Anda di halaman 1dari 2

Takmir: toleransi antarumat di Solo tercipta

lama
Selasa, 21 Juli 2015 20:17 WIB | 5.072 Views
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto

ilustrasi - (kabaresolo.com)
Dua bangunan tempat peribadatan tersebut, berdampingan dan bahkan memiliki alamat yang
sama, yakni di Jalan Gatot Subroto Nomor 222 Solo"
Solo (ANTARA News) - Toleransi antarumat beragama yang masing-masing biasa beribadah di
Masjid Al Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Serengan, Kota Solo, Jawa
Tengah, tercipta sejak waktu yang cukup lama, kata takmir masjid setempat, Muhammad Nashir
Abu Bakar (52).
"Dua bangunan tempat peribadatan tersebut, berdampingan dan bahkan memiliki alamat yang
sama, yakni di Jalan Gatot Subroto Nomor 222 Solo," katanya Nashir Abu Bakar yang Takmir
Masjid Al Hikmah Serengan Kota Surakarta itu, di Solo, Selasa.
Ia menjelaskan perbedaan keyakinan tidak menyurutkan semangat umat Islam dan Kristen
setempat untuk saling menghormati, menjaga kerukunan, dan mengembangkan sikap toleransi.
Bangunan GKJ Joyodingratan didirikan sekitar 1937, sedangkan Masjid Al Hikmah sekitar 10

tahun kemudian atau pada 1947.


"Toleransi antarumat beragama tercipta tidak hanya saat melaksanakan perayaan hari besar
keagamaan. Namun juga saat menyelenggarakan kegiatan rutin oleh masing-masing tempat
ibadah," katanya.
Ia mencontohkan tentang praktik hidup toleransi itu, seperti saat pelaksanaan Idul Fitri yang
jatuh pada Minggu. Pengurus gereja langsung menelepon pengelola masjid untuk menanyakan
soal kepastian perayaan hari besar keagaman bagi umat muslim.
Pengelola gereja itu, kemudian memundurkan jadwal ibadah paginya pada Minggu menjadi
siang hari, supaya tidak mengganggu umat Islam yang melakukan shalat Idul Fitri.
Menurut dia, hal tersebut contoh kecil toleransi antarumat beragama yang hingga saat ini terus
dipelihara.
Pada kesempatan itu, ia menyatakan masih banyak contoh lainnya tentang praktik toleransi
antarumat beragama di masjid dan gereja setempat, termasuk hal yang terkait dengan
kepentingan kemasyarakatan.
Pimpinan GKJ Joyodiningratan Pendeta Nunung Istining Hyang mengatakan umat di daerah
setempat hingga saat ini terus menjaga toleransi yang telah terjalin sejak puluhan tahun lalu.
Ia mengatakan pengurus masjid selalu membolehkan halaman tempat ibadah itu untuk parkir
kendaraan umat kristiani GKJ Joyoningratan saat ibadah Natal dan Paskah.
Baik pihak gereja maupun masjid setempat, katanya, saling menghormati dan memberikan
kesempatan umat masing-masing untuk melaksanakan ibadah dengan lancar dan khusyuk.
Jika ada oknum tertentu yang ingin mengganggu kerukunan antarumat beragama di tempat itu,
katanya, baik pihak gereja maupun masjid akan bersama-sama mengantisipasi.
Editor: Ruslan Burhani