Anda di halaman 1dari 18

Tehnik Psikoterapi islam

Posted by: psikologiuhuy on: Mei 30, 2010

In: psikologi islam

1.
2.
3.

1.

Tinggalkan sebuah Komentar

A. PENGERTIAN PSIKOTERAPI
Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan
dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik
yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara
memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu
mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.
Menurut Carl Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan
suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini juga digunakan untuk orang sehat atau
pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita
semua. Menurut pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk
fungsikuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan),
dankonstruktif (pemeliharan dan pengembangan jiwa yang sehat).
Psikoterapi sangat berguna untuk:
Membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber
psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, memberi perspektif masa depan yang lebih cerah.
Membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi, dan
Membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan
pengobatannya.
B. BENTUK-BENTUK DAN TEKNIK PSIKOTERAPI
Muhammad Abd al-Aziz al-Khalidi membagi obat (syifa) ke dalam dua bagian: Pertama,
obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembukan penyakit fisik, seperti berobat dengan madu, air
buah-buahan yang disebutkan dalam al-Quran. Sunnahnya digunakan untuk menyembuhkan
kelainan jasmani. Kedua, obat manawi, obat yang sunnahnya menyembuhkan penyakit ruh dan
kalbu manusia, seperti doa-doa dan isi kandungan dalam al-Quran.
Kepribadian merupakan produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani). Aspek ruhani menjadi esensi
kepribadian manusia, sedang aspek jasmani menjadi alat aktualisasi. Oleh karena itu maka
kelainan kepribadian disembuhkan dengan pengobatan manawi. Demikian juga kelainan jasmani
sering kali disebabkan oleh kelainan ruhani maka cara pengobatannya pun harus dengan sunnah
pengobatan manawi.
Al-Razi, dokter sekaligus filosof muslim mengatakan bahwa, tugas seorang dokter disamping
mengetahui kesehatan jasmani dituntut juga mengetahui kesehatan jiwa. Hal itu menurutnya
dilakukan untuk menjaga keseimbangan jiwa dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, agar tidak
terjadi keadaan yang minus atau berlebihan. Hal ini menunjukkan urgensinya suatu pengetahuan
tentang psikis. Pengetahuan psikis tidak sekedar berfungsi untuk memahami kepribadian
manusia, tetapi juga untuk pengobatan penyakit jasmaniah dan ruhaniah. Banyak diantara
kelainan jasmani diakibatkan oleh kelainan jiwa manusia. Penyakit jiwa seperti stress, dengki, iri
hati, dan lainnya sering kali menjadi penyebab utama penyakit jasmani.
Muhammad Mahmud, seorang psikolog muslim ternama, membagi psikoterapi Islam dalam dua
kategori; Pertama, bersifat duniawi, berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis
setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata. Kedua, bersifat ukhrawi, berupa
bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan agama.
Sampai saat ini, sebagaimana dikemukakan Atkinson, terdapat enam teknik psikoterapi yang
digunakan oleh para psikiater atau psikolog, antara lain:
Teknik Terapi Psikoanalisa

Bahwa di dalam tiap-tiap individu terdapat kekuatan yang saling berlawanan yang menyebabkan
konflik internal tidak terhindarkan. Konflik ini mempunyai pengaruh kuat pada perkembangan
kepribadian individu, sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan. Teknik ini menekankan
fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id.
Model ini banyak dikembangkan dalam Psiko-analisis Freud. Menurutnya, paling tidak terdapat
lima macam teknik penyembuhan penyakit mental, yaitu dengan mempelajari otobiografi,
hipnotis, chatarsis, asosiasi bebas, dan analisa mimpi. Teknik freud ini selanjutnya
disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik.
2. Teknik Terapi Perilaku
Teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu, antara
lain desensitisasi, sistematik, flooding, penguatan sistematis, pemodelan, pengulangan perilaku
yang pantas dan regulasi diri perilaku.
3. Teknik Terapi Kognitif Perilaku
Teknik modifikasi perilaku individu dan mengubah keyakinan maladatif. Terapis membantu
individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang
lebih realistik.
4. Tenik Terapi Humanistik
Teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri
sesunguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi terapis yang minimal (clientcentered-therapy). Gangguan psikologis diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan
aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau orang lain.
5. Teknik Terapi Eklektik atau Integratif
Yaitu memilih teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu. Terapis mengkhususkan diri
dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi.
6. Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga
Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap
dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi
keluarga adalah bentuk terapi khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan
arang tua-anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain
dan untuk menangani berbagai masalahnya.
Berbagai teknik terapi di atas, tidak satupun menyebutkan teknik terapiukhrawi. Freud bahkan
dalam The Future of an Ilusion mengaggap bahwa orang yang memeluk suatu agama berarti ia
telah menderita delusi, ilusi dan obsessional neurosis yang berasal dari ketidakmampuan
manusia dalam menghadapi kekuatan alam di luar dirinya dan juga kekuatan insting dari dalam
dirinya sendiri. Agama merupakan kumpulan neurosis yang disebabkan oleh kondisi serupa
dengan kondisi yang menimbulkan neurosis pada anak-anak.
Teori freud ini kemudian dibantah oleh Carl Jung putra mahkotanya sendiri. Jung terpaksa
mengadakan penelitian pada mitologi, agama, alkemi dan astrologi. Penelitiannya ini dapat
membantu archetipe-archetipe yang sulit diperoleh dari sumber-sumber kontemporer.
Selanjutnya Allport juga membantah teori Freud. Para psikolog kontemporer tidak menemukan
patologi-patologi yang terjadi pada pemeluk agama yang salih. Pemeluk agama yang salih justru
mampu mengintegrasikan jiwanya dan tidak pernah mengalami hambatan-hambatan hidup
secara serius. Dengan demikian, teori Freud yang hanya mengutamakan
psikoterapi duniawi tidak dapat dipertahankan lagi dan dipandang perlu untuk penambahan
psikoterapi lain yang dikaitkan dengan kehidupan agama, yakni psikoterapiukhrawi yang
berasaskan agama.

1.
2.
3.
4.
5.
1.

(yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Rabbku, Yang
Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan
aku (QS. As-Syuara : 78 80)
Psikoterapi dalam Islam dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat
duniawi maupun ukhrawi. Psikoterapi hati itu ada lima macam :
Membaca Al-Quran sambil mencoba memahami artinya;
Melakukan shalat malam;
Bergaul dengan orang yang baik atau salih;
puasa
zikir malam hari yang lama
1. membaca Al-quran
Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab didalamnya memuat resepresep mujarab yang dapat menyembuhkan penyalkit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya
sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan pasien.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada dua pendapat dalam memahami
term syifa dalam ayat tersebut. Pertama, terapi bagi jiwa yang dapat menghilangkan kebodohan
dan keraguan, membuka jiwa yang tertutup, serta dapat menyembuhkan jjwa yang sakit; kedua,
terapi yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, baik dalam bentuk azimat maupun tangkal.
Sementara Al-ThabathabaI mengemukakan bahwa syifa dalam Al-Quran memiliki makna
terapi ruhaniah yang dapat menyembuhkan penyakit batin. Al-ThabathabaI jiga
mengemukakan bahwa Al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik melalui
bacaan atau tulisan.
Menurut al-Faidh al-Kasyani dalam Tafsirnya mengemukakan bahwa lafal-lafal al-Quran dapat
menyembuhkan penyakit badan, sedangkan makna-maknanya dapat menyembuhkan penyakit
jiwa. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bacaan al-Quran mampu mengobati penyakit jiwa dan
badan manusia. Obat yang mujarab yang dapat mengobati kedua penyakit ini adalah hidayah alQuran.
Kemukjizatan lafal al-Quran bukan hanya perkalimat, tetapi perkata, bahkan perhuruf. Hal itu
dianalogikan dengan sabda Nabi bahwa pahala membaca al-Quran bukan perkalimat atau
perkata, tetapi per huruf. Apabila al-Quran dihadapkan pada orang yang sehat mentalnya, maka
ia bernilaikonstruktif. Artinya, ia dapat memperkuat dan mengembangkan integritas dan
penyesuaian kepribadian dirinya. Karena itu, berobat dengan menggunakan al-Quran, baik
secara lahiriah maupun batiniah, tidak hanya ketika dalam kondisi sakit, namun sangat
dianjurkan dalam kondisi sehat.
2. Shalat diwaktu malam
Shalat tahajjud memiliki banyak hikmah. Diantaranya adalah (1) setelah melakukan ibadah
tambahan (nafilah), baik dengan shalat maupun membaca al-Quran, maka dirinya mendapatkan
kedudukan terpuji dihadapan Allah SWT; (2) memiliki kepribadian sebagaimana kepribadian
orang-orang salih yang selalu dekat (taqqarub) kepada Allah SWT, terhapus dosanya dan
terhindar dari perbuatan munkar; (3) jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu
dan ketenteraman, bahkan Allah SWT menjajikan kenikmatan surga baginya; (4) doanya
diterima, dosanya mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dan diberi rizki yang halal dan lapang
tanpa susah payah mencarinya; (5) sebagai ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah
diberikan oleh Allah SWT sebagai rasa syukur, nabi SAW sendiri selalu melakukan tahajjud
walaupun tumit kakinya bengkak.
Setelah shalat sunat di malam hari, amalan yang perlu dilakukan adalah berdoa, berdzikir dan
membaca wirid, sebab berdoa di malam hari mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Sabda Nabi SAW
: Sesuatu yang lebih mendekatkan Tuhan kepada hamba-Nya di tengah malam adalah apabila
engkau mampu melakukan zikir kepada Allah maka lakukanlah.

Shalat juga merupakan terapi psikis yang bersifat kuratif, preventif, dan konstruktif
sekaligus. Pertama, shalat membina seseorang untuk melatih konsentrasi yang integral
dan komprehensif.hal itu tergambar dalam niat dan khusyu. Kedua, shalat dapat menjaga
kesehatan potensi-potensi psikis manusia, seperti potensi kalbu untuk merasa (emosi), potensi
akal untuk berpikir (kognisi), dan potensi syahwat (appetite) dan ghadab (defense) untuk
berkarsa (konasi). Denga shalat, seseorang dapat menjaga dua dari lima prinsip kehidupan. Lima
prinsip kehidupan itu adalah memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara
keturunan, dan memelihara kehormatan dan harta benda. Dengan shalat ia mampu menjaga
agamanya, sebab shalat merupakan tiang agama. Demikian juga ia dapat menjaga akalnya agar
terhindar dari segala zat yang membahayakan. Ketiga, shalat mengandung doa yang dapat
membebaskan manusia dan penyakit batin.
Dosa adalah penyakit (psikopatologi), sedang obat (psikoterapi)-nya adalah taubat. Shalat
adalah manifestasi dari taubat seseorang, karena dalam shalat seseorang kembali (taba)
pada Pencipta-nya.salah satu indikator taubat adalah mengakui kesalahan dan dosa-dosa yang
diperbuat. Dengan pengakuan akan dosa dan permohonan untuk penghapusan dosa dalam
doa iftitah, menghantarkan seseorang untuk kembali pada fitrah aslinya yang terbebas dari
segala penyakit batin. Bahkan dalam hadis lain, shalat lima waktu dapat membersihkan fisik dan
psikis seseorang seperti orang yang membersihkan tubuhnya lima kali dalam sehari semalam.
3. Bergaul dengan orang shalih.
Orang yang salih adalah orang yang mampu mengintegrasikan dirinya dan mampu
mengaktualisasikan potensinya semaksimal mungkin dalam berbagai dimensi kehidupan. Dalam
tradisi kaum sufi, seseorang yang shalih dan dapat menyembuhkan penyakit ruhani manusia
disebut denganal-thabib al-ilahi atau mursyid. Menurut al-Syarqawi, adalah al-thabib al-murabbi
(dokter pendidik). Dokter seperti ini lazimnya memberikan resep penyembuhan kepada
pasiennya melalui dua cara, yaitu:
1. negative (al-salabi), dengan cara membersihkan diri dari segala sifat-sifat dan akhlak yang
tercela.
2. positif (al-ijabi), dengan mengisi diri dari sifat-sifat atau akhlak yang terpuji.
Menurut Said Hawwa, menyatakan bahwa zikir, wirid, dan amalan-amalan tertentu belum cukup
untuk mengobati penyakit jiwa, melainkan diperlukan ilmu yang disertai dengan mujahadah.
Baik mursyid maupun al-thabib al-ilahi, keduanya memiliki-pinjam istilah Abraham Maslowpengalaman puncak(peak experience), sebab selain mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban
pokok juga melakukan perluasan diri (extension of the self) dengan ibadah-ibadah khusus.
4. Melakukan puasa.
Puasa disini adalah menahan diri dari segala perbuatan yang dapat merusak citra fitri manusia.
Pembagian puasa ada 2:
1. Puasa fisik, yaitu menahan lapar,haus, dan berhubungan seks.(bukan miliknya atau bukan
pada tempatnya)
2. Puasa psikis, yaitu menahan hawa nafsu dari segala perbuatan maksiat.
Puasa juga mampu menumbuhkan efekemosional yang positif, seperti menyadari akan kemaha
kuasaan Allah SWT, menumbuhkan solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain, serta
menghidupkan nilai-nilai positif dalam dirinya untuk aktualisasi diri sebaik mungkin. Hikmah
lapar menurut Al-Ghazali:
Menjernihkan Qalbu dan mempertajam pandangan
Melembutkan Qalbu sehingga mampu merasakan kenikmatan batin
Menjauhkan prilaku yang hina dan sombong
Mengingatkan jiwa manusia akan cobaan dan azab Allah
Memperlemah syahwat dan tertahannya nafsu amarah yang buruk

Mengurangi jam tidur dan memperkuat kondisi terjaga dimalam hari untuk ibadah
Mempermudah seseorang untuk selalu tekun beribadah
Menyehatkan badan dan jiwa serta menolak penyakit
Menumbuhkan sikap mendahulukan suka membantu orang lain dan mudah bersedekah.
5. Zikir
Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-asma Allah dalam berbagai kesempatan.
Sedangkan dalam arti luas mengingat segala keagungan dan kasih saying Allah SWT yang telah
diberikan,serta dengan menaati perintahnya dan menjauhi larangannya.
Dua makna yang terkandung dalam lafal zikir menurut At-Thabathabai:
1. Kegiatan psikologis yang memungkinkan seseorang memelihara makna sesuatu yang diyakini
berdasarkan pengetahuannya atau ia berusaha hadir padanya (istikdhar)
2. Hadirnya sesuatu pada hati dan ucapan seseorang.
Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong
seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir
juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit
hanyalah Allah SWT semata, sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.
Melakukan zikir sama halnya nilainya dengan terapi rileksasi, yaitu satu bentuk terapi dengan
menekankan upaya mengantarkan pasien bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantaisantai melalui pengurangan ketegangan atau tekanan psikologis. Kunci utama keadaan jiwa
mereka itu adalah karena melakukan zikir.firman Allah SWT:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Al-Rad:28)
Cara berzikir:
1. Zikir Jabar, zikir yang dikeraskan baik melalui suara maupun gerakan. Fungsinya adalah
untuk menormalisasikan kembali fungsi system jaringan syaraf,sel-sel, dan semua organ tubuh.
2. Zikir Sirr, zikir yang diucapkan dalam hati.
Kesimpulan kelima terapi diatas adalah terapi dengan doa dan munajat. Doa adalah permohonan
kepada Allah SWT agar segala gangguan dan penyakit jiwa yang dideritanya hilang. Allah yang
memberikan penyakit dan Dia pula yang memberikan kesembuhan. Doa dan munajah banyak
didapat dalam setiap ibadah, baik dalam shalat, puasa, haji, maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Agar doa dapat diterima maka diperlukan syarat-syarat khusus, diantaranya dengan membaca
istigfar terlebih dahulu. Istigfar tidak hanya berarti memohon ampunan kepada Allah, tetapi lebih
esensial lagi yaitu memiliki makna taubat.
Yang unik dalam psikoterapi islam adalah keberadaannya sangat subyektif dan teosentris. Dalam
melakukan terapi, masing-masing individu memiliki tingkat kualitas yang berbeda seiring
pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan yang dimiliki. Tentunya hal itu mempengaruhi
tingkat kemujaraban terapi yang diberikan. Perbedaan itu dapat dipahami sebab dalam islam
mempercayai adanya anugrah dan kekuatan agung diluar kekuatan manusia, yaitu Tuhan

Iswan Saputro

Minggu, 30 Desember 2012

PSIKOTERAPI ISLAM
A. PENGERTIAN PSIKOTERAPI ISLAM

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih


tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.
Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu
dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi perilaku,
pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya
dalam mengatasi masalah psikisnya (Mujib, 2002).

Menurut Adz-Dzakey (2008), mengemukakan bahwa pengertian psikoterapi


islam adalah proses pengobatan dan penyembuhan dengan melalui bimbingan alQuran dan As-Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. atau secara empirik adalah melalui
bimbingan dan pengajaran Allah, Malikat-Malaikat-Nya, Rasul-Nya. H. Fuad Anshori
juga mengemukakan psikoterapi islam adalah upaya penyembuhan jiwa (nafs)
manusia secara rohaniyyah yang didasarkan pada tuntutan al-Quran dan al-Hadis,
dengan metode anlisi esensial empiris serta marifat terhadap segala yang tampak
pada manusia.

B.

OBJEK PSIKOTERAPI ISLAM

Objek yang menjadi fokus penyembuhan, parawatan atau pengobatan dari


psikoterapi islam adalah manusia secara utuh, yakni yang berkaitan dengan
penggunaan pada :

1. Mental
Mental yaitu hubungan dengan pikiran, akal, dan ingatan. Misalnya mudah
lupa, malas berfikir, tidak mampu berkonsentrasi, tidak mampu mengambil sutau
keputusan yang baik, picik, dan tidak memiliki kemampuan membedakan halal dan

haram, yang bermanfaat dan yang mudharat serta yang baik dan yang batil. Mental
yang sehat ditandai sifat-sifat, diantaranya; mempunyai kemampuan untuk
bertindak secara efesien, memiliki tujuan hidup yang jelas, konsep diri yang sehat,
ada koordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, memiliki regulasi
diri dan integrasi kepribadian, dan batinnya selalu tenang. Mental yang tidak sehat
akan merasakan ketidaktenangan dan kebahagiaan. Akan tetapi mental yang sehat,
sebaliknya akan merasakan kebahagiaan.

2. Spiritual
Spiritual yaitu yang berhubungan dengan masalah ini. Semangat atau jiwa
religius, yang berhubungan dengan agama, keimanan, kesolehan, dan menyangkut
nilai-nilai transendental. Seperti syirik, nifak, fasik, dan kufur. Penyakit batiniah atau
spiritual ini sangat sulit untuk disembuhkan atau diobati. Karena ia sangat
tersembunyi didalam diri setiap orang.

3. Moral (Akhlak)
Akhlak yaitu suatu keadaan yang melekat pada manusia, yang dari padanya
lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran,
perimbangan atau pemikiran atau sikap mental atau watak yang terjabarkan dalam
bentuk berfikir, berbicara, bertingkah laku, dan sebagainya sebagai ekspresi
jiwa. Moralmerupakan ekspresi dari kondisi mental atau spiritual. Ia muncul dan
hadir secara spontan, otomatis, dan tidak dibuat-buat, atau direkayasa. Perbuatan
atau tingkah laku itu kadangkadang sering tidak disadari, bahwa perbuatan dan
tingkah lakunya menyimpang dari norma-norma agama dan akhirnya dapat
membahayakan dirinya dan orang lain. Seperti pemarah, dengki, dendam, suka
mengambil hak milik orang lain, pemalas, berprasangka buruk, mudah putus asa
dan sebagainya.

4. Fisik
Tidak semua gangguan fisik dapat disembuhkan dengan psikoterapi islam.
Kecuali memang kalau ada izin dari Allah. Akan tetapi ada kalanya sering dilakukan
secara kombinasi dengan terapi medis seperti lumpuh, penyakit jantung, liver, buta,
dan sebagainya. Terapi fisik yang paling berat dilakukan oleh psikoterapi islam,
apabila penyakit itu disebabkan karena dosa-dosa yang telah dilakukan oleh

seseorang seperti wajah dan kulit tampak hitam, luka bahkan lebih kotor lagi seperti
penyakit kulit (korengan, kudis atau bintikbintik hitam), padahal mereka telah
melakukan berbagai macam upaya agar dapat sembuh dari penyakit-penyakit itu.
tetapi tidak kunjung sembuh.
Dalam psikoterapi Islam, penyembuhan yang paling utama dan sangat
mendasar adalah pada eksistensi dan esensi mentalnya dan spiritual manusia.
Manusia yang telah memiliki eksistensi emosional yang stabil adalah seseorang
yang telah memiliki mental dan spiritual yang baik, benar, cerdas, dan suci, karena
dalam perlindungan dan bimbingan Allah.

C. METODOLOGI PSIKOTERAPI ISLAM

Dalam hal ini metode yang dimaksud adalah cara yang sistematis untuk
mengetahui, mengenali serta memahami eksistensi dan gejala jiwa manusia yang
telah meraih pencerahan jiwa sebagai indikasi dari keberhasilannya dalam
beragama.

Menurut Adz-Dzakiey (2008), metode yang senantiasa penulis lakukan dalam


praktik psikologi kenabian ada dua metode, yakni :

1.

Metode Ilahiah

Pertama, melalui kajian terhadap pesan pesan wahyu ketuhanan dan sabda
kenabian.
Kedua, melalui analisa mimpi yang benar dan bermakna.
Ketiga, melalui intuisi (ilham) yang benar yang bermuara dalam qalbu yang bersih
dan bening dari penyakit ruhani.
Keempat, melalui mukaasyafah (ketersingkapan
inderawi
batin)
dan musyaahadah (penyaksian batin secara langsung sebagai pelaku di dalam ruh
dan jiwa)

2.

Metode Ilmiah

Pertama, Observasi (pengamatan). Alat utama si penyelidik adalah panca indera,


sedangkan kesengajaan dan sistematis merupakan sifat sifat tindakan yang
secara eksplisit dicantumkan di sini. Dalam praktiknya observasi ini ada tiga
macam, observasi non partisipan (si peneliti tidak ikut serta dalam kegiatan
observasi), observasi partisipan (si peneliti ikut serta dalam kegiatan observasi),
dan observasi dalam situasi eksperimen (dengan sengaja menimbulkan gejala
tertentu dalam untuk diobservasi).
Kedua, Pengumpulan bahan bahan. Yaitu bahan bahan yang dapat digunakan
sebagai bahan penelitian yang mempunyai nilai nilai psikologis, seperti alat alat
permainan, hasil karya (puisi, prosa, gambaran / lukisan, dan tulis tangan).
Ketiga, Biografis. Yaitu metode yang menggunakan bahan bahan yang berwujud
tulisan mengenai kehidupan objek yang diteliti. Seperti biografi (tulisan mengenai
kehidupan yang ditulis oleh orang lain), otobiografi (biografi yang ditulis sendiri oleh
objek, yang bersangkutan), buku harian, kenangan kenangan masa muda,
dan case history.
Keempat, Angket. Yaitu metode dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus
dijawab dan atau daftar isian yang harus diisi yang berdasarkan kepada sejumlah
objek, dan berdasarkan jawaban atau isian itu peneliti dapat mengambil suatu
kesimpulan tentang objek yang diteliti.
Kelima, Wawancara. Yaitu satu metode yang mendasarkan diri kepada laporan verbal
(verbal reports) di mana terdapat hubungan langsung antara si peneliti dan objek
yang diteliti. Dalam metode ini ada face to face relation antara peneliti dan yang
diteliti.

D. PARADIGMA PSIKOTERAPI ISLAM

Dalam ajaran Islam, masalah kenabian merupakan salah satu dari prinsip
prinsip keimanan dan akidah (keyakinan). Seorang muslim wajib mempercayai dan
meyakini bahwa Allah SWT. mempunyai utusan utusan yang bertugas
menyampaikan pesan pesan-Nya untuk seluruh umat manusia. Para nabi Allah,
khususnya Nabi Muhammad saw. merupakan model model manusia yang
sempurna, baik di hadapan Penciptanya maupun makhluk lainnya. Nabi

Muhammad saw. merupakan kutub para nabi dan aulia-Nya, serta model manusia
yang paling sempurna sebagai hamba maupun sebagai khalifah, dan model paling
sempurna ; baik secara lahiriah maupun batiniah ; baik secara fisikal, mental,
spiritual, maupun moral. Perkataan, perbuatan, sikap, dan tindakan Nabi
Muhammad saw. merupakan sumber hukum dan keteladanan. Oleh karena itu,
suatu kewajiban yang tidak boleh tidak harus diikuti dan diteladani oleh setiap
orang yang telah beriman untuk bersyahadat, mengembangkan eksistensi diri
secara totalitas, melakukan penemuan hakikat diri dan penyucian jiwa, serta
mengembangkan potensi qalbu, akal pikir, inderawi, serta membangun fisik yang
kokoh dalam kesucian dan akhlak terpuji.

E.

BENTUK BENTUK PSIKOTERAPI ISLAM

Psikoterapi dalam Islam dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi,


baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Psikoterapi Islam itu ada lima macam
(Mujib, 2002) :

1.

Membaca Al-Quran

Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab


didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyalkit
jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat
sugesti keimanan pasien.

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian. [QS. Al-Isra, 71:82]

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada dua pendapat dalam


memahami term syifadalam ayat tersebut. Pertama, terapi bagi jiwa yang dapat
menghilangkan kebodohan dan keraguan, membuka jiwa yang tertutup, serta dapat
menyembuhkan jjwa yang sakit; kedua, terapi yang dapat menyembuhkan penyakit
fisik, baik dalam bentuk azimat maupun tangkal. Sementara Al-ThabathabaI

mengemukakan bahwasyifa dalam Al-Quran memiliki makna terapi ruhaniah


yang dapat menyembuhkan penyakit batin. Al-ThabathabaI juga mengemukakan
bahwa Al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik melalui bacaan
atau tulisan.

Menurut al-Faidh al-Kasyani dalam Tafsirnya mengemukakan bahwa lafal-lafal


Al-Quran dapat menyembuhkan penyakit badan, sedangkan makna-maknanya
dapat menyembuhkan penyakit jiwa. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bacaan AlQuran mampu mengobati penyakit jiwa dan badan manusia. Obat yang mujarab
yang dapat mengobati kedua penyakit ini adalah hidayah Al-Quran.

Kemukjizatan lafal Al-Quran bukan hanya perkalimat, tetapi perkata, bahkan


perhuruf. Hal itu dianalogikan dengan sabda Nabi bahwa pahala membaca Al-Quran
bukan perkalimat atau perkata, tetapi per huruf. Apabila Al-Quran dihadapkan pada
orang yang sehat mentalnya, maka ia bernilai konstruktif. Artinya, ia dapat
memperkuat dan mengembangkan integritas dan penyesuaian kepribadian dirinya.
Karena itu, berobat dengan menggunakan Al-Quran, baik secara lahiriah maupun
batiniah, tidak hanya ketika dalam kondisi sakit, namun sangat dianjurkan dalam
kondisi sehat.

2.

Shalat diwaktu malam

Hikmah dari shalat tahajjud :

a.

Setelah melakukan ibadah tambahan (nafilah), baik dengan shalat maupun


membaca Al-Quran, maka dirinya mendapatkan kedudukan terpuji dihadapan Allah
SWT

b.

Memiliki kepribadian sebagaimana kepribadian orang-orang salih yang selalu dekat


(taqqarub) kepada Allah SWT, terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan
munkar

c.

Jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu dan ketenteraman,


bahkan Allah SWT menjajikan kenikmatan surga baginya

d.

Doanya diterima, dosanya mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dan diberi rizki
yang halal dan lapang tanpa susah payah mencarinya

e.

Sebagai ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah SWT
sebagai rasa syukur, nabi SAW sendiri selalu melakukan tahajjud walaupun tumit
kakinya bengkak.

Setelah shalat sunat di malam hari, amalan yang perlu dilakukan adalah
berdoa, berdzikir dan membaca wirid, sebab berdoa di malam hari mudah
dikabulkan oleh Allah SWT. Sabda Nabi SAW : Sesuatu yang lebih mendekatkan
Tuhan kepada hamba-Nya di tengah malam adalah apabila engkau mampu
melakukan zikir kepada Allah maka lakukanlah.

Shalat juga merupakan terapi psikis yang bersifat kuratif (menyembuhkan),


preventif (mencegah), dan konstruktif (membangun) sekaligus. Pertama, shalat
membina seseorang untuk melatih konsentrasi yang integral dan komprehensif.hal
itu tergambar dalam niat dan khusyu. Kedua, shalat dapat menjaga kesehatan
potensi-potensi psikis manusia, seperti potensi kalbu untuk merasa (emosi), potensi
akal untuk berpikir (kognisi), dan potensi syahwat (appetite) dan ghadab (defense)
untuk berkarsa (konasi). Dengan shalat, seseorang dapat menjaga dua dari lima
prinsip kehidupan. Lima prinsip kehidupan itu adalah memelihara agama,
memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan, dan memelihara
kehormatan dan harta benda. Dengan shalat ia mampu menjaga agamanya, sebab
shalat merupakan tiang agama. Demikian juga ia dapat menjaga akalnya agar
terhindar dari segala zat yang membahayakan. Ketiga, shalat mengandung doa
yang dapat membebaskan manusia dan penyakit batin.

Dosa adalah penyakit (psikopatologi), sedang obat (psikoterapi)-nya adalah


taubat. Shalat adalah manifestasi dari taubat seseorang, karena dalam shalat
seseorang kembali (taba) pada Pencipta-nya.salah satu indikator taubat adalah
mengakui kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuat. Dengan pengakuan akan dosa
dan permohonan untuk penghapusan dosa dalam doa iftitah, menghantarkan
seseorang untuk kembali pada fitrah aslinya yang terbebas dari segala penyakit
batin. Bahkan dalam hadis lain, shalat lima waktu dapat membersihkan fisik dan
psikis seseorang seperti orang yang membersihkan tubuhnya lima kali dalam sehari
semalam.

3.

Bergaul dengan orang salih

Orang yang salih adalah orang yang mampu mengintegrasikan dirinya dan
mampu mengaktualisasikan potensinya semaksimal mungkin dalam berbagai
dimensi kehidupan. Dalam tradisi kaum sufi, seseorang yang shalih dan dapat
menyembuhkan penyakit ruhani manusia disebut dengan al-thabib al-ilahi atau
mursyid. Menurut al-Syarqawi, adalah al-thabib al-murabbi (dokter pendidik), dokter
seperti ini lazimnya memberikan resep penyembuhan kepada pasiennya melalui
dua cara, yaitu:

a. Negatif (al-salabi), dengan cara membersihkan diri dari segala sifat-sifat dan akhlak
yang tercela.
b.

Positif (al-ijabi), dengan mengisi diri dari sifat-sifat atau akhlak yang terpuji.

Menurut Said Hawwa, menyatakan bahwa zikir, wirid, dan amalan-amalan


tertentu belum cukup untuk mengobati penyakit jiwa, melainkan diperlukan ilmu
yang disertai dengan mujahadah. Baik mursyid maupunal-thabib al-ilahi, keduanya
memiliki-pinjam istilah Abraham Maslow-pengalaman puncak (peak experience),
sebab selain mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok juga melakukan
perluasan diri (extension of the self) dengan ibadah-ibadah khusus.

4.

Puasa

Puasa disini adalah menahan diri dari segala perbuatan yang dapat merusak
citra fitri manusia. Puasa dibagi menjadi dua macam :

a.

b.

Puasa fisik, yaitu menahan lapar,haus, dan berhubungan seks.(bukan miliknya


atau bukan pada tempatnya)
Puasa psikis, yaitu menahan hawa nafsu dari segala perbuatan maksiat.

Puasa juga mampu menumbuhkan efek emosional yang positif, seperti


menyadari akan kemaha kuasaan Allah SWT, menumbuhkan solidaritas dan
kepedulian terhadap orang lain, serta menghidupkan nilai-nilai positif dalam dirinya
untuk aktualisasi diri sebaik mungkin. Hikmah lapar menurut Al-Ghazali:

a.

Menjernihkan qalbu dan mempertajam pandangan

b.

Melembutkan qalbu sehingga mampu merasakan kenikmatan batin

c.

Menjauhkan prilaku yang hina dan sombong

d.

Mengingatkan jiwa manusia akan cobaan dan azab Allah

e.

Memperlemah syahwat dan tertahannya nafsu amarah yang buruk

f.

Mengurangi jam tidur dan memperkuat kondisi terjaga dimalam hari untuk ibadah

g.

Mempermudah seseorang untuk selalu tekun beribadah

h.

Menyehatkan badan dan jiwa serta menolak penyakit

i.

5.

Menumbuhkan sikap mendahulukan suka membantu orang lain dan mudah


bersedekah.

Zikir

Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-asma Allah dalam
berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas mengingat segala keagungan dan
kasih saying Allah SWT yang telah diberikan,serta dengan menaati perintahnya dan
menjauhi larangannya.

Dua makna yang terkandung dalam lafal zikir menurut At-Thabathabai :

a.

b.

Kegiatan psikologis yang memungkinkan seseorang memelihara makna sesuatu


yang diyakini berdasarkan pengetahuannya atau ia berusaha hadir padanya
(istikdhar)
Hadirnya sesuatu pada hati dan ucapan seseorang.

Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas


zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang
tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa
yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT semata, sehingga
zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.

Melakukan zikir sama halnya nilainya dengan terapi rileksasi, yaitu satu
bentuk terapi dengan menekankan upaya mengantarkan pasien bagaimana cara ia
harus beristirahat dan bersantai-santai melalui pengurangan ketegangan atau
tekanan psikologis. Kunci utama keadaan jiwa mereka itu adalah karena melakukan
zikir. Seperti firman Allah SWT yang berbunyi :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram. (QS. Al-Rad:28)

Cara berzikir dibedakan menjadi :

a.

b.

Zikir Jabar, zikir yang dikeraskan baik melalui suara maupun gerakan. Fungsinya
adalah untuk menormalisasikan kembali fungsi system jaringan syaraf,sel-sel, dan
semua organ tubuh.
Zikir Sirr, zikir yang diucapkan dalam hati.

Kesimpulan kelima terapi diatas adalah terapi dengan doa dan munajat. Doa
adalah permohonan kepada Allah SWT agar segala gangguan dan penyakit jiwa
yang dideritanya hilang. Allah yang memberikan penyakit dan Dia pula yang

memberikan kesembuhan. Doa dan munajah banyak didapat dalam setiap ibadah,
baik dalam shalat, puasa, haji, maupun dalam aktivitas sehari-hari. Agar doa dapat
diterima maka diperlukan syarat-syarat khusus, diantaranya dengan membaca
istigfar terlebih dahulu. Istigfar tidak hanya berarti memohon ampunan kepada
Allah, tetapi lebih esensial lagi yaitu memiliki makna taubat.

Yang unik dalam psikoterapi islam adalah keberadaannya sangat subyektif dan
teosentris. Dalam melakukan terapi, masing-masing individu memiliki tingkat
kualitas yang berbeda seiring pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan yang
dimiliki. Tentunya hal itu mempengaruhi tingkat kemujaraban terapi yang diberikan.
Perbedaan itu dapat dipahami sebab dalam islam mempercayai adanya anugrah
dan kekuatan agung diluar kekuatan manusia, yaitu Allah SWT.

F. KESIMPULAN

Psikoterapi islam adalah proses pengobatan dan penyembuhan dengan


melalui bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah Nabi Muhammad saw. atau secara
empirik adalah melalui bimbingan dan pengajaran Allah, Malikat-Malaikat-Nya, dan
Rasul-Nya. Objek dari psikoterapi Islam adalah mental, fisik, spiritual dan moral.
Dalam psikoterapi Islam terdapat dua metode, yaitu metode ilahiah dan ilmiah.
Bentuk bentuk psikoterapi Islam, yaitu membaca Al-Quran, shalat diwaktu
malam, bergaul dengan orang salih, puasa, dan zikir.Kesimpulan kelima terapi
tersebut adalah terapi dengan doa dan munajat.

DAFTAR PUSTAKA
Adz-Dzakey, Hamdani Bakran. 2008. Psikologi Kenabian. 2008. Psikologi Kenabian.
Yogyakarta : Al Manar.
Mujib, Abdul. 2002. Nuansa Nuansa Psikologi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada

http://psikologiuhuy.wordpress.com/2010/05/30/tehnik-psikoterapi-islam/ Kamis,
Desember 2012 pukul 14.30 wib
http://www.referensimakalah.com/2012/12/pengertian-dan-objek-psikoterapi-islam.html

20