Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

Dalam bab 1 ini akan dibahas tentang latar belakang, rumusan masalah,
tujuan, dan manfaat penelitian.
1.1 Latar Belakang
Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian kecelakaan lalu lintas darat yang
tidak terduga dan tidak diinginkan (Yusherman, 2008 dalam Dr. Mantap, 2010).
Sedangkan definisi yang pasti mengenai kecelakaan lalu lintas adalah suatu
kejadian yang terjadi di jalan raya atau sebagai akibat dari kesalahan dari suatu
akitivitas manusia di jalan raya, yang mana mengakibatkan luka, sakit, kerugian
baik pada manusia, barang maupun lingkungan (Santoso, 1999 dalam Dr. Mantap,
2010).
Ketika suatu kecelakaan dan kedaruratan terjadi, kita sering menjadi panik
dan histeris karena bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk
mengatasinya. Keraguan itu timbul karena ketidaktahuan dan ketakutan akan
akibat yang ditimbulkannya.

Takut salah dalam menangani kecelakaan atau

keadaan darurat itu yang memang justru memperburuk kondisi korban.


Risiko kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut tingkat ekonomi negara.
Di negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi, mayoritas korban kecelakaan
lalu lintas adalah pengemudi dan penumpang, sedangkan di negara dengan tingkat
ekonomi rendah sampai sedang, sebagaian besar kematian terjadi pada pejalan
kaki, pengendara sepeda motor, dan pemakai kendaraan umum. Di Indonesia,
sebagian besar (70%) korban kecelakaan lalu lintas adalah pengendara sepeda
motor dengan golongan umur 15-55 tahun dan berpenghasilan rendah, dan cedera
kepala merupakan urutan pertama dari semua jenis cedera yang dialami korban
kecelakaan. Proporsi disabilitas (ketidakmampuan) dan angka kematian karena
kecelakaan masih cukup tinggi yaitu sebesar 25% dan upaya untuk
mengendalikannya dapat dilakukan melalui tatalaksana penanganan korban
kecelakaan di tempat kejadian kecelakaan maupun setelah sampai di sarana

pelayanan kesehatan (Yusherman, 2008 dalam Dr. Mantap, 2010). Jadi, dengan
penanganan pertama korban kecelakaan dalam hal ini adalah cara evakuasi yang
benar, diharapkankan menurunkan disabilitas dan kematian korban kecelakaan
lalu lintas.
Korban kecelakaan lalu lintas yang dikatakan penderita gawat darurat
adalah penderita yang berada dalam keadaan terancam jiwanya dan bila tidak
dilakukan pertolongan segera akan meninggal dunia dalam kasus kecelakaan lalu
lintas. Keberhasilan penanganan kasus gawat darurat tergantung pada beberapa
hal, tidak hanya alat-alat canggih ataupun obat-obatan, tetapi tergantung pada
kecepatan penanganan pertama dan kualitas dari usaha pertolongan yang
dilakukan. Kecepatan dan kualitas pertolongan pertama untuk kasus-kasus yang
terjadi di luar rumah sakit akan melibatkan banyak pihak yang pada umumnya
bukan petugas medis, tetapi masyarakat awam.
Kecepatan

pertolongan

yang

dimaksudkan

meliputi

kecepatan

diketemukannya atau diketahuinya keadaan pasien, kecepatan dilakukan


pertolongan pertama, kecepatan dalam memindahkan (transportasi) penderita ke
pusat fasilitas medis yang lebih lengkap untuk mendapat bantuan lanjutan.
Sedangkan kualitas pertolongan yang dimaksudkan meliputi kemampuan
untuk mengetahui adanya kasus gawat darurat (kemampuan membedakan dengan
kasus tidak gawat dan tidak darurat), kemampuan memberikan pertolongan
pertama dengan tepat sesuai dengan kemampuannya (pengetahuan dan
keterampilannya) sampai penderita diserahkan kepada tenaga medis yang
mempunyai pengetahuan khusus untuk penanganan kasus gawat darurat. Hal
pertama yang harus diketahui oleh seseorang yang akan memberikan pertolongan
pertama adalah mengetahui keadaan penderita. Bagi para petugas medis hal ini
bukan masalah karena mereka mendapat pelajaran untuk hal tersebut. Dan bagi
orang awam terutama mereka yang bekerja memberikan pelayanan pada
masyarakat luas juga harus mendapat pengetahuan tambahan tentang masalah
tersebut. Misalnya untuk kasus kecelakaan lalu lintas dijalan raya maka para
petugas polisi yang akan menemukan penderita pertama kali harus mempunyai
pengetahuan ini. Untuk itu pengetahuan tentang pertolongan penderita gawat
darurat (PPGD) perlu disebarluaskan melalui pendidikan khusus untuk orang

awam khusus dan melalui media masa untuk orang awam pada umumnya.
Sehingga pertolongan pertama yang cepat dan tepat akan membantu kelangsungan
hidup penderita. Karena merupakan usaha yang sia-sia bila adanya peralatan
canggih di rumah sakit dan banyaknya dokter ahli vang akan melakukan
pertolongan korban, tetapi korban ini telah meninggal sebelum sempat/tiba di
rumah sakit yang disebabkan ketidaktahuan orang awam untuk memberikan
pertolongan pertama saat korban diketemukan.
Pernah kejadian saat rombongan turis asal Jepang yang mengalami
kecelakaan lalu lintas. Bus yang membawa rombongan turis itu tabrakan dan
mengakibatkan beberapa orang mengalami luka serius dan tidak sadar, lalu
seorang turis yang mengalami luka ringan teriak-teriak seperti melarang orangorang menolong rekannya yang terlihat parah. Kebetulan pemandu yang asal
Indonesia luka ringan paham dan menterjemahkan. Kalau si Jepang itu tidak
mengijinkan orang-orang itu menolong rekannya itu, kecuali punya sertifikasi
cara melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Saya tertegun

membayangkan bahwa pertolongan pertama pada kecelakaan sedemikian


pentingnya. Bahkan kita berhak juga menolak pertolongan yang dilakukan bukan
oleh ahlinya ( Bayu Sahaja dalam KOMPAS.com, 29 Agustus 2011).
Teknik evakuasi adalah suatu usaha untuk memindahkan dari satu tempat
ke tempat lain dengan atau tanpa bantuan alat. Evakuasi yang benar sangatlah
penting dalam kelanjutan penanganan korban kecelakaan. Akibat pertolongan
pertama dan teknik evakuasi yang tidak optimal, tidak sedikit korban yang
akhirnya mengalami kecacatan bahkan meninggal dunia.
Di lapangan masyarakat sering memindahkan korban kecelakaan lalu
lintas dengan maksud segera menyelamatkan korban ke tempat aman. Tanpa
memperhatikan kaidah-kaidah pengkajian dan transportasi korban, tindakan
tersebut dapat berakibat fatal. Kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan multi
trauma. Korban kecelakaan lalu lintas berkecepatan tinggi disertai penurunan
kesadaran harus selalu dicurigai adanya cedera tulang belakang. Begitu pula
korban kecelakaan lalu lintas berkecepatan tinggi disertai jejas (luka atau memar)
di atas bahu harus selalu dicurigai adanya cedera cervical (tulang leher)
Manipulasi dalam bentuk apapun termasuk pemindahan korban berpotensi

memperparah kedua macam cedera di atas. Bila segmen fraktur tulang belakang
merobek spinal cord (saraf tulang belakang) di area leher, korban akan kehilangan
kendali nafas dan jantung sehingga meninggal seketika. Bila segmen fraktur
tulang belakang merobek sinal cord di area lumbal (punggung bawah), korban
dapat mengalami kelumpuhan permanen. Korban kehilangan nyawa bukan akibat
cedera kecelakaan lalu lintas melainkan akibat tindakan penolong.
Dari studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di IGD RSUD Dr.
Moh Saleh Kota Probolinggo didapatkan data karakteristik cedera korban
kecelakaan lalu lintas dalam 2 bulan terakhir (bulan Desember 2011 dan Januari
2012), yaitu 13 orang korban meninggal (fatal), 35 orang korban luka berat
(serious injury), dan 431 orang korban luka ringan (slight injury).
Sedangkan, dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada 50 orang
masyarakat secara acak di Kota Probolinggo tanggal 09 November 2011,
ditemukan bahwa 36 orang menjawab orang yang pertama kali dihubungi adalah
polisi lalu lintas di pos polisi terdekat, sedangkan 5 orang menghubungi rumah
sakit dan 9 orang menjawab langsung membawa korban ke rumah sakit atau
puskesmas terdekat dengan menggunakan alat transportasi seadanya dikarenakan
menghubungi rumah sakit/ambulan tidak kunjung datang. 28 orang mengatakan
polisi ikut serta memindahkan korban ke atas mobil patroli polisi atau alat
transportasi lain, 3 orang mengatakan tim ambulan, dan 19 orang mengatakan
masyarakat sekitar yang memindahkan korban dan pada kenyataannya.
Oleh karena itu peneliti sebagai perawat UGD menyadari pentingnya
pengetahuan teknik evakuasi yang benar bagi korban kecelakaan lalu lintas oleh
masyarakat awam sebagai penemu pertama korban kecelakaan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah
bagaimanakah pengetahuan masyarakat tentang pelaksanaan evakuasi korban
kecelakaan lalu lintas di area publik IGD RSUD Dr. Moh Saleh Kota
Probolinggo?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan
masyarakat tentang pelaksanaan evakuasi korban kecelakaan lalu lintas di area
publik IGD RSUD Dr. Moh. Saleh Kota Probolinggo.
Sedangkan tujuan khususnya adalah mengidentifikasi pengetahuan
masyarakat tentang :
1. Teknik evakuasi pada korban kecelakaan lalu lintas.
2. Alat evakuasi yang digunakan pada korban kecelakaan lalu lintas.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Untuk Instansi Rumah Sakit
Penelitian ini bermanfaat memberikan informasi pengetahuan masyarakat
tentang pelaksanaan evakuasi korban kecelakaan lalu lintas di tempat kejadian
khususnya Tim IGD untuk memberikan pelatihan bagi masyarakat secara periodik
minimal 2 tahun sekali.
1.4.2 Untuk Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dasar yang mendukung
penelitian yang lain di masa akan datang.