Anda di halaman 1dari 19

JURNAL BELAJAR

KEANEKARAGAMAN HEWAN (KH)


Dosen Pengampu Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd
Nama
NIM
Kelas
Prodi
Topik
Tempat
Waktu
Tujuan

: Aisyatur Robia
: 150341600791
:A
: S1 Pendidikan Biologi
: Cephalochordata
: Gedung O5 212 Biologi Universitas Negeri Malang
: Rabu, 26 Oktober 2016
:1.
Untuk
memenuhi
tugas
matakuliah

Keanekaragaman Hewan
2.Untuk mengetahui ciri morfologi dan fisiologi
Cephalochordata
3. Untuk mengetaui klasifikasi dari Cephalochordata
Konsep belajar

C e p h a lo c h o rd
a ta

I.
II.

Pengertian dan
Ciri Umum
Morfologi dan
AnatomiT
ubuh
AnatomiTubuh
Fisiologi Tubuh
Tubuh
Klasifikasi

Habitat dan
Sebaran
Peran

Bukti Belajar
A. Pengertian Umum
Chepalochordata (dari bahasa Yunani: kephal, "kepala" and
khord, "chord") adalah subfilum dari anggota hewan bertulang belakang yang

termasuk dalam filum Chordata, Acraniata. Bentuk tubuh seperti ikan tanpa sirip,
pipih memanjang, transparan. Notokorda, saraf dorsal, dan celah faring berkembang
bagus.
B. Ciri-Ciri Umum
1. Sefalokordata memiliki hubungan dekat dengan Urokordata.
Ada yang mengelompokkan Sefalokordata dengan Urokordata
dalam filum yang sama, yaitu Acrania. Sefalokordata memiliki
ciri-ciri umum sebagai berikut:
2. Notokord terbentang pada seluruh tubuhnya.
3. Memiliki tabung neural dorsal dan tanpa otak.
4. Faring besar dengan banyak celah insang yang terbuka ke
arah dinding ektoderm atrium.
5. Dinding tubuh nampak bersegmen, dan bahkan gonadnya
juga bersegmen.
6. Mempunyai rongga tubuh yang jelas.
7. Organ pengeluarannya tersusun secara segmental. (Indriwati,
2009: 88)
C. Klasifikasi
Terdapat 2 filum terdiri atas 2 genus:
1. Genus 1: Asymmetron

2. Genus 2: Branchiostoma (Amphioxus)

D. Morfologi, Anatomi dan Fisiologi Tubuh


1.
Morfologi Luar
Amphioxus mempunyai panjang kira-kira 3,5-6 cm. tubuhnya
berbentuk langsing, translucent, sisi lateral tubuh memipih, kedua
ujung depan dan belakang meruncing. Ujung anterior membentuk
moncong atau rostrum. Di bawah rostrum terdapat tudung mulut
yang terbentuk oleh bagian dorsal dan lateral tubuh. Pada tudung
mulut terdapat 20 jumabi siri oral atau lebih. Lekuk mulut itu di
bagian dalam ditunjang oleh suatu cincin yang dibentuk oleh
batang-batang yang keras yang tersusun oleh gelatin. Dari cincin
kerangka itu batang gelatin menembus ke dalam tiap-tiap siri oral.
Tudung oral menutupi suatu rongga bukalis atau vestibulum.

Gambar 1. Morfologi Luar Amphioxus


Penampang lintang pada dua pertiga bagian tubuh depan
berbentuk segitiga, sedangkan sepertiga yang belakang berbentuk
hamper oval. Di sepanjang sisi tengah-dorsal terdapat sebuah sirip
dorsal yang memanjang di sepanjang tubuhnya. Sirp dorsal itu
bergabung dengan sirip kaudal yang terletak di sekitar ekor. Pada
bagian sisi tengah-ventralterdapat sirip ventral yang memanjang
dari siripekor sampai ke atriopor. (Indriwati, 2009: 89)

Gambar 2. Pandangan Lateral Ujung Anterior


Dinding tubuhnya menunjukkan segmentasi metameric. Pada
segmen ke-36, tepat dimana sirip ventral bermula terdapat lubang
yang disebut atriopor yang merupakan lubang eksternal dari rongga
atrial. Pada segmen ke-52yang merupakan tempat bermulanya sirip
kaudal terdapat anus ventral yang terletak sedikit di sebelah kiri
dari garis tengah tubuh. (Indriwati, 2009: 90)
Di dalam vestibulum, lapisan epitelium tudung oralmempunyai
potongan-potongan kecil berbentuk jari yang disebut organ jentera
yang memiliki ujung beralur. Pada bagian tengah dorsalnya memiliki
lekuk Hatscheck yang bersifat glandular, panjang, bersilia, dan
mensekresi mukus, serta diduga sebagi organ sensori. Pada ujung
posterior dari vestibulum terdapat suatu bagian yang tumbuh
vertical disebut

velum. Velum ini mempunyai sebuah

celah

melingkar yang disebut enterostoma. (Indriwati, 2009: 90)


Dinding tubuhnya dilapisi oleh lapisan kutikula yang tipis,
berlubang-lubang menutupi epidermis yang tersusun oleh selapis
sel epithelium kolumnar. Disini terdapat sel sensori, tetapi tidak
terdapat kelenjar atau kromatofor. Di bawah kutis terdapat lapisan
subkutis yang tersusun dari bahan gelatin yang mengandung
serabut dan saluran kutaneus. Di bawah subkutis terdapat miotom

yang sebelah dalamnya dibatasi oleh suatu lapisan peritoneum


parietal,

kecuali

pada

daerah

faring

dimana

peritoneumnya

dipisahkan oleh saluran yang kecil. (Indriwati, 2009: 90)


2. Anatomi Umum
a. Atrium
Tubuh Amphioxus memiliki rongga atrial atau atrium merupakan
tempat luas yang dibatasi dengan ektoderma, terbentuk dari
lipatan-lipatan yang tumbuh dan disatukan oleh sebuah papan
melintang sehingga merupakan sebuah bagian dari sisi luar yang
ditutupi oleh tubuh. Atrium membentuk

rongga

besar yang

mengelilingi bagian faring dan anterior usus secara lateral dan


ventral. Atrium juga memanjang ke belakang pada sisi kanan
sebagai suatu kantung kantung tersembunyi yang mengarah ke
atas hampir ke anus.

Dari dekat ujung belakang faring, atrium

menampakkan 2 kantung kerucut, masing-masing menonjol ke


depan menuju rongga dan tiap bagian dari faring. Kantung-kantung
ini merupakan brown funnels atau saluran artiocoelomic yang
fungsinya belum diketahui. (Indriwati, 2009: 93)
b. Rongga Tubuh
Rongga tubuh merupakan soelom yang berkembang

dari

dinding,

dan

berbatasan

dengan

epitel

mesodermal

somatik

splanchnic, mengandung cairan rongga seperti limfa. Di belakang


faring, soelom merupakan suatu rongga luas yang mengelilingi usus
tengah dan belakang, usus yang menggantung pada soelom oleh
suatu mesentry dorsal tetapi menghilang pada sisi kanan usus
belakang

oleh

perpanjangan

posterior

atrium.

Soelom

juga

mengelilingi divertikulum usus tengah. Pada aerah faringeal dewasa


mereduksi sampai 3 tipe ruang, soelom sub endostilar ventral
tengah berada secara membujur di bawah endostil, 2 saluran
longitudinal dorsal yang terletak di atas faring dan menutupi brown

funnels/corong coklat, dan saluran soelom vertikal pada kordata


tingkat tinggi tidak terdapat rongga pada faringnya. (Indriwati,
2009: 94)

Gambar 3. Rongga tubuh Amphioxus

c. Sistem Skeleton (Kerangka)


Notokord berbentuk silindris, membentang dari ujung rostrum
sampai ujung ekor. Notokord terbentuk oleh sel-sel besar, bersifat
fibrosa dan bersifat gelatin yang menyebabkan notokord itu bersifat
keras dan kaku. Notokord itu tertutup oleh jaringan ikat tebal yang
disebut selubung notokord. Sel-sel kaku dan adanya selubung
notokord menyebabkan notokord bersifat elastis sehingga dapat
mencegah pemendekan bila miotom berkontraksi.

Di samping

adanya notokord, fungsi kerangka dalam juga ditunjang oleh


miokoma yang mengelilingi miotom. (Indriwati, 2009: 95)

Gambar 4. Bagian eksternal Amphioxus

d. Sistem Muskulus
Pada setiap sisi tubuh terdapat kira-kira 62 gumpalan otot, tetapi
jumlah itu bervariasi diantara spesies-spesies yang berbeda. Tiap
miotom tertutup rapat oleh lembaran jaingan ikat fibriler yang di
sebut miokoma. Miotom-moiotom itu mempunyai serabut otot seran
lintang yang terletak longitudinal. Ujung serabut-serabut otot itu
menyisip masuk kedalam miokomata. Kontraksi dari miotommiotom yang bersifat segmental ini menyebabkan terjadinya
gerakan tubuh meliuk-liuk, dan dengan cara inilah hewan ini
berenang. (Indriwati, 2009: 95)
Gambar bagian dorsal miotom

Gambar 5. Penampang melintang embrio dari Amphioxus (Sumber:


Anonim ,2011)
e. Sistem Digestivus (Pencernaan Makanan)
1. Susunan alat pencernaan makanan
Mulutnya mengarah ke tudung oral. Rongga mulut yang
tertutup oleh tudung oral itu merupakan suatu eksoderm yang
dibatasi oleh vestibulum atau rongga bukal yang berbentuk corong.
Di belakang vestibulum terdapat velum vertikal yang mempunyai
sebuah

lubang

dibagian

tengahnya

yang

dikenal

sebagai

enterostom. Enterostom itu juga disebut mulut. Karena enterostom


mengarah ke suatu faring ang dibatasi olehendoderm dan tidak
mengarah ke vestibulum yang dibatasi oleh eksoderm seperti yang
terjadi pada stomodeum, mulut itu tidak bisa disamakan dengan

mulut dari kordata, maka dari itu bagian depan yang membuka
kearah vestibulum merupakan mulut yang sesungguhnya. Bagianbagian tepi dari velum mempunyai 12 atau lebih tentakel-tentakel
velar yang bentuknya ramping dan bersilia yang secra normal
menkgarah kebelakang membentuk suatu saringan. Enterostom itu
mengarah ke faring. (Indriwati, 2009: 96)

Gambar 6. Penampang melintang tubuh Amphioxus (Juni,


2009)
Faring merupakan suatu kantong besar dan memipih pada
bagian sampingnya, dindinya dipenuhi oleh lebih dari 150 pasang
celah insang yang tidak mempunyai lembaran insang. Faring
membuka

pada

bagian

anteriormengarah

lurus

ke

saluran

pencernaan makanan yang tersusun dari bagian-bagi an berikut:


1. Esofagus bersilia
2. Usus tengah yang lebar
3. Usus belakang yang sempit yang diakhiri dengan anus yang
terletak pada tempat bermulanya sirip ekor.
Usus itu mempunyai beberapa daerah bersilia pada selaputnya, di
dalam usus tengah itu terdapat saluran lateral dari silia yang

berbentuk sabit yang menyalurkan makanan ke dalam divertikulum


usus tengah.
2. Proses Makan
Amphioxus memasukkan makanan ke dalam mulut dengan
cara mengalirkan air dengan menggunakan gerakan silia yang
terdapat pada faring. Bahan makanannya organik kecil syang
masuk bersamaan aliran air. Hewan seperti ini disebut ciliary
feeder. Dari faring diteruskan ke rongga atrial melalui celah
insang. Lalu dikeluarkanb ke atriopor. Pada saat makan, tudung oral
diperlebar dan sirip oral ditonjolkan ke depan, dengan demikian
dapat mencegah masuknya pasir ke dalam mulut.
Aliran air dalam mulut diatur oleh gerakan silia dari organ
jentera. Makaqnan yang sudah tercampur dengan mukosa itu
dimasukkan

ke

rongga

epifaringeal.

Dari

sini

makanan

dan

lembaran sabuk makosa dialirkan oleh silia ke dalam esofagus.. lalu


dipindahkan dari esofagus ke dalam usus tengah. Dari usus tengah
makanan itu diteruskan ke divertikulum usus tengah. Cincin iliolik
atau

iliokolonik

mengaduk

makanan

sehingga

makanan

itu

bercampur dengan enzim. Selanjutnya makanan diteruskan ke usus


belakang dan ke anus.

Gambar 7. Saluran pencernaan Amphioxus (Juni, 2009)


f. Sistem Respirasi (Pernapasan)

Faring Ampioxus mempunyai fungsi utama sebagai alat


pencernaan makanan, tetapi pada beberapa jenis vertebrata faring
tidak berkaitan dengan proses pencernaan, namun dispesialisasikan
sebagai alat respirasi karena adanya insang. Pada Ampioxus
pertukaran O2 dan CO2 dari aliran air ke dalam darah terjadi pada
saat air melalui celah insang. Tetapi kenyataan itu diragukan
mengingat darah Ampioxus tidak mengandung pigmen respirasi.
Dan diperkirakan proses pertukaran gas ini terjadi pada seluruh
permukaan tubuh, terutama pada dinding athrium.
g. Sistem Sirkulasi (Peredaran Darah)
Ampioxus tidak mempunyai jantung.

Darahnya

tidak

mengandung pigmen respirasi, tidak mengandung butir-butir darah,


dan tidak berwarna. Darah tidak hanay terdapat di dalam pembuluh
darah, tetapi juga terdapat di dalam pembuluh limfa sekitar jari-jari
sirip, dan di dalam lipatan metapleural. Pembuluh-pembuluh darah
itu homolog dengan arteri dan vena pasa sistem sirkulasi pada
vertebrata tingkat tinggi. Pada dasarnya arteri memiliki dinding otot
dan aorta dorsalnya memiliki selubung endotellium.
Aorta ventral terletak di bawah faring di dalam rongga subendostil. Aorta ventral itu memompa darah ke arah depan karena
adanya

kontraksi

peristaltic.

Ujung

anterior

dari

aorta

ventralberhubungan dengan arteri carotid eksterna. Dari aorta


ventral keluar percabangan arteri-arteri brankial afferen yang
mengarah ke atas menuju ke arah dinding faringeal pada kedua sisi.
Arteri brankial afferent, pada bagian pangkalnya mempunyai
penonjolan yang bersifat kontraktil yakni bubilli, yang berfungsi
untuk memompa darah. Arteri-arteri brankial affernt itu bercabang
tiga menembus lembaran insang primer, dan melalui sinaptikula
masing-masing
sekunder.

bercabang

dua

menuju

ke

lembaran

insang

Pembuluh- pembuluh darah itu membentuk anyaman vascular


yang

mensuplai

darah

ke

nefridia.

Darah

dikumpuklan

dari

lembaran insang nefridia oleh arkus aorta atau pasangan pembuluh


darah brankial efferent. Di dalam pembuluh-pembuluh darah
afferent dan efferent darah dikeluarkan ke aliran air respirasi, tetapi
tidak terjadi pertukaran oksigen karena darah tidak mengandung
pigmen respirasi. Pembuluh darah brankial efferent pada tiap
sisinya terbuka ke arah aorta dorsal lateral yang terletak pada
rongga epifaringeal.
Aorta dorsal

lateral

sebelah

kanan

lebih

menonjol

didandingkan yang kiri, keduanya berlanjut ke rostrum sebagai


arteri carotid internal. Kedua unit aorta dorsal lateral di belakang
faring membentuk aorta dorsal tengah yang terletak di antara
notokord

dan

intestine.

Aorta

dorsal

mempunyai

banyak

arteriparietal yang menuju ke dinding tubuh dan intestine, dimana


arteri-arteri itu akan membentuk anyamananyaman di dalam
rongga limfa, kemudian diteruskan ke belakang sebagai arteri
kaudal yang menuju ke ekor.
Dari rongga limfa, darah intestine dikumpulkan ke dalam vena
sub-intestin. Vena sub-intestine merupakan anyaman. Vena itu
membentang di bawah intestine, dan darahnya mengalir ke depan.
Darah dari daerah ekor dikumpulkan oleh vena kaudal yang yang
bergabung dengan vena sub-intestinal. Vena kaudal juga bergabung
dengan kedua vena cardinal posterior. Pembuluh darh kecil di
bagian anterior dari usus tengah membentuk vena porta hepatic
pendek yang lebar yang berjalan sepanjang bagian dorsal dari
divertikulum usus tengah. Vena hepatic memasuki kantung yang
menyerupai sinus venosus, dari situ aorta ventral berasal.
Sepasang vena parietal yang terletak di atas

usus

mengembalikan darah dari dinding tubuh dorsal ke dalam sinus

venosus. Pada vena transversal yang kecil mengembalikan darah ke


aorta ventral. Di sepanjang dinding tubuh pada tiap-tiap sisi dari
daerah gonad terdapat sebuah vena cardinal anterior dan sebuah
vena cardinal posterior yang menerima darah dari vena segmental
kecil yang yang berasal dari dinding tubuh., mioton dan gonad.
Vena cardinal anterior dan posterior, pada tiap sisinya memasuki
suatu duktis Cuvieri atau vena cardinal yang tepat berada di
belakang faring. Kedua duktus ini masuk ke dalam atrium untuk
bergabung dengan sinus venosus. Dalam system pembuluh darah
dari hewan ini tidak terdapat system portal renalis dan portal
hepatic yang sesungguhnya, sebab hewan ini tidak memiliki ginjal
dan hati yang sebenarnya. System sirkulasi yang demikian juga
ditemukan pada hewan-hewan vertebrata.
h. Sistem Ekskretorius (Pengeluaran)
Organ ekskresi kira-kira ada 90 pasang nefridia yang bertipe
tertutup

yang

tersusun

secara

segmental

yang

disebut

protonefridia. Nefridia-nefridia tersebut terletak di atas celah insang


pada tiap sisi berhubungan dengan lembaran-lembaran insang
primer. Tiap protonefridium merupakan suatu pembuluh nefridial
yang melekuk yang mempunyai kelompok-kelompok pembuluh kecil
yang berakhir pada solenosit. Tiap solenosit mempunyai sebuah
kepala yang berinti bundar yang mengarah ke tubulus kecil yang
mengandung flagel yang selalu bergetar.
Berkas-berkas solenosit menyebar ke dalam salura-saluran
coelom longitudinal dorsal dan terendam di dalam cairan soelom.
Nefridia jugadilayani oleh pembuluh darah kecil. Saluran nefridia
masuk ke atrium melalui nefridiofor pada ujung atas dari celah
insang yang terletak di sebrang lembaran insnag sekunder. Jadi
salah satu ujung protonefridium terletak di dalam soelom. Dan
ujung lain terbuka kea rah eksterior atau atrium. Protonefridia

mengabsirbsi sisa-sisa Nitrogen dari inus darah dan cairan soelom


dengan cara difusi dan memindahkannya ke dalam atrium.
Di samping deretan protonefridia terdapat nefridium besar dari
Hatchek yang terletak di atas soelom sedikit di sebelah kiri dari
notokord, dan itu menyerupai protonefridium yang mempunyai
tubulus-tubulus kecil yang berakhir pada solenosit. Ujung anterior
yang yang buntu terletak di depan celah Hatchek

, sementara

ujung posterior menghadap ke faring tepat di belakang velum.


Nefridium Hatchek berhubungan dengan anyaman pembuluh darah
kecil dan tiap solenosit dikelilingi oleh sebuah kantong kecil yang
berfungsi mengabsorbsi sisa-sisa nitrogen. Pada dasar dari atrium
terdapat pada papilla renalis yang kecil mungkin berperan sebagai
alat eksresi. Nefridia dan Ampioxus berkembang dari ectoderm
sehingga perkembangan dan strukturnya sama dengan nefridia dan
Anelida

poliseta,

tetapi

pendapat

berikutnya

tidak

memperhitungkan kesamaan, dan kesamaan itu hanya merupakan


kasus pararelisme karena hubungan dari

dua kelompok adalah

sangat remote. Organ eksresi dari kordata itu berupa ginjal


mesodermal yang memerlukan tekanan darah arteri yang tinggi
untuk penyaringan. Pada Ampioxus tidak terdapat ginjal dan
jantung; eksresi melalui protonefridia hanay memerlukan tekanan
darah yang rendah.
i. Sistem Reproduksi (Perkembangbiakan)
Seksnya terpisah tetapi tidak dapat dibedakan antara jantan
dan betinanya, kecuali pada gonad. Gonad, baik pada testes
maupun ovary terletak di bagian ventrolateral dinding tubuh yang
menghadap ke atrium. Terdapat 26 pasang testes atau ovary yang
tersusun secara metamerik, yag terletak pada segmen 25 sampai
51 mulai dari bagian tengah faring sampai ke anus pada tiap
sisinya. Tidak terdapat saluran genital. Jika gamet masak, dinding

gonad pecah dan ovarium atau sperma menuju ke atrium dan


selanjutnya keluar melalui atriopor. Fertilisasi terdapat di dalam air.
(Indriwati, 2009:107)
j. Sistem Nervus (Syaraf)
Sistem nervus Ampioxus terdiri atas tabung neural (tali
syaraf) yang terletak di atas norokord. Tali syaraf itu berawal dari
sebelah belakang dari anterior notokord dan memanjang kea rah
posterior sampai depan dari ujung belakang notokord. Di tabung
neural terdapat lubang-lubang oleh adanya saluran sentral sempit
(neurosoel). Sel-sel syaraf terkumpul pada sekitar saluran sentral
dan serabut-serabut yang muncul dari sel-sel syaraf terletak lebih
luar. Tabung neural yang terletak di sisi dorsal itu mempunyai
beberapa

pembuluh

raksasa

yang

memanjang. (Indriwati, 2009: 121)


Saluran pada bagian anterior

terletak
tidak

dengan

arah

membentuk

otak,

melainkan membentuk ventrikel. Dari bagian anterior tabung neural


muncul dua pasang syaraf sensori yang menuju tudung oral, sirip,
dan organ-organ indera. Tubuh di sebelah belakang dari vesikel
serebral menerima syaraf spinalis yang muncul dari tabung neural
dalam

pasangan-pasangan

segmental.

Tiap

syaraf

spinal

mempunyai sebuah akar dorsal dengan serabut-serabut sensori


afferen yang masuk ke dalam tabung neural dan sebuah akar
ventral yang tersusun dari serabut motor efferen yang terpisah
meninggalkan tabung neural. Akar-akar dorsal berasal dari kulit dan
akar-akar ventral menuju miotom, tetapi akar-akar dorsal dan
ventral tidak bergabung membentuk syaraf spinal yang bercampur.
(Indriwati, 2009: 122)

Gambar 11. Bintik mata pada Amphioxus (Sumber: Anonim, 2011)


Ada suatu sistem syaraf autonom yang mempunyai 2 pleksus
syaraf dalam otot polos usus. Sistem syaraf autonom hanya terdiri
dari syaraf simpatetik yang mengontrol otot polos usus.
k. Sistem Reseptor (Sensoris)
Syaraf sensori yang berujung pada miotom disebut sensori
internal karena merespon stimulus internal, misalnya kontraksi otot
dan propriseptor. Disamping itu ada pula reseptor eksternal, antara
lain :

Oseli, merupakan bintik hitam yang tidak teratur sepanjang


tabung neural. Oseli bersifat sensitif terhadap sinar. Mata
memiliki lensa sensitif bergaris-garis yang disebut viterous

body yang mensekresikan tudung berpigmen.


Bintik pigmen, terletak pada dinding paling depan dari vesikel
serebral.

Bintik

Sefalokordata

pigmen

berfungsi

membenamkan

diri

sensoris
dengan

pada

bagian

saat
ujung

anterior mencuat, untuk melindungi mata dari stimulus sinar

yang berasal dari depan.


Organ Infundibular, merupakan suatu dispersi yang terdapat
pada bagian dorsal dari vesikel serebral, berfungsi untuk
mendeteksi perubahan tekanan cairan. Organ Infundibular
dibatasi sel bersilia panjang.

Celah Koliker, merupakan kantung sel-sel ektodermal yang


bersilia. Celah Koliker menandai neuropor yang menghilang

pada saat hewan dewasa.


Papilla, merupakan sel-sel sensori yang terdapat pada sirip
oral dan tentakel velar. Papilla merupakan organ peraba dan
berfungsi sebagai kemoreseptor, indera gustator dan pencium.
Sel- sel sensori, barada menyebar di seluruh epidermis. Paling

banyak terdapat pada sisi tubuh bagian dorsal dan sirip oral. Tiap
sel sensori memiliki serabut syaraf berbentuk rambut yang muncul
dari lapisan kutikula. Sel-sel sensori merespon sentuhan.
E. Habitat dan Sebaran
Amphioxus sebagai contoh reprasentatif dari Sefalokordata.
Hewan ini tinggal di air yang dangkal, membenamkan dirinya dalam
pasir dan hanya bagian ujung anterior yang mengandung tudung
oral tersembul di permukaan air. Hewan ini dapat berenang aktif
atau membenamkan diri ke dalam liang. Serta, hewan ini aktif di
malam hari. (Indriwati, 2009: 88)
F. Peranan Cephalochordata
Cephalochordates juga memainkan peranan penting dalam beberapa rantai
makanan, kadang-kadang dengan ribuan persegi per Acre pasir, dan kontribusi
mereka untuk keragaman bentuk dan perilaku yang membuat sehingga menarik untuk
diteliti. Sebagai tolak ukur perkembangan notokord dari filum kordata, karena
amphioxus merupakan contoh hewan kordata terendah.
III.

Relevansi

Berikut merupakan relevansi saya dalam mengikuti perkuliahan


N

Sebelum

o
1

Saya

belum

Sesudah
mengetahui Saya

mengetahui

secara

secara

detail

morfologi,

anatomi

fisiologi
2

tentang detail

tentang

morfologi,

dan anatomi dan fisiologi pada


pada Cephalochordata

Cephalochordata
Saya
belum
mengetahui Saya

mengetahui

didalam

mengenai klasifikasi di dalam Cephalochordata


Cephalochordata

menjadi

dua

dibagi

genus

yaitu

Asymmetron
3.

Branchiostoma
Saya belum mengetahui apa Saya
mengetahui
saja

peran

Cephalochordata

dari Cephalochordata
peran

penting

dan
bahwa
memiliki
dalam

keseimbangan ekosistem dan


4.

Saya

belum

persebaran

ilmu pengetahuan.
mengetahui Cephalochordata

tersebar

dari diseluruh lautan di dunia.

Cephalochordata
IV.

Identifikasi Masalah
Masalah: Bagaimana darah dari Amphioxus?
Jawaban:
Darah pada Amphioxus adalah darah yang tidak berwarna karena tidak terdapat
hemoglobin.

Masalah: Bagaimana mekanisme mata oseli?


Jawaban:
Oseli merupakan mata tunggal yang digunakan seperti maa pada umunya untuk
penglihatan

Masalah: Bagaimana kontraksi otot pada Amphioxus?


Jawaban:
Otot pada Amphioxus berbentuk > yang diantara otot kanan dan kiri itu letaknya
tidak sejajar, sehingga menyebabkan gerakan yang meliuk-liuk

V.

Elemen yang menarik


Elemen menarik yang saya dapatkan ketika perkuliahan sedang

berlangsung yaitu, amphioxus merupakan contoh hewan chordate


terendah yang sangat berperan dalam ilmu pengetahuan dimana
sebagai tolak ukur dari perkembangan notokordnya. Kebiasaan dari
Amphioxus yang suka membenamkan diri dalam pasir dan hanya
aktif pada malam hari.
VI.

Refleksi Diri (Umum)


Proses belajar mengajar menjadi lebih mudah dengan adanya

video yang diputarkan oleh Dosen. Adanya LKM juga cukup


membantu mahasiswa dalam mempelajari morfologi, anatomi serta
fisiologi dari Cephalochordata. Dengan melihat persamaan dan
perbedaan

dari

segi

morfologi,

anatomi

serta

fisiologi

dari

Cephalochordata maka dapat di klasifikasikan ke dalam 2 genus


yaitu Asymmetron dan Branchiostoma.
VII.

Refleksi Diri (khusus)


Pembelajaran menarik karena sebelum pembelajaran dimulai

diputarkan terlebih dahulu video yang menambah pengetahuan


saya tentang Amphioxus. Kelompok saya membuat suatu rumusan
masalah dan akan terjawab selama pembelajaran berlangsung. Hal
tersebut membuat kita harus benar-benar memahami setiap
morfologi, anatomi serta fisiologi dari Cephalochordata.

Daftar Rujukan

Hall, W. P. 1973. Larvae, Marine Life and The Evolution of Diversity.


Harvard University. Harvard.
Indriwati, Sri Endah. 2009. Keanekaragaman Hewan Kordata
Rendah. Malang: Lembaga Pengembangan Pendidikan dan
Pembelajaran