Anda di halaman 1dari 2

Pekerja Asing Ilegal di Bali Dikeluhkan

Selasa, 25 Maret 2014 | 20:43 WIB

Sejumlah tenaga kerja asing dari berbagai negara berunjukrasa memprotes penyiksaan terhadap
Erwiana Sulistyaningsih, TKW Indonesia, di depan Konsulat Indonesia di Hong Kong (16/1).
Kasus Erwiana merupakan kasus terakhir yang menimpa tenaga kerja asing yang bekerja di
Hong Kong. AP/Kin Cheung
TEMPO.CO, Denpasar - Tenaga kerja asing ilegal di Bali dianggap terlalu leluasa menjalankan
usahanya dan mulai dikeluhkan kalangan penyedia jasa pariwisata di Pulau Dewata. Mereka juga
disebut merebut pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya bisa ditangani oleh pekerja lokal.
Kami bahkan menemukan perusahaan jasa selam yang seluruh pekerjanya orang asing.
Dari manager sampai guide-nya, kata Ketut Rasna dari Gabungan Pengusaha Wisata Bahari
(Gahawisri) Bali dalam "Diskusi Selasa Pariwisata" di Bali Tourism Board, Renon, Selasa, 25
Maret 2014. Diskusi ini juga dihadiri oleh perwakilan Imigrasi Denpasar dan Dinas Tenaga Kerja
Bali.
Pengusaha sering kali menemukan kompetensi pekerja asing yang jauh berada di bawah pekerja
lokal. Seperti dalam kecelakaan yang menewaskan penyelam Jepang di Nusa Lembongan barubaru ini. Menurut dia, kecelakaan terjadi karena instruktur penyelam adalah orang Jepang yang
tak mengajak guide lokal. Akibatnya, instruktur dan penyelamnya tidak menguasai pola arus di
lokasi itu.
Keluhan terhadap keberadaan pekerja asing juga disampaikan pengurus Majelis Utama Desa

Pakraman (MUDP), Bali Gde Nurjaya. Menurut dia, banyak orang asing yang masuk ke desadesa dan menikahi orang lokal lalu membuka usaha atas nama istrinya. Ini aturannya
bagaimana?"
Menanggapi keluhan itu, Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Kantor Imigrasi Kelas I
Denpasar, Saroha Manullang, menegaskan, pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi dan
penertiban. Hanya, masalahnya, orang asing di Bali sangat banyak sementara jumlah petugas
masih kurang. Karena itu, kami meminta bantuan masyarakat untuk melaporkan hal-hal yang
mencurigakan, ujarnya.
Dalam soal orang asing yang bekerja setelah menikah dengan warga lokal, dia mengatakan sudah
ada aturan yang ditetapkan Imigrasi bersama Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bahwa
mereka hanya boleh bekerja sekadar untuk mencari penghidupan yang layak, seperti membuka
toko kecil atau warung. Bila pekerjaaan mereka berskala besar atau berbadan hukum, dia
melanjutkan, maka mereka harus dikenai kewajiban layaknya orang asing yang bekerja di
Indonesia.