Anda di halaman 1dari 15

Leptospirosis

Disusun oleh Kelompok 7:

Desya Maya Soraya

(P23133115009)

Dhea Rosana

(P23133115011)

Dwita Indah Sari

(P23133115014)

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II


Jurusan Kesehatan Lingkungan
2016

Leptospirosis
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan leptospira
dengan masa inkubasi selama 4 - 19 hari.
Leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia dan
dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Sistem klasifikasi
tradisional didasarkan atas patogenitas yang membedakan antara spesies patogen
yaitu Leptospira interrogans dan spesies nonpatogen yang hidup bebas, yaitu
Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk ulir yang rapat, tipis dengan panjang 515 mm. Leptospira dapat hidup berminggu-minggu di dalam air, khususnya pada
pH basa. (Brooks, 2005)

1. Agen Penyebab
Etiologi:
Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen (dapat menyebabkan penyakit)
berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo
spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan
berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L
interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.
Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia
diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya.
Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah kambing dan
sapi.
Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda.
Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan
pengerat dan tikus.

Mekanisme penularan:
a. Sumber Penularan
Hewan yang menjadi sumber penularan adalah tikus (rodent), babi,
kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, kelelawar, tupai dan
landak. Sedangkan penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi.
b. Cara Penularan
Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau
tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis.
Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata,
hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan
terinfeksi leptospira. Masa inkubasi selama 4 - 19 hari.

2. Karakteristik
Berikut adalah gejala pada penyakit Leptospirosis:
1. Nyeri kepala
2. Demam
3. Nyeri otot
4. Menggigil
5. Mual
6. Diare
7. Sakit perut
8. Batuk
9. Conjuctivitis
10. Pembesaran limpa
11. Pembesaran kelenjar limfe
12. Sakit tenggorokan
13. Pembesaran hati

Leptospirosis disebabkan oleh kontaminasi (kontak dengan) spirochaeta


yang dapat ditemukan dalam air yang terkontaminasi air kencing hewan. Ini
biasanya terjadi pada daerah beriklim tropis.

Masa inkubasi 2 sampai 26 hari (rata-rata 10 hari)

Demam tiba-tiba, menggigil, nyeri otot dan nyeri kepala merupakan gejala
awal.

Mual, muntah dan diare dialami oleh 50% kasus

Batuk kering dialami oleh 25-35 % kasus

Nyeri sendi, nyeri tulang, sakit tenggorokan dan sakit perut dapat juga
dijumpai tetapi agak jarang

Pendarahan conjuctiva merupakan tanda khas penyakit ini pada fase


leptospira beredar di dalam darah penderita

Gejala meningitis merupakan tanda khas fase kedua (50%). Kasus berat
dengan gejala karakteristik berupa demam tinggi disertai perdarahan,
kuning (jaundice) dan gagal ginjal dikenal dengan Weils disease; pada
keadaan ini angka kematian sangat tinggi.

3. Riwayat Perjalanan Penyakit


Tahapannya adalah sebagai berikut:
1. Prepatogenesis
Leptospirosis biasanya dapat melalui tikus. Penyakit ini dapat ditularkan
melalui air ( water borne disease ). Dan urin dari individu yang telah terserang
bakteri Leptospira sp. merupakan sumber utama penularan penyakit ini.
Ada dua cara penularan Leptospirosis, yaitu:
o Secara langsung: terjadi kontak antara manusia dengan hewan yang telah
terkena bakteri Leptospira, sp.

o Secara tak langsung: melalui kontak hewan atau manusia dengan barangbarang yang telah tercemar urin penderita leptospirosis.
Misalnya: air kencing tikus terbawa banjir, dan terjadi kontak antara manusia
dengan air yang sudah tercemar oleh air kencing tikus yang telah terserang bakteri
Leptospira sp.
Kuman leptospira biasanya memasuki tubuh melalui luka atau lecet kulit, dan
kadang-kadang melalui selaput di dalam mulut, hidung, dan mata.
2. Patogenesis
Ada 4 tahapan, yaitu:
a. Tahap inkubasi
Masa inkubasi penyakit Leptospirosis pada manusia yaitu 2-26
hari.
b. Tahap penyakit dini
Timbul masalah kesehatan seperti demam, batuk kering, nyeri
tenggorokan, nyeri dada, nyeri otot, nyeri kepala, takut cahaya, muntah,
dan mata merah. Tapi ada juga penderita yang tidak menunjukkan tandatanda seperti yang disebutkan di atas.
c. Tahap penyakit lanjut
Pada penderita leptospirosis yang lebih lanjut dapat menimbulkan
penyakit yang lebih parah seperti:

Sindrom Weil

Yaitu bentuk leptospirosis berat yang ditandai dengan jaundis (kulit dan
mukosa menjadi kuning), disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru,
dan diathesis perdarahan.

Tanda pada paru-paru: terjadi batuk,, nyeri dada, sputum darah, dan gagal

napas.
Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal.
Jika menyerang hati akan terdapat ikterus ( penyakit kuning ),
hepatomegali ( perbesaran hati ), perdarahan dan perbesaran limpa

( splenomegali ).
Perdarahan subkonjungtiva: yaitu komplikasi pada mata. Hal ini sering

terjadi pada 92% penderita leptospirosis.


Makular atau rash makulopapular, nyeri perut mirip apendisitis akut,

pembesaran kelenjar limfoid mirip infeksi mononukleosis.


Komplikasi ke selaput otak ( terjadi radang otak/ meningitis) dapat
menimbulkan gejala nyeri kepala, kejang-kejang, leher kaku, dan

penurunan kesadaran.
Pada penderita leptospirosis dengan usia lanjut ( 50 tahun ke atas ) dengan
gangguan hati dapat mengakibatkan risiko kematian sebesar 20-49 persen.

d. Tahap penyakit akhir

Sembuh sempurna
Penderita diberi obat berupa antibiotik sebelum penyakit semakin
parah. Hal ini memungkinkan si penderita akan sembuh total dari
leptospirosis.

Sembuh dengan cacat


Misal pada penderita leptospirosis yang mengalami komplikasi pada
mata (perdarahan subkonjungtiva) bisa mengakibatkan kebutaan bila
terjadi perdarahan yang cukup berat.

Karier

Pada umumnya leptospirosis diobati menggunakan antibiotik. Jika si


penderita merasa sudah sembuh dan menghentikan meminum antibiotik,
padahal belum habis. Maka kuman penyebab leptospirosis itu hanya
melemah dan tidak sembuh sempurna, sehingga dapat kambuh sewaktuwaktu jika ada faktor pemicunya.

4. Epidemiologi
1. Orang
Untuk kategori orang, mereka yang beresiko terpapar bakteri leptospira
adalah mereka yang bekerja di sektor petani, peternak, pekerja tebu, dokter
hewan, penjual susu, Mereka-mereka itu jika di lihat dari segi profesinya. Jika
berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai resiko yang tinggi terpapar
bakteri leptospira ini. Selain itu, penyakit ini dapat terjadi pada orang-orang yang
terpajan dengan sungai, atau danau yang airnya tercemar dengan urine binatang
terinfeksi bakteri leptospira.
2. Tempat
Tempat-tempat yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah daerah
persawahan, daerah rawa, lahan gambut, dan daerah kumuh.

3. Waktu
Waktu penyebaran penyakit Leptospirosis secara umum pada musim
hujan, tapi tidak selamanya pada musim hujan mempunyai insidensi tinggi untuk
penyakit Leptospirosis, tergantung pada genangan air yang akan terbentuk jika
terjadi hujan. Itupun juga kalau terjadi banjir dengan hasil banjir yang memukau.
Meskipun bukan musim hujan , kalau tetap masih ada juga genangan air yang

tercemar bakteri leptospira yang berasal dari urin tikus akan terinfeksi penyakit
Leptospirosis.

5. Peranan Lingkungan
a. Lingkungan fisik
1) Keberadaan badan air atau sungai
Keberadaan sungai atau badan air dapat menjadi media penularan
leptospirosis secara tidak langsung. Peran sungai sebagai media penularan
penyakit leptospirosis terjadi ketika air sungai terkontaminasi oleh urin tikus atau
hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri leptospira sehingga cara penularannya
disebut Water-Borne Infection. Untuk terjadinya penularan melalui badan air atau
sungai berkaitan erat dengan kebiasaan atau aktivitas penduduk terkait
penggunaan air di badan air atau sungai. Kotoran yang berasal dari hewan dan
orang yang mengandung bakteri dan virus dapat dihanyutkan dalam sungai yang
biasa terdapat dalam tangki tinja dan di dalam sumur atau mata air yang tidak
terlindungi. Menurut Anderson(2004), tempat tinggal yang dekat dengan sungai
mempunyai risiko 1,58 kali lebih tinggi terkena leptospirosis.

2) Keberadaan parit atau selokan


Parit atau selokan merupakan tempat yang sering dijadikan tempat tinggal
tikus ataupun merupakan jalur tikus masuk ke dalam rumah. Hal ini dikarenakan
kondisi buangan air dari dalam rumah umumnya terdapat saluran yang terhubung
dengan parit atau selokan di lingkungan rumah. Peran parit atau selokan sebagai
media penularan penyakit leptospirosis terjadi ketika air pada parit atau selokan

terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan peliharaan yang terinfeksi bakteri
Leptospira.
Kondisi selokan yang banjir selama musim hujan mempunyai risiko 4 kali
lebih tinggi terkena leptospirosis dan tempat tinggal yang dekat dengan selokan
air mempunyai risiko 5 kali lebih tinggi terkena leptospirosis. Menurut penelitian
Rejeki (2005) faktor resiko kejadian leptospirosis berat adalah jarak rumah
dengan parit atau selokan = 2 meter.
3) Genangan air
Keberadaan genangan air menjadi peranan dalam penularan penyakit
leptospirosis karena dengan adanya genangan air menjadi tempat berkembang
biaknya bakteri Leptospira dari hewan baik tikus maupun hewan peliharaan
seperti kucing, anjing dan kambing yang melewatinya. Peran keberadaan
genangan air di sekitar rumah sebagai jalur penularan penyakit leptospirosis
terjadi ketika genangan air tersebut terkontaminasi oleh urin tikus atau hewan
peliharaan yang terinfeksi bakteri Leptospira. Melalui pencemaran air dan tanah
oleh urin tikus yang terdapat di genangan air akan mempermudah masuknya
bakteri Leptospira ke dalam tubuh manusia karena terjadinya kontak langsung
maupun tidak langsung dengan tikus maupun hospes perantara. Bakteri Leptospira
khususnya species L. icterrohaemorrhagiae banyak menyerang pada tikus got
(Ratus norvegicus) dan tikus rumah (Ratus diardi) Sedangkan L. Ballum
menyerang tikus kecil (Mus musculus). Biasanya yang mudah terjangkit penyakit
leptospirosis adalah usia produktif dengan karakteristik tempat tinggal :
merupakan daerah yang padat penduduknya, banyak pejamu reservoar,
lingkungan yang sering tergenang air maupun lingkungan kumuh. Tikus biasanya
kencing di genangan air. Lewat genangan air inilah bakteri leptospira akan masuk
ke tubuh manusia.
Beberapa hasil penelitian, orang yang di sekitar rumahnya terdapat
genangan air mempunyai risiko 4,1 kali terkena leptospirosis daripada orang yang
di sekitar rumahnya tidak terdapat genangan air. Sebagian besar keberadaan

genangan air tersebut berasal dari air hujan. Menurut penelitian Priyanto (2007)
dan penelitian Ningsih (2009) faktor resiko kejadian leptospirosis adalah adanya
genangan air disekitar rumah.
4) Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah
Tikus senang berkeliaran di tempat sampah untuk mencari makanan. Jarak
rumah yang dekat dengan tempat pengumpulan sampah mengakibatkan tikus
dapat masuk ke rumah dan kencing di sembarang tempat. Jarak rumah yang
kurang dari 500 m dari tempat pengumpulan sampah menunjukkan kasus
leptospirosis lebih besar dibanding yang lebih dari 500 meter.
b. Lingkungan biologik
1) Keberadaan Tikus Ataupun Wirok Di Dalam Dan Sekitar Rumah.
Bakteri leptospira khususnya spesies L. Ichterro haemorrhagiae banyak
menyerang tikus besar seperti tikus wirok (Rattus norvegicus dan tikus rumah
(Rattus diardii). Sedangkan L. ballum menyerang tikus kecil (mus musculus).
Melihat lima ekor tikus atau lebih di dalam rumah mempunyai risiko 4 kali lebih
tinggi terkena leptospirosis. melihat tikus di sekitar rumah mempunyai risiko 4
kali lebih tinggi terkena leptospirosis.

2) Keberadaan Hewan Piaraan Sebagai Hospes Perantara


(Kucing, Anjing, Kambing, Sapi, Kerbau, Babi).
c. Lingkungan sosial
1) Lama pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam


penularan penyakit khususnya leptospirosis. Pendidikan masyarakat yang rendah
akan membawa ketidaksadaran terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang
ada di sekitarnya. Semakin tinggi pendidikan masyarakat, akan membawa dampak
yang cukup signifikan dalam proses pemotongan jalur transmisi penyakit
leptospirosis.
2) Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko penting dalam kejadian penyakit
leptospirosis. Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain:
petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan, pekerja pengontrol tikus, tukang
sampah, pekerja selokan, buruh tambang, tentara, pembersih septic tank dan
pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang.
Dari beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pekerjaan sangat
berpengaruh pada kejadian leptospirosis. Pekerjaan yang berhubungan dengan
sampah mempunyai risiko 2 kali lebih tinggi terkena leptospirosis, kontak dengan
air selokan mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena leptospirosis, kontak
dengan air banjir mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena leptospirosis,
kontak dengan lumpur mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena leptospirosis.
3) Kondisi tempat bekerja
Leptospirosis dianggap sebagai penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan.
Namun demikian, cara pengendalian tikus yang diperbaiki dan standar kebersihan
yang lebih baik akan mengurangi insidensi di antara kelompok pekerja seperti
penambang batu bara dan individu yang bekerja di saluran pembuangan air kotor.
Pola epidemiologis sudah berubah di Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan
Israel, leptospirosis yang berhubungan dengan ternak dan air paling umum.
Kurang dari 20 persen pasien yang mempunyai kontak langsung dengan binatang;
mereka terutama petani, penjerat binatang atau pekerja pemotongan hewan. Pada

10

sebagian besar pasien, pemajanan terjadi secara kebetulan, dua per tiga kasus
terjadi pada anak-anak, pelajar atau ibu rumah tangga. Kondisi tempat bekerja
yang selalu berhubungan dengan air dan tanah serta hewan dapat menjadi salah
satu faktor risiko terjadinya proses penularan penyakit leptospirosis. Air dan tanah
yang terkontaminasi urin tikus ataupun hewan lain yang terinfeksi leptospira
menjadi mata rantai penularan penyakit leptospirosis.

6. Tindakan/Upaya Pencegahannya
Tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Pencegahan Primer, dilakukan saat individu belum menderita sakit.
Meliputi hal-hal berikut;
a. Promosi Kesehatan (Health Promotion)
Dalam kegiatan promosi kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan diri (personal
hygiene) dan lingkungan (envirotment), upaya yang dilakukan diantaranya;

Memberikan pendidikan kesehatan mengenai bahaya serta cara


menular penyakit, berperan dalam upaya pencegahan penyakit
leptospirosis. Usaha-usaha lain yang dapat dianjurkan antara lain
mencuci kaki, tangan serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah

bekerja di sawah.
Membiasakan diri dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan
penyakit leptospirosis.

b. Perlindungan/pencegahan Khusus (Spesific Protection)


Berupa upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit
leptospirosis, misalnya pemberian vaksin terhadap hewan-hewan peliharaan dan
hewan ternak dengan vaskin strain lokal, mengisolasi hewan-hewan sakit guna
melindungi masyarakat, rumah-rumah penduduk serta daerah-daerah wisata dari

11

urine hewan-hewan tersebut, pemberantasan rodent (tikus) dengan peracunan atau


cara-cara lain, melindungi pekerja-pekerja yang dalam pekerjaannya mempunyai
resiko yang tinggi terhadap Leptospirosis dengan penggunaan sepatu bot dan
sarung tangan. Pengendalian perlu juga dilakukan pada hewan yang terinfeksi
bakteri leptospira sp. Dengan pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan
vaksin Leptospira.Vaksin Leptospira untuk hewan adalah vaksin inaktif dalam
bentuk cair (bakterin) yang sekaligus bertindak sebagai pelarut karena umumnya
vaksin Leptospira dikombinasikan dengan vaksin lainnya, misalnya distemper dan
hepatitis. Vaksin Leptospira pada anjing yang beredar di Indonesia terdiri atas dua
macam serovar yaitu L. canicola dan L. ichterohemorrhagiae. Vaksin Leptospira
pada anjing diberikan saat anjing berumur 12 minggu dan diulang saat anjing
berumur 14-16 minggu. Sistem kekebalan sesudah vaksinasi bertahan selama 6
bulan, sehingga anjing perlu divaksin lagi setiap enam bulan. Misalnya, pada
anjing, sapi, babi, tikus, kucing, marmut sebaiknya di vaksin atau dibasmi.
2. Pencegahan Sekunder, dilakukan pada saat individu mulai sakit.
a. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and promp
treatment).
Tujuan dari tindakan ini adalah mencegah penyebaran penyakit jika
penyakit tersebut merupakan penyakit menular. Dalam mencegah penyebaran
penyakit leptospirosis usaha yang dapat dilakukan misalnya, pengamatan
terhadap hewan rodent yang ada disekitar penduduk, terutama di desa dengan
melakukan penangkapan tikus untuk diperiksa terhadap kuman Leptospirosis.
Mengobati dan menghentikan proses penyakit dengan cara memutuskan rantai
penyebaran bakteri leptospirosis dengan cara membasmi reservoinya yang
terinfeksi bakteri leptospira sp. Manusia rawan oleh infeksi semua serovar
Leptospira sehingga manusia harus mewaspadai cemaran urin dari semua
hewan Perilaku hidup sehat dan bersih merupakan cara utama untuk
menanggulangi Leptospirosis tanpa biaya. Manusia yang memelihara hewan
kesayangan hendaknya selalu membersihkan diri dengan antiseptik setelah
kontak dengan hewan kesayangan, kandang, maupun lingkungan di mana

12

hewan berada. Manusia harus mewaspadai tikus sebagai pembawa utama dan
alami

penyakit

ini.

Pemberantasan

tikus

terkait

langsung

dengan

pemberantasan Leptospirosis Selain itu, para peternak babi dihimbau untuk


mengandangkan ternaknya jauh dari sumber air. Feses ternak perlu diarahkan
ke suatu sumber khusus sehingga tidak mencemari lingkungan terutama
sumber air. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya dapat
dilakukan beberapa hal diantaranya :

Laporan kepada instansi kesehatan setempat


Isolasi : tindakan kewaspadaan terhadap darah dan cairan tubuh
Desinfektan serentak : dilakukan terhadap benda yang tercemar dengan

urin
Pengobatan spesifik
b. Pembatasan kecacatan (disability limitation).
Untuk memperkecil angka kematian sebaiknya semua suspect (tersangka)
penderita Leptospirosis segera dibawa ke Puskesmas/rumah sakit yang
terdekat untuk segera mendapati pengobatan.
3. Pencegahan Tersier (Rehabilitasi)
Pada tahap ini, bertujuan untuk mencegah bertambah parahnya penyakit.
Oleh karena itu, dalam tahap ini juga dilakukan rehabilitasi untuk mencegah
terjadinya akibat efek samping dari penyembuhan suatu penyakit. Rehabilitasi
adalah usaha pemngembalian fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal
mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis, rehabilitasi mental/psikologis
serta rehabilitasi sosial.

13

DAFTAR PUSTAKA
http://jaliahbaby.blogspot.co.id/2008/11/epidemiologi-leptospirosis.html
http://kahar-spombob.blogspot.co.id/2011/06/leptospirosis.html
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/133/jtptunimus-gdl-sitinurcha-6633-3babii.pdf
http://dhelindworld.blogspot.co.id/2010/10/leptospirosis_26.html

14