Anda di halaman 1dari 26

PENGKODINGAN DIAGNOSA DAN TINDAKAN

MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/2

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Proses pengkodingan diagnose morbiditas dan motalitas pasien yang sesuai
dengan ICD-X dan prosedur tindakan medis sesuai dengan ICD-IX CM, serta
memasukkan kode-kode tersebut ke SIRS ( Sistem Informasi Rumah Sakit ).
Adanya simpanan ( file ) data tentang diagnose dan tindakan pada database
SIMRS Rekam Medis dalam bentuk kode untuk kepentingan
a. Pembuatan pelaporan SPRS, dll.
b. Penelitian
c. Grouping INA-CBGs versi 4.0
1. Semua pasien yang sudah mendapatkan pelayanan medis di Instalasi
Rawat Inap, Rawat Jalan, Rawat darurat maupun Rawat Intensif harus
dilakukan dengan pengkodingan diagnose dan tindakan yang sudah
diperoleh.
2. Pengkodingan dilakukan sesuai dengan ICD-X untk diagnosa dan ICDIX-CM untuk prosedur tindakan medis.
3. Penuisan diagnose harus dengan huruf capital, tidak menggunakan
singkatan yang tidak baku, sehingga tulisan mudah dibaca
4. Pengkodingan dilakukan dengan memperhatikan :
a. Catatan dokter pada rekam medis pasien
b. Status kunjungan pasien kasus baru atau lama
c. Input prosedur tindakan di SIMRS
5. Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis
6. Pedoman pengelolaan rekam medis rumah sakit di Indonesia revisi I,
DEPKES RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta, 1997
A. RAWAT JALAN :
1. Dokter mencatat dengan lengkap semua informasi medispasien
berupa diagnose, pemeriksaan fisik dan penunjang serta terapi
yang diberikan kepada pasien sesuai dengan format rekam
medis
2. Perawat di poliklinik membawa rekam medis pasien yang
sudah lengkap ke meja operator biling setelah mendapat
pelayanan medis

PENGKODINGAN DIAGNOSA DAN TINDAKAN


MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU

No. Dokumen

Revisi

Halaman

YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

00

2/2

Prosedur kerja

3. Berkas rekam medis sudah berisi catatan diagnose dan


tindakan serta jenis kasus baru atau lama
4. Operator biling menentukan kode diagnose dan tindakan
medis dengan melihat buku kumpulan ICD-X dan ICD-IX
CM, serta memasukannya ke SIMRS
5. Mengeprint data pasien poliklinik yang dating berobat pada
hari kemarin
6. Petugas koding memverifikasi kebenaran seluruh koding
operator biling serta 14 variable INA-CBGs
7. Mengkoding atau memperbaiki catatan rekam medis yang
kosong atau salah setelah berkonsultasi dengan dokter jaga
poliklinik
8. Melakukan grouping diagnose sesuai dengan system CasemixINA-CBGs untuk pasien cara bayar BPJS
9. Mengeprint INA-CBGs dari semua pasien BPJS sehingga bisa
diproses untuk klaim biaya tgihan ke Kemenkes.
B. RAWAT INAP :
1. Menerima rekam medis dari petugas penerimaan rekam medis
1x24 jam setelah pasien pulang atau meninggal dan khusus
pasien BPJS diterima langsung fari petugas ruangan untuk
dilakukan koding.
2. Mengkode semua diagnose dan penyebab sakitnya pasien
yaitu meliputi :
Diagnosa utama
Diaknosa sekunder
Diagnose sekunder
Diagnose komplikasi
Penyebab cidera/keracunan
Penyebab kematian ( Penyebab langsung dan dasar )
3. Mengkode prosedur tindakan yaitu, meliputi :
Tindakan surgical
Tindakan non surgical
Tindakan pelayanan penunjang
4. Memverivikasi kebenaran koding, jenis kasus ( Baru/Lama )
dan 14 variabel INA-CBGs dilakukan sebelum data disimpan
dalam SIMRS.
5. Mengeprint INA-CBGs dari semua pasien BPJS sehingga bisa
diproses untuk klaim biaya tagihan ke kemenkes.

Unit terkait

1. ID, IRJ, IRIT, IRNA, WI

2. Instalasi penunjang
3. Instalasi forensic kedokteran
4. Bagan akuntansi
5. Bidang keperawatan
6. Bidang pelayanan
7. Sub. Bidang mobilisasi dana
8. Instalasi EDP
9. SMF terkait
PENYIMPANAN REKAM MEDIS DI LUAR INSTALASI REKAM
MEDIS
RSK LINDIMARA
WAINGAPU
SPO PELAYANAN
REKAM MEDIS

No. Dokumen

Revisi

YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

00

Tanggal terbit
10 maret 2014

Halaman

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR
Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa

Pengertian

Proses kegiatan penyimpanan rekam medis diluar instalasi rekam medis


untuk kepentingan :
1. Penelitian terus menerus ( Seumur hidup pasien )
2. Rekam medis diprlukan setiap saat ( 24 Jam )
3. Klaim Jamkesmas dalam satu periode pengobatan
4. Lokasi pelayanan medis yang jauh dari Instalasi Rekam Medis
5. Mengurangi kecemasan pasien ( terutama untuk pasien Psikiatri agar
tidak mengamuk )
6. Spesifikasi dan ekslusifitas pelayanan yang diberikan
Sehingga untuk memudahkan pecairannya, perlu dibuatkan kesepakatan
bersama sehingga pelayanan rekam medis berjalan dengan lancar

Tujuan

1. Agar pelayanan rekam, medis berjalan dengan lancer, efektif, efisien


2. Menjaga keamanan dan kerahasiaan rekam medis
3. Rekam medis mudah dilacak keberadaannya
4. Meningkatkan kepuasan pelanggan

Kebijakan

1. Rekam medis boleh disimpan di :


a. Instalasi Wing Amerta oleh karena ekslusifitas pelayanan
yang diberikan
b. Poliklinik VCT, Methadon, Bayi Tabung dan Radioterapi
oleh karena jarak yang jauh dari instalasi rekam medis dan
spesifikasi pelayanan medis

c. Poliklinik anak, khususnya untuk pasien Dengue untuk


penelitian berkelanjutan, agar bisa diakses dalam 24 Jam bila
pasien dating ke IRD
d. Poliklinik Hyperbarik, karena spesifitas pelayanan dan
berlangsung selama 24 Jam

PENGKODINGAN DIAGNOSA DAN TINDAKAN


MEDIS
RSK LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Kebijakan

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015
Tanggal Terbit :

Halaman

1/2

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


2. Semua rekam medis yang disimpan di luar instalasi rekam medis diberi
kode khusus ( Lihat table ) dan bila sedah dikembalikan ke intalasi
rekam medis ,label tersebut harus dilepas
3. Semua rekam medis paien yang disimpan di poliklinik diberi kode
pada KIB yaitu :
No
1
2
3
4

Kode
RDT
BT
MTH
HC

VCT

6
7
Prosedur Kerja

No. Revisi

1.

2.

3.

4.

Poliklinik
Radioterapi
Bayi tabung
Methadon
Hyperbaric
Chamber
VCT

Keterangan
Selama satu periode radioterapi
Disimpan seumur hidup
Lokasi yang sangat jauh
Pelayanan 24 Jam

Lokasi jauh dan kasus sangat


sensitive
CYD-34 Anak
Penilitian internasional untuk
kasus Dengue
TB MDR Paru
Lokasi sangat jauh, kasus
sangat sensitif dan menular
Poliklinik yang bersangkutan meminta ijin kepada Direktur Utama
dengan tembusan ke Kepala Instalasi Rekam Medis untuk menyimpan
rekam medis di poliklinik masing-masing
Bila diijinkan, maka petugas poliklinik harus membuat kode label yang
ditempel pada KIB pasien tang rekam medisnya akan disimpan di
polikliniknya
Memberitahu kepada pasien agar mengingatkan kepada petugas bahwa
rekam medisnya tidak disimpan di instalasi rekam medis pada saat
menyerahkan KIB di loket pendaftaran, sehinga tidak menunggu lagi
untuk pencarian rekam medis
Petugas registrasi di instalasi rekam medis langsung meregistrasi

kunjungan pasien sesuai SPO dan mengeprint bukti registrasi, dan


menyerahkan kepada pasien atau keluarga, kemudian mengarahkan
pasien ke poliklinik yang dituju.

PENGKODINGAN DIAGNOSA DAN TINDAKAN


MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur Kerja

Instalasi terkait

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

1/2

5. Apabila pasien akan berobat ke polklinik lain, maka registrasi


disesuaikan dengan tujuan polikliniknya dan menunggu di sana
6. Petugas registrasi memberi kode tulisan pada bukti registrasi bahwa
rekam medis ada/disimpan di poliklinik tertentu ( Sesuai dengan kode
pada KIB )
7. Petugas distribusi rekam medis mengambil rekam medis di poliklinik
di mana RM disimpan, baru kemudian membawanya ke poliklinik
yang dituju
8. Setelah pasien selesai berobat, maka petugas poliklinik harus
melepaskan label yang bertempel pada KIB dan mengembalikan rekam
medis tersebut sesuai dengan SPO pengembalian rekam medis ke
Instalasi Rekam Medis
9. Petugas penerima rekam medis mencatat rekam medis yang disimpan
di masing-masing poliklinik di atas setiap hari
1. Instalasi rekam medis
4. Instalasi EDP
2. Instalasi Wing Amerta
3. Instalasi Rawat Jalan

5. Instalasi Radiologi

MONITORING DAN EVALUASI KELENGKAPAN


PENCATATAB REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/3

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Proses kegiatan monitoring dan evaluasi kelengkapan pencatatan rekam medis
yang dilakukan setiap hari dan sampling dilaporkan atau difeedbackkan setiap
bulan KE Komite Medis. Staf direksi dan managemen, SMF and Instalasi
terkait.
1. Agar semua Rekam Medis (RM) tercatat dengan baik, benar dan
lengkap serta tertata dengan rapi sesuai dengan urutannya sehingga
mudah disimpan dan dibaca kembali.
2. Agar kualitas pencatatan RM senantiasa bisa ditingkatkan, karena
berkaitan dengan fungsi rekam medis yaitu KIALFRED
(komunikasi, informasi, administrasi, legal, financial , research,
education dan documentation)
1. Permenkes No 269/MENKES/ PER / III/ 2008 tentang Rekam
Medis
2. Pedoman pengelolaan rekam medis rumah sakit di indonesia Revisi
I, DEPKES RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta, 1997
3. Open review dilakukan secara sampling terhadap rekam medis
pasien yang akan keluar dari RSK Lindimara sebanyak 15 rekam
medis per ruangan per bulan
4. Open review dilakukan oleh kepala ruang perawatan rawat inap
dan rawat jalan ( bisa dilegalisasikan kepada staf yang kompeten)
pada saat kepala ruangan tidak ada ditempat
5. Apabila dokter yang merawat pasien lebih dari satu, maka dipilih
rekam medis yang mewakili masing-masing dokter yang merawat
di ruang rawat tersebut
6. Untuk ruangan rawat inapyang merawat pasien sedikit atau hanya
bersifat transit, maka jumlah rekam medis yang di review
disesuaikan dengan jumah pasien
7. Profesi medis dan lain-lain melakukan open review saat rapat tim
diselenggarakan

Prosedur Kerja

ANALISIS KUANTITATIF RM RAWAT INAP


1. Mengecek kelengkapan isi form rekam medis semua ruang rawat inap
dalam 1x24 jam setiap hari
2. Membuat rekapitulasi kelengkapan pencatatan rekam medis dalam 1x
24 jam setiap bulannya
A. OPEM REVIEW
1. Kepala ruangan ( yang dilegasikan) melakukan open review
dengan mengambil sampel rekam medis pasien yang akan keluar
dari ruang rawat inap RSK Lindimara
2. Open review menggunakan form open review rekam medis

MONITORING DAN EVALUASI KELENGKAPAN


PENCATATAB REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur Kerja

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

1/3

3. Lakukan review dengan mengecek kelengkapan form dan mencatat


rekam medis sesuai dengan form open review
Apabila ada informasi rekam medis yang tidak diisi (kosong) atau
tidak dilengkapi didalam form rekam medis maka diberi tanda
rumput pada kolom NO dan apabila sudah terisi dengan lengkap
dan sesuai dengan form rekam medis maka diisi tanda rumput pada
kolom YES dan apabila informasi yang diminta tidak diperlukan
untuk pasien tersebut (misalnya pasien tidak dilakukan transfusi
darah maka tidak diperlukan informed consent pemberian transfusi
darah) maka didalamform open review diberikan tanda rumput
N/A (not applicable)
Apabila sudah selesai dilakukan open review maka form open
review dimasukkan kedalam rekam medis dan dikirim bersamaan
dengan rekam medis apabila pasien sudah keluar dari ruang rawat
inap ke instalasi rekam medis untuk dilakukan rekapitulasi oleh
petugas rekam medis
B. CLOSE REVIEW
1. Petugas rekam medis yang melakukan close review ( sesuai dengan
pembagian tuga) sebanyak 15 rekam medis per ruangan perbulan
2. Close review menggunakan formclose review yang ada di instalasi
rekam medis
3. Melakukan close review dengan mengecek kelengkapan identitas
kelengkapan form rekam medis penulisan diagnose, penulisan
singkat, ketrebacaan, pembetulan, penutupan
4. Apabila ada informasi rekam medis yang tidak diisi maka dikolm
diisi tanda kali (X) dan apabila lengkap diisi tanpa rumput (V) dan
apabila tidak perlu diisi tanda min (-)
5. Apabila sudah selesai dilakukan close review, maka dilanjutkan
dengan melakukan rekapitulasi hasil open dan close review rekam
medis dan selanjutnya dibuatkan rekomendasi dan rencana tindak
lanjut untuk di feedbackkan keseluruh unit terkait

CATATAN :

Pencatatan RM harus benar, tepat, akurat, lengkap


dapat dipercaya dan tepat waktu
Kelengkapan RM menjadi tanggung jawab dokter
penangung jawab pasien dibantu oleh staf paramedis
dan non medis di ruangan
RM yang tidak lengkap akan dikembalikan ke ruangan
untuk dilengkapi dalam kurun waktu 1x24 jam.

MONITORING DAN EVALUASI


KELENGKAPAN PENCATATAB REKAM
MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur
Kerja

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2
015

Unit terkait

No. Revisi

Halaman

1/3

Monitoring dan evaluasi


kelengkapan RM menggunakan form
analisa kuantitatif pencatatan RM
Ada satu saja dari item yang
dianalisa yang tidak lengkap akan
dinilai tidak lengkap secar
keseluruhan
Monitoring RM Rawat Jalan an
Rawat darurat dilakukan secara
sampling sebanyak 20 RM per
poliklinik / Triage Medik / Bedah/
Obgyn

1. IRJ, IRNA, IRIT, IRD, Gandasturi


2. SMF
3. Bidang Pelayanan Medis

4. Bidang keperawatan
5. Instalasi EDP
6. Sub komite rekam medis

PENYIMPANAN DAN PENGAMBILAN REKAM


MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/3

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Adalah proses penyimpanan dan pengambilan rekam medis pasien yang telah
dikembalkan dari unit pelayanan atau unit penelitian agar tersimpan sesuai
dengan raknya dan mudah diambil kembali pada saat diperlukan oleh semua
petugas rekam medis cepat dan tepat
Agar penyimpanan rekam medis dilakukan dengan teratur, tepat dan benar serta
dilaksanakan oleh semua petugas rekam medis sehingga mudah mencari
kembali bila dibutuhkan
1. Sistem penyimpanan dilakukan dengan sistem Terminal Digit
Number yaitu penyimpanan dilakukan sesuai dengan dua digit
terakhir dari nomor rekam medisnya
2. Rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit wajib disimpan
sekurang-kurangnya untuk jangka waktu lima tahun terhitung dari
tanggal terakhir pasien berobat atau dipulangkan
3. Oleh karena keterbatasan tempat penyimpanan, maka penyimpanan
rekam medis dibagi menjadi rekam medis aktif yang disimpan di

Prosedur Kerja

instalasi rekam medis selama dua tahun dan rekam medis inaktif yang
disimpan di gudang rekamedis inaktif selama tiga tahun
4. Permenkes No269/MENKES /PER / II / 2008 TENTANG REKAM
MEDIS
5. Pedoman pengelolaan rekam medis rumah sakit di indonesia Revisi I,
DEPKES RI Direktorat jendral pelayanan medik, jakarta 1997
CARA PENYIMPANAN REKAM MEDIS
1. Menyimpan RM di rak yang sesuai dengan tahun berjalan, di rak yang
sesuai dengan angka puluhan dari dua digit terakhir nomor rekam
medis, kolom yang sesuai dengan angka satuan dua digit terakhir
nomor RM dan tempat yang sesuai dengan empat digit nomor pertama
baru kemudian dua digit nomor tengah
BARIS
0005

0610

1115
Dst...
.

01396700

01395606

01394614 dan seterusnya

PENYIMPANAN DAN PENGAMBILAN


REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2
015

No. Revisi

Halaman

1/3

KOLOM
00
01
02
03
04

01294500
01394401
00236702
01096703
00367604

SUSUNAN
00000001
00000101
00000201
DST
01000001
01000101
01000201
DST
01010001
01010101

00000001
00000101
00000201
DST
01000001
01000101
01000201
DST
01010001
01010101

01010201
DST...
01020001
01020101
01020201
DST...

01010201
DST...
01020001
01020101
01020201
DST...

2. Apabila tahun berganti, maka rekam medis disimpan


di rak tahun berikutnya yang sesuai dengan prosedur
yang sama seperti yang diatas.
TAHUN
2013
00-99

3. Setiap pagi petugas menyimpan mengecek 2 nomor


belakang untuk memastikan terjadinya salah simpan :

PENYIMPANAN DAN PENGAMBILAN REKAM


MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

1/3

PENGAMBILAN REKAM MEDIS


1. Petugas pengambilan mengambil rekam medis sesuai dengan
permintaan
2. Setiap rekam medis yang diambil harus diganti dengan tracer
3. Pengambilan khusus untuk pelayanan rekam medis WA dicatat pada
buku ekspedisi yang sudah disediakan
4. Apabila rekam medis tidak ditemukan ditempatnya, maka petugas
pengambilan mengecek pada SIMRS
5. Bila data tidak ditemukan petugas melakukan cek manual pada sensus
harian rawat jalan maupun rawat inap dan kepetugas koding dan
dibuku catatan petugas assembling
REKAM MEDIS TANPA COVER IRD DAN IRJ PERTAMAKALI
KUNJUNGAN
1. Rekam medis dipisahkan antara IRD dan rawat jalan yang baru
pertama kunjungan

2. Masing-masing disusun diberi nomor urut dan disusun dari nomor


terkecil sampai terbesar disetiap tanggal berjalan
3. Diinput kedalam sistem komputerisasi yang sudah disediakan
4. Pada saat pengambilan nomor rekam medis, yang diambil dikeluarkan
didalam sistem komputer dengan mengisi tanggal keluar, nama petugas
yang mengeluarkan dan tujuan poliklinik dan peminjam
5. Rekam medis yang diambil diberikan cover dan check out di SIMIRS
kemudian didistribusikan oleh petugas ke unit pelayanan yang dituju
Instalasi Terkait

1.
2.
3.
4.

Instalasi Rekam Medis


Instalasi EDP
IPSRS
Ruangan dan poloklinik

AUDIT REKAM MEDIS


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/3

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Audit rekam medis adalah salah satu program peningkatan mutu pencatatan
rekam medis yang berfungsi untuk mencegah atau mengurangi terjadinya
medical error dalam pelayanan medis.
Audit rekam medis dilakukan oleh dokter penangungjawab pasien di masingmasing ruang rawat inap dengan meneliti kelengkapan dan keakuratan

pencatatan rekam medis. Hasil dari audit ini akan dimonitor , dievaluasi dan
dianalisa oleh sub komite rekam medis untuk kemudian di feedbackkan kepada
ketua komite medis
Audit rekam medis juga dilakukan pada saat dilakukan audit medis, pada saat
terjadi suatu kasus yang bisa berdampak pada tuntutan di pengadilan
Tujuan

Kebijakan

Prosedur Kerja

1. Sebagai acuan bagi dokter penanggung jawab pasien dan sub komite
rekam medis dalam melaksanakan audit rekam medis dalam rangka
monitoring dan peningkatan mutu pencatatan rekam medis
2. Tersedianya rekam medis yang baik, akurat, lengkap dan tepat waktu
1. Audit rekam medis dilakukan oleh dokter penangung jawab pasien di
unit pelayan medis
2. Dokter penanggung jawab pasien mengaudit pencatatn rekam medis di
unit pelayanan setiap hari untuk semua pasien pulang (untuk rawat
inap), dan secara sampel sebanyak 5 rekam medis perhari untuk pasien
rawat jalan
3. Lampiran keputusan Menteri Kesehaan No.
496/MENKES/SK/IV/2005 tanggal 5 april 2005 tentang pedoman audit
medis di Rumah Sakit
4. Permenkes No. 269/MENKES/PER II/2008 tentang rekam medis
5. Pedoman manajemen informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan
Kesehatan, Revisi Buku Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Rekam
Medis / Medical Record Rumah Sakit (1991) dan Pedoman
Pengelolaan Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia (1994, 1997)
Edisi Revisi.
1. Dokter penangungjawab

PENGADAAN DAN PENGENDALIAN


FORM REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/2

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Pengadaan form rekam medis adalah proses atau sistem pengadaan form rekam
medis agar senantiasa tersedia dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan

pencatatan rekam medis di unit pelayanan medis RSK Lindimara


Pengendalian form rekam medis adalah proses/sistem yang mengendalikan
agar form rekam medis yang beredar dan digunakan dalam pencatatan adal
form RM yang terbaru/up to date, dan form RM yang lama yang sudah tidak
digunakan lagi bisa ditarik dari peredaran
Tujuan

Kebijakan

Prosedur Kerja

1. Agar form rekam medis senantiasa tersedia baik dalam jumlah maupun
jenis yang cukup untuk pencatatan rekam medis di unit pelayanan
medis
2. Agar bisa dipakai sebagai pedoman untuk penyediaan form rekam
medis di unit pelayanan rekam medis
3. Agar form rekam medis yang digunakan dalam pencatatan adalah form
RM yang up to date (terbaru)
1. Pengadaan dan pengendalian form rekam medis dilaksanakan oleh
instalasi rekam medis
2. Semua usulan perubahan isi form rekam medis harus melalui Sub.
Komite rekam medis dan diadakan oleh instansi rekam medis
3. Permenkes No. 269/MENKES /PER/ III/2008 tentang rekam medis
4. Pedoman pengelolaan rekam medis rumah sakit di indonesia Revisi I,
DEPKES RI direktorat jendral Pelayanan Medik Jakarta, 1997
PENGADAAN BFORM RM BARU
1. Menerima usaha perubahan form RM dari unit pelayanan medis (RM )
yang baru
2. Menerima form RM yang baru yang telah dibahas mengenai perubahan
form RM yang baru
3. Menerima form RM yang baru yang telah dibahas dan disetujui isi
formatnya oleh sub Komite Rekam Medis untuk segera dicetak
4. Membuat surat pengadaan form RM yang baru sesuai dengan SPO
pengadaan barang non medis
5. Masing-masing inventaris instalasi mengambil Form RM yang
digunakan non media( bila form rekam medis sudah di suplai oleh
pencetakan0 untuk di stok digunakan instalasi masing-masing
6. Meresmikan form RM yang sudah diambil dari gudang non medis
sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan
7. Menerima form permintaan baru RM dari unit pelayanan
8. Mencatat jenis ( nama dan nomor form ) dan jumlah form RM yang
diminta

AUDIT REKAM MEDIS


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur Kerja

No. Revisi

Halaman

2/2

9. Memberikan form RM yang diminta/diperlukan oleh unit pelayanan


medis (melalui sistem pengaprahan form RM)
Melakukan evaluasi efesiensi penggunaan form RM sehingga diketahui form

RM aman yang harus di stok lebih banyak/ lebih sedikit, disesuaikan dengan
jumlah pasien yang dirawat
PENGENDALIAN FORM RM
1. Mengecek form form RM yang ada di RM pasien (pada saat
pengecekan kelengkapan rekam medis)
2. Apabila ada form RM yang sudah out of date (tidak dipakai lagi ) harus
ditelusuri dari mana form tersebut berasal dan untuk ditarik dar
peredaran sehingga tidak dipakai lagi oleh praktisi medis lainnya
3. Form RM yang sudah tidak dipakai lagi bisa dimusnakan agar tidak
beredar lagi di unit pelayanan medis
Instalasi terkait

1. Semua SMF
2. IRNA, A, B, C, D, IRIT, IRJ, WHA, Hemodialisa, Rehabilitasi Medis,
Forensik kedokteran, Geriatri, PA, PK, Mikrobiologi , IBS
3. Bidang keperawatan
4. Bagian pelayanan medis
5. Bagian PPE
6. Unit Pengadaan
7. Bagian Hukum dan Humas
8. Bagian umum
9. Sub. Bagian RT
10. Direktur umum dan operasional
11. Direktur keuangan

PEMBATALAN REGISTRASI PASIEN


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/2

DITETAPKAN OLEH

PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur Kerja

DIREKTUR
11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


ProseS kegiatan membatalkan registrasi pasien apabila ada surat intruksi
pembatan dari dokter karena pasien meninggal atau pasien menolak dirawat
atau pasien kondisinya membaik setelah diobservasi, sehingga tidak perlu
rawat inap atau keluar dari data base SIMRS
Agar semua pasien yang sebelumnya sudah teregstrasi, datanya bisa
dikeluarkan / dihapuskan dari komputer sehingga tidak mempengaruhi sensus
harian pasien dan pembayaran
1. Semua pasien yang sudah teregistrasi bisa dibatalkan apabila ada
alasan yang kuat sesuai denga prosedur yang berlaku
2. Alasan yang bisa diterima untuk proses pembatalan registrasi adalah :
a. Pasien meninggal sebelum dikirim keruang rawat inap atau kurang
dari 6 jam (untuk rawat inap)
b. Pasien kondisinya membaik setelah dilakukan observasi sehingga
tidak perlu dirawat lagi sebelum 6 jam (untuk rawat inap)
c. Pasien minta pulang paksa dengan alasan sosial ekonomi sebelum
6 jam 9 untuk pasien rawat inap)
d. Pasien yang bukan pasien emergensi sehingga disarankan oleh
dokter berobat ke poliklinik (pada saat jam kerja)
e. Pasien datang kontrol bukan pada harinya buka poli yang dituju
atau dokter yang merawat tidak ada ditempat ( untuk pasien
piliklinik )
f. Pasien tidak datang ke ruangan pemeriksaan
3. Permenkes No. 269/MENKES / PER/ III/ 2008 tentang Rekam Medis
DI IRD/ WA RAWAT INAP
1. Menerima surat pembatalan dari dokter yang didisposisi oleh kasir dan
petugas registrasi meghubungi EDP untuk proses pembatalan
2. Mengecek ke komputer apakah tindakan medis dan pemakaian obatobatan sudah terinput atau belum
3. Melakukan pemabatalan registrasi sesegera mungkin apabila pasaien
belum mendapatkan tindakan medis dan belum diberi obat-obatan di
IRD ( tidak ada input tindakan medis dan obat-obatan kedalam
komputer)
4. Proses pemabatalan pasien IRD dan rawat inap dilakukan oleh EDP
5. Untuk pasien rawat jalan, apabila sudah diintruksikan secara lisan dari
triage, atau pasien membawa kembali form identitasnya untuk
dibatalakan, maka petugas registrasi menghubungi bagian EDP untuk
membatalkan registrasinya
6. Membuat laporan pasien batal

PEMBATALAN REGISTRASI PASIEN


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

1/2

RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur Kerja

Instalasi terkait

IRJ/WA RAWAT JALAN


1. Petugas registrasi bisa membatalkan pasien apabila belum
dikeluarkan dari sistem instalasi rekam medis
2. Petugas registrasi bisa melakukan pembatasan registrasi rawat
jalan di SIRS apabila rekam medis belum dilakukan check out
3. Mengembalikan KIB dan kelengkapan berkas secara bayar kepada
pasien ( bila belum dikirim ke poliklinik)
4. Mencetak bukti pembatalan dan membuat laporan pembatasan
setiap bulan
1. Instalasi pelayanan medis tyerkait (IRD, IRJ, IRNA A, dll)
2. SMF terkait
3. Bidang keperawatan
4. Bidang pelayanan
5. Sub. Bagian mobilisasi dana
6. Instalasi EDP
7. Instalasi Rekam Medis

PENGAMPRAHAN BARANG REKAM MEDIS


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

0
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur Kerja

Instalasi Terkait

Tanggal Terbit :

1/1

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Proses kegiatan pengadaan, pengamprahan, pencatatan dan pelaporan barangbarang kebutuhan Rekam Medis ke bagian gudang non medis RSK Lindimara
Agar semua barang-barang kebutuhan kegiatan Rekam Medis tercatat dengan
benar, sehingga mudah dalam pelaksanaan pelaporan dan audit penggunaan
barang-barang tersebut
Semua pengadaan, pengamprahan dan pemakaian barang-barang kebutuhan
kegiatan rekam medis harus tercatat dengan baik dan benar dan dilaporkan
secara rutin
1. Menyusun semua kebutuhan barang pertahun
2. Meminta persetujuan dari Ka. Instalasi Rekam Medis
3. Melaporkan/ menindak lanjuti kebutuhan tahunan ke bagian PE untuk
dicatat dan direncanakan
4. Meyusun kebutuhan barang RM triwulan
5. Membuat amprahan barang bulanan
6. Meminta persetujuan Ka. Instalasi Rekam Medik dan bagian umum
7. Mengambil barang untuk kebutuhan rekam medis ke gudang non medis
setiap bulan
8. Menyimpan barang-barang di gudang rekam medis
9. Mencatat semua barang baik yang masuk maupun yang keluar
10. Membukakan barang-barang inventaris dengan baik dan benar
11. Membuat LOPBI (laporan opname phisik barang inventaris) tiap tahun
bulan ke dua ( februari)
12. Apkir barang-barang inventaris yang sudah tidak berfungsi lagi
1. Bagian PE
2. Bagian Umum
3. Sub. Bagian RT
4. Gudang non medis
5. Instalasi Rekam Medis

PENGELOLAAN REKAM MEDIS PASIEN

BERMASALAH /TERKAIT PROSES HUKUM


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur Kerja

Instalasi terkait

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/1

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


proses kegiatan pengelolaan rekam medis pasien bermasalah, seperti komplain
terhadap pelayanan medis yang diberikan, terjadinya kejadian yang tidak
diinginkan (Adverse event), sampai yang terkait proses tuntutan hukum
1. Agar semua rekam medis pasien yang tersangkut masalah bisa diakses
dengan mudah oleh pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan
prosedur
2. Agar rekam medis pasien yang tersangkut masalah terjamin
kerahasiaan dan keamanannya
1. Semua Rekam Medis Pasien Yang Tersangkut Masalah Disimpat Di
Tempat / Lemari Terkunci Di Instalasi Rekam Medis
2. Permenkes No 269 /MENKES/PER/III 2008 Tentang Rekam Medis
3. Pedoman pengelolaan Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia revisi I,
DEPKES RI Direktoraqt Jendral Pelayanan Medik, jakarta, 1997
1. Semua rekam medis pasien yang tersangkut masalah harus
dikembalikan ke instalasi rekam medis terlebih dahulu, tidak boleh
dipinjam langsung dari ruangan
2. Peminjaman dan pengembalian rekam medis pasien yang tersangkut
masalah harus melalui SPO yang telah ditetapkan
3. Rekam medis pasien yang tersangkut masalah harus disimpan di
dalam lemari terkunci di instalasi rekam medis
4. Kunci lemari disimpan oleh kepal instalasi rekam medis
5. Penyimpanan rekam medis yang tersangkut masalah dilakukan selamalamanya
1. Instalasi rekam medis
2. Bagian hukum dan humas
3. Bagian pelayanan medis
4. Bagian keperawatan
5. Instalasi pelayanan
6. Instalasi penunjang medis
7. SMF

KEAMANAN DAN INTEGRITAS


INFORMASI REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/2

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Keamanan (security) adalah perlindungan terhadap privacy seseorang dan
kerahasiaan rekam medis. Dengan kata lain hanya memperbolehkan
pengguna yang berhak membuka rekam medis. Dalam pengertian yang
lebih luas, keamanan juga termasuk proteksi informasi pelayanan
kesehatan dari rumah sakit, hilang dan pengubahan data akibat ulah pihak
yang tidak berhak. Didalamnya dijelaskan tentang :
- Siapa yang boleh mengakses rekam medis
- Informasi mana saja yang boleh saja yang boleh di akses oleh
orang-orang tertentu
- Kewajiban petugas dalam menjaga kerahasiaan informasi
- Proses yang harus dilakukan bila kerahasiaan dan keamanan
rekam medis dilanggar
1. Untuk menjaga keamanan, privasi, kerahasiaan dan integritas data
rekam medis
2. Hanya pihak-pihak yang berwenang saja yang boleh mengakses
dan mendapatkan informasi rekam medis
3. Agar diketahui, informasi apa saja yang bisa diakses dan siapa
yang bisa mengakses
4. Agar penyelenggaraan rekam medis berjalan dengan tertib dan
lancar
1. Rekam medis bersifat pribadi dan rahasia sehingga harus dijaga
keamanannya baik dari penyalahgunaan, pencurian, kehilangan,
bahaya kebakaran, atau kerusakan dan pengerusakan
2. Semua petugas yang terkait dengan rekam medis wajibmenjaga
privasi, kerahasiaan dan keamanan rekam medis
3. Pelanggaran terhadap privasi, kerahasiaan dan penyelahgunaan
informasi rekam medis seta penghilangan atau pengerusakan
rekam medis termasuk pelanggaran etika berat
4. Untuk menjaga keamanan dan integritas data, rekam medis pasien
hanya bisa diakses oleh petugas kesehatan yang melakukan
perawatan terhadap pasien tersebut
5. Proses peminjaman rekam medis untuk penelitian dan kasus
lainnya harus mendapatkan ijin dari direktur utama

PEMBATALAN REGISTRASI PASIEN


No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2
015
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur
Kerja

Instalasi
Terkait

No. Revisi

Halaman

2/2

MENJAGA KEAMANAN RM DARI KEHILANGAN


1. Ruang penyimpanan RM harus aman, pintu senantias
terkunci sehingga hanya orang-orang berwenang saja
yang bisa masuk
2. Memasang kamera CCTV untuk memantau adanya
pencurian RM. Meminta semua petugas yang terkait
dengan rekam medis untuk menandatangani fakta
integritas agar tidak melanggar azas privasi,
kerahasiaan dan keamanan rekam medis, dan tidak
melakukan pencurian informasi dan dokumen rekam
medis
3. Memberikan sanksi yang berat apabila ada petugas
yang melakukan upaya pencurian rekam medis
MENJAGA RM DARI KERUSAKAN DAN
PENGERUSAKAN
1. Menyimpan rekam medis didalam rak
2. Memonitor kelembaban dan suhu ruangan
penyimpanan RM
3. Melakukan pest control secara rutin setiap 3 bulan
sekali
4. Menutup semua lubang yang menjadi akses masuk
tikus atau cacing
5. Membersihkan ruang penyimpanan rekam medis
setiap hari dan kerja bhakti setiap 2 minggu sekali
6. Melaporkan untuk dilakukan pengecekkan
danperbaikan ke IPSPGS apabila ada tembok yang
lembab dan berjamur, kaca-kaca yang pecah, keramik
yang pecah, dll
7. Melaporkan kerusakan AC ke IPSMNP untuk
kerusakan AC agar air menetes tidak merusak rekam
medis
1. Instalasi Rekam Medis
5. SMF
2. Instalasi Rawat Darurat
6. Managemen
3. Instalasi Wing Amerta
7. IPSPGS
4. Instalasi Rawat Jalan
8. IPSMNP

PENILAIAN, PENYUSUTAN DAN PEMUSNAHAN


REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/3

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Penilaian dan penyusutan rekam medis adalah proses kegiatan yang
dilakukan setahun sekali atau bila tempat penyimpanan rekam medis mulai
penuh dengan menilai apakah rekam medis tersebut masih mempunyai
nilai guna atau tidak.
Pemusnahan adalah proses pemusnahan rekam medis yang rusaka atau
yang sudah tidak mempunyai nilai guna lagi dengan cara dibakar di
incenerator. Proses pemusnahan ini bertujuan untuk menyiapkan tempat
untuk menyimpan rekam medis yang masih aktif atau yang masih
mempunyai nilai guna untuk dilestarikan agar tidak menumpuk /berjejal di
rak penyimpanan, sehingga memudahkan pencarian rekam medis.
Penilaian, penyusutan dan pemusnahan rekam medis merupak siklus
kegiatan yang harus dilaksanakan karena rekam medis terus bertambah
setiap hari. Oleh karena itu secara rutin harus dilakukan retensi terhadap
rekam medis agar siklus penambahan dan penyusutan rekam medis terus
berjalan dengan seimbang.

Tujuan

1. Untuk mengurangi tumpukan rekam medis yang rusak atau tidak


mempunyai nilai guna lagi di rak penyimpanan.

Kebijakan

2. Untuk menyiapkan ruang atau tempat penyimpanan rekam medis


baru, sehingga memudahkan proses pencarian
1. Permenkes No: 269/MENKES/PER/III/ 2008 tentang rekam
medis bab IV Penyimpanan, Pemusnahan, dan Kerahasiaan
- Pasal 8 (1) : rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit wajib
disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 5 (lima) tahun
terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat atau dipulangkan
- Pasal 8 (2) : setelah batas waktu 5 (lima ) sebagai mana dimaksud
pada ayat (1) dilampaui, rekam medis dapat dimusnakan , kecuali
ringkasan dan persetujuan tindakan medik
- Pasal 8 (3) : ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medik
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disimpan untuk jangka
waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung dari tanggal dibuatnya
ringkasan tersebut
- Pasal 8 (4) : penyimpanan rekam medis dan ringkasan pulang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan
oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan sarana pelayanan
kesehatan.

PENILAIAN, PENYUSUTAN DAN PEMUSNAHAN


REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Kebijakan

Prosedur kerja

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

2/3

2. Pedoman pengelolaan rekam medis rumah sakit indonesia revisi I


DEPKES RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta, 1997
3. Surat edaran Dir. Jen. Yan. Med. No : HK. 00.6.1.5.001160
Apabila ruang penyimpanan tidak cukup untuk menyimpan rekam
medis sampai 5 tahun maka diusulkan kepada Direktur utama
untuk dilakukan pemusnahan sebelum waktu 5 tahun agar tersedia
ruang untuk menyimpan rekam medis aktif atau diusulkan
dilakukan alih media (scarner) bila fasilitas untuk laih media
tersedia
1. Kepala instalasi rekam medis mendapatkan informasi dari
koordinator pengelolaan rekam medis bahwa tempat penyimpanan
rekam medis sudah hampir penuh
2. Kepala instalasi rekam medis memastikan bahwa proses retensi
dan pemusnahan rekam medis harus dilaksanakan agar tersedia
tempat penyimpanan rekam medis yang cukup untuk menyimpan
rekamedis yang akan diterbitkan berikutnya
3. Kepala instalasi rekam medis membentuk pokja penilaian rekam
medis senior sebanyak kurang lebih 5-7 orang untuk memobilisasi
tenaga rekam medis untuk melakukan penilaian/retensi dan
penyusutan rekam medis

4. Pokja menginstruksikan kepada semua petugas rekam medis untuk


melakukan penilaian dan penyusutan rekam medis
5. Untuk rekam medis tertentu yang sudah diisi label dilestarikan
langsung dipindah ke rak penyimpanan yang aktif
6. Rekam medis yang mempunyai nilai guna dan rekam medis
tertentu yang harus dilestarikan ( resume, laporan operasi,
identifikasi bayi, informed consent, sertifikat kematian dan lab
PA) disimpan di rak penyimpanan khusus.
7. Setelah rekamedis dinilai dan disusutkan dibuat daftar pertelaan
rekam medis yang akan dimusnakan
8. Kepala instalasi rekam medis membuat proposal dan surat usulan
pembentukan Tim Pemusnahan Rekam Medis kepada Direktur
Umum dan Operasional
9. Tim pemusnahan rekam medis terdiri dari :
a. Bagian Hukum
b. Bagian keperawatan
c. Instalasi rekam medis
d. Bagian TU
e. Bagian PE

PENILAIAN, PENYUSUTAN DAN PEMUSNAHAN


REKAM MEDIS
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
Prosedur kerja

Unit terkait

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

No. Revisi

Halaman

3/3

10. Tim pemusnahan rekam medis membuat surat permohonan


pemusnahan rekam medis kepada Direktur Utama
11. Setelah surat ijin pemusnahan rekam medis dikeluarkan oleh
Direktur utama, maka proses pemusnahan bisa segera
dilaksanakan
12. Tim pemusnahan rekam medis mengecek pelaksanan penilaian
dan penyusutan rekam medis, apakah sudah berjalan dengan baik
atau belum dan membuatkan berita acara
13. Jika semua proses penilaian dan penyusutan telah selesai
dilaksanakan, tim pemusnahan rekam medis menginstruksikan
petugas incenerator untuk melaksanakan pemusnahan dengan cara
dibakar
14. Tim pemusnahan rekam medis menyaksikan pelaksanaan
pemusnahan rekam medis dan mengirimkannya ke Direktur
Utama
1. Direktur Utama
2. Direktur Umum & Operasional
3. Bagian Hukum Dan Humas
4. Bagian Umum

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Sub. Bag. TU
Sub. Bag. Rumah Tangga
Bidang keperawatan
Bidang pelayanan
Instalasi Rekam Medis
Petugas Incenerator

IDENTIFIKASI DAN REGISTRASI


PASIEN RAWAT JALAN
RSK
LINDIMARA
WAINGAPU
SPO
PELAYANAN
REKAM MEDIS

Pengertian

No. Dokumen
YM.01.04/SPO.I.E.2/4901/2015

Tanggal Terbit :

No. Revisi

Halaman

1/6

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR

11 Januari 2015

Dr. Alhairani K.L. Manu Mesa


Proses pengumpulan dan pencatatan data demografi (nama, tempat dan
tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pendidikan, status perkawinan, agama,
dan pekerjaan) beserta segala keterangan tentang bukti-bukti seseorang
seperti bayar (umum, BPJS, JKBM, IKS, PJKMU dan APBD), cara
kedatangan (langsung atau rujukan) serta keterangan lainnya sehingga
data-data / keterangan yang diinput ke dalam SIRS RSK Lindimara dapat
ditetapkan dan dipersamakan dengan individu seseorang.
Pasien baru adalah pasien yang melakukan kunjungan pertama kali
(kunjungan ke-1) untuk mendapatkan pelayanan baik pelayanan medis
maupun pelayanan penunjg medis, sedangkan pasien lama adalah pasien

yang melakukan kunjungan ulang (lebih dari sekali) di RSK Lindimara


untuk mendapatkan pelayanan baik pelayanan medis maupun penunjang.

Tujuan

Kebijakan

Identifikasi bagi pasien kunjungan ulang dilakukan dengan proses


pencarian berdasarkan nomor kartu identitas lainnya (KTP, SIM, KITAS,
PASPOR). Dengan proses identifikasi kita mengetahui identitas seseorang
dan dengan identitas tersebut kita dapat mengenal seseorang dan
membedakan dengan orang lain.
1. Untuk mendapatkan gambaran tentang demografi pasien secara
tepat dan akurat
2. Untuk membedakan identitas pasien yang satu dengan yang
lainnya
3. Untuk menghindari kesalahan pemberian pelayanan dan
mendukung pelaksanaan program safety (keselamatan pasien)
4. Agar semua pasien kunjungan baru yang datang berobat di RSK
Lindimara teridentifikasi dengan lengkap di dalam data SIRS
1. Semua pasien baru yang berobat di RSK Lindimara baik
kunjungan baru maupun kunjungan lama harus dilakukan
identifikasi dan registrasi
2. Semua pasien baru telah dilakukan identifikasi dan registrasi
dilakukan identifikasi