Anda di halaman 1dari 9

GAMBARAN RADIOGRAFI PADA KASUS JARUM ANESTESI YANG PATAH

Jiseon Lee, Min Woo Park, Min Keun Kim, Soung Min Kim, Kwang-Suk Seo
Reviewer
1
1
Charmelita Clara Siahaan , Cita Chusnul Chotimah , Fida Thahirah1, Ichma Amarviana Bekti1, Primarizka Iswara Laksmi1
Felix Stianto2
1
Mahasiswa Profesi Kedokteran, Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah
2
Bagian Ilmu Radiologi, Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah
ABSTRAK
Pengahuluan: Tindakan nestesi lokal dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang terjadi, salah satu komplikasi lokal yang dapat terjadi adalah
patah jarum. Pencarian patahan jarum di dalam tubuh tanpa penentuan lokasi yang tepat sebelum operasi dapat menyebabkan komplikasi yang
lebih lanjut dan kondisi yang membahayakan pasien. Radiografi berguna untuk menjelaskan adanya dimensi dan perkiraan posisi jarum.
Diperlukan CT-scan yang berguna dalam eksplorasi pembedahan untuk menunjukkan posisi jarum yang tepat. Laporan Kasus: Seorang wanita
berusia 68 tahun dengan riwayat medis hipertensi dan aritmia dirujuk ke Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial di Rumah Sakit Gigi
Universitas Nasional Seoul. Pasien dijadwalkan menjalani operasi pemasangan implan pada daerah posterior rahang bawah kiri di klinik. Namun,
jarum patah saat anestesi blok nervus alveolar inferior. Ahli bedah gagal untuk mengambil jarum dibawah anestesi umum menggunakan CT
(computed tomography). Pasien mengalami kesulitan membuka mulut karena sakit dan operasi sebelumnya. Hasil: Radiografi terdiri dari radiografi
panoramik, posterior-anterior skull dan lateral skull menegaskan bahwa jarum patah berada di ruang pterygomandibular kiri. Hasil radiografi
panoramik mengungkapkan bahwa jarum berada di perbatasan posterior ramus mandibula. Berdasarkan data tersebut, diputuskan bahwa
eksplorasi bedah dibawah anestesi umum adalah langkah berikutnya yang paling tepat untuk mengambil jarum. Simpulan: Kasus patahnya jarum
paling sering terjadi pada saat anastesi blok alveolaris inferior, untuk mencegahhal tersebut sebaiknya digunakan jarum 25 gauge dan panjang 35
mm. Pada proses pengambilan jarum dibutuhkan gambaran letak dan posisi yang tepat dari jarum tersebut, maka penggunaan radiografi dan CTscan sangat dibutuhkan pada kasus ini.
Kata kunci: jarum gigi yang patah, anestesi lokal, radiografi, komplikasi

PENDAHULUAN

jarum, parastesi, paralisis wajah, trismus, trauma pada

Pemberian anestesi lokal adalah salah satu

jaringan, hematoma, rasa sakit, rasa terbakar, infeksi,

tindakan yang paling sering dilakukan dalam bidang

edema, pengelupasan jaringan, dan lesi intraoral setelah

kedokteran gigi. penggunaan anestesi lokal bertujuan

anestesi.4

untuk mengurangi sensasi nyeri dan kecemasan selama

Kejadian patahnya jarum dilaporkan jarang

prosedur pembedahan. Efek anestesi ini dihasilkan oleh

terjadi, namun dapat terjadi karena teknik operator yang

aplikasi atau injeksi sejumlah agen farmakologis untuk

buruk, penyebab lainnya adalah pergerakan pasien

menghilangkan nyeri pada daerah yang spesifik di

yang tiba-tiba dan jarum yang cacat dari pabrik.

rongga mulut selama periode waktu yang singkat.2

Patahnya jarum paling sering dilaporkan pada saat

Menurut

Malamed,

anestesi

lokal

adalah

anestesi blok nervus alveolaris inferior, dan kepustakaan

tindakan yang paling aman dan paling efektif untuk

menitikberatkan pada penguraian teknik penempatan

pencegahan dan penatalaksanaan nyeri. Meskipun

jarum.5,6 Kejadian patahnya jarum lebih sering terjadi

demikian ada sejumlah komplikasi yang mungkin terjadi

pada penggunaan jarum dengan diameter yang lebih

dan berhubungan dengan anestesi lokal. Komplikasi

kecil dan sering terjadi pada hub (pangkal jarum).

lokal merupakan komplikasi yang terjadi pada sekitar

Kebanyakan dokter gigi menggunakan jarum 27 gauge

area injeksi, sedangkan komplikasi sistemik merupakan

35 mm untuk anestesi blok nervus alveolaris inferior

komplikasi yang melibatkan respon sistemik tubuh

pada orang dewasa, kadang muncul persepsi bahwa

terhadap pemberian anestesi lokal. Komplikasi sistemik

penggunaan jarumyang lebih kecil (30 gauge) dapat

pada penggunaan anestesi lokal termasuk overdosis

mengurangi rasa ketidaknyamanan pada pasien. Hal ini

(reaksi toksik), alergi, dan reaksi psikogenik, sedangkan

bahkan ditunjukkan bahwa terdapat sedikit perbedaan

komplikasi lokal menurut Malamed termasuk patah

dalam persepsi rasa nyeri antara penggunaan jarum 27


1

dan 30 gauge. Telah diketahui juga bahwa defleksi


jarum dan tekanan mendorong pada syringe adalah
lebih besar pada jarum dengan gauge yang lebih kecil.
Selain

itu,

pembengkokan

memperlemah

jarum

sehingga dapat mengubah arah jarum yang sedang


terdapat di dalam jaringan. Semua hal di atas dapat
berperan dalam patahnya jarum dan karena itulah
sebaiknya dihindari penggunaan jarum 30 gauge untuk
blok nervus alveolaris inferior.5
Pencarian benda asing (patahan jarum) di dalam
tubuh tanpa penentuan lokasi yang tepat sebelum
operasi dan tanpa peralatan pembedahan yang standar
dapat menyebabkan komplikasi yang lebih lanjut dan
kondisi yang membahayakan pasien. Beragam metode
telah dijelaskan untuk menentukan lokasi patahnya
jarum pada ruang pterygomandibula. Radiografi biasa
diambil dari beberapa sudut dan seringkali merupakan
pilihan pemeriksaan awal. Kombinasi yang paling sering
dilakukan adalah radiografi panoramik gigi dan
gambaran posteroanterior. Radiografi berguna untuk
menjelaskan adanya, dimensi dan perkiraan posisi
jarum (Gambar 1). 7
Gambar 2.Gambaran CT-scan

CT-scan menjadi pilihan pemeriksaan penunjang,


karena dapat menjelaskan posisi jarum secara akurat
terhadap anatomical landmark, khususnya dengan 3D
yang diformat ulang. Adanya CT-Scanner helical modern
membuat hasil yang cepat dari data volumetrik collimate
Gambar 1. Radigrafi panoramik gigi menujukkan posisi
jarum yang patah (panah)

Gambaran

radiografi

tidak

cukup

untuk

menunjukkan posisi jarum yang tepat dan hubungannya


terhadap struktur di sekitarnya.Untuk informasi ini, yang
dapat diperoleh dari CT-scan (Gambar 2) yang
sebelumya

sangat

berguna

dalam

eksplorasi

pembedahan. Insisi dan eksplorasi lokasi dapat


ditentukan dari informasi yang terdapat pada CT-scan.8,9

tipis, dengan ketebalan 0,5-1 mm, yang selanjutnya


dapat diformat ulang untuk menghasilkan gambar 3D
yang lebih detil. Meskipun demikian, tampakan restorasi
kadang menghasilkan cahaya yang mempertajam
benda-benda asing atau artefak yang mempengaruhi
kualitas gambar.5,8,9,10
Tujuan jurnal ini yaitu untuk mengetahui
penggunaan radiografi pada penanganan patahnya
jarum saat anestesi blok.
2

LAPORAN KASUS

Diseksi tumpul digunakan sepanjang ramus untuk

Seorang wanita berusia 68 tahun dengan riwayat

mengekspos ruang pterygomandibular. Sebuah retraktor

medis hipertensi dan aritmia (pada obat-obatan) dirujuk

lunak yang digunakan untuk melindungi lingual dan

oleh dokter giginya ke Departemen Bedah Mulut dan

nervus alveolar inferior. Eksplorasi lebih lanjut dari ruang

Maksilofasial di Rumah Sakit Gigi Universitas Nasional

pterygomandibular dilakukan dengan menggunakan

Seoul.

operasi

mikroskop. Ujung fragmen jarum diidentifikasi di bawah

pemasangan implan pada daerah posterior rahang

mikroskop. Jarum yang patah diambil menggunakan

bawah kiri di klinik. Namun, jarum patah saat anestesi

forcep hemostat. Panjang fragmen ini kira-kira 20 mm

blok nervus alveolar inferior. Oleh karena itu, dia dirujuk

dan membungkuk. Tidak ada struktur vital terluka saat

kerumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

proses. Insisi ditutup menggunakan 3-0 dan 4-0

Pasien

dijadwalkan

menjalani

Pasien diberitahu untuk berhenti minum aspirin

Monocryl. Total waktu intraoperatif adalah sekitar 2

dua minggu sebelum operasi implan dijadwalkan.

jam. Radiografi paska operasi menyatakan bahwa jarum

Sebuah jarum 30-gauge digunakan untuk membius

yang patah telah benar-benar terambil.

nervus alveolar inferior kiri. Namun, jarum patah dalam

Pasien pulih paska operasi, tanpa rasa sakit atau

proses. Fragmen menghilang ke dalam jaringan dan

mati rasa. Pasien masih tertarik menjalani operasi

dokter gigi tidak dapat mengambilnya. Oleh karena itu,

pemasangan implan. Oleh karenaitu, ia berhasil

pasien dirujuk ke Departemen Bedah Mulut dan

menjalani operasi pemasangan implan pada daerah

Maksilofasial di Universitas Rumah Sakit Gigi. Ahli

rahang bawah posterior kiri, dan telah pulih pada hari

bedah gagal untuk mengambil jarum dibawah anestesi

berikutnya.

umum menggunakan CT (computed tomography).


Selanjutnya, pasien dirujuk ke Departemen kami.
Setelah kedatangannya ke departemen kami,
pasien mengalami kesulitan membuka mulut karena
sakit dan operasi sebelumnya. Radiografi terdiri dari
radiografi panoramik, posterior-anterior skull dan lateral
skull menegaskan bahwa jarum patah berada di ruang
pterygomandibular kiri. Hasil radiografi panoramik
mengungkapkan bahwa jarum berada di perbatasan
posterior ramus mandibula. Berdasarkan data tersebut,
diputuskan bahwa eksplorasi bedah dibawah anestesi
umum adalah langkah berikutnya yang paling tepat
untuk mengambil jarum.
Pasien menjalani anestesi umum melalu intubasi
nasotrakea. Pasien dipersiapkan untuk menjalani
operasi. Dalam rangka untuk mendapatkan akses,
sebuah jahitan yang ada dipotong dan insisi vertikal
dibuat sepanjang insisi yang ada dari operasi pertama.

PEMBAHASAN
Anestesi lokal didefinisikan sebagai tindakan
yang menghilangkan rasa nyeri atau sakit untuk
sementara pada salah satu bagian tubuh, secara topikal
atau

suntikan,

tanpa

disertai

hilangnya

tingkat

kesadaran. Anestesi lokal digunakan untuk mengurangi


nyeri sehingga pasien merasa nyaman saat dilakukan
tindakan dan dokter gigi mampu bekerja dengan baik.3,11
Injeksi blok pada batang saraf dapat digunakan
untuk kepentingan bedah mulut. Istilah injeksi blok
berarti bahan anestetik di deponir di suatu titik antara
otak dan daerah yang dioperasi yang menembus batang
saraf atau serabut saraf yang akan memblok sensasi
yang datang. Sejauh ini, injeksi blok yang paling umum
digunakan adalah blok mandibula, selain itu ada blok
mental, blok saraf alveolar superior posterior dan blok
infraorbital.12
3

Adapun prosedur anestesi blok teknik Fisher

jarum

maka

tekanan

yang

adekuat

ini

akan

adalah sebagai berikut:

menyebabkan patah jarum. Pengambilan patahan jarum

1)

Posisi pasien duduk dengan setengah terlentang.

dengan pembedahan membutuhkan informasi letak dan

Aplikasikan

trigonum

posisi jarum yang tepat, oleh karena itu dibutuhkan

retromolar.
2) Jari telunjuk diletakkan dibelakang gigi terakhir

gambaran radiografi mengenai letak dan posisi jarum

antiseptic

didaerah

mandibula, geser kelateral untuk meraba linea


oblique eksterna, kemudian telunjuk digeser ke
median untuk mencari linea oblique interna, ujung
lengkung kuku berada di linea oblique interna dan
permukaan samping jari berada dibidang oklusal
gigi rahang bawah. Posisi 1: jarum diinsersikan di
pertengahan lengkung kuku, dari sisi rahang yang
tidak dianestesi yaitu regio premolar. Posisi 2:
Spuit digeser ke sisi yang akan dianestesi, sejajar
dengan bidang oklusal dan jarum ditusukkan
sedalam 5 mm, lakukan aspirasi bila negatif
keluarkan bahan anestetik sebanyak 0,5 ml untuk
menganestesi N. Lingualis. Posisi 3: Spuit digeser
kearah posisi 1 tapi tidak penuh lalu jarum
ditusukkan sambil menyelusuri tulang sedalam
kira-kira 10-15 mm. Aspirasi dan bila negatif
keluarkan anestetikum sebanyak 1 ml untuk
menganestesi N. Alveolaris inferior. Setelah selesai
spuit ditarik kembali. 4,26,27
Teknik Fisher kemudian dimodifikasi, pada
teknik imodifikasi Fisher setelah kita melakukan posisi 3,
pada waktu menarik kembali spuit sebelum jarum lepas
dari mukosa tepat setelah melewati linea oblique interna
,jarum digeser kelateral (kedaerah trigonum retromolar),
aspirasi dan keluarkan bahan anestetik sebanyak 0,5 ml
untuk menganestesi N. Bukalis. kemudian spuit ditarik
keluar.4,26,27
Komplikasi lokal berupa patahnya jarum pada
saat anestesi dilaporkan jarang terjadi, penyebab umum
patahnya jarum adalah gerakan tiba-tiba yang tidak
terduga pada pasien saat jarum menusuk otot atau

tersebut.5,6,7
Radiografi dental adalah alat yang membantu
dalam diagnosa dan rencana pengobatan penyakit
mulut seperti karies, periodontal penyakit dan patologi
oral. Dalam tindakan perawatan gigi tertentu sangat baik
jika dilakukan radiologi kedokteran gigi sebagai
penunjang dari pemeriksaan klinis sehingga tahapan
atau langkah dalam pengobatan bisa dilakukan sebaik
mungkin.13,14 Adapun manfaat radiografi dalam bidang
kedokteran gigi antara lain untuk menegakkan suatu
diagnosis, membantu rencana perawatan dan evaluasi
hasil perawatan. Terdapat 2 hal yang harus diperhatikan
dalam pemeriksaan radiografi gigi, pertama adalah
teknik mendapatkan radiograf yang optimal dan kedua
adalah interpretasi hasil radiografi yang telah dibuat. Alat
radiografi gigi yang mutakhir tidak menjamin suatu
radiografi yang baik tanpa disertai dengan tekhnik yang
memadai.15
Radiografi di kedokteran gigi ada dua macam
yaitu radiografi intraoral dan radiografi ekstraoral.
1. Radiografi

intraoral

adalah

radiografi

yang

memperlihatkan gigi dan struktur di sekitarnya. Tipe


radiografi intra oral yaitu :
a. Radiografi Periapikal bertujuan untuk melihat gigi
geligi secara individu mulai dari mahkota, akar
serta jaringan di sekitarnya. Indikasi radiografi
periapikal yaitu melihat infeksi pada apikal, status
periodontal, lesi-lesi periapikal, dan lainnya.
Teknik yang digunakan adalah paralleling dan
bisecting. Keuntungan teknik paralleling yaitu
gambar yang dihasilkan sangat representatif
dengan gigi sesungguhnya, tanpa distorsi,

kontak periosteum. Jika pasien berlawanan dengan arah


4

mempunyai validitas yang tinggi serta mudah

2. Radiografi Ekstraoral

dipelajari dan digunakan. Kerugian teknik

Radiografi ekstraoral adalah pemeriksaan radiografi

paralleling yaitu sulit meletakkan film holder,

yang digunakan untuk melihat area yang luas pada

terutama anak-anak dan pasien yang mempunyai

tengkorak kepala dan rahang. Pada radiografi

mulut yang kecil serta pemakaian film holder

ekstraoral film yang digunakkan diletakkan di luar

yang mengenai

rongga mulut.18 Radiografi ekstraoral terdiri dari

jaringan

sekitar sehingga

mengurangi kenyamanan pasien.Keuntungan

beberapa tipe yaitu:

teknik bisecting yaitu teknik ini dapat digunakan

a. Radiografi Panoramik akan memperlihatkan

tanpa film holder. Kerugian teknik bisecting

daerah mandibula dan maksila yang lebih luas

adalah mudah terjadinya distorsi.16,17,18

dalam satu film yang bertujuan untuk melihat

b Radiografi Bitewing bertujuan untuk memeriksa

perluasan suatu lesi atau tumor, fraktur rahang

mahkota, puncak tulang alveolar di maksila dan

dan keadaan gigi geligi pada masa bercampur

mandibula, daerah interproksimal dalam satu film

untuk rencana perawatan orthodonti. Keuntungan

yang sama. Film yang dipakai adalah film

dari panoramik yaitu gambar meliputi tulang

khusus. Keuntungan dari radiografi bitewing yaitu

wajah dan gigi, dosis radiasi lebih kecil, nyaman

karies dini lebih cepat terdeteksi, puncak tulang

untuk pasien, cocok untuk pasien yang susah

alveolar mudah terlihat dan lebih meringankan

membuka mulut, waktu yang digunakan pendek

pasien yang sering mengalami reflek muntah.

biasanya tiga sampai empat menit, sangat

Kerugian dari radiografi bitewing yaitu tidak

membantu dalam menerangkan keadaan rongga

terlihat regio periapikal dan ujung akar serta

mulut pada pasien klinik, membantu menegakkan

pasien sulit mengoklusikan kedua rahang (mulut

diagnosa yang meliputi tulang rahang secara

terlalu terbuka) sehingga puncak tulang alveolar

umum,

tidak terlihat.

16,17,18

evaluasi

terhadap

trauma,

dan

perkembangan gigi geligi pada fase gigi

c. Radiografi Oklusal bertujuan untuk melihat area

bercampur, evaluasi terhadap lesi, keadaan

yang lebih luas yaitu maksila atau mandibula

rahang dan gigi terpendam. Kelemahan dari

dalam satu film. Radiografi oklusal juga

panoramik yaitu detail gambar yang tampil tidak

digunakan untuk melihat lokasi akar, gigi

sebaik radiografi periapikal intra oral, tidak dapat

supernumerary, gigi yang tidak erupsi (gigi

digunakan untuk mendeteksi karies yang kecil,

impaksi), salivary stone di saluran kelenjar

dan pergerakan pasien selama penyinaran akan

submandibular, evaluasi dari perluasan lesi

menyulitkan dalam interpretasi.18

seperti

kista,

tumor,

atau

keganasan

di

b. Radiografi sefalometri adalah radiografi yang

mandibula dan maksila, evaluasi basis sinus

digunakan untuk melihat hubungan gigi dengan

maksilaris, evaluasi fraktur di maksila dan

rahang dan profil individu serta keadaan

mandibula, pemeriksaan daerah cleft palate serta

tengkorak wajah akibat trauma penyakit dan

mengukur perubahan dalam bentuk dan ukuran

kelainan pertumbuhan perkembangan. Selain itu

dari maksila dan mandibula. Film yang digunakan

hasil radiografi juga memperlihatkan jaringan

adalah film khusus.18

lunak nasofaringeal, sinus paranasal, dan


5

palatum durum. Pada umumnya radiografi ini

akurat dari objek-objek di dalam tubuh, termasuk rongga

digunakan

merencanakan

mulut.19 Alat sinar-X 3D yang biasa digunakan adalah

perawatan orthodonti agara mendapatkan gigi

CT-scan medis dan cone beam CT-scan yang mampu

selaras

menggambarkan jaringan lunak dan keras pada daerah

ortodontis

sesuai

untuk

dengan

ukuran

gigi

dan

rahang.14,18

maksilofasial.20

c. Radiografi Postero-anterior digunakan untuk

Prinsip dasar CT scan mirip dengan perangkat

melihat keadaan penyakit, trauma, atau kelainan

radiografi yang sudah lebih umum dikenal. Kedua

pertumbuhan dan perkembangan tengkorak.

perangkat ini sama-sama memanfaatkan intensitas

Foto rontgen ini juga dapat memberikan

radiasi terusan setelah melewati suatu obyek untuk

gambaran struktur wajah, antara lain sinus

membentuk citra/gambar. Perbedaan antara keduanya

frontalis dan ethmoidalis, fossanasalis, dan

adalah pada teknik yang digunakan untuk memperoleh

14

orbita.

citra dan pada citra yang dihasilkan. Tidak seperti citra

d. Radiografi Antero-Posterior adalah radiografi

yang dihasilkan dari teknik radiografi, informasi citra

yang digunakan untuk melihat keadaan pada

yang ditampilkan oleh CT scan tidak tumpang tindih

bagian depan maksila dan mandibula, gambaran

(overlap) sehingga dapat memperoleh citra yang dapat

sinus frontalis, sinus ethmoidalis dan tulang

diamati tidak hanya pada bidang tegak lurus berkas

hidung.14

sinar (seperti pada foto rontgen), citra CT scan dapat

e. Radiografi lateral jaw adalah radiografi yang


digunakan untuk melihat keadaan lateral tulang

menampilkan informasi tampang lintang obyek yang


diinspeksi.21,22

wajah, diagnosis fraktur dan keadan patologis

CT-scan memiliki kemampuan yang unik untuk

tengkorak dan wajah.14

memperhatikan suatu kombinasi dari jaringan, pembuluh

Dalam bidang kedokteran gigi, radiografi yang

darah dan tulang secara bersamaan. CT-scan dapat

biasa digunakan yaitu gambaran radiografi konvensional

digunakan untuk mendiagnosa permasalahan pada

cranial seperti:22

dimensi

(2D).

Walaupun

sudah

ditingkatkan

ketajamannya, namun teknik CT 3 dimensi (3D) sangat

a)

diagnosa

b)

intracranial hemorrhage
deteksi tumor (gamaran tumor pada CT-scan

c)

dengan kontras lebih sensitif dari MRI)


deteksi peningkatan intracranial pressure sebelum

membantu untuk mengetahui luas kelainan struktur yang


terlibat dan gambaran lebih akurat dibanding alat
konvensional

2D.

CT-scan

merupakan

proses

penggunaan sinar-X untuk memperoleh gambaran 3D

menghasilkan gambar-gambar yang sangat akurat dari


objek-objek di dalam tubuh seperti tulang, organ, dan
pembuluh darah. Hasil pencitraan yang dihasilkan CTscan jauh lebih detail dibandingkan dengan hasil
pencitraan yang diperoleh dari radiografi konvensional.
CT-scan dapat menghasilkan gambaran yang sangat

accidents

dan

dilakukan lumbar puncture atau evaluasi fungsi

dari ribuan gambar sinar X 2D dengan menggunakan


komputer untuk memperoleh gambaran 3D. CT-scan

cerebrovascular

d)
e)

ventriculoperitoneal shunt.
Evaluasi fraktur wajah atau cranial
Pada kepala, leher, wajah atau mulut CT-scan
digunakan pada rencana operasi bagi deformitas
kraniofasial dan dentofasial dan evaluasi tumor
sinus, nasal, orbital, dan rencana rekonstruksi
implant dental
Alat 3 dimensi yang sering digunakan dalam

bidang kedokteran gigi adalah medical CT dan Cone


6

beam CT scan. Cone beam computed tomography

radiografi panoramik dan 3D CT. Hasil dari radiografi

(CBCT) merupakan sistem foto radiografi berkualitas

tersebut menggambarkan bahwa posisi jarum terletak

tinggi yang

diagnosa, berupa

pada ruang pterygomandibular kiri. Pada gambaran

gambaran 3 dimensi yang akurat, dan dapat

radiografi panoramik menunjukkan bahwa jarum terletak

memberikan gambaran mengenai elemen-elemen tulang

pada posterior border dari ramus mandibula. Gambaran

yang ada pada kerangka maksilofasial.24,25

3D CT juga semakin memperjelas letak dari posisi jarum

digunakan untuk

Kelebihan dari CBCT, antara lain dosis paparan

karena kelebihannya yaitu gambaran 3 dimensi yang

lebih rendah, waktu paparan radiasi cepat, tampak lebih

akurat, dan dapat memberikan gambaran mengenai

detil dalam mengganti struktur jaringan tulang sebab

jaringan lunak dan jaringan keras yaitu elemen-elemen

solusi kontras tinggi, tidak menimbulkan rasa nyeri,

tulang yang ada pada kerangka maksilofasial.22,25

akurat dan non invasif, pemeriksaan cepat dan mudah,


lebih komplit menghalangi terjadinya superimposed dari
kesan struktur superfisial atau ke dalam area fokus pada
pasien, merencanakan operasi pre-implan secara
efektif, dan mengurangi waktu operasi sebagai hasil
diagnostik yang akurat.25
CBCT terdiri sumber x-ray dan juga detektor
yang terpasang pada alat yang dapat berputar. Sumber
radiasi ionisasi berbentuk pyramid divergen atau
berbentuk cone (kerucut) diarahkan pada bagian tengah
daerah yang diinginkan (kepala pasien) dan mengarah
pada x-ray detektor yang dipasangkan berlawanan arah
dari sisi pasien. Sumber x-ray dan detektor akan
berputar pada titik tumpuannya memutari kepala

Gambar 3. Radigrafi lateral menujukkan posisi


jarum yang patah (panah)

pasien. Selama sekuens eksposur yang dilakukan


diperoleh sekitar 600 gambar 2D. Ratusan gambar 2D
tersebut akan dikumpulkan oleh software pemindai
(scanner software) untuk direkonstruksi atau diolah
sehingga menghasilkan digital volume yang tersusun
atas voxel (sel berbentuk kotak) 3D yang membentuk
data anatomi yang bisa diolah maupun ditampilkan
dengan menggunakan software tertentu. Hanya dengan
satu kali putaran saja, CBCT akan menghasilkan
gambaran radiografis 3D yang sesuai dengan cepat dan
akurat. 24
Pada laporan kasus, radiografi yang digunakan
adalah radiografi posterior-anterior, radiografi lateral,

Gambar

4. Radigrafi posterior-anterior
menujukkan posisi jarum
yang patah (panah)

Pendekatan pembedahan yang digunakan untuk


pengangkatan jarum patah tergantung pada regio
7

anatomi fragmen ditemukan. Jarum yang patah selama


blok nervus alveolaris inferior umumnya tertinggal di
dalam ruang pterygomandibula. Patahan jarum tersebut
biasanya diangkat melalui insisi tegak lurus terhadap
arah jarum yang patah tersebut. Insisi sebaiknya dibuat
cukup pada bagian superfisial saja untuk mencegah
kerusakan pada nervus lingualis.23
Jaringan

didiseksi

dengan

hati-hati,

menggunakan instrumen berujung tajam, dan fragmen


kemudian diambil dengan forcep hemostat kecil. Penting
juga membandingkan distorsi terkait dengan radiografi
yang menampilkan komposisi ruang pada penentuan
lokasi patahnya jarum.23
KESIMPULAN
Kasus patahnya jarum paling sering terjadi
pada saat anastesi blok alveolaris inferior. Patah jarum
pada blok alveolaris inferior akan menyisakan jarum
pada ruang perygomandibula. Hal ini bisa menyebabkan
bergesernya jarum ke struktur vital di sekitarnya. Untuk
mencegahnya, disarankan, pada blok alveolaris inferior
sebaiknya digunakan jarum 25 gauge dan panjang 35
mm, untuk menghindari terjadinya patah jarum selama
anastesi. Pada proses pengambilan jarum juga
dibutuhkan gambaran letak dan posisi yang tepat dari
jarum tersebut, maka penggunaan radiografi dan CTscan sangat dibutuhkan pada kasus ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Haas DA, Gaffen AS. Survey of local anesthetic use
by ontario dentists. J Can Dent Assoc. 2009;
75(9):649
2. Scarlett MI. Local anesthesia in todays dental
practice. Continiuing Education Course. 2010: 3-4
3. Malamed SF. Reversing local anesthesia. Journal of
Inside dentistry. 2008: 1-3
4. Malamed SF. Handbook of local anesthesia. Ed.6.
Missouri: Elsevier Mosby, 2012: 292-326
5. Ethuanandan M, Tran AL, Anand R, J Bownen, Seal
MT, Brennan PA. Needle breakage following inferior
alveolar nerve block: Implication and management.
Br Dent J 2007; 202 (7): 395-7.

6. Pogrel MA, Broken local anesthetic needles: A case


series of 16 patients, with recommendations. J Am
Dent Assoc 2009; 140: 1517-22.
7. Nezafati S, Shahi S. Removal of broken dental
needle using mobile digital C-arm. J Oral Sci 2008;
50 (3): 351-3.
8. Bedrock R, Skigen A, Dolwik MF. Clinical practice:
case Retrievial of a broken needle in the
pterygomandibular space. J Am Dent Assoc 1999;
130 (5): 685-7.
9. Nezafati S, Shahi S. Removal of broken dental
needle using mobile digital C-arm. J Oral Sci 2008;
50 (3): 351-3.
10. Thompson M, Wright S, Cheng LHH, Starr D.
Locating broken dental needles. Int J Oral
Maxillofac Surg 2003; 32: 6424.
11. Schwartz S. Local Anesthesia in pediatric dentistry.
Continiuing Education Course. 2015: 3
12. Balaji SM. Textbook of oral and maxillofacial
surgery. 2nd Ed. India: Elvisier India, 2013: 171-88
13. Boel T. Prinsip dan Teknik Radiografi Kedokteran
Gigi. Medan : FKG USU.2008
14. Boel T. Dental Radiografi Prinsip dan Teknik. Medan
: USU press.2011;3:9-30
15. Margono G. Radiografi Intraoral. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran EGC. 1998.
16. White SC. Pharoah MJ. Oral Radiology Principles
and Interpretation. 6 th ed., St. Louis: Sauders
Elsevier., 2009: 265-76
17. Am Dent Assoc. The Use of Dental Radiography.
September. 2006.
18. Marpaung T. Proteksi Radiasi dalam Radiologi
Intervensional. Dalam: Seminar Keselamatan Nuklir.
BAPETEN. 2006.
19. Rahmayanti L, Kurnikasari E, Rikmasari R. Analisis
posisi kondilus menggunakan radiografi cone beam
computed tomografi tiga dimensi pada kasus disc
displacement with reduction. Dentika Dent J
2010:15 (2):115-9.
20. Ekayuda I. Radiologi dignostik. Jakarta: FKUI; 2010.
hal. 1-5
21. Bushberg, J. T. 2003, The Essential Phisics of
Medical Imaging, Second Edition, Lippincot Williams
& Wilkins, Philadelphia.
22. Seeram E, 2001, Computed Tomography: physical
principles, clinical applications, and quality control,
Second edition, WB Saunders Company,
Philadelphia.
23. Faura-Sole M, Sanchez-Garce, Berini-Aytes, GayEscoda. Broken anesthetic injection needles: report
of 5 cases. Quintessence Int 1999; 30 (7): 461-5.
24. Schulze D, Heiland M, Thurmann H, Adam G.
Radiation exposure during midfacial imaging using
4- and 16-slice computed tomography, cone beam
computed tomography systems and conventional
radiography. Dentomaxillofac Radiol 2004;33:83-6.
8

25. Goaz PW,White SC.Oral radiology: principles and


interpretation. 7 th Ed. St.Louis:Mosby Company;
2003.p. 276-80
26. Gustainis,JF., and Peterson, An Alternatif method of
mandibular nerve block, JADA V, 1981, (103) : 33
36.
27. Jastak,JT Cs, Local anesthesia of the oral cavity,
Philadelphia, W.B. Saubders Company, 1995.