Anda di halaman 1dari 31

TERMOKIMIA

1. I.

Tujuan Percobaan

2. Mempelajari setiap reaksi kimia disertai perubahan energi


3. Menghitung perubahan kalor beberapa reaksi dengan percobaan yang sederhana

1. II.

Dasar Teori

Termokimia merupakan salah satu kajian khusus dari Termodinamika, yaitu kajian
mendalam mengenai hubungan antara kalor dengan bentuk energi lainnya.
Dalam termodinamika, kita mempelajarikeadaan sistem, yaitu sifat makroskopis yang
dimiliki materi, seperti energi, temperatur, tekanan, dan volume. Keempat sifat tersebut
merupakan fungsi keadaan, yaitu sifat materi yang hanya bergantung pada keadaan sistem,
tidak memperhitungkan bagaimana cara mencapai keadaan tersebut. Artinya, pada
saat keadaan sistem mengalami perubahan, besarnya perubahan hanya bergantung pada
kondisi awal dan akhir sistem, tidak bergantung pada cara mencapai keadaan tersebut.
Hukum Termodinamika I disusun berdasarkan konsep hukum kekekalan energi yang
menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan; energi hanya dapat
diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Dalam kajian Hukum Termodinamika I, kita
akan mempelajari hubungan antara kalor, usaha (kerja), dan perubahan energi dalam
(U).
Perubahan energi dalam (U) dapat dinyatakan dalam persamaan U = Uf Ui, dimana
Uf adalah energi dalam setelah mengalami suatu proses dan Ui adalah energi dalam sebelum
mengalami suatu proses. Perubahan energi dalam (U) merupakan fungsi keadaan. Energi
dalam (U) akan bertambah jika sistem menerima kalor dari lingkungan dan menerima usaha
(kerja) dari lingkungan. Sebaliknya, energi dalam (U) akan berkurang jika sistem melepaskan
kalor ke lingkungan dan melakukan kerja (usaha) terhadap lingkungan. Dengan demikian,
hubungan antara kalor, usaha (kerja), dan perubahan energi dalam (U) dapat dinyatakan
dalam persamaan sederhana berikut:
U = Q + W
Perubahan energi dalam (U) adalah penjumlahan dari perpindahan kalor (Q) yang terjadi
antar sistem-lingkungan dan kerja (W) yang dilakukan oleh-diberikan kepada sistem.
Semua reaksi kimia dapat menyerap maupun melepaskan energi dalam
bentuk panas (kalor). Kalor adalah perpindahan energi termal antara dua materi yang
memiliki perbedaan temperatur. Kalor selalu mengalir dari benda panas menuju benda
dingin. Termokimia adalah kajian tentang perpindahan kalor yang terjadi dalam reaksi kimia
(kalor yang menyertai suatu reaksi kimia).
Aliran kalor yang terjadi dalam reaksi kimia dapat dijelaskan melalui konsep sistemlingkungan. Sistem adalah bagian spesifik (khusus) yang sedang dipelajari oleh kimiawan.

Reaksi kimia yang sedang diujicobakan (reagen-reagen yang sedang dicampurkan) dalam
tabung reaksi merupakan sistem. Sementara, lingkungan adalah area di luar sistem, area
yang mengelilingi sistem. Dalam hal ini, tabung reaksi, tempat berlangsungnya reaksi kimia,
merupakan lingkungan.
Ada tiga jenis sistem. Sistem terbuka, mengizinkan perpindahan massa dan energi dalam
bentuk kalor dengan lingkungannya. Sistem tertutup, hanya mengizinkan perpindahan
kalor denganlingkungannya, tetapi tidak untuk massa. Sedangkan sistem terisolasi tidak
mengizinkan perpindahan massa maupun kalor dengan lingkungannya.
Pembakaran gas hidrogen dengan gas oksigen adalah salah satu contoh reaksi kimia dapat
menghasilkan kalor dalam jumlah besar. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
2 H2(g) + O2(g) > 2 H2O(l) + energi
Dalam reaksi ini, baik produk maupun reaktan merupakan sistem, sedangkan sekeliling
reaksi kimia merupakan lingkungan. Oleh karena energi tidak dapat diciptakan maupun
dimusnahkan, hilangnya sejumlah energi pada sistem akan ditampung pada lingkungan.
Dengan demikian, kalor yang dihasilkan dari reaksi pembakaran ini sesungguhnya
merupakan hasil perpindahan kalor dari sistem menujulingkungan. Ini adalah contoh
reaksi eksoterm, yaitu reaksi yang melepaskan kalor, reaksi yang memindahkan kalor
ke lingkungan.
Penguraian (dekomposisi) senyawa raksa (II) oksida hanya dapat terjadi pada temperatur
tinggi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
energi + 2 HgO(s) > 2 Hg(l) + O2(g)
Reaksi ini adalah salah satu contoh dari reaksi endoterm, yaitu reaksi yang menyerap
(membutuhkan) kalor, reaksi yang memindahkan kalor dari lingkungan ke sistem.
Reaksi eksoterm merupakan reaksi yang memancarkan (melepaskan) kalor saat reaktan
berubah menjadi produk. Reaktan memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dibandingkan
produk, sehingga energi dibebaskan pada perubahan reaktan menjadi produk. Sebaliknya,
pada reaksi endoterm terjadi hal yang berlawanan. Pada reaksi endoterm, terjadi penyerapan
kalor pada perubahan dari reaktan menjadi produk. Dengan demikian, reaktan memiliki
tingkat energi yang lebih rendah dibandingkan produk.
Satuan H adalah joule per mol atau kilojoule per mol. Hubungan kalor reaksi (Q), jumlah
mol zat yang bereaksi (n), dan entalpi reaksi (H) dapat dinyatakan dalam persamaan
berikut:
H = Q / n
Selain menggunakan metode kalorimeter, entalpi reaksi dapat pula ditentukan melalui
beberapa metode lainnya. Salah satu metode yang sering digunakan para kimiawan untuk
mempelajari entalpi suatu reaksi kimia adalah melalui kombinasi data-data Hf. Keadaan
standar (subskrip ) menunjukkan bahwa pengukuran entalpi dilakukan pada keadaan standar,
yaitu pada tekanan 1 atm dan suhu 25C. Sesuai kesepakatan, Hf unsur bebas bernilai 0,
sedangkan Hf senyawa tidak sama dengan nol (Hf unsur maupun senyawa dapat dilihat

pada Tabel Termokimia). Kita dapat menghitung entalpi suatu reaksi kimia apabila
Hf unsur maupun senyawa yang terlibat dalam reaksi tersebut diberikan. Sebagai contoh,
berikut ini diberikan suatu reaksi hipotetis:
a A+ b B

> c C + d D

Reaksi kimia pada dasarnya merupakan peristiwa pemutusan-penggabungan ikatan. Saat


reaksi kimia berlangsung, reaktan akan mengalami pemutusan ikatan, menghasilkan atomatom yang akan bergabung kembali membentuk produk dengan sejumlah ikatan baru.
Dengan mengetahui nilai entalpi masing-masing ikatan, kita dapat menghitung entalpi suatu
reaksi kimia. Oleh karena pemutusan ikatan kimia selalu membutuhkan sejumlah kalor dan
sebaliknya pembentukan ikatan kimia baru selalu disertai dengan pelepasan kalor, maka
selisihnya dapat berupa pelepasan (eksoterm) maupun penyerapan (endoterm) kalor.
Jika kalor yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan lebih tinggi dibandingkan kalor yang
dilepaskan pada saat pembentukan ikatan, maka reaksi tersebut membutuhkan kalor
(endoterm) Jika kalor yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan lebih rendah dibandingkan
kalor yang dilepaskan pada saat pembentukan ikatan, maka reaksi tersebut melepaskan kalor
(eksoterm).
1. III.

Alat dan Bahan

Alat :

Bahan :

1. Kalorimeter

1. Zn padatan

2. Termometer

2. Larutan CuSO4 0,5 M

3. Gelas kimia 250 ml

3. Larutan HCl 2 M

4. Gelas ukur 200 ml

4. Larutan NaOH 2 M

5. Gelas ukur 500 ml

5. Etanol

6. Kaca arloji

6. Aquades

7. Hotplate/pemanas
8. Stopwatch
VI.

Pembahasan

Temperatur merupakan besaran penting yang diamati pada praktikum termokimia.


Temperatur diukur dengan menggunakan termometer yang terdapat pada kalorimeter. Cairan

yang diukur suhu reaksinya diaduk dengan menggunakan pengaduk pada kalorimeter agar
suhu laurtan merata. Sementara itu pencatatan suhu setiap menit dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui perubahan suhu yang terjadi di setiap menitnya. suhu akhir yang diambil
adalah suhu yang didapatkan ketika suhu reaksi sudah konstan.
1. Penentuan tetapan suhu kalorimeter

Setiap kalorimeter memiliki tetapan yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu
sebelum menentukan perubahan panas ( ) dari suatu reaksi, tetapan kalorimeter perlu dicari
terlebih dahulu. Kalorimeter yang baik adalah kalorimeter yang medium dalamnya terbuat
dari kaca mengkilap menyerupai cermin. Cermin tersebut bertujuan agar tidak terjadi
perpindahan kalor secara radiasi dari larutan ke medium.
Untuk menentukan tetapan kalorimeter, air dingin direaksikan dengan air panas.
Perlahan terjadi penurunan suhu. Terjadi dua macam reaksi saat air panas dan air dingin
tersebut dicampurkan. Kedua reaksi tersebut adalah reaksi endoterm dan eksoterm. Reaksi
eksoterm terjadi ketika air panas yang suhunya lebih tinggi melepaskan kalor. Kalor yang
dilepaskan oleh air panas kemudian diterima oleh air dingin. Saat itulah reaksi endoterm
berlangsung.
Berdasarkan data yang didapat pada praktikum dan setelah dilakukan serangkaian
proses perhitungan, didapatkan tetapan kalorimeter yaitu 224 joule/oC.

1.

Penentuan kalor reaksi Zn(s) CuSO4(aq)


Berikut adalah reaksi yang terjadi antara padatan seng dan tembaga (II) sulfat:

Reaksi

: Zn + CuS04 ZnSO4 + Cu

Perubahan panas (dH) pada reaksi antara Zn dan CuSO4 yang didapat dari hasil praktikum
adalah +86.51 kJ/mol. Pada reaksinya, kedua zat yang direaksikan tersebut menghasilkan
endapan ZnSO4 yang berwarna kecokelatan.

Jika dilihat dari perubahan suhu yang terjadi dan juga dari dH yang dihasilkan, dapat
disimpulan bahwa rekasi antara Zn(s) dan CuSO4(aq) berlangsung secara endoterm. Adanya
kenaikan suhu menunjukkan bahwa adanya kalor yang diserap pada reaksi tersebut.
Sementara jika dilihat dari perubahan panas ( ) yang dihasilkan yang bernilai positif maka
semakin memperkuat hasil yang didapat bahwa reaksi berlangsung secara endoterm.

1. Penentuan Kalor Pelarutan Ethanol-Air

Kalor atau panas pelarutan dari etanol dapat diperoleh dengan cara mencampurkan zat
tersebut ke dalam kalorimeter yang berisi air dingin, sehingga akan bereaksi dan akan timbul
suatu reaksi yang disertai dengan perubahan suhu, dan pelepasan sejumlah kalor. Perubahan
kalornya tergantung ada konsentrasi awal dan akhir larutan yang terbentuk.
Berdasarkan praktikum perubahan panas pelarutan etanol dan air didapat untuk campuran
pertama yaitu 175,71 J/mol untuk campuran kedua 183.33 J/mol, campuran ketiga 198.53
J/mol, campuran keempat 200.59 J/mol, campuran kelima 171.22 J/mol dan campuran
keenam 197.84 J/mol.

1. Penentuan kalor penetralan NaOH HCl

NaOH jka direaksikan dengan HCl akan menghasilkan NaCl dan air.
Reaksi

: NaOH + HCl NaCl + H20

Perubahan panas penetralan ( ) antara larutan NaOH dan HCl yang didapat berdasarkan
percobaan adalah 4.7 kJ/mol. Seperti halnya pada reaksi antara Zn(s) dan CuSO4(aq) , reaksi
antara NaOH dan HCl pun berlangsung secara endoterm. Adanya kenaikan suhu ( sebelum
rekasi suhu yang didapat adalah 25oC sementara setelah reaksi suhunya dalah 33oC )
menunjukkan adanya panas / kalor yang diserap, sementara nilai dH yang positif (>0)
semakin menunjukkan bahwa reaksi berlangsung secara endoterm.
Jalannya praktikum sedikit terganggu dengan pecahnya salah satu peralatan (gelas ukur).
Namun secara umum tidak ada halangan berarti dalam pelaksanaannya.
VII. Kesimpulan
1. Kalorimeter yang merupakan sistem terisolasi mempunyai tetapan untuk menentukan
jumlah Joule yang terlibat dalam merubah suhu
2. Kalor yang terlibat dalam reaksi berfungsi merubah suhu tiap mol zat
3. Tetapan kalorimeter adalah 224 joule/oC
4. Perubahan panas reaksi Zn(s) CuSO4(aq) adalah 86,51 kJ/mol
5. Perubahan panas pelarutan Etanol-Air mempunyai rata-rata 187.87 J/mol
6. Perubahan panas reaksi penetralan NaOH HCl adalah 4.7 kJ/mol

Daftar Pustaka
Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA kelas XI. Jakarta : Erlangga.

dhahnd371.wordpress.com/2011/12/15/termokimia/

Laporan Praktikum Kimia Tentang Termokimia


Posted in
Kamis, 31 Januari 2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Reaksi kimia berlangsung dengan menyerap atau membebaskan energi. Reaksi yang
membebaskan energi disebut reaksi eksoterm, sedangkan reaksi yang menyerap energi
disebut endoterm. Satu contoh reaksi eksoterm adalah pembakaran gas alam, sedangkan
contoh reaksi endoterm adalah fotosintesis. Reaksi eksoterm umumnya berlangsung lebih
dramatis daripada reaksi endoterm. Pada saat pereaksi mengalami pembebasan atau
penyerapan, reaksi disertai sejumlah energi yang disebut dengan kalor reaksi.
Kebanyakan reaksi berlangsung dalam sistem terbuka dengan tekanan tetap (tekanan
atmosfir). Jadi, kalor reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap (dimana volume dapat
berubah) dapat berbeda dari perubahan energi dalam (E). untuk menyatakan kalor reaksi
yang berlangsung pada tekanan tetap para ahli mendefinisikan suatu besaran termodinamika,
yaitu entalpi (H). Entalpi menyatakkan kandungan kalor zat atau sistem. Perubahan entalpi
(H) dari suatu reaksi sama dengan jumlah kalor yang diserap atau dibebaskan oleh reaksi
itu. Untuk mengetahui perubahan entalpi pada reaksi, maka kami melakukan percobaan
dengan cara menetralkan NaOH dengan HCl, dengan menggunakan alat yang disebut
kalorimeter.

B.

Rumusan Masalah

1.

Berapa mol NaOH dan HCl ?

2.

Berapa perubahan entalpi reaksi NaOH dan HCl ?

3.

Berapa perubahan entalpi reaksi penetralan 1 mol NaOH dan HCl ?

4.

Bagaimana persamaan termokimia reaksi penetralan NaOH dan HCl ?

5.

Reaksi kimia apa yang terjadi pada proses penetralan NaOH dan HCl ?

C.

Tujuan Penelitian

1.

Untuk mengetahui mol NaOH dan HCl.

2.

Untuk menentukan perubahan entalpi reaksi NaOH dan HCl.

3.

Untuk menentukan perubahan entalpi penetralan 1 mol NaOH dan HCl.

4.

Untuk mengetahui persamaan termokimia reaksi penetralan NaOH dan HCl.

5.

Untuk mengetahui reaksi kimia yang terjadi pada proses penetralan NaOH dan HCl.

D.

Manfaat Penelitian

1.

Dapat mengetahui mol NaOH dan HCl.

2.

Dapat mengetahui perubahan entalpi reaksi NaOH dan HCl.

3.

Dapat mengetahui perubahan entalpi penetralan 1 mol NaOH dan HCl.

4.

Dapat mengetrahui mengetahui persamaan termokimia reaksi penetralan NaOH dan HCl.

5.

Dapat mengetahui reaksi kimia yang terjadi pada proses penetralan NaOH dan HCl.

BAB II
DASAR TEORI
A. Kalorimetri
Kalorimetri adalah ilmu dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau perubahan
fisik. Kalorimeter adalah alat untuk mengukur panas dari reaksi yang dikeluarkan.Kalorimetri
termasuk penggunaan kalorimeter. Kata kalorimetri berasal dari bahasa Latin yaitu calor,
yang berarti panas.

Kalorimetri tidak langsung (indirect calorimetry) menghitung panas pada makhluk


hidup yang memproduksi karbondioksida dan buangan nitrogen (ammonia, untuk organisme
perairan, urea, untuk organisme darat) atau konsumsi oksigen. Lavosier (1780) mengatakan
bahwa produksi panas dapat diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan menggunakan
regresi acak. Hal itu membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh makhluk
hidup juga dapat dihitung oleh perhitungan kalorimetri langsung (direct calorymetry), dimana
makhluk hidup ditempatkan didalam kalorimeter untuk dilakukan pengukuran.
Jika benda atau system diisolasi dari alam, maka temperatur harus tetap konstan. Jika
energi masuk atau keluar, temperatur akan berubah. Energi akan berpindah dari satu tempat
ke tempat lainnya yang disebut dengan panas dan kalorimetri mengukur perubahan suhu
tersebut, bersamaan dengan kapasitas panasnya, untuk menghitung perpindahan panas.
Sebagai contoh, jika energi dari reaksi kimia eksotermal diserap air, perubahan suhu
dalam air akan mengukur jumlah panas yang ditambahkan. Kalorimeter digunakan untuk
menghitung energi dari makanan dengan membakar makanan dalam atmosfer dan mengukur
jumlah energi yang meningkat dalam suhu kalorimeter.
Bahan yang masuk kedalam kalorimetri digambarkan sebagai volume air, sumber
panas yang dicirikan sebagai massa air dan wadah atau kalorimeter dengan massanya dan
panas spesifik. Keseimbangan panas diasumsikan setelah percobaan perubahan suhu
digunakan untuk menghitung energi tercapai.
Cara penemuan kalor reaksi dengan menggunakan calorimeter disebut kalorimeter.
Data H reaksi yang terdapat pada tabel-tabel umumnya ditentukan secara kalorimetris.
Kelorimeter adalah suatu sistem terisolasi (tidak ada pertukaran materi maupun energi
dengan lingkungan diluar kalorimeter). Dengan demikian, semua kalor yang dibebaskan oleh
reaksi yang terjadi didalam kalorimeter tidak ada yang terbuang keluar kalorimeter. Dengan
mengukur kenaikan suhu di dalam kelorimeter, kita dapat menentukan jumlah kalor yang
diserap oleh air serta perangkat kalorimeter berdasarkan rumus :
q air = m x c x T
q bom

= C x H

dengan, q

= jumlah kalor

= massa air (larutan) di dalam kelorimeter (gram)

= kalor jenis air (larutan) di dalam kelorimeter (J

= kapasitas kalor dari bom kalorimeter

= kenaikan suhu larutan (kalorimeter)

= perubahan suhu (C atau K)

Oleh karena tidak ada kalor yang terbuang ke lingkungan, maka kelor rekasi sama
dengan kalor yang diserap oleh air (larutan) dan bom, tetapi tandanya berbeda..
q reaksi = -(q air + q bom)

Bagan kalorimeter bom yang digunakanuntuk reaksi-reaksi pembakaran

Bagan kalorimeter sederhana


Kalorimetri bom terdiri dari sebuah bom (wadah tempat berlangsungnya reaksi
pembakaran, biasa terbuat dari bahan stainless steel) dan sejumlah air atau suatu larutan yang
dibatasi dengan wadah kedap panas.
Kalorimeter sederhana dapat disusun dari 2 buah gelas styrofoam seperti gambar
diatas. Styrofoam merupakan bahan nonkonduktor, sehingga jumlah kalor yang diserap atau
yang berpindah ke lingkungn dapat di abaikan. Jika suatu reaksi berlangsung secara
eksoterm, maka kalor sepenuhnya akan diserap oleh larutan di dalam gelas. Sebaliknya, jika
reaksi yang berlangsung tergolong endoterm, maka kalor itu diserap dari larutan di dalam

gelas. Jadi, kalor reaksi sama dengan jumlah kalor yang diserap atau yang dilepaskan larutan,
sedangkan kalor yang diserap oleh gelas dan lingkungan diabaikan.
q reaksi = - q larutan
Kalorimeter yang baik memiliki kapasitas kalor kecil. Artinya kalorimeter tersebut
benar-benar sebagai sistem yang terisolasi, sehingga perubahan kalor yang terjadi dari reaksi
hanya berpengaruh terhadap perubahan suhu air atau larutan yang ada di dalam kalorimeter.
Reaksi yang berlangsung dalam calorimeter merupakan reaksi yang berlangsung pada
volum konstan (V = 0), maka perubahan kalor yang terjadi dalam sistem akan sama dengan
perubahan energi dalamnya.
U = q
Pengukuran kalor reaksi selain kalor reaksi pembakaran, dapat dilakukan
manggunakan kalorimeter pada tekanan konstan. Misalnya pada kalorimeter stirofoam yang
dibuat dari gelas stirofoam. Kalorimeter jenis ini umunya dilakukan untuk mengukur kalor
reaksi di mana reaksinya berlangsung dalam bentuk larutan, misalnya untuk mengukur
perubahan kalor yang terjadi pada reaksi netralisasi asam-basa.
Pada kalorimeter yang reaksi kimianya berlangsung pada tekanan konstan (P = 0),
maka perubahan kalor yang terjadi dalam sistem akan sama dengan perubahan entalpinya.
H = q

Oleh karena dianggap tidak ada kalor Termokimia adalah ilmu yang membahas
hubungan antara kalor dengan reaksi kimia atau proses-proses yang berhubungan dengan
reaksi kimia. Dalam praktiknya termokimia lebih banyak berhubungan dengan pengukuran
kalor yang menyertai reaksi kimia atau proses-proses yang berhubungan dengan perubahan
struktur zat, misalnya perubahan wujud atau perubahan struktur kristal. Untuk mempelajari
perubahan kalor dari suatu proses perlu kiranya dikaji beberapa hal yang berhubungan
dengan energi apa saja yang dimiliki oleh suatu zat, bagaimana energi tersebut berubah,
bagaimana mengukur perubahan energi tersebut, serta bagaimana pula hubungannya dengan
struktur zat.
Yang diserap maupun dilepaskan oleh sistem ke lingkungan selama reaksi
berlangsung, maka :

B.

+ q

+ q

= q

HCl (Asam Klorida)


Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam

kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan
secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang
tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.
C.

NaOH (Natrium Hidroksida)


Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium

hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa
Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang
kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri,
kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air
minum, sabun dan deterjen.Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan
dalam laboratorium kimia.
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet,
serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan
menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan
panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH
dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter
dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning
pada kain dan kertas.

Nama sistematis
Nama lain
Rumus Molekul
Densitas
Titik leleh
: Titik didih
Kelarutan dalam air
Massa molar

NaOH
Natrium hidroksida
Soda kaustik
NaOH
2,1 g/ cm3, padat
318oC (591 K)
1390oC (1663 K)
111 g/ 100 mL (20oC)
39,9971 g/mol

Penampilan
Titik nyala

zat padt putih


tidak mudah terbakar

BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Alat dan Bahan :


Alat :
1.
2.
3.
4.
5.

Calorimeter
Gelas Kimia 100 mL
Gelas Ukur 25 mL
Termokimia
Pipet tetes
Bahan :

1.
2.

Larutan NaOH 3 M
Larutan HCl 3 M

B. Cara Kerja
1.
Ambil 10 mL Larutan NaOH 3 M, kemudian masukkan ke dalam gelas kimia. Ukur suhu
2.

NaOH sebagai suhu awal.


Ambil 10 mL larutan HCl 3 M, kemudian masukkan ke dalm gels kimia. Ukur suhu HCl

3.
4.
5.

sebagai suhu awal reaksi.


Masukkan kedua larutan ke dalam kelorimeter kemudian diaduk.
Catat suhu maksimal (suhu paling tinggi) sebagai suhu akhir reaksi.
Ulangi langkah 1 sampai 4 diatas sebanyak 3 kali.

C. Waktu dan Tempat Penelitian


Waktu pelaksanaan

: Selasa, 8 Oktober 2012

Tempat

: Laboratorium Kimia SMA N 1 Jetis

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

A. Tujuan Percobaan :
Menentukan perubahan entalpi reaksi penetralan NaOh dan HCl.

B. Alat dan Bahan :


Alat :
1.
2.
3.
4.
5.

Calorimeter
Gelas Kimia 100 mL
Gelas Ukur 25 mL
Termokimia
Pipet tetes
Bahan :

1.
2.

Larutan NaOH 3 M
Larutan HCl 3 M
C. Cara Kerja

1.

Ambil 10 mL Larutan NaOH 3 M, kemudian masukkan ke dalam gelas kimia. Ukur


suhu NaOH sebagai suhu awal.
2.
Ambil 10 mL larutan HCl 3 M, kemudian masukkan ke dalm gels kimia. Ukur suhu HCl
3.
4.
5.

sebagai suhu awal reaksi.


Masukkan kedua larutan ke dalam kelorimeter kemudian diaduk.
Catat suhu maksimal (suhu paling tinggi) sebagai suhu akhir reaksi.
Ulangi langkah 1 sampai 4 diatas sebanyak 3 kali.
D. Data Pengamatan
Pengamatan 1
No
1
2

Larutan
NaOH
HCL
Total

Suhu
awal

Volume
(mL)

Molaritas
(M)

30
31
61

10
10
20

3
3
6

Suhu
awal

Volume
(mL)

Molaritas
(M)

30
31
61

10
10
20

3
3
6

Suhu
awal

Volume
(mL)

Molaritas
(M)

Suhu
ratarata
8

Suhu
akhir

38,5

Suhu
ratarata
9,5

Suhu
akhir

9,5

39

Suhu
ratarata

Suhu
akhir

38,5

Pengamatan 2
No
1
2

Larutan
NaOH
HCL
Total

39

Pengamatan 3
No

Larutan

1
2

NaOH
HCL
Total

31
31
62

10
10
20

3
3
6

39

39

E. Pertanyaan
1.
2.
3.
4.

Hitung Mol NaOH dan HCl!


Hitung Perubahan entalpi Reaksi!
Hitung Perubahan entalpi reaksi penetralan 1 mol NaOH dan HCl!
Tuliskan Persamaan termokimia reaksi penetralan NaOH dan HCl!
F. Pernyataan
Sebanyak 10 mL (=10 gram) larutan HCl 1 M bersuhu 30
mL (=10 gram) NaOH 1 M bersuhu 31
campur 38,5

dalam suatu calorimeter gelas Styrofoam. Suhu

. Kelor jenis larutan dianggap sama dengan klor jenis air yaitu 4,18 J

perubahan entalpi reaksi :

1. Mol NaOH dan HCL:


10 mL = 0,01 L. Maka:
1 Mol NaOH = M X V = 3 X 0,01 L = 0,03 M
1 Mol HCL = M X V = 3 X 0,01 L = 0,03 M
2. Perubahan Entalpi Reaksi
10 mL = 10 g
Massa NaOH +HCL = 10g + 10g
= 20g
q larutan 1 = m (NaOH + HCL) x c x T
= 20g x 4,18 J

X8K

= 668,8 J
= -q larutan
= -668,8 J
q larutan 2 = m (NaOH + HCL) x c x T
= 20g x 4,18 Jg^(-1) K^(-1) X 9,5 K
= 794,2 J
q reaksi
= -q larutan
= -794,2 kJ
q larutan 3 = m (NaOH + HCL) x c x T
= 20g x 4,18 Jg^(-1) K^(-1) X 16 K
= 668,8 J
q reaksi
= -q larutan
q reaksi

dicampur dengan 10

Jadi, H

= -668,8 J
= 668,8+794,2+668,8
= -2131,8 J

3. Perubahan Entalpi Reaksi penetralan 1 mol NaOH dan HCL


q (1 mol NaOH dan 1 mol HCL)
=
x -2131,8 J
= -71060 J
=-71,06 kJ
4. Persamaan termokimia reaksi penetralan NaOH dan HCL
H = -71,06 kJ

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Mol NaOH dan HCl yaitu 0.03 mol.
2. Perubahan entalpi reaksi NaOH 10 ml dan HCl 10 ml adalah -2131,8 J.
3. Perubahan entalpi dari penetralan 1 mol NaOH dan HCl adalah -71,06 kJ/mol.
4. Persamaan termokimia reaksi penetralan NaOH dan HCl yaitu,
NaOH + HCl ->NaCl + H2O

H = - 71,06 kJ/mol

5. Reaksi kimia yang terjadi pada proses penetralan NaOH dan HCl adalah reaksi
eksoterm,
karena NaOH dan HCl membebaskan energi sehingga perubahan entalpinya bertanda negatif.
6. Perubahan entalpi reaksi yang di lepaskan atau diserap hanya bergantung kepada
keadaan awal dan keadaan akhir. Semakin tinggi temperatur reaksi makin cepat laju
reaksinya.

7. Perubahan kalor pada suatu zat atau sistem di tentukan oleh perubahan suhu, masa zat
dan kalor jenis, kalor jenis adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1
gram zat setinggi 1 k.
8. Menghitung banyaknya kalor yang dibebaskan atau diserap berdasarkan suhu pada
larutan yang masa dan kapasitas panas bahan kalori ternyata ditentukan.

B. Saran
Jika melakukan pengamatan pada suatu larutan lakukanlah dengan teliti dalam
mengamati, jangan tergesa-gesa agar tidak terjadi kesalahan pada waktu pengukuran suhu
dan dalam mengukur volum larutan harus sesuai takaran jangan kurang atau lebih karena
dapat mempengaruhi hasil reaksi yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Asam Klorida. Diambil 25 Oktober
2011http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_klorida
Anonim. 2011. Kalorimetri. Diambil 25 Oktober
2011 http://id.wikipedia.org/wiki/kalorimetri
Purba, Michael. 2004. KIMIA UNTUK SMA KELAS XI 2A. Jakarta: Erlangga.
Purba, Michael. 2006. KIMIA UNTUK SMA KELAS XI. Jakarta: Erlangga.

LAPORAN TERMOKIMIA
Posted by Zaelana Yusuf at 19.21 1 comments
Praktikum Termokimia nih kawan :
LAPORAN PRAKTIKUM
TERMOKIMIA
I.

TUJUAN

Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk :


1. Mempelajari setiap reaksi kimia disertai dengan perubahan energi.
2. Menghitung perubahan kalor beberapa reaksi dengan percobaan yang sederhana.
II.

DASAR TEORI
Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan energi

kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai energi yang dikandung setiap unsur atau
senyawa. Energi kimia yang terkandung dalam suatu zat adalah semacam energi potensial
zat tersebut. Energi potensial kimia yang terkandung dalam suatu zat disebut panas dalam
atau entalpi dan dinyatakan dengan simbol H. Selisih antara entalpi reaktan dan entalpi hasil
pada suatu reaksi disebut perubahan entalpi reaksi.
Dalam percobaan ini perubahan kalor yang diamati dilakukan pada tekanan konstan
dan sistem yang diamati menyangkut cair padat sehimgga perubahan volume dapat
diabaikan. Akibatnya kerja yang bersangkutan dengan sistem dapat pula diabaikan (PV=0).
Oleh karena itu perubahan entalpi (H) sama dengan perubahan entalpi dalam (U).
Perubahan energi dapat terjadi dalam suatu sistem maupun lingkungan. Sistem dapat
berupa gas, uap air, dan uap dalam kontak dengan cairan. Secara umum sistem dibagi 3
macam, yaitu:

1. Sistem tersekat (terisolasi) : sistem yang tidak ada pertukaran energi maupun materi
ke lingkungan. Contoh: termos.
2. Sistem tertutup : sistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran energi tanpa
pertukaran materi ke lingkungan. Contoh: sejumlah gas dalam silinder yang dilengkapi
penghisap.
3. Sistem terbuka : sistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran energi dan
materi ke lingkungan. Contohnya: suatu zat dalam gelas kimia.
Jumlah kalor yang terlibat dalam reaksi dapat ditentukan dengan menggunakan
kalorimeter. Besaran fisika yang dapat diamati adalah temperatur. Kalorimeter dibuat
sedemikian rupa sehingga menyerupai termos ideal dimana tidak terjadi perpindahan kalor
dari kalorimeter ke isinya (Campuran reaksi yang akan ditentukan kalor reaksinya) atau
sebaliknya.
Oleh karena itu harus ditera (yakni dengan menentukan kalor yang diserap oleh
kalorimeter). Jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter untuk menaikan temperaturnya
sebesar 1 derajat disebut tetapan kalorimeter.
Dalam hal ini jumlah kalor yang dibebaskan/diserap oleh reaksi sama dengan jumlah
kalor yang diserap/dibebaskan oleh kalorimeter ditambah dengan jumlah kalor yang
diserap/dibebaskan oleh larutan didalam kalorimeter. Oleh karena itu energi tidak dapat
dimusnahkan atau diciptakan.
Maka : q reaksi + q kalorimeter + q larutan = 0
atau
q reaksi = - (q kalorimeter + q larutan)

I.

DATA PENGAMATAN
a.

Penetapan Tetapan Kalorimeter


T1=28
T2=38
Data Pengamatan Temperatur Air
Waktu (Menit)

Temperatur

31,50C

310C

310C

b.

310C

310C

310C

310C

310C

310C

10

310C

Penentuan Kalor Reaksi CuSO4-Zn(s)


Berat Zn = 0,989 gram
Data Pengamatan Temperatur CuSO4
Waktu (menit)
0.5
1
1.5
2

Temperatur
280C
28,50C
28,50C
28,50C

Data Pengamatan Temperatur- Campuran Reaksi


Waktu (menit)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
c.

Penentuan kalor pelarutan ethanol-air

Temperatur
320C
320C
32.50C
330C
330C
330C
330C
330C
330C
330C

Volume

Massa

Mol

(mL)

(gram)

(mol)

N
o.

1.
2.
3.
4.
5.

d.
Penentuan
Kalor

6.

Etha

Etha

Ai

Etha

ir

nol

ir

nol

nol

1
8
2
7
3
6
3
6
2
6
4
5

29
19,3
14,5
11,6
5,8
4,8

1
8
2
7
3
6
3
6
2
6
4
5

22,9
15,3

1
1,
5

0,49

Mol
T

H/m

ol

5,

4,

1529,

611
3179,

0,33

0,25

9,2

0,20

0,10

3,
5

3,8

1,
4
2,
5

0,08

mol
etha
nol

11,5

4,6

air/

2,04

4,54

657
3532,
878
5266,

8,00
10,0

607
3969,

0
14,0

2,

553
6338,

0
31,2

442

Penetralan NaOH- HCl


Temperatur NaOH= Temperatur HCl= 270C
Data Pengamatan Temperatur Campuran Reaksi
Waktu (menit)
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5

Temperatur (oC)
35.5
35
35
35
35
35
35
35
35
35

II.

PERHITUNGAN DAN GRAFIK


4.1 Perhitungan
4.1.1 Menentukan tetapan kalorimeter
Dari hasil percobaan, diperoleh data sebagai berikut:
T1 = 28oC = 301K
T2 = 38oC = 311K
Ta = 31oC = 304K
air = 1 gr.cm-(konstan)
c air = 4,2 J g-1 K-1

T (oC)
8,5
8
8
8
8
8
8
8
8
8

t = T2 Ta
= 311 304 = 7K
T = Ta T1
= 304 301 = 3K
m air = air x V air
= 20 ml x 1 gr/cm3
= 20 gr
Untuk mengitung:
Q1

= kalor yang diserap air dingin

Q2

= kalor yang diserap air panas

Q3

= kalor yang diterima kalorimeter

Maka,
Q1

= m air dingin x c x T
= 20 gr x 4,2 J gr-1 K-1 x 3 K
=252 J

Q2

= m air panas x c x t
= 20 gr x 4,2 J gr-1 K-1 x 7 K
= 588 J

Q3

= Q2 - Q1
= 588 J 252 J
= 336 J

Tetapan kalorimeter (k) :


k

= 112 J K-1
Jadi, kita dapat tetapan kalorimeternya adalah 112 J K-1

4.1.2 Menentukan kalor reaksi dari Zn(s) CuSO4 (aq)


Tawal
= 28,5 oC = 301,5 K
Takhir
= 33 oC = 306 K
C larutan
= 3,52 j gr-1 K-1
lar
= 1,14 gr/cm3
Massa Zn
= 0,989 gram
n CuSO4

=Vx M

= 40 ml x 0,5
= 20 mmol
= 0,02 mol
n Zn = m / Mr
= 0,989 / 64,5
= 0,0153 mol
m lar = Vlar x lar
= 40 ml x 1,14 gr/cm3
= 45,6 gr

Zn
m
r
s

CuSO4

0,0153mol
0,0153mol
-

Cu

ZnSO4

0,02mol
0,0153mol

0,0153mol

0,0153mol

0,0047mol

0,0153mol

0,0153mol

T = Takhir Tawal
= 306 K 301,5 K
= 4,5 oC

Kalor yang diserap calorimeter

= Qkal = k x T
= 112 J K-1 x 4,5K

= 504 J

Kalor yang diserap larutan

= Qlar = m lar x c x T
= 45,6 gr x 3,52 j gr-1 K-1 x 4,5 K
= 722,304 J

Kalor reaksi

= Qkal + Qlar
= 504 J + 722,304 J
= 1229,304 J

H reaksi

= kalor reaksi / mol pereaksi


= 1229,304 J / 0,0153 mol
= 80346,67 J mol-1
= 80,34667 kJ mol-1

4.1.3 Penentuan Kalor Pelarutan Ethanol-Air


ethanol

= 0,793 gr/cm3

air

= 1 gr/cm3
= 1,92 j gr-1 K-1

c etanol
c air

= 4,2 j gr-1 K-1

= Ta

Massa Ethanol
=m/V
m=xV

1) met = 0,793 x 29 = 22,9 gr


2) met = 0,793 x 19,3 = 15,3 gr
3) met = 0,793 x 14,5 = 11,5 gr
4) met = 0,793 x 11,6 = 9,2 gr
5) met = 0,793 x 5,8 = 4,6 gr
6) m et =0,793 x 4,8 = 3,8 gr
Mol Air
n = massa / mr
1) n = 18 / 18 = 1 mol
2) n = 27 / 18 = 1,5 mol
3) n = 36 / 18 = 2 mol
4) n = 36 / 18 = 2 mol
5) n = 26 / 18 = 1,4 mol
6) n = 45 / 18 = 2,5 mol
Mol ethanol
n = massa / mr
1) n = 22,9 / 46 = 0,49 mol
2) n = 15,3 / 46 = 0,33 mol
3) n = 11,5 / 46 = 0,25 mol
4) n = 9,20 / 46 = 0,20 mol
5) n = 4,60 / 46 = 0,10 mol
6) n = 3,80 / 46 = 0,08 mol
Temperatur Ethanol

T = Takhir T awal
1) T = 304,5K 299K = 5,5K
2) T = 306K - 299K = 7K
3) T = 305K 299K = 6K
4) T = 305K 299K = 6K
5) T = 303K - 299 K = 4K
6) T = 302,5K 299K = 3,5K

Temperatur Air
T = Takhir T awal
1) T = 304,5 K 300K = 4,5K
2) T = 306K 300K = 6K
3) T = 305K 300K= 5K
4) T = 305K 300 K= 5K
5) T = 303K 300K = 3K
6) T = 302,5K 300K = 2,5K

Kalor yang diserap air (Qair)


Qair

= mair x c x Ta

1) Qair = 18gr x 4.2 j gr-1 K-1 x 4,5 K = 340,2 J


2) Qair

= 27gr x 4.2 j gr-1 K-1 x 6 K = 680,4 J

3) Qair

= 36gr x 4.2 j gr-1 K-1 x 5 K = 756 J

4) Qair

= 36gr x 4.2 j gr-1 K-1 x 5 K = 756 J

5) Qair = 26gr x 4.2 j gr-1 K-1 x 3 K = 327.6 J


6) Qair

= 45gr x 4.2 j gr-1 K-1 x 2,5 K

= 472,5 J

Kalor yang diserap ethanol (Qet)


Qet = met x c x Tm
1) Qet = 22,9 gr x 1,92 j gr-1 K-1 x 5,5 K

= 241,824 J

2) Qet = 15,3 gr x 1,92 j gr-1 K-1 x 7 K = 205,632 J


3) Qet = 11,5 gr x 1,92 j gr-1 K-1 x 6 K = 132,48 J
4) Qet = 9,20 gr x 1,92 j gr-1 K-1 x 6 K = 105,984 J
5) Qet = 4,60 gr x 0,61 j gr-1 K-1 x 4 K = 11,224 J
6) Qet = 3,80 gr x 0,61 j gr-1 K-1 x 3,5 K

= 8,113 J

Kalor yang diserap kalorimeter (Qkal)


Q kal

= k x T

1) Q kal

= 112 J K-1 x 4,5K

= 504 J

2) Q kal

= 112 J K-1 x 6K

= 672 J

3) Q kal

= 112 J K-1 x 5K

= 560 J

4) Q kal

= 112 J K-1 x 5K

= 560 J

5) Q kal

= 112 J K-1 x 3K

= 336 J

6) Q kal

= 112 J K-1 x 2,5K

= 280 J

Kalor pelarutan (Q)


Q

= Qair + Qmet + Q kal

1) Q = 340,2 J + 241,824 J + 504 J

= 1086,024 J

2) Q = 680,4 J + 205,632 J + 672 J

= 1558,032 J

3) Q = 756 J + 132,48 J + 560 J

= 1448,48 J

4) Q = 756 J + 105,984 J + 560 J

= 1421,984 J

5) Q = 327,6 J + 11,224 J + 336 J

= 674,824 J

6) Q = 472,5 J + 8,113 J + 280 J

= 760,613 J

H Pelarutan

1) H = 1086,024 J / 0,71 mol = 1529,611 J mol-1


2) H = 1558,032 J / 0,49 mol = 3179,657 J mol-1
3) H = 1448,48 J / 0,41 mol

= 3532,878 J mol-1

4) H = 1421,984 J / 0,27 mol = 5266,607 J mol-1


5) H = 674,824 J / 0,17 mol = 3969,553 J mol-1
6) H = 760,613 J/ 0,12 mol

= 6338,442 J mol-1

4.1.4 Penentuan Kalor Penetralan NaOH-HCl


TNaOH = 270C +273= 300 K
THCl

= 270C +273= 300 K

larutan = 1.03 gr/cm3


Clarutan = 3.96 J/gK
Tcamp/akhir = 350C +273 K =308 K
Tawal = TNaOH + THCl /2 =300 K + 300 K/2 = 300 K
Vlarutan = VHCl + V NaOH= 20 mL +20 mL =40 mL
NaOH + HCl NaCl + H2O

mol NaOH =

x 2 = 0,04 mol

mol HCl =

x 2 = 0,04 mol

T = Tcamp Tawal = 308 K-300 K = 8 K


Q1 = mlarutan x Clarutan x T
= 40gr x 1,03 x 3,96.8 =1305,216 J
Q2 = k x T
= 112. 8
= 896 J

Q3 = Q1 + Q2
= 1305,216 +896
=2201,216 J
Maka,
H Penetralan = kalor reaksi /mol hasil reaksi
= 2201,216 /0,04= 55030,4 J/mol
=55,0304 kJ/mol

4.2 Grafik
a. Penentuan tetapan calorimeter

b. Penentuan kalor reaksi

c.

Penentuan kalor penetralan NaOH-HCl

PEMBAHASAN
Termokimia atau energetika kimia dalah ilmu yang mempelajari perubahan kalor
dalam reaksi kimia. Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan empat kali percobaan,
yaitu penentuan tetapan kalorimeter, penentuan kalor reaksi Zn(s) CuSO4 (aq), penentuan
kalor pelarutan Ethanol-air dan penentuan kalor penetralan NaOH HCl. Pada percobaan
kali ini digunakan kalorimeter, yang dipergunakan untuk mengukur jumlah kalor yang
diserap atau dilepaskan. Pada percobaan ini digunakan kalorimeter karena kalorimeter
mempunyai sifat yang khas dalam mengukur panas. Ini dapat terjadi karena kalorimeter
sendiri (baik gelas , polistirena atau logam ) mengisap panas yang diserap, sehingga semua
panas terukur.
A. Penentuan tetapan calorimeter

Pada percobaan penentuan tetapan kalorimeter, air yang bersuhu ruangan (28o C)
dimasukkan kedalam kalorimeter ditambahkan dengan air dengan yang mempunyai suhu
lebih tinggi (38oC). Pengukuran waktu menggunakan stopwatch dilakukan bersamaan dengan
menuangkan air dengan suhu lebih tinggi kedalam kalorimeter. Pembacaan suhu dilakukan
setiap 1 menit selama 7 menit agar dapat mengetahui perubahan kalor yang terjadi.
Pengadukan campuran dilakukan untuk mempercepat jalannya reaksi. Pada proses ini (tidak
terjadi reaksi kimia tetapi proses fisik), kenaikan tempratur air dingin (T) dapat dihitung
dengan menggunakan pengurangan suhu maksimum yang konstan dengan suhu air dingin
(304K 301K = 3K). Sedangkan penurunan temperatur air panas (t) dapat dihitung dengan
menggunakan pengurangan suhu air panas dengan suhu maksimum yang konstan (311K
304K = 7K). Setelah diperoleh (T) dan (t) maka dapat diperoleh tetapan sebesar 112 J K-1.
B.

Penentuan kalor reaksi Zn(s)-CuSO4 (aq)


Percobaan ini bertujuan untuk menentukan nilai kalor reaksi dari 40 ml CuSO4 0,5 M
dengan Zn(s) 0,989 gram. Waktu yang dibutuhkan untuk menguji larutan adalah selama 10
menit. Pada saat awal, berdasarkan rata-rata temperatur, CuSO4 memilki suhu 28,5 0C.
Setelah dilakuan pencampuran dengan 0,989 gram Zn padat, suhu larutan naik menjadi 33 oC.
kenaikan suhu ini terjadi. Pada menit ke-3 suhu pencampuran naik menjadi 32,5 oC. pada
menit ke-4 sampai menit ke 10, suhu naik sebanyak 0,5 oC. Dan suhu bertahan di 33oC, pada
saat ini seluruh zat dalam larutan bereaksi seutuhnya sehingga menghasilkan suhu maksimal,
pada saat yang sama suhu larutan konstan. Dari reaksi
Zn

+ CuSO4 Cu +ZnSO4

suhu sistem dengan lingkungan pada saat itu sudah mengalami kesetimbangan sehingga suhu
sistem tetap.
Dari perhitungan didapatkan entalphi reaksinya adalah 183,9456 kJ mol-1. Nilai ini
merupakan nilai positif, ini berarti dari reaksi tersebut terjadi reaksi endoterm, yaitu reaksi
yang memerlukan kalor.
C.

Penentuan kalor pelarutan ethanol-air


Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kalor pelarutan ethanol
dengan air. Pada percobaan terjadi kenaikan suhu maka reaksi ini merupakan
reaksi yang menyerap kalor (endoterm).Percobaan dilakukan dengan
berbagai perbandingan dimana volume air semakin diperbesar sedangkan
volume ethanol semakin diperkecil, seperti pada tabel berikut:

NO

Perbandingan Volume H

Pelarutan

1.

Air : ethanol
18 : 29

2.

27 : 19,3

3179,657

3.

36 : 14,5

3532,878

4.

36 : 11,6

5266,607

5.

26 : 5,8

3969,553

6.

45 : 4,8

6338,442

(J/mol)
1529,611

Dari data di atas dapat kita lihat bahwa jika perbandingan volume air lebih
besar dibandingkan dengan volume ethanol, maka semakin besar H
Pelarutannya dan jika nilai perbandingan mol air : mol ethanol semakin
besar, maka H reaksinya pun semakin besar.
D. Penentuan kalor penetralan NaOH-HCl
Pada percobaan penentuan kalor penetralan, larutan asam dan basa harus memiliki
suhu yang sama, sebab jika suhunya berbeda maka perubahan kalor yang terjadi bukan hanya
berasal dari kalor reaksi melainkan dari kalor campuran kedua larutan dengan suhu berbeda.
Setelah suhu kedua larutan sudah sama(TNaOH=THCl= 27oC),barulah dicampurkan kedalam
kalorimeter untuk melihat perubahan suhu yang terjadi untuk menentukan perubahan kalor
reaksi penetralan.
Setelah dicampurkan, ternyata suhunya mengalami kenaikan sebesar 8 oC menjadi
35oC Suhu tersebut merupakan suhu maksimal karena pada kondisi tersebut telah terjadi
penyerapan kalor dari kalorimeter ke dalam larutan campuran (reaksi endoterm). Setelah
dilakukan pengolahan data dari NaOH+HCl atau OH- + H+ maka diperoleh nilai perubahan
entalphi penetralan bernilai positif sebesar 55,0304 kJ/mol.

KESIMPULAN
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam setiap reaksi kimia akan selalu
disertai dengan perubahan energi. Perubahan energi ini dapat dilihat salah satunya dari
perubaan suhu yang terjadi.

Perubahan kalor atau entalpi dapat ditentukan dengan besarnya perbedaan entalpi zat yang
bereaksi dan zat hasil reaksi.

Tetapan kalorimeter adalah sebesar 112 J K-1

Kalor reaksi sebesar 1229,304 J Kalor reaksi tergantung pada massa zat, kalor jenis, dan
perubahan suhu yang terjadi.

Kalor reaksi tergantung pada massa zat, kalor jenis, dan perubahan suhu yang terjadi.

Kalor pelarutan sebesar 1086,024 J; 1558,032 J; 1448,48 J; 1421,984 J; 674,824 J;


760,613J

Kalor penetralan sebesar 55,0304 kJ/mol

Pada percobaan pelarutan ethanol air, terdapat hubungan berbanding lurus antara H
pelarutan dengan perbandingan mol air / mol ethanol.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Drs Hiskia.1992. Wujud Zat dan Kesetimbangan Kimia. Bandung : PT Citra
Aditya Bakti.
Alberty, Robert. 1992. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.
Purba, Michael. 2003. Kimia 2000. Jakarta: Erlangga.