Anda di halaman 1dari 3

DIMANA AKU HARUS JAUH DARI AYAH

KETIKA AKU TELAH SADAR


Sejak usiaku baru enam tahun, aku telah dididik ayah dengan penuh kedisiplinan.
Saat itu aku bersekolah di TK Al Ikhlas. Tempatnya jauh dari rumahku sehingga setiap
hari ayah selalu mengantar dan menjemputku ke sekolah. Terkadang jika belum dijemput
aku menunggu di rumah teman, atau jika ayah sedang sibuk aku pulang sendiri.
Umur tujuh tahun aku melanjutkan pendidikanku di SD N 2 Pesantren. Namun itu
tidak sampai tamat, aku hanya bersekolah disana hingga kelas dua. Aku dikenal sebagai
anak yang nakal, karena aku sering menyakiti teman-temanku. Hingga sebuah peristiwa
terjadi, temanku memanggil orang tuanya ke sekolah karena dia merasa diganggu
olehku. Aku dimarahi dan dibentak-bentak oleh orang tua temanku, dan itu terjadi ketika
aku duduk di kelas dua tepatnya di usiaku yang ke delapan. Air mataku saat itu tidaklah
mampu untuk meredakan amarah orang tua temanku. Rasanya di usiaku yang masih
kecil aku merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Akhirnya aku pun memutuskan
untuk pindah ke sekolah yang dekat dengan rumahku. Aku pindah ke SD N 3 Kalisatkidul
dan duduk di kelas tiga.
Setelah kejadian tersebut, aku berusaha untuk melupakan semua itu. Namun aku
tak bisa. Aku justru semakin nakal dan tidak terarah. Harapanku pindah sekolah adalah
agar aku bisa menjadi lebih baik. Namun sayangnya keadaan justru semakin memburuk.
Aku tak punya kawan dan tak boleh berteman dengan siapapun. Seseorang melakukan
itu padaku. Entah apa salahku. Setiap aku dekat dengan seseorang, dia langsung
memprovokatori agar dia tak berteman denganku. Aku tak habis pikir mengapa ada
orang sejahat itu padaku. Tiga tahun di SD N 3 Kalisatkidul aku hidup tanpa seorang
sahabat. Hampir setiap hari aku menangis tanpa sepengetahuan siapapun. Aku
menangis bukan lagi karena masa lalu itu, tapi menangis karena kehidupanku. Aku
bernyawa tapi aku merasa mati. Aku tak punya satupun sahabat. Aku tak punya
kebahagiaan.
Kehidupan rumah dan kehidupan sekolah tidak jauh berbeda. Aku tak merasa
bahagia di rumah. Aku harus mengikuti semua aturan yang telah ayah buat. Ayah
mendidikku dengan keras. Semenjak kelas 3 SD aku sudah diajarkan kedisiplinan. Banyak
aturan dari ayah yang tak bisa aku terima di usiaku yang baru sembilan tahun. Sering
kali aku terlambat pulang karena asik bermain, sehingga aku harus mendapat jeweran
dan tempilingan dari ayah di depan teman-temanku. Aku menangis, aku malu, aku
jengkel. Namun aku tak bisa membantah ayah atau aku justru akan mendapatkan yang
lebih dari itu. Pernah sekali aku tak diijinkan masuk rumah karena terlambat pulang. Aku
hanya bisa menangis sambil menggedor-gedor pintu.
Selain itu ayah juga mengajari aku untuk berhemat. Sejak kelas tiga SD aku
mendapat uang saku dengan sistem jatah. Aku mendapat ung saku sebanyak Rp.
10.000 untuk seminggu. Cukup tidak cukup aku harus berusaha untuk mencukupkannya.
Awalnya, sering kali aku belum bisa membagi-bagi uang untuk jajan sehingga untuk
beberapa hari aku tak bisa jajan karena uang saku sudah habis. Namun lama-lama aku
sudah terbiasa dengan uang sejumlah itu. Keadaan seperti itu berjalan hingga aku masuk
SMP, tepatnya hingga usia dua belas tahun.
Aku melanjutkan sekolah ke SMP N 3 Kalibening. Keadaanku masih tetap seperti
saat masih SD. Tak ada sahabat. Tak ada senyuman. Tak ada kebahagiaan. Sistem jatah
itu masih tetap dijalankan. Namun saat SMP aku mendapat uang saku Rp. 100.000 untuk

satu bulan. Meskipun sebenarnya aku merasa keberatan namun aku tak bisa membantah
aturan ayah.
Saat duduk di kelas dua SMP, aku mengikuti semua kegiatan sekolah yang aku
suka, seperti ikut organisasi OSIS, pramuka, olahraga, dan masih banyak lagi. Tanpa aku
sadari apa yang aku lakukan itu memberikan pengaruh besar dalam kehidupanku. Aku
menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan. Aku mendapat banyak manfaat. Dan
satu hal yang membuatku semakin bangkit, aku memiliki banyak sahabat yang setia
menemani aku disaat aku susah maupun senang. Aku sangat bersyukur karena Allah
SWT atas kebahagiaan yang Dia berikan. Dulu aku pernah berpikir bahwa Allah SWT
tidaklah adil padaku. Tapi hari itu meyakinkanku bahwa tidak ada yang mungkin di dunia
ini. Dan dibalik kesedihan pasti ada senyuman kebahagiaan.
Ketika aku duduk di kelas sembilan SMP, usiaku telah menginjak ke empat belas
tahun. Aku telah tumbuh menjadi seorang remaja. Remaja yang tak lagi nakal, keras
kepala, dan pemarah. Mungkin sifat pemarah itu belum sepenuhnya hilang tapi
setidaknya aku mampu mengendalikan amarahku sendiri. Mencoba bersabar
menghadapi segala pahitnya kehidupan. Terkadang aku berpikir, mungkinkah ini tujuan
ayah mendidikku dengan cara seperti itu. Menjadikanku seseorang yang kuat dalam
menjalani kehidupan. Kelas sembilan adalah masa-masa dimana aku harus belajar giat
untuk menghadapi UN. Orang-orang di sekitarku mendukungku dengan penuh. Salah
satunya ayah. Ayah selalu menemaniku dalam segala kondisi. Hubunganku dengan ayah
makin hari makin dekat. Kami selalu melakukan hal-hal yang kami suka bersama-sama.
Terkadang aku sampai menangis karena aku bisa sedekat itu dengan ayah. aku merasa
hidupku yang selama ini telah mati kini hidup kembali.
Mei 2014 aku melaksanakan UN. Aku berusaha semaksimal mungkin agar aku
mendapat peringkat satu seperti yang ayah inginkan. Aku senang karena bisa memenuhi
satu keinginan ayah. Aku memang telah membuat ayah senang atas peringkat yang aku
dapatkan, tapi aku juga telah menyakiti hati ayah dan menghancurkan seluruh
harapannya. Harapan agar aku masuk ke pesantren saat SMA. Bukan maksudku
mengecewakan ayah, tapi aku juga ingin bersekolah di sekolah yang aku inginkan. Ayah
memang sudah setuju jika aku bersekolah di SMA N 1 Banjarnegara, tapi tetap saja aku
merasa telah menghancurkan impian ayah. Aku sadar selama ini ayah sebenarnya
sayang padaku. Peduli padaku. Apa yang ayah lakukan padaku dulu adalah benar. Ayah
telah berhasil menjadikanku orang yang disiplin, sabar, dan hemat. Orang yang kuat
menghadapi segala manis dan pahitnya kehidupan. Ayah juga mengajarkanku
bagaimana bertahan di tengah-tengah kesedihan dan kepedihan. Ayah telah berkorban
banyak untukku.
Sabtu, 25 Juli 2014...
Segala perlengkapan telah aku masukkan ke dalam koper. Pukul 04.45 pagi aku
berangkat ke Banjarnegara bersama ayah. Rasanya aku tak bisa jauh dari ayah. Orang
yang sangat aku sayangi. Di tengah jalan aku menangis. Sebenarnya aku tak ingin
menangis, tapi aku benar-benar tak kuat harus berpisah dari ayah. Ayah yang selalu
mendidikku menjadi orang yang kuat. Ayah yang selalu ada di sampingku. Ayah yang
bekerja keras untuk bisa menyekolahkanku. Ayah yang selalu berjuang demi yang terbaik
untuk anaknya ini. Aku tau ayah bisa, tapi aku tak setega itu melihat ayah harus bekerja
siang malam demi membayar sekolahku. Tapi aku harus kuat.Aku harus bisa menjadi
anak kebanggaan ayah. Aku harus bisa memberikan yang terbaik untuk ayah. Aku juga
harus berjuang seperti ayah agar aku bisa sukses di kemudian hari.

Sehari.. Dua hari.. Tiga hari.. sampai tiga minggu, jauh dari ayah..
Setiap sholatku aku selalu mendoakan ayah. Aku tak kuasa membendung air
mata setiap mengingat ayah. Terasa begitu berat jauh dari ayah. Hari-hari itu cukup
berat untukku lalui. Sejak perpisahan itu aku belum lagi bertemu dengan ayah. Tepatnya
sudah tiga minggu aku tak bertemu. Rindu akan sosok ayah yang sedang aku rasakan di
malam 13 Agustus 2015 ini. Menantikan esok dimana aku akan pulang dan bertemu
dengan ayah. Saat ini aku hanya bisa berpikir mengapa aku harus jauh dari ayah disaat
aku telah sadar bahwa aku sangat sayang pada ayah.