Anda di halaman 1dari 1

Wijayanto: Impor Rokok Elektrik Makin

Memperburuk Nilai Tukar Rupiah


June 16, 2015
Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel benar-benar
menerapkan janjinya untuk melarang peredaran rokok elektrik. Hal ini sesuai permintaan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan alasan kesehatan.
Saya kira sudah mulai untuk tidak diizinkan. Setahu saya kita memang tidak izinkan. Karena
permintaan dari Kemenkes begitu, ujarnya di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (12/6/2015).
Dia menjelaskan, sesuai permintaan Kemenkes tersebut, rokok elektrik dinilai memberi dampak
buruk bagi kesehatan.
Selain melarang beredar, Kemendag juga tak membolehkan produk tersebut masuk ke Indonesia.
Pasalnya, hingga saat ini belum ada temuan rokok elektrik yang diproduksi di dalam negeri.
Dari impor saja itu. Jadi itu bisa dihentikan dan tidak boleh dijual, tegas dia.
Pengamat kebijakan publik Paramadina Public Policy Institute (PPPI) Wijayanto Samirin
sebelumnya menilai, pemerintah telah mempertimbangkan aspek ekonomi dari rencana
kebijakan penghentian impor dan penjualan rokok elektrik selain dari sisi kesehatan.
Jika dibiarkan impor rokok elektrik akan semakin memperburuk neraca pembayaran
kita dan akhirnya berdampak buruk pada nilai tukar rupiah, ujar dia saat berbincang
dengan Liputan6.com.
Ia mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan pangsa pasar sangat menggiurkan sehingga
menjadi tujuan impor rokok elektrik meski konsumsi rokok elektrik di Tanah Air masih minim.
Namun demikian, sambung Wijayanto, pemerintah telah memikirkan kemungkinan adanya
pergeseran cara orang mengonsumsi rokok dari konvensional ke rokok elektrik di masa depan.
Artinya, kebijakan melarang impor dan penjualan rokok elektrik akan menguntungkan petani
tembakau di Indonesia.(Dny/Nrm)