Anda di halaman 1dari 8

Hai anak bangsa Indonesia, sudahkah kalian mengenali budaya dari daerah sendiri?

Sebelum
mengenali budaya dari negara lain, kenalilah dahulu kebudayaan indonesia. Baiklah, berikut ini
adalah budaya dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam :

1.RUMAH ADAT
Rumah adat Aceh dinamakan Rumoh Aceh. Rumah adat Aceh dibuat dari kayu meranti dan berbentuk
panggung. Mempunyai 3 serambi yaitu Seuramoe Keu (serambi depan), Seuramoe Inong (serambi
tengah) dan Seuramoe Likot (serambi belakang). Selain itu ada pula rumah adat berupa lumbung padi
yang dinamakan Krong Pade atau Berandang.

2. PAKAIAN ADAT
Pakaian adat yang dikenakan pria Aceh adalah baju jas dengan leher tertutup (jas tutup), celana

panjang yang disebut cekak musang dan kain sarung yang disebut pendua. Kopiah yang dipakainnya
disebut makutup dan sebilah rencong terselip di depan perut.
Wanitanya memakai baju sampai kepinggul, celana panjang cekak musang serta kain sarung sampai
lutut. Perhiasan yang dipakai berupa kalung yang disebut kula, pending atau ikat pinggang, gelang
tangan dan gelang kaki. Pakaian ini dipergunakan untuk keperluan upacara pernikahan.
3. Tari-tarian Aceh
a. Tari Seudati, berasal dari arab dengan latar belakang agama islam. Sebuah tarian dinamis penuh
keseimbangan dengan suasana keagamaan. Tarian ini sangat disenangi dan terkenal di Aceh.
b. Tarian Saman Meuseukat, dilakukan dalam posisi duduk berbanjar dengan ajaran kebajikan,
terutama ajaran agama islam.
c. Tarian Pukat, adalah tarian yang melambangkan kehidupan para nelayan dari pembuatan pukat
hingga mencari ikan.
d. Tari Rebana, merupakan tari kreasi yang menekankan pada keterampilan memainkan alat musik
"rebana" dalam mengiringi gerak-gerak lincah khas Aceh. Tari ini biasa ditampilkan dihadapan tamutamu agung.

(Tari Saman, salah satu tarian Aceh)


Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki Seni tari tradisional yang menarik dan
populer,hal ini menunjukkan kreativitas anak bangsa di aceh, meskipun jauh dari ibu kota dan
merupakan salah satu wilayah paling ujung yang berbatasan langsung dengan Negara lain. Aaceh atau
dikenal dengan sebutan Nangro Aceh Darusalam, memilki kultur dan seninya yang khas, sehingga hal
ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang menjadi nilai wisata di aceh. Tarian di aceh ini dapat
disajikan sebagai sebuah paket wisata, sebab disini tersedia SDM yang kreatif yang benar-benar
memahami dan menggemari kesenian Aceh yang ada. Selain itu juga didukung oleh pemain-pemain
seni tari yang penuh didikasi mau belajar dengan sungguh-sungguh untuk keperluan penyajian paket
wisata budaya. Dari berbagai budaya yang ada di aceh, seni tari merupakan salah satu budaya yang
sangat populer dari wilayah ini yang mampu mewakili eksisteni seni di nusantara, tidak hanya itu, seni
tari dari aceh sering kali dipertunjukkan di berbagai wilayah mancanegara. Seni budaya dimiliki ini
menjadi paket-paket yang sangat menarik karena memperlihatkan ke khasannya tersendiri, proses
pengolahannya menuntut kemampuan estetika dan pandangan kedepan yang sesuai dengan landasan

ideal masyarakat dan tidak meyimpang dari ciri-ciri kepribadian masyarakat aceh yang islami dan
tidak menyimpan dari spirit keislaman dan ini terlihat jelas dalam berbagai tarian, baik sedati

saman, debus, ranup lampuan dan taraian tradisional lainnya. Adapaun Seni Tari dari Aceh
antara lain sebagai berikut Tari Saman Tari Saman diciptakan dan dikembangkan oleh
seorang tokoh islam bernama Syeh Saman ,beliau menciptakan syairnya dengan
menggunakan bahasa arab dan bahasa aceh dengan iringan gerakan gerakan tangan dan
syair yang dilagukan membuat seuasana menjadi gembira, gerakan tepukan dada,tepukan
diatas lutut, mengangkat tangan secara bergantian dengan gerakan dan kecepatan yang
serasi menjadi ceri khasnya.
4. Senjata Tradisional
Senjata tradisional yang dipakai oleh penduduk Aceh adalah rencong. Wilahan rencong terbuat dari
besi dan biasanya bertuliskan ayat-ayat Al Quran. Selain rencong, rakyat Aceh mempergunakan pula
pedang dengan nama pedang daun tebu, pedang oom ngom dan reudeuh. Pedang daun tebu dipakai
oleh pamglima perang dan reudeuh oleh para prajurit.
5. Suku
Suku dan marga yang terdapat di Aceh antara lain : Aceh, Alas, Tamiang, Gayo, Ulu Singkil, Simelu,
Jamee, Kluet, dan lain-lain.
6. Bahasa Daerah : Aceh, Alas, Gayo, dan lain-lain.
7. Lagu Daerah : Bungong Jeumpa, Piso Surit.
Keragaman Bahasa di Nanggroe Aceh Darussalam
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki beberapa bahasa daerah :
1.Bahasa Aceh pemakainya 70 %
2.Bahasa Gayo
3.Bahasa Alas
4.Bahasa Tamiang
5.Bahasa Aneuk Jamee
6.Bahasa Kluet
7.Bahasa Singkil
8.Bahasa Haloban
9.Bahasa Simeulue
Bahasa Aceh.
Diantara bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan bahasa
daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 % dari total penduduk provinsi
NAD (Daud, 1997:10, Daud and Durie, 1999:1). Penutur bahasa Aceh tersebar di wilayah pantai Timur
dan Barat provinsi NAD. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami Kabupaten Aceh
Besar, Kota Madya Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Jeumpa, Kabupaten Aceh Utara,
Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Barat dan Kota Madya Sabang. Penutur bahasa Aceh juga
terdapat di beberapa wilayah dalam Kabupaten Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blang

Pidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Bahkan di Kabupaten Aceh
Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil masyarakatnya yang
berbahasa Aceh. Selain itu, di luar provinsi NAD, yaitu di daerah-daerah perantauan, masih ada juga
kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu
mereka. Hal ini dapat kita jumpai pada komunitas masyarakat Aceh di Medan, Jakarta, Kedah dan
Kuala Lumpur di Malaysia serta Sydney di Australia (Daud, 1997:30).
Bahasa Gayo.
Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu kuno, meskipun
kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo
merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Aceh yang mendiami Kabupaten Aceh Tengah, sebahagian
kecil wilayah Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop di kabupaten Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang di
luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan merdu dari syair-syair
kesenian didong.
Bahasa Alas.
Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Karo di
Sumatera Utara. Masyarakat yang mendiami Kabupaten Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki
gunung Leuser, dan penduduk di sekitar hulu sungai Singkil di Kabupaten Singkil, merupakan
masyarakat penutur asli dari bahasa Alas. Penduduk Kabupaten Aceh Tenggara yang menggunakan
bahasa ini adalah mereka yang berdomisili di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Lawe Sigala-gala,
Lawe Alas, Bambel, Babussalam, dan Bandar (Abdullah, dkk, 1987:2).
Bahasa Tamiang.
Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng) merupakan variant atau dialek
bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang (dulu wilayah Kabupaten
Aceh Timur), kecuali di Kecamatan Manyak Payed ( yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan Kota
Kuala Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan bahasa
Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam bahasa Tamiang.
Bahasa Aneuk Jamee.
Bahasa ini sering juga disebut (terutama oleh penutur bahasa Aceh) dengan bahasa Jamee atau
bahasa Baiko. Di Kabupaten Aceh Selatan bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang
mendiami wilayah-wilayah Susoh, Labuhan Haji, Samadua, Tapaktuan, dan Kluet Selatan. Di luar
wilayah Aceh Selatan, menurut Wildan (2002:2), bahasa ini juga digunakan oleh kelompok-kelompok
kecil masyarakat di Kabupaten Singkil dan Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Kaway 16 (Desa
Peunaga Rayek, Rantau Panyang, Meureubo, Pasi Meugat, dan Ranto Kleng), serta di Kecamatan
Johan Pahlawan (khususnya di desa Padang Seurahet). Bahasa Aneuk Jamee adalah bahasa yang lahir
dari assimilasi bahasa sekelompok masyarakat Minang yang datang ke wilayah pantai barat Aceh
dengan bahasa daerah masyarakat tempatan, yakni bahasa Aceh. Nama Aneuk Jamee (yang secara
harfiah bermakna anak tamu, thus bangsa pendatang) yang dinisbahkan pada bahasa ini adalah
refleksi yang tersirat dari makna masyarakat pendatang itu sendiri. Bahasa ini dapat disebut sebagai
variant dari bahasa Minang.

Bahasa Kluet.
Bahasa Kluet merupakan bahasa ibu bagi masyarakat yang mendiami daerah Kecamatan Kluet Utara
dan Kluet Selatan di kabupaten Aceh Selatan. Informasi tentang bahasa Kluet, terutama kajian-kajian
yang bersifat akademik, masih sangat terbatas. Masyarakat Aceh secara luas, terkecuali penutur
bahasa Kluet sendiri, tidak banyak mengetahui tentang seluk-beluk bahasa ini. Barangkali masyarakat
penutur bahasa Kluet dapat mengambil semangat dari PKA-4 ini untuk mulai menuliskan sesuatu
dalam bahasa daerah Kluet, sehingga suatu saat nanti masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan
buku-buku dalam bahasa Kluet baik dalam bentuk buku pelajaran bahasa, cerita-cerita pendek, dan
bahkan puisi.
Bahasa Singkil.
Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa Singkil, terutama sekali dalam bentuk
penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di
Kabupaten Singkil. Saya katakana sebagian, karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat di
Kabupaten Singkil yang menggunakan bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, ada yang menggunakan
bahasa Minang, dan ada juga yang menggunakan bahasa Dairi (atau disebut juga bahasa Pakpak)
khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di wilayah Subulussalam. Selain itu masyarakat
Singkil yang mendiami Kepulauan Banyak, mereka menggunakan bahasa Haloban. Jadi sekurangkurangnya ada enam bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa komunisasi sehari-hari diantara
sesama anggota masyarakat Singkil selain bahasa Indonesia. Dari sudut pandang ilmu linguistics,
masyarakat Singkil adalah satu-satunya kelompok masyarkat di provinsi NAD yang paling pluralistik
dalam hal penggunaan bahasa.
Bahasa Haloban
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahasa Haloban adalah salah satu bahasa daerah Aceh
yang digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan
Banyak, terutama sekali di Pulau Tuanku (Wildan, 2002:2). Bahasa ini kedengarannya sangat mirip
dengan bahasa Devayan yang digunakan oleh masyarakat di pulau Simeulue. Jumlah penutur bahasa
Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta pelestarian tidak
segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat nanti bahasa ini hanya tinggal dalam catatan-catatan
kenangan para peneliti bahasa daerah.
Bahasa Simeulue.
Bahasa Simeulue adalah salah satu bahasa daerah Acehyang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat
di pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya sekitar 60.000 orang. Dalam penelitian Morfologi
Nomina Bahasa Simeulue, Asyik & Daud, dkk (2000:1) menemukan bahwa kesamaan nama pulau dan
bahasa ini telah menimbulkan salah pengertian bagi kebanyakan masyarakat Aceh di luar pulau
Simeulue: mereka menganggap bahwa di pulau Simeulue hanya terdapat satu bahasa daerah, yakni
bahasa Simeulue. Padahal di Kabupaten Simeulue kita jumpai tiga bahasa daerah, yaitu bahasa
Simeulue, bahasa Sigulai (atau disebut juga bahasa Lamamek), dan bahasa Devayan. Ada perbedaan
pendapat di kalangan para peneliti bahasa tentang jumlah bahasa di pulau Simeulue. Wildan (2000:2)
misalnya, mengatakan bahwa di pulau Simeulue hanya ada satu bahasa, yaitu bahasa Simeulue. Akan

tetapi bahasa ini memiliki dua dialek, yaitu dialek Devayan yang digunakan di wilayah Kecamatan
Simeulue Timur, Simeulue Tengah dan di Kecamatan Tepah Selatan, serta dialek Sigulai yang
digunakan oleh masyarakat di wilayah Kecataman Simeulue Barat dan Kecamatan Salang. Dari
beberapa anggota masyarakat pulau simeulue yang kami hubungi, kami peroleh informasi bahwa
ketiga bahasa yang ada di pulau tersebut merupakan bahasa yang berbeda dan terpisah.
Permainan tradisional merupakan sejumlah lakon sehari-hari dalam masyarakat yang kemudian
disejajarkan menjadi sebuah keriangan. Ia lalu dijadikan sebagai sebuah permainan yang hidup dan
berkembangan dalam masyarakat secara regenerasi. Seluruh daerah di permukaan bumi ini memiliki
permainan tradisional. Namun, permainan tradisional sudah hampir terpinggirkan dan tergantikan
dengan permainan modern. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar. Di Aceh sendiri, tercatat
sejumlah permainan dalam masyarakatnya. Permainan yang sudah hidup dan berkembang sejak
zaman dahulu (tak ditentukan) itu menjadi patut diketahui oleh anak-anak Aceh sekarang, minimal
sebagai ingatan terhadap suatu yang pernah ada di Bumi Fansuri ini. Pentingnya permainan tradisional
bagi anak-anak adalah terhadap perkembangan jiwa, fisik, dan mental anak. Karena itu, berikut kami
coba hadirkan sejumlah permainan tradisional masyarakat Aceh yang oleh masyarakat di sini
terkadang menjadikannya sebagai ajang kompetisi.
Geulayang Tunang
Geulayang Tunang terdiri atas dua kata, yaitu geulayang yang berarti layang-layang dan tunang
berarti pertandingan. Dari namanya jelas mempertegas bahwa geulayang tunang merupakan
pertandingan layang-layang atau adu layang yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Permainan ini
sangat digemari masyarakat di berbagai daerah di Aceh. Mengenai nama permainan jenis ini, ada pula
yang menyebutnya adu geulayang. Kedua istilah yang disebutkan terakhir memiliki maksud dan arti
yang sama. Pada zaman dahulu, permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu setelah
masyarakat suatu tempat panen padi. Sebagai pengisi waktu, permainan ini sangat bersifat rekreatif.
Oleh karena itu, permainan ini sering kali dilombakan dalam acara peringatan hari kemerdekaan RI
atau even-even kebudayaan lainnya di Aceh semisal Pekan Kebudayaan Aceh.
Geudeue-geudeue
Geudeue-geudeue atau ada yang menyebutnya due-due adalah permainan ketangkasan yang terdapat
di daerah Pidie. Di samping ketangkasan, kegesitan, keberanian, dan ketabahan, pemain geudeuegeudeue harus bertubuh tegap dan kuat serta memiliki otot yang meyakinkan. Permainan ini kadangkadang berbahaya, karena merupakan permainan adu kekuatan. Permainan ini dilakukan oleh seorang
yang berbadan tegap. Mulanya dia tampil di arena menantang dua orang lain yang juga bertubuh
tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri atas dua orang supaya menyerbu kepada
yang menantang. Ketika terjadi penyerbuan, pihak pertama memukul dan menghempaskan
penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghempaskan pihak yang pertama. Dalam
tiap permainan, bertindak empat orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang
berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain. Permainan ini mirip dengan olahraga sumo Jepang,
bedanya hanya pada jumlah pemain.

Peupok Leumo
Peupok Leumo adalah sejenis permainan yang khas terdapat di Aceh Besar. Permainan ini merupakan
suatu permainan mengadu sapi. Permainan ini sebelumnya berkembang di kalangan peternak sapi.
Zaman dahulu, lazimnya peupok leumo diselenggarakan oleh sekelompok peternak yang berada pada
satu lokasi seperti yang berada pada satu kampung atau lebih luas lagi satu mukim, yang
diselenggarakan seminggu sekali. Hari penyelenggaraan permainan ini biasanya setiap Minggu atau
Jumat, tetapi tidak tertutup kemunginan di hari lainnya. Lazimnya dilaksanakn pada sore hari, sekitar
pukul 16.00-18.00 WIB atau selepas asar. Selaian peupok leumo yang mirip dengan karapan sapi di
Betawi, masih ada lagi acara peupok leumo tunang, yaitu permainan peupok leumo untuk mencari
sapi yang akan keluar sebagai pemenang. Acara peupok leumo tunang ini biasanya diselenggarakan
dengan menggunaka panitia dan dewan juri. Persoalan waktu, tergantung kepada cuaca dan musimmusim tertentu, seperti sehabis panen atau waktu lain seperti pada hari-hari besar dan sebagainya.
Pacu Kude
Pacu Kude dapat diartikan duduk di atas kuda yang lari atau dapat diartikan sebagai pacuan kuda.
Permainan ini terdapat di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini karena daerah Takengon terdapat padang
rumput yang sangat luas serta kuda memang alat angkutan yang sangat praktis di daerah
pegunungan, di samping untuk membajak sawah. Sehabis panen, biasanya kuda-kuda ini tidak
mempunyai kegiatan apa-apa yang dianggap penting. Waktu-waktu seperti itu sering kuda-kuda
tersebut berlari-lari berkelompok. Kebiasaan ini dikoordinir akhirnya terbentuk permainan pacu kude.
Pada awalnya permainan ini adalah permainan informal, tidak ada aturan yang baku untuk
dilaksanakan. Namun, lama kelamaan, permainan ini ditingkatkan menjadi permainan resmi dan
terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi.
Bola Keranjang
Bola keranjang atau bahasa Gayo disebut dengan tipak rege merupakan sejenis permainan bola yang
dibuat dari rotan belah yang dipergunakan pada permainan sepak raga (sepak takraw). Permainan ini
sudah jarang sekali dilakukan. Pada bola keranjang diikat rumbai-rumbai kain yang berwarna merah,
putih, dan hitam, sebanyak 15 helai. Zaman masa dahulu, sepak raga merupakan sejenis permainan
rakyat. Permainan ini sangat digemari oleh anak-anak, remaja/pemuda maupun orang-orang dewasa.
Mereka memanfaatkan waktu-waktu senggangnya dengan permainan ini.
Lenggang Rotan
Lenggang rotan merupakan jenis permainan yang terbuat dari rotan kecil yang dibuat melingkat
seperti gelang besar. Rotan yang digunakan biasanya seukuran jempol tangan atau bisa lebih kecil.
Rotan yang sudah dilingkarkan seperti gelang besar akan dimainkan di pinggang sambil menggoyang
pinggang. Rotan tersebut akan berputar. Orang yang rotannya jatuh terlebih dahulu dianggap kalah.
Permaianan ini umumnya juga terdapat di dataran tinggi Gayo, karena di sana memang terdapat
banyak rotan.dbs