Anda di halaman 1dari 15

Pengaruh Pemberian Booklet Kemoterapi terhadap Kemampuan Perawatan Diri

Penderita Kanker Payudara Pasca Kemoterapi Di Ruang Bedah


Rumah Sakit Abdul Moeloek (Rsam) Bandar Lampung
Dan
The Management Of Cancer-Related Fatigue After Chemotherapy
With Acupuncture And Acupressure: A Randomised Controlled Trial

Risva Antika
220112160028

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Jurnal 1
Riskesdas 2013 prevalensi kanker di Indonesia 1,4 per 1000 atau
sekitar 330.000 orang, di Provinsi Lampung mengalami peningkatan dari 0,02%
(2010), 0,04% (2011) dan 2012 sebesar 0,04 % (Riskesdas 2012). Data Kanker
payudara yang dikeluarkan oleh tim penanganan kanker Rumah Sakit Umum
Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) sesuai data Instalasi Patologi Anatomik (PA)
rumah sakit tipe B pendidikan tersebut, sebanyak 597 (3,6%) pasien terdiagnosis
menderita kanker payudara pada tahun 2013, tahun 2014 sebanyak 471 (2,7%)
pasien dan tahun 2013 terdiagnosis sebanyak 605 (5,3%) pasien.
Beberapa penelitian yang dilakukan hanya melihat hubungan antara
faktor risiko dengan terjadinya kanker payudara, tanpa melihat bagaimana pengaruh
kemoterapi terhadap efek samping yang dialami klien. Berdasarkan hal tersebut
peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh pemberian booklet kemoterapi terhadap
kemampuan perawatan diri penderita kanker payudara pasca kemoterapi di ruang
bedah RSAM Provinsi Lampung tahun 2016.
Penelitian dilakukan mulai tanggal 1-30 Januari 2016, desain quasi
eksperimen dengan one group, pre test dan post test. Populasi 65 ibu dengan kanker
payudara pasca kemoterapi, sampel sejumlah 56 responden. Analisis data dengan uji
t dependent. Hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata perilaku perawatan diri
penderita kanker payudara pasca kemoterapi sebelum pemberian booklet adalah 4,70
dengan standar deviasi 1,249. Nilai rata-rata nilai perilaku perawatan diri penderita
kanker payudara pasca kemoterapi setelah pemberian booklet adalah 7,82 dengan
standar deviasi 1,478. Hasil uji statistik didapatkan nilai p= 0,000, berarti pada alpha
5% dismpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara perilaku perawatan diri
penderita kanker payudara pasca kemoterapi sebelum dan setelah pemberian booklet
kemoterapi.
1.2 Jurnal 2
CRF merupakan gejala umum di pasien kanker, yang dialami oleh
73,8-90,5% dari pasien yang menerima kemoterapi dan 44-80,8% dari pasien yang

menerima radioterapi. Sebanyak 40% pasien kanker mungkin mengalami kelelahan


bahkan bertahun-tahun setelah mereka menyelesaikan treatments. Dalam penilaian
kualitatif dari 37 pasien yang mengalami kelelahan, dampak CRF adalah
multidimensional yang berdampak terhadap fungsi peran, rutinitas sehari-hari,
kehidupan sosial, kemampuan mental, status emosional, dan nafsu makan. Namun,
dengan dilakukannya pendidikankesehatan kepada pasien mengenai di mana pasien
yang menerima pengetahuan persiapan, termasuk sensorik informasi, menunjukkan
penurunan yang signifikan dalam gejala nyeri dan kelelahan dibandingkan dengan
kontrol group. Latihan terbukti memiliki andil besar untuk pengelolaan fatigue.
Namun, sebagian besar lainnya menyarankan pasien untuk tidur yang bertujuan
menghemat energi dan mengurangi stres.
Tujuan dari penelitian adalah
acustimulation
dan

satu

dengan

dua

non-invasif)

untuk

metode

untuk

yang

menghilangkan

mengetahui

berbeda
CRF

pada

efektivitas

(satu

invasif

pasien

kanker

setelah menyelesaikan kemoterapi. Penelitian ini merupakan uji coba terkontrol


secara acak terhadap 47 pasien dengan kanker yang mengalami sedang kelelahan
parah

BAB II
ANALISIS JURNAL
2.1 Jurnal 1
Kanker (neoplasma) merupakan penyebab kematian pertama di dunia.
Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan selsel jaringan
tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker kemudian menyerang dan merusak
jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang
bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis)
(Ghofar, 2009).
Menurut

Persatuan Ahli

Bedah

Onkologi

Indonesia

(2005),

penatalaksanaan / pengobatan utama penyakit kanker meliputi empat macam


yaitu pembedahan, radioterapi, kemoterapi dan hormonterapi. Pembedahan
dilakukan untuk mengambil massa kanker dan memperbaiki komplikasi yang
mungkin terjadi. Sementara tindakan radioterapi dilakukan dengan sinar ionisasi
untuk menghancurkan kanker. Kemoterapi dilakukan untuk membunuh sel
kanker dengan obat antikanker (sitostatika). Sedangkan hormonterapi dilakukan
untuk mengubah lingkungan hidup kanker sehingga pertumbuhan sel-selnya
terganggu dan akhirnya mati sendiri. Keberhasilan pengobatan ini tergantung
dari ketentuan pasien dalam berobat dan tergantung pada stadiumnya.
Kemoterapi dapat membantu dalam pembuatan rencana yang realistis oleh
perawat, pasien dan keluarga. Misalnya, kemungkinan untuk sembuh, hidup
lebih panjang tanpa gejala/tanda kanker atau hanya meringankan gejala kanker
agar pasien hidup lebih nyaman merupakan keuntungan yang melebihi risiko
efek

samping

dan

kemoterapi

yang

sifatnya

sementara.

Kemoterapi

menyembuhkan lebih dari 90% pria penderita kanker buah zakar yang telah
menyebar dan sekitar 98% wanita penderita korio karsinoma atau kanker rahim
(Junaidi, 2007).
Beberapa efek samping yang tidak diinginkan akan timbul selama
kemoterapi. Berat ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak
hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh, kondisi psikis pasien. Efek
samping kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak
hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama

sel-sel yang membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang
dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan (Bakhtiar, 2012).
Efek samping terapi tersebut adalah rambut rontok bahkan sampai
botak dapat terjadi selama pemberian kemoterapi, gangguan pada sumsum
tulang yaitu berkurangnya hemoglobin, trombosit, dan sel darah putih, membuat
tubuh lemah, merasa lelah, sesak nafas, mudah mengalami perdarahan, dan
mudah terinfeksi, kulit membiru/menghitam, kering, serta gatal, pada mulut dan
tenggorokan terdapat sariawan, terasa kering, dan sulit menelan, adanya mual
dan muntah, nyeri pada perut saluran pencernaan, produksi hormon terganggu
sehingga menurunkan nafsu seks dan kesuburan (Bakhtiar, 2012).
Dampak dari pengobatan kanker (kemoterapi) dapat menyebabkan
ketidakmampuan berjalan atau menggerakkan tangan sehingga tidak mampu
melakukan pekerjaan apapun dan beraktivitas sebagaimana sebelum sakit.
Keadaan ini dapat menyebabkan penilaian negatif terhadap diri sendiri dan
menjadi tidak percaya diri karena jadi bergantung pada orang lain, merasa
menjadi beban bagi keluarga dan merasa tidak berguna (Lubis, 2009). Hilangnya
bagian badan, tindakan operasi, proses patologi penyakit, perubahan struktur dan
fungsi tubuh, proses tumbuh kembang, prosedur tindakan dan pengobatan
merupakan situasi atau stressor yang dapat mempengaruhi konsep diri dan
komponennya yakni citra tubuh, ideal diri, harga diri, penampilan peran, dan
identitas personal. Pengobatan kanker itu sendiri memberi dampak negatif pada
fisik maupun mental dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap konsep diri.
Jika konsep diri menderita, maka pikiran dan tingkah laku seseorang akan
menjadi terganggu, begitu seterusnya. Mengalami kebotakan dan menyebabkan
ia merasa tubuhnya tidak menarik lagi serta merasa bahwa suami tidak tertarik
lagi pada dirinya. Namun gangguan harga diri pada penderita penyakit kanker,
kemungkinan mengalami hubungan interpersonal yang tidak harmonis. Kondisi
penderita kanker serviks stadium lanjut tidak dapat kembali ke keadaan semula,
dikarenakan gangguan konsep diri yang terjadi dalam dirinya yakni kecacatan
tubuh dan penurunan fungsi organ tubuh (Lubis, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh Saraswati (2009) di Ruang Rawat Inap
RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan menggunakan 30 orang pasien kanker yang
telah mendapat kemoterapi sebagai responden, yang hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa sebagian besar konsep diri responden yang menghadapi


kemoterapi tergolong sedang yaitu sebesar (87%), konsep diri responden
tergolong tinggi (13%) sedangkan proporsi terkecil yang mendapat kemoterapi
adalah konsep diri yang tergolong rendah yaitu (0%). Dapat disimpulkan bahwa
konsep diri penderita kanker yang mendapat kemoterapi di Ruang Rawat Inap
RSUP Dr. Kariadi Semarang tergolong sedang.

2.1 Jurnal 2
Kanker merupakan suatu ancaman serius terhadap kesehatan
masyarakat, karena insiden dan angka kematiannya terus merayap naik. Banyak
terapi yang dilakukan terhadap kanker, diantaranya kemoterapi yang umumnya
digunakan untuk terapi sistemik dan kanker dengan metastasis klinis ataupun
subklinis. Pada kanker stadium lanjut secara lokal, kemoterapi sering menjadi
satusatunya metode pilihan yang efektif. Hingga saat ini obat anti kanker jenis
kemoterapi yang sudah dapat digunakan secara klinis mencapai 70 jenis lebih.
Obat-obat kemoterapi sering menimbulkan efek samping bagi pasien terutama
kelelahan dengan derajat yang bervariasi.
Kelelahan (Cancer-related fatigue atau CRF) yang berhubungan
dengan kanker adalah gejala subjektif yang paling umum setelah kemoterapi
yang dialami oleh pasien kanker dan dilaporkan lebih mengganggu kegiatan
sehari-hari daripada efek samping lain, misalnya nyeri. Dampak CRF adalah
multidimensional yang berdampak terhadap fungsi peran, rutinitas sehari-hari,
kehidupan sosial, kemampuan mental, status emosional, dan nafsu makan.
Namun, dengan dilakukannya pendidikan kesehatan kepada pasien mengenai di
mana pasien yang menerima pengetahuan persiapan, termasuk sensorik
informasi, menunjukkan penurunan yang signifikan dalam gejala nyeri dan
kelelahan dibandingkan dengan kontrol group. Latihan terbukti memiliki andil
besar untuk pengelolaan fatigue. Namun, sebagian besar lainnya menyarankan
pasien untuk tidur yang bertujuan menghemat energi dan mengurangi stres.
Terapi komplementer dan alternatif populer dengan pasien kanker, dan
sering digunakan untuk mengelola efek samping dari treatments kanker.
Beberapa bukti awal adalah akupresur yang (Bentuk non-invasif akupunktur)

sangat membantu dalam mengurangi kelelahan pada pasien COPD. Selanjutnya,


akupresur dan stimulasi transkutan listrik ditemukan efektif dalam mengurangi
kelelahan, masalah tidur dan depresi dalam sampel dari 106 pasien yang
menjalani haemodialysis.
Akupunktur adalah terapi komplementer populer di kalangan pasien
kanker dan beberapa bukti ada yang berpotensi meringankan kelelahan dengan
merangsang poin 'energi' di tubuh. Di kelompok akupunktur, pasien memiliki
20-min sesi akupunktur tusuk jarum di tiga poin (LI4, SP6 dan ST36), bilateral
tiga kali seminggu selama 2 minggu berdasarkan Pengobatan Cina Tradisional.
Hal ini adalah cara tradisional yang digunakan untuk poin 'energi' selama 2000
tahun terakhir (terutama ST 36) dan memutuskan setelah berkonsultasi dengan
dua acupuncturists. Tempat yang ditusuk tegak lurus dengan kedalaman 0,5-1,
bilateral dan dipertahankan selama 20 menit. Kedalaman tusuk jarum tergantung
pada pasien, sensitivitas dan keadaan kesehatan. Jarum yang digunakan adalah
jarum Hwato, ppenggunaannya tunggal berukuran 32/ 0.25 mm. Lokasi poin
adalah: ST 36 - di bawah lutut, di anterior asrama tibia; SP6 - di atas ujung
medial maleolus dan posterior ke perbatasan medial tibia; LI4 - di punggung
tangan antara tulang metakarpal pertama dan kedua. Ahli akupunktur
menjentikkan atau memutar jarum (Sekali atau dua kali per sesi), praktik standar
untuk memperoleh 'de qi' dan menentukan titik lokasi yang tepat. Ada
rangsangan manual dari jarum, ST36 dan SP6 yang tonified dan bahkan
stimulasi diaplikasikan LI4. Ahli akupunktur segera setelah sesi mengisi lembar
audit dan memverifikasi pengobatan yang diberikan. Percakapan selama setiap
sesi didokumentasikan hanya untuk memfasilitasi pengobatan. Dalam akupresur
kelompok, teknik yang digunakan adalah tonifying, dan pasien diajarkan untuk
menerapkan tekanan untuk sama poin, 1 menit masing-masing, setiap hari
selama 2 minggu. Akhirnya, kelompok sham akupresur diajarkan untuk
menerapkan tekanan dalam tiga poin yang tidak terkait dengan 'energi' di
Pengobatan tradisional Cina (LI12, GB33 dan BL61) dengan cara yang sama
seperti pada kelompok akupresur. Teknik tekanan adalah diajarkan pada kedua
kelompok akupresur di identik cara. Pasien dalam kelompok akupresur yang
diberitahu bahwa kita menguji efek dari dua set poin, dan tidak ada yang jelas
baru yang satu set teknik palsu. Tidak ada co intervensi yang digunakan untuk

salah

satu

kelompok

perlakuan.

praktisi

dilatih dalam akupunktur melalui 3 tahun program gelar di sebuah universitas di


Inggris, memiliki 1 tahun pengalaman klinis pasca-kualifikasi dan pengalaman
kerja sebelumnya dengan kanker pasien.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Jurnal 1
Hasil penelitian sesuai dengan teori edukasi Setiawati (2008) yang
menyatakan bahwa edukasi merupakan serangkaian upaya yang ditujukan untuk
mempengaruhi orang lain, mulai dari individu, kelompok, keluarga dan
masyarakat agar terlaksananya perilaku hidup sehat. Edukasi merupakan satu
bentuk intervensi mengubah perilaku secara terencana untuk membantu klien
baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah
kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, untuk dapat lebih mandiri dalam
mencapai hidup sehat. Tujuan edukasi adalah untuk mengubah pemahaman
individu, kelompok, dan masyarakat di bidang kesehatan agar menjadikan
kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai, mandiri dalam mencapai tujuan hidup
sehat, serta dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dengan
tepat dan sesuai (Suliha, 2002).
Notoatmodjo (2010) mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi
tiga kelompok yaitu:
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan
Perilaku pemeliharaan kesehatan yang meliputi tiga aspek :
- Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta
-

pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.


Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat

perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan optimal.


Perilaku gizi (makanan dan minuman). Makanan dan minuman dapat

memelihara dan meningkatkan kesehatan seseorang.


2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan,
atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan. Perilaku ini menyangkut
upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau kecelakaan.
3. Perilaku kesehatan lingkungan. Bagaimana seseorang merespon lingkungan,
baik fisik, sosial budaya sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi
kesehatannya.
Notoatmodjo (2007) menjelaskan perubahan perilaku baru dalam
kehidupannya melalui tiga tahap yaitu pengetahuan, sikap dan praktik/ tindakan.
Teori perubahan perilaku kesehatan ini mendasari praktik pelayanan kesehatan
yang berupaya untuk mengubah perilaku masyarakat agar pro aktif dalam
mencari pelayanan kesehatan, terutama bagi mereka yang berisiko menderita

penyakit keganasan seperti kanker payudara. Berbagai terapi kanker payudara


dapat juga mengakibatkan komplikasi atau berbagai permasalahan kesehatan
lainnya, untuk itu diperlukan upaya memandirikan klien
dalam perawatan diri.
Pendidikan kesehatan melalui booklet mempunyai 3 tujuan dalam
upaya meningkatkan kemampuan klien secara mandiri dalam perawatan diri,
sesuai dengan teori, yaitu : 1) Cure (pengobatan kemoterapi, 2) Control
penyakit, dan 3) Palliation (mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup
dari pasien).
Prosedur pelaksanaan kemoterapi di RSAM telah dilakukan sesuai
prosedur yang ditentukan, terutama saat inform consent, hanya saja pada mereka
yang mendapatkan booklet tampak lebih tenang menghadapi kemoterapi karena
mendapatkan pengetahuan secara lisan dan tertulis. Edukasi booklet dalam
penelitian ini mempunyai tujuan yang sama dengan tujuan edukasi menurut
Notoatmodjo (2010) yaitu :
1.1 menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat
2.1 menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok
mengadakan kegiatan untuk mencapai hidup sehat
3.1 mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan
kesehatan yang ada.
Tujuan edukasi di atas adalah untuk mengubah pemahaman individu,
kelompok, dan masyarakat di bidang kesehatan agar menjadikan kesehatan
sebagai sesuatu yang bernilai, mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat, serta
dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dengan tepat dan
sesuai (Suliha, 2002).
Peran perawat salah satunya adalah sebagi educator atau sebagai
pendidik, yaitu dapat membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi
perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Maka dari
itu, booklet kemoterapi dapat menjadi alternatif yang digunakan oleh perawat
atau tenaga medis lain untuk memberikan pendidikan kesehatan secara langsung
dan keseragaman informasi. Untuk itu diperlukan dukungan dari pihak
manajemen rumah sakit untuk memfasilitasi ketersediaan booklet di ruang
kemoterapi. Institusi pendidikan dalam setiap mata kuliah, hendaknya juga
mengembangkan berbagai bentuk media kreatif dan inovatif yang dapat

digunakan mahasiswa dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada klien


dan keluarga.

3.2 Jurnal 2
Hasil studi ini menunjukkan bahwa akupunktur menghasilkan
perbaikan klinis yang bermakna di tingkat kelelahan pasien lelah kronis setelah
kemoterapi. Pertama uji coba secara acak menguji efek dari akupunktur
kelelahan terkait kanker, dan berarti peningkatan kelelahan umum setelah
kursus dari enam sesi adalah 36%. tingkat perbaikan adalah sedikit lebih tinggi.
Fase terakhir Penelitian II melakukan menunjukkan bahwa akupunktur layak
diuji lebih lanjut, dan uji coba kami dikonfirmasi bahwa perbaikan yang
berkelanjutan bila menggunakan acak desain trial. Perbaikan dalam kaitannya
dengan akupresur di poin yang sama juga ditampilkan, meskipun besarnya
mereka adalah jauh lebih rendah daripada yang terlihat di pasien akupunktur.
Namun demikian, meskipun yang perbaikannya lebih rendah, itu bisa
berpotensi menjadi alternatif intervensi untuk pasien kanker dengan kelelahan,
terutama mereka dengan phobia jarum, mereka yang tidak dapat melakukan
atau menerima akupunktur, atau mereka yang tidak memiliki akses ke ahli
akupunktur. Ini adalah sebuah metode yang mudah, biaya terjangkau serta
pasien mengatakan itu menyenangkan dan bermanfaat. Akan tetapi, seperti
yang ditunjukkan dari hasil ANCOVA, akupunktur menunjukkan secara
signifikan lebih tinggi perbaikan dibandingkan dengan akupresur, maka
stimulasi yang kuat dari titik-titik meridian yang relevan dikaitkan dengan
peningkatan lebih kelelahan.
Hasil penelitian ini tidak memiliki efek plasebo jelas, sebagai pasien
kelompok akupresur palsu (yang diberitahu bahwa mereka menggunakan yang
berbeda Kombinasi poin dari akupresur lainnya kelompok) tidak meningkatkan
sama sekali. Namun, efek plasebo terutama pada kelompok akupunktur tidak
bisa dikesampingkan, karena mereka mendapat perhatian lebih oleh terapis dan
bentuk pengobatan yang lebih aktif. Dampak yang signifikan antara
akupunktur dan kelelahan mental yang diamati dalam analisis regresi.
Selanjutnya, satu-satunya pasien dalam kelompok akupunktur yang memiliki

peningkatan kelelahan adalah seorang pasien juga hipotiroidisme. Untuk


penelitian selnjutnya, kriteria eksklusi yang dimasukkan adalah pasien dengan
hypothyroidism. Kesulitan awal yang dialami dalam penelitian ini adalah
dalam perekrutan pasien dengan skor kelelahan> 5 (pada skala 0-10), yaitu
mereka yang mempunyai kelelahan cukup tinggi.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Jurnal 1
4.1.1

Simpulan
Nilai rata-rata perilaku perawatan diri penderita kanker

payudara pasca kemoterapi sebelum pemberian booklet adalah 4,70


dengan standar deviasi 1,249. Nilai rata-rata nilai perilaku perawatan
diri penderita kanker payudara pasca kemoterapi setelah pemberian
booklet adalah 7,82 dengan standar deviasi 1,478. Hasil uji statistik
didapatkan nilai p= 0,000, berarti pada alpha 5% terlihat bahwa ada
pengaruh yang signifikan antara perilaku perawatan diri penderita
kanker payudara pasca kemoterapi sebelum dan setelah pemberian
booklet kemoterapi.
4.1.2 Saran
Dalam pemberian edukasi kepada pasien bisa dilakukan
oleh tenaga medis atau mahasiswa dari suatu institusi yang
memungkinkan berbeda dalam tingkat pengetahuan, sehingga dari
pihak rumah sakit harus sebisa mungkin membuat booklet sesuai
prosedur yang benar agar edukasi dengan booklet maupun media lain
bisa seragam informasinya.
4.2 Jurnal 2
4.2.1 Simpulan
Hasil kami mendukung penggunaan akupunktur (dan untuk
batas akupresur yang lebih rendah) dalam pengelolaan kelelahan pada
pasien dengan kanker setelah kemoterapi. Namun, meskipun
menemukan hasil yang signifikan dengan ini relatif ukuran sampel
yang kecil, mereka harus diperlakukan sebagai awal karena tidak ada
perhitungan kekuasaan formal yang dilakukan, ketidakseimbangan
dalam pra-pengacakan kovariat mungkin kemungkinan, mungkin ada
pilihan Bias serta kesalahan tipe I meningkat rate. Multisenter uji coba
4.2.2

secara acak besar dibenarkan.


Saran
Saran untuk penelitian ini adalah, mungkin akan lebih baik
jika sebelum dilakukan intervensi pasien atau responden diberikan

edukasi mengenai intervensi-intervensi yang bisa dilakukan untuk


masalahnya, selain teknik komplementer akupresur atau akupuntur.

DAFTAR PUSTAKA
Syarif, Hilman, dkk. 2011. Terapi Akupresur Dapat Menurunkan Keluhan Mual Dan
Muntah Akut Akibat Kemoterapi Pada Pasien Kanker : Randomized Clinical
Trial. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 14, No. 2, Juli 2011; hal 133-14.
http://jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/view/321,

diakses

pada

tanggal

September 2016
Molassiotis, Alexander, etc. 2007. The Management Of Cancer-Related Fatigue After
Chemotherapy With Acupuncture And Acupressure: A Randomised Controlled
Trial. Complementary Therapies in Medicine (2007) 15, 228237, diakses
pada tanggal 3 September 2016
Anita, P. Sukamti Tri. 2016. Pengaruh Pemberian Booklet Kemoterapi terhadap
Kemampuan Perawatan Diri Penderita Kanker Payudara Pasca Kemoterapi Di
Ruang Bedah Rumah Sakit Abdul Moeloek (Rsam) Bandar Lampung. Jurnal
Kesehatan, Volume VII, Nomor 1, April 2016, hlm 26-33, diakses pada tanggal
3 September 2016