Anda di halaman 1dari 7

TATALAKSANA SYOK ANAFILAKSIS

No. Dokumen

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
INTENSIF
Pengertian
Tujuan

Kebijakan
Prosedur

Revisi

YM.01.11/SPO.I.C2/4769/2011

00

Tanggal Terbit :

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

Halaman
1/1

8 April 2011

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Penurunan perfusi ke jaringan akibat reaksi alergi yang dimediasi oleh IgE
( Imunoglobulin E)
1. Memberikan panduan mengenai pengertian syok anafilaksis
2. Memberikan penduan dalam mengenali gejala dan tanda syok
anafilaksis
3. Memberikan panduan standar untuk tatalaksana syok anafilaksis
4. Memberikan panduan standar penatalaksanaan komplikasi syok
anafilaksis dengan manifestasi obstruksi jalan nafas, kegagalan
pernafasan dan sirkulasi
1. Dilakukan oleh dokter ICU terlatih/berpengalaman
2. Dilakukan sebelum pasien masuk ke ICU
Persiapan
1. Oksigen Suplementasi, Nasal Canul/Sungkup Muka, BVM (Bag Valve
Mask), Larigoskopi, OTT, Ventilator
2. Pasang Monitor EKG Dan Pengukuran Tekanan Darah
3. Fasilitas Akses Intravena Sesuai Umur Pasien :
a. Catheter Intra Vena
b. Infus Set
c. CVC
d. Cairann Kristaloid Dan Koloid
4. Obat-Obatan Inotropik Vasokonstriktor
5. Fasilitas Untuk Pemeriksaan Laboratorium (Spuit, Tabung DL, Faal
Hemostasis, AGD)
Prosedur Kerja
1. Amankan airway/jalan nafas
2. Beri suplementasi oksigen, pasang nasal canula atau sungkup muka
3. Tentukan akses intra vena yang adekuat, mulai pemberian cairan
kristaloid atau koloid 10-20 cc/kgBB kurang dari 10 menit
4. Monitoring ketat respon pemberian cairan
5. Epinefrine 1/1000 0,3-0,5 mL (SC) atau epinefrine 1/10000 3-5 mL (IV
kasus berat)
6. Vasopressor
7. Steroid (hidrocortisone 100-200 mg IV @ 4-6 jam )
8. Antihistamin (Dyphenhydramine 25-50 mg @ 4 jam dan cimetidine
300 mg @ 8 jam).
9. Aminophylline 5-6 mg/Kg (bolus) lanjut dgn 0,4-0,9 mg/kg/mnt
10. Bronchodilator/Nebulisasi @ 4 jam
11. Pemeriksaan laboratorium

Unit Terkait

SMF Anestesi Dan Reanimasi, SMF Penyakit Dalam, SMF Bedah, SMF
Penyakit Anak

TATALAKSANA DENGUE SYOK SYNDROME (DSS)


No. Dokumen

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
INTENSIF
Pengertian
Tujuan

Kebijakan
Prosedur Kerja

Revisi

YM.01.11/SPO.I.C2/4766/2011

00

Tanggal Terbit :

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

Halaman
1/2

8 April 2011

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Penyakit infeksi akibat virus dengue yang telah disertai dengan adanya
kegagalan sirkulasi
1. Memberikan panduan dalam mengenali gejala dan tanda DSS
2. Memberikan panduan mengenai tatalaksana DSS dengan manifestasi
perdarahan atau tanpa perdarahan
3. Memberikan bantuan penatalaksanaan komplikasi DSS
1. Dilakukan oleh dokter ICU terlatih/berpengalaman
2. Dilakukan sebelum pasien masuk ke ICU
Persiapan
1. Oksigen Suplementasi, nasal canula, sungkup muka
2. Pasang monitor EKG dan pengukuran tekanan darah
3. Fasilitas akses intravena sesuai umur pasien:
a. Kateter intravena
b. Infusion set
c. CVC
d. Cairan kristaloid dan koloid
4. Komponen darah (PRC, FFP, TC)
5. Obat-obatan inotropik vasokonstriktor
6. Fasilitas untuk pemeriksaan laboratorium (spuit, tabung DL, faal
hemostatis)
Prosedur Kerja
1. Amankan airway
2. Breathing, beri suplementasi oksigen, pasang nasal canula atau
sungkup muka
3. Circulation, tentukan akses intra vena yang adekuat, mulai
pemberian cairan kristaloid,atau koloidm10-20ncc/kgBB kurang
dari 10 menit

TATALAKSANA DENGUE SYOK SYNDROME (DSS)


No. Dokumen

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
INTENSIF
Prosedur Kerja

Unoit Terkait

Revisi

YM.01.11/SPO.I.C2/4766/2011

00

Tanggal Terbit :

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

Halaman
2/2

8 April 2011

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


4. Monitoring ketat respon pemberian ................
5. Bila tetap syok, guyur kristaloid 20-30 ml/kgBB dalam 20-30
menit.
Bila membaik, kristaloid 7 ml/kgBB dalam 1 jam
Perhatikan tanda-tanda overload (hipervolemia)
Pemeriksaan laboratorium serial
SMF Penyakit Dalam, SMF Anak

MANAJEMEN PASIEN SEPSIS DAN SYOK SEPTIK


No. Dokumen

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
INTENSIF

Revisi

YM.01.11/SPO.I.C2/4768/2015

00

Tanggal Terbit :

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

Halaman
1/3

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Pengertian

Tujuan

Kebijakan
Prosedur Kerja

Sepsis didefinisikan sebagai SIRS disertai dengan bukti adanya infeksi.


Sepsis berat sebagai sepsis dengan tanda-tanda gangguan fungsi organ,
hipoperfusi atau hipotensi dan gangguan perfusi menetap walaupun telah
dilakukan resusitasi cairan yang adekuat.
Sedangkan SIRS itu sendiri merupakan respon tubuh terhadap infeksi
atau respon inflamasi sistemik dapat dikenali sebagai Systemic
Inflammatory Response Syndromes (SIRS), yang meliputi 2 atau lebih
tanda sebagai berikut : suhu tubuh > 38C atau hipotermia (suhu <
36C), takikardia (denyut jantung > 90 denyut/ menit), takipnea
(respirasi > 20 kali/menit atau PaCO2 < 32mmHg atau memakai
ventilator ) dan leokositosis (leokosit > 12.000/L) atau leokopenia
(leokosit < 4.000/L) atau > 10% bentuk sel muda (band form).
1. Memberikan panduan untuk pengenalan awal gejala sepsis
2. Memberikan panduan untuk melakukan diagnosis sepsis awal
yang tepat dan akurat
3. Memberikan panduan standart guna menurunkan angka kematian
akibat sepsis dan syok septic.
4. Memberikan panduan standard terhadap upaya-upaya pencegahan
dalam menghentikan perjalanan infeksi menjadi sepsis dan
kemudian syok septic.
Pedoman Pelayanan Anestesiologi dan Reani Masi di Rumah Sakit
1. Melakukan diagnosis awal yang tepat dan akurat berdasarkan
kriteria klinis termasuk SIRS, sepsis, sepsis berat atau syok septik

MANAJEMEN PASIEN SEPSIS DAN SYOK SEPTIK


No. Dokumen

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur Kerja

YM.01.11/SPO.I.C2/4768/2015

No. Revisi
00

Halaman
2/3

2. Mangemen pasien sepsis dan syok septik didasarkan pada


Surviving Sepsis Compaign (SSC) dan Early Goal-directed
Therapy (EGDT)
3. EGDT merupakan algoritme penanganab sepsis berat dan syok
septik yang mengoptimalisasi kondisi hemodinamik dengan
mengembalikan keseimbangan antara kebutuhan dan suplay
oksigen dalam 6 jam sejak dari ruangan gawat darurat.
4. Targetnya adalah mempertahankan suplay oksigen yang adekuat
dengan mengoptimalisasi volume intravascular (pre-load) yang
dimonitor melalui central venous pressure (CVP), tekanan darah
(after-load ) dengan monitoring mean arterial pressure (MAP),
dan mengembalikan keseimbangan kebutuhan dan suplay oksigen
dengan bantuan pengukuran saturasi oksigen vena sentral
( ScvO2) untuk memperbaiki hypoxia global.
5. Setelah diagnosa sepsis ditegakkan, fase awala dilakukan
pemasangan CVP untuk menilai volume intravascular. Bila
diperlukan pasien dapat diintubasi
6. Urine 0,5 mL/kgBB/jam. Obat vasoaktif yang dapat digunakan
antara lain dopamin (5-20g/kg/min), nerefineprin (2-20g/min),
fenileprin (40-300g/min) dan vasopresin (0.01-0.04 units/min)
7. Setelah pre-load dan after-load mencapai kondisi yang optimal,
dilakukan pengukuran saturasi oksigen vena sentral (ScvO2) atau
dari Mixed Venous ( SvO2). Bila ScvO2 kurang dari 70% dan
SvO2 kurang dari 65%, pemberian tranfusi darah dapat dilakukan
untuk mengoptimalkan penghantaran oksigen, terutrama pada
pasien dengan anemia (hemoglobin <10g%), untuk mencapai
target HCT >30%
8. Eradikasi kuman dilakukan dengan melakukan drainage pada
sumber infeksi dan pemberian antibiotika

MANAJEMEN PASIEN SEPSIS DAN SYOK SEPTIK


No. Dokumen

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur Kerja

Unit Terkait

YM.01.11/SPO.I.C2/4768/2015

No. Revisi
00

Halaman
3/3

9. Antibiotika diberikan yang berspektrum luas atau kombinasi


beberapa antibiotika, terutama bila hasil biakan darah belum
didapatkan. Penggunaan anti jamur sebagai anti mikroba lini
pertama dapat dipertimbangkan terutama pada pasien dengan
imunokopromis/imunodefisiensi. Dipertimbangkan pula
kombinasiantibiotika pada kemungkinan infeksi pseudomonas
atau pada pasien neutropenia yang pemberiannya tidak lebih dari
3-5 hari
10. Pasien sepsis atau syok septik yang disertai denagn ALI dan Adult
Respiratory Distress syndrome (ARDS) yang diberikan ventilasi
mekanik diberikan ventilasi dengan volume tidal yang rendah
(6mL/kgBB) dengan plateu pressure dipertahankan <30 cmH2O
11. Hiperglikemia dan resistensi insulin sering terjadi pada pasien
sepsis, target kadar glukosa < 150mg/dL. Gula darah dipantau
setiap 1-2jam, setelah kondisi stabil pemeriksaan dilakukan setiap
4 jam.
12. Terapi nutrisi terutama nutrisi enteral lebih baik dibandingkan
parenteral nutrisi karena lebih aman dan lebih efektif. Namun
total parenteral nutrisi diperlukan pada pasien dengan abdominal
sepsis, pembedahan atau trauma.
13. Untuk pasien sepsis yang menggunakan ventilasi mekanik,
profilaksis terhadap stress ulcer dapat diberikan antagonis resptorH2. Proton pump inhibitor.
SMF Penyakit Dalam, SMF Penyakit Bedah, SMF Penyakit Anak, SMF
Obgyn