Anda di halaman 1dari 7

Kasus 2

Topik : Hepatitis A Akut


Tanggal (kasus)
: 17-08-2016
Presenter : dr. Nofianti fadillah
Tanggal Presentasi :
Pendamping : dr. Aisyah Bee
Tempat Presentasi : RSUD Kab. Kepulauan Meranti
Obyektif Presentasi :
V Keilmuan
Pustaka

V Diagnostik

Neonatus

Bayi

Keterampilan

Penyegaran

Manajemen

Anak

Remaja

Tinjauan

Masalah
Dewasa

Istimewa
Lansia

Bumil

Deskripsi :
Nn. KK, perempuan, 19 tahun, datang dengan keluhan mual- muntah, hal ini dirasakan sejak
1 hari SMRS. Muntah tidak dipengaruhi saat perut kosong. Pasien juga mengeluh demam
tinggi terus menerus, dan tidak nafsu makan 1 minggu yang lalu. Demam turun apabila
pasien minum obat penurun panas. Perut terasa begah, membesar dan nyeri pada sebelah
kanan atas. Pasien juga mengeluh BAK berwarna pekat seperti teh, dan BAB berwarna
hitam 2 hari yang lalu. Pasien juga merasa kedua matanya berwarna kuning. Riwayat
mengkonsumsi alkohol disangkal, riwayat mengkonsumsi obat-obatan disangkal, pasien
mengaku suka mengkonsumsi makan-makanan yang dijual dipinggir jalan.
Tujuan :
1. Menegakkan diagnosis hepatitis A akut
2. Memberikan tatalaksana serta edukasi mengenai hepatitis A akut
Bahan Bahasan :

Tinjauan Pustaka

Riset

Cara Membahas :

Diskusi

Data Pasien :

Nama : Nn. KK

No. Registrasi : 06.27.08

Nama Klinik :

Telpon :

Terdaftar sejak :

Presentasi dan diskusi

Kasus

Audit

Email

Pos

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / gambaran klinis :
Vital sign
:TD 120/80, nadi: 89x/menit, nafas 20x/menit, suhu 37,8C
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Komposmentis

Kepala
: konjuntiva tidak anemis, sklera ikterik (+)
Leher
: JVP 5-2 cmH20
Thorak
- Inspeksi
: gerakan dada simetris, retraksi sela iga (-), retraksi supraklavikula (-),
spider nevi (-)
- Palpasi
: fremitus kanan = kiri
- Perkusi
: sonor
- Auskultasi
: vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-), bunyi jantung I dan II normal,
murmur (-)
Abdomen
- Inspeksi
: perut tampak datar
- Palpasi
: supel, hepar teraba membesar, ukuran 3 jari dibawah arcus costa,
konsisten lunak, permukaan rata, tepi tajam, nyeri tekan (+), lien tidak teraba
- Perkusi
: timpani
- Auskultasi : bising usus normal
Ekstremitas
: akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-)
2. Riwayat pengobatan : pasien sudah pernah berobat ke klinik dokter dan diberi obat
penurun panas dan antibiotik tapi tidak membaik.
3. Riwayat penyakit dahulu : 4. Riwayat keluarga : 5. Riwayat imunisasi: lengkap
Daftar Pustaka :
1. Hepatitis virus akut dalam buku Panduan Pelayanan Medik. Perhimpunan dokter
specialis penyakit dalam indonesia. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI. 2010.
2. Acute viral hepatitis dalam buku harrisons Principles OF Internal Medicine 17th
Edition. L.Kasper MD, Dennis dkk United States of America: Mc Graw Hill. 2008
Hasil Pembelajaran :
1. Mampu menegakkan diagnosis hepatitis A akut
2. Dapat memberikan terapi awal dan edukasi penyakit kepada pasien

Rangkuman hasil pembelajaran hepatitis A akut


1. SUBJEKTIF
Nn. KK, perempuan, 19 tahun, datang dengan keluhan mual- muntah, hal ini dirasakan
sejak 1 hari SMRS. Muntah tidak dipengaruhi saat perut kosong. Pasien juga mengeluh
demam tinggi terus menerus, dan tidak nafsu makan 1 minggu yang lalu. Demam turun
apabila pasien minum obat penurun panas. Perut terasa begah, membesar dan nyeri pada
sebelah kanan atas. Pasien juga mengeluh BAK berwarna pekat seperti teh, dan BAB
berwarna hitam 2 hari yang lalu. Pasien juga merasa kedua matanya berwarna kuning.
Riwayat mengkonsumsi alkohol disangkal, riwayat mengkonsumsi obat-obatan disangkal,
pasien mengaku suka mengkonsumsi makan-makanan yang dijual dipinggir jalan. Pasien

sudah pernah berobat ke klinik dokter dan diberi obat penurun panas dan antibiotik tapi
tidak membaik.

2. OBJEKTIF
Vital sign : TD 120/80, nadi: 89x/menit, nafas 20x/menit, suhu 37,8C
STATUS LOKALIS
Kepala
: Sklera ikterik (+), konjuntiva tidak anemis
Abdomen
- Inspeksi
: perut tampak datar
- Palpasi
: supel, hepar teraba membesar, ukuran 3 jari dibawah arcus costa,
konsisten lunak, permukaan rata, tepi tajam, nyeri tekan (+), lien tidak teraba
- Perkusi
: timpani
- Auskultasi
: bising usus normal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
Hb = 15,7 gr/dl
RBC = 4.40 jt/mm
WBC = 8400 rb/mm
Tr = 320.000 rb/mm
Bilirubin total = 6, 7 mg/dl
Bilirubin direk= 2,54 mg/dl
Bilirubin indirek= 4,16 mg/dl
SGOT= u/l
SGPT= 243 u/l
3. ASSESMENT (Penalaran Klinis ) :
Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh banyak hal
namun yang terpenting diantaranya adalah karena infeksi virus-virus hepatitis,
terutama kelima satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Virus-virus
ini selain dapat menyebabkan peradangan hati akut, juga dapat menjadi kronik.
Hepatitis kronik dibedakan dengan hepatitis akut apabila masih terdapat tanda-tanda
peradangan hati dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan.
Hepatitis A adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Virus
ini menyebar terutama melalui ingests makanan atau air yang terkontaminasi dengan

tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kurangnya
penggunaan air bersih, sanitasi yang tidak memadai dan kebersihan pribadi yang
buruk. Tidak seperti hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak menyebabkan
penyakit hati kronis dan jarang berakibat fatal, tetapi dapat menyebabkan gejala yang
melemahkan tubuh dan dapat menjadi hepatitis fulminan (gagal hati akut), yang
berhubungan dengan kematian yang tinggi (WHO 2012).
Pada anamnesis didapatkan demam 7 hari sebelum masuk rumah sakit,
demam terus menerus, dan demam menurun jika minum obat penurun panas namun
tidak sampai suhu normal dan kembali panas beberapa saat setelahnya. Demam terjadi
disebabkan karena adanya pirogen, yang kemudain secara langsung mengubah set
point di hipotalamus, menghasilkan pembentukan panas dan konversi panas. Virus
dapat menyebabkan pembentukan pirogen eksogen, mekanisme virus memproduksi
demam antara lain dengan cara melakukan invasi secara langsung ke dalam makrofag,
reaksi imunologis terjadi terhadap komponen virus yang termasuk diantaranya yaitu
pembentukan antibodi, induksi oleh interferon dan nekrosis sel akibat virus.
Pasien terlihat kuning sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil
laboratorium Bilirubin total = 6, 7 mg/dl. Ikterus atau jaundice adalah perubahan
warna kulit, sklera mata, atau jaringan lainnya seperti membran mukosa yang menjadi
kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat konsentrasinya dalam
sirkulasi darah. Ikterus dapat diketahui bila kadar bilirubin darah lebih dari 2 mg%.
Sklera mudah menyimpan bilirubin karena terdiri atas banyak sekali serat-serat
elastin. Metabolisme bilirubin melalui empat langkah yaitu produksi, transportasi,
konyugasi, dan ekskresi. Bilirubin diproduksi dari hasil pemecahan heme yaitu bagian
dari hemoglobin yang nantinya membentuk bilirubin indirek kemudian diikat oleh
albumin untuk ditransportasi ke hepar yang bertanggung jawab atas clearance dari
bilirubin melalui proses konjugasi agar lebih larut air untuk disekresi ke empedu
kemudian diekskresi ke lumen usus. Bakteri usus mereduksi bilirubin terkonyugasi
menjadi serangkaian senyawa yang dinamakan sterkobilin atau urobilinogen. Zat-zat
ini menyebabkan feses berwarna coklat. Dalam usus bilirubin direk ini tidak
diabsorpsi, sebagian kecil bilirubin direk dihidrolisis menjadi bilirubin indirek dan
direabsorpsi. Siklus ini disebut siklus enterohepatis. Sekitar 10% sampai 20%
urobilinogen mengalami siklus enterohepatik, sedangkan sejumlah kecil diekskresi
dalam kemih. Kadar bilirubin total akan meningkat ketika ada kelainan pada empat

tahap metabolisme tersebut. Sehingga air kemih berwarna pekat seperti teh
disebabkan karena kadar bilirubin yang sangat tinggi yang dibuang melalui urin. Pada
hepatitis virus akut terjadi pembesaran hepar yang bersifat kenyal, tepi tajam,
permukaan rata.
Diagnosis hepatitis biasanya ditegakkan dengan pemeriksaan tes fungsi hati,
khususnya alanin amino transferase (ALT=SGPT), aspartat amino treansferase
(AST=SGOT). Kadar transaminase (SGOT/SGPT) mulai meningkat pada masa
prodomal dan mencapai puncak pada saat timbulnya ikterus. Pada pasien ini terjadi
peningkatan enzim SGOT yaitu 843 mg/dl dan peningkatan enzim SGPT yaitu 243
mg/dl.
Diagnosis :
Hepatitis A Akut

4. PLAN (Penatalaksanaan):
Tidak ada pengobatan khusus untuk virus hepatitis A (HAV). Pengobatan diberikan
secara suportif bukan langsung kuratif, berupa pemberian vitamin dengan makanan
tinggi kalori protein, rendah lemak. Medikasi yang mungkin dapat diberikan meliputi
analgesik, antiemetik, vaksin, dan imunoglobulin. Pencegahan baik sebelum atau
setelah

terpapar

HAV

menjadi

lebih

penting.

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A, sebab infeksinya sendiri
biasanya akan sembuh sendiri. Pemberian farmakoterapi adalah untuk mengurangi
morbiditas dan mencegah komplikasi. Farmakoterapi atau obat-obatan yang biasa
digunakan adalah antipiretik analgesik atau penghilang demam dan rasa sakit,
antiemetik atau anti muntah, vaksin, dan imunoglobulin. Tidak ada terapi spesifik yang
tersedia. Para antienteroviral diteliti obat pleconaril (Disoxaril; ViroPharma) tidak
memiliki aktivitas terhadap virus hepatitis A (HAV). Rawat Inap diindikasikan untuk
pasien dengan dehidrasi yang signifikan karena muntah atau mereka dengan hepatitis
fulminan. Tetapi pada keadaan lain yang berat dimana terjadi komplikasi kekuarangan
cairan akibat muntah yang berlebihan dan terus menerus sehingga terjadi komplikasi
kekuarangan cairan dan elektrolit disarankan untuk dilakukan perawatan di rumah
Sakit. Konsultasi dengan subspecialis umumnya tidak diperlukan. Untuk mengurangi

dampak kerusakan pada hati sekaligus mempercepat proses penyembuhan dilakukan


istirahat yang cukup sehingga memberi kekuatan bagi sistem kekebalan tubuh dalam
memerangi infeksi. Pemberian obat anti mual dapat diberikan untuk mencegah rasa
mual dan muntah yang berlebihan. Gangguan rasa mual dan muntah itu dapat
mengurangi nafsu makan. Hal ini harus diatasi karena asupan nutrisi sangat penting
dalam proses penyembuhan. Pada penyakit hepatitis A organ tubuh yang paling
terganggu adalah hati atau lever. Fungsi hati adalah memetabolisme obat-obat yang
sudah dipakai di dalam tubuh. Karena hati sedang mengalami sakit radang, maka obatobatan yang tidak perlu serta alkohol dan sejenisnya harus dihindari selama sakit.
Pendidikan :
Perlu dijelaskan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyebab, kondisi
pasien, dan pengobatan yang akan diberikan. Perlu juga dijelaskan mengenai cara
penularan masing-masing jenis hepatitis agar terhindar dari penyakit tersebut. Perlu
dijelaskan mengenai pencegahan hepatitis dan faktor resiko.
PENCEGAHAN

Pencegahan Hepatitis A dilakukan dengan cara seperti misalnya dengan menyajikan makanan
dan minuman yang higienis, memastikan setiap makanan sudah dimasak dengan betul, pola
hidup sehat, mencuci tangan sebelum makan. Menjaga kebersihan perorangan seperti
mencuci tangan dengan baik dan benar. Cuci tangan yanng baik dan benar dengan memakai
sabun adalah cara sehat dan pencegahan yang paling sederhana dan paling penting. Tetapi
sayangnya perilaku hidup sehat yang baik itu belum membudaya di sebagian kelompok
masyarakat. Padahal bila dilakukan dengan baik dapat mencegah berbagai penyakit menular

seperti penyakit Hepatitis A. Perilaku dan kebiasaan cuci tangan bila dilakukan dengan
kegiatan lain misalnya tidak buang air sembarangan, buang sampah pada tempatnya dan
pengelolaan air minum yang benar maka dapat lebih meminimalkan tertularnya virus
Hepatitis A.