Anda di halaman 1dari 9

BAB II

Pembahasan

2.1. Pengertian Hiperemesis


Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil
sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk,karena
terjadi dehidrasi (Mochtar,1998)
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah lebih dari 10
kali dalam 24 jam,sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari (Arief.B, 2009)
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan sehingga menimbulkan
gangguan aktivitas sehari hari dan bahkan membahayakan hidupnya. (Manuaba, 2001)
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari hari
terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. (Arif, 1999)
Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya
sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut
hiperemesis gravidarum. (Sastrawinata, 2004)
Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa
hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan
kehilangan berat badan. (Lowdermilk, 2004)
Hiperemesis gravidarum adalah suatu keadaan (biasanya pada hamil muda) dimana penderita
mengalami mual- muntah yang berlebihan, sedemikian rupa sehingga mengganggu aktivitas dan
kesehatan penderita secara keseluruhan. (Achadiat, 2004)
secara umum pengertian Hiperemesis adalah mual - muntah yang berlebihan dimana
semua yang dimakan atau diminum oleh ibu dikeluarkan sehingga mengakibatkan berat badan
sangat turun, turgor kulit kurang, diurese kurang, dan timbul aseton dalam air kencing sehingga
memerlukan perawatan dirumah sakit.
2.2 Etiologi hiperemesis
Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan- perubahan yang cukup besar yang mungkin
merusak keseimbangan didalam badan. Misalnya saja yang dapat menyebabkan mual dan
muntah ialah masuknya bagian bagian villus kedalam peredaran darah ibu, perubahan endokrin
misalnya hipofungsi cortex gl suprarenalis, perubahan metabolic dan kurangnya pergerakan

lambung. Tetapi bagaimana reaksi seorang wanita terhadap kejadian tersebut diatas tergantung
kekuatan jiwanya.
Pada Hiperemesis yang berat dapat diketemukan necrose dibagian sentral globules hati
atau degenerasi lemak pada hati, ini disebabkan oleh kelaparan bukan oleh adanya toxin.
Mungkin juga dapat terjadi kelainan degenerative pada ginjal kadang kadang ada
polineuretis akibat kekurangan vitamin B karena muntah. Secara pendek etiologi belum jelas
tetapi factor fisik sangat mempengaruhi. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati
dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :
a)

Faktor

predisposisi

yang

sering

dikemukakan

adalah

primigravida,

mola

hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan
ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua
keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
b) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta
resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik.
c) Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu
faktor organik.
d) Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya
dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Rumah tangga yang
retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung
jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan
muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian
karena kesukaran hidup.Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat
membantu mengurangi frekwensi muntah klien.

2.3 Tanda dan Gejala Hiperemesis


Batas mual muntah berapa banyak yang disebut hiperemisis gravidarum tidak ada
kesepakatan. Ada yang mengatakan, bisa lebih dari 10 kali muntah, akan tetapi apabila keadaan
umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemisis. Secara umum gejala dari Hiperemesis
muntah yang hebat, haus, dehidrasi, berat badan turun, keadaan umum mundur, kenaikan suhu

tubuh, ikterus, gangguan cerebral, laboratorium: protein, aseton, urobillinogen, porphyrin dalam
urin bertambah, silinder (+)
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga)
tingkatan yaitu :
1. Tingkatan I :
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah,
nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium.Nadi meningkat sekitar
100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan
mata cekung.
2. Tingkatan II :
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering
dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus.Berat
badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan
dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkatan III:
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai
koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal dapat
terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus
dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B
kompleks.Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.

2.4 Penatalaksanaan Hiperemesis


1. Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Luminal. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1
dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepertiAvopreg,Avomin. Anti histamin ini
juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin. Antasida

2.

Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang
baik.. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa
pengobatan.

3.

Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa
takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik,
yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

4.

Cairan parenteral
Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa
5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium
dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat
diberikan pula asam amino secara intra vena.

5.

Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan,
tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam
keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk
melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh
dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel
pada organ vital.

6.

Diet
a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan
tetapi 1 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat zat gizi, kecuali vitamin C,
karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.

Secara

berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama
makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.

c. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.


Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini
cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.
7. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di Rumah Sakit.
a. Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur di Rumah Sakit saja, telah banyak
mengurangi mual muntah.
b. Isolasi. Jangan terlalu banyak tamu kalau perlu rawat dan dokter saja yang boleh masuk. Kadang
kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual dan muntah.
c. Terapi psikologik. Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal
dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan faktor psikologis
seperti keadaan sosial ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan.
d. Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein hari. Bila perlu dapat
ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada
kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena
e. Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan diatas.
f. Pada beberapa kasus dan bila tetapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum
penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.

2.5 Pengertian Aborsi


Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan
hidup (Cunningham, 2006).
Abortus adalah berakirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar
kandungan (Saifuddin).
Keguguran atau abortus adalah terhentinya proses kehamilan yang sedang berlangsung
sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin sekitar 500 gram (Manuaba, 2007).
Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan
secara paksa sebelum janin mampu bertahan hidup jika dilahirkan (Varney, 2007).

Secara umum istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat

hidup didunia, anak baru mungkin hidup didunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram
atau umur kehamilan 28 minggu.
2.6 Etiologi Aborsi
Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut:
1.

Kelainan hasil pertumbuhan konsepsi


Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat.
Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor yang
menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut:

a. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan
pula kelainan kromosom seks
b.

Lingkungan kurang sempurna


Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga
pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi tergangganggu.

c. Pengaruh dari luar


Radiasi, virus, obat dan sebaginya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan
hidupnya dalan uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen
2.

Kelainan pada plasenta


Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenasi plasenta
tergganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini
bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun

3.

Penyakit ibu
Penyakit mendadak, seperti pnemonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain
dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus ata plasmodium dapat melalui plasenta masuk
kejanin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat,
keracunan,

laparatomi,

peritonitis

umum,

dan

penyakit

menahun

sperti

gruselosis,

mononukleosis infeksiosa, toksoplamosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih


jarang.
4.

Kelainan traktus genetalia

Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi,
harus dingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang
memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trismerster kedua ialah servik inkompeten
yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada servik, diltasi servik berlebihan, konisasi,
amputasi, atau robekan servik luas yang tidak dijahit. (Wiknjosastro, 2008; Walsh, 2008; Varney,
2007).

2.7 Tanda dan gejala Aborsi


Adanya gejala kehamilan ( terlambat haid,mual/muntah pada pagi hari ) yang disertai perdarahan
pervaginam ( mulai bercak sampai berrgumpal ) dan atau nyeri perut bagian bawah,
mengarahkan ke diagnosis abortus.
Pada abortus Imminens ( ancaman keguguran ) biasanya ditandai dengan perdarahan
pervaginam sedikit, nyeri perut tidak ada atau sedikit.belum ada pembukaan serviks.
Perdarahan pervaginam yang banyak ( dapat bergumpal-gumpal ), nyeri perut hebat, terdapat
pembukaan serviks.kadang-kadang tampak jaringan hasil konsepsi di ostium serviks ini biasanya
terdapat pada Abortus Insipiens ( keguguran sedang berlangsung ).
Abortus Inkompletus ( keguguran tidak lengkap ) ditandai dengan perdarahan pervaginam yang
banyak,nyeri perut sedang sampai hebat.Riwayat keluar jaringan hasil konsepsi sebagian, ostium
serviks bisa masih terbuka atau mulai menutup.
Abortus kompletus ( keguguran lengkap )
Perdarahan pervaginam mulai berkurang - berhenti, tanpa nyeri perut, ostium serviks sudah
tertutup.Riwayat keluar jaringan hasil konsepsi utuh, seluruhnya.
Missed Abortus ( keguguran yang tertahan )
Abortus dengan hasil konsepsi tetap tertahan intra uterin selama 2 minggu atau lebih.Riwayat
perdarahan pervaginam sedikit, tanpa nyeri perut, ostium serviks tertutup.Pembesaran uterus

tidak sesuai ( lebih kecil ) dari usia gestasi yang seharusnya.


2.8 Penatalaksanaan Aborsi
1. Abortus Iminens
Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik berkurang.
Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap
empat jam bila pasien panas
Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila hasil negatif mungkin janin sudah mati. Pemeriksaan
USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
Berikan obat penenang, biasanya fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan preparat hematinik
misalnya sulfas ferosus 600 1.000 mg
Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C
Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah
infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.
2. Abortus Insipiens
Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan
selama 36 jam dengan diberikan morfin
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani
dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul
dengan kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular.
Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam deksrtose 5%
500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi
abortus komplit.

Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta
secara manual.
3. Abortus Inkomplit
Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer
laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah
Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometrin 0,2
mg intramuskular
Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta
secara manual.
Berikan antibiotik untuk mencegah infeks
4. Abortus Komplit

Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3 5 hari


Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah
Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi
Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
5. Missed abortus
Dilakukan kuretase. Harus hati hati karena terkadang plasenta melekat erat pada
rahim.Terbukanya jalan lahir akibat abortus dan akibat dari tindakan kuretase tentu tidak
terlepas dari komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi yaitu infeksi,
perforasi/robekan/lubang pada dinding rahim. Tapi bila dikerjakan sesuai prosedur dan
pasien cepat tanggap akan keluhan yang diderita maka kemungkinan terjadinya
komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin.