Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


GANGGUAN ASMA

Oleh:
Ni Made Ayu Chintya Dewi Arjana
P07120213028

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES


DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ASMA

1.

Konsep Dasar Asma


a.

Pengertian
Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas
sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan
manifestasi berupa serangan asma (Ngastiyah, 2005).
Asma

adalah penyakit yang menyebabkan otot-otot di sekitar

saluran bronchial (saluran udara) dalam paru-paru mengkerut, sekaligus


lapisan saluran bronchial mengalami peradangan dan bengkak (Espeland,
2008).
Asma

adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi

hipersensitif mukosa bronkus terhadap bahan alergen (Riyadi, 2009).


b.

Patofisiologi
1) Etiologi
Adapun faktor penyebab dari asma adalah faktor infeksi dan faktor non
infeksi. Faktor infeksi misalnya virus, jamur, parasit, dan bakteri
sedangkan faktor non infeksi seperti alergi, iritan, cuaca, kegiatan
jasmani dan psikis (Mansjoer, 2000).
2) Proses terjadi
Faktor-faktor penyebab seperti virus, bakteri, jamur, parasit, alergi,
iritan, cuaca, kegiatan jasmani dan psikis akan merangsang reaksi
hiperreaktivitas bronkus dalam saluran pernafasan sehingga merangsang
sel plasma menghasilkan imonoglubulin E (IgE). IgE selanjutnya akan
menempel pada reseptor dinding sel mast yang disebut sel mast
tersensitisasi. Sel mast tersensitisasi akan mengalami degranulasi, sel
mast yang mengalami degranulasi akan mengeluarkan sejumlah
mediator seperti histamin dan bradikinin. Mediator ini menyebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler sehingga timbul edema mukosa,
peningkatan produksi mukus dan kontraksi otot polos bronkiolus. Hal
ini akan menyebabkan proliferasi akibatnya terjadi sumbatan dan daya
konsulidasi pada jalan nafas sehingga proses pertukaran O 2 dan CO2
terhambat akibatnya terjadi gangguan ventilasi. Rendahnya masukan O2
ke paru-paru terutama pada alveolus menyebabkan terjadinya

peningkatan tekanan CO2 dalam alveolus atau yang disebut dengan


hiperventilasi, yang akan menyebabkan terjadi alkalosis respiratorik dan
penurunan CO2 dalam kapiler (hipoventilasi) yang akan menyebabkan
terjadi asidosis respiratorik. Hal ini dapat menyebabkan paru-paru tidak
dapat memenuhi fungsi primernya dalam pertukaran gas yaitu
membuang karbondioksida sehingga menyebabkan konsentrasi O2
dalam alveolus menurun dan terjadilah gangguan difusi, dan akan
berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana oksigenisasi ke jaringan
tidak memadai sehingga akan terjadi hipoksemia dan hipoksia yang
akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis.

Web of Caution (WOC) Asma

Etiologi
Faktor infeksi
Virus (respiratory syntitial virus) dan
virus parainfluenza
Bakteri (pertusis dan streptoccus)
Jamur (aspergillus)
Parasit (ascaris)

Faktor non infeksi


Alergi
Iritan
Cuaca
Kegiatan jasmani
Psikis

Reaksi hiperaktivitas bronkus

Antibody muncul (IgE)

Sel mast mengalami degranulasi

Mengeluarkan mediator (histamin dan bradikinin)


Peningkatan produksi mukusEdema
mukosaKontraksi otot polos bronkus
Anoreksia

Mempermudah proliferasi

Terjadi sumbatan dan daya konsolidasi

Gangguan ventilasi

Perubahan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

Hipoventilasi Hiperventilasi

Batuk, pilek
Mengi / wheezing
Sesak
Bersihan
jalan nafas
tak efektif

Konsentrasi O2 dalam alveolus menurunKonsentrasi CO2


dalam alveolus meningkat
Gangguan difusi

Oksigenasi ke jaringan tidak memadai

Gangguan perfusi
Hipoksemia dan hipoksia

Keluarga bertanya tentang


penyakit keluarganya
Cemas dan gelisah

Sianosis
Takipnea
Gelisah
Nafas cuping hidung
Retraksi otot dada
Kerusakan
pertukaran gas

Ansietas

3) Manifestasi klinis

Kelelahan
Lemah
Intoleransi
aktivitas

Dada terasa
tertekan / sesak,
nyeri dada, nadi
meningkat
Nyeri

Adapun

manifestasi

klinis

yang

ditimbulkan

antara

lain

mengi/wheezing, sesak nafas, dada terasa tertekan atau sesak, batuk,


pilek, nyeri dada, nadi meningkat, retraksi otot dada, nafas cuping
hidung, takipnea, kelelahan, lemah, anoreksia, sianosis dan gelisah.
4) Komplikasi
Adapun komplikasi yang timbul yaitu bronkitis berat, emfisema,
atelektasis, pneumotorak dan bronkopneumonia.
c.

Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Radiologi
a)

Foto thorak
Pada foto thorak akan tampak corakan paru yang meningkat,
hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik,
atelektasis juga ditemukan pada anak-anak 6 tahun.

b) Foto sinus paranasalis


Diperlukan jika asma

sulit terkontrol untuk melihat adanya

sinusitis.
2) Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung,
bila tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma .
3) Uji faal paru
Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi
bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit.
Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter,
caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya
menarik nafas dalam melalui mulut kemudian menghebuskan dengan
kuat).
4) Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Alergen
yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya.

d.

Penatalaksanaan medis

1) Oksigen 4 - 6 liter / menit


2) Pemeriksaan analisa gas darah mungkin memperlihatkan penurunan
konsentrasi oksigen.
3) Anti inflamasi (Kortikosteroid) diberikan untuk menghambat inflamasi
jalan nafas.
4) Antibiotik diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi.
5) Pemberian obat ekspektoran untuk pengenceran dahak yang kental.
6) Bronkodilator untuk menurunkan spasme bronkus/melebarkan bronkus.
7) Pemeriksaan foto torak.
8) Pantau tanda-tanda vital secara teratur agar bila terjadi kegagalan
pernafasan dapat segera tertolong.
2.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


a.

Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan (Gaffar, 1999). Pada
tahap ini akan dilaksanakan

pengumpulan,

pengelompokan

dan

penganalisaan data. Pada pengumpulan data akan diperoleh data subyektif


yaitu data yang diperoleh dari keterangan pasien atau orang tua pasien. Data
obyektif diperoleh dari pemeriksaan fisik. Dari data subyektif pada pasien
asma biasanya diperoleh data anak dikeluhkan sesak nafas, batuk, pilek,
nafsu makan menurun, lemah, kelelahan dan gelisah. Dari data obyektif
diperoleh data mengi/wheezing berulang, ronchi, dada terasa tertekan atau
sesak, pernapasan cepat (takipnea), sianosis, nafas cuping hidung dan
retraksi otot dada.
b.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa :
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan tachipnea,
peningkatan produksi mukus, kekentalan sekresi dan bronchospasme.
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
kapiler-alveolar.
3) Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan bronkus.
4) Nyeri akut: ulu hati berhubungan dengan proses penyakit.

5) Cemas berhubungan dengan kesulitan bernafas dan rasa takut sufokasi.


6) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor psikologis dan biologis yang mengurangi pemasukan
makanan.
7) Kurang pengetahuan berhubungan dengan faktor-faktor pencetus asma.
8) Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

batuk

persisten

ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan tubuh.

c. Perencanaan Keperawatan

dan

NO

DIAGNOSA

TUJUAN DAN KRITERIA

KEPERAWATAN

HASIL (NOC)

INTERVENSI (NIC)

Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan tindakanNIC :


tidak
efektif
b.d. keperawatan selama 3 x 24Airway Management
tachipnea, peningkatan jam, pasien mampu :
- Buka jalan nafas, guanakan teknik
produksi
mukus, 1. Respiratory
status
: chin lift atau jaw thrust bila perlu.
kekentalan sekresi dan Ventilation
- Posisikan
pasien
untuk
bronchospasme.
2. Respiratory
status
: memaksimalkan ventilasi.
Airway patency
- Identifikasi
pasien
perlunya
3. Aspiration Control
pemasangan alat jalan nafas
Dgn kriteria hasil :
buatan.
1. Mendemonstrasikan
- Pasang mayo bila perlu.
batuk efektif dan suara- Lakukan fisioterapi dada jika
nafas yang bersih, tidak perlu.
ada sianosis dan dyspneu- Keluarkan sekret dengan batuk
(mampu
mengeluarkan atau suction.
sputum, mampu bernafas- Auskultasi suara nafas, catat
dengan mudah, tidak ada adanya suara tambahan.
pursed lips)
- Lakukan suction pada mayo.
2. Menunjukkan jalan nafas- Berikan bronkodilator bila perlu.
yang paten (klien tidak- Atur
intake
untuk
cairan
merasa tercekik, irama mengoptimalkan keseimbangan.
nafas,
frekuensi- Monitor respirasi dan status O2.
pernafasan dalam rentang
normal, tidak ada suara
nafas abnormal)
3. Mampu
mengidentifikasikan dan
mencegah factor yang
dapat menghambat jalan
nafas

Gangguan
gas
b.d
membran
alveolar.

pertukaranSetelah dilakukan tindakanNIC :


perubahankeperawatan selama 3 x 24Airway Management
kapilerjam, pasien mampu :
- Buka jalan nafas, gunakan teknik
1. Respiratory Status : Gas chin lift atau jaw thrust bila perlu.
exchange

2. Respiratory Status :
- Posisikan
pasien
untuk
Ventilation
memaksimalkan ventilasi.
3. Vital Sign Status
- Identifikasi
pasien
perlunya
Dengan kriteria hasil :
pemasangan alat jalan nafas
1. Mendemonstrasikan
buatan.
peningkatan ventilasi dan- Pasang mayo bila perlu.
oksigenasi yang adekuat - Lakukan fisioterapi dada jika
2. Memelihara kebersihan perlu.
paru paru dan bebas dari- Keluarkan sekret dengan batuk
tanda
tanda
distress atau suction.
pernafasan
- Auskultasi suara nafas, catat
3. Mendemonstrasikan
adanya suara tambahan.
batuk efektif dan suara- Lakukan suction pada mayo.
nafas yang bersih, tidak- Berikan bronkodilator bila perlu.
ada sianosis dan dyspneu- Atur
intake
untuk
cairan
(mampu
mengeluarkan mengoptimalkan keseimbangan.
sputum, mampu bernafas- Monitor respirasi dan status O2.
dengan mudah, tidak ada
pursed lips)
4. Tanda tanda vital dalamRespiratory Monitoring
rentang normal
- Monitor rata rata, kedalaman,
irama dan usaha respirasi.
- Catat pergerakan dada, amati
kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan,
retraksi
otot
supraclavicular dan intercostal.
- Monitor suara nafas, seperti
dengkur.
- Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi, cheyne stokes, biot.
- Catat lokasi trakea.
- Monitor
kelelahan
otot
diagfragma (gerakan paradoksis).
- Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan.
- Tentukan
kebutuhan
suction
dengan mengauskultasi crakles
dan ronkhi pada jalan napas
utama.
- Auskultasi suara paru setelah
tindakan
untuk
mengetahui
hasilnya.

Pola Nafas tidak efektifSetelah dilakukan tindakanNIC :


b.d.
penyempitankeperawatan selama 3 x 24
bronkus.
jam, pasien mampu :
Airway Management
1. Respiratory status :
- Buka jalan nafas, guanakan teknik
Ventilation
chin lift atau jaw thrust bila perlu.
2. Respiratory
status
: - Posisikan
pasien
untuk
Airway patency
memaksimalkan ventilasi.
3. Vital sign Status
- Identifikasi
pasien
perlunya
Dengan Kriteria Hasil :
pemasangan alat jalan nafas
1. Mendemonstrasikan
buatan.
batuk efektif dan suara - Pasang mayo bila perlu.
nafas yang bersih, tidak - Lakukan fisioterapi dada jika
ada sianosis dan dyspneu perlu.
(mampu
mengeluarkan - Keluarkan sekret dengan batuk
sputum, mampu bernafas atau suction.
dengan mudah, tidak ada - Auskultasi suara nafas, catat
pursed lips)
adanya suara tambahan.
2. Menunjukkan jalan nafas - Lakukan suction pada mayo.
yang paten (klien tidak - Berikan bronkodilator bila perlu.
merasa tercekik, irama - Berikan pelembab udara Kassa
nafas,
frekuensi basah NaCl Lembab.
pernafasan dalam rentang - Atur
intake
untuk
cairan
normal, tidak ada suara mengoptimalkan keseimbangan.
nafas abnormal)
- Monitor respirasi dan status O2.
3. Tanda Tanda vital dalam
rentang normal (tekananTerapi Oksigen
darah, nadi, pernafasan) - Bersihkan mulut, hidung dan
secret trakea.
- Pertahankan jalan nafas yang
paten.
- Atur peralatan oksigenasi.
- Monitor aliran oksigen.
- Pertahankan posisi pasien.
- Observasi adanya tanda tanda
hipoventilasi.
- Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenasi.
Vital sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, dan RR.
- Catat adanya fluktuasi tekanan
darah.
- Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri.
- Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan.
- Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas.

- Monitor kualitas dari nadi.


- Monitor frekuensi dan irama
pernapasan.
- Monitor suara paru.
- Monitor
pola
pernapasan
abnormal.
- Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit.
- Monitor sianosis perifer.
- Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik).
- Identifikasi
penyebab
dari
perubahan vital sign.
4

Nyeri akut; ulu hatiSetelah dilakukan tindakanNIC :


berhubungan
dengankeperawatan selama 3 x 24Pain Management
proses penyakit.
jam, pasien mampu :
- Lakukan pengkajian nyeri secara
1. Pain Level,
komprehensif termasuk lokasi,
2. Pain control,
karakteristik, durasi, frekuensi,
3. Comfort level
kualitas dan faktor presipitasi.
Dengan Kriteria Hasil :
- Observasi reaksi nonverbal dari
Mampu mengontrol nyeri ketidaknyamanan.
(tahu
penyebab
nyeri, - Gunakan
teknik
komunikasi
mampu menggunakan tehnik terapeutik untuk mengetahui
nonfarmakologi
untuk pengalaman nyeri pasien.
mengurangi nyeri, mencari - Kaji kultur yang mempengaruhi
bantuan)
respon nyeri.
Melaporkan bahwa nyeri - Evaluasi pengalaman nyeri masa
berkurang
dengan lampau.
menggunakan
manajemen - Evaluasi bersama pasien dan tim
nyeri
kesehatan
lain
tentang
Mampu mengenali nyeri ketidakefektifan kontrol nyeri
(skala, intensitas, frekuensi masa lampau.
dan tanda nyeri)
- Bantu pasien dan keluarga untuk
Menyatakan rasa nyaman mencari
dan
menemukan
setelah nyeri berkurang
dukungan.
Tanda vital dalam rentang - Kontrol lingkungan yang dapat
normal
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan.
- Kurangi faktor presipitasi nyeri.
- Pilih dan lakukan penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi dan inter personal).
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi.
- Ajarkan tentang teknik non
farmakologi.

- Berikan
analgetik
untuk
mengurangi nyeri.
- Evaluasi
keefektifan
kontrol
nyeri.
- Tingkatkan istirahat.
- Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil.
- Monitor
penerimaan
pasien
tentang manajemen nyeri.
Analgesic Administration
- Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
- Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
- Tentukan
pilihan
analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri
- Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara
teratur
- Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
- Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
- Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek samping)
5

Cemas
berhubunganSetelah dilakukan tindakanNIC :
dengan
kesulitankeperawatan selama 3 x 24 - Anxiety Reduction (penurunan
bernafas dan rasa takutjam, pasien mampu :
kecemasan)
sufokasi.
1. Anxiety control
- Gunakan
pendekatan
yang
2. Coping
menenangkan
3. Impulse control
- Nyatakan dengan jelas harapan
Dengan Kriteria Hasil :
terhadap pelaku pasien
1. Klien mampu
- Jelaskan semua prosedur dan apa
mengidentifikasi dan
yang dirasakan selama prosedur
mengungkapkan gejala - Pahami prespektif pasien terhadap
cemas
situasi stres
2. Mengidentifikasi,
- Temani pasien untuk memberikan
mengungkapkan dan
keamanan dan mengurangi takut

menunjukkan tehnik
untuk mengontol cemas
3. Vital sign dalam batas
normal
4. Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan

- Berikan
informasi
faktual
mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
- Dorong keluarga untuk menemani
anak
- Lakukan back / neck rub
- Dengarkan
dengan
penuh
perhatian
- Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi
yang menimbulkan kecemasan
- Dorong
pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
- Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan

Ketidakseimbangan
Setelah dilakukan tindakanNIC :
nutrisi kurang darikeperawatan selama 3 x 24Nutrition Management
kebutuhan tubuh b.d.jam, pasien mampu :
- Kaji adanya alergi makanan
faktor psikologis dan 1. Nutritional Status : food - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
biologis
yang and Fluid Intake
menentukan jumlah kalori dan
mengurangi pemasukan 2. Nutritional Status :
nutrisi yang dibutuhkan pasien
makanan.
nutrient Intake
- Anjurkan
pasien
untuk
3. Weight control
meningkatkan intake Fe
Dengan Kriteria Hasil :
- Anjurkan
pasien
untuk
1. Adanya peningkatan berat meningkatkan protein dan vitamin
badan sesuai dengan
C
tujuan
- Berikan substansi gula
2. Berat badan ideal sesuai - Yakinkan diet yang dimakan
dengan tinggi badan
mengandung tinggi serat untuk
3. Mampu mengidentifikasi
mencegah konstipasi
kebutuhan nutrisi
- Berikan makanan yang terpilih
4. Tidk ada tanda tanda
( sudah dikonsultasikan dengan
malnutrisi
ahli gizi)
5. Menunjukkan
- Ajarkan
pasien
bagaimana
peningkatan fungsi
membuat catatan makanan harian
pengecapan dari menelan - Monitor jumlah nutrisi dan
6. Tidak terjadi penurunan
kandungan kalori
berat badan yang berarti - Berikan
informasi
tentang
kebutuhan nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan
nutrisi
yang
dibutuhkan
Nutrition Monitoring
- BB pasien dalam batas normal

- Monitor adanya penurunan berat


badan
- Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
- Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
- Monitor
lingkungan
selama
makan
- Jadwalkan
pengobatan
dan
tindakan tidak selama jam makan
- Monitor
kulit
kering
dan
perubahan pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor
kekeringan,
rambut
kusam, dan mudah patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
- Monitor makanan kesukaan
- Monitor
pertumbuhan
dan
perkembangan
- Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
- Monitor kalori dan intake nuntrisi
- Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
- Catat
jika
lidah
berwarna
magenta, scarlet
7

Kurang
pengetahuanSetelah dilakukan tindakanNIC :
berhubungan
dengankeperawatan selama 3 x 24 - Teaching : disease Process
faktor-faktor pencetusjam, pasien mampu :
- Berikan penilaian tentang tingkat
asma.
1. Kowlwdge : disease
pengetahuan
pasien
tentang
process
proses penyakit yang spesifik
2. Kowledge : health
- Jelaskan
patofisiologi
dari
Behavior
penyakit dan bagaimana hal ini
Dengan Kriteria Hasil :
berhubungan dengan anatomi dan
1. Pasien dan keluarga
fisiologi, dengan cara yang tepat
menyatakan pemahaman - Gambarkan tanda dan gejala yang
tentang penyakit, kondisi,
biasa muncul pada penyakit,
prognosis dan program
dengan cara yang tepat
pengobatan
- Gambarkan proses penyakit,
2. Pasien dan keluarga
dengan cara yang tepat
mampu melaksanakan
- Identifikasi
kemungkinan
prosedur yang dijelaskan
penyebab, dengan cara yang tepat
secara benar
- Sediakan informasi pada pasien
3. Pasien dan keluarga
tentang kondisi, dengan cara yang
mampu menjelaskan
tepat

- Hindari harapan yang kosong


- Sediakan bagi keluarga atau
pasien
informasi
tentang
kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
- Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
- Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
- Dukung
pasien
untuk
mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
- Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang
tepat
- Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
- Instruksikan pasien mengenai
tanda
dan
gejala
untuk
melaporkan
pada
pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat
Intoleransi
aktivitasSetelah dilakukan tindakanNIC :
berhubungan
dengankeperawatan selama 3 x 24Activity Therapy
batuk persisten danjam, pasien mampu :
- Kolaborasikan dengan Tenaga
ketidakseimbangan
1. Energy conservation
Rehabilitasi
Medik
dalam
antara suplai oksigen 2. Activity tolerance
merencanakan progran terapi yang
dengan
kebutuhan 3. Self Care : ADLs
tepat
tubuh.
Dengan Kriteria Hasil :
- Bantu
klien
untuk
1. Berpartisipasi dalam
mengidentifikasi aktivitas yang
aktivitas fisik tanpa
mampu dilakukan
disertai peningkatan
- Bantu untuk memilih aktivitas
tekanan darah, nadi dan
konsisten yang sesuai dengan
RR
kemampuan fisik, psikologi dan
2. Mampu melakukan
social
aktivitas sehari hari
- Bantu untuk mengidentifikasi dan
(ADLs) secara mandiri
mendapatkan
sumber
yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
- Bantu untuk mendapatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
- Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas disukai
kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya

- Bantu klien untuk membuat


jadwal latihan diwaktu luang
- Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi
kekurangan
dalam beraktivitas
- Sediakan penguatan positif bagi
yang aktif beraktivitas
- Bantu
pasien
untuk
mengembangkan motivasi diri
dan penguatan
- Monitor respon fisik, emosi,
social dan spiritual

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC
Doengoes Marilyn.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey:Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Nanda International. 2012. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC
Potter & Perry.2006. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Mengetahui

Bangli, 5 Desember 2014

Pembimbing Praktik

Mahasiswa

Ni Made Ayu Chintya Dewi


NIP:

NIM: P07120213028

Mengetahui
Pembimbing Akademik

NIP: