Anda di halaman 1dari 41

PEDOMAN

TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG


BAIK
( GOOD CORPORATE GOVERNANCE )

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
2 ACUAN PEDOMAN
4 ARTI ISTILAH
5 BAB I PENDAHULUAN
7 A. Latar Belakang Penyusunan Pedoman GCG
7 B. Maksud Dan Tujuan Penyusunan Pedoman GCG
7 C. Visi, Misi Dan Nilai-Nilai Perusahaan
8
BAB II PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE 9 A. Transparency
(Transparansi)
9 B. Independency (Kemandirian)
9 C. Accountability (Akuntabilitas)
9 D. Responsibility (Pertangungjawaban)
9 E. Fairness(Kewajaran)
9
BAB III STRUKTUR CORPORATE GOVERNANCE 10 A.
10 1. Pemegang Saham/RUPS
10 2. Dewan Komisaris
13 3. Direksi
17
B.
21
21
21
23
23
23

Organ Utama

Organ Pendukung
1. Komite Pendukung Dewan Komisaris
2. Sekretaris Dewan Komisaris
3. KomitePendukung Direksi
4. Sekretaris Perusahaan
5. Satuan Pengawas Internal 23 C. Hubungan Antar Organ Perusahaan

BAB IV KEBIJAKAN PERUSAHAAN 25 A. UMUM


25 1. Integritas Bisnis
25 2. Pengelolaan Keuangan Dan Sistem Akuntansi
25 3. Pengendalian Internal
25 4. Auditor Eksternal
26
B.
27
27
30
31
31
32

KHUSUS
1. Pengelolaan Risiko
2. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
3. Pengelolaan Sumber Daya Manusia
4. Keselamatan, Kesehatan Kerja Dan Perlindungan Lingkungan
5. Manajemen Mutu
6. Kode Etik

32
33
33
34
34
35

7. Benturan Kepentingan
8. Keterbukaan Dan Kerahasiaan Informasi
9. Informasi Orang Dalam
10. Pengadaan Barang Dan Jasa
11. Pengelolaan Teknologi Informasi

3
12. Hukum
35 13. Kebijakan Mengenai Nasabah
36 14. Transaksi dengan Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa
36 15. Pemasaran
37 16. Kesehatan Keuangan
37 17. Underwriting dan Klaim
37 18. Investasi
38 19. Permodalan
38
BAB VI PENGELOLAAN HUBUNGAN DENGAN STAKEHOLDERS 39 A. Kebijakan
Umum
39 B. Hak dan Partisipasi Stakeholders
39 C. Penghubung Perusahaan Dengan Stakeholders
39
BAB VII IMPLEMENTASI PEDOMAN 40 A. Sosialisasi, Implementasi dan Evaluasi
40 B. Pelaporan Pelanggaran
40
BAB VIII PENUTUP 41 A. Masa Berlaku
41 B. Evaluasi dan Penyempurnaan
41
4

ACUAN PEDOMAN
Penyusunan Pedoman ini mengacu pada ketentuan sebagai berikut :
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 2. Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 4. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2003. 5.
Undang-undang Nomor 40 tahun Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 Nomor 106, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756). 6. Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 7.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor. 14 Tahun 2008, tentang Keterbukaan
Informasi. 8. Undang Undang Republik Indonesia Nomor. 01 Tahun 2016, tentang
Penjaminan. 9. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2008 tentang Lembaga
Penjaminan.
10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 222 Tahun 2008 sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99 Tahun 2011 Tentang
Perusahaan Penjaminan Kredit dan Perusahaan Penjaminan Ulang Kredit. 11.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor KEP-375.KM.10/2012 Tanggal 1 Agustus
2012 Tentang Pemberian Izin Usaha Perusahaan Penjaminan Kredit Kepada PT.
Jamkrida Riau.
12. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 6/POJK.05/2014 tentang
Penyelenggaraan Usaha Lembaga Penjaminan. 13. Peraturan Daerah Provinsi
Riau Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Perseroan Terbatas Penjaminan Kredit
Daerah Provinsi Riau. 14. Anggaran Dasar Perusahaan berdasarkan Akta Notaris
Nomor 47 tanggal 8 April 2008 yang dibuat oleh Notaris Eriyuf Brandel, SH dan
telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor AHU-28647.AH.01.02 Tahun 2008 tanggal 29 Mei 2008. 15. Keputusan
Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia, Nomor AHU36490.AH.01.02 Tahun 2012 tanggal 5 Juli 2012 tentang Persetujuan Perubahan
Anggaran Dasar Perseroan.
5
ARTI ISTILAH
1. Perusahaan adalah PT Penjaminan Kredit Daerah Provinsi Riau atau disingkat
dengan
PT. Jamkrida Riau.

2. Organ Perusahaan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, dan Dewan


Komisaris dan Direksi.
3. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah merupakan forum bagi
Pemegang Saham sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
4. Dewan Komisaris Organ Perusahaan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan Anggaran Dasar
serta memberi nasihat kepada Direksi.
5. Anggota Dewan Komisaris adalah anggota dari Dewan Komisaris yang
merujuk kepada individu (bukan sebagai Board)
6. Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang tidak
terafiliasi dengan Direksi, anggota Dewan Komisaris lainnya dan
Pemegang Saham, serta tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan,
kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan dengan Direksi,
anggota Dewan Komisaris lainnya dan Pemegang Saham yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.
7. Sekretaris Dewan Komisaris adalah Sekretaris yang diangkat oleh Dewan
Komisaris, yang bertugas menjalankan tugas-tugas administrasi dan
kesekretariatan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan Dewan Komisaris.
8. Direksi adalah Organ Perusahaan yang berwenang dan bertanggungjawab
penuh atas pengurusan Perusahaan untuk kepentingan Perusahaan sesuai
dengan maksud dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan, baik di
dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan Anggaran Dasar.
9. Karyawan adalah pegawai yang telah memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan, diangkat sebagai Karyawan Tetap dengan Ketetapan Perusahaan
yang diberikan hak dan kewajiban menurut ketentuan yang berlaku di
Perusahaan.
10. Insan Perusahaan terdiri dari anggota Dewan Komisaris, Sekretaris Dewan
Komisaris, semua anggota Komite di bawah Dewan Komisaris, anggota Direksi,
Pejabat, Staff dan Karyawan, serta tenaga-tenaga yang diperbantukan dalam
pengelolaan Perusahaan.
11. Stakeholders (Pemangku Kepentingan) adalah pihak-pihak yang memiliki
kepentingan dengan Perusahaan baik langsung maupun tidak langsung yaitu
Pemegang Saham, Karyawan, Pemerintah, Pemegang Polis, Kreditur, Investor,
Penyedia Jasa, Masyarakat dan pihak berkepentingan lainnya.
6
12. Komite Pendukung Dewan Komisaris adalah komite yang dapat dibentuk
oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris dalam rangka membantu
pelaksanaan tugas dan fungsi Dewan Komisaris untuk melakukan pembinaan
dan pengawasan atas pengurusan Perusahaan.

13. Komite Pendukung Direksi adalah komite yang dapat dibentuk oleh dan
bertanggung jawab kepada Direksi dalam rangka membantu pelaksanaan tugas
Direksi dalam rangka pengurusan Perusahaan.
14. Auditor Eksternal adalah auditor dari luar Perusahaan yang independen
dan profesional yang memberikan jasa audit maupun non audit kepada
Perusahaan.
15. Auditor Internal Satuan Pengawasan Internal (SPI), yang merupakan unit
teknis struktural yang ditunjuk oleh Direktur Utama dilingkungan
Perusahaan, yang bertugas melaksanakan audit dan memastikan sistem
pengendalian internal Perusahaan yang berjalan efektif.
16. Sekretaris Perusahaan adalah satuan fungsi struktural dalam organisasi
Perusahaan yang bertugas untuk memberikan dukungan kepada Direksi dalam
pelaksanaan tugasnya serta bertugas sebagai penghubung antara Pemegang
Saham, Dewan Komisaris, Direksi, unit Kerja dan Stakeholders.
17. Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance (GCG),
adalah Prinsip- prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme
pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilainilai etika.
18. Pedoman Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Code of Good Corporate
Governance dan selanjutnya disebut Pedoman GCG), adalah sekumpulan nilai
dan praktik Perusahaan yang menjadi suatu pedoman bagi Organ Perusahaan
dan Manajemen dalam mengelola Perusahaan yang di dalamnya memuat
prinsip-prinsip GCG yang selaras dengan peraturan perundang- undangan,
tujuan, visi dan misi serta nilai-nilai Perusahaan.
19. Benturan kepentingan adalah keadaan dimana terdapat konflik antara
kepentingan ekonomis Perusahaan dan kepentingan ekonomis pribadi Pemegang
Saham, anggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta Karyawan Perusahaan.
20. Kontrak Manajemen, adalah berisikan janji-janji atau pernyataan Direksi
untuk memenuhi segala target-target yang ditetapkan oleh Pemegang Saham.
Kontrak manajemen tersebut diperbaharui setiap tahun untuk disesuaikan
dengan kondisi dan perkembangan Perusahaan.
7
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Penyusunan Pedoman GCG

Pengelolaan Perusahaan berdasarkan prinsip Good Corporate Governance (GCG)


pada dasarnya merupakan upaya untuk menjadikan GCG sebagai kaidah dan
pedoman bagi pengelola Perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.
Penerapan prinsip-prinsip GCG sangat diperlukan agar Perusahaan dapat
bertahan dan tangguh dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.

GCG diharapkan dapat menjadi sarana untuk mencapai visi, misi dan tujuan
Perusahaan secara lebih baik.
Perseroan Terbatas Penjaminan Kredit Daerah Provinsi Riau, disingkat PT
Jamkrida Riau atau selanjutnya disebut Perusahaan, menyadari bahwa
Penerapan GCG secara sistematis dan konsisten merupakan kebutuhan yang
harus dilaksanakan. Penerapan GCG pada Perusahaan diharapkan dapat
memacu perkembangan bisnis, akuntabilitas serta mewujudkan harapan
Pemegang Saham dalam jangka panjang tanpa mengabaikan kepentingan
pemangku kepentingan lainnya.
Untuk meningkatkan kinerja dan kepatuhan terhadap implementasi prinsipprinsip GCG, Perusahaan menyusun Pedoman GCG yang diterapkan secara
konsisten dan dievaluasi secara berkala sehingga semua nilai yang dimiliki oleh
pihak-pihak yang berkepentingan atas Perusahaan dapat didayagunakan secara
optimal dan menghasilkan pola hubungan yang saling menguntungkan.
Pedoman ini merupakan penggabungan dari kaidah-kaidah GCG, peraturan
perundang-undangan yang berlaku, nilai-nilai budaya yang dianut, visi dan misi
serta praktik-praktik terbaik (best practices) GCG.
B.

Maksud dan Tujuan Penyusunan Pedoman GCG

1. Perusahaan menetapkan Pedoman GCG untuk digunakan sebagai acuan


dalam bertindak dan bersikap, serta diterapkan dalam kegiatan operasional.
2. Mengoptimalkan nilai Perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip
keterbukaan, Akuntabilitas, kemandirian, bertanggungjawab dan adil agar
Perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun
internasional.
3. Mendorong pengelolaan Perusahaan secara professional, efektif dan efisien,
serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian masing-masing
Organ Perusahaan.
4. Meningkatkan kepatuhan Organ Perusahaan serta jajaran di bawahnya agar
dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi etika yang
tinggi, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan kesadaran atas
tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap Stakeholders maupun kelestarian
lingkungan di sekitar Perusahaan.
5. Mewujudkan Perusahaan yang lebih sehat, dapat diandalkan, amanah, dan
kompetitif
6. Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian provinsi Riau
7. Mengendalikan dan mengarahkan hubungan antar Organ Perusahaan.
8
C.

Visi, Misi, Nilai-Nilai Budaya Perusahaan

1. Visi Perusahaan :
Menjadi Perusahaan Penanggung Risiko yang unggul dengan layanan global
guna mendukung perekonomian nasional.
2. Misi Perusahaan
a. Menjalankan kegiatan usaha penanggungan risiko yang mendukung
pembangunan ekonomi nasional terutama program pemerintah dalam
pengembangan UMKM dan Usaha korporasi lainnya; b. Menjalankan kegiatan
usaha penanggungan risiko dengan layanan global; c. Memberikan manfaat
kepada para pemangku kepentingan dengan menerapkan Tata Kelola Perusahaan
yang baik, Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan Manajemen Risiko.
9
BAB II PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE
PT Jamkrida Riau melakukan kegiatan usahanya dengan cara yang dapat
dipertanggungjawabkan yang mencerminkan perhatian tidak hanya kepada
Pemegang Saham tetapi juga pihka-pihak lain yang berkepentingan dengan
Perusahaan (Stakeholders).
Berikut ini adalah prinsip-prinsip corporate governance yang diterapkan oleh
Perusahaan
A. Transparency (Transparansi) Yaitu keterbukaan dalam proses pengambilan
keputusan dan keterbukaan dalam pengungkapan dan penyediaan informasi
yang relevan mengenai Perusahaan yang mudah diakses oleh Pemangku
Kepentingan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dibidang
perasuransian serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha yang
sehat.
B. Accountability (Akuntabilitas) yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban Organ Perusahaan sehingga kinerja Perusahaan dapat
berjalan secara transparan, wajar, efektif, dan efisien.
C.
Responsibility (Pertanggungjawaban) yaitu kesesuaian pengelolaan
Perusahaan Perasuransian dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
di bidang perasuransian nilai-nilai etika serta standar, prinsip dan praktik
penyelenggaraan usaha yang sehat.
D. Independency (Kemandirian) yaitu keadaaan dimana Perusahaan dikelola
secara mandiri dan professional serta bebas dari benturan kepentingan dan
pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dibidang perasuransian yang berlaku dan nilai-nilai etika
serta standar, prinsip dan praktik penyelenggaraan Perusahaan usaha yang
sehat.
E.
Fairness (Kesetaraan & Kewajaran) yaitu kesetaraan, keseimbangan, dan
keadilan di dalam memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan yang timbul

berdasarkan perjanjian, peraturan perundang-undangan, dan nilai-nilai etika


serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan Perusahaan yang sehat.
10
BAB III STRUKTUR CORPORATE GOVERNANCE
A.

ORGAN UTAMA

1. Pemegang Saham / Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pemegang Saham


merupakan Organ Perusahaan yang memiliki wewenang yang tidak diberikan
kepada Dewan Komisaris dan Direksi sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan Anggaran Dasar Perusahaan.
a. RUPS Perusahaan, terdiri dari: 1) RUPS Tahunan RUPS Tahunan diadakan tiap
tahun, Rapat Umum Pemegang Saham mengenai persetujuan Laporan Tahunan
dan RKAP diadakan paling lambat dalam bulan Juni setelah penutupan Tahun
Buku yang bersangkutan, dan dalam rapat tersebut Direksi menyampaikan:
Laporan Tahunan Usulan penggunaan Laba Bersih Perusahaan;
Rancangan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan termasuk Proyeksi Laporan
Keuangan; Hal-hal lain yang perlu persetujuan Rapat Umum Pemegang
Saham untuk kepentingan Perusahaan.
2) RUPS Luar Biasa (RUPSLB) Rapat umum Pemegang Saham Luar Biasa dapat
diadakan setiap waktu berdasarkan kebutuhan untuk kepentingan Perusahaan.
b. Penyelenggaraan RUPS RUPS diselenggarakan sesuai dengan kepentingan
Perusahaan dan dengan memperhatikan Anggaran Dasar dan peraturan
perundang-undangan, serta dengan persiapan yang memadai, sehingga dapat
mengambil keputusan yang sah, wajar dan transparan dengan memperhatikan
hal-hal yang diperlukan untuk menjaga kepentingan usaha perusahaan dalam
jangka panjang, meliputi:
1) Tempat dan Pemanggilan RUPS
a) RUPS diadakan di tempat kedudukan Perusahaan atau di tempat Perusahaan
melakukan kegiatan usahanya yang utama sebagaimana ditentukan dalam
Anggaran Dasar
11
b) Tempat RUPS sebagaimana dimaksud pada butir (a) harus terletak di wilayah
provinsi Riau.
c) Jika dalam RUPS hadir dan/atau diwakili semua Pemegang Saham dan semua
Pemegang Saham menyetujui diadakannya RUPS dengan agenda tertentu,
RUPS dapat diadakan dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana
dimaksud pada butir (b).
d) RUPS sebagaimana dimaksud pada butir (c) dapat mengambil keputusan jika
keputusan tersebut disetujui dengan suara bulat.

e) RUPS dapat juga dilakukan melalui media telekonferensi, video konferensi,


atau sarana media elektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta RUPS
saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat.
f) Direksi menyelenggarakan RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa dengan
didahului pemanggilan RUPS.
g) Penyelenggaraan RUPS sebagaimana dimaksud pada butir (f) dapat pula
dilakukan atas permintaan: Seorang atau lebih Pemegang Saham yang
mewakili paling sedikit 1/10 (satu per sepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham
yang telah dikeluarkan Perusahaan dengan hak suara yang sah; atau Dewan
Komisaris.
h) Permintaan sebagaimana dimaksud pada butir (g) diajukan kepada Direksi
dengan Surat Tercatat disertai alasannya. i) Surat Tercatat sebagaimana
dimaksud pada butir (h) yang disampaikan oleh Pemegang Saham
tembusannya disampaikan kepada Dewan Komisaris.
2) Pengumuman dan Pemanggilan RUPS
a) Direksi wajib melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka waktu paling lambat
14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal permintaan penyelenggaraan RUPS
diterima.
b) Pemanggilan RUPS dilakukan dengan melalui surat tercatat dan/atau dengan
iklan dalam surat kabar.
c) Dalam panggilan RUPS dicantumkan tanggal, waktu, tempat dan mata acara
rapat disertai pemberitahuan bahwa bahan yang akan dibicarakan dalam RUPS
tersedia di kantor Perusahaan sejak tanggal dilakukan RUPS sampai dengan
tanggal RUPS diadakan.
3) Kuorum, Hak Suara dan Keputusan RUPS
a) RUPS dapat dilangsungkan jika dalam RUPS lebih dari 51% (lima puluh satu
persen) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili,
kecuali peraturan perundang-undangan dan/atau Anggaran Dasar menentukan
lain.
b) Pemegang Saham baik sendiri maupun diwakili berdasarkan surat kuasa,
berhak
12
menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham dan menggunakan hak suaranya
sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.
c) Ketua Rapat berhak meminta agar surat kuasa untuk mewakili
Pemegang Saham diperlihatkan kepadanya pada waktu rapat diadakan.
d) Dalam Rapat tiap saham memberikan hak kepada pemiliknya untuk
mengeluarkan 1 (satu) suara.

e) Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat tertutup yang
tidak di tandatangani dan mengenai hal lain secara lisan, kecuali apabila Ketua
Rapat menentukan lain tanpa ada keberatan dari Pemegang Saham yang hadir
dalam Rapat. f) Semua keputusan yang diambil berdasarkan musyawarah untuk
mufakat. g) Suara Blanko atau suara yang tidak sah dianggap tidak ada dan
tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang di keluarkan dalam RUPS.
h) Pemegang Saham juga dapat mengambil keputusan yang sah tanpa
mengadakan RUPS secara fisik, dengan ketentuan semua Pemegang Saham
telah diberitahu secara tertulis dan semua Pemegang Saham memberikan
persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani
persetujuan tersebut. Keputusan yang diambil dengan cara demikian,
mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah
dalam RUPS.
4) Risalah RUPS
a) Setiap penyelenggaraan RUPS, risalah RUPS wajib dibuat dan ditandatangani
oleh Ketua Rapat dan paling sedikit 1 (satu) orang Pemegang Saham yang
ditunjuk dari dan oleh peserta RUPS.
b) Tandatangan sebagaimana dimaksud pada butir (a) tidak disyaratkan apabila
risalah RUPS tersebut dibuat dengan akta Notaris. c) Risalah RUPS sebagaimana
dimaksud pada butir (a) diatas berisi hal-hal yang dibicarakan dan hal-hal yang
diputuskan (termasuk pendapat berbeda/dissenting opinion, jika ada). d) Setiap
Pemegang Saham berhak untuk memperoleh salinan Risalah RUPS.
e) Risalah RUPS yang asli disimpan oleh Sekretaris Perusahaan sebagai dokumen
Perusahaan.
c. Wewenang RUPS
1) Mengangkat dan memberhentikan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan,
termasuk menetapkan Komisaris Independen sesuai ketentuan yang berlaku.
2) Menetapkan Indikator Pencapaian Kinerja (Key Performance Indicators)
Dewan Komisaris berdasarkan usulan dari Dewan Komisaris.
3) Menyetujui dan mengesahkan perhitungan tahunan yang terdiri neraca dan
perhitungan laba rugi, laporan tahunan mengenai keadaan dan jalannya
Perusahaan.
4) Menetapkan gaji dan tunjangan Dewan Komisaris dan Direksi. Kewenangan
RUPS atas penetapan gaji dan tunjangan bagi Direksi dapat dilimpahkan kepada
Dewan Komisaris dengan penetapan berdasarkan keputusan Rapat Dewan
Komisaris. Atas penetapan ini
13
Dewan Komisaris melaporkan hasilnya kepada RUPS.

5) Menetapkan pengangkatan, sistem penggajian, serta tunjangan Dewan


Komisaris dan Direksi dalam RUPS
6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 5) di atas, dapat disusun
oleh Dewan Komisaris dengan menggunakan jasa penasehat profesional yang
independen.
d. Hak Pemegang Saham
1) Direksi menjamin hak Pemegang Saham sesuai dengan Anggaran Dasar
Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan cara: a)
Mengundang dan memberikan kesempatan yang cukup kepada Pemegang
Saham untuk dapat menghadiri dan memberikan suara dalam RUPS dengan
prinsip satu saham satu suara;
b) Memberikan informasi material mengenai Perusahaan secara akurat, tepat
waktu dan teratur; c) Menyerahkan deviden sesuai dengan nilai deviden yang
ditetapkan dalam RUPS dan jumlah saham yang dimilikinya.
2) Direksi bersikap mandiri dan memperlakukan sebagai masukan yang
tidak mengikat setiap campur tangan Pemegang Saham dalam kegiatan
operasional yang menjadi tanggung jawab Direksi sesuai dengan ketentuan
Anggaran Dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
e. Akuntabilitas Pemegang Saham Akuntabilitas Pemegang Saham merupakan
kerangka kerja, sistem dan prosedur yang dimiliki Pemegang Saham, yang
dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Pemegang Saham melaksanakan GCG sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
2) Setiap Pemegang Saham harus tunduk pada Anggaran Dasar dan semua
keputusan yang diambil dengan sah dalam RUPS serta peraturan perundangundangan yang berlaku.
3) Pemegang Saham tidak diperkenankan mencampuri kegiatan operasional
Perusahaan yang menjadi tanggung jawab Direksi sesuai dengan Anggaran
Dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4) Pemegang Saham memiliki tanggung jawab untuk mendorong pelaksanaan
prinsip GCG dalam proses pengelolaan Perusahaan.
5) Pemegang Saham ikut bertanggung jawab untuk menjaga kesinambungan
kelangsungan usaha Perusahaan dan pencapaian tujuan Perusahaan.
2. Dewan Komisaris
Perusahaan wajib memiliki anggota Dewan Komisaris paling sedikit 1 (satu)
orang. Dewan Komisaris sebagai Organ Perusahaan bertugas dan bertanggung
jawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat
kepada Direksi serta memastikan bahwa Perusahaan melaksanakan Tata Kelola
Perusahaan yang Baik.

14
a. Wewenang Dewan Komisaris Dewan Komisaris berhak memperoleh akses atas
informasi Perusahaan secara tepat waktu dan lengkap. Direksi akan
menyampaikan informasi Perusahaan secara lengkap baik diminta maupun tidak
oleh Dewan Komisaris.
Adapun wewenang Dewan Komisaris sebagai berikut: 1) Melihat buku-buku,
surat-surat, serta dokumen-dokumen lainnya, memeriksa kas untuk keperluan
verifikasi dan lain-lain surat berharga dan memeriksa kekayaan Perusahaan; 2)
Memasuki pekarangan, gedung, dan kantor yang dipergunakan oleh Perusahaan;
3) Meminta penjelasan dari Direksi dan/atau pejabat lainnya mengenai segala
persoalan yang menyangkut pengelolaan Perusahaan; 4) Mengetahui segala
kebijakan dan tindakan yang telah dan akan dijalankan oleh Direksi; 5) Meminta
Direksi dan/atau pejabat lainnya dibawah Direksi dengan sepengetahuan
Direksi untuk menghadiri rapat Dewan Komisaris; 6) Mengangkat Sekretaris
Dewan Komisaris, jika dianggap perlu; 7) Memberhentikan sementara anggota
Direksi sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan; 8) Menggunakan
tenaga ahli untuk hal tertentu dan dalam jangka waktu tertentu atas beban
Perusahaan, jika dianggap perlu; 9) Melakukan tindakan pengurusan
Perusahaan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu sesuai
dengan ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan; 10) Menghadiri rapat Direksi dan
memberikan pandangan-pandangan terhadap hal-hal yang dibicarakan; 12)
Mengambil keputusan berdasarkan penilaian yang independen dan objektif
untuk kepentingan perusahaan penjaminan; 13) Menjamin pengambilan
keputusan yang efektif, tepat, dan cepat serta dapat bertindak secara
independen, tidak mempunyai kepentingan yang dapat mengganggu
kemampuan Dewan Komisaris untuk melaksanakan tugas secara mandiri dan
kritis. 14) Menghindarkan penyalahgunaan kewenangannya untuk
mendapatkan keuntungan pribadi yang tidak semestinya atau menyebabkan
kerugian bagi Perusahaan Penjaminan. 15) Melaksanakan kewenangan
pengawasan lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan, Anggaran Dasar, dan/atau keputusan RUPS.
b. Tugas dan Kewajiban Dewan Komisaris
Dewan Komisaris bertugas melakukan pengawasan terhadap kebijakan
pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya baik mengenai Perusahaan
maupun usaha Perusahaan yang dilakukan oleh Direksi serta memberikan
nasihat kepada Direksi termasuk pengawasan terhadap pelaksanaan
Rencana Jangka Panjang Perusahaan, Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
serta ketentuan Anggaran Dasar dan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
Perusahaan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, untuk
kepentingan Perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan.
Dewan Komisaris mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
1) Melaksanakan tugas pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi
dalam melaksanakan pengurusan Perusahaan;

15
2) Mengawasi Direksi dalam menjaga keseimbangan kepentingan semua pihak,
khususnya kepentingan pemegang polis, tertanggung, peserta, dan/atau pihak
yang berhak memperoleh manfaat; 3) Meneliti dan menelaah serta
menandatangani Rencana Jangka Panjang Perusahaan dan Rencana Kerja dan
Anggaran Perusahaan yang disiapkan Direksi, sesuai dengan ketentuan
Anggaran Dasar; 4) Memberikan pendapat dan saran kepada RUPS
mengenai Rencana Jangka Panjang Perseroan dan Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan mengenai alasan Dewan Komisaris menandatangani Rencana Jangka
Panjang Pemisahan dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan; 5) Mengikuti
perkembangan kegiatan Perusahaan, memberikan pendapat dan saran kepada
RUPS mengenai setiap masalah yang dianggap penting bagi kepengurusan
Perusahaan;
6) Melaporkan dengan segera kepada RUPS apabila terjadi gejala
menurunnya kinerja Perusahaan; 7) Meneliti dan menelaah laporan berkala dan
Laporan Tahunan yang disiapkan Direksi serta menandatangani Laporan
Tahunan;
8) Memberikan penjelasan,pendapat dan saran kepada RUPS mengenai Laporan
Tahunan, apabila diminta; 9) Menyusun program kerja tahunan dan dimasukkan
dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan; 10) Menyusun laporan
kegiatan Dewan Komisaris yang merupakan bagian dari laporan penerapan
Tata Kelola Perusahaan Yang Baik;
11) Memantau efektifitas penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik;
12) Mengusulkan Akuntan Publik kepada RUPS; 13) Membuat risalah rapat
Dewan Komisaris dan menyimpan salinannya; 14) Melaporkan kepada
Perusahaan mengenai kepemilikan sahamnya dan atau Keluarganya pada
Perusahaan dan perusahaan lain; 16) Memberikan laporan tentang tugas
pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku yang baru lampau kepada
RUPS; 17) Mendahulukan kepentingan Perusahaan dan pemegang polis,
tertanggung, peserta, dan/atau pihak yang berhak memperoleh manfaat
daripada kepentingan pribadi; 18) Melaksanakan kewajiban lainnya dalam
rangka tugas pengawasan dan pemberian nasihat, sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar, dan
atau keputusan RUPS.
19) Mengevaluasi Pedoman Tata Kelola Terintegrasi dan mengarahkan dalam
rangka penyempurnaan.
20) Mengevaluasi pelaksanaan kebijakan Manajemen Risiko Terintegrasi oleh
Direksi.
c. Rapat Dewan Komisaris
1) Segala keputusan Dewan Komisaris diambil dalam rapat Dewan Komisaris.

2) Dewan Komisaris wajib menyelenggarakan rapat Dewan Komisaris paling


sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan. Dalam rapat tersebut diantaranya
mengundang Direksi paling
16
sedikit 4 (empat) kali rapat dan mengundang auditor eksternal paling sedikit 1
(satu) kali rapat. 3) Anggota Dewan Komisaris wajib menghadiri rapat Dewan
Komisaris paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari jumlah rapat Dewan
Komisaris dalam periode 1 (satu) tahun. 4) Rapat Dewan Komisaris dihadiri oleh
setiap anggota Dewan Komisaris secara fisik paling sedikit 4 (empat) kali dalam
1 (satu) tahun.
5) Dewan Komisaris dapat mengadakan rapat sewaktu-waktu atas
permintaan 1 (satu) atau beberapa anggota Dewan Komisaris, permintaan
Direksi atau atas permintaan tertulis dari 1 (satu) atau beberapa Pemegang
Saham yang mewakili sekurang- kurangnya 1/10 (satu per sepuluh) dari
jumlah saham dengan hak suara, dengan menyebutkan hal-hal yang akan
dibicarakan.
6) Rapat Dewan Komisaris dianggap sah apabila diadakan di tempat
kedudukan Perusahaan atau di tempat lain di dalam wilayah Republik Indonesia.
7) Penentuan Agenda Rapat Agenda Rapat didasarkan pada Program Kerja
Dewan Komisaris atau hal-hal yang dianggap perlu. Materi rapat mencakup
evaluasi terhadap pelaksanaan keputusan hasil rapat sebelumnya.
d. Risalah Rapat
1) Hasil Rapat Dewan Komisaris dituangkan dalam risalah rapat Dewan
Komisaris dan didokumentasikan dengan baik. 2) Perbedaan pendapat
(dissenting opinions) yang terjadi dalam keputusan rapat Dewan Komisaris wajib
dicantumkan secara jelas dalam risalah rapat Dewan Komisaris disertai alasan
perbedaan pendapat tersebut. 3) Risalah rapat sebagaimana dimaksud pada
butir (1) ditandatangani oleh Ketua rapat dan seluruh anggota Dewan Komisaris
yang hadir dalam rapat. 4) Setiap anggota Dewan Komisaris berhak menerima
salinan Risalah Rapat Dewan Komisaris, baik yang bersangkutan hadir maupun
tidak hadir dalam Rapat Dewan Komisaris tersebut. 5) Setiap anggota Dewan
Komisaris menerima salinan risalah rapat setelah rapat selesai dilaksanakan. 6)
Asli risalah rapat Dewan Komisaris disampaikan kepada Direksi untuk disimpan
dan dipelihara, sedangkan Dewan Komisaris menyimpan salinannya. 7) Jumlah
rapat Dewan Komisaris yang telah diselenggarakan dan jumlah kehadiran
masing- masing anggota Dewan Komisaris harus dimuat dalam laporan
penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik. 8) Risalah Rapat Dewan Komisaris
harus disampaikan kepada seluruh Anggota Dewan Komisaris paling lambat 10
hari setelah rapat dilaksanakan.
e. Perangkapan Jabatan

1) Anggota Dewan Komisaris dilarang memangku jabatan rangkap sebagai: a)


Anggota Direksi pada Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah dan
Badan Usaha Milik Swasta;
17
b) Jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
pengurus partai politik dan/atau calon/anggota legislatif; dan/atau
c) Jabatan lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.
2) Anggota Dewan Komisaris hanya dapat merangkap jabatan sebagai anggota
Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau anggota Dewan Pengawas Syariah pada
1 (satu) perusahaan lain. Hal ini tidak termasuk rangkap jabatan apabila : a.
Anggota Dewan Komisaris non independen menjalankan tugas fungsional dari
pemegang saham Perusahaan Perasuransian yang berbentuk badan hukum pada
kelompok usahanya; dan/atau b. Anggota Dewan Komisaris menduduki
jabatan pada organisasi atau lembaga nirlaba; sepanjang yang bersangkutan
tidak mengabaikan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota
Dewan Komisaris Perusahaan.
3) Anggota Dewan Komisaris dilarang merangkap jabatan sebagai anggota
Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau anggota Dewan Pengawas Syariah pada
Perusahaan Penjaminan yang memiliki bidang usaha yang sama.
3. Direksi
Perusahaan wajib memiliki anggota Direksi paling sedikit 2 (dua) orang. Paling
sedikit separuh dari jumlah anggota Direksi harus memiliki pengetahuan dan
pengalaman di bidang pengelolaan risiko sesuai dengan bidang usaha
perusahaan. Direksi sebagai Organ Perusahaan bertugas dan bertanggung jawab
secara individu maupun kolegial dalam mengelola Perusahaan. Pelaksanaan
tugas oleh masing-masing anggota Direksi merupakan tanggung jawab
bersama.
a. Wewenang Direksi Direksi mempunyai wewenang sebagai berikut: 1)
Menetapkan kebijakan kepengurusan Perusahaan;
2) Mengatur penyerahan kekuasaan Direksi kepada seorang atau
beberapa orang anggota Direksi untuk mengambil keputusan atas nama Direksi
atau mewakili Perusahaan dalam dan diluar pengadilan;
3) Mengatur penyerahan kekuasaan Direksi kepada seorang atau beberapa
orang Karyawan Perusahaan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama atau
kepada orang lain, untuk mewakili Perusahaan di dalam dan di luar pengadilan;
4) Mengatur
ketentuan-ketentuan
tentang
kepegawaian
Perusahaan
termasuk penetapan gaji, pensiun atau jaminan hari tua dan penghasilan lain
bagi Karyawan Perusahaan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, dengan ketentuan penetapan gaji, pensiun atau jaminan hari
tua dan penghasilan lain bagi Karyawan yang melampaui kewajiban yang

ditetapkan perundang-undangan, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu


dari RUPS; 5) Menjamin pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat
serta dapat bertindak secara independen, tidak mempunyai kepentingan
yang dapat mengganggu kemampuan Direksi untuk melaksanakan tugas
secara mandiri dan kritis;
6) Mengangkat dan memberhentikan Karyawan Perusahaan berdasarkan
peraturan kepegawaian Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
18
7) Mengangkat dan memberhentikan Sekretaris Perusahaan dan Kepala
Satuan Pengawasan Intern dengan persetujuan Dewan Komisaris;
8) Melakukan segala tindakan dan perbuatan lainnya mengenai pengurusan
maupun pemilikan kekayaan Perusahaan, mengikat Perusahaan dengan
pihak lain dan/atau pihak lain dengan Perusahaan, serta mewakili Perusahaan
di dalam dan di luar pengadilan tentang segala hal dan segala kejadian, dengan
pembatasan- pembatasan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan, Anggaran Dasar dan/atau Keputusan RUPS.
9) Mengembangkan budaya risiko;
a. Tugas dan Kewajiban Direksi
Direksi bertugas menjalankan segala tindakan yang berkaitan dengan
pengurusan Perusahaan untuk kepentingan Perusahaan dan sesuai dengan
maksud dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan baik di dalam
maupun di luar Pengadilan tentang segala hal dan segala kejadian dengan
pembatasan-pembatasan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangundangan, Anggaran Dasar dan/atau Keputusan RUPS. Direksi
mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
1) Mematuhi peraturan perundang-undangan, anggaran dasar, dan peraturan
internal lain dari Perusahaan dalam melaksanakan tugasnya;
2) Mengelola Perusahaan sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya;
3) Mengusahakan dan menjamin terlaksananya usaha dan kegiatan Perusahaan
sesuai dengan maksud dan tujuan serta kegiatan usahanya;
4) Memastikan agar Perusahaan memperhatikan kepentingan semua pihak,
khususnya kepentingan pemegang polis, tertanggung, peserta, dan/atau pihak
yang berhak memperoleh manfaat;
5) Menyiapkan pada waktunya Rencana Jangka Panjang Perusahaan, Rencana
Kerja dan Anggaran Perusahaan, dan perubahannya serta menyampaikannya
kepada Dewan Komisaris dan Pemegang Saham untuk mendapatkan
pengesahan RUPS;

6) Memberikan penjelasan kepada RUPS mengenai Rencana Jangka Panjang


Perusahaan dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan;
7) Membuat Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus, Risalah RUPS dan
Risalah Rapat Direksi;
8) Membuat Laporan Tahunan sebagai wujud pertanggungjawaban pengurusan
Perusahaan, serta dokumen keuangan Perusahaan sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang tentang Dokumen Perusahaan.
9) Menyusun Laporan Keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan dan
menyerahkan kepada Akuntan Publik untuk diaudit;
10) Menyampaikan Laporan Tahunan termasuk Laporan Keuangan RUPS untuk
disetujui dan disahkan serta laporan hak-hak Perusahaan yang tidak tercatat
dalam pembukuan antara lain sebagai akibat penghapusbukuan piutang;
11) Memberikan penjelasan kepada RUPS mengenai Laporan Tahunan;
19
12) Menyampaikan laporan perubahan susunan Pemegang Saham, Direksi
dan Dewan Komisaris kepada Menteri yang membidangi Hukum dan HAM;
13) Memelihara Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus, Risalah RUPS,
Risalah Rapat Dewan Komisaris dan Risalah Rapat Direksi, laporan Tahunan dan
dokumen keuangan Perusahaan sebagaimana dimaksud pada butir 4 dan 5
diatas;
15) Memelihara di tempat kedudukan Perusahaan: Daftar Pemegang Saham,
Daftar Khusus, Risalah RUPS, Risalah Rapat Dewan Komisaris dan Risalah
Rapat Direksi, Laporan Tahunan dan Dokumen Keuangan Perusahaan dan
Dokumen Perusahaan lainnya
16) Menyusun sistem akuntansi sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan
dan berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian intern, terutama fungsi
pengurusan, pencatatan, penyimpanan, dan pengawasan; 17) Memberikan
laporan secara berkala menurut cara dan waktu sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, serta laporan lainnya setiap kali diminta oleh Dewan Komisaris dan/atau
Pemegang Saham;
18) Memastikan agar informasi mengenai Perusahaan diberikan kepada Dewan
Komisaris secara tepat waktu dan lengkap;
19) Menyiapkan susunan organisasi Perusahaan lengkap dengan perincian dan
tugasnya;
20) Memberikan penjelasan tentang segala hal yang ditanyakan atau yang
diminta anggota Dewan Komisaris dan para Pemegang Saham;
21) Menyusun dan menetapkan blue print organisasi Perusahaan;

22) Menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya sesuai dengan ketentuan yang


diatur dalam Anggaran Dasar ini dan yang ditetapkan oleh Rapat
Umum Pemegang Saham berdasarkan peraturan perundang-undangan.
23) Memastikan bahwa aset dan lokasi usaha serta fasilitas perusahaan
memenuhi peraturan perundang-undangan dibidang pelestarian lingkungan,
kesehatan dan keselamatan kerja.
28) Membentuk unit kerja atau memberi penugasan kepada unit kerja yang ada
dan relevan untuk menjalankan fungsi manajemen resiko.
b. Rapat Direksi
1) Segala keputusan Direksi diambil dalam rapat Direksi.
2) Rapat Direksi harus diadakan secara berkala sekurang-kurangnya sekali
dalam setiap bulan dan dalam rapat tersebut Direksi dapat mengundang Dewan
Komisaris. Dalam rapat tersebut dibahas segala sesuatu yang menyangkut
kewenangan Direksi sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar Perusahaan.
Rapat Direksi sedapat mungkin dihadiri oleh seluruh Direksi dan Sekretaris
Perusahaan.
3) Rapat Direksi dianggap sah apabila diadakan di tempat kedudukan
Perusahaan atau di tempat lain di dalam wilayah Republik Indonesia.
4) Rapat Direksi dianggap sah apabila diadakan di tempat kedudukan
Perusahaan atau di tempat lain di dalam wilayah Republik Indonesia.
5) Penentuan Agenda Rapat
20
Agenda Rapat didasarkan pada Program Kerja Direksi atau hal-hal yang
dianggap perlu. Materi rapat mencakup evaluasi terhadap pelaksanaan
keputusan hasil rapat sebelumnya.
6) Jumlah rapat Direksi yang telah diselenggarakan dan jumlah kehadiran
masing-masing anggota Direksi Perusahaan harus dimuat dalam laporan
penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik.
c. Risalah Rapat
1) Dalam setiap Rapat Direksi harus dibuat risalah Rapat yang ditandatangani
oleh Ketua Rapat Direksi dan seluruh anggota Direksi yang hadir, yang
berisi hal-hal yang dibicarakan (termasuk pernyataan
ketidaksetujuan/dissenting opinion anggota Direksi jika ada) dan halhal yang
diputuskan. Satu salinan Risalah Rapat Direksi agar disampaikan kepada Dewan
Komisaris untuk diketahui.
2) Risalah Rapat didistribusikan kepada setiap Anggota Direksi. Anggota Direksi
berhak menerima salinan Risalah Rapat Direksi, terlepas apakah Anggota Direksi
yang bersangkutan hadir atau tidak hadir dalam Rapat Direksi tersebut.

3) Dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari terhitung sejak rapat dilaksanakan,


setiap Anggota Direksi menerima salinan risalah rapat. 4) Risalah asli dari
setiap Rapat Direksi harus didokumentasikan dijilid dalam kumpulan tahunan dan
disimpan oleh Sekretaris Perusahaan serta harus tersedia bila diminta oleh
setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi.
d. Perangkapan Jabatan
1) Anggota Direksi dilarang memangku jabatan rangkap sebagaimana tersebut
di bawah ini: a) Anggota Direksi pada Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
Milik Daerah, Badan Usaha Milik Swasta; b) Anggota Dewan Komisaris/Dewan
Pengawas pada Badan Usaha Milik Negara; c) Jabatan struktural dan fungsional
lainnya pada instansi/lembaga pemerintah pusat atau daerah; d) Jabatan
lainnya sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan,
pengurus dan/atau calon/anggota legislatif dan/atau calon Kepala Daerah/Wakil
Kepala Daerah; dan atau e) Jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan
kepentingan. 2) Anggota Direksi dilarang merangkap jabatan pada perusahaan
lain kecuali sebagai anggota Dewan Komisaris pada 1 (satu) Perusahaan
Perasuransian lain yang memiliki bidang usaha yang berbeda. Tidak termasuk
rangkap jabatan apabila anggota Direksi yang bertanggung jawab terhadap
pengawasan atas penyertaan pada anak perusahaan, menjalankan tugas
fungsional menjadi anggota Dewan Komisaris pada anak perusahaan yang
dikendalikan oleh Perusahaan, sepanjang perangkapan jabatan tersebut tidak
mengakibatkan yang bersangkutan mengabaikan pelaksanaan tugas dan
wewenang sebagai anggota Direksi Perusahaan. 3) Direktur utama dilarang
merangkap jabatan sebagai anggota Dewan Komisaris pada anak perusahaan
yang dikendalikan oleh Perusahaan.
21
B.

ORGAN PENDUKUNG

Organ Pendukung adalah Organ Perusahaan yang membantu atau


merupakan perpanjangan tangan dari Organ Utama Perusahaan dalam
menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik. Uraian lebih lanjut fungsi dan
peranan organ pendukung perusahaan dalam menerapkan praktik- praktik tata
kelola perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Komite Pendukung Dewan Komisaris Dalam rangka membantu pelaksanaan
tugasnya, Dewan Komisaris dapat membentuk komite, yang anggotanya seorang
atau lebih adalah anggota Dewan Komisaris. Dan untuk mendukung efektivitas
pelaksanaan dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris Perusahaan wajib
membentuk Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko.
a. Komite Audit Untuk lebih meningkatkan kinerjanya, Dewan Komisaris
wajib membentuk Komite Audit yang bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam memantau dan memastikan efektivitas sistem pengendalian internal dan
pelaksanaan tugas Auditor Internal dan Auditor Ekternal dengan melakukan
pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit dalam

rangka menilai kecukupan pengendalian internal termasuk proses pelaporan


keuangan. Komite Audit terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang,
seorang diantaranya adalah Komisaris Independen yang sekaligus merangkap
sebagai Ketua komite Audit. Komite Audit harus bebas dari pengaruh Direksi
maupun Eksternal Auditor. Dengan demikian Komite Audit hanya
bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris.
b. Komite Pemantau Risiko
Untuk lebih meningkatkan kinerjanya, Dewan Komisaris wajib membentuk
Komite Pemantau Risiko yang bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam memantau pelaksanaan manajemen risiko yang disusun oleh Direksi
serta menilai toleransi risiko yang dapat diambil oleh Perusahaan Asuransi atau
Perusahaan Reasuransi.
d. Komite Lainnya
Dewan Komisaris dapat membentuk komite lain lebih dari satu, apabila: a)
Diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan; atau b) Disetujui
Menteri berdasarkan kompleksitas dan beban yang dihadapi Dewan Komisaris
dalam menjalankan tugas di Perusahaan.
2. Sekretaris Dewan Komisaris
Dewan Komisaris dapat membentuk Sekretaris Dewan Komisaris yang dipimpin
oleh seorang Sekretaris Dewan Komisaris dibantu Staf Sekretariat Dewan
Komisaris yang berasal dari luar Perusahaan yang diangkat dan diberhentikan
oleh Dewan Komisaris.
Sekretaris Dewan Komisaris bertugas membantu Dewan Komisaris dalam hal
administrasi, penyimpanan dokumen Dewan Komisaris, menyiapkan undangan
rapat dan menghadiri rapat Dewan Komisaris, menyusun risalah rapat serta
rencana kerja Dewan Komisaris dan tugas lainnya sebagaimana yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
22
3.

Komite Pendukung Direksi

Dalam rangka membantu pelaksanaan tugasnya, Direksi membentuk


komite. Pengaturan lebih lanjut atas komite terkait dengan komposisi
keanggotaan tugas dan tanggungjawab diatur dalam surat keputusan Direksi
yang merupakan dokumen terkait dalam pedoman GCG ini.
Komite pendukung Direksi, yaitu :
a.

Komite Investasi

Untuk mendukung efektivitas


pelaksanaan
dan
tanggung
jawabnya,
Direksi Perusahaan wajib membentuk Komite Investasi yang paling sedikit terdiri

atas 1) Anggota Direksi yang membawahi fungsi pengelolaan investasi; dan 2)


Aktuaris perusahaan atau tenaga ahli perusahaan.
Komite Investasi bertugas membantu Direksi dalam merumuskan kebijakan
investasi dan mengawasi pelaksanaan kebijakan investasi yang telah ditetapkan.
b. Komite Pengembangan Produk Asuransi
Komite bertugas untuk : 1) Menyusun rencana strategis pengembangan dan
perencanaan produk Asuransi sebagai bagian dari rencana strategis kegiatan
usaha perasuransian. 2) Mengevaluasi kesesuaian produk asuransi baru yang
akan dipasarkan dengan rencana strategis pengembangan & pemasaran produk
Asuransi. 3) Mengevaluasi kinerja produk Asuransi dan mengusulkan
penambahan/penghentian pemasarannya.
Komite bertanggungjawab kepada Direksi yang membawahi fungsi
pengembangan produk Asuransi.
c.

Komite Manajemen Risiko Terintegrasi

Komite paling sedikit terdiri dari: 1) Direktur yang membawahkan fungsi


Manajemen Risiko, sebagai ketua merangkap anggota komite Manajemen Risiko
Terintegrasi. 2) Direktur yang mewakili dan ditunjuk dari LJK dalam konglomerasi
keuangan 3) Pejabat Eksekutif Pejabat satu tingkat di bawah Direktur yang
memimpin satuan kerja operasional dan/atau fungsi/satuan kerja Manajemen
Risiko.
Komite bertugas untuk memberikan rekomendasi kepada Direksi dalam hal
penyusunan kebijakan manajemen risiko terintegrasi dan perbaikan atau
penyempurnaan kebijakan manajemen risiko terintegrasi berdasarkan hasil
evaluasi pelaksanaan;
d. Komite Lainnya
Direksi dapat membentuk komite lain lebih dari satu, apabila: 1) Diwajibkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan; atau 2) Disetujui Dewan
Komisaris berdasarkan kompleksitas dan beban yang dihadapi Direksi dalam
menjalankan tugas di Perusahaan.
23
4. Sekretaris Perusahaan
Sekretaris Perusahaan merupakan Organ Pendukung Direksi yang bertindak
sebagai pejabat penghubung (liaison officer) untuk menatausahakan dan
menyimpan dokumen Perusahaan, termasuk tetapi tidak terbatas pada Daftar
Pemegang Saham, Daftar Khusus Perusahaan dan risalah rapat Direksi, Dewan
Komisaris maupun RUPS. Fungsi Sekretaris Perusahaan dijalankan oleh organ
struktural setingkat di bawah Direksi dan bertanggung jawab kepada Direktur
Utama Perusahaan.

Sekretaris Perusahaan diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Utama


berdasarkan mekanisme internal Perusahaan dengan persetujuan Dewan
Komisaris.
Sekretaris Perusahaan harus memastikan bahwa Perusahaan mematuhi
peraturan tentang persyaratan keterbukaan yang berlaku dan wajib
memberikan informasi yang berkaitan dengan tugasnya kepada Direksi secara
berkala dan kepada Dewan Komisaris apabila diminta.
5. Satuan Pengawasan Internal
Satuan Pengawasan Internal adalah Organ Pendukung di bawah Direktur Utama
yang melakukan kegiatan pemberian keyakinan dan konsultansi yang bersifat
independen dan obyektif, dengan tujuan untuk meningkatkan nilai dan
memperbaiki operasional Perusahaan, melalui pendekatan yang sistematis,
dengan cara mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko,
pengendalian dan proses Tata Kelola Perusahaan. Terkait hal tersebut, fungsi
Satuan Pengawasan Internal adalah memberikan konstribusi terhadap
perbaikan/peningkatan proses Tata Kelola (governance), Manajemen Risiko, dan
Sistem Pengendalian Intern.
Satuan Pengawasan Internal dipimpin oleh seorang Kepala yang diangkat dan
diberhentikan oleh Direktur Utama berdasarkan mekanisme internal Perusahaan
dengan persetujuan Dewan Komisaris. Dewan Komisaris dan Direksi harus
memastikan bahwa auditor eksternal maupun auditor internal dan Komite Audit
memiliki akses terhadap informasi mengenai Perusahaan yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas audit dan harus merahasiakan informasi yang diperoleh
sewaktu melaksanakan tugasnya, kecuali disyaratkan oleh peraturan perundangundangan untuk tidak dirahasiakan.
Dalam melaksanakan kegiatannya, Satuan Pengawasan Internal memiliki
pedoman audit, mekanisme kerja dan supervisi di dalam organisasi Satuan
Pengawasan Internal, dan penilaian program jaminan dan peningkatan kualitas.
C.

Hubungan Antar Organ Perusahaan

Masing-masing Organ Perusahaan telah memiliki fungsi dan wewenang masingmasing yang diberikan oleh undang-undang. Menghormati fungsi dan
wewenang masing-masing merupakan landasan hubungan yang
dikembangkan oleh Perusahaan. Dengan saling menghormati fungsi dan
wewenang masing-masing Organ Perusahaan diharapkan akan tercipta kerja
sama dan sinergi yang positif bagi Perusahaan serta makin memperbaiki
implementasi GCG.
Perusahaan selalu mendorong agar setiap Organ Perusahaan menjalankan tugas
dan fungsi dengan dilandasi pemenuhan pada ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan bertujuan untuk meningkatkan nilai Pemegang
Saham dalam jangka panjang.

Untuk itu Perusahaan menetapkan kebijakan-kebijakan terkait dengan hubungan


antar Organ Perusahaan sebagai berikut: 1. Masing-masing Organ Perusahaan
harus bertindak demi sebaik-baik kepentingan Perusahaan.
24
2. Masing-masing Organ Perusahaan harus bertindak atas dasar kebersamaan
demi tercapainya tujuan Perusahaan. 3. Masing-masing Organ Perusahaan harus
saling menghargai dan menghormati fungsi dan peranannya masing-masing. 4.
Masing-masing Organ Perusahaan harus bertindak sesuai fungsi dan perannya
masing- masing sebagaimana yang diatur dalam anggaran dasar Perusahaan
dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
25
BAB IV
KEBIJAKAN PERUSAHAAN
Kebijakan pokok Perusahaan merupakan prinsip-prinsip utama dalam mendukung
proses tata kelola, pengaturan dan pengelolaan Perusahaan.
A.
UMUM 1. Integritas Bisnis Lingkungan usaha mendorong Perusahaan untuk
secara aktif berperan dan bertindak sebagai korporasi yang menjalankan
bisnisnya secara bertanggung jawab. Hubungan yang baik dengan pemangku
kepentingan dan peningkatan nilai Pemegang Saham dalam jangka panjang
dapat dicapai jika integritas dan etika bisnis selalu dijaga dan ditingkatkan dalam
setiap kegiatan bisnis Perusahaan.
Perusahaan selalu mendorong agar seluruh Insan Perusahaan mematuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan
fungsinya bagi Perusahaan.
2. Pengelolaan Keuangan dan Sistem Akuntansi Keuangan Perusahaan harus
dikelola secara profesional (tertib, taat pada peraturan & RKAP, efisiensi,
ekonomis, efektif, transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab) dengan
mempertimbangkan risiko serta menggunakan prinsip kehati-hatian, dan
mencerminkan pengelolaan aset dan liabilitas yang seimbang.
Peraturan, kebijakan serta prosedur yang berhubungan dengan pengelolaan
keuangan baik pendapatan maupun biaya harus disusun dan direview dengan
memperhatikan standar akuntansi dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku serta sebagai cerminan sistem pengendalian internal yang baik.
Pengelolaan keuangan dimaksudkan untuk meningkatkan nilai Perusahaan
melalui pelaksanaan program kerja yang dilandasi prinsip sadar biaya,
berorientasi pada keuntungan dan pengelolaan dana yang baik serta
mempertimbangkan risiko.
Perusahaan memiliki kebijakan untuk menyelenggarakan sistem akuntansi yang
secara akurat merefleksikan setiap transaksi keuangan dan perubahan asset

yang terjadi. Perusahaan menjamin bahwa hanya transaksi keuangan yang riil
saja yang dicatat. Transaksi keuangan tersebut telah mendapat persetujuan dan
dicatat dengan benar dalam sistem akuntansi Perusahaan.
Perusahaan selalu memastikan kebijakan dan peraturan terkait dengan akuntansi
merujuk pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang dibakukan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Laporan Keuangan Perusahaan selalu memuat
posisi keuangan, kinerja keuangan, perubahan ekuitas dan arus kas serta
catatan atas laporan keuangan.
Perusahaan mengungkapkan dalam Laporan Keuangan Perusahaan berbagai
informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan secara benar dan
akurat sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Sistem Pengendalian Internal
Perusahaan, dalam hal ini Direksi, wajib membentuk Sistem Pengendalian
Internal yang efektif untuk mengamankan investasi dan asetnya, yang
mencakup:
26
a. Lingkungan pengendalian internal dalam Perusahaan yang dilaksanakan
dengan disiplin dan terstruktur, yang terdiri dari : 1) Integritas, nilai etika dan
kompetensi karyawan. 2) Filosofi dan gaya manajemen. 3) Komitmen
manajemen terhadap kompetensi. 4) Cara pelaksanaan kewenangan dan
tanggung jawabnya. 5) Pengorganisasian dan pengembangan sumber daya
manusia. 6) Perhatian dan arahan yang dilakukan oleh Direksi. 7) Peran
Satuan Pengawasan Intern yang aktif.
b. Pengkajian terhadap pengelolaan risiko usaha (risk assessment), yaitu suatu
proses untuk mengidentifikasi, menganalisis, menilai pengelolaan risiko yang
relevan.
Pengkajian risiko dilakukan dengan penetapan tujuan, identifikasi dan analisa
risiko, serta pengelolaan risiko.
c. Aktivitas pengendalian, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan dalam suatu
proses pengendalian terhadap kegiatan Perusahaan pada setiap tingkat dan unit
dalam struktur organisasi Perusahaan, antara lain mengenai: kewenangan,
otorisasi, verifikasi, rekonsiliasi, penilaian prestasi kerja, pembagian tugas dan
keamanan terhadap aset Perusahaan.
d. Sistem informasi dan komunikasi, yaitu suatu proses penyajian laporan
mengenai kegiatan operasional, finansial, serta ketaatan dan kepatuhan
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan oleh Perusahaan.
Penyelenggaraan komunikasi yang efektif di perusahaan dilakukan dengan : 1)
Menerapkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi dengan karyawan dan
pihak lain yang terkait. 2) Mengelola, mengembangkan, dan memperbaharui

sistem informasi untuk meningkatkan kegunaan dan keadaan komunikasi secara


terus menerus.
e. Monitoring, yaitu proses penilaian terhadap kualitas sistem pengendalian
intern, termasuk fungsi internal audit pada setiap tingkat dan unit dalam struktur
organisasi Perusahaan, sehingga dapat dilaksanakan secara optimal.
f. Memastikan tindak lanjut atas rekomendasi dari hasil audit Satuan
Pengawasan Intern.
g. Adanya mekanisme pelaporan dari SPI kepada Direksi dengan tembusan
kepada Komite Audit dalam hal terjadi penyimpanan sistem pengendalian
internal.
4. Auditor Eksternal
Perusahaan
membutuhkan
keberadaan
Auditor
Eksternal
terutama
dalam menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus
kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Pernyataan Auditor Eksternal merupakan pendapat pihak ketiga yang
independen mengenai kewajaran Laporan Keuangan yang disampaikan
kepada pemegang saham Perusahaan maupun pemangku kepentingan lainnya
menyangkut hal-hal yang material yang tercantum dalam laporan keuangan
tersebut: a. Auditor Eksternal merupakan auditor yang ditetapkan oleh
RUPS dari calon yang diajukan oleh Dewan Komisaris berdasarkan usul Direksi,
untuk menyatakan opini atas
27
laporan keuangan yang disusun manajemen. Dalam hal tertentu Perusahaan
dapat menunjuk Auditor Eksternal untuk melakukan assessment terhadap
suatu hal yang dianggap penting.
b. Pemilihan Auditor Eksternal dilakukan melalui proses yang transparan.
c. Direksi melakukan proses penunjukkan calon Auditor Eksternal sesuai
dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa masing-masing Perusahaan.
d. Direksi melalui Dewan Komisaris wajib menyampaikan kepada RUPS alasan
pencalonan tersebut dan besarnya honorarium/imbal jasa yang diusulkan untuk
eksternal auditor tersebut.
e. Untuk dapat memberikan opini atas laporan keuangan Perusahaan, Auditor
Eksternal harus menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
standar dan kode etik profesi.
f. Laporan Keuangan merupakan tanggung jawab Direksi. Tanggung jawab
Auditor Eksternal adalah untuk menyatakan pendapat atas Laporan Keuangan.

g. Perusahaan harus menyediakan semua catatan akuntansi dan data penunjang


yang diperlukan oleh Auditor Eksternal sehingga memungkinkan Auditor
Eksternal tersebut memberikan pendapat tentang kewajaran, ketaat-azasan, dan
kesesuaian laporan keuangan Perusahaan dengan standar akuntansi keuangan
Indonesia.
h. Persyaratan Auditor Eksternal: 1) Auditor Eksternal tersebut harus bebas dari
pengaruh Dewan Komisaris, Direksi dan pihak yang berkepentingan di
Perusahaan. 2) Auditor Eksternal harus merahasiakan informasi yang diperoleh
sewaktu melaksanakan tugasnya maupun setelahnya sesuai dengan peraturan
perundang- perundangan yang berlaku kecuali disyaratkan lain
i. Hubungan kerja dengan Auditor Eksternal dituangkan dalam kontrak
perjanjian kerja.
B.
1.

KHUSUS
Pengelolaan Risiko a.

Tujuan Manajemen Risiko

Pengelolaan risiko yang diterapkan perusahaan adalah manajemen


risiko korporat terintegrasi yaitu suatu proses pengelolaan risiko yang dimulai
dari proses identifikasi, pengukuran, pemetaan, mitigasi serta evaluasi dan
monitoring hasil pelaksanaan mitigasi risiko. Diterapkan diseluruh entitas
perusahaan baik di kantor pusat maupun kantor cabang dan melibatkan seluruh
unit kerja tidak terkecuali Direksi dan Manajemen yang bertujuan untuk
memastikan tercapainya sasaran-sasaran yang ada dalam RJPP maupun RKAP
perusahaan.
Sasaran penerapan manajemen risiko di perusahaan adalah : 1)
Mempertahankan kesinambungan usaha berdasarkan prinsip GCG. 2)
Meningkatkan pertumbuhan profit pada tingkat risiko yang terkendali. 3)
Terselenggaranya praktek tata kelola perusahaan yang sehat 4) Terciptanya
etos kerja SDM yang tinggi bagi perusahaan melalui penerapan manajemen
28
risiko 5) Terciptanya budaya sadar risiko korporat 6) Meningkatkan nilai
perusahaan (corporate value)
b.

Klasifikasi Risiko

Pengelompokkan risiko (mother of risk) di perusahaan terdiri dari : 1) Risiko


Kepengurusan 2) Risiko Tata Kelola 3) Risiko Strategi 4) Risiko Operasional 5)
Risiko Asset dan Liabilitas 6) Risiko Asuransi 7) Risiko Dukungan Dana
(Permodalan)
Pengelolaan risiko yang dikelola juga selain dikelompokan berdasarkan
klasifikasi risiko utama (mother of risk) juga dilakukan menurut proses bisnis
seperti proses bisnis suretyship dan asuransi kredit, proses bisnis kegiatan
investasi dan pengadaan barang dan jasa. Identifikasi risiko menurut proses
bisnis ini dapat dilakukan dengan menggunakan SIMR berbasis web.

Untuk mendukung penerapan manajemen risiko korporat terutama


meningkatkan komitmen Risk Owner dalam melaksanakan mitigasi risiko, maka
mulai dilakukan RKAP berbasis risiko dengan menggunakan sistem informasi
manajemen risiko (SIMR) berbasis Web. Rencana mitigasi risiko yang diusulkan
Risk Owner dan membutuhkan sumber daya di masukan dalam program kerja di
RKAP.
Untuk mendukung penerapan Fraud Control Plan (FCP) mulai dilakukan Fraud
Risk Assessment (FRA) dengan menggunakan SIMR berbasis web. FRA ini
dilakuakan oleh RCP dan Risk Owner secara day to day. FRA dilakukan sebagai
pencegahan/mitigasi risiko fraud yang dapat mengganggu pencapaian target
perusahaan. Langkah utama dalam melakukan penilaian risiko fraud mencakup
mengidentifikasi area fungsional utama organisasi, mengidentifikasi
bentukbentuk ancaman fraud pada masing-masing fungsi serta menilai
kemungkinan terjadinya ancaman fraud yang telah diidentifikasi.
c.
Ruang Lingkup Manajemen Risiko Ruang lingkup manajemen risiko
perusahaan meliputi : 1) Pengelolaan risiko transaksional, yaitu ditujukan
untuk mengelola risiko-risiko yang timbul dari kegiatan transaksional seperti
kegiatan penutupan/akseptasi, penyelesaian klaim, pengadaan barang & jasa
dan kegiatan investasi. Dalam pengelolaan risiko transaksional digunakan Four
Eyes Principles (FEP) dengan memposisikan Risk Officer dan Tim Manajemen
Risiko sebagai Risk Advisory yang memberikan risk review kepada Komite-Komite
sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menetapkan persetujuan
transaksi baik untuk penutupan asuransi kredit/suretyship, penyelesaian klaim,
pengadaan barang & jasa dan kegiatan investasi. Four Eyes Principles dilakukan
minimal 2 (dua) orang yaitu 1(satu) orang dari unit operasional/bisnis atau non
operasional/supporting unit sebagai pemegang kewenangan pemutus dan 1
(satu)
29
orang dari unit manajemen risiko atau Risk Officer (RO) di Kantor Cabang dan
Tim Manajemen Risiko di Kantor Pusat yang memberikan Risk Advisory. FEP ini
berlaku di kantor pusat dan kantor cabang.
2) Pengelolaan risiko non transaksional, yaitu ditujukan untuk mengelola risikorisiko yang timbul dari kegiatan non transaksional atau yang bersifat korporat.
Risiko non transaksional ini mengelola risiko yang termasuk 7 kelompok risiko
utama, proses bisnis dan risiko lainnya yang dianggap memerlukan pengelolaan
risiko lebih intensif dan terus menerus seperti Fraud Risk Assessment dengan
menggunakan sistem informasi manajemen risiko berbasis website. Pengelolaan
risiko non transaksional diarahkan untuk mendukung penerapan manajemen
risiko korporat yang sesuai dengan ketentuan regulasi dan kebutuhan
perusahaan itu sendiri. Person In Charge (PIC) yang melakukan pengelolaan
risiko pada kegiatan non transaksional ini adalah Risk Contact Person (RCP)
diseluruh kantor pusat dan di kantor cabang.
d.

Organisasi Manajemen Risiko

Organisasi manajemen risiko merupakan aspek penting dalam penerapan


manajemen risiko korporat karena melalui organisasi inilah perusahaan
menggerakan semua kegiatan yang terkait dengan manajemen risiko.
Pelaksanaan program manajemen risiko dapat dilakukan dengan : 1)
Membentuk unit kerja tersendiri yang ada di bawah Direksi. 2) Memberi
penugasan kepada unit kerja yang ada dan relevan untuk menjalankan fungsi
manajemen risiko.
a) Direksi Direksi merupakan pihak penanggung jawab utama dalam
menetapkan, mengembangkan dan menerapkan pedoman manajemen risiko di
lingkungan perusahaan. Dalam menjalankan tanggung jawab ini, Direksi dibantu
Divisi Manajemen Risiko dan Kepatuhan untuk membantu melaksanakan
kewenangan, tanggung jawab dan tugasnya, antara lain : Direksi dalam
setiap pengambilan keputusan/tindakan harus mempertimbangkan risiko usaha
Direksi wajib membangun dan melaksanakan program manajemen
risiko korporasi secara terpadu yang merupakan bagian dari pelaksanaan
program GCG. Direksi wajib menyampaikan laporan profil manajemen risiko
dan penanganannya bersamaan dengan laporan berkala Perusahaan.
b) Divisi Manajemen Risiko Membantu Direksi dalam menyusun dan
melaksanakan sistem Manajemen Risiko perusahaan yang mencakup seluruh
aspek kegiatan di lingkungan Perusahaan.
Tugas dan tanggung jawab Divisi Manajemen Risiko dalam fungsi manajemen
risiko antara lain : Merespon secara positif terhadap peristiwa risiko yang
menjadi ancaman bagi perusahaan dan melakukan koordinasi dengan seluruh
unit kerja/ risk owner untuk mengelola risiko tersebut.
30
Melakukan monitoring terhadap isu-isu terkini dibidang manajemen risiko dan
trend-nya ke depan serta melakukan koordinasi dengan seluruh unit kerja terkait
untuk melakukan pengelolaan risiko secara korporat dan terintegrasi.
Mengidentifikasi area-area risiko korporat yang paling mudah terulang atau
terkena dampak risiko dan memberikan solusi untuk melakukan tindakan koreksi
atau revisi terhadap rencana kerja agar situasi ini tidak terulang kembali
Melaporkan hasil asesmen manajemen risiko korporat kepada Direksi dan
Komite Audit serta tindakan pengendalian yang telah dilakukan unit kerja terkait
c) Komite Pemantauan Risiko (KPR) Dewan Komisaris dalam menerapkan
Manajemen Risiko Korporat dibantu oleh Komite Pemantau Risiko yang
anggotanya terdiri dari Anggota Komisaris Independen dan Anggota Komite
Oversight yang berasal dari ahli/praktisi di bidang manajemen risiko dari
eksternal. Komite Pemantau Risiko berkoordinasi dengan KMR dan dibantu oleh
unit Satuan Pengawasan Intern (SPI) dalam memastikan penerapan
manajemen risiko korporat berjalan secara optimal.
d) Komite Manajemen Risiko (KMR) Komite Manajemen Risiko dibentuk untuk
membantu Direksi dalam menerapkan manajemen risiko korporat. Salah satu

tugas KMR yaitu melakukan evaluasi dan monitoring serta memberikan


rekomendasi terkait pelaksanaan manajemen risiko untuk mengkaji isu terkini
dan isu signifikan yang berpengaruh terhadap perusahaan serta memperhatikan
dan memperbaiki standar dan batas toleransi manajemen risiko. Komite diketuai
oleh Direktur Utama dan bertindak sebagai Sekretaris adalah Division Head
Manajemen Risiko & Kepatuhan. Anggota Komite terdiri 2 (dua) jenis yaitu
Anggota Tetap dan Anggota Tidak Tetap (kasus per kasus). Dalam
melaksanakan fungsinya, komite sewaktu-waktu dapat dibantu oleh anggota
independen (oversight) dari ahli/praktisi di bidang manajemen risiko. Apabila
diperlukan anggota komite bisa ditambah dengan panitia ad hoc dengan
melibatkan anggota komisaris lembaga atau perguruan tinggi yang independen
dan/ ternama untuk membantu tugas-tugas khusus komite manajemen risiko
sesuai dan kesepakatan.
2. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social
Responsibility (CSR) ditujukan untuk menciptakan hubungan yang harmonis
dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya masyarakat setempat yaitu
dengan melaksanakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).
Implementasi PKBL adalah bentuk kontribusi Perusahaan pada pengembangan
komunitas lokal termasuk juga Karyawan dan keluarganya di bidang-bidang
pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar dan pengelolaan lingkungan hidup.
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), antara
lain: a. Perusahaan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab secara hukum,
sosial, moral serta etika untuk menghormati kepentingan masyarakat sekitar
mengingat keberhasilan Perusahaan tidak dapat dilepaskan dari hubungan yang
harmonis, dinamis, serta saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar.
31
b. Direksi menetapkan program-program Perusahaan yang berkaitan dengan
tanggung jawab sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR)
c. Direksi melaporkan hasil evaluasi, efektivitas dan manfaat pelaksanaan
program-program yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial Perusahaan
kepada Dewan Komisaris dan Pemegang Saham.
d. Pelaksanaan program-program tersebut dimuat dalam Laporan Tahunan
Perusahaan.
e. Tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban Perusahaan
yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perusahaan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3. Pengelolaan Sumber Daya Manuasia (SDM)
Pengelolaan SDM dimaksudkan untuk memastikan bahwa Perusahaan selalu
memiliki Sumber Daya Manusia yang unggul dan dapat diarahkan dan

digerakkan untuk mencapai tujuan-tujuan Perusahaan. Dalam pengelolaan


SDM, Perusahaan mempertimbangkan prinsip efisiensi, efektifitas,
transaparan dan berwawasan jangka panjang, sesuai arah kegiatan
usaha perusahaan.
a. Hubungan dengan Karyawan Perusahaan menghargai hak asasi setiap Insan
Perusahaan. Dalam hal hubungan antara PT Jamkrida Riau dengan Karyawan
yang diwakili oleh Serikat Pekerja diikat dalam bentuk Perjanjian Kerja Bersama
(PKB). Komitmen Perusahaan untuk menempatkan Perjanjian Kerja Bersama
sebagai landasan dalam membina hubungan dengan Karyawan. Kebijakan dan
prosedur manajemen sumber daya manusia, seperti formasi, mutasi, promosi,
dan pengembangan karyawan maupun reward and punishment yang
dilaksanakan secara konsisten.
b. Kesempatan Kerja yang Sama 1) Direksi menggunakan kemampuan bekerja,
kualifikasi dan kriteria yang terkait dengan hubungan kerja sebagai dasar dalam
mengambil keputusan mengenai hubungan kerja antara Perusahaan dengan
Karyawan. 2) Direksi harus mempekerjakan, menetapkan besarnya gaji,
memberikan pendidikan dan pelatihan, menetapkan jenjang karir, serta
menentukan persyaratan kerja lainnya, tanpa memperhatikan latar belakang
budaya seseorang, atau keadaan khusus lainnya yang dilindungi oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku. 3) Direksi wajib menyediakan lingkungan
kerja yang bebas dari segala bentuk tekanan (pelecehan) yang mungkin
timbul sebagai akibat perbedaan watak, keadaan pribadi, dan latar belakang
budaya seseorang.
4. Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Perlindungan Lingkungan
Pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting untuk
keberhasilan aktivitas usaha Perusahaan. Perusahaan mengutamakan
keselamatan dan kesehatan kerja serta pelestarian lingkungan yang didasari
atas kesadaran bahwa pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja yang prima
serta tanggung jawab terhadap lingkungan sangat penting bagi keberhasilan
jangka panjang. Perusahaan senantiasa mengambil tindakan yang tepat untuk
menghindari terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Perusahaan sangat
memperhatikan masalah dan dampak lingkungan dari seluruh aktivitas
Perusahaan. Seluruh aktivitas Perusahaan dievaluasi secara ilmiah dampaknya
terhadap lingkungan dan dilakukan tindakan pengawasan serta pencegahan.
32
Melalui praktik manajemen yang efektif, Perusahaan berupaya menjamin
kesehatan dan keselamatan kerja Karyawan dan meminimumkan dampak negatif
terhadap lingkungan serta menciptakan sumbangsih positif kepada masyarakat.
5. Manajemen Mutu
a. Perusahaan menerapkan sistem manajemen mutu di semua fungsi dan
tingkatan dengan Standar Operasi Prosedur yang dapat digunakan secara efektif
untuk mengendalikan kualitas produk dan jasa, sehingga dapat memberikan

jaminan keamanan, keselamatan dan kesehatan bagi para konsumen. b.


Perusahaan selalu menjaga dan mengendalikan mutu/kualitas produk dan jasa
yang dihasilkan dalam rangka meningkatkan daya saing dan memberikan
kepuasan kepada pelanggan. c. Sistem manajemen mutu harus selalu
dikembangkan sejalan dengan perubahan peraturan, tuntutan pelanggan dan
peningkatan daya saing. d. Pengelolaan Manajemen Mutu dituangkan dalam
kebijakan tersendiri.
6. Kode Etik
Kode Etik merupakan sekumpulan komitmen yang terdiri dari etika bisnis
Perusahaan dan etika kerja Karyawan Perusahaan yang disusun untuk
membentuk, mengatur dan melakukan kesesuaian tingkah laku sehingga
tercapai keluaran yang konsisten yang sesuai dengan budaya Perusahaan dalam
mencapai visi dan misinya. a. Etika Berusaha 1) Seluruh organ Perusahaan
mematuhi peraturan Perusahaan yang berlaku, memegang teguh komitmen dan
memberikan kontribusi positif kepada lingkungan Perusahaan.
2) Bagi Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi memastikan bahwa
Perusahaan dikelola dengan menganut prinsip-prinsip GCG tanpa adanya
benturan kepentingan.
3) Bagi Karyawan, memastikan bahwa Perusahaan telah menanamkan nilainilai dan budaya Perusahaan kepada seluruh Karyawan, mendorong
kedua belah pihak (Karyawan dan Perusahaan) untuk mematuhi ketentuan
kerja bersama serta memberikan perlakuan yang setara Berdasarkan
kompetensi dan kinerja.
4) Untuk keperluan nasabah dan mitra usaha, memastikan bahwa Perusahaan
menjunjung tinggi komitmen yang telah disetujui bersama.
b. Hubungan yang Sehat dan Harmonis
Perusahaan wajib mengatur pola hubungan yang sehat dan harmonis diantara
seluruh Insan Perusahaan maupun dengan pihak-pihak yang berkepentingan
dengan Perusahaan.
c. Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan
1) Organ Perusahaan dan Karyawan harus mematuhi peraturan perundangundangan dan peraturan Perusahaan.
2) Dewan Komisaris harus memastikan bahwa Direksi dan Karyawan
melaksanakan peraturan perundang-undangan dan peraturan Perusahaan.
3) Perusahaan harus melakukan pencatatan atas harta, utang dan modal secara
benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
33
7. Benturan Kepentingan

InsanPerusahaan senantiasa menghindari benturan kepentingan yaitu dengan:


a. Menjalankan tugas dan kewajiban dengan mendahulukan kepentingan
ekonomi Perusahaan di atas kepentingan ekonomi pribadi atau keluarga,
maupun pihak lainnya.
b. Tidak menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan atau keuntungan
pribadi, keluarga dan pihak-pihak lain.
c. Dalam hal pembahasan dan pengambilan keputusan yang mengandung
unsur benturan kepentingan, pihak yang bersangkutan tidak diperkenankan ikut
serta.
d. Membuat pernyataan tidak memiliki benturan kepentingan atas setiap
keputusan yang telah dibuat olehnya dan telah melaksanakan pedoman perilaku
yang ditetapkan oleh Perusahaan setiap akhir tahun, bagi Insan Perusahaan
yang memiliki wewenang pengambilan keputusan diharuskan setiap tahun.
e. Tidak memiliki usaha yang berhubungan langsung dengan kegiatan
Perusahaan.
f. Tidak memanfaatkan informasi rahasia dan data bisnis Perusahaan untuk
kepentingan di luar Perusahaan.
g. Tidak memegang jabatan apapun pada Perusahaan/institusi lain yang ingin
dan/atau sedang melakukan hubungan bisnis dengan Perusahaan maupun yang
ingin dan/ atau sedang berkompetisi dengan Perusahaan.
h. Tidak melakukan pekerjaan atau profesi di luar Perusahaan pada jam kerja
dan selalu mengungkapkan serta melaporkan setiap kepentingan dan/atau
kegiatan-kegiatan di luar Perusahaan pada jam kerja kepada atasannya secara
berjenjang untuk mendapatkan ijin.
i.
Tidak melakukan transaksi yang mempunyai Benturan Kepentingan
dengan kegiatan Perusahaan.
j. Mencegah pengambilan keuntungan pribadi Direksi dan pejabat struktural
perusahaan yang disebabkan benturan kepentingan.
Pengaturan lebih lanjut terkait benturan kepentingan diatur dalam kebijakan
tersendiri yang merupakan dokumen tidak terpisahkan dari Pedoman GCG ini.
8. Keterbukaan dan Kerahasiaan Informasi
a. Kecuali disyaratkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan,
Anggaran Dasar dan/atau peraturan Perusahaan, Auditor Eksternal, Auditor
Internal, dan Komite Audit, serta Komite lainnya harus merahasiakan informasi
yang diperoleh sewaktu melaksanakan tugasnya.
b. Anggota Dewan Komisaris dan Direksi, Pemegang Saham serta Karyawan
Perusahaan harus menjaga kerahasiaan informasi Perusahaan sesuai dengan

peraturan perundang-undangan, peraturan Perusahaan dan kelaziman dalam


dunia usaha.
c. Informasi yang bersifat rahasia tidak diungkapkan, kecuali diharuskan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Informasi yang bersifat
rahasia tersebut diantaranya adalah:
34
1) Informasi yang menyangkut kerahasiaan Pemegang Polis. 2)
Informasi
yang dapat mempengaruhi daya saing Perusahaan. 3) Informasi yang dapat
mempengaruhi citra Perusahaan.
d. Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi, Pemegang Saham serta
karyawan Perusahaan dilarang menyalahgunakan informasi yang berkaitan
dengan Perusahaan, termasuk tetapi tidak terbatas pada informasi rencana
pengambil-alihan, penggabungan usaha dan pembelian kembali saham. e.
Setiap mantan Anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan
Perusahaan, dilarang mengungkapkan informasi yang menjadi rahasia
Perusahaan yang diperolehnya sewaktu yang bersangkutan menjabat atau
menjadi Pemegang Saham di Perusahaan, kecuali informasi tersebut diperlukan
untuk pemeriksaan dan penyidikan sesuai dengan peraturan perundangundangan, atau tidak lagi menjadi rahasia milik Perusahaan. f. Informasi yang
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau ketentuan
Perusahaan merupakan informasi rahasia yang berkenaan dengan Perusahaan,
harus dirahasiakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan/atau ketentuan Perusahaan.
9.

Informasi Orang Dalam

a. Orang Dalam adalah Pemegang Saham, anggota Dewan Komisaris,


anggota Direksi, Karyawan dan mereka yang memiliki hubungan kerja
dengan Perusahaan baik sebagai Mitra, Penasihat Independen dan mereka
yang menandatangani perjanjian kerahasiaan dengan Perusahaan.
b. Perusahaan berupaya agar Orang Dalam tidak menyalahgunakan informasi
penting berkaitan dengan Perusahaan khususnya informasi sehubungan dengan
rencana pengambilalihan, penggabungan usaha berdasarkan peraturan
Perusahaan, ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan Kebijakan Kode
Etik Perusahaan, serta mereka dapat dikenakan sanksi untuk pelanggaran yang
dilakukan.
10. Pengadaan Barang dan Jasa
Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usahanya senantiasa menjaga
terciptanya persaingan yang sehat sesuai dengan peraturan dan perundangundangan yang berlaku dengan menjunjung prinsip-prinsip efektif dan efisien,
terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif

serta akuntabel. Pengembangan sistem pengadaan seperti tersebut di atas


didukung dengan sumber daya teknologi, informasi, organisasi serta sumber
daya manusia yang memadai.
Sistem pengadaan barang dan jasa yang dikembangkan Perusahaan
dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.
Diimplementasikan secara konsisten. b. Dikaji secara berkala mengenai
kecukupan sistem pengadaan yang ada agar terpenuhi prinsip-prinsip efektif
dan efisien, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif serta
akuntabel. c. Senantiasa menghindari transaksi benturan kepentingan dan
transaksi afiliasi oleh segenap Insan Perusahaan dalam sistem pengadaan
barang dan jasa.
35
11. Pengelolaan Teknologi Informasi
a. Perusahaan melakukan pengembangan teknologi informasi untuk
memudahkan pengambilan keputusan Perusahaan dalam menghadapi
perubahan situasi ekonomi global maupun perubahan teknologi, produk dan jasa
inovatif.
b. Perusahaan melakukan penerapan dan penggunaan teknologi informasi yang
terintegrasi untuk mendukung proses bisnis berdasarkan tata kelola teknologi
informasi.
c. Penggunaan teknologi informasi memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Strategi teknologi informasi
diselaraskan dengan strategi Perusahaan
dengan mempertimbangkan efisiensi biaya; 2) Terintegrasi dengan semua
fungsi manajemen Perusahaan; 3) Pengaturan tanggung jawab yang jelas atas
penggunaan teknologi informasi; 4) Dilakukan audit secara berkala.
d. Perusahaan senantiasa melakukan penyesuaian pengembangan teknologi
informasi dengan kebutuhan Perusahaan di masa yang akan datang
sebagaimana terdapat dalam Master Plan Teknologi Informasi.
e. Perusahaan senantiasa melakukan pengamanan aset-aset teknologi
informasi, penyesuaian investasi teknologi informasi dengan kebutuhan
Perusahaan dan pemberian layanan sesuai service level agreement untuk
menghindari terhentinya operasi Perusahaan, kecuali pada keadaan kahar.
f. Perusahaan senantiasa melakukan evaluasi teknologi informasi yang
tersedia untuk menjamin keberlangsungan proses bisnis dan efisiensi biaya
investasi teknologi informasi yang sudah dikeluarkan.
12. Hukum
Proses hukum Perusahaan dilakukan untuk menjamin legalitas, kepatuhan bisnis
Perusahaan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku dan untuk
menjamin kelangsungan usaha Perusahaan. Acuan hukum yang digunakan oleh
Perusahaan adalah peraturan perundang- undangan yang dikeluarkan oleh

Pemerintah maupun regulator lainnya baik yang berlaku di wilayah hukum


Republik Indonesia maupun Internasional.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses hukum di Perusahaan adalah
sebagai berikut: a. Dokumentasi secara aman dan pelaporan secara transparan
dengan tetap menjaga aspek kerahasiaan sehingga keputusan yang diambil
dapat dijustifikasi.
b. Pertanggungjawaban secara jelas bagi seluruh Karyawan yang memiliki
tugas terkait dengan proses hukum Perusahaan sesuai dengan garis
kewenangannya.
c. Seluruh Karyawan yang terlibat dalam proses hukum Perusahaan harus bebas
dari segala benturan kepentingan dan tetap mengutamakan kepentingan
Perusahaan.
d. Pemberian layanan yang dapat memenuhi kebutuhan Pemegang Saham,
Dewan Komisaris, Direksi, serta pemangku kepentingan Perusahaan secara adil.
e. Proses hukum yang dilakukan oleh Perusahaan sejalan dengan pelaksanaan
strategi Perusahaan yang harus menjamin bahwa seluruh risiko hukum
(legal risk) ada dalam kendali Direksi.
36
f. Memberikan pendampingan terhadap pegawai/pejabat yang diperiksa
terkait dengan Pelanggaran Disiplin Pegawai (PDP).
g. Pengaturan secara jelas adanya nasehat hukum kepada Dewan Komisaris,
Direksi dan Karyawan dalam rangka kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan serta memberikan rekomendasi atas tindakan-tindakan hukum yang
diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugasnya masing-masing.
h. Perhitungan yang jelas seluruh implikasi hukum dari adanya
kontrak/perjanjian dengan pihak lain dalam koridor pengelolaan risiko hukum
(legal risk tolerance) dan sepengetahuan Dewan Komisaris dan Direksi atas
implikasi hukum sesuai kewenangan masing-masing yang diatur dalam Anggaran
Dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
i. Apabila ada panggilan pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya, baik
sebagai saksi atau untuk memberikan keterangan-keterangan dalam suatu
perkara yang berkaitan dengan Perusahaan, telah terkoordinasi dengan baik.
j. Penggunaan konsultan hukum/pengacara/notaris untuk mengurus proses
hukum Perusahaan maupun unit bisnis telah dikoordinasikan dan
mempertimbangkan aspek biaya dan manfaat (cost and benefit) bagi
Perusahaan.
13. Kebijakan Mengenal Nasabah

Sebagai Lembaga Keuangan Non Bank, Perusahaan menerapkan kebijakan


mengenal nasabah, yaitu :
a. Penetapan kebijakan dan prosedur :
1) Penerimaan, identifikasi dan pemantauan terhadap rekening dan transaksi
nasabah. 2) Manajemen risiko yang bertujuan untuk dapat mengenali profil
nasabah yang memungkinkan untuk melakukan identifikasi transaksi yang
mencurigakan dan membuat laporannya.
b. Penegasan bahwa Dewan Komisaris dan Direksi melakukan pengawasan dan
bertanggungjawab atas penerapan Prinsip Mengenal Nasabah.
c.

Memiliki unit khusus yang bertanggungjawab atas pelaksaannya.

d. Tersedianya sistem informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisa,


memantau dan menyediakan laporan secara efektif dan terbarui mengenai
karakteristik transaksi.
e. Pelaksanaan program pelatihan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah bagi
Karyawan.
14. Transaksi dengan Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa
Pihak yang memiliki hubungan istimewa adalah perusahaan-perusahaan
yang sahamnya sebagian dimiliki oleh PT Jamkrida Riau dan/ atau
perusahaan yang pengurusnya merupakan pegawai/pejabat/manajemen PT
Jamkrida Riau atau anak perusahaannya. Perusahaan akan selalu
mengungkapkan transaksi dengan pihak-pihak terafiliasi secara transparan dan
wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa dilaksanakan dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Tidak merugikan Pemegang Saham maupun pihak-pihak yang
berkepentingan lainnya.
37
b. Transaksi dilaksanakan oleh para pihak dengan posisi daya tawar yang
relatif sama, sehingga kesepakatan yang dicapai tidak berat sebelah dan bebas
dari paksaan.
c. Transaksi diungkapkan dalam laporan keuangan mengenai hakekat
hubungan istimewa, jenis dan unsur transaksi yang dilakukan sesuai dengan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.
15. Pemasaran
Dalam memasarkan produk usaha, baik secara langsung maupun melalui media
cetak dan elektronik, Perusahaan senantiiasa mengungkapkan informasi yang

benar dan relevan, tidak ada yang bertentangan dengan persyaratan yang
dicantumkan dalam polis dan tidak menyesatkan.
16. Kesehatan Keuangan
Kesehatan keuangan Perusahaan diukur berdasarkan :
Memenuhi tingkat likuiditas sekurang-kurangnya 15% dihitung dengan
menggunakan current ratio yaitu perbandingan antara aset lancar dengan utang
lancar sesuai dengan POJK Nomor 6/POJK.05/2015 tentang Penyelenggaraan
Usaha Lembaga Penjaminan.
17. Penjaminan dan Klaim a.

Penjaminan

Penjaminan dilaksanakan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :


1) Perusahaan menetapkan kebijakan Penjaminan sebagai panduan dalam
membuat keputusan dalam meminimalisasi risiko
2) Proses penjaminan memanfaatkan berbagai sumber informasi, antara lain:
Pernyatan pemohon yang dicantumkan dalam formulir aplikasi; Informasi
dari Bank to Bank Information dan Agen/broker/broker re; Pengalaman
kerugian sebelumnya; laporan hasil desk research dan/atau field research.
3) Pengembangan capacity building (SDM, Sistem dan Organisasi) dalam
optimalisasi penjaminan.
b.
Klaim Dalam melakukan pelayanan dan penyelesaian klaim Perusahaan
memenuhi prinsip- prinsip sebagai berikut:
1) Menetapkan kebijakan pelayanan dan penyelesaian klaim dan
menginformasikan kepada Terjamin /Penerima Jaminan tentang tata cara
pengajuan klaim; 2) Melakukan pre claim treatment dan/atau strategi problem
solving 3) Proses pelayanan dan penyelesaian klaim dilakukan secara cepat,
tepat dan akurat sesuai ketentuan yang berlaku; 4) Melakukan pembayaran
klaim secara wajar, tepat dan cepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5)
Melakukan langkah-langkah penarikan/recoveries.
38
18. Investasi
Pengelolaan investasi perusahaan dilakukan dengan tujuan : a.
Menjaga
Likuditas : Menjaga kesesuaian antara durasi kekayaan dan durasi kewajiban
perusahaan.
b.
Optimalisasi dana : Mengoptimalkan dana idle pada kas dan bank untuk
ditempatkan pada portofolio investasi guna memperoleh hasil (return) yang
optimal.
c.
Mendukung Bisnis : Mensinergikan investasi dengan kegiatan pemasaran
dalam rangka reciprocal business dengan mitra-mitra bisnis perusahaan.

Tata kelola investasi perusahaan dilakukan dengan memperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut : a. Dilakukan secara Prudent : - Analisa terhadap risiko
investasi yang antara lain meliputi risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, dan
rencana penanggulangannya dalam hal terjadi peningkatan risiko investasi Kajian yang memadai dan terdokumentasi dalam menempatkan,
mempertahankan, dan melepaskan investasi. b. Memperhatikan ketentuan
dan batasan-batasan portofolio sebagaimana yang telah ditetapkan oleh
regulator (compliance). c. Berdasarkan Kebijakan, rencana kegiatan dan
strategi investasi yang telah ditetapkan perusahaan.
19. Permodalan
Permodalan sangat penting dalam rangka mendorong kelangsungan
dan perkembangan Perusahaan. Prinsip-prinsip permodalan yang harus
dipenuhi Perusahaan meliputu antara lain:
a. Menjaga tingkat kecukupan modal dari waktu ke waktu sesuai peraturan
perundang- undangan yang berlaku;
b. Memperkuat permodalan untuk meningkatkan apasitas penjamin/retensi
sendiri.
39
BAB V
PENGELOLAAN HUBUNGAN DENGAN STAKEHOLDERS
A. Kebijakan Umum Pengelolaan Stakeholders diarahkan pada kepentingan
bisnis Perusahaan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial Perusahaan,
keselamatan dan kesehatan kerja, dan lingkungan serta memperhatikan skala
prioritas dan saling menghargai (mutual respect) sehingga tercapai
keseimbangan dan keharmonisan antara: 1. Dimensi bisnis yang berorientasi
pada penciptaan nilai (value creation) dan kepuasan pelanggan.
2. Dimensi sosial yang menyangkut aspek etika usaha dan tanggung jawab
sosial Perusahaan, kondisi kesehatan dan keselamatan serta kesejahteraan
pekerja dan aspek sosial kemasyarakatan.
3. Dimensi lingkungan yang mengarahkan Perusahaan untuk memperhatikan
aspek kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup di sekitar unit
operasi/lapangan usaha.
4. Pengelolaan Stakeholders didasarkan prinsip-prinsip GCG, yaitu transparansi,
akuntabilitas, responsibilitas, kemandirian, dan kewajaran.
B. Hak dan Partisipasi Stakeholders 1. Hak Stakeholders dapat timbul secara
hukum karena pemberlakuan peraturan perundang- undangan,
perjanjian/kontrak, atau karena nilai etika/moral dan tanggung jawab sosial
Perusahaan yang tidak bertentangan dengan kebijakan Perusahaan dan
peraturan perundang- undangan yang berlaku.

2. Hak-hak Stakeholders dihormati, dilindungi dan dipenuhi oleh Perusahaan,


antara lain melalui pemberian informasi yang relevan dan penting secara
transparan, akurat dan tepat waktu dan melalui mekanisme komunikasi yang
sehat dan beretika.
3. Perusahaan menciptakan kondisi yang memungkinkan Stakeholders
berpartisipasi dalam mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Perusahaan mempunyai mekanisme untuk menampung dan
menindaklanjuti saran dan keluhan dari Stakeholders.
C. Penghubung Perusahaan dengan Stakeholders Penghubung antara
Perusahaan dengan Stakeholders adalah Sekretaris Perusahaan atau Pejabat lain
yang ditunjuk berdasarkan ketentuan yang berlaku.
40
BAB VI IMPLEMENTASI PEDOMAN
A. Sosialisasi, Implementasi dan Evaluasi Penerapan GCG dilakukan secara
bertahap dan berkesinambungan dengan tahapan sosialisasi, implementasi dan
evaluasi Pedoman GCG. Implementasi GCG ini menjadi tanggung jawab salah
seorang anggota Direksi yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Direksi.
Kegiatan sosialisasi dilakukan terhadap pihak internal maupun eksternal
Perusahaan. Sosialisasi terhadap pihak internal dititikberatkan pada adanya
pemahaman GCG dan timbulnya kesadaran dan kebutuhan untuk menerapkan
GCG secara konsisten. Sosialisasi kepada pihak eksternal ditujukan untuk
memberikan pemahaman tentang cara kerja yang dilaksanakan Perusahaan
telah sesuai prinsip- prinsip GCG.
Implementasi Pedoman CGC didukung adanya laporan dari masing-masing unit
kerja secara berkala mengenai implementasi pedoman dan dikaitkan dengan
sistem reward dan punishment yang dikembangkan oleh Perusahaan bagi unit
kerja maupun individu Karyawan. Perusahaan mewajibkan InsanPerusahaan
agar patuh terhadap Pedoman GCG.
Pelaksanaan penilaian penerapan GCG (Assessment GCG) pada prinsipnya
dilakukan oleh penilai (assessor) independen yang ditunjuk oleh perusahaan
melalui proses sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa
Perusahaan.
B. Pelaporan Pelanggaran Perusahaan memberikan kesempatan kepada
segenap Insan Perusahaan untuk dapat menyampaikan laporan mengenai
dugaan pelanggaran terhadap Pedoman GCG kepada Perusahaan secara pribadi,
melalui surat, kotak pengaduan atau media lainnya yang disediakan oleh
Perusahaan untuk kepentingan pelaporan pelanggaran. Penyediaan media
tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan dugaan pelanggaran yang
dilakukan oleh Insan Perusahaan terhadap Pedoman GCG dan bukan untuk
menyampaikan keluhan pribadi pelapor.

Setiap pelaporan yang memiliki akurasi data dan bukti-bukti yang memadai
ditindaklanjuti oleh Perusahaan (SDM dan SPI). Identitas pelapor harus
disebutkan secara jelas. Perusahaan dapat memberikan penghargaan (reward)
bagi pelapor, apabila pelanggaran yang dilaporkan benar-benar terjadi.
Perusahaan akan menjaga kerahasiaan identitas pelapor, kecuali jika: 1.
Diperlukan dalam kaitan dengan laporan atau penyidikan yang dilakukan
oleh aparat yang berwenang. 2. Sejalan dengan kepentingan perubahan dan
sejalan dengan tujuan Pedoman GCG ini. 3. Diperlukan oleh Perusahaan untuk
mempertahankan posisi Perusahaan di depan hukum.
Pengaturan mengenai sistem pelaporan pelanggaran diatur lebih lanjut
dalam Kebijakan tersendiri (Whistleblowing System).

BAB VIII PENUTUP


A. Masa Berlaku Dengan diberlakukannya Pedoman ini sejak tanggal ditetapkan
maka seluruh Insan Perusahaan sejak tanggal tersebut wajib mematuhi dan
menggunakan Pedoman GCG ini.
B. Evaluasi dan Penyempurnaan 1. Perusahaan perlu melakukan self
assessment untuk dapat mengevaluasi kinerja dan memperoleh keyakinan yang
memadai bahwa seluruh Insan Perusahaan telah menjalankan tugas dan
tangungjawabnya sesuai dengan Pedoman GCG dan tujuan Perusahaan.
2. Perusahaan wajib melakukan evaluasi dan penyempurnaan Pedoman GCG
dilakukan secara berkala sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
Perusahaan.