Anda di halaman 1dari 4

LAMPIRAN : KEPUTUSAN DIREKTUR

RSIA KHALISHAH PALIMANAN


NOMOR

: 005/AK.1/DIR/II/2016

TANGGAL : 01 FEBRUARI 2016

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN PASIEN DARI KEKERASAN FISIK


A. Pengertian
Kekerasan fisik adalah setiap tindakan yang disengaja atau penganiayaan secara
langsung merusak integritas fisik maupun psikologis korban, ini mencakup antara lain
memukul, menendang, menampar, mendorong, menggigit, mencubit, pelecehan seksual, dan
lain-lain yang dilakukan baik oleh pasien, staf maupun oleh pengunjung.
Menurut Atkinson, tindak kekerasan adalah perilaku melukai orang lain, secara verbal
(kata-kata yang sinis, memaki dan membentak) maupun fisik (melukai atau membunuh)
atau merusak harta benda.
Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan,
pemerkosaan, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan
penderitaan atau menyakiti orang lain, dan hingga batas tertentu tindakan menyakiti
binatang dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi dan nilai-nilai sosial
yang terkait dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah kekerasan juga mengandung
kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.
B. Tujuan
Tujuan dari perlindungan terhadap kekerasan fisik, usia lanjut, penderita cacat,anakanak dan yang berisiko disakiti adalah melindungi kelompok pasien berisiko dari kekerasan
fisik yang dialkuakn oleh pengunjung, staf rumah sakit dan pasien lain serta menjamin
keselamatan kelompok pasien berisiko yang mendapat pelayanan di Rumah Sakit. Dan juga
buku panduan ini digunakan sebagai acuan bagi seluruh staf Rumah Sakit dalam
melaksanakan pelayanan perlindungan pasien terhadap kekerasan fisik, usia lanjut,
penderita, anank-anak dan yang berisiko disakiti.
C. Daftar kelompok pasien berisiko
1. Pasien dengan cacat fisik dan cacat mental.
2. Pasien usia lanjut.
3. Pasien bayi dan anak-anak.
4. Korban kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT)
5. Pasien Napi,korban dan tersangka tindak pidana.

D. Tata Laksana
1. Tatalaksana dari perlindungan terhadap kekerasan fisik pada pasien sebagai berikut :
a. Petugas Rumah Sakit melakukan proses mengidentifikasi pasien berisiko melalui
pengkajian secara terperinci.
b. Bila tindak kekerasan fisik dilakukan oleh pasien : Perawat unit bertanggung jawab
untuk mengamankan kondisi dan memanggil dokter medis untuk menilai
kebutuhan fisik dan psikologis dan mengecualikan masalah medis pasien tersebut.
c. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh anggota sataf rumah sakit : Perawat unit
bertanggung jawab menegur staf tersebut dan melaporkan insiden ke kepala bidang
terkait untuk diproses lebih lanjut.
d. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh pengunjung : Staf bertanggung jawab dan
memiliki wewenang untuk memutuskan diperbolehkan atau tidak pengunjung
tersebut memasuki area Rumah Sakit.
e. Monitoring di setiap lobi, koridor rumah sakit, unit rawat inap, rawat jalan maupun
di lokasi terpencil atau terisolasi dengan pemasangan kamera CCTV ( Closed
Circuit Television ) yang terpantau oleh Petugas Keamanan selama 24 ( dua puluh
empat ) jam terus menerus.
f. Setiap pengunjung rumah sakit selain keluarga pasien meliputi : tamu RS, detailer,
pengantar obat atau barang, dan lain-lain wajib melapor ke petugas informasi dan
wajib memakai kartu Visitor.
g. Pemberlakuan jam berkunjung pasien pagi : jam 11.00 13.00 WIB

Sore : jam

16.00 18 .00 WIB


h. Staf perawat unit wajib melapor kepada petugas keamanan apabila menjumpai
pengunjung diluar jam besuk, pengunjung yang mencurigakan dan pasien ataupun
penunggu pasien yang dirawat membuat keonaran maupun kekerasan.
i. Petugas keamanan berwenang menanyai pengunjung yang mencurigakan dan
mendampingi pengunjung terebut sampai ke pasien yang dimaksud.
j. Petugas keamanan mencatat nama, tanggal, jam, keperluan bagi pengunjung Rawat
Inap di luar jam besuk.
k. Petugas keamanan menutup akses pintu penghubung menuju ruang perawatan pada
jam besuk berakhir.
2. Tata laksana perlindungan terhadap pasien usia lanjut dan gangguan kesadaran :
a. Pasien Rawat jalan
1) Pendampingan oleh petugas penerimaan pasien dan mengantarkan sampai ke
tempat periksa yang dituju dengan memakai alat bantu bila diperlukan.
2) Perawat poli umum, spesialis dan gigi wajib mendampingi pasien saat
dilakukan pemeriksaan sampai selesai.

b. Pasien rawat inap


1) Penempatan pasien dikamar rawat inap sedekat mungkin dengan kantor
perawat
2) Perawat memastikan dan memasang pengaman tepat tidur
3) Perawat memastikan bel pasien mudah dijangkau oleh pasien dan dapat
digunakan.
4) Meminta keluarga untuk menjaga pasien baik oleh keluarga atau pihak yang
ditunnjuk dan dipercaya.
3. Tata laksana perlindungan terhadap penderita cacat :
a. Petugas penerima pasien melakukan proses penerimaan pasien penderita cacat baik
rawat jalan maupun rawat inap dan wajib membantu serta menolong sesuai dengan
kecacatan yang disandang sampai proses selesai dilakukan.
a. Bila diperlukan, perawat meminta pihak keluarga untuk memnjaga pasien atau
pihak lain yang ditunjuk sesuai kecacatan yang disandang.
b. Memastikan bel pasien dijangkau oleh pasien dan memastikan pasien dapat
menggunakan bel tersebut.
c. Perawat memasang dan memsatikan pengaman tempat tidur pasien.
4. Tata laksana perlindungan terhadap anak-anak :
a. Ruang perinatologi harus dijaga minimal satu orang perawat atau bidan, ruangan
tidak boleh ditinggalkan tanpa ada perawat atau bidan yang menjaga.
b. Perawat meminta surat pernyataan secara tertulis kepada orang tua apabila akan
dilakukan tindakan yang memerlukan pemaksaan.
c. Perawat memasang pengamanan tempat tidur pasien.
d. Pemasangan CCTV diruang perinatologi untuk memantau setiap orang yang keluar
masuk dari ruang tersebut.
e. Perawat memberikan bayi dari ruang perinatologi hanya kepada ibu kandung bayi
bukan kepada keluarga yang lain.
5. Tata laksana perlindungan terhadap pasien yang berisiko disakiti ( risiko penyiksaan,
napi, korban dan tersangka tindak pidana, korban kekerasan dalam rumah tangga ) :
a. Pasien ditempatkan dikamar perawatan sedekat mungkin dengan kantor perawat.
b. Pengunjung maupun penjaga pasien wajib lapor dan mencatat identitas dikantor
perawat,berikut dengan penjaga psien lain yang satu kamar perawatan dengan
pasien berisiko.
c. Perawat berkoordinasi dengan satuan pengamanan untuk memantau lokasi
perawatan pasien,penjaga maupun pengunjung pasien.
d. Koordinasi dengan pihak berwajib bila diperlukan.
E. DOKUMENTASI
Pencatatan kejadian rawat inap dan rawat jalan :
1. Formulir insiden keselamatan pasien
2. Lembar status rawat jalan
3. Lembar catatan Pelayanan

4. Buku pencatatan pengunjung pasien.


F. PENUTUP
Dengan ditetapkannya

Panduan Perlindungan Terhadap Kekerasan Fisik,Usia

Lanjut Penderita Cacat,Anak-anak dan yang Berisiko Disakiti maka setiap personil
Rumah Sakit dapat melaksanakan prosedur perlindungan terhadap kekerasan fisik,usia
lanjut,penderita cacat,anak-anak dan yang berisiko disakiti dengan baik dan benar serta
melayani psien dengan memuaskan.

Direktur
RSIA Khalishah Palimanan

dr.Jenny Hendrajani.K