Anda di halaman 1dari 4

Bioterorisme sebagai senjata non-konvensional

aksinya

bagi

ISIS dalam melancarkan

Sains dan teknologi memiliki pengaruh yang sangat krusial sekarang ini, tidak
hanya memberikan sumbangsih dalam satu aspek tetapi di berbagai aspek,
terutama dalam mempengaruhi kompleksitas yang terjadi di ranah Hubungan
Internasional. Jika berbicara mengenai HI, terdapat berbagai macam fenomena
dan isu sehingga menjadikan HI begitu dinamis. Salah satu fenomena sekaligus
permasalahan yang menjadi fokus utama adalah mengenai ancaman terorisme.
Terorisme saat ini berbeda dengan yang terdahulu, menjadi ancaman bagi
masyarakat dan budaya bahkan mencapai skala global. Dibarengi dengan
perkembangan sains dan teknologi yang semakin pesat, pergerakan terorisme
menjadi semakin mudah karena dapat memanfaatkan berbagai teknologi
canggih sebagai media aksi terornya.
Terorisme modern dengan segala modernitas tentunya menggunakan startegi
kekinian, misalnya melalui cyberspace dimana teroris dapat melakukan kegiatan
propaganda,dan juga internet yang menjadi media paling berpengaruh terhadap
aksi terorime dalam membuat propaganda atau untuk merekrut simpatisan
(Infosec Institute, 2016). Organisasi teroris untuk sementara waktu ini telah
berusaha memperoleh atau membangun senjata biologis pemusnah massal.
Seperti yang dilakukan oleh kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)
yang hingga saat ini masih menjadi isu hangat diperbincangkan. Sebelumnya
pernah beredar video berisi tuntutan tebusan untuk dua warga negara Jepang
yang ditawan oleh ISIS. Bahkan terdapat laporan tahun 2014 yang menyebutkan
akun ISIS di twitter mencapai 46.000 pengikut (National Geographic Indonesia,
2015). Walaupun penggunaan media tersebut sudah berhasil ditutup, tetapi ISIS
masih memiliki strategi lain. Salah satunya dengan menggunakan senjata biologi
untuk melakukan serangkaian aksi terornya yaitu Bioterrorism. Saat ini
bioterorisme menjadi isu yang perlu diperhatikan dengan serius karena
dampaknya dapat mengancam keselamatan umat manusia.
Ancaman bioterorisme menjadi sebuah kenyataan tersendiri dari perkembangan
terorisme secara non-konvensional, dimana sekarang ini ada kemampuan dari
kelompok teroris yang dengan mudah memperoleh bahan-bahan kimiawi,
biologi, radiologi, dan nuklir, setelah pecahnya Uni Soviet. Semakin luasnya
ketersediaan informasi yang diperlukan untuk memproduksi dan membuat
senjata dari zat-zat biologis merupakan sumber keprihatinan yang utama dari
semakin maraknya bioterorisme (Irianto, 2015).
Serangan bioteroris merupakan serangan yang dilakukan dengan sengaja
melepas virus, bakteri, atau sejenis kuman lain (agents) digunakan untuk
mengakibatkan penyakit atau kematian pada manusia, hewan, atau tumbuhan.
Agen biologi dapat menyebar melalui udara, melalui air, atau dalam makanan.
Teroris dapat menggunakan agen biologis karena mereka bisa sangat sulit untuk
dideteksi dan tidak menyebabkan penyakit selama beberapa jam sampai
beberapa hari. Beberapa agen bioterorisme, seperti virus cacar dapat menyebar
dari orang ke orang tetapi beberapa ada juga yang tidak bisa, seperti anthrax

(Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2006). Kerusakan akibat
penyakit menular yang didokumentasikan sepanjang sejarah membuktikan
penggunaan penyakit menular sebagai senjata yang potensial di antara musuh.
Ancaman meningkat terhadap masyarakat dari bioterorisme yang masuk pada
abad 21. Bioterorisme adalah senjata yang atraktif karena agen biologisnya
relatif lebih murah dan mudah didapat. Senjata biologis berguna untuk teroris
terutama sebagai metode menciptakan kepanikan massal dan gangguan
terhadap kondisi negara. Singkatnya bioteroris merupakan cara terorisme
melakukan aksi terornya dengan menggunakan senjata biologi berupa virus,
bakteri, atau kuman. Yang mana bioteroris ini menjadi senjata alternatif lain bagi
kelompok terorisme seperti ISIS.
ISIS dapat memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi untuk dapat
dijadikan sebagai senjata yang potensial melawan musuh. ISIS dapat
menggunakan wabah sebagai senjata biologis mematikan terhadap Barat.
Menurut Kapten Al Shimkus, seorang Profesor Keamanan Nasional di US Naval
War College, memperingatkan bahwa ISIS bisa menginfeksi manusia dengan
virus Ebola dalam upaya penyebaran penyakit. Pada bulan Agustus 2014,
pemberontak Suriah moderat menemukan laptop ISIS di Suriah. Majalah Foreign
Policy melaporkan bahwa laptop tersebut berisi dokumen 19 halaman tentang
bagaimana mengembangkan senjata biologi. Menurut Dr. Fillippa Lentzos,
seorang ahli bioterorisme menjelaskan ada point penting dimana suatu kelompok
terorisme berpotensi menggunakan senjata bilogi seperti Ebola. Bisa saja teroris
pergi ke suatu tempat, misal Afrika Barat, terinfeksi, kemudian kembali lagi
dengan membawa wabah penyakit (Kolssak, 2015). Beberapa waktu lalu sempat
dikabarkan bahwa ISIS merencanakan serangan terhadap Turki dengan
menggunakan Tularemia yang merupakan salah satu agen senjata biologi. Kabar
tersebut didapat dari para pejabat Turki melalui laporan intelejen yang
mengungkapkan rencana oleh kelompok teror Islam untuk menyerang sumber
air Turki dengan agen biologis, menurut media Turki (Herriman, 2016). Jika kabar
tersebut tidak segera diperhatikan maka kemungkinan besar banyak dari
kehidupan di Turki musnah karena keterlambatan diagnosa. Walaupun ISIS belum
secara langsung melakukan aksi teror nya menggunakan senjata biologi, akan
tetapi isu tersebut perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena dapat
mengancam keselamatan umat manusia.
Untuk memerangi ancaman dari bioterorisme digunakan istilah biodefense yang
berarti menggunakan langkah-langkah medis untuk melindungi orang terhadap
bioterorisme. Ini termasuk obat-obatan dan vaksinasi, juga penelitian medis dan
persiapan untuk mempertahankan terhadap serangan bioteroris. Biodefense
mengacu pada jangka pendek, langkah-langkah militer setempat untuk
mengembalikan biosecurity kepada kelompok tertentu dari orang di daerah
tertentu yang atau mungkin, tunduk pada perang biologis dalam terminologi
sipil, hal itu adalah respon sangat kuat. Secara teknis mungkin menerapkan
langkah-langkah biodefense untuk melindungi hewan atau tumbuhan, tetapi
langkah tersebut biasanya tidak ekonomis. Walaupun begitu, perlindungan
pasokan air dan persediaan makanan seringkali merupakan bagian penting dari
biodefense. Berbagai definisi biosafety muncul di berbagai profesi untuk

menjamin kesehatan non-manusia. Biodefense paling sering dibahas dalam


konteks biowar atau bioterorisme, dan umumnya dianggap istilah respon militer
atau darurat. Biodefense berlaku untuk dua populasi sasaran yang berbeda yaitu
sipil non-kombatan dan militer kombatan (tentara di lapangan) (MedlinePlus,
2016). Pengembangan akan biodefense ini kebanyakan berada di Amerika
Serikat, hal ini tentunya sesuai dengan kebijakan mereka mengenai War on
Terror. Langkah tersebut diharapkan menjadi cara yang preventif dalam melawan
ancaman dari kelompok terorisme terutama ISIS yang saat ini pergerakannya
sudah meluas ke berbagai negara.
Jadi, dengan adanya perkembangan sains dan teknologi yang semakin maju
berpengaruh terhadap berbagai aspek termasuk dalam kompleksitas hubungan
internasional. Dimana kompleksitas tersebut diwarnai dengan fenomena dan isu
yang menjadi perhatian khusus masyarakat internasional salah satunya
ancaman terorisme ISIS. Saat ini strategi yang di tempuh oleh organisasi
terorisme mulai non-konvensional yang didukung oleh adanya inovasi dari sains
dan teknologi. Bioterorisme hadir sebagai senjata bagi terorisme untuk
melancarkan aksinya, dimana senjata biologi ini menggunakan sejenis
mikroorganisme. ISIS yang mulai masuk di abad 21 ini tentunya sudah mulai
mengembangkan teknologi tersebut dan dapat menyerang kapanpun,
dimanapun. Sehingga ancaman bioterorisme ini jangan sampai dipandang
sebelah mata.

Bibliography
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2006, February 28).
Bioterrorism Overview. Bioterrorism , 1.
Herriman, R. (2016, January 21). ISIS and bioterrorism: Tularemia planned use in
Turkeys water. Retrieved October 25, 2016, from Out Break News Today:
http://outbreaknewstoday.com/isis-and-bioterrorism-tularemia-planned-use-inturkeys-water-67823/
Infosec Institute. (2016, Febbruary 03). The Role of Technology in Modern
Terrorism.
Retrieved
October
25,
2016,
from
Infosec
Institute:
http://resources.infosecinstitute.com/the-role-of-technology-in-modern-terrorism/
Irianto, H. (2015, January 8). Memahami Ancaman Bioterorisme. Retrieved
February 25, 2016, from Indonesian Review: http://indonesianreview.com/hendroirianto/memahami-ancaman-bioterorisme
Kolssak, S. (2015, October 12). Bioterrorism: Neither Likely Nor Practical.
Retrieved
October
25,
2016,
from
Intelligencer:
http://phcintelligencer.com/2015/10/12/bioterrorism-neither-likely-nor-practical/

MedlinePlus. (2016, September 22). Biodefense and Bioterrorism. Retrieved


October
25,
2016,
from
MedlinePlus:
https://medlineplus.gov/biodefenseandbioterrorism.html#cat59
National Geographic Indonesia. (2015, March 6). Strategi ISIS Menjaring Korban
Melalui Media Sosial. Retrieved October 25, 2016, from National Geographic
Indonesia: http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/03/strategi-isis-menjaringkorban-melalui-media-sosial