Anda di halaman 1dari 20

PANDUAN KELAYAKAN LINGKUNGAN

TEKNOLOGI HASIL LITBANG

2015

KATA PENGANTAR
Penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
pembangunan infrastruktur merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
upaya dalam pencapaian tujuan Visi dan Misi dari Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat.
Sedangkan definisi dari Teknologi itu sendiri sesuai UU RI Nomor 18 Tahun 2002
Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi adalah : cara atau metode serta proses atau produk
yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu
pengetahuan
yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan,
kelangsungan, dan peningkatan kehidupan manusia.
UU 18 tahun 2002 tentang SISNAS Litbang dan Penerapan Teknologi
menyebutkan bahwa Teknologi yang dihasilkan dari kegiatan penelitian,
pengembangan, perekayasaan , dan inovasi yang dibiayai oleh pemerintah
melalui Badan Litbang wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh
perguruan tinggi, lembaga litbang dan badan usaha yang melaksanakannya.
Disebutkan
pula
bahwa
dalam
menetapkan
prioritas
utama
dan
mengembangkan penerapan teknologi, penting untuk melakukan upaya 1)
penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan
kemampuan perekayasaan, inovasi, dan difusi teknologi serta memperkuat
tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan, 2) penguatan
kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan Standar Nasional Indonesia
untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam
negeri.
Pusat Litbang Sosial Ekonomi dan Lingkungan yang bertransformasi menjadi
Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT) mempunyai tugas
penting dalam upaya agar hasil teknologi yang telah dihasilkan oleh Pusat
Litbang Sumber Daya Air, Pusat Litbang Jalan dan Jembatan, Pusat Litbang
Permukiman dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung maupun
melalui upaya penguatan pertumbuhan industri teknologi hasil litbang, serta
mencarikan pasar bagi teknologi hasil litbang yang telah layak untuk diterapkan.
Dalam upaya penerapan teknologi dilakukan melalui dua pendekatan yaitu
penerapan teknologi berbasis kebutuhan wilayah (market driven) serta
penerapan teknologi berbasis sediaan teknologi (technology driven).
Buku panduan 2.3 tentang Kelayakan Lingkungan ini merupakan rangkaian dari
Buku Panduan Penerapan Teknologi Berbasis kebutuhan Wilayah, bertujuan
sebagai acuan bagi para peneliti dalam melakukan
penilaian kelayakan
lingkungan setelah melalui tahapan penilaian kelayakan teknologi (assessment)
dan penyaringan (screening ) awal bidang sosial, ekonomi dan lingkungan (Buku

ii

2), dan Pemetaan kebutuhan teknologi (mapping) dan pemilihan alternatif


teknologi (scoping) (Buku 1).
Akhir kata, tim peneliti yang melakukan penilaian di lapangan diharapkan
dapat memberikan masukan untuk kesempurnaan panduan ini, agar hasil dari
penilaian kelayakan lingkungan menjadikan penerapan teknologi tepat sasaran.

iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
1.

Umum.............................................................................................................. 1

2.

Maksud dan tujuan.......................................................................................... 1


a.

Maksud......................................................................................................... 1

b.

Tujuan........................................................................................................... 1

3.

Ruang lingkup.................................................................................................. 1

4.

Sasaran........................................................................................................... 3

5.

Acuan normatif................................................................................................ 3

6.

Istilah dan definisi........................................................................................... 3

7.

Ketentuan........................................................................................................ 3

7.1.

Ketentuan umum.......................................................................................... 3

7.2.

Ketentuan khusus......................................................................................... 4

8.

Prosedur pelaksanaan..................................................................................... 4

iv

PANDUAN KELAYAKAN LINGKUNGAN TEKNOLOGI HASIL LITBANG


1. Umum
Siklus litbang harus melalui seleksi gagasan, uji laboratorium, uji lapangan
dan valuasi, peluncuran, dan pasca-peluncuran. Pada fase uji lapangan dan
valuasi, inovasi teknologi akan menimbulkan dampak lingkungan. Biasanya
masyarakat atau calon pengguna teknologi (user) belum siap untuk
mengantisipasi dampak lingkungan. Kondisi tersebut berdampak pada
kurang optimalnya pemanfaatan inovasi teknologi.
Dampak lingkungan dan daya lingkungan menjadi salah satu indikator untuk
melihat kelayakan aplikasi inovasi teknologi tepat guna di lapangan.
2. Maksud dan tujuan
a. Maksud
Maksud dari panduan ini adalah menilai kelayakan lingkungan atas teknologi
yang tepat guna.
b. Tujuan
Tujuan dari panduan ini adalah memberikan panduan operasional dan
arahan yang detail dalam melakukan penilaian identifikasi potensi dampak
lingkungan.
3. Ruang lingkup
Panduan ini merupakan bagian dari lingkup penerapan teknologi seperti
terlihat pada Gambar 1.
Panduan ini membahas mengenai kelayakan lingkungan terhadap teknologi
yang akan diterapkan pada masyarakat. Hal penting yang dilakukan pada
tahap ini adalah memprakirakan dampak potensial pada setiap parameter
lingkungan dan pengaruh yang ditimbulkan dari dampak tersebut terhadap
komponen lingkungan. Rekapitulasi dari pengaruh dampak berupa matriks
prakiraan dampak lingkungan, yang selanjutnya dapat digunakan untuk
melakukan evaluasi dampak lingkungan. Ruang lingkup prakiraan dampak
meliputi rincian kegiatan pada tahap 1) Pra- konstruksi; 2) Konstruksi, dan 3)
Pasca-konstruksi
Evaluasi dampak lingkungan yang dihasilkan mencakup perhitungan daya
dukung lingkungan dan perhitungan beban pencemar terhadap badan air.
Dimana daya dukung yang di maksud di sini adalah kemampuan sumber
daya alam (ekologi) pada lokasi tertentu untuk mendukung penerapan
teknologi, khususnya kemampuan dalam keberlanjutan bahan baku.

Penerapan teknologi
A. Penerapan teknologi
berbasis kebutuhan wilayah
(market driven)
A.1. Pemetaan
kebutuhan teknologi
(mapping) dan
pemilihan alternatif
teknologi (scoping)
A.2. Penilaian
kelayakan teknologi
(assessment)
A.2.1. Penilaian
kelayakan teknis
(TKT level 7)
A.2.2. Penilaian
kelayakan sosial
(kesiapan &
keberterimaan)
A.2.3.Penilaian
kelayakan ekonomi
(ekonomi, finansial,
peluang pasar)
A.2.4.Penilaian
kelayakan
lingkungan

A.3. Penentuan
teknologi yang
diterapkan
(appraisal)
A.4. Perekayasaan
sosekling penerapan
teknologi

B. Penerapan teknologi berbasis


sediaan teknologi (technology
driven)
B.1. Pemetaan teknologi
B. Penerapan teknologi
berbasis sediaan
teknologi (technology
driven)
B.2.1.Penilaian
kelayakan ekonomi
(ekonomi, finansial,
peluang
pasar)
B.2.2.
Penilaian
kelayakan sosial
(kesiapan &
keberterimaan)
B.2.3.Penilaian
kelayakan ekonomi
(ekonomi, finansial,
peluang pasar)
B.2.4.Penilaian
kelayakan pasar
B.2.5.Penilaian
kelayakan lingkungan

B.3.Akselerasi
pemanfaatan teknologi
B.3.1.Penyusunan
strategi difusi
teknologi
B.3.2.Penyusunan
rencana bisnis
B.3.3.Penyusunan
rencana produksi
masal/OP
B.3.4. Penilaian
kelayakan teknis (TKT
level 7)
B.3.5.Penghitungan
valuasi lingkungan

Gambar 1. Bagan Alir Penerapan Teknologi

4. Sasaran
Sasaran dalm pelaksanaan penerapan teknologi ini adalah para peneliti
Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi yang akan menilai kelayakan
lingkungan dalam inovasi teknologi tepat guna yang akan diaplikasikan di
lapangan.
5. Acuan normatif
UU no. 18 tahun 2002 tentang sistem nasional penelitian, pengembangan,
dan penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Undang- undang no.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.16 Tahun 2012 tentang
Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup
Peraturan Pemerintah No 35 tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian
Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan,
Inovasi, dan Difusi Teknologi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2005 Tentang Alih
Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil Kegiatan Penelitian Dan
Pengembangan Oleh Perguruan Tinggi Dan Lembaga Penelitian Dan
Pengembangan
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 110 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air
Keputusan Menteri Riset Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor
193/M/Kp/Iv/2010 Tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu
Pengetahuan Dan Teknologi Tahun 2010-2014
6. Istilah dan definisi
Prakiraan dampak lingkungan adalah suatu proses untuk menduga
perubahan suatu parameter lingkungan tertentu akibat adanya suatu
kegiatan pada perspektif ruang dan waktu tertentu.
Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
mendukung perikehidupan manusia, mahluk hidup lain, dan keseimbangan
antar keduanya.
7. Ketentuan
7.1. Ketentuan umum
a. Panduan penilaian kelayakan teknologi ini diterapkan pada teknologi
yang sudah melalui tahap penilaian cepat;
b. Seluruh proses kegiatan penilaian kelayakan harus memenuhi kaidahkaidah dan etika ilmiah;

c. Metode dan teknik yang digunakan dalam setiap tahapan penilaian


kelayakan harus memiliki tingkat keakuratan (validitas) dan keterandalan
(reliabilitas) yang tinggi;
d. Data dan informasi yang diperoleh harus jelas sumbernya dan dapat
dipertanggungjawabkan;
e. Tim penilai memiliki kompetensi di bidangnya.
7.2. Ketentuan khusus
Ketentuan yang diperhatikan secara khusus dalam operasionalisasi penilaian
kelayakan lingkungan dalam penerapan teknologi hasil litbang yaitu hasil
yang didapat akan mengacu pada baku mutu dan peraturan setempat yang
berlaku.
8. Prosedur pelaksanaan
Proses penilaian kelayakan teknologi dalam bidang lingkungan terhadap
aplikasi teknologi tepat guna yang akan diaplikasikanseperti terlihat dalam
Gambar 2.

Gambar 2. Bagan Alir Kelayakan Lingkungan Teknologi Tepat Guna


6

Penjelasan Tahapan
P1 Mengidentifikasi Dampak pada Komponen Lingkungan
Metoda identifikasi dampak adalah proses awal kegiatan analisis
dampak rencana kegiatan terhadap komponen lingkungan. Identifikasi
dampak menentukan parameter lingkungan apa saja yang terkena
dampak dan komponen kegiatan apa saja yang menimbutkan dampak
dan. Identifikasi dampak merupakan rincian mengenai kriteria kualitas
lingkungan yang relevan dengan lokasi, jenis teknologi, dan
masyarakat.
Proses identifikasi dampak dapat dilakukan melalui tahapan kegiatan
(Canter, 1977) yaitu:
Membuat uraian komponen lingkungan hidup (I1)
Komponen lingkungan hidup merupakan rona lingkungan hidup awal
(environmental setting) di lokasi rencana kegiatan yang mencakup
komponen lingkungan terkena dampak di sekitar lokasi produksi
dan/atau lokasi penerapan teknologi. Komponen lingkungan ini terdiri
dari: - Komponen geo-fisik-kimia (sumber daya geologi, tanah, air
permukaan, air bawah tanah, udara, kebisingan, dsb); dan Komponen biologi (vegetasi/flora, fauna, tipe ekosistem, keberadaan
spesies langka dan/atau endemik serta habitatnya, dsb)
Menentukan
berbagai
komponen
rencana
kegiatan
yang
menimbulkan dampak (I2).
Komponen rencana kegiatan tersebut meliputi kegiatan prakonstruksi, kegiatan konstruksi, dan pasca konstruksi yang diyakini
dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan
P2

Memprakirakan Pengaruh Dampak pada Komponen Lingkungan


Prakiraan dampak kita sudah menentukan besarnya dampak yang
akan terjadi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Metoda pengaruh dampak meliputi metoda check-list, matrik, overlay,
flowchart, permodelan, dan simulasi. Metoda identifikasi dampak
paling sederhana yang dikenal yaitu metoda check-list dan matriks.
Metode ini memuat rincian tentang: tahapan dan jenis rencana
kegiatan yang menimbulkan dampak dan parameter lingkungan yang
diperkirakan akan terkena dampak.
Hasil pada tahapan ini berupa tabel matriks perkiraan dampak
lingkungan (O1), yang contohnya dapay dilihat pada Lampiran A.
Tabel ini berisi sumber dampak, jenis dampak, dan besaran dampak.

P3

Mengevaluasi Dampak Lingkungan


Pada evaluasi dampak, kita telah melakukan analisis secara terpadu
keseluruhan komponen lingkungan yang mengalami perubahan
mendasar (dampak penting). Dari hasil evaluasi dampak tersebut
dapat diketahui kelayakan lingkungan suatu proyek, pengaruh proyek
terhadap masyarakat yang terkena dampak (kerugian dan manfaat),
serta menjadi dasar untuk menetapkan dampak-dampak negatif yang
perlu dilakukan pengelolaan dan dampak-dampak positif yang perlu
7

dikembangkan/ditingkatkan.
Untuk memilih evaluasi dampak, Adiwibowo (1995) mengemukakan
beberapa pedoman umum yang dapat dipertanggungjawabkan yaitu:
- Bersifat analisis serta memenuhi syarat pendekatan secara iImiah;
- Bersifat holistik atau komprehensif, yakni mampu menggambarkan
fenomena dampak penting lingkungan yang terjadi dalam suatu
sistem lingkungan hidup serta berikut dengan interaksi-interaksi
yang terjadi di dalam sistem tersebut;
- Cukup fleksibel, dalam arti bahwa metode yang digunakan dapat
dipakai untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari berbagai aspek
yang satu sama lain memiliki ukuran atau unit satuan yang berbeda,
dan karakteristik dampak yang berbeda-beda pula.
Hasil pada tahapan ini adalah daftar dampak-dampak baik positif
maupun negatif yang dihasilkan akibat pembuatan maupun
penerapan teknologi (O2).
P4

Mengidentifikasi Bahan Baku


Identifikasi bahan baku dilakukan bagi bahan baku yang termasuk
sumber daya alam yang diperlukan dalam produksi teknologi.
Kuantitas dari masing-masing jenis bahan baku untuk pembuatan
teknologi (I1). Analisis keberlanjutan bahan baku hanya dilakukan
untuk bahan baku yang berasal dari alam.

P5

Mengidentifikasi Ketersediaan Bahan Baku


Identifikasi Ketersediaan Bahan Baku dilakukan untuk menentukan
potensi bahan baku yang dapat disediakan oleh area produksi. Input
dari proses ini adalah merupakan data kuantitas bahan baku alam
yang dihasilkan di area lokasi produksi (I4).

P6

Mengidentifikasi Kebutuhan Bahan Baku


Identifikasi Kebutuhan Bahan Baku dilakukan untuk menentukan
kebutuhan bahan baku yang diperlukan untuk memenuhi target
rencana produksi teknologi. Input dari proses ini adalah Rencana
Kuantitas Produksi Teknologi (I5) yaitu jumlah rencana produksi yang
diharapkan untuk teknologi terkait.

P7

Menghitung Nilai Daya Dukung Lingkungan


Perhitungan dilakukan dengan rumus/persamaan ketersediaan dan
kebutuhan (supply dan demand)
Rumus Daya Dukung Lingkungan =
Hasil dari proses ini adalah Nilai Daya Dukung Lingkungan (O3).
Contoh perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran B.

P8

Menginterpretasi Hasil
Dari nilai daya dukung lingkungan yang diperoleh, dibuat interpretasi
dengan ketentuan sebagai berikut:
Daya dukung > 2 (aman): lingkungan memiliki kemampuan untuk
8

mendukung aktivitas didalamnya berkelanjutan


Daya dukung = 1 2 (aman bersyarat): keseimbangan lingkungan
dalam kondisi impas
Daya dukung < 1 (tidak aman): daya dukung lingkungan telah
terlampaui pengelolaan
C1

Dampak Negatif ke Badan Air


Berdasarkan apakah suatu teknologi memiliki dampak negatif berupa
zat-zat pencemar yang dilepaskan ke badan air, dapat ditentukan
apakah perhitungan daya tampung beban pencemaran perlu
dilakukan. Jika ya, maka proses selanjutnya dapat dilakukan. Jika
tidak, maka perhitungan daya tampung beban pencemaran tidak
perlu dilakukan.

P9

Mengukur Konsentrasi Awal


Pengukuran konsentrasi awal dilakukan dengan mengukur setiap
konstituen dan laju alir pada aliran sungai sebelum bercampur dengan
sumber pencemar. Pengukuran debit, pengambilan contoh uji serta
pengukuran konsentrasi pencemar dilakukan oleh laboratorium
analisis kualitas air yang kompeten.

P1
0

Mengukur Konsentrasi Sumber Pencemar


Pengukuran Konsentrasi Sumber Pencemar setiap konstituen dan laju
alir pada setiap aliran sumber pencemar. Pengukuran debit,
pengambilan contoh uji serta pengukuran konsentrasi pencemar
dilakukan oleh laboratorium analisis kualitas air yang kompeten.

P1
1

Menghitung Konsentrasi Rerata pada aliran akhir dengan rumus C R


Aliran akhir yang dimaksud adalah setelah aliran bercampur dengan
sumber pencemar
CR =
dimana
CR
: konsentrasi rata-rata konstituen untuk aliran
gabungan
Ci
: konsentrasi konstituen pada aliran ke-i
Qi
: laju alir aliran ke-i
Mi
: massa konstituen pada aliran ke-i
Nilai CR merupakan hasil yang didapatkan dari proses ini.

P1
2

Menginterpretasi Hasil
Nilai CR dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku di lokasi
kegiatan (produksi/penerapan teknologi).

LAMPIRAN A
CONTOH MATRIKS PRAKIRAAN DAMPAK LINGKUNGAN
Tabel 1. Matriks Prakiraan Dampak Lingkungan
Sumber dampak
Jenis Dampak
Besaran Dampak
(kegiatan)
Pra- Konstruksi

Keteranga
n

Survey lokasi
workshop
Survey lokasi
lahan bambu
Konstruksi

Perubahan
penggunaan lahan
Sifat geo-fisis, kimia,
dan biologi

Kualitas

Mobilisasi tenaga
kerja, material,
alat

Pencemaran udara
dan suara
Kerusakan
prasarana jalan desa
Pencemaran udara
dan suara

Kuantitas dan kualitas

Data
sekunder
(kuantitas)

Kuantitas dan kualitas

Data
sekunder
(kuantitas)

Polusi tanah
Polusi air
Polusi udara
Polusi suara
Kegiatan
penanaman bambu
kembali
Populasi bambu
berkurang

Kualitas
Kualitas
Kualitas
Kualitas
Peningkatan populasi
bambu sebagai bahan
baku

Data
sekunder
(kuantitas)

Pembangunan
workshop
Pasca
Konstruksi
Operasi dan
Pemeliharaan
workshop
Pemeliharaan
lahan bambu
Pemanfaatan
bambu

Kuantitas dan kualitas

10

LAMPIRAN B
CONTOH APLIKASI RUMUS
PANDUAN KELAYAKAN LINGKUNGAN TEKNOLOGI HASIL LITBANG
1.

Contoh Daya Dukung Ketersediaan Bahan Baku


Kecamatan Karangkobar memiliki potensi kebun bambu seluas 5 Ha yang
dapat dipanen sekali setahun. Untuk 1 Ha kebun bambu per tahunnya dapat
dipanen 200 batang bambu. Unit RISHA ditargetkan untuk diproduksi
sebanyak 5 unit per bulan. Per unit RISHA membutuhkan 2 m 3 volume
dinding bambu, dan per m3 dinding bambu didapatkan dari 10 batang
bambu.
Berapakah luas kebun bambu yang dibutuhkan supaya daya dukung untuk
ketersediaan pasok untuk target produksi terpenuhi?
1. Identifikasi bahan baku utama Pembentuk RISHA yaitu Bambu (RISHA
dengan dinding bambu/gewang laminasi)
2. Identifikasi ketersediaan bahan utama pembentuk RISHA di Kec.
Karangkobar seluas 5 Ha kebun bambu
3. Analisis Daya Dukung Lingkungan (ketersediaan pasokan bahan baku)
Produksi 5 unit RISHA dalam 1 bulan
1 RISHA membutuhkan 2 m3 bambu
1 m3 bambu dihasilkan dari 15 batang bambu
Dalam 1 Ha kebun bambu rata-rata terdapat 200 batang bambu
Daya dukung (ketersediaan pasok) =

Supply =
Supply

= a x 1 x 200 = 200a
Demand

= 5 x 12 x 2 x 10 = 1200
Daya dukung (ketersediaan pasok)

11

1
Luas kebun bambu

=
a

= 6 Ha

Daya dukung (ketersediaan pasok) akan dapat terpenuhi dengan 6 Ha


kebun bambu. Potensi kebun bambu di Kecamatan Karangkobar hanya
5 Ha, sehingga diperlukan 1 Ha kebun bambu untuk memenuhi
ketersediaan pasok.

2.

Contoh Perhitungan Metoda Neraca Massa


Suatu aliran sungai mengalir dari titik 1 menuju titik 4. Diantara dua titik
tersebut terdapat dua aliran lain yang masuk kealiran sungai utama,
masing-masing disebut sebagai aliran 2 dan 3. Apabila diketahui data-data
pada aliran 1, 2 dan 3, maka ingin dihitung keadaan di aliran 4.

Keterangan :
1. Aliran sungai sebelum bercampur dengan sumber-sumber pencemar
2. Aliran sumber pencemar A
3. Aliran sumber pencemar B
4. Aliran sungai setelah bercampur dengan sumber-sumber pencemar.
Data analisis dan debit pada aliran 1, 2 dan 3 diberikan pada tabel berikut
ini :

Aliran
1

Tabel 2.1 Data analisis dan debit


Laju alir
DO
COD
BOD
(m/detik)
(mg/L)
(mg/L)
(mg/L)
2,57
6,9
21,4
15,5

Cl
(mg/L)
0,16
12

2
3

0,47
0,73

3,6
3,4

15,6
15,5

8,3
8,2

0,03
0,06

Dengan menggunakan data-data di atas maka dapat dihitung DO pada titik


4, sebagai berikut :
Konsentrasi rata-rata DO pada titik 4 adalah

Konsentrasi rata-rata COD, BOD dan Cl pada titik 4 dapat ditentukan dengan
cara perhitungan yang sama seperti di atas, yaitu masing-masing 19,53
mg/L, 13,19 mg/L dan 0,12 mg/L. Apabila data aliran 4 dimasukkan ke Tabel
2.1 maka akan seperti yang disajikan pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Data analisis dan debit
Aliran
1
2
3
4
BM X

Laju alir
DO
COD
BOD
Cl
(m/detik)
(mg/L)
(mg/L)
(mg/L)
(mg/L)
2,57
6,9
21,4
15,5
0,16
0,47
3,6
15,6
8,3
0,03
0,73
3,4
15,5
8,2
0,06
3,77
5,81
19,53
13,19
0,12
5
25
3
600
BM X Baku mutu perairan, untuk Golongan/Kelas X

Apabila aliran pada titik 4 mempunyai baku mutu BM X, maka titik 4 tidak
memenuhi baku mutu perairan untuk BOD, sehingga titik 4 tidak
mempunyai daya tampung lagi untuk parameter BOD. Akan tetapi bila
terdapat aliran lain (misalnya aliran 5) yang memasuki di antara titik 1 dan
4, dan aliran limbah masuk tersebut cukup tinggi mengandung Cl dan tidak
mengandung BOD, maka aliran 5 masih dapat diperkenankan untuk masuk
ke aliran termaksud. Hal tersebut tentu perlu dihitung kembali, sehingga
dipastikan bahwa pada titik 4 kandungan Cl lebih rendah dari 600 mg/L.
3.

Contoh Perhitungan Emisi CO2


Pengujian RHK dapat menghemat waktu henti kendaraan roda 2 sebanyak 15 detik
dan roda 4 sebanyak 10 detik per siklus lampu lalu lintas. Waktu operasional traffic
light adalah 15 jam dengan periode 1 siklus adalah 180 detik.
Bahan bakar yang digunakan oleh kendaraan roda 2 dan roda 4 tersebut memiliki
data sebagai berikut:
Density
= 0,755 kg/L
Calorific Value
= 44,3 GJ/Mg
Emission Factor
= 69,3 kg CO2/GJ
(sumber: 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories)
Ingin dihitung jumlah CO2 yang dapat dikurangi per harinya.

Faktor emisi dikonversikan untuk per liter bahan bakar

13

Jumlah fase hijau tiap hari =

kali
Konsumsi BBM roda 2 = 0,00005 L/dt
Penghematan waktu henti roda 2 per siklus = 15 detik
Penghematan BBM per siklus = 0,00005 L/dt x 15 detik = 0,00075 L
Pengurangan emisi per siklus roda 2 =

x 0,00075 L = 0,00174

kg CO2
Pengurangan emisi per hari roda 2 = 0,00174 kg CO 2 x 300 = 0,52151 kg
CO2
Konsumsi BBM roda 4 = 0,00030 L/dt
Penghematan waktu henti roda 4 per siklus = 10 detik
Penghematan BBM per siklus = 0,00030 L/dt x 10 detik = 0,00300 L
Pengurangan emisi per siklus roda 4 =

x 0,00300 L = 0,00695

kg CO2
Pengurangan emisi per hari roda 4 = 0,00695 kg CO 2 x 300 = 1,08606 kg
CO2

14

BIBLIOGRAFI
Adiwibowo, Suryo, 1995, Sistem Manajemen Lingkungan, Kursus Audit
Lingkungan Hidup, Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan
Lembaga Penelitian Universitas Indonesia (PPSML-LPUI) dan Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL), Jakarta.
Lutfi,

Mutaali. 2012. Daya Dukung Lingkungan Untuk Perencanaan


Pengembangan Wilayah. Badan Penerbit Fakultas Geografi Universitas
Gadjahmada. Yogyakarta

Tambunan, Mangapul P. 2011. Bahan Kuliah KONSEP DASAR DAYA DUKUNG


LINGKUNGAN DALAM SD.ALAM. Fakultas Geografi UI. Tidak diterbitkan.
Pranoto. 2012. Bahan Kuliah. Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan.
tidak diterbitkan
Pemprov Jawa Timur. 2012. Evaluasi Daya Dukung dan Daya Tampung DAS
Kali Lamong. Laporan Penelitian. Tidak diterbitkan.

15