Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu
komoditas pertanian

yang

mempunyai

nilai

ekonomi

yang

tinggi,

antara lain sebagai bahan baku industri makanan dan berfungsi


menjadi

tanaman

sebagai

bahan

konservasi

baku

industri

pada

lahan marjinal.

makanan

menempati

Kacang

mete

posisi utama

dibandingkan dengan jenis tree nuts lainnya, dikarenakan harga kacang


mete relatif mahal (Kementrian pertanian, 2013).
Komoditas jambu mete mempunyai keunggulan

kompetitif

dibandingkan dengan komoditas lainnya. Daerah sebelumnya marginal,


beriklim panas dan kering, puluhan tahun belakang ini sudah menjadi
sentra produksi jambu mete (Darwati dkk., 2013; Salam, 2014). Provinsi
Sulawesi Tenggara merupakan daerah penghasil jambu mete terbesar di
Indonesia. Penghasil

jambu mete utama adalah Sulawesi Tenggara

(30,3%), Nusa Tenggara Timur (20%), Sulawesi Selatan (15%), Jawa


Timur (8,7%, Nusa Tenggara Barat (7,4%), Bali (3,7%) dan daerah
pengembangan Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku Tenggara, dan
lain-lain (Anna, 2011; Salam, 2014).
Berdasarkan data yang didapat dari BPS Provinsi Sulawesi
Tenggara (2014), produksi jambu mete dari tahun 2011 sampai tahun
2013 terus mengalami peningkatan yaitu 14.310, 22.527 dan 25.882 ton,
dengan

luas

areal

tanaman

117.414

Ha,

namun

komoditas ini

menghasilkan limbah berupa kulit biji mete. Dalam setiap satu butir biji
mete, rata-rata terdiri dari 70% (berat) kulit biji dan 30% (berat) daging biji
(Simpen, 2008; Anna, 2011; Novarini, 2013) yang pemanfaatannya belum
optimum, sebagian besar masih merupakan limbah, sejuah ini kulit biji
mete merupakan sampah di daerah Sulawesi Tenggara (Anas, 2014).
Melimpahnya potensi kulit mete yang tidak termanfaatkan, maka limbah
tersebut dapat dijadikan komoditi yang menguntungkan dengan alternatif
pengolahan yang tepat, untuk dapat

dijadikan produk yang bernilai

ekonomi cukup tinggi.


Pada penelitian ini, peneliti memanfaatkan limbah kulit biji mete
sebagai sumber fenol dalam pembuatan vernis. Kulit biji mete merupakan
hasil samping dari industri pengolahan kacang mete yang mengandung
cairan kulit biji mete atau CNSL (Cashew Nut Shell Liquid) dengan
rendemen 30 - 35% (Towaha, 2011; Anas, 2014). Asap cair kulit biji mete
mengandung fenol CNSL sekitar 0,2-2,9% (Maga, 1988 dalam Anisah,
2014), dimana komponen utama penyusun CNSL terdiri atas senyawa
asam anakardat, kardanol dan kardol, senyawa tersebut merupakan
senyawa fenol alami (Cardolite Corporation, 2005; Towaha, 2011).
Menurut Kumar et al. (2002) dalam Hidayat dkk., (2008), komponen
terbesar dalam destilat CNSL yaitu senyawa kardanol sebanyak 94%,
sedangkan komponen lainnya senyawa kardol sebanyak 6% sebagai
pengotor.

Senyawa kardanol mempunyai struktur kimia yang mirip

dengan fenol sintetik, sehingga berpeluang untuk mensubstitusi maupun


menggantikan senyawa fenol sintetik dari turunan minyak bumi. Asap cair

yang mengandung CNSL pada kulit biji mete merupakan bahan alternatif
yang potensial untuk digunakan sebagai senyawa pensubtitusi phenol
atau pengganti phenol dalam pembuatan vernis (Ikhwal, 2012).
Keunggulan dari asap cair dari kulit biji mete ini adalah merupakan
sumber daya terbarukan, dimana ketersediaan bahan bakunya dapat
terjamin, berbeda dengan senyawa fenol sintetis yang disintesa dari
minyak bumi yang harga maupun keberadaannya sangat tergantung
kepada minyak bumi yang semakin menipis. Sementara tanaman jambu
mete cukup berpotensi untuk di kembangkan di Indonesia karena
tanaman ini dapat ditanam di lahan yang memiliki kondisi agroekologi
marginal dan beriklim kering, sehingga merupakan komodita andalan di
Kawasan Timur Indonesia (Novarini, 2013), selain itu persaingan lahan
dengan komoditas lainpun menjadi kecil.
Keunggulan lainnya adalah senyawa fenol dalam Asap cair serta
produk

turunannya

mempunyai

biodegrabilitas

tinggi,

sehingga

merupakan produk yang ramah lingkungan, berbeda dengan senyawa


fenol sintetis yang sulit terdegradasi oleh alam. Tyman dan Bruce (2004)
dalam Towaha dkk. (2011) menyatakan bahwa senyawa surfaktant
turunan seperti kardanol polietoksilat dan kardol polietoksilat dalam
periode 28 hari terdegradasi masing-masing sebanyak 75% dan 64%,
adapun surfaktant t-nonilphenil polietoksilat yang disintesa dari turunan
minyak bumi pada periode yang sama hanya terdegradasi sebanyak 13%.
Cardolite Corporation (2006) dalam Towaha (2011) menyatakan bahwa
CNSL dan produk turunannya mempunyai biodegrabilitas tinggi, dimana

dalam penelitiannya terhadap destilat CNSL, dalam periode 28 hari telah


terdegradasi sebanyak 96%.
Pengolahan kulit biji mete memberikan dampak positif terutama
bagi masyarakat disekitar antara lain berupa penyediaan lapangan kerja
(menambah

pendapatan

ekonomi),

mengurangi

limbah,

proses

pengolahan yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, karena


Proses kondensasi asap menjadi asap cair sangat bermanfaat bagi
perlindungan pencemaran udara yang ditimbulkan oleh proses pirolisis
(Haji dkk., 2007 dalam Rasydta, 2013), dan asap cair ini dapat
dimanfaatkan sebagai sumber fenol CNSL dalam pembuatan vernis.
Pemanfaatan asap cair dalam pembuatan vernis telah dilakukan
oleh Hidayat dkk., (2008), diperoleh dari nisbah mol formaldehida dengan
destilat CNSL 0,9:1 sangat sesuai sebagai bahan baku vernis, namun sifat
lapisan film yang dihasilkan cenderung keras dan kurang lentur. Ikhwal,
(2012), hasil penelitiannya menunjukan suhu pirolisis yang optimum untuk
produksi asap cair pada kulit biji mete yaitu suhu 400 oC. Perbandingan
kosentrasi asap cair : phenol (b/b) 50 : 50 dengan waktu reaksi 5 jam. Dari
hasil karakteristik vernis yang dihasilkan. berat jenis, viskositas, pH, waktu
kering, kekerasan, daya lengket dan ketahanan dalam air sudah
memenuhi standar, namun kadar padatan dan nilai gloss belum
memenuhi SNI No. 06-1009-1989.
Kadar fenol rata-rata asap cair yang dihasilkan dari sabut kelapa
adalah 3,03 %, sedangkan asap cair dari kulit kakao (2,2 %), kulit kopi
(2,11 %), daun cengkeh (2,20 %), daun sereh (1,23 %) dan jahe (1,33 %),
relative sama dengan asap cair dari sabut sawit (3,06 %), dan relative

lebih rendah dibandingkan dengan asap cair dari cangkang sawit (3,86 %)
dan tempurung kelapa (3,13 %) (Halim dkk, 2004 dalam Mappiratu 2009).
Tingginya kadar fenol asap cair memberikan indikasi asap cair sangat baik
digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan vernis.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang menjadi acuan dalam penelitian ini
adalah:
1. Berapa suhu optimum pirolisis dalam produksi asap cair
dari kulit biji mete.
2. Komposisi kimia apa yang terdapat pada asap cair dari
kulit biji mete.
3. Bagaimana pengaruh jumlah asap cair dan lama waktu
reaksi

polimerisasi

terhadap

kualitas

vernis

yang

dihasilkan.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Menentukan suhu optimum pirolisis dalam produksi asap
cair dari kulit biji mete.
2. Mengetahui komposisi kimia asap cair dari kulit biji mete.
3. Mengetahui pengaruh jumlah asap cair dan lama waktu
reaksi

polimerisasi

terhadap

kualitas

vernis

yang

dihasilkan.

D. Manfaat penelitian
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Salah satu upaya untuk penanganan masalah limbah kulit
biji mete.

2. Sebagai acuan dalam pengembangan dalam menghasilkan


produk yang bermanfaat dalam masyarakat.
3. Menemukan bahan baku yang efektif dan melimpah yang
berfungsi untuk aplikasi dalam pembuatan vernis