Anda di halaman 1dari 33

Perpindahan adalah perubahan posisi (kedudukan) suatu benda dalam waktu tertentu.

Sebuah partikel berpindah dari titik P ke titik Q menurut lintasan kurva PQ, seperti
pada Gambar 1.4. Apabila posisi titik P dinyatakan sebagai rP dan posisi titik Qdinyatakan
sebagai rQ maka perpindahan yang terjadi dari titik P ke titik Q tersebut adalah vektor r,
yaitu
r = rQ rP . (12)
Persamaan (12) jika diubah dalam kalimat dapat dinyatakan bahwa perpindahan suatu
benda sama dengan posisi akhir benda dikurangi posisi awal.

Gambar 1.4 Garis putus-putus menyatakan lintasan partikel. Perpindahan posisi partikel
dari posisi awal di titik P ke posisi titik Q dinyatakan dengan r
Bagaimanakah cara menentukan besar perpindahan yang dilakukan oleh partikel tersebut?
Setiap benda membutuhkan waktu untuk berpindah atau mengubah kedudukannya. Dalam
kasus perpindahan tersebut, pada saat t = t1, partikel berada di titik P dengan vektor
posisinya rP. Pada saat t = t2, partikel berada di titik Qdengan vektor posisinya rQ.
Kemudian, apabila rP= (xPi + yPj) dan rQ = (xQi + yQj), Persamaan (12) dapat dituliskan
menjadi rPQ = (xQi + yQj) (xPi + yPj) = (xQ xP)i + (yQ yP)j.
Apabila xQ xP = x dan yQ yP = y, serta perpindahan yang dilakukan
partikel rPQdinyatakan sebagai r, Persamaan (12) berubah menjadi
r = xi + yj . (13)
Oleh karena besar perpindahan partikel r sama dengan panjang vektor r maka dapat
dituliskan

Arah perpindahan partikel dapat ditentukan dari besar sudut yang dibentuk oleh vektor
perpindahan r terhadap sumbu-x. Perhatikanlah Gambar 1.5 berikut.

Gambar 1.5 Perpindahan vektor r menurut sumbu-x adalah sebesar x dan menurut
sumbu-y sebesar y Arah perpindahan partikel dapat ditentukan dari besar sudut yang
dibentuk oleh vektor perpindahan r terhadap sumbu-x. Apabila sudut yang dibentuk oleh
vektor perpindahan r terhadap sumbu-x adalah , arah perpindahan vektor r dinyatakan
sebagai

Contoh soal
Sebuah titik materi bergerak dari titik P (3, 2) ke titik Q (11, 8). Tuliskanlah vektor posisi
titik itu ketika berada di titik P dan di titik Q. Hitunglah vektor perpindahan dari titik P ke
titik Q serta besar dan arah vektor perpindahan tersebut.
Jawab
Diketahui: koordinat di titik P (3, 2) dan di titik Q (11, 8).
Vektor posisi di titik P (rP) dan vektor posisi di titik Q (rQ) adalah
rP = 3i + 2j
rQ = 11i + 8j
Vektor perpindahan dari titik P ke titik Q adalah r yang diperoleh sebagai berikut
r = rQ rP = (11i + 8j) (3i + 2j)
r = 8i + 6j
Besar vektor r adalah

Arah perpindahan vektor itu adalah

Jadi, vektor perpindahan adalah r = 8i + 6j, panjang perpindahannya 10 satuan, dan


sudut arah perpindahannya 37 terhadap arah sumbu-x positif. Untuk lebih jelasnya,
perhatikanlah gambar berikut.

Suka dengan tulisan "Menghitung


V

ektor Perpindahan" bantu sebar

1. Sebuah partikel bergerak sepanjang sumbu-X dengan persamaan lintasannya: X = 5t2 + 1,


dengan X dalam meter dan t dalam detik. Tentukan:
a. Kecepatan rata-rata antara t = 2 detik dan t = 3 detik.
b. Kecepatan pada saat t = 2 detik.
c. Jarak yang ditempah dalam 10 detik.
d. Percepatan rata-rata antara t = 2 detik dan t = 3 detik.
Jawab:
a. v rata-rata = DX / Dt = (X3 X2) / (t3 t2) = [(5 . 9 + 1) - (5 . 4 + 1)] / [3 - 2] = 46 21 = 25 m/
detik
b. v2 = dx/dt |t=2 = 10 |t=2 = 20 m/detik.

c. X10 = ( 5 . 100 + 1 ) = 501 m ; X0 = 1 m


Jarak yang ditempuh dalam 10 detik = X10 X0 = 501 1 = 500 m
d. a rata-rata = Dv / Dt = (v3- v2)/(t3 t2) = (10 . 3 10 . 2)/(3 2) = 10 m/det2
2. Jarak PQ = 144 m. Benda B bergerak dari titik Q ke P dengan percepatan 2 m/s2 dan
kecepatan awal 10 m/s. Benda A bergerak 2 detik kemudian dari titik P ke Q dengan percepatan
6 m/s2 tanpa kecepatan awal. Benda A dan B akan bertemu pada jarak berapa ?
Jawab:
Karena benda A bergerak 2 detik kemudian setelah benda B maka tB = tA + 2.
SA = v0.tA + 1/2 a.tA2 = 0 + 3 tA2
SB = v0.tB + 1/2 a.tB2 = 10 (tA + 2) + (tA + 2)2
Misalkan kedua benda bertemu di titik R maka
SA + SB = PQ = 144 m
3tA2 + 10 (tA + 2) + (tA + 2)2 = 144
2tA2 + 7tA 60 = 0
Jadi kedua benda akan bertemu pada jarak SA = 3tA2 = 48 m (dari titik P).
3. Grafik di bawah menghubungkan kocepatan V dan waktu t dari dua mobil A dan B, pada
lintasan dan arah sama. Jika tg a = 0.5 m/det, hitunglah:
a. Waktu yang dibutuhkan pada saat kecepatan kedua mobil sama.
b. Jarak yang ditempuh pada waktu menyusul
Jawab:
Dari grafik terlihat jenis gerak benda A dan B adalah GLBB dengan V0(A) = 30 m/det dan V0(B) =
0.
a. Percepatan kedua benda dapat dihitung dari gradien garisnya,
jadi : aA = tg a = 0.5
10/t = 0.5 t = 20 det
aB = tg b = 40/20 = 2 m/det
b. Jarak yang ditempuh benda
SA = V0 t + 1/2 at2 = 30t + 1/4t2
SB = V0 t + 1/2 at2 = 0 + t2
pada saat menyusul/bertemu : SA = SB 30t + 1/4 t2 = t2 t = 40 det

Jadi jarak yang ditempuh pada saat menyusul : SA = SB = 1/2 . 2 . 402 = 1600 meter
Soal 4
Gerak suatu partikel dinyatakan dalam persamaan R = 4t2 + 6t -3 ; Tentukan :
a). kecepatan rata-rata partikel untuk selang waktu t = 1 s sampai dengan t = 4 s
b). kecepatan sesaat pada t = 3 s
Penyelesaian :
a). Rt=4 = 4(4)2 + 6(4) - 3 = 85 ; Rt=1 = 4(1)2 + 6(1) - 3 = 7 ; s = 85-7 = 78 ; t = 3 ; v = s/t =
78/3 = 26
b). v = dv/dt = 8t + 6 ; untuk t = 3 maka v = 8(3) + 6 = 30
Sekian, semoga bermanfaat

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130703232333AAjwd4z

Pembahasan Soal
Lets To Study With Us
Search
Cari

Home

SMP

SMA

Perguruan Tinggi

Sitemap

Contact Us
Home SMA Kelas XI Fisika Materi Fisika Kelas XI Semester 1 : Persamaan
Gerak

Materi Fisika Kelas XI Semester 1 : Persamaan


Gerak
April 18, 2013 by assaud

Materi fisika kelas XI semester 1 :tentang persamaan gerak


1. PERSAMAAN GERAK
Koordinat Polar Titik P dengan koordinat polar (r, q) berarti berada diposisi: q derajat dari sumbu-x (sb.
polar) (q diukur berlawanan arah jarum-jam) berjarak sejauh r dari titik asal kutub O. Perhatian: jika r <> r:
koordinat radial q: koordinat sudut Setiap titik mempunyai lebih dari satu representasi dalam koordinat polar
(r, q) = (- r, q + np ), untuk n bil. bulat ganjil = ( r, q + np ) , untuk n bil. bulat genap Persamaan dalam
Koordinat Polar Pers. polar dari lingkaran berjari-jari a: r = a Untuk lingkaran berjari a, berpusat di (0,a): r =
2a sin q berpusat di (a,0): r = 2a cos q r = 2 sin q r = 2 cos qVektor posisi, kecepatan dan percepatan. V
adalah kecepatan benda yang merupakan turunan pertama dari posisi. Jadi Vx adalah turunan pertama dari X
dan Vy adalah turunan pertama dari Y. Silakan kamu turunkan (diferensialkan) persamaan tersebut Vox
adalah Vx saat t = 0, dan Voy adalah Vy saat t = 0. Vo adalah penjumlahan (secara vektor) dari Vox dan Voy.
Ax adalah turunan kedua dari X, dan Ay adalah turunan kedua dari Y. Coba kamu turunkan sendiri. Aox
adalah Ax saat t = 0, dan Aoy adalah Ay saat t = 0.Mengubah persamaan posisi menjadi percepatanA :Jika
posisi benda dinyatakan dalam persamaan dengan variable waktu, maka persamaan posisi tersebut kita
turunkan (diferensialkan) menjadi persamaan kecepatan. misal, x = 2t^2 2t maka kecepatannya adalah

turunan pertama dari x; v = dx/dt = 4t 2 untuk mengubah menjadi percepatan, maka kecepatan tersebut kita
turunkan sekali lagi; a = dv/dt = 4
# Gerak Lurus Beraturan (GLB) #
Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak benda dalam lintasan garis lurus dengan kecepatan tetap. Untuk
lebih memahaminya, amati grafik berikut :
Grafik di atas menyatakan hubungan antara kecepatan (v) dan waktu tempuh (t) suatu
benda yang bergerak lurus. Berdasarkan grafik tersebut cobalah tentukan berapa besar
kecepatan benda pada saat t = 0 s, t = 1 s, t = 2 s, t = 3 s?
Tampak

dari

kecepatan

grafik

benda

sama

dari

pada
waktu

gambar

ke

waktu

6,

yakni

m/s.

Semua benda yang bergerak lurus beraturan akan memiliki grafik v t yang bentuknya
seperti gambar 6 itu. Sekarang,hitung berapa jarak yang ditempuh oleh benda dalam
waktu 3 s?
dapat dihitung jarak yang ditempuh oleh benda dengan cara menghitung luas daerah di
bawah kurva bila diketahui grafik (v-t) :
Jarak

yang

ditempuh

luas

daerah

yang

diarsir

pada

grafik

t.

Cara menghitung jarak pada GLB.Tentu saja satuan jarak adalah satuan panjang, bukan satuan luas.
Berdasarkan gambar di atas, jarak yang ditempuh benda = 15 m.
Cara lain menghitung jarak tempuh adalah dengan menggunakan persamaan GLB.
kecepatan pada GLB dirumuskan:
Ket : v = kecepatan (m/s) t = waktu tempuh (s) s = Jarak (m)
Dari
v

gambar
5

m/s,sedangkan

di
3

s,

sehingga

jarak

atas
s

ts

,
5

15

Persamaan GLB di atas, berlaku bila gerak benda memenuhi grafik seperti pada gambar.
Pada grafik tersebut terlihat bahwa pada saat t = 0 s, maka v = 0.
Artinya, pada mulanya benda diam, baru kemudian bergerak dengan kecepatan 5 m/s. Padahal dapat saja
terjadi bahwa saat awal kita amati benda sudah dalam keadaan bergerak, sehingga benda telah memiliki posisi

awal

so.

Untuk

keadaan

maka

persamaan

Persamaan
Dengan

ini,

GLB

sedikit

mengalami

so

untuk

so

GLB

benda

menyatakan

yang
posisi

perubahan

sudah

bergerak

sejak

awal

benda

dalam

menjadi,
v.

awal

pengamatan.

satuan

meter.

Di samping grafik v t di atas, pada gerak lurus terdapat juga grafik s-t, yakni grafik yang menyatakan
hubungan

antara

jarak

tempuh

(s)

dan

waktu

tempuh

(t)

seperti

pada

gambar di

bawah.

Pada saat t = 0 s, jarak yang ditempuh oleh benda s = 0, pada saat t = 1 s, jarak yang ditempuh oleh benda s = 2
m, pada saat t = 2 s, jarak s = 4 m, pada saat t = 3 s, jarak s = 6 s dan seterusnya. Berdasarkan hal ini dapat kita
simpulkan bahwa benda yang diwakili oleh grafik s t pada gambar 9 di atas, bergerak dengan kecepatan tetap
2 m/s (Ingat, kecepatan adalah jarak dibagi waktu).
Berdasarkan gambar, kita dapat meramalkan jarak yang ditempuh benda dalam waktu tertentu di luar waktu
yang tertera pada grafik.
contoh :
Gerak sebuah benda yang melakukan GLB diwakili oleh grafik s t di bawah. Berdasarkan grafik tersebut,
hitunglah

jarak

yang

ditempuh

a.

oleh

benda

itu

dalam

waktu:
s

b. 10 s
Jawab :
Diketahui:
so

v = 4 m/s
Ditanya:
a. Jarak yang ditempuh benda pada saat t = 3 s.
b. Jarak yang ditempuh benda pada saat t = 10 s.
Jawab:

a.
b.

s (t)
s (3s)

= so + v.t
=2+4x3
= 14 m

s (t)
s (10s)

= so + v.t
= 2 + 4 x 10

= 42 m

# GERAK LURUS BERUBAH BERATURAN (GLBB) #


Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah gerak benda dalam lintasan garis lurus dengan percepatan tetap.
Jadi, ciri utama GLBB adalah bahwa dari waktu ke waktu kecepatan benda berubah, semakin lama semakin
cepat. Dengan kata lain gerak benda dipercepat. Namun demikian, GLBB juga dapat berarti bahwa dari waktu
ke waktu kecepatan benda berubah, semakin lambat hingga akhirnya berhenti. Dalam hal ini benda mengalami
perlambatan tetap. Dalam modul ini, kita tidak menggunakan istilah perlambatan untuk gerak benda
diperlambat. Kita tetap saja menamakannya percepatan, hanya saja nilainya negatif. Jadi perlambatan sama
dengan percepatan negatif.
Contoh sehari-hari GLBB adalah peristiwa jatuh bebas. Benda jatuh dari ketinggian tertentu di atas. Semakin
lama benda bergerak semakin cepat.
perhatikanlah gambar di bawah yang menyatakan hubungan antara kecepatan (v) dan waktu (t) sebuah benda
yang bergerak lurus berubah beraturan dipercepat.
a. Besar percepatan benda
dalam

hal

ini,

v1

vo

v2

vt

t1

t2 = t
sehingga ,
atau a.t = vt vo kita dapatkan :
persamaan kecepatan GLBB :
ket : vo = kecepatan awal (m/s)
vt = kecepatan akhir (m/s)
a = percepatan ()
t = selang waktu (s) kecepatan benda berubah dari vo menjadi vt sehingga kecepatan rata-rata benda dapat
dituliskan:

b. Kecepatan rata-rata :
ket : s = Jarak yang ditempuh a = percepatan ( ) vo = lecepatan awal (m/s) t = selang waktu (s) contoh :

Benda yang semula diam didorong sehingga bergerak dengan percepatan tetap 3 .
Berapakah besar kecepatan benda itu setelah bergerak 5 s?
Penyelesaian:
Awalnya benda diam, jadi vo = 0
a=3
t=5s
Kecepatan benda setelah 5 s:
= vo + a.t
=0+3.5
vt = 15 m/s

GERAK

MELINGKAR

BERUBAH

BERATURAN

Adalah gerak suatu benda dengan bentuk lintasan melingkar dan besar percepatan sudut/anguler () konstan.
Jika perecepatan anguler benda searah dengan perubahan kecepatan anguler maka perputaran benda semakin
cepat, dan dikatakan GMBB dipercepat. Sebaliknya jika percepatan anguler berlawanan arah dengan
perubahan kecepatan anguler benda akan semakin lambat, dan dikatakan GMBB diperlambat.
1. Percepatan Anguler ()
Sebuah benda bergerak melingkar dengan laju anguler berubah beraturan memiliki perubahan kecepatan
angulernya adalah :
= 2 1
Dan perubahan waktu kecepatan anguler adalah t, maka di dapatkan :
= perubahan
t

kecepatan
=

selang

sudut
waktu

= percepatan sudut/anguler (rads-2)


Sama halnya dengan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB), pada GMBB berlaku juga :
- Mencari kecepatan sudut akhir (t) :

(rad/s)
(s)

t = 0 .t
- Mencari posisi sudut / besar sudut () yang ditempuh:
= 0 t .t2
x = R.
Dapat diperoleh juga :
t2 = 02 2 .
dimana :
t

1
1

kecepatan

kecepatan

besar

sudut/anguler
sudut

rpm

yang

putaran

x
t

sudut/anguler

=
=

keadaan
keadaan

360

(radian,
putaran

perpindahan
waktu

awal

ditempuh
1

akhir(rad/s)
putaran)
permenit
2p

linier
yang

(rad/s)

diperlukan

rad.
(m)
(s)

R = jari-jari lintasan (m)


# GERAK MELINGKAR BERATURAN #
Adalah partikel yang bergerak melingkar dengan laju konstan, arah vektor kecepatan berubah terus menerus,
tetapi besarnya tidak.
Dalam gerak lurus anda mengenal besaran perpindahan (linear) dan kecepatan (linear), keduanya termasuk
besaran vektor. Dalam gerak melingkar anda akan mengenal juga besaran yang mirip dengan itu, yaitu
perpindahan sudut dan kecepatan sudut, keduanya juga termasuk besaran vektor.
Besaran fisis pada GMB
a. Besaran Sudut ()

Besar sudut dinyatakan dalam derajat tetapi pada gerak melingkar beraturan ini dinyatakan dalam radian.
Satu radian (rad) adalah sudut dimana panjang busur lingkaran sama dengan jari-jari lingkaran tersebut (r).
Jika s = r, bernilai 1 rad.
Secara umum besaran sudut dituliskan :
=s/r
dimana s = 2 r , sehingga = 2 rad
b. Kecepatan dan kelajuan Sudut ()
Pada gerak melingkar, besaran yang menyatakan seberapa jauh benda berpindah (s) dalam selang waktu
tertentu (t) disebut kecepatan anguler atau kecepatan sudut (). Kecepatan sudut ini terbagi atas kecepatan
sudut rata-rata dan kecepatan sudut sesaat.
Kecepatan sudut rata-rata dituliskan sebagai : = / t
Kecepatan sudut sesaat dinyatakan sebagai = lim / t
Satuan kecepatan sudut adalah rad/s. Selain satuan ini, satuan kecepatan sudut dapat pula ditulis
dalam rpm (rotation per minutes) dimana 1 rpm = 2 rad/menit = /30 rad/s.
Sedangkan nilai atau besarnya kecepatan sudut disebut kelajuan sudut.
c. Periode (T)
Waktu yang dibutuhkan oleh suatu benda untuk bergerak satu putaran disebut periode (T). Waktu yang
dibutuhkan untuk menempuh satu putaran dinyatakan oleh :
T = perpindahan sudut / kecepatan sudut
T = 2 / dimana 2 = perpindahan sudut (anguler) untuk satu putaran.
Jika jumlah putaran benda dalam satu sekon dinyatakan sebagai frekuensi (f) maka diperoleh hubungan :
T = 1 / f dimana f = frekuensi dengan satuan 1/s atau Hertz (Hz).
d. Kecepatan dan kelajuan linear (v)

Kecepatan linear didefinisikan sebagai hasil bagi panjang lintasan linear yang ditempuh dengan selang waktu
tempuhnya. Panjang lintasan dalam gerak melingkar yaitu keliling lingkaran 2.r
Jika selang waktu yang diperlukan untuk menempuh satu putaran adalah 1 periode (T), maka :
Kecepatan linear dirumuskan : v = 2.r / T atau v = .r
Kecepatan linear ( v) memiliki satuan m/s, r = jari-jari lintasan, dengan satuan meter dan = kecepatan sudut
dalam satuan rad/s
e. Percepatan Sentripetal
Pada saat anda mempelajari gerak lurus beraturan sudah mengetahui bahwa percepatan benda sama dengan
nol. Benarkah kalau kita juga mengatakan percepatan benda dalam gerak melingkar beraturan sama dengan
nol? Dari gambar di atas diketahui bahwa arah kecepatan linear pada gerak melingkar beraturan selalu
menyinggung lingkaran. Karena itu, kecepatan linear disebut juga kecepatan tangensial.
Sekarang kita akan mempelajari apakah vektor percepatan pada benda yang bergerak melingkar beraturan nol
atau tidak.Dari gambar di atas tampak bahwa vektor kecepatan linear memiliki besar sama tetapi arah berbedabeda. Oleh karena itu kecepatan linear selalu berubah sehingga harus ada percepatan. Dari gambar di atas
tampak bahwa arah percepatan selalu mengarah ke pusat lingkaran dan selalu tegak lurus dengan kecepatan
linearnya. Percepatan yang selalu tegak lurus terhadap kecepatan linearnya dan mengarah ke pusat lingkaran
ini disebut percepatan sentripetal.
Percepatan sentripetal pada gerak melingkar beraturan dirumuskan :
Contoh Soal :
Sebuah roda dengan jari-jari 20 cm, berputar pada sumbunya dengan kelajuan 6.000/ rpm. Tentukan: (a).
kelajuan sudut, frekuensi, dan periodenya, (b). kelajuan linear sebuah titik atau dop pada roda dan panjang
lintasan titik yang ditempuh selama 10 s. (c) jumlah putaran dalam 10 s.
Pembahasan :
1. diketahui : r = 20 cm = 0,2 m ; = 6.000/ rpm = 100/ rps = 200 rad/s
dijawab :

(a). Frekuensi f = / 2 = (200 rad/s)/2 = 100/ Hz


(b). Kelajuan linear pada titik luar
v = . r = (200 rad/s). (0,2 m) = 40 m/s
(c) Jumlah putaran selama 10 s. Sudut yang ditempuh selama 10 s adalah = . t = 2.000 rad
1 putaran = 2 rad sehingga jumlah putaran (n) adalah n = 2.000 rad/2 =(1000/ ) putaran.
2. Sebuah benda bergerak melingkar beraturan dengan jari-jari lintasan 70 cm. Dalam waktu 20 s, benda
tersebut melakukan putaran sebanyak 40 kali. (a). tentukan periode dan frekuensi putaran. (b) berapa laju
linear benda tersebut? (c). hibunglah kecepatan sudut benda tersebut.
# GERAK PARABOLA #
Gerak parabola panduan dari GLB pada sumbu x dengan GLB pada sumbu y.
Kecepatan awal (vo) gerak benda diwakili oleh v0x dan v0y.v0x merupakan kecepatan awal pada sumbu x,
sedangkan v0y merupakan kecepatan awal pada sumbu y. vy merupakan komponen kecepatan pada sumbu y dan
vx merupakan komponen kecepatan pada sumbu x. Pada titik tertinggi lintasan gerak benda, kecepatan pada
arah vertikal (vy) sama dengan nol.
Persamaan untuk menghitung posisi dan kecepatan resultan dapat dirumuskan sebagai berikut.
2. GAYA
Gaya adalah tarikan atau dorongan yang diberikan kepada suatu benda.
* Macam-macam gaya :
a. Gaya Normal
Ketika balok jatuh telah sampai kelantai gaya gravitasi tetap bekerja walaupun benda sudah berhenti. Sesuai
Hukum III Newton , gaya aksi (Gaya Berat) yang dikerjakan benda pada lantai akan menimbulkan gaya reaksi
dari

lantai

pada

benda

gaya

ini

Arah gaya normal selalu tegak lurus dengan permukaan sentuh.


Ada beberapa gaya normal pada benda berdasarkan posisi benda:

di

sebut

Gaya

Normal.

b. Gaya Gesekan
Gaya gesekan adalah gaya yang ditimbulkan ketika dua permukaan benda saling bersentuhan. Arah Gaya
gesekan selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Ada dua jenis gaya gesekan, yakni :
Gaya gesekan statis
Gaya gesekan statis adalah gaya gesekan yang menyebabkan benda tidak dapat bergerak (statis ). Nilai gaya
gesekan statis maksimum pada benda artinya jika kita ingin mendorong benda sampai dapat bergerak besarnya
gaya

yang

dikerjakan

harus

lebih

besar

daripada

gaya

gesek

statis

maksimum.

Besarnya gaya ini:


dimana
s

koefisien

gesek

statis

N = Besarnya gaya normal pada benda


Mengapa anak tersebut tidak mampu membuat lemari brankas bergerak..?
Hal itu terjadi karena gaya yang di berikan anak itu masih lebih kecil dari pada gaya gesek statis maksimum
lemari brankas.
Apa yang terjadi bila anak itu mendorong dengan di bantu kakaknya yang lebih dewasa?
Ternyata brankas itu dapat bergerak walaupun lajunya lambat.
Kelajuan lambat ini di karenakan gaya gesek statis yang bekerja pada lemari brankas.
Gaya gesekan kinetis
Gaya gesek kinetis adalah gaya gesek yang terjadi saat benda bergerak.gaya gesek kinetis menghambat laju
benda, arah gaya gesek kinetic berlawanan dengan arah gerak benda. Besarnya gaya gesek kinetis adalah:
Dimana:
k

N = Gaya normal benda, Newton

c. Gaya Sentripetal

koefisien

gesek

kinetic

Gaya Sentripetal adalah gaya yang di miliki benda saat benda bergerak dalam lintasan berbentuk lingkaran,
dengan gaya sentripetal benda dapat bertahan pada lintasannya.
Gaya sentripetal pada tali menyebabkan benda tetap dalam lintasan melingkar.
d. Gaya Gravitasi
Gaya Gravitasi
Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam
semesta. Fisika modern mendeskripsikan gravitasi menggunakan Teori Relativitas Umum dari Einstein, namun
hukum gravitasi universal Newton yang lebih sederhana merupakan hampiran yang cukup akurat dalam
kebanyakan kasus.
Sebagai contoh, Bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar
untuk menarik benda-benda disekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda benda yang ada di bumi. Gaya
gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada diluar angkasa, seperti bulan, meteor, dan benda angkasa
laiinnya, termasuk satelite buatan manusia.
Beberapa teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena adanya partikel
gravitron dalam setiap atom.

Hukum Gravitasi Universal Newton


Hukum gravitasi universal Newton dirumuskan sebagai berikut:
Setiap massa titik menarik semua massa titik lainnya dengan gaya segaris
dengan garis yang menghubungkan kedua titik. Besar gaya tersebut
berbanding lurus dengan perkalian kedua massa tersebut dan berbanding
terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua massa titik tersebut.
F adalah besar dari gaya gravitasi antara kedua massa titik tersebut
G adalah konstanta gravitasi
m1 adalah besar massa titik pertama
m2 adalah besar massa titik kedua

r adalah jarak antara kedua massa titik


Dalam sistem Internasional, F diukur dalam newton (N), m1 dan m2 dalam kilograms (kg), r dalam meter (m),
dsn konstanta G kira-kira sama dengan 6,67 1011 N m2 kg2.
Dari persamaan ini dapat diturunkan persamaan untuk menghitung Berat. Berat suatu benda adalah hasil kali
massa benda tersebut dengan percepatan gravitasi bumi. Persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai
berikut: W = mg. W adalah gaya berat benda tersebut, m adalah massa dan g adalah percepatan gravitasi.
Percepatan gravitasi ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain.
Hukum Newton tentang Gaya
Hukum I Newton (Hukum Kelembaman)
Jika resultan gaya yang berkerja pada benda sama dengan nol maka benda yang sedang diam akan tetap diam
dan benda bergerak lurus beraturan akan tetap bergerak lurus beraturan
Hukum II Newton
Percepatan suatu benda berbanding lurus dengan gaya yang berkerja pada benda tersebut dan berbanding
terbalik dengan massa benda tersebut.
dari gerak balok dapat kita ketahui percepatan system di pengaruhi massa balok.
Contoh soal:
Berapakah gaya yang di butuhkan untuk mempercepat gerak sebuah motor yang bermassa 500 kg pada
percepatan
Jawab

m/s2?
:

F = m.a = 500 . 6 = 3000 N


Hukum III Newton (Hukum aksi dan reaksi)
Bila benda A mengerjakan gaya pada benda B maka benda B akan mengerjakan gaya pada benda A sama besar
dengan arah yang berlawanan.
Introduksi Tiga Hukum Kepler

Secara Umum
Hukum hukum ini menjabarkan gerakan dua badan yang mengorbit satu sama lainnya. Masa dari kedua badan
ini bisa hampir sama, sebagai contoh CharonPluto (~1:10), proporsi yang kecil, sebagain contol. Bulan
Bumi(~1:100), atau perbandingan proporsi yang besar, sebagai contoh MerkuriusMatahari (~1:10,000,000).
Dalam semua contoh diatas kedua badan mengorbit mengelilingi satu pusat masa, barycenter, tidak satupun
berdiri secara sepenuhnya di atas fokus elips. Namun kedua orbit itu adalah elips dengan satu titik fokus di
barycenter. Jika ratio masanya besar, sebagai contoh planet mengelilingi matahari, barycenternya terletak jauh
di tengah obyek yang besar, dekat di titik masanya. Di dalam contoh ini, perlu digunakan instrumen presisi
canggih untuk mendeteksi pemisahan barycenter dari titik masa benda yang lebih besar. Jadi, hukum Kepler
pertama secara akurat menjabarkan orbit sebuah planet mengelilingi matahari.
Karena Kepler menulis hukumnya untuk aplikasi orbit planet dan matahari, dan tidak mengenal generalitas
hukumnya, artikel wikini ini hanya akan mendiskusikan hukum diatas sehubingan dengan matahari dan planetplanetnya.
Hukum Pertama
Figure 2: Hukum Kepler pertama menempatkan Matahari di satu titik fokus edaran elips.
Setiap planet bergerak dengan lintasan elips, matahari berada di salah satu
fokusnya.
Pada zaman Kepler, klaim diatas adalah radikal. Kepercayaan yang berlaku (terutama yang berbasis teori
epicycle) adalah bahwa orbit harus didasari lingkaran sempurna. Pengamatan ini sangat penting pada saat itu
karena mendukung pandangan alam semesta menurut Kopernikus. Ini tidak berarti ia kehilangan relevansi
dalam konteks yang lebih modern.
Meski secara teknis elips yang tidak sama dengan lingkaran, tetapi sebagian besar planet planet mengikuti
orbit yang bereksentrisitas rendah, jadi secara kasar bisa dibilang mengaproximasi lingkaran. Jadi, kalau ditilik
dari observasi jalan edaran planet, tidak jelas kalau orbit sebuah planet adalah elips. Namun, dari bukti
perhitungan Kepler, orbit orbit itu adalah elips, yang juga memeperbolehkan benda-benda angkasa yang jauh
dari matahari untuk memiliki orbit elips. Benda-benda angkasa ini tentunya sudah banyak dicatat oleh ahli
astronomi, seperti komet dan asteroid. Sebagai contoh Pluto, yang diobservasi pada akhir tahun 1930, terutama
terlambat diketemukan karena bentuk orbitnya yang sangat elipse dan kecil ukurannya.

Hukum Kedua
Figure 3: Illustrasi hukum Kepler kedua. Bahwa Planet bergerak lebih cepat didekat
matahari dan lambat dijarak yang jauh. Sehingga jumlah area adalah sama pada jangka
waktu tertentu.
Luas daerah yang disapu pada selang waktu yang sama akan selalu sama.
Secara matematis:
dimana adalah areal velocity.

Hukum Ketiga
Planet yang terletak jauh dari matahari memiliki perioda orbit yang lebih panjang dari planet yang dekat
letaknya. Hukum Kepelr ketiga menjabarkan hal tersebut secara kuantitativ.
Perioda kuadrat suatu planet berbanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari matahari.
Secara matematis:
dimana P adalah period orbit planet dan a adalah axis semimajor orbitnya.
Konstant proporsionalitasnya adalah semua sama untuk planet yang mengedar matahari.
e. Gaya Pegas
Bila suatu benda dikenai sebuah gaya dan kemudian gaya tersebut dihilangkan, maka benda akan kembali ke
bentuk semula, berarti benda itu adalah benda elastis. Namun pada umumnya benda bila dikenai gaya tidak
dapat kembali ke bentuk semula walaupun gaya yang bekerja sudah hilang. Benda seperti ini disebut benda
plastis. Contoh benda elastis adalah karet ataupun pegas. Bila pegas ditarik melebihi batasn tertentu maka
benda itu tidak akan elastis lagi. Lalu bagaimanakah hubungan pertambahan panjang dengan gaya tarik?
Karena besarnya gaya pemulih sebanding besarnya pertambahan panjang, maka dapat dirumuskan bahwa:
dengan,
k = konstanta pegas
Fp = Gaya Pemulih (N)
x = Perpanjangan Pegas (m)

Persamaan inilah yang disebut dengan Hukum Hooke. Tanda negatif (-) dalam persamaan menunjukkan berarti
gaya pemulih berlawanan arah dengan arah perpanjangan.
3. Elastisitas dan Hukum Hooke
Bila suatu benda dikenai sebuah gaya dan kemudian gaya tersebut dihilangkan, maka benda akan kembali ke
bentuk semula, berarti benda itu adalah benda elastis. Namun pada umumnya benda bila dikenai gaya tidak
dapat kembali ke bentuk semula walaupun gaya yang bekerja sudah hilang. Benda seperti ini disebut benda
plastis. Contoh benda elastis adalah karet ataupun pegas. Bila pegas ditarik melebihi batasn tertentu maka
benda itu tidak akan elastis lagi. Lalu bagaimanakah hubungan pertambahan panjang dengan gaya tarik?
1. Karena besarnya gaya pemulih sebanding besarnya pertambahan panjang, maka
dapat dirumuskan bahwa:
dengan,
k = konstanta pegas
Fp = Gaya Pemulih (N)
x = Perpanjangan Pegas (m)
Persamaan inilah yang disebut dengan Hukum Hooke. Tanda negatif (-) dalam
persamaan menunjukkan berarti gaya pemulih berlawanan arah dengan arah
perpanjangan.
2. Modulus

ElastisitasYang

dimaksud

dengan

Mosdulus

Elastisitas

adalah

perbandingan antara tegangan dan regangan. Modulus ini dapat disebut dengan
sebutan Modulus Young.
1.

Tegangan

(Stress)

Tegangan adalah gaya per satuan luas penampang. Satuan tegangan adalah
N/m2 Secara matematis dapat dituliskan:
2.

Regangan

(Strain)

Regangan adalah perbandingan antara pertambahan panjang suatu batang


terhadap panjang awal mulanya bila batang itu diberi gaya. Secara
matematis dapat dituliskan:
Dari kedua persamaan di atas dan pengertian modulus elastisitas, kita dapat mencari persamaan untuk
menghitung besarnya modulus elastisitas, yang tidak lain adalah:
Satuan untuk modulus elastisitas adalah N/m2

3. Gerak Benda di Bawah Pengaruh Gaya PegasBila suatu benda yang


digantungkan pada pegas ditarik sejauh x meter dan kemudian dilepas, maka
benda akan bergetar. Percepatan getarnya itu dapat dihitung dengan persamaan:
Dari persamaan di atas, kita mengetahui bahwa besarnya percepatan getar (a)
sebanding dan berlawanan arah dengan simpangan (x).
4.

GERAK

HARMONIS

SEDERHANA

Gerak harmonis sederhana yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah getaran benda pada pegas
dan getaran benda pada ayunan sederhana. Kita akan mempelajarinya satu persatu.
Gerak Harmonis Sederhana pada Ayunan
Ketika beban digantungkan pada ayunan dan tidak diberikan gaya maka benda akan diam di titik
kesetimbangan B. Jika beban ditarik ke titik A dan dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu kembali
lagi ke A. Gerakan beban akan terjadi berulang secara periodik, dengan kata lain beban pada ayunan di atas
melakukan gerak harmonik sederhana
Simpangan, Kecepatan, dan Percepatan GHS
a. Simpangan GHS
1.
1.

Untuk menghitung besarnya simpangan pada gerak harmonis


sederhana digunakan rumus:
atau
Bila

besarnya

sudut

awal

( 0)

adalah

maka

simpangannya menjadi:
dengan:
y = simpangan (m)
A = amplitudo atau simpangan maksimum (m)
t = waktu getar (s)
w = kecepatan sudut (rad/s)

persamaan

Simpangan akan bernilai maksimum (ymaks) jika sin wt = 1 sehingga


persamaannya menjadi:
2.

Kecepatan GHSBesarnya kecepatan gerak harmonis dapat dicari


dengan persamaan:
Besarnya kecepatan akan mencapai nilai maksimun bila besarnya cos
wt = 1, sehingga persamaannya menjadi:

3.

Percepatan

GHSBesarnya

percepatan

pada

gerak

harmonis

sederhana dapat dihitung dengan rumus:


atau
Dan besarnya percepatan akan mencapai nilai maksimal apabila
besarnya sin wt = 1, sehingga:
Besarnya percepatan bernilai negatif menunjukkan arah percepatan a
berlawanan dengan arah perpindahan y (y adalah perpindahan dari
titik keseimbangan)
2. Sudut

Fase,

Fase,

dan

Beda

Fase

GHS

Berdasarkan dari persamaan simpangan:


3.
bila diturunkan akan menjadi,
4. Faktor disebut sudut fase, yaitu posisi sudut selama benda bergerak
harmonis.
5. Fase atau tingkat getar adalah sudut fase dibagi dengan sudut tempuh selama satu putaran penuh.
Sehingga besarnya fase dapat dihitung dari persamaan:
6. Nilai

fase

biasanya

hanya

diambil

bilangan

Misalkannya saja besarnya fase getaran adalah


7.

8. /

pecahannya

saja

9.

10. , 1
11.

12. /
13.

14. , 2
15.

16. /
17.

18. maka besarnya fase cukup disebut


19.

20. /
21.

22. saja karena posisi partikel yang bergetar untuk ketiga fase getar
tersebut sama. Bilangan bulat di depan pecahan, menunjukkan
banyaknya getaran penuh yang terlewati.
23. Pembahasan tentang fase dibagi menjadi dua, yaitu:
1.

Beda fase getaran suatu titik dengan selang waktu t= t 1 dan t= t2


Persamaan yang dipakai untuk menghitung besarnya beda fase
dengan selang waktu dari t1 sampai t2 adalah:

2.

Beda

fase

dua

getaran

pada

waktu

sama

Kita juga dapat menghitung beda fase dua getaran pada waktu yang

sama. Misalkan dua getaran masing masing dengan periode T1 dan


T2 maka beda fase keduanya setelah bergetar selama t sekon dapat
dicari dengan persamaan:
Dua kedudukan tersebut akan dikatan sefase bila nilai beda fase merupakan bilangan
cacah (tanpa pecahan ataupun desimal). Sebaliknya kedudukan akan dikatakan
berlawanan fase apabila nilai beda fase berupa bilangan cacah+ 1/2(dengan pecahan
ataupun desimal).
24. Superposisi Dua Simpangan Gerak Harmonis yang SegarisJika ada dua
persamaan simpangan yang dialami oleh suatu partikel pada saat yang sama,
maka simpangan akibat kedua getaran dapat dicaari dengan dua cara, yaitu
secara grafis dan secara maematis. Berikut adalah pembahasan mengenai kedua
cara tersebut.
1.

Secara GrafisBerikut adalah gambar Superposisi dua gerak harmonis


sederhana,

2.

Secara
harmonis

MatematisDalam
memiliki

perhitungan

simpangannya

secara

masing

matematis

masing.

dua

Untuk

gerak

mencari

simpangan superposisinya maka kedua simpangan itu dijumlahkan (y = y 1 +


y2) sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut:
25. Penurunan Rumus Periode (T) dan Frekuensi (f)Dalam pembahasan suba
bab ini, kita akan membahasa mengenai Periode (T) dan frekuensi (f). Dalam
bahasan ini, akan membahas pula mengenai gaya pemulih. Karena itu,
pembahasannya akan dibatasi hanya sampai pada pegas dan ayunan sederhana.
1.

PegasDalam pegas untuk perhitungan Periodenya digunakan rumus:


sedangkan besarnya frekuensi berbanding terbalik dengan periodenya ( f =
1/T), sehingga didapatkan rumus frekuensi sebagai berikut:

dengan,
m = massa beban (kg)
k = konstanta pegas (N/m)
Sedangkan bila konstanta pegas belum diketahui, konstatanya dapat dihitung
dengan persamaan:

dengan,
g = gaya gravitasi (9,8 N/kg atau 10 N/kg)
x = perpanjangan pegas (m)
Bila pegas yang dipakai lebih dari satu, maka untuk mencari konstantanya
harus menggunakan konstanta total. Untuk menghitung konstanta total
tergantung dari rangkaian pegas itu sendiri. Bila beberapa pegas dirangkai
secara seri, maka untuk mencari konstanta totalnya mengunakan rumus:
Sedangkan untuk pegas yang dirangkai paralel mengunakan rumus:
2.

Ayunan SederhanaSedangkan dalam ayunan sederhana untuk mencari


besarnya Periode digunakan rumus:
Kemudian dalam mencari frekuensi, karena nilai frekuensi berbanding terbalik
dengan periode maka didapatkan rumus:

dengan,
l = panjang tali (m)
g = gaya gravitasi bumi (m/s2)
5.

USAHA

DAN

ENERGI

a. USAHA
Usaha alias Kerja yang dilambangkan dengan huruf W , digambarkan sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh
Gaya (F) ketika Gaya bekerja pada benda hingga benda bergerak dalam jarak tertentu. Hal yang paling
sederhana adalah apabila Gaya (F) bernilai konstan (baik besar maupun arahnya) dan benda yang dikenai Gaya
bergerak pada lintasan lurus dan searah dengan arah Gaya tersebut.
Secara matematis, usaha yang dilakukan oleh gaya yang konstan didefinisikan sebagai hasil kali perpindahan
dengan gaya yang searah dengan perpindahan.
Persamaan matematisnya adalah :
W = Fs cos 0 = Fs (1) = Fs

W adalah usaha alias kerja, F adalah besar gaya yang searah dengan perpindahan dan s adalah besar
perpindahan.
Apabila gaya konstan tidak searah dengan perpindahan, sebagaimana tampak pada gambar di bawah, maka
usaha yang dilakukan oleh gaya pada benda didefinisikan sebagai perkalian antara perpindahan dengan
komponen gaya yang searah dengan perpindahan. Komponen gaya yang searah dengan perpindahan
adalah F cos teta
Hasil perkalian antara besar gaya (F) dan besar perpindahan (s) di atas merupakan bentuk perkalian titik atau
perkalian skalar. Karenanya usaha masuk dalam kategori besaran skalar. Pelajari lagi perkalian vektor dan
skalar kalau dirimu bingun Persamaan di atas bisa ditulis dalam bentuk seperti ini :
Satuan Usaha dalam Sistem Internasional (SI) adalah newton-meter. Satuan newton-meter juga biasa disebut
Joule ( 1 Joule = 1 N.m). menggunakan sistem CGS (Centimeter Gram Sekon), satuan usaha disebut erg. 1 erg
= 1 dyne.cm. Dalam sistem British, usaha diukur dalam foot-pound (kaki-pon). 1 Joule = 10 7 erg = 0,7376 ft.lb.
Perlu anda pahami dengan baik bahwa sebuah gaya melakukan usaha apabila benda yang dikenai gaya
mengalami perpindahan. Jika benda tidak berpindah tempat maka gaya tidak melakukan usaha. Agar
memudahkan pemahaman anda, bayangkanlah anda sedang menenteng buku sambil diam di tempat. Walaupun
anda memberikan gaya pada buku tersebut, sebenarnya anda tidak melakukan usaha karena buku tidak
melakukan perpindahan. Ketika anda menenteng atau menjinjing buku sambil berjalan lurus ke depan, ke
belakang atau ke samping, anda juga tidak melakukan usaha pada buku. Pada saat menenteng buku atau
menjinjing tas, arah gaya yang diberikan ke atas, tegak lurus dengan arah perpindahan. Karena tegak lurus
maka sudut yang dibentuk adalah 90 o. Cos 90o = 0, karenanya berdasarkan persamaan di atas, nilai usaha sama
dengan nol. Contoh lain adalah ketika dirimu mendorong tembok sampai puyeng jika tembok tidak
berpindah tempat maka walaupun anda mendorong sampai banjir keringat, anda tidak melakukan usaha. Kita
dapat menyimpulkan bahwa sebuah gaya tidak melakukan usaha apabila gaya tidak menghasilkan perpindahan
dan arah gaya tegak lurus dengan arah perpindahan.
b. ENERGI
Segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan energi. Untuk bertahan hidup kita
membutuhkan energi yang diperoleh dari makanan. Setiap kendaraan membutuhkan energi untuk bergerak dan
energi itu diperoleh dari bahan bakar. Hewan juga membutuhkan energi untuk hidup, sebagaimana manusia
dan tumbuhan.

Energi merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam fisika. Konsep yang sangat erat kaitannya
dengan usaha adalah konsep energi. Secara sederhana, energi merupakan kemampuan melakukan usaha.
Definisi yang sederhana ini sebenarnya kurang tepat atau kurang valid untuk beberapa jenis energi (misalnya
energi panas atau energi cahaya tidak dapat melakukan kerja). Definisi tersebut hanya bersifat umum. Secara
umum, tanpa energi kita tidak dapat melakukan kerja. Sebagai contoh, jika kita mendorong sepeda motor yang
mogok, usaha alias kerja yang kita lakukan menggerakan sepeda motor tersebut. Pada saat yang sama, energi
kimia dalam tubuh kita menjadi berkurang, karena sebagian energi kimia dalam tubuh berubah menjadi energi
kinetik
sepeda motor. Usaha dilakukan ketika energi dipindahkan dari satu benda ke benda lain. Contoh ini juga
menjelaskan salah satu konsep penting dalam sains, yakni kekekalan energi. Jumlah total energi pada sistem
dan lingkungan bersifat kekal alias tetap. Energi tidak pernah hilang, tetapi hanya dapat berubah bentuk dari
satu bentuk energi menjadi bentuk energi lain. Mengenai Hukum Kekekalan Energi akan kita kupas tuntas
dalam

pokok

bahasan

tersendiri.

6. MOMENTUM, IMPULS, DAN TUMBUKAN


Definisi Momentum
Momentum adalah sebuah nilai dari perkalian materi yang bermassa / memiliki bobot dengan pergerakan /
kecepatan. Dalam Fisika momentum dilambangkan dengan huruf p, secara matematis momentum dapat
dirumuskan :
p= m . v
p = momentum, m = massa, v = kecepatan / viscositas (dalam fluida)
Momentum akan berubah seiring dengan perubahan massa dan kecepatan. Semakin cepat pergerakan suatu
materi/benda akan semakin besar juga momentumnya. Semakin besar momentum, maka semakin dahsyat
kekuatan yang dimiliki oleh suatu benda. Jika materi dalam keadaan diam, maka momentumnya sama dengan
nol. Sebaliknya semakin cepat pergerakannya, semakin besar juga momentumnya. (Filosofi : Jika manusia
tidak mau bergerak / malas, maka hasil kerjanya sama dengan nol).
Definisi Impuls
Impuls adalah selisih dari momentum atau momentum awal dikurangi momentum akhir. Dalam Fisika impuls
dilambangkan dengan simbol / huruf I. Secara matematis impuls dirumuskan :
I = p2 p1 = p
I = m.v2 m.v1

I = m(v2 v1)
I = m. v
Karena m = F/a (bisa dibaca di Aplikasi Hukum Newton Dalam Kehidupan) , maka :
I = F/a . v
I = [F/(v/t)] . v
I = F . t
F = I/t
I = impuls, p1 = momentum awal, p2 = momentum akhir, F = gaya, t = waktu sentuh, v = selisih kecepatan
Nah, dari rumus F = I/t inilah letak pemanfaatan aplikasi momentum dan impuls. Semakin kecil waktu
sentuh, maka semakin besar gaya yang akan diterima benda. Semakin lama waktu sentuh, maka semakin kecil
gaya yang diterima benda.
Aplikasi Momentum dan Impuls
Mobil di desain untuk mudah penyok, hal ini bertujuan untuk memperbesar waktu sentuh untuk memperkecil
gaya yang diterima oleh pengendara. Dengan demikian diharapkan, keselamatan pengemudi lebih dapat
terjamin. Jika kecepatannya besar, maka gaya yang diterima akan besar, sehingga pengendara akan mengalami
kecelakaan yang fatal. Jadi pesan saya jangan ngebut, walaupun mobil sudah di design sedemikian rupa.
Balon udara pada mobil juga bertujuan untuk memperlambat waktu sentuh antara kepala pengemudi dengan
setir mobil. Ingat, semakin besar waktu sentuh, maka semakin kecil gaya yang akan mengenai kepala
pengemudi. Sabuk pengaman juga fungsi dan cara kerjanya sama dengan balon udara pada mobil, yakni untuk
mengurangi waktu sentuh antara pengemudi dengan dashboard mobil pada saat bersentuhan.
JENIS-JENIS TUMBUKAN
Perlu anda ketahui bahwa biasanya dua benda yang bertumbukan bergerak mendekat satu dengan yang lain
dan setelah bertumbukan keduanya bergerak saling menjauhi. Ketika benda bergerak, maka tentu saja benda
memiliki kecepatan. Karena benda tersebut mempunyai kecepatan (dan massa), maka benda itu pasti memiliki
momentum (p = mv) dan juga Energi Kinetik (EK = mv2).
TUMBUKAN LENTING SEMPURNA

Tumbukan lenting sempurna tu maksudnya bagaimanakah ? Dua benda dikatakan melakukan Tumbukan
lenting sempurna jika Momentum dan Energi Kinetik kedua benda sebelum tumbukan = momentum dan energi
kinetik setelah tumbukan. Dengan kata lain, pada tumbukan lenting sempurna berlaku Hukum Kekekalan
Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik.
Sekarang mari kita tinjau persamaan Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik
pada perisitiwa Tumbukan Lenting Sempurna. Untuk memudahkan pemahaman dirimu, perhatikan gambar di
bawah.
Dua benda, benda 1 dan benda 2 bergerak saling mendekat. Benda 1 bergerak dengan kecepatan v 1dan benda 2
bergerak dengan kecepatan v2. Kedua benda itu bertumbukan dan terpantul dalam arah yang berlawanan.
Perhatikan bahwa kecepatan merupakan besaran vektor sehingga dipengaruhi juga oleh arah. Sesuai dengan
kesepakatan, arah ke kanan bertanda positif dan arah ke kiri bertanda negatif. Karena memiliki massa dan
kecepatan, maka kedua benda memiliki momentum (p = mv) dan energi kinetik (EK = mv2). Total
Momentum dan Energi Kinetik kedua benda sama, baik sebelum tumbukan maupun setelah tumbukan.
Secara matematis, Hukum Kekekalan Momentum dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan :
m1 = massa benda 1, m2 = massa benda 2
v1 = kecepatan benda sebelum tumbukan dan v2 = kecepatan benda 2 Sebelum tumbukan
v1 = kecepatan benda Setelah tumbukan, v2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan
Jika dinyatakan dalam momentum,
m1v1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan, m1v1 = momentum benda 1 setelah tumbukan
m2v2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan, m2v2 = momentum benda 2 setelah tumbukan
Pada Tumbukan Lenting Sempurna berlaku juga Hukum Kekekalan Energi Kinetik. Secara matematis
dirumuskan sebagai berikut :
TUMBUKAN LENTING SEBAGIAN

Pada tumbukan lenting sebagian, Hukum Kekekalan Energi Kinetik tidak berlaku karena ada perubahan energi
kinetik terjadi ketika pada saat tumbukan. Perubahan energi kinetik bisa berarti terjadi pengurangan Energi
Kinetik atau penambahan energi kinetik. Pengurangan energi kinetik terjadi ketika sebagian energi kinetik
awal diubah menjadi energi lain, seperti energi panas, energi bunyi dan energi potensial. Hal ini yang membuat
total energi kinetik akhir lebih kecil dari total energi kinetik awal. Kebanyakan tumbukan yang kita temui
dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam jenis ini, di mana total energi kinetik akhir lebih kecil dari total
energi kinetik awal. Tumbukan antara kelereng, tabrakan antara dua kendaraan, bola yang dipantulkan ke lantai
dan lenting ke udara, dll.
Sebaliknya, energi kinetik akhir total juga bisa bertambah setelah terjadi tumbukan. Hal ini terjadi ketika
energi potensial (misalnya energi kimia atau nuklir) dilepaskan. Contoh untuk kasus ini adalah peristiwa
ledakan.
Suatu tumbukan lenting sebagian biasanya memiliki koofisien elastisitas (e) berkisar antara 0 sampai 1. Secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut :
Bagaimana dengan Hukum Kekekalan Momentum ? Hukum Kekekalan Momentum tetap berlaku pada
peristiwa tumbukan lenting sebagian, dengan anggapan bahwa tidak ada gaya luar yang bekerja pada bendabenda yang bertumbukan.
TUMBUKAN TIDAK LENTING SAMA SEKALI
Bagaimana dengan tumbukan tidak lenting sama sekali ? suatu tumbukan dikatakan Tumbukan Tidak Lenting
sama sekali apabila dua benda yang bertumbukan bersatu alias saling menempel setelah tumbukan. Salah satu
contoh populer dari tumbukan tidak lenting sama sekali adalah pendulum balistik. Pendulum balistik
merupakan sebuah alat yang sering digunakan untuk mengukur laju proyektil, seperti peluru. Sebuah balok
besar yang terbuat dari kayu atau bahan lainnya digantung seperti pendulum. Setelah itu, sebutir peluru
ditembakkan pada balok tersebut dan biasanya peluru tertanam dalam balok. Sebagai akibat dari tumbukan
tersebut, peluru dan balok bersama-sama terayun ke atas sampai ketinggian tertentu (ketinggian
maksimum). Lihat gambar di bawah
Apakah pada Tumbukan Tidak Lenting Sama sekali berlaku hukum Kekekalan Momentum dan Hukum
Kekekalan Energi Kinetik ?
Perhatikan gambar di atas. Hukum kekekalan momentum hanya berlaku pada waktu yang sangat singkat ketika
peluru dan balok bertumbukan, karena pada saat itu belum ada gaya luar yang bekerja. Secara matematis
dirumuskan sebagai berikut :

m1v1 + m2v2 = m1v1 + m2v2


m1v1 + m2(0) = (m1 + m2) v
m1v1 = (m1 + m2) v- persamaan 1
Inilah materi fisika kelas X1 tentang persamaan gerak

Incoming search terms:


materi persamaan gerak kelas xi,soal dan pembahasan persamaan gerak,contoh soal
gerak parabola dan penyelesaiannya,contoh soal gerak parabola dan
pembahasannya,soal fisika kelas xi semester 1,soal gerak parabola dan
pembahasannya,materi fisika tentang persamaan gerak,contoh soal persamaan
gerak,Materi persamaan gerak,rumus persamaan gerak

Posts related to Materi Fisika Kelas XI Semester 1 : Persamaan Gerak

Materi Fisika Kelas VII : Pengukuran Panjang, Massa, dan Waktu

Pembahasan Soal Fisika Kelas VII : Besaran dan Satuan

Pembahasan Soal Fisika Kelas X : Pengukuran

Pembahasan Soal Kimia Kelas XI : Perkembangan Teori Atom Modern

This entry was posted in Fisika, Kelas XI, SMA and tagged Materi Fisika Kelas XI Semester 1 :
Persamaan Gerak,pembahasan soal fisika kelas XI, Pembahasan Soal Fisika UAN 2013. Last

Modified: April 18, 2013


Materi Pelajaran Ekonomi Kelas XII Semester 1: Manajemen
Materi Biologi Kelas XI Semester 1 : Sel
Search

Recent Posts

Tata Cara Pendaftaran SBMPTN 2013

Matematika SMA Kelas XI : Peluang

Beasiswa S1/S2/S3 Pemerintah Turki 2013/2014

Beasiswa S1 Singapore 2013 Gratis Pada Berbagai Bidang Studi

Materi Bahasa Inggris Kelas XI: Expressing Satisfaction And Dissatisfaction

Advertisement
Categories

Beasiswa

Perguruan Tinggi

SBMPTN

SIMAK UI
SMA

Kelas X

Biologi

Fisika

Kimia

Matematika
Kelas XI

Bahasa Inggris

Biologi

Fisika

Kimia
Kelas XII

UAN Bahasa Inggris

UAN Ekonomi

SMP

Kelas IX

Biologi

Kelas VII

Biologi

Fisika

SNMPTN

Bahasa Inggris

Matematika

Pencarian Terkini

materi contoh soal gerak melingkar fisika xi bab 1

materi: logika kelas IX SMA

soal dan jawaban mekanika kuantum kelas xi

kumpulan soal dan jawaban mekanika kuantum kelas xi

Materi ekonomi kelas 12 management

jawaban fisika mencari persamaan posisi sudut

soal pengembangan modal

persamaan gerak dan contoh soal serta pembahasanya

soal dan pembahasan materi peluang sma kelas 2 sma

MATERI BELAJAR BAHASA INGGRISSMK KLS XII SEMESTER 1

Powered By
Norival
2013 Pembahasan Soal Theme by Web Desain Indonesia
YOU MIGHT ALSO LIKEclose

Sunday, 05/05/2013 6:41 AM

Tata Cara Pendaftaran SBMPTN 2013

Saturday, 04/05/2013 3:32 PM

Matematika SMA Kelas XI : Peluang

http://pembahasansoal.com/materi-fisika-kelas-xi-semester-1-persamaangerak/