Anda di halaman 1dari 3

Export Base Theroy

Alsafana Rasman
15413060
Nefertari Pramudhita 15413086
Syahri Ramadhan
15413093
Export base theory atau teori dasar ekspor merupakan teori yang menganggap bahwa
total aktivitas ekonomi, yang mana mengandung banyak perdagangan dengan wilayah lain
akan tumbuh pesat atau lambatnya dipengaruhi oleh keuntungan dari ekspor wilayah. Ide
utama dari teori dasar ekspor adalah bahwa hanya ekspor yang efektif dalam mempengaruhi
pertumbuhan sebuah wilayah. Dengan demikian sektor ekonomi wilayah dapat dibagi menjadi
dua yakni sektor ekspor atau sektor basis dan sektor non-ekspor atau sektor non basis. Sektor
basis adalah sektor yang dependensi keluarnya lebih besar sedangkan sektor non basis adalah
sektor yang sangat besar dependensinya terhadap kondisi lokal misalnya restoran yang
menjual barangnya ke rumah dan individu dalam komunitas lokal. Teori dasar ekspor berdiri
atas tiga pilar yakni :
1. Regional didefinisikan sebagai area dengan kesamaan sektor basis
2. Perkembangan ekonomi di tentukan oleh besarnya sektor basis
3. Sektor basis mempengaruhi baik income absolut maupun income relative dari sebuah
wilayah yang juga mempengaruhi peningkatan pemenuhan kebutuhan dari wilayah
tersebut.
Teori ini merupakan turunan dari teori Keynesian Supply Demand Model. Pada
Keynesian Model, Y adalah flow output atau supply (dalam hal ini bisa pula diartikan sebagai
regional income) dimana yang mempengaruhinya adalah C untuk konsumsi, I untuk investasi,
X untuk ekspor, dan M untuk impor
Y = C + I + X M..(1)
Government spending (G) tidak dimasukkan dalam persamaan untuk mempermudah .
Dimana C dan M merupakan fungsi dari regional income;
C = c0 + cY dan M = m0 +mY
Juga I dan X merupakan exogenous . Maka dapat dituliskan sebagai

c0 m0 I X
(1 c m)

(2)

Karena dianggap bahwa perubahan X mengakibatkan perubahan Y maka :

Y
1

X (1 c m)

(3)

Bagian kanan dari persamaan diatas merupakan multiplier effect.


Sebagai contoh, pada sebuah wilayah dengan internal linkage yang kuat, nilai c
sebagai kecenderungan konsumsi adalah 0,8 dan m dari nilai import adalah 0, maka
multiplier effect adalah 5. Ini mengatakan bahwa setiap kenaikan ekspor bernilai Rp. 1000,
akan meningkatkan income regional sebesar Rp. 5000. Kenaikan income (Y) senilai Rp. 1000
sebagai ronde mengakibatkan konsumsi yang bertambah pada ronde ke 2 yakni Rp.
1000x0,8=Rp.800. Selanjutya mengakibatkan konsumsi ronde ke 3 naik
sebesar
Rp.800x0,8=Rp.640. semua kenaikan ini dijumlahkan sehingga menghasilkan kenaikan income
sebesar Rp.5000.
Cara yang paling banyak dipakai dalam menentukan sektor basis dan non basis pada
suatu wilayah adalah dengan menggunakan rumus Location Quotient (LQ). LQ merupakan
suatu kuosien yang membandingkan antara besarnya peranan suatu sektor di suatu wilayah
terhadap besarnya peranan sektor yang sama secara nasional. Berikut ini persamaan dalam
perhitungan LQ.

LQ=

Ri / R
/ N

Dimana :
Ri = banyaknya tenaga kerja di sektor i pada wilayah R
R = banyaknya keseluruhan tenaga kerja di wilayah R
Ni = banyaknya tenaga kerja di sektor i di seluruh negara
N = banyaknya keseluruhan tenaga kerja di seluruh negara
Jika LQ > 1 : sektor basis

LQ < 1: sektor non basis

Dalam perhitungan LQ untuk menentukan sektor basis dan sektor non basis terdapat asumsi
yang digunakan yaitu :
a. Negara adalah ekonomi tertutup dengan net ekspor sama dengan nol. Jadi negara
dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dalam semua sektor industri yang dibutuhkan di
semua wilayah
b. Pendekatan LQ juga mengasumsikan bahwa terdapat pola konsumsi yang identik antara
wilayah dan negara
c. Tingkat produktivitas pekerja pada suatu wilayah sama dengan tingkat produktivitas
pekerja di suatu negara
d. Produksi komoditas yang homogen untuk setiap sektor
e. Tidak adanya cross hauling. Cross hauling adalah adanya ekspor dan impor komoditas
yang sama sekaligus. Dengan adanya cross hauling terdapat kemungkinan ekspor akan
tereliminasi oleh impor.
Kemudian secara singkat, hubungan antara sektor basis dan non basis dapat dilihat
sebagai berikut.

ENB = aEB + e
ENB adalah sektor non basis, EB adalah sektor basis, a adalah multiplier effect, dan e adalah
error. Dapat dikatakan bahwa besarnya peningkatan kegiatan basis dalam suatu wilayah akan
meningkatkan arus pendapatan ke dalam wilayah tersebut. Hal ini mengakibatkan permintaan
di dalam wilayah tersebut pun meningkat. Besarnya peningkatan tersebut ditentukan oleh
nilai multiplier effect yang ada dalam wilayah tersebut
Kelebihan teori

Teori ini menciptakan hubungan yang erat antar sektor untuk kepentingan ekonomi
Teori ini mudah diterapkan termasuk untuk wilayah yang kecil karena berbasis sektor
ekonomi lokal.

Kelemahan teori

Teori ini secara garis besar hanya memperhatikan ekspor sebagai faktor utama dalam
perkembangan ekonomi. Padahal jelas bukan hanya ekspor yang dapat mempengaruhi
melainkan juga jumlah tenaga kerja. Hal ini disebabkan oleh teori Keynes yang ditulis
pada awal 1930an sehingga pada saat itu jumlah tenaga kerja bukanlah masalah. Teori
yang berkembang lebih kepada supply constraint.
Tidak dapat menjelaskan pertumbuhan dari wilayah yang nilai ekspornya kecil, dan
wilayah yang kecil.
Time lag. Teori ini membutuhkan waktu dalam peningkatan pertumbuhan tidak terjadi
secara langsung melainkan dalam ronde-ronde waktu. Roonde waktu ini juga dapat
diaplikasikan dalam leaking effect yakni ronde dalam wilayah. Namun kedua hal ini
tetap membutuhkan waktu untuk mengakibatkan pertumbuhan ekonomi sebuah
wilayah.
Teori ini sangat bergantung pada ekspor padahal demand dari ekspor itu sendiri
merupakan hal yang tidak pasti dan sangat bergantung pada kondisi diluar wilayah. Hal
ini menyebabkan wilayah tersebut sangat bergantung pada wilayah lain
Menganggap harga produk ekspor elastis sempurna

Referensi
(1) Predictive Power of the Export Base Theory, Robert B. Williamson, January 1975
(2) Testing the Export-base Theory in Alabama: An Ongoing Case Study, David Brian
Kimbugwe, 2010
(3) https://is.mendelu.cz/eknihovna/opory/zobraz_cast.pl?cast=62145 diakses 31 oktober
2016
(4) The Export Base and Input-output Models of Regional Development, David M. Nowlan
2006
(5) Input-Output and Economic Base Multipliers: Looking Backward and Forward. Journal
of Regional Science 25:607-661. Richardson, H.W. 1985
(6) Nurzaman, Siti Sutriah. 2012. Perencanaan Wilayah Dalam Konteks Indonesia. Bandung
: Penerbit ITB