg.ruang = 24/15 = 1,6 m (1m utk lorong, 0,6 m utk teras ) Jadi lebar ruang lab = L. bangunan – L. selasar = 8 m – 1,6 m = 6,4 m Ruang penunjang =24/6,4 = 3,6 m dibulatkan 4 m = 6,4 x 4 = 25,6 m

    Ruang lab

    = 6,4 x 11 x 1

    = 70,4 m 2

    Total area bangunan

    = 70,4

    + 25,6 + 24

    = 120 m 2