Anda di halaman 1dari 5

Landasan Psikologis Pendidikan | 1

PENDAHULUAN
Bab yang dilaporkan dalam laporan baca kali ini adalah bab yang berjudul Landasan
Psikologis Pendidikan yang terdapat pada buku Landasan Pendidikan yang ditulis oleh Tim
Penyusun Buku Landasan Pendidikan, dan Hand Out Landasan Pendidikan yang ditulis oleh
Pak Drs. Babang Robandi.
RINGKASAN
Bab ini menjelaskan tentang Landasan Psikologis Pendidikan. Di dalam bab ini saya
mengambil empat pokok bahasan yaitu Pengertian Landasan Psikologis Pendidikan,
Perkembangan individu dan implikasinya terhadap pendidikan, Teori belajar dan
implikasinya terhadap pendidikan, dan Jenis-jenis Upaya Pendidikan
INTI REVIU
1. Pengertian Landasan Psikologis Pendidikan
Pengertian psikologi, menurut asal katanya psikologi berasal dari bahasa Yunani
yaitu Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa, sukma dan roh, sedangkan logos berarti ilmu
pengetahuan atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang
jiwa. Landasan Psikologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari studi
ilmiah dalam bidang psikologi yang menjadi sandaran, tumpuan atau titik tolak studi dan
praktek pendidikan Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang ilmu pendidikan
yang dipengaruhi oleh perkembangan dan hasil-hasil penelitian psikologi, yang bertolak
dari asumsi bahwa pendidikan ialah hal ihwal individu yang sedang belajar
2. Perkembangan individu dan implikasinya terhadap pendidikan
Dalam perjalanan hidupnya setiap individu mengalami perkembangan, yaitu
perubahan-perubahan yang teratur sejak dari pembuahan sampai mati. Perubahan pada
individu dapat berbentuk kematangan (maturation) dan berbentuk belajar. Kematanagn
adalah perubahan yang terjadi secara alami dan spontan tanpa dipengaruhi dari luar,
sedangkan belajar merupakan perubahan yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau
latihan. Sekurang-kurangnya ada tiga prinsip umum perkembangan individu, yaitu

Perkembangan setiap individu menunjukkan perbedaan dalam kecepatan dan irama


Perkembangan berlangsung relatif teratur

Landasan Psikologis Pendidikan | 2

Perkembangan berlangsung berangsur secara bertahap. Setiap tahap perkembangan


individu mempunyai tugas-tugas perkembangan (developmental task) yang harus
diselesaikan oleh individu ( Robert Havigurst).

Berdasarkan perkembangan individu, tenaga kependidikan memerlukan ilmu


pendidikan yang cocok dengan tingkat perkembangan usia. Bagi anak-anak, pendidikan
dikenal dengan istilah pedagogi yang berarti ilmu dan seni mengajar (membelajarkan)
anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children) (Knowles, 1977). Bagi
orang dewasa, pendidikan dikenal dengan istilah andragogi yaitu ilmu dan seni membantu
orang dewasa belajar (andragogy is the science and arts of helping adults learn) (Cross,
1982). Bagi lanjut usia, pendidikan dikenal dengan gerogogi yaitu ilmu dan seni untuk
membantu manusia lanjut usia belajar (gerogogy is the science and arts of helping aging
learn). Masing-masing ilmu pendidikan tersebut dalam prakteknya memiliki asumsi dan
karekateristik yang berbeda sesuai dengan tingkat perkembangan individu yang menjadi
peserta didiknya.
3. Teori belajar dan implikasinya terhadap pendidikan
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti
bahwa berhasil atau gagalnya pencapai tujuan pendidikan itu amat bergantung pada
proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di
lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. (Muhibbin Syah, 2013: 87) Oleh karena
itu, belajar juga dapat dikatakan sebagai komponen ilmu pendidikan yang berkenaan
dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit
(tersembunyi). Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar tersebut
individu menggunakan kemampuan pada ranah-ranah:
1. Kognitif, yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuuan, penalaranatau
pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis,
dan evaluasi
2. Afektif, yaitu kemampuan yang menggunakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi
yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi,
penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.
3. Psikomotorik, yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri
dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks,
penyesuaian pola gerakan dan kreativitas. (Syaifurrahman, (t.t.): 55-56)

Landasan Psikologis Pendidikan | 3

Di dalam menerapkan belajar dalam sistem pembelajaran, para ahli kemudian


mengemukakan beberapa penelitiannya. Sehingga muncul teori-teori belajar yang telah
dikenal hingga saat ini. Diantara teori-teori belajar tersebut ialah Behavioristik,
Kognitivisme, Konstruktivisme, dan Humanistik.
1. Teori Belajar Behaviorisme
Pada aliran behavioristik ini, umumnya proses belajar bergantung kepada tingkah
laku dan juga pembiasaan yang dilakukan oleh seorang guru. Aplikasi yang dapat
dilakukan oleh guru jika menganut aliran behavioristik ini adalah dengan cara
menerapkan reward sebagai sebuah stimulus agar siswa mau merespon dengan baik
apa yang diajarkan kepadanya. Reward ini bisa berupa dalam bentuk apapun sebagai
contoh misalnya guru membuat sebuah daftar nama siswa yang disana juga terdapat
sebuah kolom pengumpulan bintang. Jika siswa berhasil menjawab satu pertanyaan
guru maka siswa tersebut akan mendapatkan satu buah bintang. Kemudian bintang
tersebut terus diakumulasikan sampai akhir semester sehingga siswa mampu
mengumpulkan bintang sebanyak-banyaknya. Kemudian di akhir semester guru
memberikan reward kepada pengumpul bintang terbanyak berupa hadiah.
2. Teori Belajar Kognitivisme & Konstruktivisme
Peranan Guru. Dalam belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan
membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar.
Guru hanya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Peranan
kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi:
o Menumbuhkan kemandiriran dengan menyediakan kesempatan

untuk

mengambil keputusan dan bertindak.


o Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.
o Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa
mempunyai peluang optimal untuk berlatih. (Ria Arum Sari, 2012)
3. Teori Belajar Humanistik
Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk
berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan
siswa secara aktif dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara ekspilsit
belum ada pedman baku tantang langkah-langkah pembelajaran dengan
pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran dengan

Landasan Psikologis Pendidikan | 4

pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran yang


dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan dalam Hasanudin (2012) dapat
digunakan sebagai acuan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagi berikut :
a.
b.
c.
d.

Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.


Menentukan materi pembelajaran.
Mengidentifikasi kemampuan awal (entri behvior) siswa.
Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.

Implikasi Teori Belajar Terhadap Proses Pendidikan


1. Teori Belajar Behaviorisme
Mengacu pada berbagai argumentasi yang telah dipaparkan, maka secara ringkas
implikasi teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai
berikut (Tanpa Nama, 2015):
Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa.
Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah

pengetahuan.
Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang
terisolasi dengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner.

2. Teori Belajar Kognitivisme & Konstruktivisme


Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena
itu, guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara

berfikir anak.
Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara
dan diskusi dengan teman-temanya. (Nur Ernawati, 2013)

3. Teori Belajar Humanistik


Implikasi teori belajar humanistik dalam pembelajaran guru adalah (Baharuddin,
2009: 175) :
Memberi perhatian kepada pencintaan suasana awa, situasi kelompok atau

pengalaman kelas.
Membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan

di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat lebih umum.
Mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas
dan muda dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan

mereka.
4. Jenis Jenis Upaya Pendidikan

Landasan Psikologis Pendidikan | 5

Upaya pendidikan adalah suatu cara usaha pendidikan untuk membimbing anak
mencapai kedewasaannya. Cara tersebut dapat berbentuk pendidikan atau situasi yang
dengan sengaja diadakan untuk mendidik anak.Upaya pendidikan berbeda dengan factor
pendidikan. Faktor pendidikan adalah suatu pengaruh yang tidak sengaja diadakan oleh
pendidik, walaupun perilaku pendidik dapat mempengaruhi cara berfikir dan kata hati
anak.
Perbuatan pendidik yang sengaja ditonjolkan kepada anak sebagai teladan atau nasehat
yang selalu dikemukakan kepada anak, biasanya tidak memberikan efek yang diharapkan,
karena anak akan merasa tersinggung dalam kemandirian.
Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa proses pendidikan berlangsung antara
pendidik dan peserta didik.Upaya pendidikan dapat berupa ; peintah, larangan, ajakan,
saran, dorongan, dsb. Biasanya, setiap upaya pendidikan dilaksanakan berhubungan
dengan empat hal, yaitu ;
1.Untuk mencapai suatu tujuan pendidikan
2. Dihubungkan dengan siapa yang mempergunakan upaya iyu, walaupun upaya itu
jelas tujuannya, belum tentu seseorang dapat memakainnya dengan efektif.
3. Dihubungkan dengan cara atau bentuk upaya yang dipergunakan, seperti larangan,
perintah, dsb.
4.Bagaimana efeknya terhadap anak.
Berdasarkan uraian tersebut, mempunyai implikasi bahwa setiap upaya atau
pelaksanaan proses pendidikan, sebenarnya adalah sesuatu perbuatan wibawa, dimana
nilai atau maksud yang diinginkan harus sesuain dengan kenyataan.
KELEBIHAN dan KEKURANGAN
KESIMPULAN
REFERENSI
Tim Penyusun Buku Landasan Pendidikan, (2016), Landasan Pendidikan. Sub Koordinator
MKDP Landasan Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Drs. Robandi, Babang, (2005) Hand Out Mata Kuliah Landasan Pendidikan. UPI. Bandung.