Anda di halaman 1dari 5

2/11/2016

SejarahHomoseksual:PenyimpanganyangMelintasZamanThisisGender

HomeStudi GenderSejarah Homoseksual: Penyimpangan yang Melintas Zaman

SejarahHomoseksual:PenyimpanganyangMelintasZaman
sakinah

3 months ago

3934

Oleh : Dr. Dinar Dewi Kania


Peneliti INSISTS dan Direktur The Center for Gender Studies (CGS)
Pendahuluan
Abad ke-21 merupakan abad kemenangan kaum homoseksual di Barat. Agama Kristenyang menjadi agama
mayoritas masyarakat Barattak mampu membendung sepak terjang aktivis gerakan pendukung homoseksual.
Perilaku homoseksual di negara-negara Barat tidak lagi dikategorikan sebagai perilaku abnormal sejak Asosiasi Psikiatri
Amerika (APA) mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit mental atauDiagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders(DSM) pada tahun 1973. Saat ini, siapa saja yang menentang homoseksual justru dituduh
sebagaihomophobiayaitu mereka memiliki ketakutan dan kebencian terhadap aktivitas homoseksual. Eksistensi kaum
homo semakin menjadi sorotan dunia ketika putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 26 Juni 2015 melegalkan
pernikahan sesama jenis. Meskipun Belanda menjadi negara pionir yang mengakui pernikahan pasangan homo sejak
tahun 2001, namun dengan legalisasi negara yang dianggapsuperpowerseperti Amerika, membuat kelompok
pendukung kaum homo di berbagai negara mengalami euforia termasuk di Indonesia.
Istilah homoseksual atauhomosexualsendiri secara literal berasal darihomodalam Bahasa Yunani yang berarti sama
(sejenis) dansexdari Bahasa Latin yang berarti seks. Istilah homoseksual pertama kali muncul pada tahun 1896 dalam
Bahasa Jerman pada pamet yang ditulis oleh Karl-Maria Kertbeny, berisi advokasi untuk menghapuskanPrussias
Sodomy Law[i]. Ia memunculkan istilah homoseksual sebagai pengganti istilahsodomiteataupederastyang bersifat
merendahkan, dan waktu itu lazim digunakan secara luas di kalangan masyarakat berbahasa Jerman dan Prancis.
Prussia adalah negara Jerman pertama yang menghapuskan hukuman mati bagi pelaku sodomi pada tahun 1794.[ii]
Kaum Homo Pertama di Muka Bumi
Aktivitas homoseksual pertama dalam sejarah dapat ditelusuri dalam kitab-kitab suci, baik agama Kristen (Injil) maupun
dalam agama Islam (Al-Quran). Al-Quran mengabarkan perilaku homoseksual pertama kali dilakukan oleh kaum
http://thisisgender.com/sejarahhomoseksualpenyimpanganyangmelintaszaman/

1/5

2/11/2016

SejarahHomoseksual:PenyimpanganyangMelintasZamanThisisGender

Sadum (Sodom). Allah SWTtelah mengutus Nabi Luth bin Haran bin Azar, anak saudara Nabi Ibrahim kepada penduduk
Sadum dan negeri-negeri sekitarnya untuk menyeru kepada kebenaran.[iii]Nabi Luth hidup sezaman dengan Nabi
Ibrahim. Menurut al Attas, jarak antara masa sekarang dengan masa nabi Ibrahim sekitar 4215 tahun.[iv]
Allah SWT berrman di Surat Al-Araaf (7) ayat 80 dan 81 bahwa kaum Sadum telah melakukan perbuat
haramfahisyah,yang belum pernah seorang manusia pun pernah melakukannya. Ibn Katsir dalam tafsirnya
menjelaskan bahwafahisyahadalah laki-laki menggauli laki-laki lainnya dan bukan wanita, padahal Allah SWT
menciptakan wanita untuk laki-laki. Hal tersebut menurut Ibn Katsir, merupakan perbuatan yang melampaui batas
karena Kaum Sadum telah menempati sesuatu bukan pada tempat semestinya. Dalam Surat Hud ayat 79 diceritakan
dalih mereka melakukan perbuatan homoseksual karena tidak menyukai wanita. Para Mufasir mengatakan maksud
ayat tersebut adalah ketika kaum laki-laki merasa cukup dengan laki-laki dan kaum wanita tidak lagi memerlukan kaum
laki-laki.[v]Akhirnya dalam Surat Hudd ayat 82-83, Kaum Sadum yang melampaui batas, dihancurkan oleh Allah SWT
dengan membalikkan negeri tempat tinggal mereka ke dalam tanah dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang
terbakar dengan bertubi-tubi.
Yunani Kuno dan Mitos Homoseksual
Praktik Homoseksual dijumpai dalam peradaban Yunani Kuno. Plato (427-347 M) dalam dialognya yang
berjudulSymposiummenceritakan acara pesta minuman khusus pria pada masa itu. Tema percakapan dalam dialog
tersebut adalah tentangEros, yang menyinggung perilaku homoseksual atau pedol lebih tepatnya. Seorang tokohnya,
Pausanias, mengutarakan tentang nafsu pria dewasa untuk mencari kesenangan pada anak lelaki. Sedangkan
Aristophanes menceritakan sebuah mitologi Yunani bahwa kemanusiaan (humanity) pada awalnya adalah manusia
dengan 4 (empat) kaki dan 4 (empat) tangan. Manusia terdiri tiga jenis kelamin yaituhermaphrodite(kelamin ganda),
pria, dan wanita. Namun dewa yunani, Zeus, merasa terancam oleh kekuatan manusia, sehingga ia memotong tubuh
manusia-manusia tersebut menjadi dua bagian. Manusia akhirnya memiliki dua tangan dan dua kaki sehingga yang
dulu berjenis kelamin hermafrodit akan merindukan pasangannya yang berbeda jenis kelamin (heteroseksual).
Sedangkan Manusia yang awalnya berjenis kelamin laki-laki akan merindukan pasangan lelakinya (homoseksual). Begitu
pula yang berjenis kelamin wanita, akan merindukan pasangan wanitanya. Manusia yang terbelah tersebut akan
merindukanthe other halfatau pasangan jiwanya masing-masing.[vi]
Namun Plato dalam karya-karyanya yang terakhir (Phaedrus, Republic,danThe Law), bersikap negatif tentang hubungan
sejenis. Menurut Plato hubungan sejenis adalah hubungan yang tidak alami atau bertentangan dengan hukum alam
(natural law). Plato berargumen bahwa tidak ditemukan binatang yang melakukan tindakan homoseksual. Selain itu,
menurut Platohubungan homoseksual juga memperlemah kekuatan militer karena pria akan kehilangan sifat kelakilakiannya ketika menempatkan diri dalam peran wanita.[vii]
Fenomena homoseksualitas menurut banyak penelitian memang ditemukan pada peradaban Yunani. Namun menurut
Adonis dalam bukunyaHomosexuality in ancient Greece, perilaku homoseksual bukan perilaku yang diterima oleh
masyarakat umum. Banyak penulis Barat yang mencitrakan peradaban Yunani merupakan contoh toleransi terhadap
kaum homoseksual dan cermin dari kebebasan seksual. Padahal hal tersebut tidak benar. Adonis berpendapat bahwa
mereka yang menganggap perilaku homoseksual diterima dalam masyarakat Yunani adalah karena adanya praktik
seksual lelaki dewasa terhadap anak laki-laki (pederasty), yang bahkan untuk ukuran pada zaman ini merupakan
tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
Homosexuality existed in ancient Greece but was not socially approved. This reality, despite the impressions some people try to
create, is undeniable and no author doubts it. Those who tend to present homosexuality as approved by ancient Greeks specify
that they are talking about sex with boys, pederasty, and only under certain conditions, rather severe, if not intolerable by
modern standards.[viii]
Terdapat banyak bukti bahwa Masyarakat Yunani di Kota Athena memiliki hukuman yang tegas terhadap pelaku
homoseksual. Secara sosial dan politik, pelaku homoseksual tidak diperkenankan untuk menempati posisi-posisi di
http://thisisgender.com/sejarahhomoseksualpenyimpanganyangmelintaszaman/

2/5

2/11/2016

SejarahHomoseksual:PenyimpanganyangMelintasZamanThisisGender

masyarakat, tidak boleh masuk ke area publik yang dianggap suci, dan tidak diperkenankan mengikuti acara
keagamaan. Mereka tidak dianggap lagi sebagai bagian dari penduduk Athena. Bahkan lebih dari itu, dalam beberapa
kasus apabila mereka melanggar aturan tersebut terbukti mereka sudah tidak suci (berhubungan homoseksual) maka
pelakunya akan diganjar dengan hukuman mati. Hal tersebut dijelaskan dalam Aeschines, Against Timarchus 2 I:
If an Athenian turns out to be unchaste [that is, if he is involved in a homosexual relationship], he is not allowed to become
one of the nine archons; or to become a priest; or to be prosecutor in a public trial; or to have any oce, within the
boundaries of the Athenian republic or beyond them, whether he is appointed by lot or after an election; or to serve as a
public messenger or judge other public messengers; or to enter public sacred places, to participate in [religious ceremonies of]
wearing of wreath, to be in the parts of the market-place sprinkled with lustral water. But, if he breaks the law and does any of
the above, once he is found guilty of being unchaste, his sentence must be death.[ix]
Romawi dan Misteri Kota Pompeii
Secara umum,penerimaan masyarakat Romawi terhadap homoseksualitas masih menjadi perdebatan para sejarawan
Barat. Namun, terdapat bukti-bukti pelarangan perbuatan homoseksual dalammiliter Romawi dengan ancaman
hukuman mati.[x][xi]Apalagi ketika kekaisaran Romawi menjadikan Kristen sebagai agama resmi kekaisaran, maka
pelaku homoseksual di tengah masyarakat akan dikenakan hukuman mati atau diusir dari tempat tinggalnya.[xii]
Salah satu kota Romawi yang masyarakatnya dianggap memiliki toleransi tinggi terhadap aktivitas homoseksual adalah
Pompeii. Kota Pompeii berada dekat kota Napoli di wilayah Campiana, Italia. Kota tersebut diguncang gempa pada
tahun 63M dan tertutup oleh abu vulkanik sejak tahun 79M akibat letusan gunung Vesuvius.[xiii]Kemudianditemukan
kembali pada tahun 1748M. Sebelum kehancurannya, Pompeii merupakan kota tua Romawi yang telah dihuni dari
generasi ke generasi oleh orang dari berbagai tempat. Kota ini bukan sebuah kota besar, namun pada awal abad ke-2
SM keluarga kaya Oscan Paricians membangun rumah-rumah atau vila mewah di kawasan ini.[xiv]Penelitian arkeologi
menyimpulkan bahwa secara umum penduduk kota Pompeii menjelang kehancurannya adalah orang-orang
menengah keatas.[xv]
Banyak grati ditemukan di reruntuhan kota Pompeii menggambarkan perilaku biseksual dan homoseksual. Menurut
para arkeolog, grati tersebut nampak mengindikasikan tidak ada ketakutan para pelaku homoseksual terhadap
sanksi sosial di tengah masyarakat. Ditemukan banyak grati yang menampilkan gambaran penetrasi laki-laki terhadap
anak laki-laki.[xvi]Hal tersebut menunjukkan adanya perilaku pedol di wilayah Pompeii dan penerimaan
masyarakatnya. Oleh karena itu tidak heran apabila kota Pompeii akhirnya mengalami nasib serupa dengan Negeri
Sadum.
Meskipun banyak sejarawan barat modern yang mencitrakan kota Pompeii sebagai salah satu puncak kemegahan dan
ketinggian peradaban Romawi, namun tidak bisa dibuktikan bahwa penerimaan masyarakatPompeii terhadap aktivitas
homoseksual dan pedoljuga berlaku di seluruh wilayahKekaisaran Romawi.
Bizantium danAnti-Sodomy Laws
Dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi (Barat) dikuasai oleh raja-raja dari suku asli Eropa, menurut Pickett, toleransi
terhadap homoseksual semakin tinggi, kecuali di Spanyol yang dikuasai Visigothic. Setelah kerajaan- kerajaan tersebut
menerima agama Kristen, pandangan gereja terhadap perilaku homoseksual diberlakukan di kawasan
tersebut.[xvii]Pada tahun 527 M Kaisar Justinian diangkat menjadi Kaisar Romawi Timur (Bizantium). Ia memiliki
komitmen penuh untuk memerintah berdasarkan ajaran Kristen. Sehingga pada tahun 1533, Kaisar Justinian
mengeluarkan kode atau aturan yang mengenakan sanksi hukuman mati bagi para pelaku homoseksual. Pelarangan
tindakan homoseksual ini bertujuan untuk menghindari kemurkaan Tuhan dan kehancuran kota-kota Romawi. Rezim
Justinian mengkompilasi dan memformalkan aturan-aturan tersebut yang kemudian dikenal denganCode of Justinian.
Hukum tersebut telah digunakan sebagai hukum dasar kekaisaran Romawi Timur selama ratusan tahun.[xviii]

http://thisisgender.com/sejarahhomoseksualpenyimpanganyangmelintaszaman/

3/5

2/11/2016

SejarahHomoseksual:PenyimpanganyangMelintasZamanThisisGender

Kerajaan Inggris danAct of 25 Henry VIII

Pada tahun 1533 M Parlemen Inggris mengeluarkan Undang-Undang yang dikenal denganAct of 25 Henry VIIIyang
memberikan hukuman gantung kepada pasangan homoseksual termasuk pasangan heteroseksual yang melalukan
persetubuhan melalui dubur (anal intercourse). Undang-undang yang merupakan cerminan dariCode of Justinian,telah
diberlakukan selama berabad-abad. Pada tahun 1861, pemerintah Inggris meringankan hukuman gantung tersebut
menjadi hukuman seumur hidup. Undang-undang tersebut juga diberlakukan di seluruh kekaisaran Inggris dan
menjadi dasar bagianti-sodomy lawdi negara-negara yang berbahasa Inggris, termasuk di Nigeria, Kenya, India,
Malaysia, danlain-lain.[xix]
Pada tahun 1967, Pemerintah Inggris mengganti Undang-Undang ini denganSexual Oences Actyang
mendekriminalisasi perilaku homoseksual.[xx]Namun jauh sebelum itu sebelum itu, pada abad pencerahan,upaya
penghapusananti-sodomy lawtelah dilakukan di Prancis. Pada tahun 1801,kaisar Prancis Napoleon Bonaparte
mengeluarkan aturan yang disebutThe Code of Napoleonyang mendekriminalisasi perilaku sodomi.[xxi]Aturan tersebut
mulai diberlakukan pada tahun 1804 kemudian diadopsi oleh negara-negara Eropa yang saat itu menjadi jajahan
Prancis, termasuk Belanda yang saat itu sedang menguasai negara Indonesia.
Abad 20 :Homo Politics
Gerakan homoseksual modern muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20 di Eropa. Pusat intelektualnya berada di
Jerman, namun Inggris juga memiliki peranan penting dalam gerakan ini. Tokoh gerakan homoseksual di Jerman pada
saat itu diantaranya Magnus Hirschfeld (1868 1935) dan Richard Linsert (1899-1933).[xxii]Setelah Perang Dunia ke-2,
beberapa organisasi homoseksual bermunculan di berbagai negara Barat yang dikenal denganHomophile movements.
[xxiii]Pada akhir abad ke 19 gerakan ini mulai menggunakan media ilmiah seperti diskusi-diskusi dalam bidang medis.
Di Kota-kota besar Amerika tempat berkumpulnya para lelaki seperti New York dan San Fransisco, mulai bermunculan
bar-bar dan diskotik khusus kaum homo.
Gerakan pendukung hak-hak kaum homoseksual kemudian membentuk kelompok-kelompoksepertithe ScienticHumanitarian Leagueyang memiliki cabang di berbagai negara. Ada juga organisasi pendukung homoseksual
sepertiWorldLeague for Sexual Reformyang memiliki keanggotaan internasional. Gerakan tersebut terus berlanjut dan
semakin bertambah setelah Stonewall Riotsdi tahun 1969. Saat ini eksistensi kelompok sepertithe International Lesbian
and Gay Association (ILGA)bekerja untuk memperjuangkan hak-hak kelompok homoseksual di negara-negara
berkembang.[xxiv]Gerakan pendukung homoseksual di Barat semakin gencar di era 1960 dan 1970-an seiring dengan
penghapusananti-sodomy lawyang selama ribuan tahun telah mengkriminalisasi aktivitas homoseksual dan dianggap
sebagai sumber perlakuan diskriminatif terhadap kaum pencinta sejenis tersebut.
Penutup
Dalam catatan sejarah, aktivitas kaum homoseksual muncul di setiap zaman dan di berbagai belahan dunia.
Keberadaan kaum homo tersebut tidak berarti menunjukkan penerimaan masyarakat secara sosiologis maupun
kultural. Di masa lalu, homoseksual identik dengan pedolia karena menyasar anak dan remaja laki-laki. Eksistensi
kaum homo di setiap zaman, juga tidak dapat menjadi legitimasi bahwa orientasi seksual adalah given dan tak bisa
diubah. Orang bijak mengatakan, kebenaran harus dinyatakan dan bukan justru membenarkan kenyataan padahal
kenyataan tersebut menyimpang dari kebenaran. Perilaku homoseksual sejak kemunculannya telah dianggap sebagai
penyimpangan seksual karena bertentangan dengan moralitas dan agama. Namun sayangnya, di zaman modern ini
moralitas dan agama dipaksa tunduk pada argumentasipseudo-sciencedanhomo politicsdipropagandakan secara luas
ke seluruh dunia.
Catatan:
[i]The Prussian Sodomy Law baru benar-benar dihapuskan pada tahun 1994.
http://thisisgender.com/sejarahhomoseksualpenyimpanganyangmelintaszaman/

4/5

2/11/2016

SejarahHomoseksual:PenyimpanganyangMelintasZamanThisisGender

[ii]Brent L. Pickett. 2009.The Historical Dictionary of Homosexuality. Maryland : The Scarecrow Press. hlm. 78
[iii]Ahmad Al-Usairy.2003.Sejarah Islam.Jakarta : Akbar Media Eka Sarana. hlm. 34
[iv]Syed Muhammad Naquib Al-Attas. 2015.On Justice and the Nature of Man.Kuala Lumpur : IBFIM. hlm. 57
[v]Muhammad Nasib Ar-Rifai. 1999.Ringkasan Tafsir Ibn Katsir.Jilid 2. Depok : Gema Insani Press. hlm. 392 393
[vi]Brent L. Pickett. hlm. 10-13 dan 153-154
[vii]Louis Crompton.2003.Homosexuality and Civilizations, Cambridge : The Belknap Press of Harvard University Press.
hlm. 62
[viii]Adonis Ath. Giorgiades.2004.Homosexuality in Ancient Greece : The Myth is Collapsing.Athens: Georgiades . hlm 197198
[ix]Ibid. hlm. 57
[x]Dynes.1990.Encyclopedia of HomosexualityVol 1, Garland Publishing. hlm 1144
[xi]Beert C. Verstraete. 1980. Slavery and The Social Dynamics of Male Homosexual Relations in Ancient Rome.
Journal of Homosexuality. Volume 5 Issue 3. Published online 26 Oct 2008.
[xii]Dynes . hlm 406
[xiii]Ingrid D. Rowland . 2014.From Pompeii : the afterlife of a Roman town .Cambridge : The Belknap Press of Harvard
University Press. hlm. 1
[xiv]Paul Zanker. 1998.Pompeii : Public and Private Life. Cambridge : Harvard University Press.hlm. 3
[xv]Ibid. hlm. 199
[xvi]Dynes. hlm 1144
[xvii]Pickett hlm. 58
[xviii]Ibid. hlm. 46
[xix]Ibid. hlm. 1
[xx]Ibid. hlm. 17
[xxi]Ibid hlm. 59
[xxii]Dynes.hlm. 796, 862
[xxiii]Pickett hlm. 4
[xxiv]Ibid. hlm. 5

http://thisisgender.com/sejarahhomoseksualpenyimpanganyangmelintaszaman/

5/5