Anda di halaman 1dari 15

24 Oktober 2016

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

PENGUKURAN FAKTOR-FAKTOR FISIKAKIMIA DI LINGKUNGAN AKUATIK

OLEH

NAMA
NIM
KELOMPOK
ASISTEN
NIM

: SARIMA ESTER MANULLANG


: 1503115640
:3
: ZULAMRI
:1303112325

LABORATORIUM EKOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di alam terdapat berbagai komponen hayati dan non hayati yang saling
mempengaruhi dan tidak terpisahkan satu sama lain. Komponen komponen
tersebut membentuk suatu sistem ekologi

atau ekosistem. Dalam sistem

ekologi,suatu organisme tidak dapat berdiri sendiri. Untuk kelangsungan


hidupnya,suatu organisme akan bergantung pada kehadiran organisme lain dan
sumber daya alam disekitarnya.
Pada ekosistem perairan terdapat berbagai jenis biota akuatik. Mereka selalu
hidup berkelompok membentuk komunitas yang saling berhubungan secara
kompleks dan memiliki respon yang berbeda terhadap lingkungan. Biota akuatik
merupakan kelompok biota,baik hewan maupun tumbuhan yang sebagian atau
seluruh hidupnya berada diperairan.
Untuk mencari spesies tertentu, maka kita harus mengetahui tempat hidupnya
khususnya spesies yang hidup di perairan dapat digolongkan menurut bentuk
kehidupan atau kebiasaan hidupnya,yaitu plankton,organisme yang melayanglayang di dalam air dan gerakannya kurang lebih tergantung pada arus. Beberapa
organisme zooplankton ada yang menunjukan gerakan berenang yang aktif yang
membantu mempertahankan posisi vertikal. Benthosadalah organisme yang
melekat atau sedang beristirahat pada dasar perairan atau yang hidup di dalam
sedimen di dasar perairan.
Melalui praktikum ini, kita dapat menentukan faktor-faktor fisika dan kimia
apa saja yang mempengaruhi suatu perairan dan mempelajari beberapa parameterparameter yang dapat digunakan untuk mengukur faktor-faktor tersebut, yang
dilakukan melalui pengamatan pengaruh faktor abiotik terhadap perairan dan
kehidupan organisme serta vegetasi di sekitarnya.

1.2Tujuan
Mengenali penggunaan beberapa teknik dan metoda dasar untuk mengukur
berbagai faktor fisika-kimia perairan, dan pencuplikan (sampling) komponen
biotik hewaninya khususnya berupa plankton dan bentos.

II TINJAUAN PUSTAKA
Sungai merupakan air permukaan yang bersifat mengalir. Air permukaan yang
ada seperti sungai dan danau banyak dimanfaatkan untuk keperluan manusia
seperti tempat penampungan air, alat transportasi, mengairi sawah dan keperluan
peternakan, keperluan industri, perumahan, sebagai daerah tangkapan air,
pengendali banjir,ketersediaan air, irigasi, tempat memelihara ikan dan juga
sebagai tempat rekreasi. Dilihat dari fungsinya sebagai tempat penampungan air
maka sungai mempunyaikapasitas tertentu dan dapat berubah karena kondisi
alami maupun antropogenik (Hendrawan, 2005).
Faktor Fisika, Kimia dan Biologi Perairan Sungai
Faktor fisika dan kimia air merupakan parameter untuk menentukan kualitas
suatu perairan.

Parameter fisika berupa

suhu,

kecerahan, kecepatan

arus,kekeruhan, tekstur substrat dan parameter kimia berupa DO, BOD, pH, NO3,
NH3,

PO4, Kalium (K+) dan bahan organik (C) substrat. Secara alami

keberadaan dan distribusi

biota di perairan sungai dipengaruhi oleh aktivitas

manusia, terutama yang menyebabkan perubahan faktor fisika dan kimia air,
polusi dan pemasukan spesies baru ke dalam badan air sungai. Suatu ekosistem
dikatakan baik jika faktor biotik dan abiotiknya saling mendukung.
Parameter Fisika
a. Suhu
Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika,dan kimia perairan. Suhu
juga berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik
memiliki kisaran suhu tertentu untuk pertumbuhannya (Effendi, 2003). Menurut
Fardiaz (1992), perubahan suhu akan menimbulkan beberapa dampak diataranya
adalah (1) jumlah oksigen terlarut dalam air menurun, (2) kecepatan reaksi kimia
meningkat, (3) kehidupan ikan dan organisme

air lainnya akan terganggu,

(4) menyebabkan kepunahan biota akuatik yang sensitif terhadap suhu yang
tinggi.Peningkatan suhu perairan sebesar 10oC menyebabkan terjadinya
peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2 3 kali lipat
yang diikuti dengan penurunan kadar oksigen terlarut (Barus, 2004). Menurut

Setiana (1996),

suhu akan mempengaruhi tingkat ketersediaan oksigen dan

nutrien dalam air. Perubahan suhu akan berpengaruh pula terhadap pola kehidupan
dan aktivitas biologi dalam air, termasuk pengaruhnya terhadap penyebaran biota
menurut batas kisaran toleransinya.
b. Kecerahan
Kecerahan adalah ukuran transparansi perairan yang diamati secara visual
dengan menggunakan keping Secchi. Kecerahan perairan dipengaruhi oleh
kandungan bahan-bahan halus yang terdapat dalam air baik berupa bahan organik
seperti plankton,jasad renik, detritus maupun bahan anorganik seperti partikel
pasir dan lumpur. Prinsip penentuan kecerahan air dengan keping Secchi adalah
berdasarkan batas pandangan kedalam air untuk melihat warna putih yang berada
didalam air. Semakin keruh suatu badan air akan semakin dekat batas pandangan,
sebaliknya apabila semakin jernih suatu badan air maka batas pandangan akan
semakin jauh (Effendi, 2003).
c. Kekeruhan
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat
dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang
tersuspensi dan terlarut, maupun bahan organik dan anorganik berupa plankton
dan mikroorganisme lain. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan
terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya proses respirasi dan daya lihat
organisme akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air
(Effendi, 2003).
d. Kecepatan Arus
Kecepatan arus suatu badan air sangat berpengaruh terhadap kemapuan badan
air untuk mengasimilasi dan mengangkut bahan pencemar. Kecepatan arus
digunakan untuk memperkirakan waktu suatu bahan pencemar akan mencapai
suatu lokasi tertentu (Effendi, 2003). Kecepatan arus air dari suatu badan air ikut

menentukan penyebaran organisme dan sumber makanan yang terdapat di


perairan.
e. Substrat
Substrat dasar
yang

akan

perairan

merupakan salah satu faktor ekologis utama

mempengaruhi struktur komunitas makrozoobenthos. Menurut

Yunitawati dkk., (2012), substrat dasar merupakan komponen yang sangat penting
bagi kehidupan organisme. Karakteristik substrat dapat mempengaruhi struktur
komunitas makrozoobenthos. Keadaan substrat di perairan penting untuk
diketahui. Kehidupan organisme air juga bergantung pada bahan dan ukuran
partikel dasar badan air. Organisme yang hidup pada substrat dasar suatu
ekosistem air sangat tergantung pada tipe substrat dan kandungan bahan organik
yang terdapat dalam substrat tersebut. Oleh karena itu analisis terhadap substrat
baik berupa tipe maupun terhadap kandungan bahan organik penting untuk
dilakukan.
Parameter Kimia
a. pH
Sebagian besar organisme akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai pH sekitar 6,5 sampai 8. Nilai pH sangat mempengaruhi proses
biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi yang akan berakhir pada pH yang
rendah (Effendi, 2003). Organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang
mempunyai nilai pH netral, dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai
basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya
terdapat antara 7 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat
basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan
menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Kenaikan pH di
atas netral akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang bersifat sangat toksik
bagi organisme (Barus, 2004).

b. DO (Disolved Oxygen)
Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam
ekosistem air, yaitu untuk respirasi sebagian besar organisme air. Kelarutan
oksigen di dalam air sangat dipengaruhi temperatur, dimana kelarutan maksimum
oksigen di dalam air pada temperatur 0 oC sebesar 14,16 mg/l O2, kelarutan ini
akan menurun jika temperatur air meningkat. Nilai oksigen terlarut di perairan
sebaiknya berkisar antara 6 sampai 8 mg/l(Barus, 2004).
Menurut Effendi (2003), kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian,
musiman, pencampuran masa air, pergerakan masa air, aktifitas fotosintesis,
respirasi dan limbah yang masuk ke badan air. Oksigen diperlukan dalam proses
oksidasi berbagai senyawa kimia dan respirasi berbagai organisme akuatik.
c. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) menyatakan jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh mikroorganisme aerob dalam pr roses penguraian senyawa
organik yang diukur pada suhu 20oC (Barus, 2004). Menurut Yuliastuti (2011),
semakin tinggi kandungan BOD dalam perairan mengindikasikan bahwa perairan
tersebut telah tercemar. Kandungan BOD dikatakan masih rendah dan dapat
dikategorikan sebagai perairan yang baik apabila berkisar antara 0 10 mg/l.
d. Nitrat (NO3)
Nitrat merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Keberadaan
nitrat di perairan sangat dipengaruhi oleh buangan yang berasal dari industri dan
pemupukan dari daerah pertanian. Secara alamiah, kadar nitrat biasanya rendah
namun kadar nitrat. dalam air dapat menjadi tinggi di daerah yang terdapat
aktivitas pemupukan yang mengandung nitrogen. Menurut Effendi (2003), nitrat
dapat digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat kesuburan perairan. Kadar
nitrat pada perairan oligotrofik berkisar 0 1 mg/l, perairan mesotrofik berkisar 1
5 mg/l, dan perairan eutrofik berkisar 5 50 mg/l.

e. Amoniak (NH3)
Adanya amoniak

merupakan indikator masuknya buangan permukiman.

Amoniak dalam air permukaan berasal dari air seni, tinja dan oksidasi zat organik
secara mikrobiologis yang berasal dari buangan pemukiman penduduk
(Sastrawijaya, 2000). Menurut Effendi (2003), keberadaan amoniak

sangat

tergantung pada kondisi pH dan suhu perairan. Pada pH < 7 sebagian besar
amoniak akan mengalami ionisasi sedangkan pada pH > 7 amoniak tidak
terionisasi sehingga bersifat toksik. Fosfat (PO4) Kandungan fosfat dalam
perairan umumnya tidak lebih dari 0,1 mg/l, kecuali pada perairan yang menerima
limbah dari aktivitas rumah tangga dan industri tertentu serta dari daerah pertanian
yang mendapat pemupukan fosfat. Oleh karena itu, perairan yang mengandung
kadar fosfat yang tinggi akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi.
f. Kalium (K+)
Kalium termasuk unsur yang esensial bagi pertumbuhan tanaman dan hewan.
Di perairan, kalium terdapat dalam bentuk ion atau berikatan dengan ion lain
membentuk garam yang mudah larut. Kadar kalium pada perairan tawar alami
biasanya kurang dari 10 mg/l. Rasio kadar kalium dan natrium yang terdapat di
perairan alami adalah 1 : 2 hingga 1 : 3. Kadar kalium yang terlalu tinggi melebihi
2000 mg/l akan berbahaya bagi makhluk hidup (Effendi, 2003). Menurut Boyd
(2001), ion kalium yang tidak diserap oleh tumbuhan akan tetap dalam larutan
atau berperan dalam reaksi pertukaran ion dengan sedimen. Konsentrasi kalium di
perairan alami biasanya berkisar antara 0,5 sampai 10 mg/l. Bahan Organik (C)
Substrat. Bahan organik utama yang terdapat di dalam air adalah asam amino,
protein,karbohidrat dan lemak. Komponen lain seperti asam organik, hidrokarbon,
vitamin dan hormon juga ditemukan di perairan, tetapi hanya 10 % dari material
organik tersebut yang mengendap sebagai substrat ke dasar perairan. Kadar bahan
organik

adalah

satu

hal

yang

sangat

berpengaruh

pada

kehidupan

makrozoobenthos, dimana kadar bahan organik ini adalah sebagai nutrisi bagi
makrozoobenthos tersebut. Tingginya kadar bahan organik pada suatu perairan
umumnya akan mengakibatkan meningkatnya jumlah populasi hewan benthos.
Sebagai organisme dasar, benthos menyukai substrat yang kaya akan bahan

organik. Maka pada perairan yang kaya bahan organik, umumnya terjadi
peningkatan populasi hewan benthos (Lusianingsih, 2011).

III METODE
3.1 Alat dan Bahan
a. Termometer
b. pH meter
c. Secci disk
3.2 Cara Kerja (dipasifkan)
1. Pengukuran Suhu Sungai
untuk
mengukur

air

sungai,

kita

gunakan

termometer.
Celupkan termometer kedalam air, tunggu hingga 1
menit, lalu lihat berapa suhu yg ditunjukkan di

termometer.
2. Pengukuran derajat keasaman (pH) air
Untuk mengukur pH air sungai, kita menggunakan

kertas indikator pH.


Celupkan kertas indikator pH kedalam air hanya
sebatas warna pada kertas tersebut, lalu kertas
diangkat

dan

warna

pada

kertas

indikator

pH

tersebut disesuaikan dengan panduan warna yang


disediakan.
3. Pengukuran derajat kecerahan air
Untuk mengukur kecerahan

air

sungai,

kita

menggunakan alat yang namanya Secci disk, dan

untuk pengukuran dilakukan sebanyak dua kali


Untuk pengukuran awal, secci disk dicelupkan dalam
air dalam keadaan melayang, lalu beri tanda pada

batas tali
Untuk pengukuran kedua, secci disk dicelupkan
hingga kedasar air sungai tersebut, lalu beri tanda

pada batas talinya.


Untuk mendapatkan hasil pengukuran adalah ratarata dari kedua pengukuran.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Tabel faktor-faktor fisika-kimia dilingkungan akuatik.
faktor

fisika-

kimia
Ph
faktor

stasiun 1

stasiun 2

stasiun 3

fisika- stasiun

kimia
kecerahan
faktor

fisika-

kimia
suhu

1 stasiun

2 stasiun

(cm)
47,5

(cm)
23

(cm)
24

stasiun 1

stasiun 2

stasiun 3

27,3

29

28

Derajat keasaman (pH) air


7
6
5
4
3
2
1
0

Ph

Grafik 1.1 derajat keasaman (pH) air sungai

kecerahan
60
40
20
0

kecerahan

Grafik 1.2 derajat kecerahan air sungai

suhu
30
29

suhu

28
27
26
stasiun 1 stasiun 2 stasiun 3

Grafik 1.3 Suhu air sungai


4.2 Pembahasan
Pada percobaan faktor fisiko-kimia lingkungan akuatik ini dilakukan uji
pengukuran suhu air,derajat keasaman(pH) air dan pengukuran derajat kecerahan
air. Dimana tinggi rendahnya suhu suatu perairan sangat ditentukan oleh beberapa
faktor yaitu intensitas cahaya matahari yang menembus suatu perairan.

Pengukuran Suhu Air

Pengukuran suhu dilakukan dengan cara mencelupkan thermometer kedalam


perairan. Thermometer akan diikat pada bagian pangkal (bukan ujung air
raksa),kemudian thermometer digantung pada permukaan perairan dan dilakukan
pencatatan pengukuran pada waktu yang telah ditentukan yaitu di jam
10.00,12.00, 14.00 dan 16.00 yang diambildi tiga stasiun yang berbeda
pula,selama beberapa menit dan suhu dibaca setelah thermometer menunjukkan
angka konstan. Hasil yang digunakan adalah rata-rata dari suhu pada ketiga lahan
tersebut dari transek 1 dan transek 2 yang kemudian dijumlahkan dan dibagi dua.
Dimana suhu yang diperoleh secara keseluruhan memiliki rata-rata 28,53o C.

Pengukuran Derajat Keasaman (pH) Air.

Percobaan ini dapat dilakukan menggunakan kertas indikator universal yang


dicelupkan ke air sungai dengan hasilnya akan dicocokan dengan warna sesuai
ukuran pH pada kotak kertas indikator universal tersebut,dari hasil pengamatan
diperoleh pH sebesar 6. Secara teoritis,nilai pH yang normal pada suatu perairan
seperti sungai adalah sekitar antara 6-8. Dari hasil pengamatan menunjukan

bahwa kondisi perairannya memilki nilai produktifitas perairan yang cukup baik
bagi organisme-organisme kecil untuk berkembang,dimana O2terlarut pada
perairan merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan hewan dan tanaman dalam
air. Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap biota air
sehingga sering digunakan sebagai parameter atau sebagai petunjuk untuk
menyatakan baik buruknya keadaan perairan sebagai lingkungan hidup.
Rendahnya pH suatu perairan disebabkan karena kandungan asam sulfat yang
terkandung pada perairan cukup tinggi. Sebaliknya untuk tingginya pH suatu
perairan dapat disebabkan oleh tingginya kandungan kapur yang masuk ke
perairan tersebut.

Pengukuran Derajat Kecerahan Air

Kecerahan adalah suatu ukuran untuk menentukan daya penetrasi cahaya matahari
yang masuk kedalam perairan. Dimana hal ini berbanding terbalik dengan
kekeruhan. Secara teoritis, Kecerahan yang produktif adalah 20-40 cm dari
permukaan air. Tinggi rendahnya tingkat kecerahan perairan dapat mempengaruhi
pertumbuhan fitoplankton yanga ada didalamnya.
Pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan keping secchi. Keping secchi
adalah keping bulat yang terbuat dari logam plexiglass dengan bagian atasnya
terbagi empat sektor yang sama dan diberi warna putih dan hitam berselang
seling.
Dari hasil yang didapatkan,setelah pengukuran sebanyak dua kali yaitu
pengukuran sampai warna keping mulai tidak terlihat dengan pengukuran sampai
warna keping tidak terlihat sama sekali. Dimana tujuan diadakannya penghitungan
dua kali ini adalah agar hasil yang didapat menjadi lebih akurat dan kita bisa
melihat perbandingan besar perbedaan antara saat keping mulai tidak terlihat
dengan saat keping benar-benar tidak terlihat lagi.cara untuk menghitung
kecerahan airnya yaitu :
Kecerahan air (cm) =Jarak hilang (cm) + Jarak tampak (cm)
2

Dimana setelah dirata-ratakan derajat kecerahan yang didapat adalah 24


cm,yang berarti tingkat kecerahan pada air sungaisudah termasuk produktif untuk
membantu pertumbuhan fitoplankton yang ada di perairannya.

V.KESIMPULAN
Dari hasil praktikum lapangan, didapatkan kesimpulan :
1. Faktor-faktor fisika-kimia yang mempengaruhi lingkungan
akuatik

adalah

pH,

kecerahan,

dan

Suhu

air

sungai

tersebut.
2. Faktor-faktor ini mempengaruhi organisme yang dapat
hidup di lingkungan akuatik tersebut.
3. Untuk pengukuran suhu sungai memiliki

suhu

yang

berbeda-beda diakibatkan intesitas cahaya yang diterima


saat pagi hari berbeda dengan intesitas cahaya saat siang
hari.
4. pH yang didapat saat praktikum 6, merupakan pH yang
dimana memungkinkan ikan-ikan dapat hidup jika berada
didalamnya.

VI. Daftar Pustaka


Effendi, H. (2003).Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber
Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.
Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem
Air Daratan.
Medan:USU Press.
Fardiaz, S. 1992.Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Kanisius.
Setiana, A. 1996. Pengendalian Pencemaran Air di Daerah
Pengaliran Sungai
(DPS);

Pengelolaan

Daerah

Pengaliran

Sungai

Terpadu.Jakarta: BPPT
Yunitawati., Sunarto dan Z. Hasan. 2012. Hubungan antara
Karakteristik Substrat
dengan Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Sungai
Cantigi,

Kabupaten

Indramayu.

Jurnal

Perikanan

dan

Kelautan. 3(3) : 221 227.


Yuliastuti,

E.

2011.

Kajian

Kualitas

Air

Sungai

Ngringo

Karanganyar dalam
Upaya

Pengendalian

Pencemaran

Air.

(Thesis).Semarang:Universitas Diponegoro.
Lusianingsih, N. 2011. Keanekaragaman Makrozoobenthos di
Sungai Bah Bolon
Kabupaten

Simalungun

Sumatera

Medan:Universitas Sumatera Utara.

Utara.

[Skripsi].

Sastrawijaya, T. 2000. Pencemaran Lingkungan.Bandung: Rineka


Cipta.