Anda di halaman 1dari 14

Nama : Wanda Aziizah Rahayu

NIM

: 1511015052

Kelas : 2015 B
Epidemiologi Penyakit Menular

A. Lokasi Kunjungan lapangan


Tempat kunjungan yaitu pinggiran sungai Mahakam di Pemukiman Rusunawa
Daerah Pergudangan Jl. Sutami Sungai Kunjang.
B. Data Responden
Responden 1
1. Biodata
1. Nama
: Siti Paisah
2. Umur
: 52 Tahun
3. Pekerjaan
: Jualan Sayur
4. Pendidikan terakhir: Sekolah Dasar (SD)
5. No. Kontak/ HP : 6. Alamat
: Ulin:1, Lantai:1, No:3.
2. Identifikasi penyakit Tifus
Tifus abdominalis adalah salah satu penyakit menular yang biasanya
ditemukan di daerah beriklim tropis. Penyakit ini merupakan penyakit umum yang
terjadi di seluruh dunia tetapi saat ini sudah jarang terjadi di banyak negara maju.
Tifus abdominalis atau Demam Tifoid atau Demam enterik awalnya diambil dari
nama seorang koki asal Irlandia, Mary Mallon disebut sebagai Typhoid Mary.
Penyakit tersebut menjadi terkenal karena kasus carrier yang dibawanya
menyebabkan terjadinya banyak kematian dan KLB tifoid di Amerika Serikat pada
awal tahun 1900-an. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di
Indonesia maupun di daerah daerah tropis dan subtropics di seluruh dunia.
3. Penyebab penyakit Tifus
Makan dan minuman yang tercemar oleh salmonella typhi atau salmonella
paratyphi A, B dan C.

4. Distribusi
Penyakit tifus terdapat di seluruh dunia. Salah satu kelompok bakteri fekaloral yang menyebabkan penyakit yang kejadiannya ditentukan oleh standrat hygiene.
Kejadiaanya dapat digunakan sebagai indicator tingkat hygenie masyarakat.
masyarakat dengan hygiene yang baik maka penyakit ini hampr jarang terjadi. Berikut
negara yang terserang penyakit tofoid:
1. Amerika serikat terjadi insiden infeksi salmonella typhi turun sampai ketingkat
yang rendah setelah adanya pernaikan sanitasi lingkungan.
2. Santiago (Chilie) mempunyai angka endemisitas menurun setelah kualitas air
dan infrastuktur diperbaiki.
3. New York (1980-1990) terdapat kasus tifoid meningkat dari 2/3 menjadi 4-5.
Hal tersebut berkaitan dengan perjalanan ke daerah Asia Selatan dan Tenggara.
4. Meksiko menjadi sumber penularan utama untuk penduduk Amerika terutama
bagi orang-orang yang berada di daerah perbatasan dan pelajar yang berpergian.
5. India setiap tahun kasus baru 1/100 anak usia s.d 15 tahun.
Daerah endemis infeksi s.typhi adalah Peru, Alexandria (Mesir), Jakarta
(Indonesia), India, Pakistan dan Nepal.
Infeksi tifus lebih sering terjadi pada masyarakat dengan infeksi usus yang
sering terjadi secara teratur pada anak-anak. Pola penyebaran penyakit fekal-oral
merupakan pola yang umum terjadi pada suatu keluarga atau desa pada daerah
beriklim tropis.

5. Reservoir
1. Manusia
1. Penderita Tifus abdominalis yang menjadi sumber utama infeksi Tifus
abdominalis adalah manusia yang selalu mengeluarkan mikroorganisme
penyebab penyakit, baik ketika ia sedang menderita sakit maupun yang sedang

dalam masa penyembuhan. Pada masa penyembuhan penderita pada umumnya


masih mengandung bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.
2. Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau urin)
mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca Tifus abdominalis,
tanpa disertai gejala klinis. Pada penderita Tifus abdominalis yang telah
sembuh setelah 2-3 bulan masih dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di
feses atau urin. Penderita ini disebut karier pasca penyembuhan.
2. Makanan dan minuman yang terkontaminasi kotoran manusia yang mengandung
s.typhi

6. Cara penularan (mode of transmission)


Cara penularan terbagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Penularan langsung (direct transmission), pada penyakit tifus penularan
berlangsung antara orang yang menderita tifus ke orang rentan dan terpapar.
2. Penularan tidak langsung (indirect transmission), pada penyakit tifus penularan
melalui makanan dan minuman seperti sayuran yang diberi pupuk feses manusia
kemudian tidak dicuci dan dimasak sebelum makan dan air yang terkontaminasi
kotoran manusia yang mengandung s.thipy

7. Masa inkubasi
Masa inkubasi bervariasi tergantung ukuran dosis infektif
1. 3 hari-1 Bulan. Rata-rata 8 14 hari
2. 1-10 hari (gastroenteritis paratyphoid)

Respons sukarelawan terhadap infeksi eksperimen dengan s.typhi


Inoculum
Attack rate
Rata-rata masa inkubasi
103
0/13 (0)
105
77/200 (38,5)
9,3
107
13/27 (48,1)
7,4
108-109
24/25 (96,0)
4,7
(Sumber: Harrisons, principalof internal medicine page 951, 1998)

8. Masa penularan
Selama basil terdapat dalam ekskreta (biasanya minggu pertama-masa
penyembuhan). Pada orang yang sakit tifus tidak diobati 10% basil dan selama 3
bulan setelah gejala muncul dan kemungkinan 2-5% karier pemanen. Orang yang
terinfeksi paratifod sedikit menjadi karier permanen pada saluran empedu.

9. Kerentanan dan kekebalan


Dalam jumlah yang sangat besar, orang yang terpapar bakteri usus dapat
menjadi sakit. Dosis paling kecil s.typhi dapat menginfeksi pada orang-orang yang
imatur atau stress secara imonulogis, orang muda, orang tua dan anak malnutrisi.
Dosis yang dipelukan : 109 basil hidup (95% kasus).
10. Cara cara pemberantasan
Cara pemberantasan dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS)
yaitu :
1. Selalu mencuci tangan ketika hendak makan dan setelah makan.
2. Selalu mencuci tangan ketika sudah buang air.
3. Menjaga kebersihan makanan dan minuman dari berbagai macam hewan.

11. Penanganan penderita/kontak/lingkungan sekitar


1. Penanganan penderita ketika sakit yaitu langsung berobat ke puskesmas kemudian
melakukan tes darah di rumah sakit.
2. Memeperbaiki sanitasi lingkungan (pembuangan limbahc dan penyediaan air
bersih)
3. Adanya sabun cuci dan air pencuci tangan.

12. Upaya pencegahan


Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kesakitan dan
kematian akibat penyakit Tifus abdominalis. Pencegahan terdiri dari beberapa
tingkatan yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier.

1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tidak sakit dengan cara mengendalikan penyebab-penyebab penyakit
dan faktor risikonya. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi
dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan,
mengonsumsi makanan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya yang dilakukan untuk menemukan
kasus secara dini, pengobatan bagi penderita dengan tepat serta mengurangi
akibat-akibat yang lebih serius. Pencegahan sekunder dapat berupa:
a. Pencarian
Penderita maupun carrier secara dini melalui peningkatan usaha
surveilans Tifus abdominalis.
b. Perawatan
Penderita Tifus abdominalis perlu dirawat yang bertujuan untuk isolasi
dan pengobatan. Penderita harus tetap berbaring sampai minimal 17 hari
demam atau kurang lebih 14 hari. Keadaan ini sangat diperlukan untuk
mencegah terjadinya komplikasi. Penderita dengan kesadaran menurun,
posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu- waktu tertentu untuk
menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan
buang air kecil pada penderita Tifus abdominalis perlu diperhatikan karena
dapat terjadi konstipasi dan retensi air kemih.
c. Diet
Penderita Tifus abdominalis sebaiknya mengonsumsi makanan yang
cukup cairan, berkalori, tinggi protein, lembut dan mudah dicerna seperti
bubur nasi. Pemberian makanan tersebut dimaksudkan untuk menghindari
komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus karena usus perlu
diistirahatkan. Tidak dianjurkan mengonsumsi bahan makanan yang
mengandung banyak serat dan mengahasilkan banyak gas. Pemberian susu
dilakukan 2 kali sehari. Jenis makanan untuk penderita dengan kesadaran
menurun adalah makanan cair yang dapat diberikan melalui pipa lambung.

Untuk penderita dengan komplikasi perforasi usus, tidak dianjurkan makanan


yang dapat mengiritasi lambung seperti makanan pedas dan asam.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya untuk mengurangi keparahan atau
komplikasi penyakit yang sudah terjadi. Apabila penderita Tifus abdominalis
telah dinyatakaan sembuh, sebaiknya tetap menjaga kesehatan dan kebersihan
sehingga daya tahan tubuh dapat pulih kembali dan terhindar dari infeksi ulang
Tifus abdominalis. Disamping itu, penderita tersebut harus melakukan
pemeriksaan serologis sebulan sekali untuk mengetahui keberadaan Salmonella
typhi di dalam tubuh.

13. Situasi Kondisi Rumah


1. Luas rumah
2. Dinding rumah
3. Atap rumah
4. Lantai rumah
5. Ventilasi rumah
6. Fasilitas kamar
7. Fasilitas dapur
8. Sumber air bersih
9. Fasilitas WC
10. Tempat pembuangan air limbah
11. Keadaan disekitar rumah

:
: Beton
: Seng
: Semen
: Tidak ada
: tidak ada
: Ada
: Air PDAM
: Tidak ada
: Langsung ke selokan
: Rumah berdekatan hanya terpisah oleh
dinding beton, tidak ada halaman dan terdapat
sampah berserakan disekitar Rumah.

Kondisi dan situasi rumah ibu paisah yang berumur 54 tahun di Rusunawa
Ulin 1, lantai 1 No. 3. Pada saat dilakukan survey, rumah dijadikan tempat jualan
sembako. Rumah yang sempit dan tidak ada kamar langsung terhubung dengan dapur.
Semua jualan sembako memenuhi rumah ibu paisah. Rumah ibu paisah bentuknya
seperti ruko terbuat dari beton yang mempunyai 1 pintu besar tanpa ventilasi. Didalam
ruko ibu paisah tidak terdapat WC. Ruko tersebut hanya terdiri dapur dan ruangan
besar.
Kondisi lingkungan rusunawa sangat berdekatan, rumah hanya terpisah oleh
dinding beton. Di sekitar rusunawa juga banyak terdapat sampah yang berserakan.
Responden mengatakan bahwa mereka menggunakan air PDAM untuk kegitan seharihari. Dan pembungan limbahlangsung terhubung dengan selokan

14. Identifikasi Masalah Kesehatan Penyakit Menular


1. Factor Resiko
a. Lingkungan rumah ibu paisah tidak bersih
b. Banyaknya sembako yang tidak tersusun rapid an bertumpuk tumpuk
c. Kondisi dapur yang jarang dibersihkan

2. Factor Pencetus
a. Tidak menjaga kondisi kebersihan alat makan dan dapur
b. Jarang mecuci tangan ketika makan.

3. Factor Pendorong Berkurangnya Penyakit


1. Ibu paisah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penangan
ketika menderita tifus.
2. Selalu mencuci makanan yang akan dimakan sehingga terhidar dari
bibit penyakit
4. Analisis Berdasarkan WTO dan FDD
1. Analisis WTO (Waktu, Tempat, dan Orang)
a. Waktu
Pada kasus tifus ini terjadi pada bulan juli
b. Tempat
Kondisi rumah ibu paisah yang kurang bersih dan tidak rapi
yang menyebabkam banyaknya sarang nyamuk untuk
bersembunyi.
c. Orang
Penderita tifus ini terdapat pada ibu rumah tangga yang
berusia 52 tahun yang memiliki kebiasaan personal hygiene
yang kurang baik yaitu jarang mencuci tanagn ketika makan.
2. Analisis FDD (Frekuensi Distribusi Determinan)
a. Frekuensi
Frekuensi penyakit tifus yaitu sering terjadi pada bulan juli
pada saat musim hujan dikarenakan daya tahan tubuh
seseorang cenderung menurun
b. Distribusi
Penyakit tifus ini menyerang berbagai umur dari anak-anak
sampai orang dewasa. Lingkungan tempat tinggal responden
yang kurang bersih
c. Determinan
Salah satu faktor penyebab terjadinya tifus adalah pola
hidup bersih dan sehat (PHBS) seseorang yang masih kurang

baik, serta pada hasil observasi salah satu rumah warga yang
bertempat tinggal di rusunawa masih sangat kurang baik
Sehingga apabila dari lingkungan sendiri tidak bersih akan
berdampak pada status kesehatan seseorang.
5. Analisa Determinan Berdasarkan HAE (Host, Agent, dan Evironment)
1. Host
a. Daya tahan tubuh menurun sehingga mudah untuk diserang
berbagai penyakit
b. Perilaku yang tidak mendukung PHBS
2. Agent
Salmonella typhi atau salmonella paratyphi A, B dan C.
3. Environment
a. Banyaknya barang sembako yang ditumpukkan
b.
6. RAP (Riwayat Alamiah Penyakit)
7. 5 Level Of Prevention
8. Advice Untuk Upaya Pencegahan Dan Pemeliharaan

Responden 2
1. Biodata
1. Nama
:
2. Umur
: 5 Tahun
3. Pekerjaan
:4. Pendidikan terakhir: 5. No. Kontak/ HP :
6. Alamat
: Ulin:1, Lantai:2, No:3.
2. Identifikasi penyakit Tifus
Tifus abdominalis adalah salah satu penyakit menular yang biasanya
ditemukan di daerah beriklim tropis. Penyakit ini merupakan penyakit umum yang
terjadi di seluruh dunia tetapi saat ini sudah jarang terjadi di banyak negara maju.
Tifus abdominalis atau Demam Tifoid atau Demam enterik awalnya diambil dari
nama seorang koki asal Irlandia, Mary Mallon disebut sebagai Typhoid Mary.
Penyakit tersebut menjadi terkenal karena kasus carrier yang dibawanya
menyebabkan terjadinya banyak kematian dan KLB tifoid di Amerika Serikat pada

awal tahun 1900-an. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di
Indonesia maupun di daerah daerah tropis dan subtropics di seluruh dunia.
3. Penyebab penyakit Tifus
Makan dan minuman yang tercemar oleh salmonella typhi atau salmonella
paratyphi A, B dan C.

4. Distribusi
Penyakit tifus terdapat di seluruh dunia. Salah satu kelompok bakteri fekaloral yang menyebabkan penyakit yang kejadiannya ditentukan oleh standrat hygiene.
Kejadiaanya dapat digunakan sebagai indicator tingkat hygenie masyarakat.
masyarakat dengan hygiene yang baik maka penyakit ini hampr jarang terjadi. Berikut
negara yang terserang penyakit tofoid:
6. Amerika serikat terjadi insiden infeksi salmonella typhi turun sampai ketingkat
yang rendah setelah adanya pernaikan sanitasi lingkungan.
7. Santiago (Chilie) mempunyai angka endemisitas menurun setelah kualitas air
dan infrastuktur diperbaiki.
8. New York (1980-1990) terdapat kasus tifoid meningkat dari 2/3 menjadi 4-5.
Hal tersebut berkaitan dengan perjalanan ke daerah Asia Selatan dan Tenggara.
9. Meksiko menjadi sumber penularan utama untuk penduduk Amerika terutama
bagi orang-orang yang berada di daerah perbatasan dan pelajar yang berpergian.
10. India setiap tahun kasus baru 1/100 anak usia s.d 15 tahun.
Daerah endemis infeksi s.typhi adalah Peru, Alexandria (Mesir), Jakarta
(Indonesia), India, Pakistan dan Nepal.
Infeksi tifus lebih sering terjadi pada masyarakat dengan infeksi usus yang
sering terjadi secara teratur pada anak-anak. Pola penyebaran penyakit fekal-oral
merupakan pola yang umum terjadi pada suatu keluarga atau desa pada daerah
beriklim tropis.

5. Reservoir
1. Manusia
a. Penderita Tifus abdominalis yang menjadi sumber utama infeksi Tifus
abdominalis adalah manusia yang selalu mengeluarkan mikroorganisme
penyebab penyakit, baik ketika ia sedang menderita sakit maupun yang sedang
dalam masa penyembuhan. Pada masa penyembuhan penderita pada umumnya
masih mengandung bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.
b. Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau urin)
mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca Tifus abdominalis,
tanpa disertai gejala klinis. Pada penderita Tifus abdominalis yang telah
sembuh setelah 2-3 bulan masih dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di
feses atau urin. Penderita ini disebut karier pasca penyembuhan.
2. Makanan dan minuman yang terkontaminasi kotoran manusia yang
mengandung s.typhi

6. Cara penularan (mode of transmission)


Cara penularan terbagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Penularan langsung (direct transmission), pada penyakit tifus penularan
berlangsung antara orang yang menderita tifus ke orang rentan dan terpapar.
2. Penularan tidak langsung (indirect transmission), pada penyakit tifus penularan
melalui makanan dan minuman seperti sayuran yang diberi pupuk feses manusia
kemudian tidak dicuci dan dimasak sebelum makan dan air yang terkontaminasi
kotoran manusia yang mengandung s.thipy

7. Masa inkubasi
Masa inkubasi bervariasi tergantung ukuran dosis infektif
3. 3 hari-1 Bulan. Rata-rata 8 14 hari
4. 1-10 hari (gastroenteritis paratyphoid)
Respons sukarelawan terhadap infeksi eksperimen dengan s.typhi
Inoculum
103
105

Attack rate
0/13 (0)
77/200 (38,5)

Rata-rata masa inkubasi


9,3

107
13/27 (48,1)
7,4
108-109
24/25 (96,0)
4,7
(Sumber: Harrisons, principalof internal medicine page 951, 1998)

8. Masa penularan
Selama basil terdapat dalam ekskreta (biasanya minggu pertama-masa
penyembuhan). Pada orang yang sakit tifus tidak diobati 10% basil dan selama 3
bulan setelah gejala muncul dan kemungkinan 2-5% karier pemanen. Orang yang
terinfeksi paratifod sedikit menjadi karier permanen pada saluran empedu.

9. Kerentanan dan kekebalan


Dalam jumlah yang sangat besar, orang yang terpapar bakteri usus dapat
menjadi sakit. Dosis paling kecil s.typhi dapat menginfeksi pada orang-orang yang
imatur atau stress secara imonulogis, orang muda, orang tua dan anak malnutrisi.
Dosis yang dipelukan : 109 basil hidup (95% kasus).
10. Cara cara pemberantasan
Cara pemberantasan dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS)
sehingga bakteri s.thipy mengalami penurunan penderita.

11. Penanganan penderita/kontak/lingkungan sekitar


1. Penanganan penderita ketika sakit yaitu langsung berobat ke puskesmas
kemudian melakukan tes darah di rumah sakit.
2. Memeperbaiki sanitasi lingkungan (pembuangan limbahc dan penyediaan air
bersih)
3. Adanya sabun cuci dan air pencuci tangan.

12. Upaya pencegahan

Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kesakitan dan


kematian akibat penyakit Tifus abdominalis. Pencegahan terdiri dari beberapa
tingkatan yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier.

1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tidak sakit dengan cara mengendalikan penyebab-penyebab penyakit
dan faktor risikonya. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi
dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan,
mengonsumsi makanan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya yang dilakukan untuk menemukan
kasus secara dini, pengobatan bagi penderita dengan tepat serta mengurangi
akibat-akibat yang lebih serius. Pencegahan sekunder dapat berupa:
a. Pencarian
Penderita maupun carrier secara dini melalui peningkatan usaha
surveilans Tifus abdominalis.
b. Perawatan
Penderita Tifus abdominalis perlu dirawat yang bertujuan untuk isolasi
dan pengobatan. Penderita harus tetap berbaring sampai minimal 17 hari
demam atau kurang lebih 14 hari. Keadaan ini sangat diperlukan untuk
mencegah terjadinya komplikasi. Penderita dengan kesadaran menurun,
posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu- waktu tertentu untuk
menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan
buang air kecil pada penderita Tifus abdominalis perlu diperhatikan karena
dapat terjadi konstipasi dan retensi air kemih.
c. Diet
Penderita Tifus abdominalis sebaiknya mengonsumsi makanan yang
cukup cairan, berkalori, tinggi protein, lembut dan mudah dicerna seperti
bubur nasi. Pemberian makanan tersebut dimaksudkan untuk menghindari
komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus karena usus perlu

diistirahatkan. Tidak dianjurkan mengonsumsi bahan makanan yang


mengandung banyak serat dan mengahasilkan banyak gas. Pemberian susu
dilakukan 2 kali sehari. Jenis makanan untuk penderita dengan kesadaran
menurun adalah makanan cair yang dapat diberikan melalui pipa lambung.
Untuk penderita dengan komplikasi perforasi usus, tidak dianjurkan makanan
yang dapat mengiritasi lambung seperti makanan pedas dan asam.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya untuk mengurangi keparahan atau
komplikasi penyakit yang sudah terjadi. Apabila penderita Tifus abdominalis
telah dinyatakaan sembuh, sebaiknya tetap menjaga kesehatan dan
kebersihan sehingga daya tahan tubuh dapat pulih kembali dan terhindar dari
infeksi ulang Tifus abdominalis. Disamping itu, penderita tersebut harus
melakukan pemeriksaan serologis sebulan sekali untuk mengetahui
keberadaan Salmonella typhi di dalam tubuh.

13. Situasi Kondisi Rumah


c. Luas rumah
d. Dinding rumah
e. Atap rumah
f. Lantai rumah
g. Ventilasi rumah
h. Fasilitas kamar
i. Fasilitas dapur
j. Sumber air bersih
k. Fasilitas WC
l. Tempat pembuangan air limbah
m. Keadaan disekitar rumah

:
: Beton
: Seng
: Semen
: 2 buah
: tidak ada
: ada
: Air PDAM
: ada
: Lansung ke selokan
: Rumah berdekatan hanya
terpisah oleh dinding beton, tidak
ada halaman dan

terdapat

sampah

disekitar

berserakan

Rumah
14. Identifikasi Masalah Kesehatan Penyakit Menular
a. Factor Resiko
b. Factor Pencetus
c. Factor Pendorong Berkurangnya Penyakit
d. Analisis Berdasarkan WTO (Waktu, Tempat, dan Orang) dan FDD
(Frekuensi Distribusi Determinan)
e. Analisa Determinan Berdasarkan
Evironment)

HAE

(Host,

Agent,

dan

f. RAP (Riwayat Alamiah Penyakit)


g. 5 Level Of Prevention
h. Advice Untuk Upaya Pencegahan Dan Pemeliharaan