Anda di halaman 1dari 48

MATA KULIAH LABORATORIUM PPH PEMOTONGAN DAN P

TABEL KLASIFIKASI OBJEK PPH PEMOTONGA


Oleh : Agus Setiaji, 01, D3 Pajak 4G
143020008569

NO.

OBJEK/JENIS PENGHASILAN

JENIS PAJAK

Column1
1

Column2
Penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang
menjadi beban APBN atau APBD yang diterima oleh
Pejabat Negara, untuk: 1) gaji dan tunjangan lain yang
sifatnya tetap dan teratur setiap bulan; atau 2) imbalan
tetap sejenisnya, yang ditetapkan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan

Column3

PPh Pasal 21(Non final)

Penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang


menjadi beban APBN atau APBD yang diterima oleh
PNS, Anggota TNI, dan Anggota POLRI, untuk gaji
dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur
setiap bulan yang ditetapkan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan
PPh Pasal 21(Non final)

Penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang


menjadi beban APBN atau APBD yang diterima oleh
Pensiunan, untuk uang pensiun dan tunjangan lain
yang sifatnya tetap dan teratur setiap bulan yang
ditetapkan
berdasarkan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
PPh Pasal 21(Non final)

Penghasilan lain berupa honorarium atau imbalan lain


dengan nama apa pun yang menjadi beban APBN atau
APBD

PPh Pasal 21(Final)

Penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai


Tetap, baik berupa Penghasilan yang Bersifat Teratur
maupun Tidak Teratur

Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima


pensiun secara teratur berupa uang pensiun atau Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26
penghasilan sejenisnya

Penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat


pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua
yang dibayarkan sekaligus, yang pembayarannya Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26
melewati jangka waktu 2 (dua) tahun sejak pegawai
berhenti bekerja

Penghasilan Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja


Lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah
satuan, upah borongan, atau upah yang dibayarkan
secara bulanan

Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

Imbalan kepada Bukan Pegawai, antara lain berupa


honorarium, komisi, fee, dan imbalan sejenisnya
dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai
imbalan sehubungan jasa yang dilakukan

Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

10

Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa


uang saku, uang representasi, uang rapat, honorarium,
hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam
bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama
apapun
Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

11

Penghasilan berupa honorarium atau imbalan yang


bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh
anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang
tidak merangkap sebagai Pegawai Tetap pada
perusahaan yang sama
Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

12

Penghasilan berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi,


bonus, atau imbalan lain yang bersifat tidak teratur
yang diterima atau diperoleh mantan pegawai

Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

13

Penghasilan berupa penarikan dana pensiun oleh


peserta program pensiun yang masih berstatus sebagai
pegawai dari dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan

Pph Pasal 21 Dan/Atau Pph Pasal 26

14

Impor barang dengan Angka Pengenal Importir


PPh Pasal 22

15

Impor barang tanpa Angka Pengenal Importir


PPh Pasal 22

16

Impor barang yang tidak dikuasai


PPh Pasal 22

17

Impor barang tertentu yang tercantum dalam lampiran


PMK
PPh Pasal 22

18

Impor kedelai, gandum dan tepung terigu


PPh Pasal 22

19

Pembelian barang yang dibiayai APBN/APBD


PPh Pasal 22

20

Pembelian barang oleh BUMN


PPh Pasal 22

21

Penjualan Bahan Bakar Minyak ke SPBU Pertamina


PPh Pasal 22

22

23

Penjualan Bahan Bakar Minyak ke SPBU non


Pertamina dan non SPBU

PPh Pasal 22

Penjualan Bahan Bakar Gas


PPh Pasal 22

24

Penjualan Pelumas
PPh Pasal 22

25

Penjualan hasil produksi dalam negeri : kertas


PPh Pasal 22

26

Penjualan hasil produksi dalam negeri : semen


PPh Pasal 22

27

Penjualan hasil produksi dalam negeri : baja


PPh Pasal 22

28

Penjualan hasil produksi dalam negeri : otomotif


PPh Pasal 22

29

Penjualan hasil produksi dalam negeri : farmasi


PPh Pasal 22

30

Penjualan kendaraan bermotor dalam negeri


PPh Pasal 22

31

Ekspor batubara, mineral logam, dan bukan logam


PPh Pasal 22

32

33

34

Pembelian bahan dari pedagang pengumpul hasil


kehutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan

Pembelian komoditas tambang batubara, mineral


logam dan bukan logam

PPh Pasal 22

PPh Pasal 22

Penjualan emas batang


PPh Pasal 22

35

Penjualan barang sangat mewah


PPh Pasal 22

36
37
38

dividen

PPh Pasal 23

bunga

PPh Pasal 23

royalti

PPh Pasal 23

39

hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain


yang telah dipotong Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21.

PPh Pasal 23

40

Bunga Simpanan yang melebihi PTKP dibayarkan


Koperasi dan bersifat Final

PPh Pasal 23

41

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan


penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan atau
bangunan;

PPh Pasal 23

jasa teknik,

PPh Pasal 23

jasa manajemen,

PPh Pasal 23

jasa konsultan,

PPh Pasal 23

Jasa lainnya.

PPh Pasal 23

dividen

PPh Pasal 26

Bunga

PPh Pasal 26

42

43

44

45

46

47

48
royalti, sewa, penghasilan lain > penggunaan harta

PPh Pasal 26

Imbalan sehubungan jasa,pekerjaan kegiatan

PPh Pasal 26

Hadiah dan Penghargaan

PPh Pasal 26

Pensiun dan Pembayaran berkala lainnya

PPh Pasal 26

Premi Swap dan transaksi lindung nilai lainnya

PPh Pasal 26

Keuntungan karena pembebasan utang

PPh Pasal 26

49

50

51

52

53

54

55
56

57

Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia oleh LN

PPh Pasal 26

Premi yang langsung ke Perusahaan Asuransi LN

PPh Pasal 26

Premi yang dibayarkan perusahaan asuransi di


INDONESIA ke perusahaan asuransi LN

PPh Pasal 26

Premi yang dibayarkan perusahaan REASURANSI


Indonesia ke perusahaan asuransi LN

PPh Pasal 26

58

Penghasilan penjualan/pengalihan saham yang diterima LN

59

Penghasilan bersih BUT (setelah dipotong PPh badan)

PPh Pasal 26

PPh Pasal 26

60

61

62

Penghasilan dari pengangkutan orang dan/atau barang oleh


perusahaan Penerbangan Dalam Negeri

PPh Pasal 15

Penghasilan dari pengangkutan orang dan/atau barang oleh


perusahaan Pelayaran Dalam Negeri

PPh Pasal 15

Penghasilan dari pengangkutan orang dan/atau barang oleh


perusahaan Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar Negeri

PPh Pasal 15

63

64

65

66

67

Penyerahan barang kepada OP atau Badan yang


berada/bertempat kedudukan di Indonesia oleh WPLN
yang mempunyai Kantor Perwakilan Dagang di Indonesia
WP yang melakukan kegiatan usaha jasa maklon (Contract
Manufacturing) Internasional di bidang produksi mainan
anak-anak.

Bunga Deposito dan Tabungan (WP Dalam Negeri &


BUT), Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (WP Luar
Negeri)

Bunga Obligasi dengan kupon (interest bearing bond) yang


Diperdagangkan di Bursa Efek

PPh Pasal 15

PPh Pasal 15

PPh Pasal 4 ayat 2

PPh Pasal 4 ayat 2

Diskonto Obligasi dengan kupon yang Diperdagangkan di


Bursa Efek
PPh Pasal 4 ayat 2

68

69

70

Diskonto Obligasi tanpa bunga (zero coupon bond) yang


Diperdagangkan di Bursa Efek

PPh Pasal 4 ayat 2

Bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima


dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang terdaftar
pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan

PPh Pasal 4 ayat 2

Hadiah undian

PPh Pasal 4 ayat 2

71

Persewaan Tanah dan/atau Bangunan

72

Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau


Bangunan

73

74

75

76

77

78

PPh Pasal 4 ayat 2

PPh Pasal 4 ayat 2

Jasa Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia


Jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil

PPh Pasal 4 ayat 2

Jasa Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia


Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha

PPh Pasal 4 ayat 2

Jasa Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia


Jasa selain Penyedia Jasa berkualifikasi usaha kecil dan
tidak memiliki kualifikasi usaha

PPh Pasal 4 ayat 2

Jasa Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi


yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki
kualifikasi usaha

PPh Pasal 4 ayat 2

Jasa Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi


yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki
kualifikasi usaha

PPh Pasal 4 ayat 2

Penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi


penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada
perusahaan pasangan usahanya

PPh Pasal 4 ayat 2

79

Penghasilan dari transaksi saham di bursa efek


PPh Pasal 4 ayat 2

80

81

Penghasilan dari Transaksi derivatif berupa Kontrak


berjangka yg Diperdagangkan di Bursa

PPh Pasal 4 ayat 2

Bunga Simpanan Anggota Koperasi


PPh Pasal 4 ayat 2

82

Selisih lebih revaluasi aktiva tetap


PPh Pasal 4 ayat 2

83

84

Dividen yang diterima atau diperoleh WP OP Dalam


Negeri

PPh Pasal 4 ayat 2

Diskonto Surat Perbendaharaan Negara

PPh Pasal 4 ayat 2

ORATORIUM PPH PEMOTONGAN DAN PEMUNGUTAN

IKASI OBJEK PPH PEMOTONGAN DAN PEMUNGUTAN


D3 Pajak 4G

PEMUNGUT/PEMOTONG

PIHAK YANG DIPUNGUT/DIPOTONG

Column4

Column5
Pejabat Negara

Bendahara pemerintah yang melakukan


pemotongan PPh Psl 21 adalah bendahara
pengeluaran
pada
kementerian/lembaga,
pemerintah
provinsi,
atau
pemerintah
kabupaten/kota.

SAAT PEMUNGUTAN/PEMOTONGAN
Column6
Saat pembayaran penghasilan

Bendahara pemerintah yang melakukan


pemotongan PPh Psl 21 adalah bendahara
pengeluaran
pada
kementerian/lembaga,
pemerintah
provinsi,
atau
pemerintah
kabupaten/kota.

PNS, Anggota TNI, dan Anggota POLRI

Saat pembayaran penghasilan

Bendahara pemerintah yang melakukan


pemotongan PPh Psl 21 adalah bendahara
pengeluaran
pada
kementerian/lembaga,
pemerintah
provinsi,
atau
pemerintah
kabupaten/kota.

Pensiunan

Saat pembayaran penghasilan

Bendahara pemerintah yang melakukan


pemotongan PPh Psl 21 adalah bendahara
pengeluaran
pada
kementerian/lembaga,
pemerintah
provinsi,
atau
pemerintah
kabupaten/kota.

Pemberi Kerja yang terdiri dari orang


pribadi,badan,atau cabang, perwakilan, atau
unit; bendahara atau pemegang kas
pemerintah

Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI, Anggota


POLRI dan Pensiunan

Saat pembayaran penghasilan

Pegawai tetap baik yang menerima penghasilan Saat pembayaran


secara teratur maupun tidak teratur

dana pensiun, badan penyelenggara jaminan


sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain yang
membayar uang pensiun secara berkala dan
tunjangan hari tua atau jaminan hari tua

Penerima pensiun

Saat pembayaran

Penerima uang pesangon, pensiun atau uang


Saat pembayaran
dana pensiun, badan penyelenggara jaminan
manfaat
pensiun,
tunjangan
hari
tua
atau
jaminan
sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain yang
hari tua termasuk ahli waris
membayar uang pensiun secara berkala dan
tunjangan hari tua atau jaminan hari tua

Pemberi Kerja yang terdiri dari orang


pribadi,badan,atau cabang, perwakilan, atau unit

Pegawai tdak tetap atau tenaga kerja lepas

Saat pembayaran

Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha


atau pekerjaan bebas

Bukan pegawai > yang menerima penghasilan


sehubungan dengan pemberian jasa

Saat pembayaran

Penyelenggara kegiatan

peserta kegiatan

Saat pembayaran

Pemberi Kerja yang terdiri dari orang


Anggota dewan komisaris atau dewan pengawas Saat pembayaran
pribadi,badan,atau cabang, perwakilan, atau unit yang tidak merangkap sebagai Pegawai Tetap pada
perusahaan yang sama

Pemberi Kerja yang terdiri dari orang


pribadi,badan,atau cabang, perwakilan, atau unit

Mantan pegawai

Saat pembayaran

dana pensiun, badan penyelenggara jaminan


sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain yang
membayar uang pensiun secara berkala dan
tunjangan hari tua atau jaminan hari tua

peserta program pensiun yang masih berstatus


sebagai pegawai

Saat pembayaran

DJBC

Pengimpor

Saat Pembayaran Bea Masuk

DJBC

Pengimpor

Saat Pembayaran Bea Masuk

DJBC

Pengimpor

Saat Pembayaran Bea Masuk

DJBC

Pengimpor

Saat Pembayaran Bea Masuk

DJBC

Pengimpor

Saat Pembayaran Bea Masuk

Bendahara Pemerintah

Rekanan

Saat Pembayaran

BUMN

Rekanan

Saat Pembayaran

Produsen / Importir

Rekanan

Saat Penerbitan Surat Perintah Pengeluaran


Barang (Delivery Order)

Produsen / Importir

Rekanan

Saat Penerbitan Surat Perintah Pengeluaran


Barang (Delivery Order)

Produsen / Importir

Rekanan

Saat Penerbitan Surat Perintah Pengeluaran


Barang (Delivery Order)

Produsen / Importir

Rekanan

Saat Penerbitan Surat Perintah Pengeluaran


Barang (Delivery Order)

Badan Usaha Industri kertas

Distributor sebidang

Saat penjualan

Badan Usaha Industri semen

Distributor sebidang

Saat penjualan

Badan Usaha Industri baja

Distributor sebidang

Saat penjualan

Badan Usaha Industri otomotif

Distributor sebidang

Saat penjualan

Badan Usaha Industri farmasi

Distributor sebidang

Saat penjualan

Agen Tunggal Pemegang Merk, Agen


Pemegang Merk, Importir Umum

Pembeli kendaraan

Saat penjualan

Bank devisa atau DJBC

Eksportir

Saat penyelesaian dokumen pabean untuk


ekspor

Pembeli

Pedagang Pengumpul

Saat pembelian

Pembeli

Pengusaha Tambang

Saat pembelian

Produsen

Konsumen

Saat Penjualan

Penjual

Pembeli

Saat Penjualan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

pihak pemberi penghasilan

Penerima Penghasilan

Saat diterima Penghasilan

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Badan Pemerintah, SP DN,


Penyelenggara Kegiatan, BUT,
Perwakilan Perusahaan Luar Negeri
==>> Yang Melakukan pembayaran ke
WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Yang Melakukan pembayaran ke WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran


Saat terjadinya pembayaran

Yang Melakukan pembayaran ke WP LN

Penerima Penghasilan

Yang Melakukan pembayaran ke WP LN

Penerima Penghasilan

Yang Melakukan pembayaran ke WP LN

Penerima Penghasilan

Saat terjadinya pembayaran

Saat terjadinya pembayaran


Saat terjadinya pembayaran

Yang Melakukan pembayaran ke WP LN

Penerima Penghasilan

Saat pembayaran
WP Badan pemberi penghasilan

Penerima penghasilan

WP Badan pemberi penghasilan

Penerima penghasilan

Saat pembayaran

Saat pembayaran
WP Badan pemberi penghasilan

Penerima penghasilan

Saat pembayaran
WP Badan pemberi penghasilan

Penerima penghasilan
Saat pembayaran

WP Badan pemberi penghasilan

Penerima penghasilan

Bank Pembayar Bunga;


Dana Pensiun yang disahkan Menteri Keuangan
dan Bank yang menjual kembali SBI kepada pihak
lain

Penerima bunga deposito dan tabungan serta


diskonto SBI

Bank Pembayar Bunga

Penerima bunga obligasi

Bank Pembayar Diskonto

Penerima diskonto obligasi

Bank Pembayar Diskonto

Penerima diskonto obligasi

Bank Pembayar Bunga dan/atau diskonto dari


obligasi

Penerima bunga dan/atau diskonto dari obligasi

Pemberi hadiah undian

Penerima hadiah undian

Saat pembayaran

Penyewa/pemberi penghasilan

Yang menyewakan/penerima penghasilan

Saat pembayaran
Saat pembayaran

Pemberi penghasilan

Penerima penghasilan
Saat pembayaran

Pemberi jasa

Pengguna jasa
Saat pembayaran

Pemberi jasa

Pengguna jasa
Saat pembayaran

Pemberi jasa

Pengguna jasa
Saat pembayaran

Pemberi jasa

Pengguna jasa
Saat pembayaran

Pemberi jasa

Pengguna jasa
Saat pembayaran

Pemberi penghasilan

Penerima penghasilan

Saat pembayaran
Otoritas Bursa

Penjual saham dan sekuritas lainnya

Saat pembayaran
Pemberi penghasilan, pemungut

Penerima penghasilan
Saat pembayaran

Koperasi

Penerima bunga simpanan anggota koperasi

Saat pembayaran
Pihak yang membayar dividen

Penerima dividen
Saat pembayaran

Penerbit SPN(emiten) selaku agen pembayar atas


diskonto saat jatuh tempo; Perusahaan
efek(broker) selaku pedagang perantara atas
diskonto saat transaksi di pasar sekunder;
Perusahaan efek (broker), bank, dana pensiun,
reksadana selaku pembeli SPN tanpa perantara
atas diskonto saat transaksi di pasar sekunder

Penerima SPN

TARIF

DPP

Column7

Column8

Penghasilan
(penghasilan
Penghasilan
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta Pajak )
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

DASAR HUKUM

Column9
Kena
Pajak Peraturan Menteri Keuangan Nomor
neto dikurangi 262/PMK.03/2010 Pasal 2ayat (2)
Tidak
Kena huruf a, Pasal 5 ayat (1) dan (2),
Pasal 8, Pasal 11 ayat (1); UU PPH
Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat
(1) huruf a

Penghasilan
(penghasilan
Penghasilan
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta Pajak )
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Kena
Pajak Peraturan Menteri Keuangan
neto dikurangi Nomor 262/PMK.03/2010 Pasal
Tidak
Kena 2ayat (2) huruf b, Pasal 5 ayat (1)
dan (2), Pasal 8, Pasal 11 ayat
(1); UU PPH Nomor 36 Tahun
2008 Pasal 17 ayat (1) huruf a

Penghasilan
(penghasilan
Penghasilan
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta Pajak )
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Kena
Pajak Peraturan Menteri Keuangan
neto dikurangi Nomor 262/PMK.03/2010 Pasal
Tidak
Kena 2ayat (2) huruf c, Pasal 5 ayat (1)
dan (2), Pasal 8, Pasal 11 ayat
(1); UU PPH Nomor 36 Tahun
2008 Pasal 17 ayat (1) huruf a

a. sebesar 0% (nol persen) dari penghasilan bruto


bagi PNS Golongan I dan Golongan II, Anggota
TNI dan Anggota POLRI Golongan Pangkat
Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya; b.
sebesar 5% (lima persen) dari penghasilan bruto
bagi PNS Golongan III, Anggota TNI dan Anggota
POLRI Golongan Pangkat Perwira Pertama, dan
Pensiunannya; c. sebesar 15% (lima belas persen)
dari penghasilan bruto bagi Pejabat Negara, PNS
Golongan IV, Anggota TNI dan Anggota POLRI
Golongan Pangkat Perwira Menengah dan Perwira
Tinggi, dan Pensiunannya.

Penghasilan bruto

Penghasilan Kena Pajak


(penghasilan neto dikurangi
Penghasilan Tidak Kena
Pajak )
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Peraturan Menteri Keuangan


Nomor 262/PMK.03/2010 Pasal
3, Pasal 6, Pasal 9, Pasal 11 ayat
(1)

Peraturan Direktur Jenderal Pajak


Nomor PER - 32/PJ/2015

Penghasilan Kena Pajak


(penghasilan neto dikurangi
Penghasilan Tidak Kena
Pajak )
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Penghasilan bruto
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Peraturan Direktur Jenderal Pajak


Nomor PER - 32/PJ/2015

Peraturan Direktur Jenderal


Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015

Penghasilan Kena Pajak


Peraturan Direktur Jenderal
(penghasilan neto dikurangi Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015
Penghasilan Tidak Kena
Pajak )
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

PKP untuk yang meneirma Peraturan Direktur Jenderal


penghasilan secara
Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015
berkesinambungan dan 50%
Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta dari penghasilan bruto untuk
rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh yang menerima penghasilan
tidak berkesinambungan
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

penghasilan bruto

Peraturan Direktur Jenderal


Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015

Penghasilan bruto

Peraturan Direktur Jenderal


Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015

Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta


rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta


rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Penghasilan bruto

Peraturan Direktur Jenderal


Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015

Penghasilan bruto

Peraturan Direktur Jenderal


Pajak Nomor PER - 32/PJ/2015

Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta


rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

Sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta


rupiah) = 5%; di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00 (dua
ratus lima puluh juta rupiah) = 15%; di atas Rp
250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) = 25%; di atas Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) = 30%

2.50%
Nilai Impor/Harga Jual
Peraturan Menteri Keuangan
Lelang/Harga Pembelian tidak Republik Indonesia Nomor :
termasuk PPN dan PPnBM 175/Pmk.011/2013

7.50%
Nilai Impor/Harga Jual
Peraturan Menteri Keuangan
Lelang/Harga Pembelian tidak Republik Indonesia Nomor :
termasuk PPN dan PPnBM 175/Pmk.011/2013
7.50%
Nilai Impor/Harga Jual
Peraturan Menteri Keuangan
Lelang/Harga Pembelian tidak Republik Indonesia Nomor :
termasuk PPN dan PPnBM 175/Pmk.011/2013
7.50%
Nilai Impor/Harga Jual
Peraturan Menteri Keuangan
Lelang/Harga Pembelian tidak Republik Indonesia Nomor :
termasuk PPN dan PPnBM 175/Pmk.011/2013
0.50%
Nilai Impor/Harga Jual
Peraturan Menteri Keuangan
Lelang/Harga Pembelian tidak Republik Indonesia Nomor :
termasuk PPN dan PPnBM 175/Pmk.011/2013
1,5%
Harga pembelian tidak
termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013

Harga pembelian tidak


termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013

1,5%

0.25%

Harga tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013

0.30%

Harga tidak termasuk PPN

0.30%

Harga tidak termasuk PPN

0.30%

Harga tidak termasuk PPN

0.10%

Harga tidak termasuk PPN

0.25%

Harga tidak termasuk PPN

0.30%

Harga tidak termasuk PPN

0.45%

Harga tidak termasuk PPN

0.30%

Harga tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013

0.45%

Harga tidak termasuk PPN

1.50%

Nilai ekspor dalam DEB

0,25%

Harga tidak termasuk PPN

1.50%

Harga tidak termasuk PPN

0.45%

Harga tidak termasuk PPN

5%

Harga tidak termasuk PPN

15%

Jumlah BRUTO Penghasilan

15%

Jumlah BRUTO Penghasilan

15%

Jumlah BRUTO Penghasilan

Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013
Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor :
175/Pmk.011/2013

15%

Jumlah BRUTO Penghasilan

15%

Jumlah BRUTO Penghasilan

2%

Jumlah BRUTO Penghasilan


Tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


nomor 141/PMK.03/2015

2%

Jumlah BRUTO Penghasilan


Tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


nomor 141/PMK.03/2015

2%

Jumlah BRUTO Penghasilan


Tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


nomor 141/PMK.03/2015

2%

Jumlah BRUTO Penghasilan


Tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


nomor 141/PMK.03/2015

2%

Jumlah BRUTO Penghasilan


Tidak termasuk PPN

Peraturan Menteri Keuangan


nomor 141/PMK.03/2015

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan bruto

20%

Penghasilan NETO yaitu 25%


dari bruto

20%

Penghasilan NETO yaitu 50%


dari BRUTO

20%

Penghasilan NETO yaitu 10%


dari BRUTO

20%

Penghasilan NETO yaitu 5%


dari BRUTO

20%

Penghasilan NETO yaitu 25%


dari BRUTO

20%

Penghasilan bersih BUT


(setelah dipotong PPh badan),
kecuali ditanamkan kembali di
Indonesia

1.80%

Peredaran Bruto yang diterima


berdasarkan perjanjian charter

KMK 475/KMK.04/1996
SE 35/PJ.4/1996

1.20%

Peredaran Bruto

KMK 416/KMK.04/1996
SE 29/PJ.4/1996

2.64%

Peredaran Bruto

KMK 417/KMK.04/1996
SE 32/PJ.4/1996

0.44%

Nilai ekspor bruto

KMK 634/KMK.04/1994
KEP 667/PJ/2001
SE 2/PJ.03/2008

7%x30%

Total biaya pembuatan atau


perakitan barang tidak termasuk
biaya pemakaian bahan baku
(direct materials).

KMK 543/KMK.03/2002
SE 02/PJ.31/2003

20% (WPDN & BUT);


20% atau Tarif P3B (WPLN)

Jumlah bruto bunga

PP No. 131 Tahun 2000

15%(WPDN & BUT);


20% atau Tarif P3B (WPLN selain BUT)

Jumlah bruto bunga sesuai dengan


masa kepemilikan obligasi

PP No. 16 TAHUN 2009

15%(WPDN & BUT);


20% atau Tarif P3B (WPLN selain BUT)

Selisih lebih harga jual atau nilai


nominal di atas harga perolehan
obligasi, tidak termasuk bunga
berjalan

PP No. 16 TAHUN 2009

15%(WPDN & BUT);


20% atau Tarif P3B (WPLN selain BUT)

Selisih lebih harga jual atau nilai


nominal di atas harga perolehan
obligasi

PP No. 16 TAHUN 2009

0% (2009-2010);
5% (2011-2013);
5% (2014 dan seterusnya)

Jumlah bruto bunga sesuai dengan


masa kepemilikan obligasi /
Selisih lebih harga jual atau nilai
nominal di atas harga perolehan
obligasi

PP No. 16 TAHUN 2009

25%

Jumlah bruto hadiah undian

PP No. 132 Tahun 2000


KEP-395/PJ./2001

10%

Jumlah bruto

PP No. 29 Tahun 1996 jo.


PP No. 5 Tahun 2002

5% (WP melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan);


Jumlah bruto nilai pengalihan
PP No. 48 Tahun 1994 jo.
Bangunan yang jumlah bruto nilai pengalihannya kurang dari Rp. 60 jt namun penghasilan lainnya dalam 1 tahun
PP No.
melebihi
27 Tahun
PTKP.);
1996 jo.
ah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah
PP No.
dan/atau
79 Tahun
bangunan)
1999 jo.
PP No. 71 Tahun 2008
2%

Penghasilan bruto

PP No. 51 Tahun 2008

4%

Penghasilan bruto

PP No. 51 Tahun 2008

3%

Penghasilan bruto

PP No. 51 Tahun 2008

4%

Penghasilan bruto

PP No. 51 Tahun 2008

6%

Penghasilan bruto

PP No. 51 Tahun 2008

0.10%

Jumlah Bruto Nilai Transaksi


Penjualan saham atau Pengalihan
Penyertaan Modal

PP No. 4 Tahun 1995

Bukan saham pendiri 0,1% X Nilai Transaksi;

PP No. 41 Tahun 1994 jo.


PP No. 14 Tahun 1997
KMK 282/KMK.04/1997

Saham Pendiri (0,1% X Nilai Transaksi) + (0,5% X


nilai saham pasar saat Penawaran Umum Perdana
(IPO))

2.50%

Margin awal

PP No. 17 Thn 2009

0% (0s/d Rp.240.000,00 per bulan)


10% (Lebih dari Rp.240.000,00 per bulan)

Bunga yang dibayarkan per bulan

PP No.15 Tahun 2009


PMK-112/PMK.03/2010

10%

Selisih lebih penilaian kembali


aktiva tetap perusahaan di atas
nilai sisa buku fiskal semula

PMK-79/PMK.03/2008

10%

Jumlah bruto dividen yang


diterima

UU 36 Tahun 2008
PP 19 Tahun 2009
PMK-111/PMK.03/2010

20% (WP DN dan BUT);


20%/sesuai P3B (WP LN)

Penghasilan berupa diskonto SPN

PP 27 Tahun 2008
PMK-63/PMK.03/2008
PER-18/PJ/2008