Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

TOKSIKOLOGI BAHAN MAKANAN


Toksikologi Lingkungan (Gas CO)
DOSEN PENGAMPU: Dr. Armaini

Oleh :
Nama : Vona Riski Ramadani
No. BP

:1410412020

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
penulis susun dalam pemenuhan tugas perkuliahan Mata kuliah Toksikologi
Bahan Makanan dengan judul Toksikologi Lingkungan (Gas CO)
Semoga makalah ini bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi
mahasiswa Universitas Andalas khususnya Jurusan Kimia. Penulis sadar bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang masih perlu
diperbaiki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca demi perbaikan tugas ini dimasa yang akan datang.

Padang, September 2016

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karbon

monoksida

merupakan

salah

satu

penyebab

pencemaran

udara. Karbon monoksida adalah gas yang tidak berbau dan dihasilkan
dari pembakaran bahan bakar, khususnya minyak tanah, batu bara dan bensin.
Gas yang dilepaskan dari pembakaran tersebut dapat bersifat sangat mematikan
jika dihirup. Keracunan akibat gas karbon monoksida (CO) dapat menimbulkan
hipoksida jaringan atau kekurangan oksigen di dalam aliran darah, sehingga
ketersediaan oksigen darah ke jaringan tubuh juga berkurang.
Karbon Monoksida (CO) merupakan gas tidak berbau, tidak berwarna, tidak
berasa dan tidak mengiritasi, mudah terbakar dan sangat beracun. Sumber utama
karbon monoksida pada kasus kematian adalah kebakaran, knalpot mobil,
pemanasan tidak sempurna, dan pembakaran yang tidak sempurna dari produkproduk terbakar, seperti bongkahan arang, Namun sumber yang paling umum
berupa residu pembakaran mesin. Keberadaan gas CO akan sangat berbahaya jika
terhirup oleh manusia karena gas itu akan menggantikan posisi oksigen yang
berkaitan dengan haemoglobin dalam darah.
Sering kita mendengar terjadi kematian di dalam mobil dan ini disebabkan
ventilasi yang kurang baik sehingga pembuangan asap yang bocor masuk ke
dalam mobil dan perlahan-lahan terhirup oleh orang yang berada di dalam mobil.
Keberadaan gas CO akan sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia karena gas
itu akan menggantikan posisi oksigen yang berkaitan dengan hemoglobin dalam
darah. Gas CO akan mengalir ke dalam jantung, otak, serta organ vital. Ikatan
antara CO dan heamoglobin membentuk karboksihaemoglobin yang jauh lebih
kuat 200 kali dibandingkan dengan ikatan antara oksigen dan haemoglobin,yang
akan berakibatkan sangat fatal.
Gejala keracunan gas CO tidak khas. Gejala yang timbul seperti halnya
gejala penyakit lain, seperti sakit kepala, mual dan pening, seperti gejala flu. Tak
jarang didiagnosis sebagai sindrom viral. Karena itulah lebih banyak kasus yang
tidak dilaporkan akibat tidak dikenali dan tidak terdiagnosis dibandingkan yang

berhasil ditangani. Saat ini banyak tempat kerja yang berisiko terpejan gas CO,
untuk itu ada baiknya tiap orang

mengetahui

bahayanya,

seperti

apa

gejalanya, sampai cara pencegahan dan penanggulangan keracunan gas CO.


Dengan adanya pengetahuan tentang gas CO, maka kita dapat menurunkan
tingkat keracunan yang terjadi, mengingat dampak buruknya terutama bagi
kesehatan pekerja yang berisiko menurunkan tingkat produktivitas produksi.
1.2

Rumusan Masalah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.3

Bagaimana pengertian gas karbon monoksida?


Bagaimana bahan pencemar zat kimia?
Bagaimana gejala keracunan gas CO?
Bagaimana pencegahan jika keracunan gas CO?
Bagaimana penanganan jika keracunan gas CO?
Bagaimana pemeriksaan jika keracunan gas CO?
Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengetahui pengertian gas karbon monoksida.


Mengetahui bahan pecemar zat kimia.
Mengetahui gejala keracunan gas CO.
Mengetahui pencegahan jika keracunan gas CO.
Mengetahui penanganan jika keracunan gas CO.
Mengetahui pemeriksaan jika keracunan gas CO.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Gas Karbon Monoksida


Karbon monoksida (CO) merupakan gas yang tidak berbau dan

dihasilkan dari pembakaran bahan bakar, khususnya minyak tanah, batu bara dan
bensin. Gas yang dilepaskan dari pembakaran tersebut dapat bersifat sangat
mematikan jika dihirup. Gas karbon monoksida (CO) dalam jumlah banyak atau
konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan juga dapat
menimbulkan kematian, inilah dampak karbon monoksida terhadap kesehatan.
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida
(CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2)
sebagai hasil pembakaran sempurna.
Karbon monoksida apabila terhirup ke dalam paru-paru akan mengikuti
peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh
tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas karbon monoksida bersifat racun, ikut
bereaksi secara metabolis dengan darah. Ikatan karbon monoksida dengan darah
atau karboksihemoglobin lebih stabil dari pada ikatan oksigen dengan darah atau
oksihemoglobin. Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah
menangkap gas CO dan menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangkut
oksigen terganggu.
2.2

Bahan Pencemar Kimia

Bahan pencemar kimia yang sering ditemukan dalam ruangan adalah :


1.

Karbon dioksida (CO2), merupakan produk metabolisme dan sering


digunakan sebagai indikator tingkat pencemaran yang berhubungan dengan
kehadiran manusia di dalam gedung.

2.

Kabon monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOx) dan Sulfur dioksida


(SO2), merupakan gas anorganik hasil pembakaran serta ozone (O 3) yang
merupakan produk dari proses

3.

Senyawa organik, yang berasal dari beragam sumber di dalam dan di luar
gedung.

Gas CO merupakan hasil dari proses pembakaran. Karakteristik biologik yang


paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan

hemoglobin, yaitu semacam pigmen sel darah merah yang mengangkut oksigen
keseluruh tubuh. CO memiliki tempat ikatan yang sama dengan oksigen pada
hemoglobin, hal ini akan menyebabkan pembentukan karboksi haemoglobin
(HbCO)

yang

bersifat

oksihaemoglobin

200

(HbO2).

kali

lebih

Penguraian

stabil
HbCO

dibandingkan
yang

relatif

dengan
lambat

menyebabkan terhambatnya kemampuan haemoglobin dalam fungsinya mengikat


oksigen, hal ini akan mengakibatkan penurunan kemampuan eritrosit untuk
mentranspor oksigen. Gangguan pada darah tersebut merupakan bahaya utama
terhadap kesehatan yang mampu ditimbulkan oleh keracunan CO. Bahkan dapat
menyebabkan kematian.
2.3

Gejala Keracunan gas CO


Gejala keracunan gas CO tidak khas. Gejala yang ditimbulkan sama dengan

gejala penyakit lain, seperti sakit kepala, mual dan pening, seperti gejala flu. Tak
jarang didiagnosis sebagai sindrom viral. CO juga dapat berikatan secara langsung
dengan sel otot jantung dan tulang. Karenanya bisa disebut berhubungan langsung
dengan sistim kardiovaskular. Efek yang paling

serius

keracunan

tersebut

secara

langsung

terhadap

sel-sel

adalah

terjadinya

juga menyebabkan

gangguan pada sistem saraf, jantung dan otak yang berujung pada kematian.
Karena itulah lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan akibat tidak dikenali
gejalanya dan tidak terdiagnosis dibandingkan yang dengan jumlah kasus yang
berhasil ditangani. Karbon monoksida tidak mengiritasi, tetapi dapat sangat
membahayakan (beracun), maka gas CO dijiluki sebagai silent killer atau
pembunuh diam-diam. Banyak peristiwa yang diakibatkan pencemaran udara
khususnya gas CO2 dalam ruangan seperti mati lemas dalam mobil,mengantuk
hingga hilang kesadaran saat mengemudi dengan membawa dry ice untuk
mendinginkan AC.CO2 dianggap sebagai racun inhalasi yang potensial dan
penyebab dari asfiksasi. Memasuki tubuh dari atmosfer melalui paru paru
didistribusikan kedarah dan dapat menyebabkan ketidakseimbangan asam basa
atau asidosis dengan depresi susunan saraf pusat.
Gejala klinis awal keracunan gas CO2 tidak khas,menyerupai banyak gejala
penyakit lain seperti sakit kepala,mual dan pening,gejala seperti flu,kadang pula

didiagnosis sebagai sindrom viral. Karena itu lebih banyak kasus tidak dilaporkan
akibat tidak terdiagnosis.
Gas karbon monoksida adalah gas beracun. Gejalanya dapat terjadi
perlahan-lahan, dan kerap terjadi secara mendadak dan cepat. Indikasinya bibir
dan kuku-kuku jari jemari akan berubah menjadi agak merah. Ini suatu tanda
adanya paparan yang melampaui batas yang bisa diterima. Juga bisa terlihat
seseorang yang terpapar mengalami gejala sakit kepala, pernapasan jadi pendek
dan dangkal, pusing, mendesah, mual, muntah, rasa lelah, berkeringat banyak,
kebingungan, hipotens.
Pada konsetrasi yang tinggi bisa saja terjadi pingsan atau tidak sadarkan diri
dan mungkin berakibat kematian. Gejalanya juga bisa berupa penglihatan
terganggu dan kehilangan ingatan.
2.4

Pencegahan

Pencegahan berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi 3, yaitu:


1. Pencegahan Melalui Sumber yang Bergerak
Pencegahannya seperti : merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik,
melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala dan memasang
filter pada knalpot.
2. Pencegahan Melalui Sumber yang Tidak Bergerak
Pencegahannya antara lain dengan cara memasang scruber pada cerobong
asap, merawat mesin industry agar tetap baik dan lakukan pengujian secara
berkala dan menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar
CO rendah.
3. Pencegahan yang Dilakukan Oleh Manusia
Apabila kadar CO yang terkandung dalam udara ambien telah melebihi baku
mutu (10.000ug/Nm3 udara dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam) maka
untuk mencegah dampak negatif, dapat dilakukan upaya-upaya antara lain
menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker gas dan menutup
atau menghindari tempat-tempat yang diduga mengandung CO seperti
sumur tua, goa, dll (Anonim a, 2005).

2.5

Penanganan
Bila terjadi keracunan gas karbon monoksida, maka untuk pertolongan

pertama adalah segera bawa korban ke tempat yang jauh dari sumber karbon
monoksida, longgarkan pakaian korban supaya mudah bernafas. Pastikan korban
masih bernafas dan segera berikan oksigen murni. Korban harus istirahat dan
usahakan tenang. Meningkatnya gerakan otot menyebabkan meningkatnya
kebutuhan oksigen, sehingga persediaan oksigen untuk otak dapat berkurang.
Segera bawa korban ke rumah sakit terdekat.
Untuk menghindari terjadinya keracunan karbon monoksida dalam mobil maka
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.

Rutin memeriksakan sistem pembuangan kendaraan setiap tahunnya,


kebocoran kecil saja pada sistem pembungannya bisa memicu gas beracun
karbon monoksida masuk ke dalam mobil.

2.

Melakukan perawatan mesin dengan baik sehingga pembakaran BBM bisa


berlangsung sempurna.

3.

Jangan pernah menyalakan dan memanaskan mobil di dalam garasi


tertutup, karbon monoksida bisa cepat memenuhi ruangan tersebut. Sebaiknya
membuka jendela dan pintu ketika mobil berhenti sehingga sirkulasi udara
berjalan dengan baik dan udara luar bisa menetralisisr karbon monoksida.

4.

Jika ingin beristirahat dalam mobil, jangan menutup semua kaca dan pintu
dengan penyejuk udara yang masih menyala. Banyak kasus kematian dalam
mobil akibat tertidur dan keracunan gas karbon monoksida.

2.6

Pemeriksaan

1.

Pemeriksaan Laboratorium
Analisa kadar HbCO membutuhkan alat ukur spectrophotometric yang
khusus. Kadar HbCO yang meningkat menjadi signifikan terhadap paparan
gas tersebut. Sedangkan kadar yang rendah belum dapat menyingkirkan
kemungkinan terpapar, khususnya bila pasien telah mendapat terapi oksigen
100% sebelumnya atau jarak paparan dengan pemeriksaan terlalu lama.

Cara kerja

1. Ambil darah sebanyak 1 cc kemudian dimasukkan kedalam plakon yang


sudah diberi EDTA
2. Larutan amonia 0,1% diambil sebanyak 20ml dan dimasukkan kedalam
erlenmayer
3. Sampel darah diambil sebanyak 10 l dengan menggunakan yellow tip
kemudian masukkan kedalam erlenmayer yang berisi larutan ammonia.
4. Kemudian campuran tersebut dibagi menjadi dua tabung masing masing
sebanyak 5 ml, tabung satu ditambah sodium dithionit dan tabung kedua
tidak ditambah sodium dithionit.
5. Kedua larutan masing masing diukur absorbannya pada spektrofotometer
dengan metode hindberger-lang,panjang gelombang 546 nm dan nilai
faktor 6,08.baca hasilnya
Pengaruh konsentrasi HbCO (%) terhadap kesehatan manusia :
Konsentrasi

Gejala terhadap kesehatan

HbCO (%)
1-2,5
3,0-4,0
5,0-6,0

Belum ada gejala


Gangguan pada tingkah laku
Gangguan pada sistem saraf penglihatan,pancaindra

10,0-<20,0
>20,0-60,0
70,0-90,0

dll
Perubahan fungsi pada jantung dan paru paru
Sakit kepala,lesu,pusing,sesak nafas,koma
Kematian

Pemeriksaan gas darah arteri juga diperlukan. Tingkat tekanan oksigen arteri
(PaO2) harus tetap normal. Walaupun begitu, PaO2 tidak akurat menggambarkan
derajat keracunan CO atau terjadinya hipoksia seluler. Saturasi oksigen hanya
akurat bila diperiksa langsung dan tidak melalui PaO2 yang sering dilakukan
dengan analisa gas darah. PaO2 menggambarkan oksigen terlarut dalam darah
yang tidak terganggu oleh hemoglobin yang mengikat CO.
Pemeriksaan penunjang untuk keracunan karbon monoksida yaitu :
Uji Alkali Dilusi
Cara kerja

Ambil 2 buah tabung reaksi.


Masukkan ke dalam tabung pertama 1-2 tetes darah korban dan kedalam
tabung kedua 1-2 tetes darah normal sebagai kontrol.
Tambahkan 10 ml air sehingga warna merah pada kedua tabung kurang
lebih sama.
Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%,
lalu dikocok, amati hasil.
Hasil : Darah normal segera berubah warna menjadi merah hijau kecoklatan
karena segera terbentuk hematin alkali, sedangkan darah yang mengandung
COHb tidak berubah warnanya untuk beberapa waktu, tergantung pada
konsentrasi COHb, karena COHb bersifat lebih resisten terhadap pengaruh
alkali. COHb dengan kadar saturasi 20% memberi warna merah muda yang
bertahan selama beberapa detik dan setelah 1 menit baru berubah warna
menjadi kecoklatan.
2.

X-foto thorax

Pemeriksaan x-foto thorax perlu dilakukan pada kasus-kasus keracunan gas dan
saat terapi oksigen hiperbarik diperlukan. Hasil pemeriksaan x-foto thorax
biasanya dalam batas normal. Adanya gambaran ground-glass, appearance,
perkabutan parahiler, dan intra alveolar edema menunjukkan prognosis yang lebih
jelek.
3.

CT-Scan kepala

Pemeriksaan CT-Scan kepala perlu dilakukan pada kasus keracunan berat gas CO
atau bila terdapat perubahan status mental yang tidak pulih dengan cepat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Sumber utama karbon monoksida adalah gas buang kendaraan bermotor, asap
dari kebakaran, dan asap dari mesin. Selain itu, gas ini juga muncul dari peralatan
memasak yang rusak, pengering pakaian gas, pemanas, atau tungku kayu bakar.
Kurangnya ventilasi akan menambah peningkatan konsentrasi karbon monoksida
di sebuah ruangan. Gas CO dapat menimbulkan dampak yang serius bagi
korbannya, bahkan dapat menyebabkan kematian. Namun, selama ini gejala
keracunan gas CO memang sulit ditentukan, mengingat gejala yang ditimbulkan
serupa dengan gejala flu pada umumnya. Karenanya dituntut memiliki
pengetahuan yang lebih akan hal itu. Selain itu juga dapat dilakukan sejumlah
tindakan preventif atau pencegahan agar tidak timbul keracunan tersebut.
Pengetahuan dalam hal penanganannya pun

tak

kalah

penting,

terutama

pengetahuan mengenai penanganan pertama yang dapat dilakukan sesegera


mungkin setelah mengetahui korban keracunan gas CO.