Anda di halaman 1dari 9

TUGAS BAHASA INDONESIA

CERPEN

Oleh :
Larasati Annisa
XII IPA 6 / 14

SMA N 7 PURWOREJO

Hanya Mukenah, Umi!

Lentera yang indah. Lumayan untuk menerangi gubuk kami, umi dan aku. Ya benar...hanya
ada aku dan umi. Aku dan umi sebelum umi pergi.
Belakangan ini Umi jarang melihat kamu sholat, nak, suara umi memecah keheningan
malam yang hanya diiringi lagu tradisional desa kami, suara jangkrik.
Tidak Umi, aku masih sholat hanya saja aku tidak sholat di depan Umi. Lagipula kalau
aku sudah sholat, apa aku harus bilang ke Umi? Padahal kalau seperti itu, kata Bu Thamrin sama
saja enggak ikhlas, Umi, aku berbohong, bahkan menatap umi pun aku tak berani.
Ada apa, nak? umi semakin penasaran, mendesakku untuk menjawab kenapa aku jarang
melakukan sholat seperti biasa, tepat waktu dan bersama umi. Namun aku hanya menjawab
dengan keheningan semata. Mungkin umi enggan meneruskan suasana minus itu, mungkin umi
ingin segera tidur, mungkin umi sedang memikirkan hal lain, atau kemungkinan lain yang aku tak
tahu jawabannya sehingga umi tak melanjutkan pembicaraan. Kami terdiam hingga tujuh menit
yang kurasa waktu berjalan sangat lambat. Aku memutuskan untuk masuk ke kamar, kemudian
tidur. Entah apa yang membuatku enggan menyapa umi meskipun aku sudah merasa itu tak
pantas.
Berdoalah sebelum kamu tidur. Umi hanya bisa berdoa untukmu, begitu suara umi ketika
tahu aku memasuki kamar. Aku hanya diam, seolah umi tak mengatakan apapun.
****
Halwa, bangun nak. Adzan shubuh. Ayo ke masjid bareng umi!
Halwa nyusul nanti, Umi duluan aja, jawabku dengan ogah-ogahan.
Ya sudah, Umi tunggu di sana ya. Sana wudhu dulu, nanti keburu subuhnya habis.
Iya. memang benar aku sudah berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah aku tahu
umi sudah keluar, maka aku putuskan untuk melanjutkan mimpiku. Biasanya selepas sahur
seperti ini aku tidak tidur lagi, aku menceritakan semua hal, terutama yang menyangkut
sekolahku.
Halwa, kamu tadi pagi kemana? nada yang umi keluarkan masih halus.
Halwa sholat dirumah, Umi. Tadi tiba-tiba Halwa sakit perut. Makanya nggak jadi ke
masjid, dustaku.
Apa perlu Umi bawa ke rumah sakit? umi memang selalu perhatian sama aku. Karena
hanya aku yang umi miliki. Kak Ihsan meninggal karena kecelakaan ketika mengantar umi ke

pasar. Itulah mengapa kaki umi juga harus diamputasi 2 tahun lalu, karena kecelakaan itu. Abi
sudah lama meninggal. Sejak kaki umi di amputasi, umi tidak bisa lagi menjahit. Tangan kiri umi
tidak bisa bekerja maksimal lagi, karena persendian umi geser. Semua harta yang kami punya
habis untuk biaya amputasi. Bagiku itu tak masalah, karena masih ada umi, aku masih sangat
bersyukur.
Tak usah, Umi. Sekarang sudah tidak sakit. Halwa mau main dulu. Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
****
Aku sendiri merasa ada hal yang kurang pas. Kata-kata Bu Thamrin kemarin, juga Alya.
Sholat itu kalian menghadap Yang Kuasa. Pencipta kalian. Jadi kalian itu harus dalam
keadaan bersih dan suci. Pakailah mukenahh yang bersih, di tempat yang suci, wudhu juga harus
benar. Kalau pakainya mukenahh yang berlubang, sama saja tidak menutup aurat. Sayang sekali
kalau sholatnya enggak sah, itu kata Bu Thamrin kemarin. Bahkan teman dekatku, Alya bilang
Aku kemarin baru dibeliin mukenahh baru sama Ibu. Jadi sekarang aku sholatnya pake
mukenahh yang nutup, nggak kayak kemarin. Kamu bagaimana?
Namun aku hanya diam. Itulah mengapa siang itu aku hanya pulang seorang diri. Tanpa
temanku. Aku pengen punya mukenahh baru, kayak yang Alya punya, biar sholatnya sah. Tapi
buat makan saja susah. Rasanya aku tak tega meminta sama umi. Hingga akhirnya aku putuskan
untuk menunggu umi mengerti tanpa aku harus meminta.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam. Sudah pulang nak? Kok tumben nggak main bareng sama Alya?
Dia sakit, Umi, dengan mudahnya aku menceletuk sebuah kebohongan.
Sakit apa? Berarti kapan kita akan menjenguknya? tanya umi. Umi memang begitu. Jiwa
sosialnya tinggi. Apalagi kalau hubunganku dengan Alya sudah seperti saudara. Tapi sungguh,
semua ini karena aku iri pada Alya.
Tak usah, Umi. Besok juga sudah sembuh.
Ya sudah. Sampaikan salam Umi sama dia ya?
Aku tak menjawab. Bagiku untuk bergaul dengan Alya, membuatku membenci keadaan.
Apa yang ia punya seakan dibandingkan. Dan di setiap katanya seakan menghinaku. Aku tidak
suka itu, bagaimanapun aku sayang umi. Tak mungkin aku merepotkannya.
Umi hanya bekerja berjualan gorengan. Hasilnya hanya cukup untuk makan. Setelah abi
pergi, kak Ihsan lah yang membantu umi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi ditambah umi

masih sering menjahit baju-baju milik tetangga. Namun semenjak kak Ihsan dan umi
kecelakaan,serasa semuanya telah terenggut, hanya tinggal umi yang tersisa.
Bahkan bukan umi seperti yang dahulu. Umi yang sekarang, adalah umi yang berjalan
dengan satu kaki. Umi yang sekarang, adalah umi yang sering memijat tangannya karena
terlampau pegal. Mana mungkin aku tega memintanya meskipun hanya sebuah mukenahh.
****
Sudah adzan ashar, nak. Kamu enggak pergi ke masjid? Biasanya kamu sudah siap-siap
jam segini, sambil menggoreng pisang yang akan umi jual, karena sudah menjelang buka puasa.
Gorengan umi akan segera dititipkan di warung Inah.
Enggak, Umi. Aku banyak tugas dari sekolah. lagi-lagi aku berbohong.
Kalau begitu kamu sholat saja dulu. Paling cuma lima menit. Sana.
Bahkan aku hanya diam di tempat. Menatap melayang, melihat buku yang ada di
hadapanku, yang sudah ku pakai untuk berbohong kepada umi.
Kenapa kamu diam saja?
Dari pertanyaan umi, aku tahu ada sesuatu yang sangat ingin umi ketahui. Namun nada
yang umi sampaikan halus, masih menggunakan nada umi yang membuat nyaman si pendengar.
Atau kamu sakit lagi? tanya umi lagi. Dan lagi-lagi aku hanya diam. Aku tak tahu apa
yang harus aku katakan. Sungguh aku ingin punya mukenahh baru. Tapi bagaimana aku
menyampaikan pada umi?
Halwa! Jawab pertanyaan Umi, nak! nada umi mulai meninggi. Sungguh kaget. Sepuluh
tahun aku bersama umi, aku tak pernah dibentaknya, tak pernah dimarahinya. Tiba-tiba saja air
mataku jatuh begitu saja. Kata maaf ingin ku lontarkan, tapi aku sudah tak bisa mengatakan apaapa lagi.
Sekali lagi umi tanya, kamu ini kenapa? Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Dan yang
lebih parah, kenapa kamu sering tidak sholat? Kali ini umi benar-benar marah. Dan aku hanya
terpaku melamun mendengarkannya. Kemudian umi melanjutkan kata-katanya lagi.
Mau jadi apa kamu kalau enggak pernah sholat? Siapa yang mengajari kamu untuk enggak
sholat, Halwa? Umi merasa tidak punya apa-apa lagi, yang Umi punya hanyalah Allah, bahkan
Umi bisa seperti ini karena Allah masih sayang sama kita. Itukah caramu berterimakasih, nak?
Umi tak pernah mengajarkanmu untuk seperti ini! sepertinya umi sangat marah. Baru saat itu
aku melihat umi sampai semarah itu. Waktu itu aku berfikir padahal hanya karena sholat.
Jangan kamu meremehkan hanya karena sholat! Apa yang akan jadi pegangan kamu hidup
setelah kamu sendirian nanti? Apa yang kamu punya saat semua orang tak ada untukmu? Hanya

Dia, Halwa! aku kaget. Baru saja aku berfikir begitu. Umi seperti bisa membaca pikiranku. Aku
tak berani menatap umi. Air mataku semakin bergulir bergantian.
Maaf, Umi...., hanya itu yang bisa aku katakan.
Jangan minta maaf sama Umi. Minta maaf lah sama Yang Maha Kuasa. Umi pergi dulu,
umi ke warung Inah dulu, mau nitipin gorengan. Sudah tak usah menangis. Sholat sana.
Nada yang umi keluarkan mulai menurun. Sungguh aku tak berani membuat umi marah.
Dulu waktu aku bertengkar dengan teman sekelas dan umi dipanggil untuk ke sekolah saja umi
tak marah, beliau hanya menasihati saja. Namun kali ini, saat aku melanggar perintah-Nya, umi
langsung marah. Aku hanya diam, tidak menjawab. Umi kemudian pergi.
Aku bingung bagaimana cara mengatakan kepada umi. Kemudian aku pergi ke kamar
mandi untuk wudhu. Sesampainya di tempat sholat, aku hanya memandangi mukenahh yang aku
taruh di sudut ruang. Kemudian aku mengambilnya. Aku duduk. Aku melihat sisi-sisi mukenahh
itu. Banyak yang terkena gigitan tikus. Sungguh, aku sangat ingin punya mukenahh baru. Tanpa
aku sadari, ternyata umi sudah lama mengamatiku, umi sudah di rumah. Aku tahu ketika aku
mendengar sebuah isakan.
Pakai saja dulu mukenahh Umi, nak. Besok lebaran Umi belikan yang baru.
Aku menangis lagi. Tapi kali ini bukan menangis karena aku senang umi menjanjikan
sebuah mukenah baru. Tapi aku menangis karena umi telah menangis. Umi tak pernah menangis,
bahkan ketika abi meninggal. Umi selalu menunjukkan ketegarannya. Entah mengapa lain untuk
saat itu. Aku memutuskan untuk memakai mukenahh umi, meskipun keadaannya tak berbeda
jauh dengan mukenahhku, setidaknya itu lebih baik untuk umi lihat.
Memang benar usiaku saat itu masih sepuluh tahun, tapi selama itu aku tau apa yang umi
rasakan, mungki karena aku hanya hidup dengan umi.
Seusai sholat, aku pergi ke dapur untuk membantu umi memasak untuk berbuka puasa.
Umi, maafkan Halwa, ya? Halwa sayang Umi, maaf membuat Umi menangis, akhirnya
kata-kata itu terlontar dari mulutku. Sedikit lega rasanya.
Justru Umi yang minta maaf, Umi tak bisa membelikanmu apa-apa, bahkan mukenahh.
Besok kan satu hari sebelum idul fitri, Umi akan membelikan untukmu.
Sudahlah Umi, tak usah. Halwa baru sadar, lebih sedih ketika melihat Umi menangis,
daripada sebuah mukenahh yang kusam.
Bukankah Umi juga patut memberimu hadiah untuk puasamu? Lagipula mukenah itu
sudah tiga tahun kau pakai.

Umi benar, mukenahh itu sudah aku pakai selama tiga tahun. Itulah mengapa mukenahhku
banyak lukisan liar alami yang sudah tidak hilang apabila dicuci. Mungkin karena air yang aku
pakai, sabun yang aku pakai, atau apapun lainnya yang membuat noda itu tetap setia menempel.
Umi bangga nak, punya anak seperti kamu, dari tujuh tahun kamu sudah rajin sholat. Dan
bulan ramadhan tahun ini, Umi bangga karena kamu bisa menyelesaikan puasa satu bulan penuh.
Umi sangat bersyukur,nak, lanjut umi.
Hingga akhirnya suara muadzin berkumandang. Aku dan umi segera mengambil air minum
untuk membatalkan puasa kami. Setelah itu kami sholat. Selepas sholat, aku dan umi makan,
seperti biasanya. Aku bahagia sekali saat itu, bisa melihat umi tersenyum lagi.
Malam itu berjalan seperti malam awal Ramadhan. Kami pergi tarawih, sehabis itu tadarus.
Sungguh Ramadhan yang indah.
****
Aku sebenarnya suka memasak. Umi sering mengajari ku. Masakan umi juga enak. Aku
sering membantu umi memasak di dapur. Entah menyiapkan makanan atau menyiapkan gorengan
yang akan dijual. Kata tetangga dan teman-temanku yang pernah merasakan masakan umi sih
enak. Bahkan kalau aku pergi ke sekolah aku sering membawa makanan sebagai bekal.
Sekarang aku sedang membantu umi membuat kue untuk persiapan lebaran besok, namun
tiba-tiba umi bertanya,Halwa, nanti malam mau takbiran bareng Alya?
Sejujurnya aku masih tidak suka dengan gaya Alya. Akhirnya aku putuskan untuk purapura tidak mendengar pertanyaan umi.
Umi, ini gandumnya tinggal dituang saja? Aku mencoba mengalihkan pertanyaan. Dan
nampaknya berhasil.
Iya, setelah itu, kamu mandi saja, sudah hampir maghrib, sebentar lagi adzan akan
berkumandang, saatnya berbuka puasa. Biar nanti gantian kamu yang nungguin kuenya, dan umi
mandi, biar enggak gosong.
Umi menyuruhku mandi. Lalu aku pergi ke kamar untuk mengambil baju yang akan aku
kenakan. Aku lupa menutup jendela. Angin dari jendela semilir masuk. Kemudian aku melihat
sesuatu di samping kaca. Aku melihat ada selembar kertas yang abi tulis untukku ketika abi
berada di rumah sakit, yang lama tidak aku baca dan selalu tertempel disana, tepatnya dua hari
sebelum abi meninggal, kata umi. Abi menitipkan itu pada umi, supaya umi memberikan kertas
itu saat aku berumur 9 tahun. Kurang lebih satu tahun sebelum kejadian ini terjadi.

Selamat ulang tahun sayang. Semoga kamu selalu dalam


lindungan-Nya. Abi tidak lagi di sisimu. Maafkan abi tak bisa
menemanimu, Allah sudah memanggil abi. Waktu abi sudah habis.
Tapi kamu tak perlu khawatir, masih ada kak Ihsan dan umi yang
akan menjagamu.
Mungkin kamu ingin tahu kenapa abi menulis surat ini. Mungkin
kamu juga ingin tahu kenapa pada saat usia kamu 9 tahun.
Usia 9 tahun adalah masa dimana seorang perempuan
mengalami akil baligh. Tahukah kamu apa itu, nak? Akil baligh itu
masa peralihan kamu dari anak-anak menjadi dewasa. Masa itu
sangat rawan dan rentan, maka dari itu abi ingin kamu tahu aturan
Islam. Perempuan yang sudah baligh itu harus rajin beribadah,
menutup aurat, dan banyak hal lain yang akan kamu ketahui sendiri.
Mengapa abi bicara demikian? Karena kamu adalah tanggung jawab
abi di akhirat nanti. Apa yang harus abi katakan jika abi ditanya
apabila kamu tak mengikuti apa yang sudah diajarkan agama kita?
Bahkan hijab yang kau pakai, sangat menentukan tempat abi kelak,
surga atau neraka.
Abi berharap kamu menjadi wanita yang solikhah, berbakti
kepada orang tua, tahu dan mau mengamalkan apa yang agama
perintahkan, semoga cita-citamu tercapai. Aamiin...
Satu lagi pesan abi. Tak ada satupun manusia yg hidup tanpa
ujian dari Allah,
Allah tak pernah pandang bulu dalam memberikan ujian. Kepada
siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Namun sangatlah beruntung bagi hamba Allah yang TETAP SABAR &
IKHLAS dalam menghadapi ujian dari-Nya. Mereka senantiasa
sandarkan semua permasalahan hidup ''HANYA KEPADA ALLAH''.
Tetap yakin bahwa janji Allah itu pasti.
Pertolongan Allah sangatlah dekat.

Perasaan bersalahku kepada umi muncul lagi. Semestinya aku tetap sholat meskipun
keadaan seperti itu. Ya mungkin karena waktu itu aku masih berumur sepuluh tahun. Masih
terlalu anak-anak.
Seusai mandi, aku kembali ke kamar. Aku melihat ada sebuah bingkisan sederhana. Aku
mendekat dan mengambilnya pelan. Aku membukanya. Dan ternyata itu adalah mukenah baru
dari umi, mukenah yang kemarin umi janjikan untukku.
Setelah itu, aku keluar kamar dan langsung memeluk umi.
Umi, terima kasih sekali, Umi. Halwa sayang Umi. Halwa janji tidak akan nakal lagi.

Umi tersenyum, umi mencium pipiku dan bilang, Umi juga sayang Halwa. Berjanjilah
untuk selalu sholat seperti apapun keadaan kamu, nak. sungguh senang rasanya, aku mendengar
sebuah kebanggaan yang jarang aku lihat di wajah umi.
****
Suara takbir menggema berulang-ulang. Sungguh indah sekali pagi itu. Akupun sudah
berbaikan dengan Alya. Umi kelihatan sangat cantik, meskipun hanya menggunakan baju
sederhana. Setelah siap, kami pergi ke lapangan untuk melaksanakan sholat Id. Saat itu aku
merasa sangat bahagia.
Sepulang dari lapangan, aku memeluk umi sambil menangis, Umi, maafkan Halwa yang
selalu merepotkan Umi. Selalu nakal.
Teruslah menjadi kamu yang taat agama, hanya itu komentar umi.
Tiba-tiba umi sesak nafas. Ternyata penyakit asma umi kambuh lagi setelah sekian lama
tidak kambuh. Aku segera mengingat dimana terakhir kali umi menyimpan obat semprotnya. Aku
langsung berlari ke kamar umi, di bayanganku, aku akan membuka lemari, dan semprotan itu
berada di samping tumpukan baju umi yang masih bagus namun jarang umi pakai. Dan saat aku
buka lemarinya, aku tak tahu harus bagaimana. Lemari umi kosong. Hanya ada botol itu.
Awalnya aku sudah terkulai lemas, namun mengingat keadaan umi, aku langsung bergegas
kembali ke umi. Sesampainya di ruang tamu, aku langsung jatuh terkulai lemas tak berdaya.
Umiiiiiii.....!! jangan pergi, Umi! Jangan tinggalkan Halwa. Halwa sayang Umi. Jangan pergi
Umi.
Aku terisak sambil memanggil nama umi. Semua itu sudah tidak pengaruh. Tamu yang
akan berkunjung kerumahku langsung menggendong umi dan membawa ke puskesmas yang
untung saja dekat. Yang satunya lagi menggendongku mengikuti kemana umi dibawa. Dan
perawat yang berjaga di puskesmas itu bilang, Penyempitan bronkeolus yang dialami Umi
menyebabkan Umi tidak bisa bernafas dalam jangka waktu yang tidak bisa lagi dimungkinkan.
Jadi maaf Halwa, Umi sudah kembali.
Sosok perawat itu masih tergambar jelas sampai sekarang seperti apa menyesalnya
meyampaikan berita duka itu.
****
Satu bulan setelah itu, aku tinggal di rumah Alya. Orang tua Alya memintaku untuk tinggal
bersamanya. Hingga suatu hari aku melihat baju umi dipakai oleh seorang pemulung, kemudian
aku bertanya, Itu baju siapa? mungkin karena aku masih sepuluh tahun sehingga kata-kata yang
muncul dariku hanyalah itu.

Saya dikasih sama ibu yang punya rumah itu, waktu itu dia bawa baju banyak sekali.
Katanya mau pergi ke pasar loak. Kemudian saya dikasih satu baju olehnya, jelas si pemulung
sambil menunjuk rumahku dari depan rumah Alya yang berhadapan dan selisih lima rumah.
Kini aku tahu. Ternyata umi menjual semua bajunya, hanya menyisakan satu baju yang
menjadi baju terakhirnya, hanya demi membelikanku sebuah mukenah baru.
Aku membayangkan seandainya umi masih disini, menyaksikan aku wisuda besok pagi.
Pasti umi bangga. Anak umi yang nakal, bisa menyelesaikan kuliahnya dengan uang sendiri Aku
merindukanu, umi. Mukenah dari umi sepuluh tahun silam, selalu aku simpan.