Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Perkembangan profesi akuntan publik atau auditor tidak terlepas dari perkembangan
perekonomian suatu negara. Semakin maju perekonomian suatu negara maka akan semakin
kompleks masalah bisnis yang terjadi. Oleh karena itu, kebutuhan informasi bisnis yang
berupa laporan keuangan semakin dibutuhkan untuk pengambilan keputusan bisnis.
Laporan keuangan berupa data-data keuangan historis yang direkam dari kegiatan
bisnis. Laporan keuangan dibuat untuk beberapa tujuan yaitu untuk kepentingan pihak
internal dan untuk kepentingan pihak eksternal perusahaan. Pihak internal perusahaan
membutuhkan laporan keuangan untuk menilai kinerja manajemen dalam pengelolaan
perusahaan, menilai produktifitas dan efisiensi masing-masing organisasi perusahaan,
sedangkan pihak eksternal perusahaan yaitu investor, kreditor, dan pemerintah
membutuhkan laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan investasi. Agar laporan keuangan tersebut dapat digunakan untuk
berbagai kepentingan pengguna, maka harus ada jaminan bahwa laporan keuangan tersebut
tidak menyesatkan dalam pengambilan keputusan. Hal ini tidak terlepas dari adanya konflik
kepentingan antara pembuat laporan keuangan dengan pemakai laporan keuangan.
Pembuat laporan keuangan cenderung akan membuat laporan keuangan sebaik
mungkin dan bila perlu dapat memberikan keuntungan pribadi dengan melakukan
penggelapan data keuangan atau melakukan kecurangan, sedangkan pengguna laporan
keuangan akan menilai kinerja keuangan perusahaan berdasarkan data yang ada dengan tingkat
informasi kebenaran yang minimum. Untuk mencegah hal tersebut, dibutuhkan suatu profesi
yang dapat menjamin bahwa laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai alat
pengambilan keputusan dan laporan keuangan yang bebas dari kecurangan-kecurangan
yang dibuat oleh manajemen perusahaan.
Salah satu tugas akuntan publik atau auditor adalah melakukan pemeriksaan atau
mengaudit terhadap laporan keuangan klien berdasarkan penugasan atau perikatan antara
klien dengan akuntan publik. Dalam penugasan audit sering terjadi benturan-benturan
yang dapat mempengaruhi independensi akuntan publik dimana klien sebagai pemberi
kerja berusaha untuk mengkondisikan agar laporan keuangan yang dibuat mempunyai opini
yang baik, sedangkan disisi lain akuntan publik harus dapat menjalankan tugasnya secara
professional yaitu auditor harus dapat mempertahankan sikap independen dan obyektif.

Untuk menjaga profesionalisme sebagai akuntan publik, maka seorang auditor harus
mengacu pada standar auditing yang telah ditetapkan oleh IAPI, yaitu standar umum,
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan (SPAP:2001)
Standard Profesional Akuntan Publik (SPAP) seksi 341 menyebutkan, bahwa
pertimbangan auditor atas kemampuan kesatuan usaha dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya harus didasarkan pada kemampuan penilaian. Penilaian tersebut
didasarkan pada kesangsian dalam diri auditor itu sendiri terhadap kemampuan entitas
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Besarnya kepercayaan
pengguna laporan
keuangan pada Akuntan Publik ini
mengharuskan akuntan publik memperhatikan kualitas auditnya. Ironisnya, kepercayaan
yang besar dari pemakai laporan keuangan kepada akuntan publik seringkali diciderai
dengan banyaknya skandal, yaitu pelanggaran atau penyelewengan yang dilakukan oleh
berbagai KAP. Terjadinya kasus kegagalan KAP yang berskala besar yaitu kasus Enron di
Amerika Serikat dan kasus KAP Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) atas manipulasi laporan
keungan PT. KIMIA FARMA Tbk yang terjadi tahun 2001, berdampak besar terhadap
perkonomian di Indonesia. Pada tahun 2007, terjadi lagi kasus kegagalan KAP di Indonesia,
yaitu pembekuan izin Akuntan Publik (AP) Drs. Petrus Mitra Winata dari Kantor Akuntan
Publik (KAP) Drs. Mitra Winata dan Rekan yang dilakukan oleh Menteri Keuangan (Menkeu)
Sri Mulyani Indrawati pada 15 Maret 2007.
Pelanggaran itu berkaitan dengan pelaksanaan audit atas Laporan Keuangan PT Muzatek
Jaya tahun buku berakhir 31 Desember 2004 yang dilakukan oleh Petrus. Selain itu, Petrus juga
telah melakukan pelanggaran atas pembatasan penugasan audit umum dengan melakukan audit
umum atas laporan keuangan PT Muzatek Jaya, PT Luhur Artha Kencana dan Apartemen
Nuansa Hijau sejak tahun buku 2001 sampai dengan 2004.
Pembekuan izin oleh Menkeu tersebut sesuai dengan Keputusan Menkeu Nomor
423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menkeu Nomor 359/KMK.06/2003.
Pembekuan izin yang dilakukan oleh Menkeu ini merupakan yang kesekian kalinya. Pada 4
Januari 2007, Menkeu membekukan izin Akuntan Publik (AP) Djoko Sutardjo dari Kantor
Akuntan Publik Hertanto, Djoko, Ikah & Sutrisno selama 18 bulan. Djoko dinilai Menkeu telah
melakukan pelanggaran atas pembatasan penugasan audit dengan hanya melakukan audit umum
atas laporan keuangan PT Myoh Technology Tbk (MYOH). Penugasan ini dilakukan secara
berturut-turut sejak tahun buku 2002 hingga 2005.

Sebelumnya, Departemen Keuangan juga melakukan pembekuan izin terhadap Akuntan


Publik Justinus Aditya Sidharta. Dalam kasus ini, Justinus terbukti telah melakukan pelanggaran
terhadap SPAP berkaitan dengan Laporan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi PT Great
River International Tbk (Great River) tahun 2003.
Terjadinya kasuskasus kegagalan auditor telah menimbulkan sikap skeptis masyarakat
menyangkut ketidak mampuan profesi akuntansi publik dalam menjaga independensi. Sorotan
tajam diarahkan pada perilaku auditor ketika berhadapan dengan klien yang dipersepsikan
gagal dalam menjalankan perannya sebagai auditor independen.
Independensi sebagai suatu sikap dimana auditor tidak memihak harus selalu dapat
dipertahankan. Sikap ketidakberpihakan yang ditunjukkan auditor ketika melaksanakan
tugasnya mencerminkan auditor jujur dan bebas dari pengaruh apapun, sehingga laporan
auditannya dapat dipercaya. Kehilangan independensi seorang auditor akan berimbas
terhadap rendahnya kualitas proses audit yang dihasilkannya sehingga laporan audit sebagai hasil
akhir pekerjaannya tidak sesuai dengan kenyataan dan terdapat keraguan untuk digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan.
Penelitian Dwi Yani dan Ni Luh Sari (2014) menyatakan bahwa adanya pengaruh yang
signifikan antara tingkat Independensi seorang auditor terhadap kualitas proses audit. Kondisi
ini menggambarkan tingginya independensi yang dimiliki auditor akan diikuti pula oleh
tingginya kualitas proses audit. Penelitian tersebut juga sependapat dengan penelitian Ni Putu
Piorina Fortuna Sari dan I Wayan Ramantha (2015) yang menyatakan bahwa independensi
berpengaruh positif dan signifikan pada kualitas audit.
Semakin memburuknya independensi auditor akhir-akhir ini menjadi penyebab utama
terjadinya kebangkrutan dan skandal korporasi di berbagai perusahaan di dunia. Hal ini
dikarenakan pihak auditor (akuntan publik) sebagai pemeriksa laporan keuangan klien yang
akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pihakpihak eksternal menyangkut
dana yang ditanamkan pada suatu perusahaan ditakuti berperilaku secara tidak profesional.
Menurut penelitian Putu Septiani Futri dan Gede Juliarsa (2014) dapat disimpulkan bahwa
Pengalaman berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Adapun faktor yang menyebabkan
kurangnya pengalaman pada auditor adalah, kurang lamanya bekerja pada Kantor Akuntan
Publik, dalam hal ini adalah audit junior, dan selain itu kurangnya kompleksitas tugas yang
dihadapi auditor, semakin sering auditor menghadapi tugas yang kompleks maka semakin
bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Begitu juga dengan risiko audit yang dihadapi oleh
seorang auditor juga akan dipengaruhi oleh pengalaman dari auditor tersebut. Auditor akan
berusaha untuk memperoleh bukti-bukti yang diperlukan untuk mendukung judgment tersebut.
Dalam melaksanakan tugas auditnya seorang auditor dituntut untuk membuat suatu judgment
yang maksimal. Untuk itu auditor akan berusaha untuk melaksanakan tugasnya tersebut dengan
3

segala kemampuannya dan berusaha untuk mengindari risiko yang mungkin akan timbul dari
judgment yang dibuatnya tersebut.
Tingkat pendidikan juga sangat diperlukan dalam menentukan kualitas audit. Semakin
banyak pengatahuan yang didapat maka akan memudahkan auditor dalam memecahkan
masalah dalam melaksanakan tugas audit. Menurut Gorda (2004) dalam Laksmi (2010:21),
pendidikan adalah kegiatan untuk meperbaiki dan mengembangkan sumber daya manusia
dengan cara meningkatkan kemampuan dan pengertian tentang pengetahuan umum dan
pengetahuan ekonomi termasuk didalamnya peningkatan pengetahuan teori dan ketrampilan
dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan.
Menurut penelitian Putu Septiani Futri dan Gede Juliarsa (2014) dapat disimpulkan
bahwa tingkat pendidikan terbukti berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor
Akuntan Publik di Bali. Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan auditor maka
semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap kualitas audit seorang auditor. Hal ini
memberikan suatu gambaran dimana tingkat pendidikan yang dimiliki seorang auditor akan
meningkatkan kualitasnya, karena dengan jenjang pendidikan yang tinggi, hal ini
berkecendrungan kuat akan meningkatkan wawasan serta kemampuan seorang auditor
untuk memegang tanggung jawab serta meningkatkan perannya dalam menjalankan
tugasnya. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi pula tentunya akses informasi yang
dimilikinya menjadi lebih banyak sehingga kompetensi dalam menjalankan tugas akan
semakin meningkat dan hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitasnya.
Fenomena lainnya yang juga mampu mempengaruhi kualitas audit yaitu kontrak
kerjasama dalam hal penentuan besaran fee audit antara auditor dan klien. Menurut
penelitian K. Dwiyani Pratistha dan Ni Luh Sari Widhiyani (2014) Fee berpengaruh positif dan
signifikan secara statistik terhadap kualitas. Proses audit Kondisi ini menggambarkan semakin
tinggi fee audit yang diberikan klien, semakin luas pula prosedur audit yang akan
dilakukan auditor maka kualitas audit yang dihasilkan pun akan tinggi.
Auditor dengan fee audit yang tinggi akan melakukan prosedur audit lebih luas dan
mendalam terhadap perusahaan klien sehingga kemungkinan kejanggalan-kejanggalan yang
ada pada laporan keuangan klien dapat terdeteksi. Pendeteksian kejanggalan mencerminkan
kualitas proses audit tinggi, hal ini dikarenakan kualitas proses audit merupakan pelaksanaan
audit dengan penerapan standar akuntansi dan standar audit yang benar oleh auditor.
Faktor lain yang mempengaruhi kualitas audit yaitu mengenai lamanya hubungan audit
kepada klien. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat independensi auditor karena semakin
eratnya jalinan hubungan antara auditor dengan klien sering kali membuat auditor kehilangan
independensi.

Faktor lainnya yang mempengaruhi kualitas audit adalah obyektifitas. Obyektivitas sebagai
bebasnya seseorang dari tekanan dan pengaruh kepentingan pribadi maupun orang lain
dalam pengambilan keputusan.
Menurut penelitian Komang, Edy, I Made (2014) dapat disimpulkan bahwa obyektifitas
berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Auditor dituntut untuk selalu berpedoman pada
fakta yang ditemukan serta tanpa adanya intervensi atau permintaan pihak tertentu atau pribadi
dalam proses pengambilan keputusan, sehingga laporan audit yang dihasilkan berkualitas
serta dapat dipertanggungjawabkan. Kualitas laporan yang baik serta dapat dipercaya akan
menjadikan suatu tolak ukur bahwa kinerja dari seorang auditor baik.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk
mengetahui bagaimana kualitas auditor di beberapa Kantor Akuntan Publik (KAP) di daerah
Jakarta. Dan juga peniliti termotivasi untuk memberikan informasi yang berbeda dengan
informasi hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas maka kami akan
melakukan
penelitian dan mengambil judul PENGARUH INDEPENDENSI,
PENGALAMAN, PENDIDIKAN, FEE AUDIT DAN OBYEKTIFITAS TERHADAP
KUALITAS AUDIT.
1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)

Apakah independensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit?


Apakah pengalaman auditor berpengaruh positif terhadap independensi auditor?
Apakah kompetensi auditor berpengaruh positif terhadap independensi auditor?
Apakah fee auditor berpengaruh positif terhadap independensi auditor?
Apakah hubungan auditor dengan auditee berpengaruh negative terhadap Independesi
auditor?
6) Apakah pemutusan kerja dan penggantian auditor berpengaruh negative terhadap
independensi auditor?
7) Apakah obyektifitas berpengaruh positif terhadap kualitas audit?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dapat disampaikan tujuan penelitian yang
hendak dicapai yaitu :
1) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang independensi berpengaruh positif
terhadap kualitas audit.
2) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang pengalaman auditor berpengaruh
positif terhadap kualitas audit.

3) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang tingkat kompetensi auditor
berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
4) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang fee auditor berpengaruh positif
terhadap kualitas audit.
5) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang hubungan auditor dengan auditee
berpengaruh negative terhadap Independesi auditor.
6) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang pemutusan kerja dan penggantian
auditor berpengaruh negative terhadap independensi auditor.
7) Untuk menguji dan mendapatkan bukti empiris tentang obyektifitas berpengaruh positif
terhadap kualitas audit.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1

Bagi Literatur
Penulis berharap hasil penelitian ini dapat berguna bagi pembaca untuk menambah
pengetahuan, informasi dan tambahan referensi bagi pihak lain atau masyarakat yang
membutuhkan sebagai sarana pertimbangan dan perbandingan dengan penelitianpenelitian selanjutnya menyangkut pengaruh Independensi, Pengalaman, Tingkat

Pendidikan, Fee dan Obyektifitas terhadap Kualitas audit dalam ruang lingkup Auditing.
Bagi Lingkungan Praktek
Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan, pengetahuan, pengertian
dan pemahaman bagi para auditor atau para praktisi akuntansi atau akuntan
profesional tentang faktor-faktor yang mempengaruhi independensi auditor yang pada

akhirnya dapat menurunkan kualitas audit.


Bagi Regulator
Bagi pemerintah atau pun badan yang berwenang menetapkan regulasi, penelitian ini
diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya kualitas audit dengan
standar akuntansi internasional. Sedangkan bagi Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
yang berwenang menetapkan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), penelitian ini
diharapkan dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam pembaharuan SPAP
menjadi lebih baik agar auditor dapat mengahsilkan laporan audit yang akurat dan dapat
dipercaya.

1.5. Sistematika Penelitian

Sistematika Penelitian dalam penelitian ini, sistematika pembahasan terdiri dari tiga bab. Masing
masing uraian garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:
BAB I

: PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan menguraikan latar belakang penelitian,
perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, serta
sistematika penelitian.

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini penulis membahas tentang teori - teori yang digunakan
untuk membantu memecahkan masalah penelitian yang akan dijadikan
bahan acuan dalam membahas skripsi serta menjadi landasan dalam
penelitian serta kerangka penelitian.

BAB III

: METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini penulis membahas tentang rancangan penelitian, jenis
variable yang digunakkan dan pengukurannya, metode penentuan sampel,
metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

BAB IV

: ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Dalam bab ini penulis membahas tentang pengujian yang dilakukan dalam
statistik deskriptif, pengujian asumsi klasik, dan pengujian hipotesis
terhadap variabel yang digunakan.

BAB V

: PENUTUP
Dalam bab ini penulisan membahas Kesimpulan, saran dan keterbatasan
dalam penulisan proposal ini.

BAB II
7

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Independensi
Standar Professional Akuntan

Publik

(SPAP)

seksi

220,

menyatakan bahwa

independen berarti tidak mudah dipengaruhi. Auditor secara intelektual harus jujur, bebas
dari kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai kepentingan dengan klien, baik
terhadap manajemen maupun pemilik. Definisi sejenis dikemukakan oleh Arens (1993)
yang menyatakan bahwa independensi sebagai cara pandang yang tidak memihak didalam
penyelenggaraan pengujian audit, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit.
Menurut Herry (2010:73) yang dimaksud dengan independensi seorang auditor adalah
sebagai berikut :Auditor internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang
diperiksa. Auditor internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara
bebas dan objektif. Kemandirian auditor internal sangat penting terutama dalam memberikan
penilaian yang tidak memihak (netral)
Pengertian Independensi menurut siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2009:51) adalah
sebagai berikut : Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam
pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Sikap
mental independen tersebut harus meliputi Independece in fact dan independence in
appearance.
Independence in appearance menurut siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2009:51)
adalah sebagai berikut : Independen dalam penampilan adalah hasil interpretasi pihak lain
mengenai independensi ini. Auditor akan dianggap tidak independen apabila auditor tersebut
memiliki hubungan tertentu (misalnya hubungan keluarga) dengan kliennya yang dapat
menimbulkan kecurigaan bahwa auditor tersebut akan memihak kliennya atau tidak
independen.
Sedangkan pengertian Independensi menurut Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana
(2009:146) adalah : Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah
pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil keputusan dan tindakan.

2.1.2

Pengalaman

Selain Independensi, pengalaman seorang auditor juga berpengaruh terhadap kualitas


audit. Menurut Robyn dan Peter (2008) menemukan bahwa tugas berbasis pengalaman yang
diperoleh dapat meningkatkan kinerja seseorang dalam melaksanakan tugas. Semakin lama
pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang auditor akan menghasilkan kualitas audit lebih
baik ( Rahmatika, 2011).
Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan
potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa diartikan
sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi.
Suatu pembelajaran juga mencakup perubahaan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan
pengalaman, pemahaman dan praktek. (Knoers & Haditono, 1999).
Dian indri purnamasari, (2005:3) memberikan kesimpulan bahwa seorang karyawan yang
memiliki pengalaman kerja yang tinggi akan memiliki keunggulan dalam beberapa hal
diantaranya; 1). Mendeteksi kesalahan, 2). Memahami kesalahan dan 3) Mencari penyebab
munculnya kesalahan. Keunggulan tersebut bermanfaat bagi pengembangan keahlian. Berbagai
macam pengalaman yang dimiliki individu akan mempengaruhi pelaksanakan suatu tugas.
Pengalaman kerja seseorang menunjukkan jenis-jenis pekerjaan yang pernah dilakukan
seseorang dan memberikan peluang yang besar bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan yang
lebih baik.
Mulyadi (2002:25) jika seorang memasuki karier sebagai akuntan publik, ia harus lebih
dulu mencari pengalaman profesi dibawah pengawasan akuntan senior yang lebih
berpengalaman. Bahkan agar akuntan yang baru selesai menempuh pendidikan formalnya dapat
segera menjalani pelatihan teknis dalam profesinya, pemerintah mensyaratkan pengalaman kerja
sekurang-kurangnya tiga tahun sebagai akuntan dengan reputasi baik di bidang audit bagi
akuntan yang ingin memperoleh izin praktik dalam profesi akuntan publik (SK Menteri
Keuangan No.43/KMK.017/1997 tanggal 27 Januari 1997).
2.1.3

Pendidikan

Menurut Notoatmodjo (1998), pendidikan adalah suatu proses pengembangan


kemampuan ke arah yang diinginkan. Pendidikan di sini adalah pendidikan jangka panjang atau
9

pendidikan formal yang telah didapat oleh seorang auditor. Sedangkan pendidikan jangka
pendek, biasanya disebut dengan pelatihan.
2.1.4

Fee Audit

Menurut Sukrisno Agoes (2012:18) mendefinisikan, Fee Audit adalah besarnya biaya
tergantung antara lain resiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang
diperlukan untuk melaksanakan jasa tesebut, struktur biaya KAP yang bersangkutan dan
pertimbangan professional lainya.
Tetapi, menurut Srinidhi dan Gul (2006) menyatakan bahwa, Fee Audit adalah fee yang
dibayar oleh klien itu kepada akuntan publik untuk mengganti kerugian atas jasa auditnya.
Selain itu, pengertian Fee Audit menurut Hoitash., dkk (2005) menyatakan bahwa, total
fee audit sebagai jumlah dari semua fee yang dibayar kepada pengaudit. Fee audit dibagi menjadi
dua kategori yaitu: fee audit dan non-fee audit. Fee audit adalah total fee yang dibayar kepada
pengaudit untuk jasa pengauditan. Sedangkan non-fee audit adalah biaya jasa lainnya yang
dibayar selain dari fee audit.
Dapat disimpulkan bahwa, Fee Audit merupakan besaran biaya yang diterima oleh
auditor yang mempertimbangkan berbagai hal seperti tingkat keahlian, besarnya jasa yang
diberikan, dan sesuai dengan tuntutan standar professional akuntan publik yang berlaku.
2.1.5

Obyektifitas

Pengertian objektivitas menurut Lawrence B. Swyer, mortimer A. Dittenhofer dan James


H. Scheiner yang diterjemahkan oleh Desi Anhariani (2006:103) Objektivitas adalah suatu hal
yang langka dan hendaknya tidak dikompromikan. Seorang auditor hendaknya tidak pernah
menempatkan diri atau ditempatkan dalam posisi di mana objektivitas mereka dapat
dipertanyakan. Kode etik dan standar auditor internal telah menetapkan aturan-aturan tertentu
yang harus diikuti agar terhindar dari kemungkinan pandangan akan kurangnya objektivitas atau
munculnya bias. Pelanggaran atas aturan-aturan ini akan menyebabkan munculnya kritikan dan
pertanyaan mengenai kurangnya objektivitas yang dimiliki oleh audit internal.
Selain itu pengertian objektivitas menurut Siti Kurnia Rahayu dann Ely Suhayati
(2009:52) adalah : Harus bebas dari masalah benturan kepentingan (conflict of interest) dan
tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang dketahuinya
10

atau mengalihkan pertimbangannya kepada pihak lain. Dengan memprtahankan integritas auditor
akan bertindak jujur,, dan tegas, dengan mempertahankan objektivitasnya, auditor akan bertindak
adil, tidak memihak dalam melaksanakan pekerjaannya tanppa dipengaruhi tekanan atau
permintaan pihak tertentu atau kepentingan pribadi.
Laporan hasil yang memiliki kriteria objektivitas menurut Hiro Tugiman (2006:191)
adalah : Suatu laporan pemeriksaan yang objektif membicarakan pokok persoalan dalam
pemeriksaan, bukan perincian prosedural atau hal-hal lain yang diperlukan dalam proses
pemeriksaan. Objektivitas juga harus dapat memberikan uraian mengenai dunia auditee dengan
tidak menunjuk pada pribadi tertentu dan tidak menyinggung perasaan orang lain.
Oleh karena itu, Objektivitas merupakan kebebasan sikap yang tidak dipengaruhi oleh
pendapat dan pertimbangan pribadi atau kelompok lain dalam mengambil keputusan atau
tindakan yang seharusnya dipertahankan oleh auditor dalam melakukan audit. Sehingga
objektivitas mengharuskan auditor melakukan audit dengan objektif sehingga kejujuran atas
hasil audit mereka dapat diyakini dan dapat dipercaya.
2.1.6

Auditing

Auditing menurut (Arens dan Loebbecke, 2003), auditing sebagai: Suatu proses
pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai
suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat
menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten.
Auditing menurut (Mulyadi, 2002), auditing merupakan: Suatu proses sistematik
untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan
tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian
antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian
hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Secara garis besar, Auditing adalah suatu proses untuk memperoleh, memeriksa,
mengevaluasi dan menilai bukti informasi yang berkaitan dengan asersi-asersi tentang tindakantindakan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersiasersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada
pihak-pihak yang berkepentingan
11

2.1.7

Auditor

Auditor adalah seseorang yang menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal
yang material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yangsesuai dengan prinsip akuntansi
berlaku umum di Indonesia (Arens, 1995). Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, auditor
adalah pemeriksaan (examination) secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau
organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisikeuangan dan hasil usaha perusahaan atau
organisasi tersebut (Mulyadi,2002).

2.2 Penelitian Terdahulu


NO.
PENULIS
1.
Ni Putu
Piorina
Fortuna Sari,
I Wayan
Ramantha

TAHUN
2015

2.

K. Dwiyani
Pratistha,
Ni Luh Sari
Widhiyan

2014

3.

Putu Septiani
Futri,
Gede Juliarsa

2014

JUDUL
PENGARUH SIKAP
SKEPTISME,
PENGALAMAN
AUDIT,
KOMPETENSI,
DAN
INDEPENDENSI
AUDITOR
PADA KUALITAS
AUDIT
PENGARUH
INDEPENDENSI
AUDITOR DAN
BESARAN FEE
AUDIT TERHADAP
KUALITAS
PROSES AUDIT
PENGARUH
INDEPENDENSI,
PROFESIONALISM
E, TINGKAT
PENDIDIKAN,
ETIKA PROFESI,
PENGALAMAN,
DAN KEPUASAN
KERJA AUDITOR
PADA KUALITAS
12

a)
b)
c)
d)

VARIABEL
Sikap skeptisme
Pengalaman
Audit
Kompetensi
Independensi

a)
b)
c)
d)

HASIL
Positif dan
Signifikan
Tidak
Berpengaruh
Positif dan
Signifikan
Positif dan
Signifikan

a) Independensi
Auditor
b) Besaran fee
Audit

a) Positif dan
Signifikan
b) Positif dan
Signifikan

a) Independensi
b) Profesionalisme
c) Tingkat
Pendidikan
d) Etika Profesi
e) Pengalaman
f) KepuasanKerja
Auditor

a) Tidak
Berpengaruh
b) Tidak
Berpengaruh
c) Positif
d) Positif
e) Tidak
Berpengaruh
f) Positif

4.

Komang
Gunayanti
Ariani,
I Dewa
Nyoman
Badera

2015

AUDIT KANTOR
AKUNTAN PUBLIK
DI BALI
Pengaruh Integritas,
Obyektifitas,
Kerahasiaan, Dan
Kompetensi
Pada Kinerja Auditor
Inspektorat Kota
Denpasar

a)
b)
c)
d)

Integritas
Obyektifitas
Kerahasiaan
Kompetensi

a) Positif dan
Signifikan
b) Positif dan
Signifikan
c) Positif dan
Signifikan
d) Positif dan
Signifikan

2.3 Kerangka Berpikir

Independensi
H1

Pengalaman
H2
(+)

2.4.1

Pendidikan

H3Audit
Kualitas

Fee Auditor

H4
(+)

Obyektifitas

(+)

2.4 Hipotesis
H5
(+)

Independensi

Independensi adalah suatu sikap yang tidak memihak


kepada siapapun, yang harus dimiliki oleh setiap auditor dalam

melakukan proses audit. Beberapa penelitian telah mengungkapkan adanya hubungan


Independensi dengan kualitas audit.
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Ni Putu Piorina Fortuna Sari, I Wayan
Ramantha, mengatakan bahwa Independensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
Sedangkan menurut penelitian Putu Septiani Futri, Gede Juliarsa mengatakan bahwa
Independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
13

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:


Ha1

2.4.2

: Independensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

Pengalaman

Pengalaman dalam pemeriksaan

laporan

keuangan

menjadi

salah

satu faktor yang

mempengaruhi kualitas audit. Pengalaman bagi auditor dalam bidang audit berperan penting
dalam meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang diperoleh auditor dari pendidkan
formalnya sehingga kualitas audit akan semakin baik seiring bertambahnya pengalaman
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Putu Septiani Futri Gede Juliarsa (2014),
mengatakan bahwa Pengalaman berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:
Ha2

2.4.3

: Pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

Pendidikan

Tubbs (1992) dan Brown, et al (2007) menyatakan bahwa semakin tinggi pengalaman dan
pengetahuan auditor menjadikan auditor semakin peka akan adalanya kesalahan dalam
penyajian laporan keuangan dan berimbas pada kinerja yang semakin membaik.
Sehingga dapat dikatakan ketika auditor memiliki kompetensi yang baik, maka pemahaman
yang dimiliki atas suatu laporan keuangan juga akan lebih baik sehingga auditor dengan
cepat akan dapat menganalisis kesalahan yang terjadi.
Menurut penelitian Ni Putu Piorina Fortuna Sari, I Wayan Ramantha menyatakan bahwa
kompetensi/tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.
Sedangkan menurut penelitian Putu Septiani Futri, Gede Juliarsa mengatakan bahwa tingkat
pendidikan tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:
Ha3

: Pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

14

2.4.4

Fee Audit

Menurut Mulyadi (2002) audit fee merupakan fee yang diterima oleh akuntan publik setelah
melaksanakan jasa auditnya, besarnya tergantung dari resiko penugasan,kompleksitas jasa yang
diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya
KAP yang bersangkutan. Besar kecilnya fee yang diterima oleh kantor akuntan publik dari klien
atas jasa yang diberikan merupakan sebagian besar atau kecil pendapatan KAP. Supriyono
(1998). Menurut penelitian K. Dwiyani Pratistha, Ni Luh Sari Widhiyan (2014) menyatakan
bahwa bedaran Fee audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:
Ha4

2.4.5

: Fee Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

Obyektifitas

Objektivitas merupakan suatu keyakinan, kualitas yang memberikan nilai bagi jasa atau
pelayanan auditor (Arens dan Loebbecke, 2003 dalam Ibrani, 2007). Objektivitas menetapkan
suatu kewajiban bagi auditor untuk tidak memihak, jujur secara intelektual dan bebas dari
konflik kepentingan. Walaupun prinsip ini tidak dapat diukur secara pasti, namun prinsip
obyektivitas merupakan suatu keharusan, artinya bahwa setiap anggota profesi wajib
melaksanakan dan mengusahakannya.
Beberapa penelitian juga telah dilakukan untuk menilai pengaruh antara obyektifitas dengan
kualitas audit. Seperti dalam penelitian Komang Gunayanti Ariani, I Dewa Nyoman Badera,
yang menyatakan adanya hubungan positif dan signifikan antara obyektifitas dengan Kualitas
Audit.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:
Ha5

: Obyektifitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

15

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


3.1.1 Purpose Of The Study
Penelitian ini mengumpulkan data untuk mendeskripsikan karakteristik dari seorang auditor
untuk megetahui tingkat kualitas audit dari segala kejadian dan situasi.
3.1.2 Unit Analysis
Peneliti ingin mengetahui seberapa tinggi kualitas audit yang dilakukan oleh seorang auditor.
Dengan demikian unit analisis yang kami gunakan pada penelitian ini adalah Individual
analisis. Data akan diperoleh dari tiap auditor di Kantor Akuntan Publik.
3.1.3 Time Horizon
Responden pada penelitian ini adalah para auditor di Kantor Akuntan Publik. Time horizon
pada penelitian ini adalah cross sectional yaitu meneliti pada satu waktu dengan banyak
objek.
3.2 Variabel dan Pengukurannya
Variabel dalam penelitian ini menggunakan dua jenis variabel yaitu variabel dependen dan
variabel independen. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi, akibat dari adanya
variabel bebas. Dikatakan sebagai variabel terkait karena variabel terikat dipengaruhi oleh
variabel independen (variabel bebas). Variabel Independen (Variabel Bebas) adalah variabel
yang mempengaruhi atau sebab perubahan timbulnya variabel terikat (dependen). Dapat
dikatakan variabel bebas karena dapat mempengaruhi variabel lainnya.
Penelitian ini menguji variabel independen, yaitu independensi, pengalaman, pendidikan, fee
audit dan obyektivitas terhadap variabel dependen yaitu kualitas audit.
Cara mengukur variabelvariabel dengan merumuskan secara singkat dan jelas, serta tidak
menimbulkan berbagai tafsiran. Pertanyaan dalam kuesioner untuk masing-masing variabel
dalam penelitian diukur dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert adalah suatu skala
16

psikometrik yang umum digunakan dalam angket dan merupakan skala yang paling banyak
digunakan dalam riset berupa survei. Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert,
responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan
memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan
format seperti ini 1. sangat tidak setuju, 2. tidak setuju, 3. kurang setuju, 4. setuju, 5. sangat
setuju. Semua pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabelvariabel dalam
penelitian ini dapat dilihat dalam lampiran kuesioner.
3.3 Metode Penentuan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja pada Kantor
Akuntan Publik (KAP) di Jakarta.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non-Probability
sampling berupa Convenience sampling. Penggunaan teknik probability sampling simple
random sampling dilakukan karena setiap unsur dalam populasi (auditor KAP di Jakarta)
mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode survey dan wawancara yang berupa pertanyaan tertulis (kuesioner). Kuesioner
dibagikan kepada KAP di wilayah Jakarta. Petunjuk pengisian kuesioner dibuat sederhana
dan sejelas mungkin untuk memudahkan pengisian jawaban. Kuesioner berasal dari
penelitian terdahulu dengan sedikit pengembangan. Kuesioner didesain terdiri dari dari dua
bagian. Bagian pertama berisi deskripsi responden, yaitu data demografi responden. Bagian
kedua berisi sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan independensi, pengalaman,
pendidikan, fee audit dan obyektivitas auditor. Pertanyaan kuesioner merupakan pertanyaan
tertutup. Masing masing kuesioner disertai surat permohonan untuk mengisi kuesioner yang
ditunjukkan kepada responden. Surat permohonan tersebut berisi identitas peneliti, maksud
penelitian, dan jaminan akan kerahasiaan data penelitian.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis Regresi Berganda

17

Digunakan untuk menunjukan arah hubungan antara satu variable dependen(non-metrik)


dengan beberapa independen (metrik). Dengan variable independen yaitu Independensi
Pengalaman, pendidikan, fee dan obyektifitas. Dan variabel dependen yaitu kualitas
audit.
Uji yang dilakukan adalah:
Uji asumsi Klasik
I.
Uji MULTIKOLINEARITAS
Yaitu untuk menguji apakah model regresi ditemukan korelasi antara variabel
II.

bebas (Independen).
UJI AUTOKORELASI
Yaitu untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi
antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-

III.

1 (sebelumnya).
UJI HETEROSKEDASTISITAS
Yaitu untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan

variance dari satu pengamatan ke pengamatan lain.


Uji Normalitas
Yaitu untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas
keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang digunakan adalah:
Y = a + b1 X1 + b2 X2+ b3 X3 + b4 X4+ b5 X5 +e
a

= Konstanta

= Variabel Dependen ( Kualitas Audit)

X1

= Variabel Independen (Variabel Independensi)

X2

= Variabel Independen (Variabel Pengalaman)

X3

= Variabel Independen (Variabel Pendidikan)

X4

= Variabel Independen (Variabel Fee Audit)

X5

= Variabel Independen (Variabel Obyektifitas)

18

= Error

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

19

Descriptive Statistics
N

Minimum

Maximum

Statistic

Statistic

Statistic

Mean
Statistic

Std. Deviation

Variance

Statistic

Statistic

Std. Error

Independensi

16

14.00

41.00

30.6875

1.41927

5.67707

32.229

Pengalaman

16

32.00

40.00

34.3125

.70545

2.82179

7.963

Kompetensi

16

32.00

45.00

35.5000

.83166

3.32666

11.067

Fee Audit

16

9.00

23.00

13.6250

.72385

2.89540

8.383

Obyektifitas

16

28.00

39.00

32.5000

.65828

2.63312

6.933

Kualitas Audit

16

29.00

49.00

37.5000

1.73686

6.94742

48.267

Valid N (listwise)

16

4.1 Statistik Descriptif

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa dari hasil statistic deskriptif Independensi memiliki
nilai rata-rata 30.6875. Hal ini menunjukan secara umum responden cenderung memiliki respon
yang baik terhadap Kualitas Audit.Sedangkan masing-masing pertanyaan
4.2 Uji Kualitas Data
a. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan cara mencari korelasi dari setiap indicator terhadap skor
totalnya dengan menggunakan teknikpearson product moment correlation.
-

Jika p-value (0.05), maka dikatakan valid.


Jika p-value (0.05), maka dikatakan tidak valid.
Hasil pengujian validitas yang dilakukan dengan teknik product moment correlation

pada tabel tersebut sebagai berikut:

Uji Validitas Korelasi Pearson


20

Variabel
Independensi
Pengalaman
Kompetensi
Fee Audit
Obyektifitas
Kualitas Audit

Pearson
Correlation
0,633 - 0,875
0,428 0,832
0,538 0,805
0,781 0,883
0,486 0,830
0,470 0,928

P-Value
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000

Keputusan
valid
valid
valid
valid
valid
valid

b. Uji Reliabilitas
Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach,s Alpha
diatas 0,6. Pengujian dilakukan dengan melakukan perhitungan per variabel menggunakan
pernyataan yang terdapat didalam kuesioner. Dari pengujian yang dilakukan, diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel
Uji Reliabilitas
Independensi Auditor
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items
.890

Berdasarkan tabel diatas, hasil pengujian variabel independensi auditor diperoleh nilai
Cronbachs Alpha sebesar 0,879. Nilai tersebut lebih besar dari 0,60 (0,879> 0,60) maka dapat
disimpulkan bahwa jawaban responden terhadap pernyataan variabel independensi auditor
dikatakan reliabel.

Tabel
Uji Reliabilitas
21

Pengalaman Auditor
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.817

Berdasarkan tabel diatas, hasil pengujian pengalamanauditor diperoleh nilai Cronbachs


Alpha sebesar 0,817. Nilai tersebut lebih besar dari 0,60 (0,817> 0,60) maka dapat disimpulkan
bahwa jawaban responden terhadap pernyataan variabel pengalaman auditor dikatakan reliabel
Tabel
Uji Reliabilitas
Kompetensi Auditor
Reliability Statistics
Cronbach's
Berdasarkan tabel diatas, Alpha
auditor

diperoleh

nilai .857

N of Items

hasil

pengujian

kompetensi

Cronbachs Alpha sebesar 0,857.

Nilai tersebut lebih besar dari 0,60 (0,857> 0,60) maka dapat disimpulkan bahwa jawaban
responden terhadap pernyataan variabel kompetensi auditor dikatakan reliabel

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items
.853

Berdasarkan tabel diatas, hasil pengujian fee audit diperoleh nilai Cronbachs Alpha
sebesar 0,787. Nilai tersebut lebih besar dari 0,60 (0,787> 0,60) maka dapat disimpulkan bahwa
jawaban responden terhadap pernyataan variabel fee audit dikatakan reliabel

Tabel
22

Uji Reliabilitas
obyektifitas
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.828

Berdasarkan tabel diatas, hasil pengujian obyektifitas diperoleh nilai Cronbachs Alpha
sebesar 0,828. Nilai tersebut lebih besar dari 0,60 (0,828> 0,60) maka dapat disimpulkan bahwa
jawaban responden terhadap pernyataan variabel obyektifitas dikatakan reliabel

Tabel
Uji Reliabilitas
Kualitas audit
Reliability Statistics
Cronbach's
Berdasarkan tabel diatas,
diperoleh nilai Cronbachs Alpha

Alpha

N of Items

.918

10

hasil pengujian kualitas audit


sebesar 0,828. Nilai tersebut

lebih besar dari 0,60 (0,828> 0,60) maka dapat disimpulkan bahwa jawaban responden terhadap
pernyataan variabel kualitas audit dikatakan reliabel
Hal ini berarti bahwa item pernyataan yang digunakan akan mampu memperoleh data
yang konsisten dan jika pernyataan tersebut diajukan lagi akan diperoleh jawaban yang relatif
sama dengan jawaban yang pertama. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua pernyataan dalam
setiap variabel adalah reliabel.
4.3 Pengujian Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas data
Berdasarkan hasil pengujian terhadap data yang diperoleh, maka didapatkan hasil sebagai
berikut:

23

Berdasarkan tampilan grafik normal P-Plot dapat disimpulkan bahwa terlihat titik-titik
menyebar disekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Dengan
demikian, dapat disimpulkan grafik normal plot menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai
karena asumsi normalitas.

Untuk memperkuat uji sebaran data yang berdasarkan gambar grafik normal p-plot maka
dilakukan uji normalitas residual dengan uji one- sample kolmogorov-smirnov test, hasi uji
normalitas model regresi memiliki signifikansi sebesar 0.779 > 0.05, maka H 0 diterima yang
berarti model regresi yang digunakan mempunyai standar error yang normal.

24

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Total_KA
N

16

Normal Parametersa

Most Extreme Differences

Mean

37.5000

Std. Deviation

6.94742

Absolute

.165

Positive

.165

Negative

-.164

Kolmogorov-Smirnov Z

.658

Asymp. Sig. (2-tailed)

.779

a. Test distribution is Normal.

b. Uji Multikolinieritas
Berdasarkan hasil pengujian terhadap data yang diperoleh, maka didapatkan hasil sebagai
berikut:
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Coefficients

Std. Error

Beta

-5.678

26.587

Total_I

-.210

.455

Total_P

.265

Total_K

Collinearity Statistics
t

Sig.

Tolerance

VIF

-.214

.835

-.172

-.462

.654

.512

1.952

.839

.107

.315

.759

.611

1.637

.447

.965

.214

.463

.653

.332

3.014

Total_FA

.903

.701

.376

1.288

.227

.831

1.204

Total_O

.381

1.608

.144

.237

.817

.191

5.237

a. Dependent Variable: Total_KA

Berdasarkan tabel, masing-masing variabel memiliki VIF tidak lebih dari 10 dan nilai
Tolerance tidak kurang dari 0,1. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa model regresi linier
berganda terbebas dari asumsi klasik statistik dan dapat digunakan dalam penelitian

25

c. Uji Heteroskesdastisitas
Berdasarkan hasil pengujian terhadap data yang diperoleh, maka didapatkan hasil sebagai
berikut:

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

Std. Error

(Constant)

1.435

5.942

Total_I

-.029

.102

Total_P

-.222

Total_K

Coefficients
Beta

Sig.
.242

.814

-.111

-.285

.782

.187

-.421

-1.182

.265

-.011

.216

-.025

-.052

.959

Total_FA

-.095

.157

-.186

-.608

.557

Total_O

.328

.359

.581

.913

.383

a. Dependent Variable: ABRESID2

Menunjukkan bahwa varians dari setiap error bersift heterogen yang berarti melanggar
asumsi klasik yang mensyaratkan bahwa varians dari error harus bersifat homogen.
Hasil dari heteroskedastisitas diketahui bahwa:
Sig dari t untuk Independensi = 0.782 > 0.05 , tidak terdapat heteroskedastisitas.
Sig dari t untuk Pengalaman = 0.265 > 0.05 , tidak terdapat heteroskedastisitas.
Sig dari t untuk Kompetensi = 0.959 > 0.05 , tidak terdapat heteroskedastisitas.
Sig dari t untuk Fee Audit = 0.557 > 0.05 , tidak terdapat heteroskedastisitas.
Sig dari t untuk Objektifitas = 0.383 > 0.05 , tidak terdapat heteroskedastisitas.
Jadi dari kelima variabel independen yang digunakan, semua variabel tidak
mengandung heteroskedastisitas, sehingga asumsi heteroskedastisitas terpenuhi.
d. Uji Autokorelasi
Berdasarkan hasil uji autokorelasi model regresi diketahui bahwa model yang diteliti
mempunyai jumlah observasi sebesar 16, dengan jumlah variabel bebas sebesar 5. Nilai batas
bawah (dl) yang diperoleh berdasarkan jumlah observasi dan jumlah variabel bebas adalah
26

sebesar 0.437, dengan batas atas (du) sebesar 1.901. Hasil uji durbin watson statistik yang
diperoleh dari pengujian adalah sebesar 1.678, berada di area d L< dW< dU, atau berada di area
inconclusive.
Ada
Auto
Positif

Inconclu
sive

Tidak ada
autokorela
si

dl

du

0.437

1.901

Tidak ada
autokorelasi
2

InconClus Ada auto


ive
Negatif

4-du

4-dl

2.099

3.563

4.4 Pegujian Hipotesis


Setelah dilakukan pengujian reabilitas dan vailiditas data, data dalam penelitian ini
kemudian diolah dengan menggunakan analisis regresi. Analisis regresi ini dilakukan untuk
mencari hubungan yang signifikan hubungan variabel-variabel dalam penelitian ini serta mencari
seberapa besar hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.
a) Goodness of fit model (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada dasarnya digunakan untuk mengukur seberapa besar
kemampuan model dalam menerangkan variasi-variabel dependen. Nilai koefisien determinasi
adalah diantara nol dan satu. Nilai R2 yang kencil berarti kemampuan variabel variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati
satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir seluruh informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Berdasarkan hasil pengujian model regresi di dapat nilai adjusted R 2 adalah 0.281
Artinya seluruh variabel independen yang terdiri dari independensi, pengelaman, fee audit,
kompetensi dan obyektifitas mampu menjelaskan variasi variabel dependen yaitu kualitas audit
sebesar 28.1 % sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutserkatan
dalam pengujian.

27

Model Summaryb

Model

R Square

.722a

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

.521

.281

Durbin-Watson

3.02263

1.678

a. Predictors: (Constant), Total_O, Total_FA, Total_P, Total_I, Total_K


b. Dependent Variable: ABRESID

b) Uji Statistik F test


Uji statistik F atau ANOVA pada dasarnya untuk menguji apakah semua variabel
independen atau bebas yang dimasukan dalam model dapat berpengaruh secara bersama sama
atau tidak terhadap variabel dependen. Dengan membandingkan F hitung dengan F dengan
tingkat kepercayaan 5%.
H0

: Variabel independensi, pengelaman, fee audit, kompetensi dan obyektifitas tidak

bepengaruh terhadap kualitas audit


Ha

: Variabel independensi, pengelaman, fee audit, kompetensi dan obyektifitas

bepengaruh terhadap kualitas audit

ANOVAb
Model

Sum of Squares

df

Mean Square

Regression

210.608

42.122

Residual

513.392

10

51.339

Total

724.000

15

Sig.
.820

.562a

a. Predictors: (Constant), Total_O, Total_FA, Total_P, Total_I, Total_K


b. Dependent Variable: Total_KA

Berdasarkan bahwa hasil uji F model regresi diketahui bahwa f sebesar 0.82 dengan nilai
signifikansi sebesar 0.562 > 0.05, maka H 0 diterima yang berarti variabel Independensi,
Pengalama Kerja, Kompetensi, Fee Audit, dan obektifitas secara simultan tidak ada pengaruh
atau tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
28

c) Uji t
Uji t digunakan untuk megetahui pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap
variabel terkait Independensi, Pengalaman Kerja, Kompetensi, Fee Audit dan Obyektifitas
terhadap kualitas audit.

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

Coefficients

Std. Error

Beta

(Constant)

6.445

2.358

Total_I

-.084

.040

Total_P

-.215

Total_K

Collinearity Statistics
t

Sig.

Tolerance

VIF

2.733

.021

-.621

-2.072

.065

.512

1.952

.074

-.793

-2.889

.016

.611

1.637

-.021

.086

-.092

-.247

.810

.332

3.014

Total_FA

.040

.062

.152

.644

.534

.831

1.204

Total_O

.146

.143

.501

1.021

.332

.191

5.237

a. Dependent Variable: abresid_3

Variabel

Expected

Independence

Sign

Kualitas Audit
Koefisien

Konstanta

Sig. (1-Tailed)

Keputusan

6.445

0.0105

Independensi

(negatif)

-.084

0.0325

H01 ditolak

Pengalaman

(negatif)

-.215

0.008

H02 ditolak

Kompetensi

(negatif)

-.021

0.405

H03 diterima

Fee Audit

(Positif)

.040

0.267

H04 diterima

Obyektifitas

(Positif)

.146

0.166

H05 diterima

Berdasarkan hasil uji regresi berganda dapat diketahui bahwa nilai koefisien variabel konstanta
adalah sebesa 6.445, hal ini dapat diartikan jika semua variabel bebas bernilai teteap atau
29

konstan, maka kualitas audit sebesar 6.445. nilai signifikansi variabel konstanta yang diperoleh
dari hasil uji t adalah sebesar 0.021 lebih kecil dari 0.05, maka konstanta signifikan berpengaruh
terhadap kualitas audit.
Hipotesis 1
H01

: Independensi tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit

Ha1

: Independensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.


Independensi auditor mempunyai koefisien regresi negative sebesar 0.084 terhadap

kualitas audit. Hal ini dapat diartikan jika independensi auditor meningkat sebesar satu satuan
maka kualitas audit akan menurun sebesar 0.084. Nilai signifikansi yang didapat dari uji t adalah
sebesar 0.0325 < 0.05, maka H01 ditolak yang berarti independensi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kualitas audit.
Hipotesis 2
H02

: Pengalaman tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit

Ha2

: Pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.


Pengalaman auditor mempunyai koefisien regresi negative sebesar 0.215 terhadap

kualitas audit. Hal ini dapat diartikan jika Pengalaman auditor meningkat sebesar satu satuan
maka kualitas audit akan menurun sebesar 0.215. Nilai signifikansi yang didapat dari uji t adalah
sebesar

0.008 < 0.05, maka H02 ditolak yang berarti Pengalaman berpengaruh positif dan

signifikan terhadap kualitas audit.


Hipotesis 3
H03

: Kompetensi tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit

Ha3

: Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.


Kompetensi auditor mempunyai koefisien regresi negative sebesar 0.021 terhadap

kualitas audit. Hal ini dapat diartikan jika Kompetensi auditor meningkat sebesar satu satuan
maka kualitas audit akan menurun sebesar 0.021. Nilai signifikansi yang didapat dari uji t adalah
sebesar 0.405 > 0.05, maka H03 gagal ditolak yang berarti Kompetensi tidak berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kualitas audit.

30

Hipotesis 4
H04

: Fee Audit tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit

Ha4

: Fee Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.


Fee Audit auditor mempunyai koefisien regresi negative sebesar 0.040 terhadap kualitas

audit. Hal ini dapat diartikan jika Fee Audit auditor meningkat sebesar satu satuan maka kualitas
audit akan menurun sebesar 0.040. Nilai signifikansi yang didapat dari uji t adalah sebesar 0.267
> 0.05, maka H04 gagal ditolak yang berarti Fee Audit tidak berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kualitas audit.
Hipotesis 5
H05

: Obyektifitas tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit

Ha5

: Obyektifitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.


Obyektifitas auditor mempunyai koefisien regresi negative sebesar 0.146 terhadap

kualitas audit. Hal ini dapat diartikan jika Obyektifitas auditor meningkat sebesar satu satuan
maka kualitas audit akan menurun sebesar 0.146. Nilai signifikansi yang didapat dari uji t adalah
sebesar 0.166 > 0.05, maka H05 gagal ditolak yang berarti Obyektifitas tidak berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kualitas audit.
5.5 Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil hipotesis pertama yaitu independensi, nilai signifikansi 0.0325 < 0.05 dan koefisien regresi
0.084 yang berarti independensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Hasil
penelitian ini mempunyai persamaan dengan penelitian sebelumnya Ni Putu Piorina Fortuna
Sari, I Wayan Ramantha (2015), mempunyai hasil bahwa independensi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kualitas audit.
Hasil hipotesis kedua yaitu pengalaman, nilai signifikansi 0.008 < 0.05 dan koefisien regresi
0.215 yang berarti pengalaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Hasil
penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya Putu Septiani Futri, Gede Juliarsa (2014),
mempunyai hasil bahwa pengalaman tidak berpengaruh dan signifikan terhadap kualitas audit.
31

Hasil hipotesis ketiga yaitu kompetensi, nilai signifikansi 0.405 > 0.05 dan koefisien regresi
0.021 yang berarti kompetensi tidak berpengaruh dan signifikan terhadap kualitas audit. Hasil
penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya Ni Putu Piorina Fortuna Sari, I Wayan
Ramantha (2015), mempunyai hasil bahwa kompetensi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kualitas audit.
Hasil hipotesis keempat yaitu Fee Audit, nilai signifikansi 0.267 > 0.05 dan koefisien regresi
0.040 yang berarti Fee Audit tidak berpengaruh dan signifikan terhadap kualitas audit. Hasil
penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya K. Dwiyani Pratistha, Ni Luh Sari
Widhiyan (2014), mempunyai hasil bahwa Fee Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kualitas audit.

Hasil hipotesis kelima yaitu Obyektifitas, nilai signifikansi 0.166 > 0.05 dan koefisien regresi
0.146 yang berarti Obyektifitas tidak berpengaruh dan signifikan terhadap kualitas audit. Hasil
penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya Komang Gunayanti Ariani, I Dewa Nyoman
Badera (2015), mempunyai hasil bahwa Obyektifitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kualitas audit.

BAB V
32

SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI


5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Independensi, Pengalaman,
Kompetensi,Fee Audit, dan Obyektifitas terhadap Kualitas Audit. Responden yang diambil
dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik Jakarta. Kesimpulan
dari hasil penelitian adalah sebagai berikut :
1.

Hasil uji hipotesis 1 menunjukan bahwa independensi berpengaruh terhadap kualitas

2.

audit, dengan nilai signifikansi 0.0325 < 0.05 dan koefisien regresi 0.084.
Hasil uji hipotesis 2 menunjukan bahwa pengalaman berpengaruh terhadap kualitas

3.

audit, dengan nilai signifikansi 0.008 < 0.05 dan koefisien regresi 0.215.
Hasil uji hipotesis 3 menunjukan bahwa kompetensi tidak berpengaruh terhadap

4.

kualitas audit, dengan nilai signifikansi 0.405 > 0.05 dan koefisien regresi 0.021.
Hasil uji hipotesis 4 menunjukan bahwa fee audit berpengaruh terhadap kualitas

5.

audit, dengan nilai signifikansi 0.267 > 0.05 dan koefisien regresi 0.040.
Hasil uji hipotesis 5 menunjukan bahwa obyektifitas berpengaruh terhadap kualitas
audit, dengan nilai signifikansi 0.166 > 0.05 dan koefisien regresi 0.146.

5.2

Keterbatasan
Terdapat beberapa hal keterbatasan atas penelitian ini yang membatasi kesempurnaannya.

Adapun keterbatasan tersebut, yaitu :


1. Penelitian ini hanya menguji 5 variabel independen (bebas) yaitu independensi,
pengalaman, kompetensi, fee audit, dan obyektifitas, sedangkan variabel dependen
(terikat) dalam penelitian ini adalah kualitas audit.
2. Dalam pengujian Auto Korelasi, Hasil uji durbin watson statistik yang diperoleh
berada di area inconclusive.
3. Adanya keterbatasan waktu penelitian yang disediakan, mengingat peneliti harus
memperhitungkan waktu yang akan ditempuh dalam penyelesaian dan penelitian
metodologi penelitian.
4. Banyaknya responden yang menolak mengisi kuesioner dalam penelitian ini
dikarenakan penyebaran kuesioner dilakukan pada bulan-bulan sibuk auditor.

33

5. Responden terbesar ada di tingkatan junior, pertimbangan audit sebenarnya lebih


akurat bila diisi oleh tingkatan senior, atau manajer.

5.3

Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat implikasi sebagai berikut :
1. Bagi auditor adalah dalam menjalankan tugas, seorang auditor harus mempunyai
sikap yang sesuai dengan etika profesi yang sudah ditetapkan oleh organisasi profesi,
sehingga tidak bertindak menurut keinginan pribadi. Auditor perlu meningkatkan
pengetahuan tambahan yang dapat mendukung pertimbangan auditor dalam
menentukan hasil pemeriksaan suatu laporan keuangan perusahaan.
2. Bagi peneliti selanjutnya adalah disarankan dapat memperluas ruang lingkup obyek
penelitian untuk memungkinkan adanya perbedaan hasil, pembahasan ataupun
kesimpulan untuk obyek penelitian yang berbeda. Serta menambahkan variabel lain
yang diduga mempengaruhi kualitas audit, seperti etika auditor.

34