Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR

Nama
NIM

Disusun Oleh
: Garry yoga dihartaja
: 13160109

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI
YOGYAKARTA
2013
1

LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR
A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
serta luasnya. Fraktur dapat disebabkan oleh adanya trauma langsung, gaya
meremuk, gerakan puntir mendadak ataupun kontraksi otot ekstrim. Meskipun
patah, jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh yang dapat mengakibatkan
edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur
tendon, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat
mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau fragmen tulang
(Brunner & Suddart, 2005).
Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau keadaan tulang itu sendiri,
jaringan lunak di sekitarnya juga akan menentukan jenis fraktur, apakah lengkap
atau tidak lengkap (Price & Wilson, 2006).
B. Etiologi
1. Trauma langsung: trauma lagsung dapat menyebabkan fraktur pada titik
terjadinya trauma tersebut. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis fraktur melintang atau miring.
2. Trauma tidak langsung: trauma tidak langsung menyebabkan fraktur di tempat
yang jauh dari tempat terjadinya trauma. Fraktur biasanya terjadi pada bagian
yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor trauma.
3. Trauma akibat tarikan otot: fraktur akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.
Kekuatan dapat berupa pemuntira, penekukan dan penekanan, maupun
kombinasi dari ketiganya dan penarikan.
C. Jenis Fraktur
1. Fraktur Komplet, merupakan patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal

2. Fraktur Tidak komplet, yaitu patah hanya terjadi pada sebagian dari garis
tengah tulang
3. Fraktur Tertutup ( simpel), yaitu fraktur yang tidak menyebabkan robeknya
kulit
4. Fraktur Terbuka (komplikata atau kompleks), merupakan fraktur dengan luka
pada kulit adau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka
dibagi menjadi:
a. Grade I dengan luka bersih panjangnya kurang dari 1 Cm
b. Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
c. Grade III mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensi yang sangat
terkontaminasi dan merupakan yang paling berat.
Fraktur juga dapat digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang:
fraktur brgeser atau tidak bergaser. Berikut adalah berbagai jenis kusus fraktur:
1.

Green stick: Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi
lainya membengkok.

2.

Trasversal: Fraktur sepanjang garis tengah tulang.

3.

Oblik: fraktur membetuk sudut dengan membentuk garis tengah


tulang (lebih tidak stabil di banding transversal).

4.

Spiral: fraktur memuntir seputar batang tulang.

5.

Komunitif: fraktur dalam tulang pecah menjadi beberapa fragmen.

6.

Depresi: fraktur dengan fragmen patah terdorong ke dalam (sering


terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).

7.

Kompresi: fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi


pada tulang belakang).

8.

Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit


(kista tulang, penyakit paget, metastasis tumor).

9.

Avolsi: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada


perlekatannya.

10.

Impaksi, fraktur dimana tulang terdorong ke fragmen tulang


lainnya.

D. Anatomi Fisiologi
Struktur tulang dan jaringan ikat menyususn kurang lebih 25% berat badan,
dan otot menyususn kurang lebih 50%. Kesehatan dan baiknya fungsi sistem
muskuloskeletal sangat tergantung pada sistem tubuh lainnya. Struktur tulang
memberi perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung dan paru.
Kerangka tulang merupakan kerangka yang sangat kuat untuk menyangga struktur
tubuh. Otot yang melekat pada tulang memungkinkan tubuh untuk dapat
bergerak. Matriks tulang menyimpan kalsium, fosfor, magnesium, dan flour.
Lebih dari 99% kalsium tubuh total terdapat dalam tulang. Sumsum tulang merah
yang terletak dalam tulang menghasilkan sel darah meran dan putih dalam proses
yang dinamakan hematopoesis. Kontraksi otot menghasilkan suatu usaha mekanik
untuk gerakan maupun produksi panas untuk mempetahankan temperatur tubuh
(Brunner & Suddart, 2005)
Tulang terbagi dalam 4 kategori: tulang panjang (misal femur), tulang
pendek (misal tarsal), tulang pipih (misal sternum), dan tulang tidak teratur (misal
vertebrata). Tulang tersusun oleh jaringan tulang konselus(trabekular/spongius)
atai kortikel (kompak). Tulang panjang ditutupi oleh kartilago artikular pada
sendi-sendinya, tulang panjang berfungsi untuk menyangga berat dan gerakan
badan. Tulang pendek (metakarpal) terdiri dari tulang konselus ditutupi selapis
tulang kompak. Tulang pipih (misal sternum) merupakan tempat penting untuk
hematopoesis dan sering berfungsi untuk memberikan perlindungan bagi organ
vital.
Osteoblast berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan
matriks tulang dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang). Osteoklas adalah
sel multi nuklea atau berinti banyak yang berperan dalam penghancuran dan
reabsorbsi tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang konselus.

E. Manifestasi Klinis
1. Nyeri, terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang di
imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk menimbulkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan
atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstimitas
yang bisa diketahui adengan membandingkan dengan ekstrimitas normal.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
tergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
3. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang karena kontraksi otot yang
melekat diatas dan bawah tempat fraktur.
4. Saat diperiksa dengan tangan teraba derik tulang yang disebut krepitus akibat
gesekan antara fragmen satu dengan lainnya (uji kreptus dapat berakibat
kerusakan jaringan lunak yang lebih berat)
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit karena trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah
beberapa jam atau hari.
Tidak semua tanda dan gejala diatas terdapat pada setiap fraktur.
Diagnosis fraktur tergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaaan sinar
X.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik fraktur diantaranya:
a. Pemeriksaan Rontgen: menentukan lokasi atau luasnya fraktur
b. Scan tulang, tonogram, CT scan/MRI: memperlihatkan fraktur juga bisa
digunakan untuk melihat kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
5

d. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat atau menurun.


e. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal.
f. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi
mutipel, atau cidera hepar.
G. Komplikasi
1. Komplikasi awal
Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok, yang bisa berakibat fatal setelah
beberapa jam setelah cidera, emboli lemak, dan sindrom kompartemen yang
bisa berakibat kehilangan fungsi ekstimitas permanen jika tidak segera
ditangani. Komplikasi awal lainya yang berhubungan dengan fraktur adalah
infeksi, tromboemboli, (emboli paru), dan juga koagulapati intravaskuler
diseminata (KID)
b. Komp1ikasi lambat
Komplikasi lambat yang dapat terjadi setelah fraktur dan dilakukan tindakan
adalah penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan, dapat dibantu dengan
Stimulasi elektrik osteogenesis karena dapat mamodifikasi lingkungan
jaringan membuat bersifat elektronegatif sehingga meningkatkan deposisi
mineral dan pembentukan tulang. Nekrosis vaskuler tulang terjadi bila tulang
kehilangan asupan darah, reaksi terhadap alat fiksasi internal.
H. Penatalaksanaan
Bila dicurigai adanya fraktur penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh
segera sebelum pasien dipindahkan bila pasien yang mengalami cidera harus
dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstrimitas
harus disangga diatas dan di bawah tempat fraktur untuk mencegah gerakan
rotasi/angulasi. Gerakan frgmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri,
kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri dapt dikurangi
dengan menghindari gerakan fragmnen tulang dan sendi sekitar fraktur.
Pembidaian sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh
fragmen tulang.
6

Imobilisasi tulang panjang ekstrimitas bawah juga dapat dilakkan dengan


membebat kedua tungkai bersama, dengan ekstrimitas yang sehat sebagai bidai
bagi ekstrimitas yang cidera.
Pada ekstrimitas atas lengan dapat dibebatkan pada dada atau lengan bawah
yang cidera digantung pada sling. Pada fraktur terbuka luka ditutup dengan
pembalut erdih atau steril untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih
dalam, jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur bahkan jika ada fragmen
tulang melalui luka.
1. Reduksi fraktur, mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis. Reduksi tertutup, fraksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan
untuk mereduksi fraktur. Metode yang dipilih tergantung pada sifat fraktur
tapi prinsip yang mendasari sama. Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur
pasien harus dipersiapkan: ijin melakukan prosedur, analgetik sesuai
ketentuan, dan persetujuan anestesi. Reduksi tertutup dilakukan dengan
mengembalikan fragmen tulang ke posisiya dengan manipulasi dan traksi
manual.
2. Traksi digunakan utuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi yang
disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka, alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat,
paku, atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen
tulang dalam posisinya.
4. Imobilisasi Fraktur, setelah direduksi fragmen tulang harus di imobilisasi dan
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal
(gips,pembalutan, bidai, traksi kontinyu, pin dan teknik gips atau fiksator
eksternal) dan interna (implant logam).
5. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi harus
dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (mis. Pengkajian
7

peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau dan ahli bedah ortopedi
diberi tahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan,
ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan. Latihan
isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan
meningkatkan peredaran darah. Pengembalian bertahap pada aktifitas semula
diusahakan sesuai dengan batasan terapeutik.
6. Perawatan pasien dengan fraktur tertutup harus diusahan untuk kembali
kepada aktifitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan
pengembalian kekuatan penuh dan mobilitas memerlukan waktu berbulanbulan. Pasien diajari mengontrol pembengkakan dan nyeri, mereka diorong
untuk aktif dalam batas imoblisasi fraktur. pengajaran pasien meliputi
perawatan diri, informasi obat-obatan, pemantauan kemungkinan potensial
masalah, dan perlunya supervisi perawatan kesehatan.
7. Perawatan pasien pada fraktur terbuka (yang berhubungan luka terbuka
memanjang sampai ke permukaan kulit dan ke daerah cedera tulang) terdapat
resiko infeksi-osteomielitis, gas gangren, dan tetanus. Tujuan penanganan
adalah untuk meminimalkan kemungkinan infeksi luka, jaringan lunak dan
tulang untuk mempercepat penyembuhan jaringan lunak dan tulang. Pasien
dibawa ke ruang operasi, dilakukan usapan luka, pengangkatan fragmen
tulang mati atau mungkin graft tulang.
I. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian yang perlu dilakukan pada pasien dengan fraktur adalah :
1. Keadaan Umum klien
2. Keluhan utama yang dirasakan klien
3. Gejala klinik dengan pemeriksaan:
a.

Inspeksi

b.

Palpasi

c.

Mobilisasi
8

J. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan fraktur adalah :
1. Nyeri akut
2. Hambatan mobilitas fisik
3. Kerusakan integritas jaringan
4. Deficit self care
5. Resiko infeksi
K. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Nyeri Akut

Intervensi
1. Kaji TTV klien
2. Kaji

nyeri

Rasional
1. Evaluasi
secara

komprehensif

keadaan

umum klien
2. Membantu

(PQRST)

mengevaluasi

3. Ajarkan klien teknik


relaksasi napas dalam
4. Kolaborasi

ketidaknyamanan dan
keefektifan analgesik

dalam 3. Membantu

pemberian analgetik

mengatasi

nyeri klien
4. Analgetik
untuk

Hambatan Mobilitas
Fisik

body

nyeri
1. Mencegah

dan posisi

komplikasi

1. Pertahankan
aligment
nyaman

derajat

berfungsi
mengurangi
terjadinya

2. Mengevaluasi

2. Observasi

adanya

hambatan klien dalam


melakukan aktivitas
3. Cegah klien jatuh
4. Lakukan latihan ROM

kemampuan
klien
3. Mempertahankan
keamanan klien
4. Mempertahankan

ADL

aktif aktif dan pasif


5. Kolaborasi

dengan

tenaga kesehatan lain.

sirkulasi

dan

mencegah kontraktur
5. Menentukan

terapi

yang sesuai bagi klien.

10