Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bagi kebanyakan wanita, proses kehamilan dan persalinan adalah proses
yang dilalui dengan kegembiraan dan suka cita. Tetapi 5-10% dari kehamilan
termasuk kehamilan dengan resiko tinggi.Wanita dengan kehamilan resiko tinggi
harus mempersiapkan diri dengan lebih memperhatikan perawatan kesehatannya
dalam menghadapi kehamilan dengan resiko tinggi ini.
Kematian ibu adalah kematian yang berhubungan dengan kehamilan,
merupakan kejadian yang jarang bila dibandingkan dengan kematian bayi.Angka yang
rendah ini disebabkan oleh sifat kematian ibu yang tersembunyi.Sekitar 99%
kematian ibu didunia berasal dari negara berkembang, sering terjadi dirumah dan
tidak pernah tercatat dalam sistem pelayanan kesehatan.WHO memperkirakan setiap
tahunnya 500.000 ibu meninggal sebagai akibat langsung dari kehamilan.Sebagian
kematian itu sebenarnya dapat dicegah.Lima penyebab kematian ibu saat ini adalah
perdarahan, sepsis, hipertensi dalam kehamilan, partus lama, dan abortus terinfeksi.
Dengan perawatan yang baik, 90-95% ibu hamil yang termasuk kehamilan
dengan resiko tinggi dapat melahirkan dengan selamat dan mendapatkan bayi yang
sehat.Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dan diatasi dengan baik bila gejalanya
ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan untuk memperbaikinya,
dan kenyataannya, banyak dari faktor resiko ini sudah dapat diketahui sejak sebelum
konsepsi terjadi.
Jadi semakin dini masalah dideteksi, semakin baik untuk memberikan
penanganan kesehatan bagi ibu hamil maupun bayi.Juga harus diperhatikan bahwa

pada beberapa kehamilan dapat mulai dengan normal, tetapi mendapatkan masalah
kemudian.Oleh karenanya sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk melakukan
ANC atau pemeriksaan kehamilan secara teratur, yang bermanfaat untuk memonitor
kesehatan ibu hamil dan bayinya, sehingga bila terdapat permasalahan dapat diketahui
secepatnya dan diatasi sedini mungkin.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tahun 2007 berkisar 228/100.000
kelahiran hidup (KH). Angka ini masih jauh diatas target AKI untuk MDGs
(Millenium Development Goals) sebesar 125/100.000 KH pada tahun 2015.1
Penyebab tingginya AKI dan AKB salah satunya adalah adanya 3
keterlambatan yaitu keterlambatan pengambilan keputusan, terlambat merujuk dan
terlambat mendapatkan pertolongan.Untuk mengatasi hal ini maka pemerintah
bekerjasama dengan WHO meluncurkan strategi Safe Motherhood dengan fokus
Making Pregnancy Safer (MPS) sejak tahun 1999. Salah satu kegiatan dalam MPS
adalah peningkatan deteksi dan penanganan ibu hamil resiko tinggi.4,5,6 Deteksi dini
resiko tinggi pada ibu hamil dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan
masyarakat melalui program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K).
Program ini dicanangkan oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2007 yang
merupakan salah satu komponen pelaksanaan desa/kelurahan siaga yang tertera dalam
rencana strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010 dalam Kepmenkes no
HK.03.01/160/I/2010.7,8
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) adalah
suatu program yang dicanangkan dalam upaya mempercepat penurunan angka
kematian ibu dengan cara memantau, mencatat serta menandai setiap ibu hamil.
Program ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dibantu kader dan tokoh

masyarakat.dengan menempelkan stiker berisi nama, tanggal taksiran persalinan,


penolong persalinan, tempat persalinan, pendamping persalinan, transportasi dan
calon pendonor darah pada rumah yang di dalamnya terdapat ibu hamil. Dengan
begitu diharapkan setiap ibu hamil sampai dengan bersalin dan nifas dapat dipantau
oleh masyarakat sekitar dan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan yang
sesuai standar sehingga proses persalinan sampai dengan nifas termasuk rujukannya
dapat berjalan dengan aman dan selamat, tidak terjadi kesakitan dan kematian ibu
serta bayi yang dilahirkan selamat dan sehat. 7,9
Komponen penyelenggaraan P4K yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan
(bidan) beserta masyarakat terdiri dari 3 unsur kegiatan yaitu peningkatan
pengetahuan masyarakat tentang KIA, kegiatan pelayanan SIAGA (siap, antar, jaga)
dari dan untuk masyarakat serta kegiatan pendukung dari pemerintah dan tokoh
masyarakat. Fokus kegiatan P4K oleh masyarakat terdiri dari notifikasi (penandaan),
penggalangan donor darah, mempersiapkan tabungan ibu bersalin (tabulin) dan dana
sosial bersalin (Dasolin), serta persiapan ambulan desa (transportasi). 10,11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kehamilan
Menurut Sarwono (2009), Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai
lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7
hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan
yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi 3 bulan, triwulan kedua dari bulan
keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan.
Kehamilan merupakan suatu perubahan dalam rangka melanjutkan keturunan
yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh didalam rahim ibu.
Menurut Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG, untuk tiap kehamilan harus
ada spermatozoon, ovum, pembuahan ovum (konsepsi) dan nidasi hasil konsepsi.
Umumnya nidasi terjadi di dinding depan da belakang uterus, dekat fundus uteri.
Jika nidasi ini terjadi, barulah dapat disebut terjadi adanya kehamilan.Masa
kehamilan dimulai dan konsepsi sampai lahirnya janin.Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid
terahir (Sarwono Prawirohardjo, 2007).
Kehamilan dimulai dari ovulasi sampai partus lamanya kira-kira 280 hari
(40minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).Kehamilan 40 minggu ini
disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu
disebut kehamilan post matur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut
kehamilan premature. Kehamilan post matur akan mempengaruhi viabilitas
(kelangsungan hidup) bayi yang dilahirkan, karena bayi yang terlalu muda

mempunyai prognosis buruk. Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi


menjadi 3 bagian, yaitu trimester pertama (antara 0-12 minggu), kehamilan
trimester dua (antara 12-28 minggu), dan kehamilan trimester tiga (antara 28-40
minggu). Bila hasil konsepsi dikeluarkan dari kavum uteri pada kehamilan
dibawah 20 minggu, disebut abortus (keguguran).Bila hal ini terjadi di bawah 36
minggu disebut partus prematurus (persalinan premature).Kelahiran dari 38-40
minggu disebut partus aterm. (Hanifa Wiknjosastro, 2007 : 125)

B. Definisi Kehamilan Resiko Tinggi


Kehamilan

risiko

tinggi

(KRT)

adalah

keadaan

yang

dapat

mempengaruhi keadaan optimalisasi ibu maupun janin pada kehamilan yang


dihadapi (Manuaba, 1998). Menurut Rustam (1998) kehamilan risiko tinggi
adalah beberapa situasi dan kondisi serta keadaan umum seorang selama masa
kehamilan, persalinan, nifas akan memberikan ancaman pada kesehatan jiwa ibu
maupun janin yang dikandungnya.
Sedangan menurut Depkes RI (1999) yang dimaksud faktor risiko tinggi
adalah keadaan pada ibu, baik berupa faktor biologis maupun non-biologis, yang
biasanya sudah dimiliki ibu sejak sebelum hamil dan dalam kehamilan mungkin
memudahkan timbulnya gangguan lain.
C. Cara Menentukan Kehamilan Risiko Tinggi
Cara menentukan pengelompokkan kehamilan resiko tinggi, yaitu
dengan menggunakan cara kriteria. Kriteria ini diperoleh dari anamnesa tentang
umur, paritas, riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu, dan pemeriksaan
lengkap kehamilan sekarang serta pemeriksaan laboratorium penunjang bila
diperlukan.

Kriteria kehamilan beresiko yaitu primi muda, primi tua, primi tua sekunder, tinggi
badan kurang dari 145 cm, grandemulti, riwayat persalinan buruk, bekas seksio
sesarea, pre-eklampsi, hamil serotinus, perdarahan antepartum, kelainan letak,
kelainan medis. (Rochjati, 2005) Sedangkan Dealy (Medan) memakai krieteria
sebagai berikut

a.

b.

c.

Komplikasi obstetrik
Umur
-

19 tahun atau kurang

35 tahun ke atas

Paritas
-

Primigravida

Grandemultipara (para lebih dari 6)

Riwayat persalinan yang lalu


-

2 kali abortus atau lebih

2 kali partus prematurus atau lebih

Kematian janin dalam kandungan atau kematian perinatal

Perdarahan pasca persalinan

Preeklampsi dan eklampsi

Kehamilan mola

Pernah ditolong secara obstetri operatif

Pernah operasi ginekologi

Pernah insersia uteri

d.

Disporposi cefalo pelvik

e.

Perdarah antepartum

f.

Pre eklampsi dan eklampsi

g.

Kehamilan ganda

h.

Hidramnion

i.

Kelainan letak pada hamil tua

j.

Dismaturitas

k.

Kehamilan pada infertilitas

l.

Persaliinan terakhir 5 tahun atau lebih

m.

Inkompetensi servik

n.

Postmaturitas

o.

Hamil dengan tumor (mioma atau kista ovarii0

p.

Uji serologik lues positif

Komplikasi medis
a. Anemia
b. Hipertensi
c. Penyakit jantung
d. Diabetes melitus
e. Obesitas
f. Penyakit saluran kkencing
g. Penyakti hati
h. Penyakti paru
Penyakit-penyakit lain dalam kehamilan
Puji Rochjati (2005) mengemukakan batasan faktor risiko pada ibu hamil

ada 3 kelompok yaitu :


a.

Kelompok Faktor risiko I (ada potensi gawat obstetri), seperti primipara


muda terlalu muda umur kurang dari 20 tahun, primi tua, terlalu tua, hamil
pertama umur 35 tahun atau lebih, primi tua sekunder, terlalu lama punya
anak lagi, terkecil 10 tahun lebih, anak terkecil < 2 tahun, grande multi,
hamil umur 35 tahun atau lebih, tinggi badan kurang dari 145 cm, riwayat
persalinan yang buruk, pernah keguguran, pernah persalinaan premature,
riwayat persalinan dengan tindakan ( ekstraksi vakum, ekstraksi forcep,
operasi (seksio sesarea) ). Deteksi ibu hamil berisiko kelompok I ini dapat
ditemukan dengan mudah oleh petugas kesehatan melalui pemeriksaan
sederhana yaitu wawancara dan periksa pandang pada kehamilan muda atau
pada saat kontak.

b. Kelompok Faktor Risiko II ( ada gawat obstetri), ibu hamil dengan penyakit,
pre-eklamsia/eklamsia, hamil kembar atau gamelli, kembar air atau

hidramnion, bayi mati dalam kandungan, kehamilan dengan kelainan letak,


serta hamil lewat bulan. Pada kelompok faktor resiko II ada kemungkinan
masih membutuhkan pemeriksaan dengan alat yang lebih canggih (USG)
oleh dokter Spesialis di Rumah Sakit.
c. Kelompok Faktor Risiko III (ada gawat obstetri), perdarahan sebelum bayi
lahir, pre eklamsia berat atau eklampsia. Pada kelompok faktor risiko III, ini
harus segera di rujuk ke rumah sakit sebelum kondisi ibu dan janin
bertambah buruk/jelek yang membutuhkan penanganan dan tindakan pada
waktu itu juga dalam upaya menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya yang
terancam.

D. Batasan Faktor Risiko / Masalah


a. Ada Potensi Gawat Obstetri / APGO
(kehamilan yang perlu diwaspadai)
1.

Primi muda
Ibu hamil pertama pada umur 16 tahun, rahim dan
panggul belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya
diragukan
kandungan.

keselamatan
Selain

itu

dan

kesehatan

mental

ibu

janin

dalam

belum

cukup

dewasa.
Bahaya yang mungkin terjadi antara lain:

Bayi lahir belum cukup umur

Perdarahan bisa terjadi sebelum bayi lahir

Perdarahan dapat terjadi sesudah bayi lahir (Rochjati. P,

2003).
2.

Primi tua

Lama pernikahan 4 tahun


Ibu hamil pertama setelah menikah 4 tahun atau lebih
dengan kehidupan

pernikahan

biasa:

Suami istri tinggal serumah

Suami atau istri tidak sering keluar kota

Tidak memakai alat kontrasepsi (KB)

Bahaya yang terjadi pada primi tua:

Selama hamil dapat timbul masalah, faktor risiko lain

oleh karena

kehamilannya,

misalnya pre-eklamsia.

Persalinan tidak lancar (Rochjati. P, 2003).

Pada umur ibu 35 tahun


Ibu yang hamil pertama pada umur 35 tahun. Pada usia
tersebut

mudah

terjadi penyakit pada ibu dan organ kandungan yang


menua.

Jalan lahir juga tambah kaku. Ada

kemungkinan lebih besar ibu hamil

mendapatkan

anak cacat, terjadi persalinan macet dan perdarahan.


Bahaya yang terjadi antara lain:

Hipertensi / tekanan darah tinggi

Pre-eklamsia

Ketuban pecah dini: yaitu ketuban pecah sebelum

persalinan

Persalinan tidak lancar atau macet: ibu mengejan lebih

dari satu

jam, bayi tidak dapat lahir dengan

tenaga ibu sendiri melalui jalan lahir biasa.

Perdarahan setelah bayi lahir

Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) <

2500 gr

(Rochjati. P, 2003).

Usia ibu hamil 35 tahun ke atas dapat berisiko mengalami


kelainan-kelainan antara lain:
Frekuensi mola hidatidosa pada kehamilan yang terjadi
pada awal

atau akhir usia subur relatif lebih

tinggi. Efek paling berat dijumpai pada wanita berusia


lebih dari 45 tahun.
Frekuensi

abortus

yang

secara

meningkat 26%

klinis

terdeteksi

pada mereka yang

usianya lebih dari 45 tahun


Risiko nondisjungsi meningkat seiring dengan usia ibu.
Oosit tertahan dalam midprofase dari miosis 1 sejak
lahir sampai

ovulasi, penuaan diperkirakan

merusak kiasma yang menjaga agar

pasangan

kromosom tetap menyatu. Apabila miosis dilanjutkan


sampai

selesai

pada

waktu

menyebabkan
anak

ovulasi,

nondisjungsi

salah satu gamet

mendapat dua

salinan dari kromosom yang

bersangkutan, sehingga terbentuk trisomi, anak lahir


dengan cacat

bawaan sindrom down

(Cunningham, et al, 2014).


3. Anak terkecil < 2 tahun
Ibu hamil yang jarak kelahiran dengan anak terkecil kurang dari
2 tahun.
masih

Kesehatan fisik dan rahim ibu


butuh

cukup

istirahat.

Ada

kemungkinan ibu masih menyusui. Selain itu anak masih butuh


asuhan dan

perhatian orang tuanya. Bahaya

yang dapat terjadi:

Perdarahan setelah bayi lahir karena kondisi ibu lemah

Bayi prematur / lahir belum cukup bulan, sebelum 37

minggu

Bayi dengan berat badan rendah / BBLR < 2500 gr.


(Rochjati. P, 2003).

4. Primi tua sekunder


Ibu hamil dengan persalinan terakhir 10 tahun yang lalu. Ibu
dalam

kehamilan dan persalinan ini seolah-

olah menghadapi persalinan yang

pertama

lagi. Kehamilan ini bisa terjadi pada:

Anak pertama mati, janin didambakan dengan nilai sosial

tinggi

Anak terkecil hidup umur 10 tahun lebih, ibu tidak ber-KB.

Bahaya yang dapat terjadi:

Persalinan dapat berjalan tidak lancar

Perdarahan pasca persalinan

Penyakit ibu: Hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes,

dan lain-lain. (Rochjati. P, 2003).

5.

Grande multi
Ibu pernah hamil / melahirkan 4 kali atau lebih. Karena ibu
sering

melahirkan maka kemungkinan akan

banyak ditemui keadaan:

Kesehatan terganggu: anemia, kurang gizi

Kekendoran pada dinding perut

Tampak ibu dengan perut menggantung

Kekendoran dinding rahim

Bahaya yang dapat terjadi:

Kelainan letak, persalinan letak lintang

Robekan rahim pada kelainan letak lintang

Persalinan lama

Perdarahan pasca persalinan (Rochjati. P, 2003).

Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi


6 kali atau

lebih hidup atau mati (Mochtar. R, 1998)

Pada grandemultipara bisa menyebabkan:

6.

Solusio plasenta

Plasenta previa (Cunningham, et al, 2014)


Umur 35 tahun atau lebih

Ibu hamil berumur 35 tahun atau lebih, dimana pada usia


tersebut terjadi

perubahan

pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur


lagi.

Selain itu ada kecenderungan

didapatkan

penyakit

lain

dalam

tubuh

Bahaya yang dapat terjadi:

Tekanan darah tinggi dan pre-eklamsia

Ketuban pecah dini

Persalinan tidak lancar / macet

Perdarahan setelah bayi lahir (Rochjati. P, 2003).

7. Tinggi badan 145 cm atau kurang


Terdapat tiga batasan pada kelompok risiko ini:

ibu.

Ibu hamil pertama sangat membutuhkan perhatian khusus.


Luas

panggul ibu dan besar kepala

janin mungkin tidak proporsional, dalam

hal ini

ada dua kemungkinan yang terjadi:

Panggul ibu sebagai jalan lahir ternyata sempit dengan

janin atau

kepala tidak besar.

Panggul ukuran normal tetapi anaknya besar / kepala

besar

Ibu hamil kedua, dengan kehamilan lalu bayi lahir cukup


bulan tetapi

mati dalam waktu (umur bayi) 7

hari atau kurang.

Ibu hamil kehamilan sebelumnya belum penah melahirkan


cukup bulan, dan berat badan lahir rendah < 2500 gram.
Bahaya yang dapat terjadi:
tidak

lancar,

bayi

persalinan berjalan

sukar

lahir,

dalam

bahaya

(Rochjati. P, 2003).
8. Riwayat obstetric jelek (ROJ)
Dapat terjadi pada ibu hamil dengan:

Kehamilan kedua, dimana kehamilan yang pertama


mengalami:

Keguguran

Lahir belum cukup bulan

Lahir mati

Lahir hidup lalu mati umur 7 hari

Kehamilan ketiga atau lebih, kehamilan yang lalu pernah


mengalami

keguguran 2 kali

Kehamilan kedua atau lebih, kehamilan terakhir janin


mati dalam

kandungan

Bahaya yang dapat terjadi:

Kegagalan kehamilan dapat berulang dan terjadi lagi,


dengan

tanda-tanda

pengeluaran buah kehamilan sebelum waktunya keluar


darah, perut kencang.

Penyakit

dari

ibu

yang

menyebabkan

kehamilan,
mellitus,

kegagalan

misalnya: Diabetes
radang

saluran

kencing,

dll

(Rochjati. P, 2003).
9. Persalinan yang lalu dengan tindakan
Persalinan yang ditolong dengan alat melalui jalan lahir biasa
atau

per-vaginam:

Tindakan dengan cunam / forcep / vakum. Bahaya yang

dapat terjadi:

Robekan / perlukaan jalan lahir

Perdarahan pasca persalinan

Uri manual, yaitu: tindakan pengeluaran plasenta dari


rongga rahim

dengan menggunakan tangan.

Tindakan ini dilakukan pada keadaan

bila:

Ditunggu setengah jam uri tidak dapat lahir sendiri


Setelah bayi lahir serta uri belum lahir terjadi
perdarahan banyak > 500 cc

Bahaya yang dapat terjadi:

Radang, bila tangan penolong tidak steril

Perforasi, bila jari si penolong menembus rahim

Perdarahan

Ibu diberi infus / tranfusi pada persalinan lalu.

Persalinan yang lalu mengalami perdarahan pasca persalinan


yang banyak lebih dari 500 cc sehingga ibu menjadi syok dan
membutuhkan infus, serta transfusi darah (Rochjati. P, 2003).
10. Bekas operasi sesar
Ibu hamil, pada persalinan yang lalu dilakukan operasi sesar.
Oleh karena itu pada dinding rahim ibu terdapat cacat bekas
luka operasi. Bahaya pada robekan rahim : kematian janin dan
kematian ibu, perdarahan dan infeksi (Rochjati. P, 2003).
b.

Ada Gawat Obstetri / AGO

(tanda bahaya pada saat kehamilan, persalinan, dan nifas)


1.

Penyakit pada ibu hamil


a. Anemia
Keluhan yang dirasakan ibu hamil:

Lemah badan, lesu, lekas lelah

Mata berkunang-kunang

Jantung berdebar

Dari inspeksi didapatkan keadaan ibu hamil:

Pucat pada muka

Pucat pada kelopak mata, lidah dan telapak tangan.

Dari hasil Laboratorium:

Kadar Hb < 11 gr%

Pengaruh anemia pada kehamilan:

Menurunkan daya tahan ibu hamil, sehingga ibu mudah

sakit

Menghambat pertumbuhan janin, sehingga janin lahir


dengan berat

badan lahir rendah

Persalinan premature
Bahaya yang dapat terjadi bila terjadi anemia berat (Hb < 6
gr%):

Kematian janin mati

Persalinan prematur, pada kehamilan < 37 minggu

Persalinan lama

Perdarahan pasca persalinan(Rochjati. P, 2003).

Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar


Hemoglobin di bawah 11 g% pada trimester 1 dan 3 atau
kadar < 10,5 g% pada

trimester 2. Hipoksia akibat

anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada


persalinan sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan.
Juga bagi hasil konsepsi, anemia dalam kehamilan memberi
pengaruh kurang baik, seperti:

kematian mudigah

kematian perinatal

prematuritas

dapat terjadi cacat bawaan

cadangan besi kurang (Syafuddin, 2002)

b. Malaria
Keluhan yang dirasakan ibu hamil, adalah:

Panas tinggi

Menggigil, keluar keringat

Sakit kepala

Muntah-muntah

Bila penyakit malaria ini disertai dengan panas yang tinggi


dan anemia maka akan mengganggu ibu hamil dan
kehamilannya.
Bahaya yang dapat terjadi:

Abortus

IUFD

Persalinan premature(Rochjati. P, 2003).

c.

Tuberculosa paru
Keluhan yang dirasakan:

Batuk lama tak sembuh-sembuh

Tidak suka makan

Badan lemah dan semakin kurus

Batuk darah

Penyakit ini tidak secara langsung berpengaruh pada janin.


Janin baru

tertular setelah dilahirkan. Jika

TBC berat dapat menurunkan fisik ibu, tenaga, dan ASI ikut
berkurang.
Bahaya yang dapat terjadi:

Keguguran

Bayi lahir belum cukup umur

Janin mati dalam kandungan (Rochjati. P, 2003).

d.

Payah jantung
Keluhan yang dirasakan:

Sesak napas

Jantung berdebar

Dada terasa berat, kadang-kadang nyeri

Nadi cepat

Kaki bengkak

Bahaya yang dapat terjadi:

Payah jantung bertambah berat

Kelahiran prematur

Dalam persalinan:

BBLR

Bayi dapat lahir mati (Rochjati. P, 2003).

Penyakit jantung memberi pengaruh tidak baik kepada


kehamilan dan

janin dalam kandungan. Apabila ibu

menderita hipoksia dan sianosis,

hasil konsepsi dapat

menderita pula dan mati, yang kemudian disusul

oleh

abortus (Syafuddin, 2002).


e.

Diabetes mellitus
Dugaan adanya kencing manis pada ibu hamil apabila:
Ibu pernah mengalami beberapa kali kelahiran bayi yang
besar
Pernah mengalami kematian janin dalam rahim pada
kehamilan

minggu-minggu terakhir

Ditemukan glukosa dalam air seni (Glikosuria)


Bahaya yang dapat terjadi:
Persalinan prematur
Hydramnion
Kelainan bawaan
Makrosomia

Kematian janin dalam kandungan sesudah kehamilan

minggu ke-36
Kematian bayi perinatal (bayi lahir hidup, kemudian mati
< 7 hari)

(Rochjati. P, 2003).

Diabetes

mempengaruhi

kehamilan

timbulnya

komplikasi

dalam

sebagai berikut:

pre-eklamsia

kelainan letak janin

insufisiensi plasenta

Diabetes sebagai penyulit yang sering dijumpai dalam


persalinan ialah

inersia uteri dan atonia uteri

distosia bahu karena anak besar

lebih sering pengakhiran partus dengan tindakan,


termasuk

seksio sesarea

lebih mudah terjadi infeksi

angka kematian maternal lebih tinggi

Diabetes lebih sering mengakibatkan infeksi nifas dan


sepsis, dan
luka

jalan

menghambat penyembuhan
lahir,

baik

ruptur

perinea

maupun luka episiotomi (Wiknjosastro, 1999).


f.

HIV / AIDS
Bahaya yang dapat terjadi:

Terjadi gangguan pada sistem kekebalan tubuh dan ibu


hamil mudah terkena infeksi

Kehamilan memperburuk progesifitas infeksi HIV, HIV


pada

kehamilan adalah

pertumbuhan

intra

uterin

terhambat

dan

berat

lahir rendah, serta peningkatan risiko prematur

Bayi dapat tertular dalam kandungan atau tertular


melalui

ASI.

(Rochjati. P, 2003).

g.

Toksoplasmosis
Toksoplasmosis penularannya melalui makanan mentah atau
kurang

masak, yang tercemar kotoran kucing

yang terinfeksi.
Bahaya yang dapat terjadi:

Infeksi pada kehamilan muda menyebabkan abortus

Infeksi pada kehamilan lanjut menyebabkan kelainan


kongenital,

hidrosefalus

(Rochjati. P, 2003).
2. Pre-Eklamsia ringan
Tanda-tanda:

Edema pada tungkai, muka, karena penumpukan cairan


disela-sela

jaringan tubuh

Tekanan darah tinggi

Dalam urin terdapat Proteinuria

Sedikit bengkak pada tungkai bawah atau kaki pada kehamilan 6


bulan ke atas
tungkai

banyak

mungkin masih normal karena


di

gantung

atau

kekurangan

Vitamin B1. Tetapi bengkak pada muka, tangan disertai dengan

naiknya

tekanan darah sedikit, berarti ada

Pre-Eklamsia ringan.
Bahaya bagi janin dan ibu:

Menyebabkan gangguan pertumbuhan janin

Janin mati dalam kandungan (Rochjati. P, 2003).

3. Hamil kembar
Ibu hamil dengan dua janin (gemelli), atau tiga janin (triplet) atau
lebih dalam
membesar

rahim. Rahim ibu


dan

menekan

organ

dalam

dan

menyebabkan

keluhan-keluhan:

Sesak napas

Edema kedua bibir kemaluan dan tungkai

Varises

Hemorrhoid

Bahaya yang dapat terjadi:

Keracunan kehamilan

Hidramnion

Anemia

Persalinan prematur

Kelainan letak

Persalinan sukar

Perdarahan saat persalinan (Rochjati. P, 2003).

Kehamilan kembar ialah kehamilan dengan dua janin atau lebih.


Kehamilan

dan persalinan membawa risiko bagi janin dan

ibu.
Pengaruh terhadap ibu:

Kebutuhan

akan

zat-zat

bertambah,

menyebabkan

sehingga

dapat

anemia dan defisiensi

zat-zat lainnya.

Kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali


lebih besar

Frekuensi pre-eklamsi dan eklamsi lebih sering

Karena uterus yang besar, ibu mengeluh sesak napas,


sering miksi, serta

terdapat edema

dan varises pada tungkai dan vulva

Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan postpartum, dan


solusio plasenta

sesudah anak pertama

lahir.
Pengaruh terhadap Janin:

Usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya


jumlah janin

pada kehamilan kembar : 25%

pada gemeli, 50% pada triplet, dan 75% pada quadruplet,


yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi
kemungkinan terjadinya bayi prematur akan tinggi.

Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasenta,


maka angka

kematian bayi

kedua tinggi.

Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan


mempertinggi

angka kematian janin

(Wiknjosastro, 1999)
4. Hidramnion
Kehamilan dengan jumlah cairan amnion lebih dari 2 liter, dan
biasanya

nampak pada trimester III, dapat

terjadi perlahan-lahan atau sangat cepat.

Keluhan-keluhan yang dirasakan:

Sesak napas

Perut membesar, nyeri perut karena rahim berisi cairan

amnion > 2 liter

Edema labia mayor, dan tungkai

Bahaya yang dapat terjadi:

Keracunan kehamilan

Cacat bawaan pada bayi

Kelainan letak

Persalinan prematur

Perdarahan pasca persalinan (Rochjati. P, 2003).

Hidramnion adalah suatu keadaan dimana jumlah air ketuban


jauh lebih banyak
lebih

dari

dari normal, biasanya kalau


liter.

Walau

etiologi

belum

jelas,

namun ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hidramnion,


antara lain:

penyakit jantung

nefritis

edema umum (anasarka)

anomaly congenital (pada anak), seperti enensefali, spina


bifida, atresia

atau striktur esophagus, hidrosefalus, dan

struma

blocking

( Mochtar. R, 2002).
5. Janin mati dalam rahim
Keluhan-keluhan yang dirasakan:

Tidak terasa gerakan janin

oesophagus

Perut terasa mengecil

Payudara mengecil

Pada kehamilan normal gerakan janin dapat dirasakan pada umur


kehamilan

4-5 bulan. Bila gerakan janin berkurang,

melemah, atau tidak bergerak sama

sekali dalam 12 jam,

kehidupan janin mungkin terancam.


Dari keluhan ibu dapat dilakukan pemeriksaan:

DJJ tidak terdengar

Hasil tes kehamilan negatif

Bahaya yang dapat terjadi pada ibu dengan janin mati dalam
rahim, yaitu:

Gangguan pembekuan darah ibu, disebabkan dari jaringanjaringan mati

yang masuk ke dalam darah

ibu (Rochjati. P, 2003).


6. Hamil serotinus / Hamil lebih bulan
Ibu dengan umur kehamilan 42 minggu. Dalam keadaan ini,
fungsi dari jaringan uri dan pembuluh darah menurun. Dampak
tidak baik bagi janin:

Janin mengecil

Kulit janin mengkerut

Lahir dengan berat badan rendah

Janin dalam rahim dapat mati mendadak (Rochjati. P, 2003).

7. Letak sungsang
Letak sungsang: pada kehamilan tua (hamil 8-9 bulan), letak janin
dalam rahim
atau kaki dibawah.

dengan kepala diatas dan bokong

Bahaya yang dapat terjadi:

Bayi lahir bebang putih yaitu gawat napas yang berat

Bayi dapat mati (Rochjati. P, 2003).

8. Letak lintang
Merupakan kelainan letak janin di dalam rahim pada kehamilan
tua (hamil 8-9
kanan

atau

bulan): kepala ada di samping


kiri

dalam

rahim

ibu.

Bayi

letak

lintang tidak dapat lahir melalui jalan lahir biasa, karena sumbu
tubuh janin

melintang terhadap sumbu tubuh ibu.

Pada janin letak lintang baru mati dalam proses persalinan, bayi
dapat

dilahirkan dengan alat melalui jalan

lahir biasa. Sedangkan pada janin kecil dan sudah beberapa


waktu mati masih ada kemungkinan dapat lahir secara biasa.
Bahaya yang dapat terjadi pada kelainan letak lintang. Pada
persalinan yang

tidak di tangani dengan benar,

dapat terjadi Robekan rahim, dan akibatnya:

Bahaya bagi ibu

Perdarahan yang mengakibatkan anemia berat

Infeksi

Ibu syok dan dapat mati

Bahaya bagi janin

Janin mati (Rochjati. P, 2003).

c. Ada Gawat Darurat Obstetri / AGDO


(Ada ancaman nyawa ibu dan bayi)
1.

Perdarahan antepartum

(Perdarahan sebelum persalinan, perdarahan terjadi sebelum


kelahiran

bayi)

Tiap perdarahan keluar dari vagina pada ibu hamil setelah 28


minggu,

disebut perdarahan antepartum.

Perdarahan antepartum harus dapat perhatian penuh, karena


merupakan

tanda bahaya yang dapat mengancam nyawa

ibu dan atau janinnya,

perdarahan dapat

keluar:
Sedikit-sedikit tapi terus-menerus, lama-lama ibu menderita
anemia berat
Sekaligus banyak yang menyebabkan ibu syok, lemah nadi
dan tekanan

darah menurun.

Perdarahan dapat terjadi pada:

Plasenta Previa dimana plasenta melekat dibawah rahim


dan

menutupi sebagian / seluruh

mulut rahim.

Solusio Plasenta plesenta sebagian atau seluruhnya


lepas dari

tempatnya. Biasanya

disebabkan

karena

trauma

kecelakaan,

tekanan darah tinggi atau pre-eklamsia, maka terjadi


perdarahan

pada tempat melekat plasenta. Akibat

perdarahan, dapat
adanya

penumpukan

menyebabkan
darah

beku

dibelakang

plasenta.
Bahaya yang dapat terjadi:

Bayi terpaksa dilahirkan sebelum cukup bulan

Dapat membahayakan ibu:

Kehilangan darah, timbul anemia berat dan syok

Ibu dapat meninggal

Dapat

membahayakan

janinnya

kandungan

yaitu

mati

dalam

(Rochjati. P, 2003).

2. Pre-Eklamsia berat / Eklamsia


Pre-eklamsi berat terjadi bila ibu dengan pre-eklamsia ringan
tidak dirawat
benar.

atau tidak ditangani dengan

Pre-eklamsia

berat

bila

tidak

ditangani

dengan benar akan terjadi kejang dan menjadi eklamsia.


Bahaya yang dapat terjadi:

Bahaya bagi ibu, dapat tidak sadar (koma) sampai

meninggal

Bahaya bagi janin:

Dalam kehamilan ada gangguan pertumbuhan janin dan


bayi lahir

kecil

Mati dalam kandungan (Rochjati. P, 2003).

E. Penatalaksanaan Kehamilan Risiko Tinggi


Semakin dini masalah dideteksi, semakin baik penanganan yang dapat
diberikan bagi kesehatan ibu hamil maupun bayi.Juga harus diperhatikan bahwa
pada beberapa kehamilan dapat mulai dengan normal, tetapi mendapatkan
masalah kemudian.Oleh karenanya sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk
melakukan ANC atau pemeriksaan kehamilan secara teratur, yang bermanfaat
untuk memonitor kesehatan ibu hamil dan bayinya, sehingga bila terdapat

permasalahan dapat diketahui secepatnya dan diatasi sedini mungkin. Juga


hiduplah dengan cara yang sehat (hindari rokok, alcohol, dll),serta makan
makanan yang bergizi sesuai kebutuhan anda selama kehamilan.
Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dengan pemeriksaan dan
pengawasan kehamilan yaitu deteksi dini ibu hamil risiko tinggi atau komplikasi
kebidanan yang lebih difokuskan pada keadaan yang menyebabkan kematian
ibu.Pengawasan antenatal menyertai kehamilan secara dini, sehingga dapat
diperhitungkan

dan

dipersiapkan

langkah-langkah

dalam

persiapan

persalinan.Diketahui bahwa janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu


kesatuan yang saling mengerti.Pengawasan antenatal sebaiknya dilakukan
secara teratur selama hamil. Oleh WHO dianjurkan pemeriksaan antenatal
minimal 4 kali dengan 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2
kali pada trimester III (Rumus l-l, 2-l, 3-2).
Adapun tujuan pengawasan antenatal adalah diketahuinya secara dini,
keadaan risiko tinggi ibu dan janin, sehingga dapat :
1. Melakukan pengawasan yang lebih intesif
2. Memberikan pengobatan sehingga risikonya dapat dikendalikan
3. Melakukan rujukan untuk mendapatkan tindakan yang adekuat
4. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu. (Manuaba, 1998)

Tujuan Kunjungan Ulang :


a. Kunjungan 1, hingga usia kehamilan 16 minggu dilakukan untuk :
1. Penapisan dan pengobatan anemia
2. Perencanaan persalinan
3. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya

b. Kunjungan II (24-28 minggu ) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan


untuk :
1. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
2. Penapisan pre-eklampsi; gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran
perkemihan
3. Mengulang perencanaan persalinan
c. Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir)
1. Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
2. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
3. Memantapkan rencana persalinan
4. Mengenali tanda-tanda persalinan

F. Upaya Pencegahan
Usaha untuk pencegahan penyakit kehamilan dan persalinan tergantung
pada berbagai faktor dan tidak semata-mata tergantung dari sudut medis atau
kesehatan saja.Faktor sosial ekonomi juga sangat berpengaruh.

Karena pada

umumnya seseorang dengan keadaan sosial ekonomi rendah tidak akan terlepas
dari kemiskinan, dan ketidaktahuan sehingga mempunyai kecenderungan untuk
menikah pada usia muda dan tidak berpartisipasi dalam keluarga berencana.
Disamping itu keadaan sosial ekonomi yang rendah juga akan
megakibatkangizi ibu dan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang jelek.
Transportasi yang baik disertai dengan ketersediaannya pusat-pusat pelayanan
yang bermutu akan dapat melayani ibu hamil untuk mendapatkan asuhan anenatal
yang baik, cakupannya luas, dan jumlah pemeriksaan yang cukup.

Di negara maju setiap wanita hamil memeriksakan diri sekitar 15 kali


selama kehamilannya. Sedangkan di Indonesia pada kehamilan resiko rendah
dianggapcukup bila memeriksakan diri 4-5 kali. Jadi secara garis besar dapat
disimpulkan bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyulit pada
kehamilan dan persalinan adalah:
1. Asuhan antenatal yang baik dan bermutu bagi setiap wanita hamil.
2. Peningkatan pelayanan, jaringan pelayanan dan sistem rujukan kesehatan.
3. Peningkatan pelayanan gawat darurat sampai ke lini terdepan.
4. Peningkatan status wanita baik dalam pendidikan, gizi, masalah kesehatan
wanita dan reproduksi dan peningkatan status sosial ekonominya.
5. Menurunkan tingkat fertilitas yang tinggi melalui program keluarga
berencana.