Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Karsinoma rekti adalah suatu keganasan jaringan epitel pada daerah rektum.
Karsinoma rekti termasuk kasus keganasan yang sering terjadi pada daerah kolon dan
rektum akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali. Insidens kanker
kolorektal di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka kematiannya. Pada tahun 2002,
kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada kasus kanker yang terdapat pada pria.
Sedangkan pada wanita kanker kolorektal menempati peringkat ketiga dari semua
kasus kanker. Karsinoma rekti atau kanker rektal merupakan salah satu jenis kanker yang
tercatat sebagai penyakit mematikan di dunia. Diagnosis karsinoma rekti pada umumnya
tidaklah sulit, tetapi kenyataannya penderita sering terdiagnosis pada stadium lanjut
sehingga pembedahan kuratif seringkali tidak dapat dilakukan. Padahal jika penderita telah
terdeteksi secara dini menderita karsinoma rekti sebelum stadium lanjut, kemungkinan
untuk sembuh dapat mencapai 50%. Pemeriksaan colok dubur atau rectal toucher
sebenarnya merupakan sarana diagnosis yang paling tepat, dimana 90% diagnosis
karsinoma rekti dapat ditegakkan dengan colok dubur.
Tingginya angka kematian akibat karsinoma rekti mendorong upaya untuk
menurunkan angka kematian tersebut. Upaya yang dilakukan adalah dengan mendeteksi
karsinoma rekti secara dini. Dengan harapan pemeriksaan colok dubur selalu dilakukan di
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Angka kemungkinan untuk bertahan hidup
selama 5 tahun pada pasien dengan karsinoma rekti stadium dini adalah sebesar 58,9%
sampai 78,8% dan angka ini akan berkurang seiring dengan meningkatnya stadium yaitu
hanya sebesar 7% pada karsinoma rekti stadium akhir.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Rektum
Secara anatomis, rektum berada setinggi vertebrae sakrum ke-3 sampai garis
anorektal. Secara fungsional dan endoskopis, rektum dibagi menjadi bagian ampula dan
spinchter. Bagian spinchter disebut juga annulus hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus
levator ani dan fascia coli dari fascia supra ani. Bagian ampula terbentang dari vertebra
sacrum ke-3 sampai diafragma pelvis pada insersio muskulus levator ani. Panjang rektum
berkisar antara 10-15cm dengan keliling 15 cm pada bagian rectosigmoid junction dan
35 cm pada bagian yang terluas yaitu ampula. Pada manusia, dinding rectum terdiri dari
4 lapisan, yaitu mukosa, submukosa, muskularis (sirkuler dan longitudinal), serta lapisan
serosa.
Vaskularisasi daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior, media, dan
inferior. Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis interna dan
berjalan ke arah cranial ke dalam vena mesenterika inferior untuk selanjutnya melalui
vena lienalis dan menuju vena porta. Vena ini tidak memiliki katup, sehingga tekanan
dalam rongga perut atau intraabdominal sangat menentukan tekanan di dalam vena
tersebut.
Rectum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan feses
sementara. Biasanya rectum ini kosong karena feses disimpan di tempat yang lebih
tinggi, yaitu pada kolon descendens. Jika kolon descendens penuh dan feses masuk ke
dalam rektum, maka akan ada keinginan untuk buang air besar. Mengembangnya dinding
rectum karena penumpukan material di dalam rectum akan memicu sistem saraf yang
menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering
kali material akan dikembalikan ke usus besar dimana penyerapan air kembali dilakukan
sehingga pengerasan feses akan terjadi.

B. Definisi
Kanker kolon dan rektum adalah kanker yang menyerang usus besar dan rektum.
Penyakit ini adalah kanker peringkat ke 2 yang mematikan. Usus besar adalah bagian
dari sistem pencernaan. Etiologi dari kanker kolorektal tidak diketahui, tetapi tampaknya

asal kanker kolorektal multifaktorial termasuk faktor lingkungan dan komponen genetik.
Diet mungkin memiliki peran etiologi, terutama diet dengan kadar lemak tinggi (Smith,
2008).
C. Etiologi Karsinoma Recti
Etiologi karsinoma rektum sama seperti kanker lainnya yang masih belum diketahui
penyebabnya. Faktor predisposisi penting yang mungkin berkaitan adalah kebiasaan
makan. Masyarakat yang dietnya rendah selulosa tapi tinggi protein hewani dan lemak,
memiliki insiden yang cukup tinggi. Diet rendah serat, tinggi karbohidrat refined,
mengakibatkan perubahan pada flora dan perubahan degradasi garam-garam empedu
atau hasil pemecahan protein dan lemak, dimana sebagian dari zat-zat ini bersifat
karsinogenik.
Diet rendah serat juga menyebabkan pemekatan zat yang berpotensi karsinogenik
dalam feses yang bervolume lebih kecil. Selain itu, masa transisi feses meningkat,
akibatnya kontak zat yang berpotensi karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama.

D. Patofisiologi Karsinoma Recti


Dinding rectum terdiri atas empat lapisan, yaitu lapisan mukosa, sub mukosa,
muskularis, dan serosa. Lapisan mukosa merupakan lapisan pertama dimana di lapisan
ini terjadi absorbsi nutrisi, lemak, serta protein dari makanan. Lapisan kedua adalah
lapisan sub mukosa. Lapisan ini kaya akan pembuluh darah yang membantu dalam
pendistibusian nutrisi yang telah diabsorbsi ke organ vital lainnya. Lapisan ketiga adalah
muskularis yang membantu makanan agar terdorong di dalam intestine dan lapisan yang
paling luar adalah lapisan serosa.
Kanker kolorektal biasanya dimulai dari benjolan atau tumor jinak di lapisan mukosa.
Dengan adanya faktor resiko yang dibawa oleh individu, tumor jinak itu akan terus
mengalami perumbuhan dan perkembangan. Normalnya, sel-sel epitel pada mukosa
rectum akan mengalami regenerasi setiap 6 hari. Pada keadaan patologis terjadi
perubahan genetic yang akan mengganggu proses diferensiasi dan maturasi dari sel-sel
tersebut yang pada akhirnya menyebabkan replikasi tak terkontrol.
Peningkatan jumlah sel akibat replikasi tak terkontrol akan menyebabkan terjadinya
mutasi yang akan mengaktifkan K-ras onkogen dan mutasi gen p53, dan hal ini akan
mencegah terjadinya apoptosis dam memperpanjang hidup sel. Perkembangan tumor

yang terjadi terus menerus lama kelamaan akan mengubah tumor ke dalam bentuk
metastasis. Untuk dapat bermetastasis, pertama sel tumor harus mampu bertahan hidup
dan terus tumbuh pada lapisan pertama. Agar dapat menyebar, sel tumor juga harus
mampu menginvasi secara local dan masuk ke pembuluh darah untuk menginvasi
sirkulasi. Setelah bertahan dalam sirkulasi darah, sel tumor harus bisa keluar dan
menginvasi ke lapisan atau jaringan baru. Pada akhirnya sel tumor dapat bermetastasis ke
jaringan baru yang lebih jauh lagi.

E. Klasifikasi Karsinoma Rektum


Ada beberapa jenis klasifikasi dalam penentuan stadium karsinoma rekti.
1. Modifikasi klasifikasi Dukes (Modified Astler-Coller Staging System)

2.

Klasifikasi berdasarkan sistem Tumor- Node-Metastase (TNM)

Menurut American Cancer Society (2013) klasifikasi stadium kanker kolorektal


dapat didefinisikan sebagai berikut :
1. Stadium 0 (Carsinoma in Situ) : kanker hanya pada lapisan terdalam dari kolon
atau rektum.
2. Stadium I : sel kanker telah tumbuh pada dinding dalam kolon atau rektum, tapi
belum menembus ke luar dinding.
3. Stadium II : sel kanker telah menyebar ke dalam lapisan otot dari kolon atau
rektum. Tetapi sel kanker di sekitarnya belum menyebar ke kelenjar getah
bening.
4. Stadium III : kanker telah menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening di
daerah tersebut, tetapi tidak ke bagian tubuh yang lain.

5. Stadium IV : kanker telah menyebar di bagian lain dari tubuh, seperti hati, paruparu, atau tulang.

F. Manifestasi Klinis
Gejala umum dari kanker kolorektal ditandai oleh perubahan kebiasaan buang air besar.
Gejala tersebut meliputi (Sjamsuhidajat & de Jong, 2011):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Diare atau sembelit.


Merasa bahwa usus tidak kosong.
Ditemukannya darah (baik merah terang atau sangat gelap) di feses.
Feses yang dikeluarkan lebih sedikit dari biasanya
Sering mengalami sakit perut, kram perut, atau perasaan penuh atau kembung
Kehilangan berat badan tanpa alasan yang diketahui
Merasa sangat lelah sepanjang waktu
Mual atau muntah
Gejala-gejala tersering dari kanker usus besar adalah perubahan kebiasaan defekasi,

perdarahan, nyeri, anemia, anoreksia, dan penurunan berat badan. Karsinoma kolorektal
cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks.
Diare, nyeri, kejang, dan kembung sering terjadi. Karena lesi kolon cenderung
melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti
pita. Baik mukus maupun darah segar sering terlihat pada feses. Dapat terjadi anemia
akibat kehilangan darah kronik (Price, 2006).
Berikut ini merupakan gejala yang seringkali dikeluhkan oleh pasien:
1. Diare palsu atau spurious diarrhea
merupakan keluhan BAB yang frekuen tetapi hanya sedikit yang keluar disertai
dengan lendir dan darah serta ada rasa tidak puas setelah BAB. Terjadinya diare palsu
oleh karena adanya proses keganasan pada epitel kelenjar mukosa rectum, berupa
suatu massa tumor, dimana tumor akan merangsang keinginan untuk defekasi, tetapi

yang keluar hanya sedikit disertai hasil sekresi kelenjar berupa mucus dan darah oleh
karena rapuhnya massa tumor

2. BAB berlendir
Seperti halnya diare palsu merupakan manifestasi adanya proses keganasan pada epitel
kelenjar mukosa rectum.

3. Feses pipih seperti kotoran kambing


Bentuk feses yang pipih sangat tergantung dari bentuk makroskopis massa tumor pada
rectum. Pada stadium dini, dimana tumor masih kecil dan tidak berbentuk anuler, jarang
ditemukan perubahan bentuk feses.

4. Penurunan berat badan


Pada dasarnya akan terjadi pada semua penderita dengan keganasan, terutama pada
stadium lanjut. Penderita dengan keganasan akan mengalami perubahan metabolisme
oleh karena adanya reaksi inflamasi tumor dengan host. Adanya peningkatan
metabolism protein, karbohidrat, dan lemak akan menyebabkan keseimbangan energi
protein menjadi negative sehingga diikuti dengan penurunan berat badan. Pada
karsinoma rekti dapat terjadi obstruksi parsial sehingga penderita akan mengeluhkan
perut terasa kembung dan nafsu makan turun.

5. Perdarahan bercampur tinja


Perdarahan pada keganasan kolorektal terjadi kaena adanya proses inflamasi pada massa
tumor. Sifat perdarahan yang keluar akan bercampur dengan tinja dan berwarna
kehitaman jika massa tumor terdapat pada kolon proksimal, sedangkan darah yang
keluar akan berwarna merah segar jika lokasi massa tumor pada kolon distal.

G. Pemeriksaan Diagnostik

Kemajuan teknologi telah membuka peluang untuk mendiagnosis kanker kolorektal


lebih dini baik dengan pemeriksaan invasif maupun non invasif. Penunjang diagnostik
yang perlu segera dilakukan antaralain:
1. Pemeriksaan Rektum
Pada pemeriksaan ini dapat dipalpasi dinding lateral, posterior, dan anterior, serta
spina iskiadika, sakrum dan koksigeus dapat diraba dengan mudah. Metastasis
intraperitoneal dapat teraba pada bagian anterior rektum dimana sesuai dengan posisi
anatomis kantong douglas sebagai akibat infiltrasi sel neoplastik. Terabanya massa
abdominal menunjukkan suatu penyakit yang sudah lanjut. Pada Rectal examination
(pemeriksaan colok dubur ) yang harus dinilai adalah:
a. Keadaan tumor: ekstensi lesi pada dinding rektum serta letak bagian terendah
terhadap cincin anorektal, serviks uteri, bagian atas kelenjar prostat atau ujung
os koksigeus.
b. Mobilitas tumor: hal ini sangat penting untuk mengetahui prospek terapi
pembedahan Lesi yang sangat dini biasanya masih dapat digerakkan pada
lapisan otot dinding rektum. Pada lesi yang sudah mengalami ulserasi lebih
dalam umumnya terjadi perlekatan dan fiksasi karena penetrasi atau perlekatan
ke struktur ekstrarektal seperti kelenjar prostat, buli-buli, dinding posterior
vagina atau dinding anterior uterus.
2. Kolonoskopi
Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh mukosa kolon
dan rektum. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya dapat mencapai 160 cm.
kolonoskopi merupakan cara yang paling akurat untuk dapat menunjukkan polip
dengan ukuran kurang dari 1 cm dan keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi
sebesar 94%.
Klonoskopi mirip dengan sigmoidoskopi kecuali bahwa mengkaji seluruh panjang
usus besar. Jika polip atau kelainan lainnya yang dideteksi, mereka dapat dibiopsi
dan dikirim ke laboratorium untuk menentukan apakah merupakan sel-sel kanker.
Karena prosedur ini lebih invasif, sedasi biasanya diberikan kepada pasien.
Colonoscopy dianggap paling efektif dan menyeluruh dari semua tes untuk kanker
kolorektal. Sebuah tes baru yang kurang invasif disebut kolonoskopi virtual
melibatkan penggunaan prosedur X - ray , computed tomography. Jika sesuatu yang
mencurigakan diidentifikasi pada gambar , kolonoskopi konvensional diperlukan.

3. Biopsi
Jaringan diambil dan diperiksa di bawah mikroskop oleh ahli patologi adalah satusatunya cara yang pasti untuk membuat diagnosis kanker kolorektal. Sebuah sampel
biopsi juga dapat menentukan seberapa agresif kanker, dan mungkin dapat
menunjukkan sejauh mana telah mempengaruhi usus besar atau rektum dinding. Jika
terdapat sebuah obstruksi sehingga tidak memungkinkan dilakukannya biopsi maka
sikat sitologi akan sangat berguna.
4. Tes Occult Blood
Tes ini akan mendeteksi 20 mg hb/gr feses. Tes imunofluoresensi dari occult blood
mengubah Hb menjadi porphirin berfluorosensi, yang akan mendeteksi 5-10 mg
hb/gr feses. Single- stool sample pada FOBT (Fecal Occult Blood Test) hasilnya
tidak memuaskan sebagai skrining KKR dan tidak direkomendasikan (Levin, 2008).
5. Carcinoembrionic Antigen (CEA)
CEA adalah sebuah glikoprotein yang terdapat pada permukaan sel yang masuk ke
dalam peredaran darah, dan digunakan sebagai marker serologi untuk memonitor
status kanker kolorektal dan untuk mendeteksi rekurensi dini dan metastasis ke
hepar. CEA tidak spesifik untuk screening kanker kolorektal. Nilai CEA serum baru
dapat dikatakan bermakna pada monitoring berkelanjutan dan berguna sebagai
pertanda prognosis setelah pembedahan dan sebagai pembanding dengan nilai
sebelum dilakukan operasi. Tingginya kadar CEA pre-operatif merupakan suatu
indikator prognostik yang buruk. tingginya kadar CEA dalam serum menunjukkan
bahwa kanker lebih ekstensif dan kemungkinan terjadi kekambuhan post-operatif.
Setelah dilakukan reseksi kanker secara lengkap, kadar CEA serum akan turun
menjadi normal, kegagalan serum CEA menjadi normal post-operatif menunjukkan

reseksi yang dilakukan tidak lengkap dan masih tersisa (Michael, 2001). Nilai
normal: < 5,0 ng/ml .
6. CA 19-9
Kegunaan pemeriksaan CA 19-9 adalah sebagai penanda tumor (tumor marker).
Selain itu digunakan untuk diagnosis kanker pankreas, membantu membedakan
kanker pankreas dan saluran empedu, serta kondisi non kanker seperti pankreatitis,
memonitor respon terhadap terapi, memonitor prognosis kanker pankreas,
pemeriksaan pendukung seperti: CEA, bilirubin, fungsi liver (Michael, 2001).
7. Imaging Tehnik
MRI, CT scan, transrectal ultrasound merupakan bagian dari tehnik pencitraan yang
digunakan untuk evaluasi, stadium dan tindak lanjut pasien dengan kanker kolon,
tetapi bukan merupakan screening tes (Schwartz, 2005).
8. Endoscopy UltraSound (EUS)
EUS secara signifikan menguatkan penilaian preoperatif dari kedalaman invasi
tumor, terlebih untuk tumor rektal. Keakurasian dari EUS sebesar 95%, 70% untuk
CT dan 60% untuk digital rectal examination (Casciato, 2011).
H. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Satu-satunya kemungkinan terapi kuratif ialah tindak bedah. Tujuan utama ialah
memperlancar saluran cerna, baik bersifat kuratif maupun nonkuratif. Tindak bedah
terdiri atas reseksi luas karsinoma primer dan kelenjar limf regional. Bila sudah
terjadi metastasis jauh, tumor primer akan di reseksi juga dengan maksud mencegah
obstruksi, perdarahan, anemia, inkontinensia, fistel, dan nyeri (Sjamsuhidajat & de
Jong, 2011).
Pembedahan adalah pengobatan utama untuk kanker usus besar dan rektum.
Standar operasi, yang disebut reseksi radikal, melibatkan sayatan melalui perut dan
pengangkatan tumor dan jaringan sekitar usus, serta pembuluh darah yang
berdekatan dan juga kelenjar getah bening. Kedua ujung dari usus yang tersisa
disambungkan. Pada kanker kolorektum, kolostomi (di mana usus dibawa melalui
kulit ke bagian eksternal untuk membuang feses).
Ketika bagian dari usus besar atau rektum diangkat, ahli bedah biasanya dapat
menghubungkan bagian-bagian yang sehat, yang memungkinkan pasien untuk
membuang feses secara normal. Namun, terkadang rekoneksi tidak mungkin segera.
Dalam hal ini, ahli bedah menghubungkan usus untuk pembukaan (stoma) yang
dibuat di kulit perut, sehingga feses bisa meninggalkan tubuh.
Prosedur bedah untuk menciptakan sebuah lubang di tubuh untuk membuang
feses disebut ostomy. Ketika stoma terhubung ke usus besar disebut kolostomi; ketika

stoma terhubung ke usus kecil itu disebut ileostomy. Biasanya kantong datar pas
dengan stoma, dibuat di bagian stoma oleh perekat khusus, untuk mengumpulkan
feses. Kebanyakan pasien dengan kanker kolorektal yang membutuhkan kolostomi
membutuhkannya hanya sementara, sampai usus besar atau rektum sembuh dari
operasi. Setelah penyembuhan terjadi, biasanya dalam 6 sampai 8 minggu, ahli bedah
menghubungkan ujung usus besar dan menutup stoma. Seseorang dengan ostomy
perlu belajar untuk merawat stoma dengan bantuan dari dokter, perawat, dan ahli
terapi enterostomal (profesional kesehatan yang terlatih untuk merawat orang-orang
dengan stoma). Seringkali, jika operasi membuat sebuah ostomy, seorang terapis
enterostomal akan mengunjungi pasien sebelum operasi untuk menjelaskan apa yang
diharapkan dan bagaimana untuk merawat ostomy setelah operasi. Mereka juga akan
berbicara tentang isu-isu gaya hidup, termasuk kekhawatiran emosional, fisik, dan
seksual, dan dapat memberikan informasi tentang sumber daya dan dukungan kelomp
ok.
Efek samping dari bedah kolorektal sebagai pengobatan kanker, waktu yang
dibutuhkan untuk sembuh setelah operasi berbeda untuk setiap orang. Pasien sering
mengeluhkan nyeri dalam beberapa hari pertama; Namun, ini biasanya dapat
dikendalikan dengan obat-obatan. Dan perlu beberapa hari bagi pasien agar bisa
makan normal lagi. Pasien dimonitor untuk tanda-tanda perdarahan, infeksi, atau
masalah lain yang membutuhkan perawatan segera. Efek samping dari operasi kanker
kolorektal mungkin termasuk:
Kelelahan

Sembelit atau diare


Sebuah kolostomi sementara atau permanen
Disfungsi seksual (misalnya, disfungsi ereksi pada pria) setelah operasi yang
lebih luas untuk kanker rektum

2. Radiasi
Terapi radiasi merupakan penanganan karsinoma dengan menggunakan x-ray
berenergi tinggi untuk membunuh sel karsinoma. Radiasi lebih sering digunakan
untuk mengobati kanker kolorektum. Teknik ini dapat digunakan sebelum operasi
untuk mengecilkan tumor, sehingga lebih mudah untuk menghapus, atau setelah
operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Terapi radiasi tidak
menyakitkan dan pemberian radiasi hanya berlangsung menit (American Cancer
Society, 2013).

Efek samping terapi radiasi untuk kanker kolorektal dapat mencakup iritasi kulit,
mual, diare, iritasi dubur, iritasi kandung kemih, kelelahan, atau masalah seksual.
iritasi dubur dapat menyebabkan dorongan untuk buang air besar sering dan
pendarahan anus, sementara iritasi kandung kemih dapat menyebabkan urgensi
kemih, frekuensi, dan nyeri (American Cancer Society, 2013).
Jenis terapi radiasi:
a. Terapi radiasi eksternal-beam
Ini adalah jenis terapi radiasi yang paling sering digunakan untuk penderita
kanker kolorektal. radiasi difokuskan pada kanker dari mesin di luar tubuh. Hal
ini sama seperti mendapatkan x-ray, tapi radiasi lebih intens. Paling sering,
perawatan radiasi diberikan 5 hari seminggu selama beberapa minggu, tapi ini
tergantung pada alasan diberikannya dan faktor lainnya.
b. Terapi radiasi internal (brachytherapy)
Jenis terapi radiasi dapat digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker
dubur. Untuk pengobatan ini, sumber radioaktif dimasukkan ke dalam rektum
Anda atau ke tumor. Keuntungan dari pendekatan ini adalah bahwa radiasi
mencapai rektum tanpa melalui kulit dan jaringan lain dari perut, yang berarti
kurang cenderung menyebabkan efek samping.
c. Terapi radiasi Endocavitary
Untuk pengobatan ini, perangkat kecil ditempatkan melalui anus dan ke dalam
rektum untuk memberikan radiasi intensitas tinggi selama beberapa menit. Hal
ini biasanya dilakukan sebanyak 4 kali (atau kurang), dengan jarak sekitar 2
minggu antara setiap perlakuan. Hal ini dapat diberikan kepada beberapa pasien,
khususnya pasien usia lanjut, menghindari operasi besar dan kolostomi. Jenis
pengobatan digunakan untuk beberapa jenis kanker dubur kecil. Kadang-kadang
terapi radiasi eksternal-beam juga diberikan.
d. Interstitial brachytherapy
Untuk pengobatan ini, tabung ditempatkan ke dalam rektum dan langsung ke
kanker. Pelet kecil bahan radioaktif tersebut kemudian dimasukkan ke dalam
tabung selama beberapa menit. Perjalanan radiasi hanya jarak pendek,
membatasi efek pada jaringan sekitarnya yang sehat. Hal ini kadang-kadang
digunakan untuk mengobati orang dengan kanker rektum, terutama orang-orang
yang tidak cukup sehat untuk operasi. Hal ini dapat dilakukan beberapa kali
seminggu selama beberapa minggu, tetapi juga dapat hanya prosedur satu kali

3. Kemoterapi
Kemoterapi melibatkan distribusi bahan kimia pembunuh kanker ke seluruh tubuh
pasien melalui pembuluh darah, atau dalam bentuk pil melalui mulut, untuk
menghancurkan sel kanker yang tumbuh cepat yang dapat berlama-lama setelah
operasi. Kemoterapi juga dapat digunakan untuk mengecilkan tumor kolorektum
sebelum operasi , dan mengobati ( Tahap IV ) penyakit lanjut .
Obat kemoterapi yang paling sering digunakan dalam pengobatan kanker kolorektal
adalah 5-fluorouracil (5-FU) capecitabine, oxaliplatin, dan irinotecan. obat
kemoterapi membunuh sel kanker, tetapi juga merusak beberapa sel normal. Efek
samping tergantung pada jenis dan dosis obat dan lamanya pengobatan.
Beberapa jenis kemoterapi yang dapat digunakan untuk kanker kolorektum:
a. Sistemik kemoterapi : Obat disuntikkan ke dalam pembuluh darah Anda atau
Anda atau melalui mulut. Obat ini memasuki aliran darah Anda dan menjangkau
seluruh area tubuh Anda. Perawatan ini berguna untuk kanker yang telah
menyebar (metastasis ).
b. Kemoterapi Regional : Obat disuntikkan langsung ke arteri yang mengarah ke
bagian tubuh dengan tumor. Metode ini berkonsentrasi pada dosis kemoterapi
untuk mencapai sel-sel kanker di daerah tersebut. Ini mengurangi efek samping
dengan membatasi jumlah obat yang mencapai seluruh tubuh Anda .
c. Infus arteri hepatika, atau kemoterapi diberikan langsung ke dalam arteri
hepatika, kadang-kadang digunakan untuk kanker yang telah menyebar ke hati.
Ini jarang digunakan dibandingkan kemoterapi sistemik .
Efek samping yang umum dari kemoterapi termasuk:

Kelelahan
Mual dan muntah
Diare
Kehilangan nafsu makan
Rambut rontok
Pembengkakan dan ruam
Mulut luka
Mati rasa, kesemutan, atau terik dari tangan dan kaki

Beberapa pasien mungkin mengalami jumlah sel darah rendah karena kemoterapi
dapat merusak sel-sel yang memproduksi darah-dari sumsum tulang. Hal ini dapat
meningkatkan kemungkinan infeksi (akibat kekurangan sel darah putih), perdarahan
atau memar setelah luka kecil atau luka (karena kekurangan trombosit darah), atau

memburuk kelelahan (karena kekurangan sel darah merah) (American Cancer


Society, 2013).
I. Pencegahan
Mengurangi risiko kanker kolorektal
1. Lakukan pemeriksaan secara teratur
2. Menjaga berat badan yang sehat sepanjang hidup
3. Mengadopsi gaya hidup aktif secara fisik
4. Mengkonsumsi diet sehat dengan penekanan pada sumber makanan nabati;
a. Pilih makanan dan minuman dalam jumlah yang membantu mencapai dan
mempertahankan berat badan yang sehat
b. Batasi konsumsi daging merah dan olahan
c. Makanlah setidaknya 2 cangkir sayuran dan buah-buahan setiap hari
d. Pilih biji-bijian bukan produk biji-bijian olahan
5. Jika Anda minum minuman beralkohol, membatasi konsumsi
6. Mengkonsumsi jumlah kalsium yang direkomendasikan, terutama melalui sumber
makanan
7. Hindari produk tembakau (rokok)
8. Konsumsi Vitamin, kalsium, dan magnesium
Beberapa

studi

menunjukkan

bahwa

konsumsi

harian

multi-vitamin

yang

mengandung asam folat, atau folat, dapat menurunkan risiko kanker kolorektal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vitamin D, yang dapat Anda peroleh dari
paparan sinar matahari, dalam makanan tertentu, atau dalam pil vitamin, dapat
menurunkan risiko kanker kolorektal. Karena kekhawatiran bahwa kelebihan paparan
sinar

matahari

dapat

merekomendasikan

hal

menyebabkan
ini

kanker

sebagai

cara

kulit,

kebanyakan

untuk

ahli

menurunkan

tidak
risiko

kanker kolorektal pada saat ini.


Studi lain menunjukkan bahwa peningkatan asupan kalsium dapat menurunkan risiko
kanker kolorektal. Kalsium penting untuk sejumlah alasan kesehatan selain
dari efek yang mungkin pada resiko kanker. Tetapi karena kemungkinan peningkatan
risiko kanker prostat pada pria dengan asupan kalsium yang tinggi, American Cancer
Society tidak merekomendasikan meningkatkan asupan kalsium khusus untuk mencoba
untuk menurunkan risiko kanker.
Kalsium dan vitamin D mungkin bekerja sama untuk mengurangi risiko kanker
kolorektal, sebagai alat bantu vitamin D dalam penyerapan kalsium tubuh. Namun, tidak
semua studi telah menemukan bahwa suplemen gizi ini mengurangi risiko (American
Cancer Society, 2014).