Anda di halaman 1dari 35

<="" a="" height="300" width="600">

HaiFarmasi
Seputar dunia farmasi
Nov 6

Laporan Farmasi Fisika Viskositas


Modul 4
VISKOSITAS
I. TUJUAN
Mampu menentukan viskositas dari suatu larutan.
II. PRINSIP
Berdasarkan prinsip sifat aliran Newton dan non Newton.
III. TEORI
3.1 Pengertian Viskositas
Viskositas adalah suatu cara untuk menyatakan berapa daya tahan dari aliran yang diberikan oleh
suatu cairan. Kebanyakan viskometer mengukur kecepatan dari suatu cairan mengalir melalui
pipa gelas (gelas kapiler), bila cairan itu mengalir cepat maka berarti viskositas dari cairan itu
rendah (misalnya air). Dan bila cairan itu mengalir lambat, maka dikatakan cairan itu viskositas
tinggi. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung silinder.
Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan
maupun gas. Menurut poiseulle, jumlah volume cairan yang mengalir melalui pipa per satuan
waktu. (Dudgale. 1986)
Viskositas biasanya diterima sebagai kekentalan atau penolakan terhadap penuangan.
Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluid kepada aliran dapat dipikir sebagai cara untuk
mengukur gesekan fluid. Prinsip dasar penerapan viskositas digunakan dalama sifat alir zat cair
atau rgeologi. Rheologi merupakan ilmu tentang sifat alir suatu zat. Rheologi terlibat dalam
pembuatan, pengemasan atau pemakaian, konsistensi, stabilitas dan ketersediaan hayati sediaan.
(Moechtar, 1990)
Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas, hingga cairan
mempunyai koefisien viskositas yang lebih besar daripadagas. Viskositas gas bertambah dengan
naiknya temperatur, sedang viskositas cairan turun dengan naiknya temperatur. Koefisien
viskositas gas pada tekanan tidak terlalu besar, tidak tergantung tekanan, tetapi untuk cairan naik
dengan naiknya tekanan (Martin, 1993).
Viskositas merupakan fungsi dari waktu yang artinya dengan bertambahnya waktu viskositas
semakin meningkat. Sifat ini penting diketahui sewaktu material cetak dicampur atau saat
dimasukkan ke dalam mulut karena viskositas material cetak kosistensi light pada 5 menit
setelah pencampuran akan sama dengan kosistensi regular pada 3 menit. (Martin, 1993)
Makin tinggi viskositas maka akan semakin besar tahanannya. Bila viskositas gas meningkat

dengan naiknya temperatur, maka viskositas cairan justru menurun jika temperatur dinaikkan.
(Martin, 1993).
Pada hukum aliran viskositas Newton menyatakan hubungan antara gaya-gaya mekanika dari
suatu aliran viskos. Geseran dalam viskositas (fluida) adlah konstan sehubungan dengan
gesekannya. Hubungan tersebut berlaku untuk fluida Newtonian, dimana perbandingan antara
tegangan geser (s) dengan kecepatan geser (g) nya konstan. Parameter inilah yang disebut
dengan viskositas. Aliran viskositas dapat digambarkan dengan dua buah bidang tersebut. Suatu
bidang permukaan bawah yang tetap dibatasi oleh lapisan fluida setebal h, sejajar dengan
permukaan atas itu ringan, yang berarti tidak memberikan beban pada lapisan fluida dibawahnya,
maka tidak ada gaya tekan yang berkerja pada lapidan fluida. (Dudgale, 1986)
3.2 Faktor- fator yang mempengaruhi viskositas adalah sebagai berikut:
3.2.1 Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan viskositas gas tidak dipengaruhi oleh
tekanan.
3.2.2 Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangkan viskositas gas naik dengan naiknya suhu.
Pemanasan zat cair menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul
cairan bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah. Dengan demikian viskositas
cairan akan turun dengan kenaikan temperatur.
3.2.3 Kehadiran zat lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan tambahan seperti bahan
suspensi menaikkan viskositas air. Pada minyak ataupun gliserin adanya penambahan air akan
menyebabkan viskositas akan turun karena gliserin maupun minyak akan semakin encer, waktu
alirnya semakin cepat.
3.2.4 Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran alkohol cepat, larutan
minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya tinggi seta laju aliran lambat sehingga
viskositas juga tinggi.
3.2.5 Berat molekul
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak.
3.2.6 Kekuatan antar molekul
Viskositas air naik denghan adanya ikatan hidrogen, viskositas CPO dengan gugus OH pada
trigliseridanya naik pada keadaan yang sama. (Bird, 1987)
3.3 Berdasarkan hukum Newton tentang sifat alir cairan, maka tipe aliran dibedakan menjadi 2,
yaitu:
3.3.1 Newtonian
Cairannya mengalir mengikuti aturan-aturan viskositas.
3.3.2 Non Newtonian
Aturannya tidak mengikuti aturan viskositas. Cairan biasanya memiliki ukuran molekul yang
paling besar atau mempunyai struktur tambahan, misalnya koloid. Untuk mengalirkan cairan
bukan cairan Newton sehingga diperlukan tambahan gaya atau jika perlu memecah strukturnya.
(Wiroatmojo, 1988)
3.4 Macam-macam Viskositas
a. Viskositas dinamik, yaitu rasio antara shear, stress, dan shear rate. Viskositas dinamik disebut
juga koefisien viskositas.

b. Viskositas kinematik, yaitu viskositas dinamik dibagi dengan densitasnya. Viskositas ini
dinyatakan dalam satuan stoke (St) pada cgs dan m/s pada SI.
c. Viskositas relatif dan spesifik, pada pengukuran viskositas suatu emulsi atau suspensi biasanya
dilakukan dengan membandingkannya dengan larutan murni. Untuk mengukur besarnya
viskositas menggunakan alat viskometer. Berbagai tipe viskometer dikelompokkan menurut
prinsip kerjanya. (Dudgale. 1986)
3.5 Cara Menentukan Viskositas
Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada
beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain:
3.5.1 Viskometer Brookfield
Pada viscometer ini nilai viskositas didapatkan dengan mengukur gaya puntir sebuah rotor
silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam sample. Viskometer Brookfield memungkinkan
untuk mengukur viskositas dengan menggunakan teknik dalam viscometry. Alat ukur kekentalan
(yang juga dapat disebut viscosimeters) dapatmengukur viskositas melalui kondisi aliran
berbagai bahan sampel yang diuji. Untuk dapat mengukur viskositas sampel dalam viskometer
Brookfield, bahan harus diam didalam wadah sementara poros bergerak sambil direndam dalam
cairan. (Atkins 1994)
Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya.
Gaya gesek antara permukaan spindle dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas cairan.
Sebuah spindle dimasukkan ke dalam cairan dan diputar dengan kecepatan tertentu. Bentuk dari
spindle dan kecepatan putarnya inilah yang menentukan Shear Rate. Oleh karena itu untuk
membuat sebuah hasil viskositas dengan methode pengukuran Rotational harus dipenuhi
beberapa hal sebagai berikut:
a. Jenis Spindle
b. Kecepatan putar Spindle
c. Type Viscometer
d. Suhu sample
e. Shear Rate (bila diketahui)
f. Lama waktu pengukuran (bila jenis sample-nya Time Dependent). (Sukardjo. 1997)
Viskometer Brookfield merupakan salah satu viscometer yang menggunakan gasing atau
kumparan yang dicelupkan kedalam zat uji dan mengukur tahanan gerak dari bagian yang
berputar. Tersedia kumparan yang berbeda untuk rentang kekentalan tertentu, dan umumnya
dilengkapi dengan kecepatan rotasi. (FI IV,1038). Prinsip kerja dari viscometer Brookfield ini
adalah semakin kuat putaran semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya semakin besar.
(Moechtar,1990)
3.5.2 Viskometer Oswald
Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah cairan tertentu
untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri.
Didalam percobaan diukur waktu aliran untuk volume V (antara tanda a dan b) melalui pipa
kapiler yang vertical. Jumlah tekanan (P) dalam hokum Poiseuille adalah perbedaan tekanan
antara permukaan cairan, dan berbanding lurus dengan r. (Moechtar,1990)
3.5.3 Viskometer Hoppler
Yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sebuah bola untuk melewati cairan pada jarak
atau tinggi tertentu. Karena adanya gravitasi benda yang jatuh melalui medium yang
berviskositas dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum.
Kecepatan maksimum akan dicapai jika gaya gravitasi (g) sama dengan gaya tahan medium (f)

besarnya gaya tahan (frictional resistance) untuk benda yang berbentuk bola stokes.
(Moechtar,1990)
3.5.4 Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antaradinding luar dari bob dan dinding dalam
dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya
aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube sehingga
menyebabkan penurunan konsentrasi. Penurunan konsentras ini menyebabkab bagian tengah zat
yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat (Moechtar,1990)
3.5.5 Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan
hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan
sampelnya digeser di dalam ruang semitransparan yang diam dan kemudian kerucut yang
berputar (Moechtar,1990).
Cairan yang mengikuti hukum Newton, viskositasnya tetap, tidak dipengaruhi oleh kecepatan
geser. Sehingga untuk menentukan viskositas cairan Newton dapat ditentukan hanya
menggunakan satu titik rate og shear saja. Cairan non Newton ini dibagi ke dalam ke dalam dua
kelompok, yaitu:
1. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi waktu, diantaranya:
a. Aliran plastis
b. Aliran pseudoplastis
c. Aliran dilatan
2. Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi waktu, diantaranya:
a. Aliran thisotropik
b. Aliran rhepeksi
c. Aliran antihitksotropik
Viskositas cairan non Newton bervariasi pada setiap rate of shear, sehingga untuk mengetahui
sifat alirannya harus dilakukan pengamatan pada berbagi rate of shear. Nilai viskositas
dinyatakan dalam viskositas spesifik, kinematik dan instrinsik. Viskositas spesifik ditentukan
dengan membandingkansecara langsung kecepatan aluran suatu larutan dengan pelarutnya.
Viskositas kinematik diperoleh dengan memperhitungkan densitas larutan. Baik viskositas
spesifik maupun kinematik dipengaruhi oleh konsentrasi larutan. Pengukuran viskositas
dilakukan dengan menggunakan viskometer Ubbelohde yang termasuk jenis viskometer kapiler.
Untuk penentuan viskometer larutan primer, viskometer kapiler yang paling tepat adalah
viskometer Ubbelohde. (Wiroatmojo, 1988)
Nilai viskositas dinyatakan dalam viskositas spesifik, kinematik dan intrinsik. Viskositas spesifik
ditentukan dengan membandingkan secara langsung kecepatan aliran suatu larutan dengan
pelarutnya. Viskositas kinematik diperoleh dengan memperhitungkan densitas larutan. Baik
viskositas spesifik maupun kinematik dipengaruhi oleh konsentrasi larutan. Pengukuran
viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer Ubbelohde yang termasuk jenis
viskometer kapiler. Untuk penentuan viskometer larutan polimer, viskometer kapiler yang paling
tepat adalah viskometer Ubbelohde. (Wiroatmojo, 1988)
IV. ALAT DAN BAHAN
4.1 Alat :
Viskotester
Gelas kimia

Mortir
Gelas ukur
Lampu spirtus
Kaki tiga
Kasa asbes
Spatel
Neracaanalitik
4.2 Bahan :
Na CMC 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3%, 3.5% dan air panas.
V. PROSEDUR
VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
6.1 Perhitungan
a. Na CMC 1% = 1 gram
air panas : 120 = 20 ml
aquadest ad 100 ml.
b. Na CMC 1,5% = 1,5 gram
air panas : 1,520 = 30 ml
aquadest ad 100 ml.
c. Na CMC 2% = 2 gram
air panas 220 = 40 ml
aquadest ad 100 ml.
d. Na CMC 2,5 % = 2,5 gram
air panas 2,520 = 50 ml
aquadest ad 100 ml.
e. Na CMC 3% = 3 gram
air panas 320 = 60 ml
aquadest ad 100 ml.
f. Na CMC 3,5% = 3,5 gram
air panas 3,520 = 70 ml
aqudest ad 100 ml.
6.2 Data Pengamatan
Grafik Hubungan konsentrasi dengan viskositas berdasarkan pengukuran menggunakan spindle
1, 2, dan 3.
Catatan :
Sumbu x : konsentrasi (%)
Sumbu y : viskositas (poise / dPa.s)
1 dPa.s = 1 poise
VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, bertujuan untuk mengetahui viskositas dari suatu cairan. Penentuan
viskositas ini ditentukan menggunakan alat viskotester. Viskotester yang digunakan adalah
Viskotester Brookfield. Prinsip dari alat ini yaitu rotasi dengan mengkombinasikan setting

spindle dan kecepatan putar spindle.


Pada viskometer ini dilengkapi dengan tiga spindle yang memiliki bentuk yang berbeda-beda,
ada yang berukuran kecil,sedang dan besar. Selain ukurannya yang berbeda-beda, ketiga jenis
spindle ini memiliki fungsi yang berbeda. Jika sediaan yang akan diuji mempunyai karakteristik
aliran Newton maka digunakan spindle 3 atau dapat juga dengan spindle 1 karena larutan yang
memiliki daya alir Newton bersifat tidak terlalu kental (encer). Namun untuk mengukur
viskositas larutan yang memiliki karakteristik aliran Non-Newton dapat digunakan spindle 2
yang berbentuk kecil karena pada aliran Non-Newton larutannya mempunyai kekentalan yang
tinggi.
Pada percobaan kali ini di gunakan suspending agent Na CMC sebagai bahan yang akan di uji
kekentalannya. Sediaan Na CMC yang diukur adalah suspending agent yang biasanya digunakan
untuk sediaan suspensi. Pada pengukuran viskositas, sebelumnya dibuat terlebih dahulu Na CMC
dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Konsentrasi yang digunakan adalah 1%, 1,5%, 2%,
2,5%, 3%, 3,5%.
Pengukuran dengan viskotester ini menggunakan spindle 1, spindle 2, dan spindle 3.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada spindle 1 untuk konsentrasi 1%, 1,5%, 2%,
2,5%, 3% dan 3,5% diperoleh hasil 5,56 poise, 4,68 poise, 9,28 poise, 8,67 poise, 5,27 poise, dan
8,77 poise secara berturut-turut. Pada konsentrasi 1,5% dan 3% viskositas sampel menurun
karena pembacaan dari viskotester belum terlihat secara konstan, sehingga menghasilkan angka
yang menurun dari konsentrasi sebelumnya. Dan diketahui bahwa spindle 1 dapat mengukur
viskositas higga konsentrasi 3,5%.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada spindle 2 untuk konsentrasi 1%, 1,5%, 2%,
2,5%, 3% dan 3,5% diperoleh hasil 4,5 poise, 2,49 poise, 2,50 poise, 2,37 poise, 2,66 poise, dan
1,95 poise. Dapat diihat dari hasil yang diperoleh bahwa selisih yang didapat dari konsentrasi
satu ke konsentrasi yang lain dengan menggunakan spindle 2 tidak jauh berbeda. Hal ini
disebabkan karena ukuran dari spindle 2 kecil. Karena ukuran spindle mempengaruhi
pengukuran viskositas untuk suatu cairan. Pada konsentrasi 1,5%, 2,50%, dan 3,5% viskositas
sampel menurun karena pembacaan dari viskotester belum terlihat secara konstan, sehingga
menghasilkan angka yang menurun dari konsentrasi sebelumnya. Dan diketahui bahwa spindle 2
juga dapat mengukur viskositas higga konsentrasi 3,5%.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada spindle 3 untuk konsentrasi 1%, 1,5%, 2%,
2,5% dan 3% diperoleh hasil 8,63 poise, 12,02 poise, 10,45 poise, 11,38 poise, dan 12,10 poise
secara berturut-turut. Sedangkan pada konsentrasi 3,5% tidak terdeteksi, hal ini disebabkan
karena semakin besar spindle dan semakin besar viskositas semakin sulit dilakukan pendeteksian
viskositas menggunakan spindle 3. Dan ini sesuai dengan aliran Non-Newton yang ukuran
viskositasnya akan terdeteksi dengan menggunakan spindle 2.
Dengan mengetahui nilai viskositas dari masing-masing sampel dapat diketahui bahwa
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi
akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya
partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan
antar partikel semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula. Setiap bertambahnya
konsentrasi semakin bertambanhnya viskositas (kekentalan) sehingga grafik yang ditunjukan
adalah kenaikan dari setiap bertambahnya konsentrasi.
VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa

IX. DAFTAR PUSTAKA


Atkins, P.W. 1994. Kimia Fisika jilid I. Jakarta : Erlangga
Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta : PT Gramedia
Dudgale. 1986. Mekanika Fluida Edisi 3. Jakarta : Erlangga
Martin, A. 1993. Farmasi Fisika, edisi II, Jilid 3. Jakarta: UI Press.
Moechtar. 1990. farmasi fisik. Yogyakarta : UGM-press.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika I . Jakarta : Rineka Cipta.
Wiroatmojo. 1988. Kimia Fisika. Jakarta: Depdikbud.

Share this:

Twitter

Facebook

Google

Tinggalkan Balasan

Navigasi pos
Laporan Praktikum Farmasi Fisika Stabilitas Obat
Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Menu
Skip to content

Beranda

About

Cari

Ikuti

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM FARMASI FISIKA II
Viskositas dan Rheologi
DISUSUN OLEH :
Ade Afriyani (2012210002)
Adyka Putra.I (2012210008)
Agus Susanto (2012210012)
Ajeng Prima (2012210016)
Alvera Kolesi (2012210019)
kelas/kelompok : E 1.2

Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila
2013
I.

Judul Percobaan
Viskositas dan Rheologi

II.

Tujuan
Percobaan
Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat :
Memahami pengertian dari viskositas dan rheologi
Membedakan sifat cairan Newton dan non Newton
Menggunakan alat-alat penentuan Viskositas dan Rheologi
Menentukan Viskositas dan Rheologi cairan Newton dan non Newton

1.
2.
3.
4.

III.

Dasar Teori
Istilah rheologi, berasal dari bahasa Yunani rheo (mengalir) dan logos (ilmu), diusulkan
oleh Bingham dan Crawford (seperti dilaporkan oleh Fischer) untuk menggambarkan aliranaliran cairan dan deformasi dari padatan. Viskositas adalah suatu pernyataan tentang tahanan dari
suatu pernyataan tentang tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas,
semakin besar tahanan tersebut. Seperti akan dijelaskan berikutnya, cairan sederhana (biasa)
dapat dijelaskan dalam istilah viskositas absolute. Akan tetapi, sifat-sifat reologi dispersi
heterogen lebih kompleks dan tidak dapat dinyatakan dengan suatu nilai tunggal. (Martin,
farmasi fisika dan ilmu farmasetika, edisi 5,hal 706)
Prinsip dasar rheologi telah digunakan untuk meneliti cat, tinta, berbagai adonan, bahanbahan untu pembangunan jalan, kosmetik, produk hasil peternakan serta bahan-bahan lain.
Pemahaman tentang viskositas cairan, larutan, dan system koloid baik yang encer maupun yang
pekat, mempunyai nilai praktis dan teoritis. Scott-Blair mengenali pentingnya rheologi dalam
dunia farmasi dan analisis produk-produk farmasi seperti emulsi, pasta, dan lotion untuk obat
dan kosmetik harus mampu memproduksi produk yang mempunyai konsistensi dan kelembutan
yang dapat diterima oleh pemakai krim tersebut dan juga harus sanggup memproduksi kembali
sediaan dengan kualitas yang sama untuk setiap bets. Dalam banyak industri, seorang yang
terlatih dan sangat berpengalaman dalam menangani bahan-bahan dalam proses secara periodik
selama pembuatan untuk menentukan rasa (kelembutan) dan struktur fisik serta memutuskan
konsistensi yang tepat. Akan tetapi, variabilitas pada pengujian subjektif seperti ini pada waktu
yang berbeda dan berbagai kondisi lingkungan yang berbeda memang sudah jelas diketahui.
Keberatan yang lebih serius, dilihat dari sudut ilmiah, ialah gagalnya uji subjektif ini untuk
membedakan berbagai sifat yang membentuk konsistensi total produk tersbut. Jika masingmasing karakteristik fisik ini digambarkan dan dipelajari secara objektif sesuai dengan metode
analitik rheologi, dapat diperoleh informasi yang berharga untuk digunakan dalam memformulasi
produk-produk farmasi yang lebih baik. Rheologi terlibat dalam pencampuran dan aliran bahanbahan, pengemasan bahan-bahan ke dalam wadah, dan pemindahan sebelum penggunaannya,
apakah dicapai dengan penuangan dari botol, pengeluran dari tube, atau pelewatan melalui
sebuah jarum suntik. Rheologi suatu produk tertentu, yang konsistensinya dapat berkisar dari cair
ke semipadat sampai ke padatan, dapat mempengaruhi penerimaan pasien, stabilitas fisika, dan
bahkan ketersediaan hayati. Sebagai contoh, viskositas telah tebukti mempengaruhi laju obat dari
saluran gastrointestinal.
Sistem Newton
Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran cairan secara
kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan, makin besar pula gaya
per satuan luas (tegangan geser) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu laju geser tertentu.
Laju geser diberi lambang G . Oleh sebab itu, laju geser harus berbanding langsung dengan
tegangan geser, atau
Di mana : = koefisien viskositas ~ viskositas
Satuan viskositas : poise = dyne detik cm-2
Cps (centipoise) = 0,01 poise

Tipe Aliran/ Sifat alir


Sistem Newton
Cairan yang mengikuti hukum Newton viskositasnya tetap pada suhu & tekanan tertentu dan
tidak tegantung pada kecepatan geser. Oleh karena itu viskositasnya dapat ditentukan pada satu
kecepatan geser saja dengan menggunakan viscometer kapiler atau bola jatuh. Sifat alir ini
dimiliki untuk cairan-cairan murni dan beberapa larutan zat (larutan gula, sorbitol, gliserin,
minyak jarak, kloroform,air, dll)
F berbanding lurus terhadap G
tetap pada setiap tetapan geser.
(viskositas absolute)

Sistem non-Newton
Viskositasnya tidak mengikuti hukum newton (berubah pada setiap kecepatan geser sehingga
tidak ada viskositas absolute). Untuk melihat sifat alirnya, dilakukan pengukuran pada beberapa
kecepatan geser. Non-newton bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran
newton; dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair, salep,
dan produk-produk serupa. Berdasarkan grafik sifat aliran atau rheogramnya, cairan non-newton
terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi oleh waktu
a. Aliran Plastis

Kurva aliran plastis tidak melalui titik asal (0,0), tapi memotong sumbu tegangan geser (atau
akan memotong, jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu) pada suatu
titik yang dikenal sebagai yield value. Badan Bingham tidak akan mengalir sampai tegangan
geser yang berkaitan dengan yield value terlampaui. Pada tegangan di bawah yield value, zat
bertindak sebagai bahan elastis. Ahli reologi menggolongkan badan Bingham, yaitu zat-zat yang
memperlihatkan yield value, sebagai padatan, sedangkan zat-zat yang mulai mengalir pada
tegangan geser terkecil dan tidak memperlihatkan yield value didefinisikan sebagai cairan. Yield
value merupakan sifat penting dari dispersi-dispersi tertentu.
Plastis = F f
G
= viskositas plastis
F = gaya
f = yield value
G = du / dx (rate of shear)
b. Aliran Pseudoplastis

Viskositas zat pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya laju geser. Viskositas nyata
(apparent viscosity) dapat diperoleh pada setiap nilai laju geser, yaitu dari kemiringan garis
singgung kurva pada titik tertentu. Akan tetapi, penggambaran terbaik untuk bahan pseudoplastis
kemungkinan adalah plot grafik kurva konsistensi secara keseluruhan. Kurva konsistensi untuk
bahan pseudoplastis mulai pada titik (0,0), atau paling tidak mendekatinya pada rate of shear
rendah. Akibatnya berlawanan dengan badan Bingham, tidak ada yield value. Tapi, karena tidak
ada bagian kurva yang linear, maka tidak dapat menyatakan uji viskositas dari suatu bahan
pseudoplastis dengan suatu harga tunggal.
Kurva naik dan kurva turun berhimpit

Log G = N log F log

Viskositas dinyatakan pada rpm tertentu


Aliran pseudoplastis disebut juga dengan shear thinning system. Contoh dari aliran
pseudoplastis: dispersi cair dari tragakan, Na alginat, metil selulosa, CMC Na.
c. Aliran Dilatan

Tipe aliran ini merupakan kebalikan dari tipe yang dimiliki oleh system pseudoplastis. Sementara
bahan pseudoplastis sering kali dikenal sebagai sistem geser pencair (shear-thinning system),
bahan dilatan sering kali diberi istilah sistem geser pemekat (shear thickening system). Jika
tegangan dihilangkan, suatu sistem dilatan kembali ke keadaan fluiditas asalnya.
Viskositas betambah dengan bertambahnya kecepatan geser
Zat yang mempunyai sifat alir dilatan adalah suspensi suspensi yang berkonsentrasi tinggi (kirakira 50% atau lebih) dari partikel partikel yang mengalami deflokulasi.
Viskositas dinyatakan pada Rpm tertentu.
Aliran Newton dan Non Newton dapat ditentukan nilai viskositasnya dengan menggunakan
Viskometer Stormer atau Brookfield

2. Cairan yang sifat alirnya dipengaruhi oleh waktu kelompok ini terdiri dari
1. Aliran tiksotropi

Tiksotropi dapat didefinisikan sebagai suatu pemulihan isotherm dan relative lambat pada
pendiaman suatu bahan yang kehilangan kosistensinya karena pemberian geser (shearing).
Tiksotropi hanya dapat diterapkan untuk sistem geser pencair. Sistem tiksotropi biasanya
mengandung partiel partikel asimetris yang melalui berbagai titik kontak, menyusun suatu
jejaring tiga dimensi diseluruh sampel.
Kurva momentum berada disebelah kiri menaik
Rheogram yang dapat dari bahan tiksotropi sangat bergantung pada laju yang meningatkan dan
mengurangi shear serta lamanya waktu sampel tersebut mengalami rate of shear
Tiksotropi negative atau anti tiksotropi merupakan kenaikan bukan pengurangan kosistensi pada
kurva menurun
2. Aliran rheopeksi

Rheopeksi adalah suatu gejala dimana suatu sol membentuk suatu gel. Lebih cepat jika di aduk
perlahan-lahan atau kalau di shear dari pada jika dibiarkan membentuk gel tersebut tanpa diaduk.
Kurva menurun ada di sebelah kanan kurva menaik

Bila ada penggosokan perlahan-lahan dan teratur mempercepat pemadatan di suatu sistem
dilatan ( cairan dilatan bila dikocok terus-menerus akan menjadi rheopeksi)
3. Aliran Visko Elastis

Pengukuran viskoelastis berdasarkan pada sifat-sifat mekanis bahan yang memperlihatkan sifat
kekentalan cairan dan sifat elastis padatan. Kebanyakan sistem-sistem yang diselidiki dalam
bidang farmasi termasuk dalam kelas ini, contoh: krim, lotion , salep, suppositoria, suspense,
disperse koloid, pengemulsi, serta zat pensuspensi.
Alat untuk menegukur viskositas dan heologi suatu zat disebut viskometer. Ada 2 jenis
viscometer, yaitu :
1. Viskometer satu titik
Viskometer ini hanya dapat dilakukan untuk menentukan viskositas cairan Newton. Yang
termasuk ke dalam jenis ini adalah viscometer kapiler viscometer bola jatuh, penetrometer, dan
lain-lain.
2. Viskometer banyak titik

Viskometer ini dapat digunakan untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton dan
Non Newton. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah viscometer Stormer, Brookfield, Dll.
(Martin, farmasi fisika dan ilmu farmasetika, edisi 5,hal 717)
IV.

Alat dan Bahan


Alat
Viskometer Brookfield
Viskometer Stormer
Beaker glass
Batang pengaduk
Timbangan
Gelas ukur
Gelas cairan viskositas
Lumpang + alu

Bahan
Olive oil (minyak nabati)
Gom arab
HPMC
Aquades
V.

Cara kerja
Buatlah dispersi Gom arab dengan kadar 40%, dengan cara mendispersikan 40 gram serbuk
putih gom arab dalam aquadest sebanyak 1,5 kali bobot gom arab (60 ml aquadest). Gunakan
lumpang dan alu untuk mencampur gom arab dengan air. Selanjutnya tambahkan lagi aquades
sebanyak 40 ml sehingga keseluruhan aquades yang ditambahkan sebanyak 100 ml.
Buatlah dispersi HPMC 1,5%. Timbang HPMC sebanyak 4,5 gram dan dispersikan serbuk
HPMC secara perlahan ke 300 ml air. Gunakan mesin pengaduk untuk membantu pengadukan.
Dengan menggunakan viscometer Brookfield, diukur viskositas absolute dari cairan minyak
nabati (Olive oil) dan tentukan sifat alirnya.
Gunakan nilai viskositas absolute dari Olive oil untuk menentukan konstanta alat ( Kv) dari
viscometer stormer.
Tentukan sifat alir dan Viskositas dari Gom arab dengan menggunakan Viskometer Stormer.
Tentukan sifat alir dan Viskositas dari HPMC dengan menggunakan viscometer Brookfield
Data yang diperoleh, dimasukkan dalam tabulasi data dan dibuat kurva alir dari masing-masing
cairan.
Cara menggunakan Viskometer Brookfield
Isikan bahan yang akan ditentukan viskositas dan sifat alirnya ke dalam beaker glass 600 ml
sampai hampir penuh (sesuaikan jumlah bahan dengan no spindel)
Pilih no. spindel yang sesuai dan pasang (hati-hati), turunkan hingga spindel tercelup ke dalam
bahan sampai tanda batas.

Pilih RPM untuk menghasilkan skala 10, catat skala yang terbaca.Bila skala yang terbaca <10
maka naikkan RPMnya, dan apabila skala yang terbaca lebih dari 100 ganti spindel dengan
nomor yang lebih besar.
Amati skala yang tertera setelah 3 kali putaran.
Naikkan RPM, ulangi pengukuran sampai sedikitnya 3 RPM yang berbeda; misal : 3; 6; dan 12.
Kembalikan ke pengukuran RPM yang menurun, yaitu 6; dan 3.
Tabelkan data yang diperoleh.
Buat grafik antara RPM pada sumbu y dan F (gaya) pada sumbu x; hasilnya merupakan grafik
sifat alir (rheogram).
Cara menggunakan Viskometer Stomer
Isikan bahan yang akan ditentukan viskositas dan sifat alirnya ke dalam wadah yang telah
disediakan.
Letakkan beban dimulai dari beban yang terkecil di tempat yang telah disediakan.
Biarkan benang tertarik lalu dihitung berapa waktu yang dibutuhkan hingga jumlah putaran 50.
Jika waktu yang dibutuhkan kurang dari 30 detik putaran dinaikkan menjadi 100. Apabila waktu
yang dibutuhkan lebih dari 60 detik maka beban ditambahkan kembali.
Untuk mengetahui sifat alir gunakan 3 titik beban yang menaik dan 2 titik beban yang menurun.
VI.

Tabulasi data
Penentuan viskositas minyak nabati (Olive oil) dengan menggunakan Viskometer Brookfield.
Konstanta Viskometer (KV) Brookfield: 673,70 dyne/cm2 .
Spindel Rpm
Skala
Faktor
F= (skala
(skala faktor)
Kv)
[cps]
[dyne/cm2]
1
12
11,60
5
58,00
7.814,92
1
30
26,40
2
52,80
17.785,68
1
60
60,20
1
60,20
40.556,74
1
30
29,00
2
58,00
19.537,30
1
12
11,60
5
58,00
7.814,92

Menentukan Konstanta Viskometer Stormer dengan menggunakan viskositas minyak nabati


(Olive oil)
Berat [gram]
Waktu [sekon]
Putaran
Rpm[menit-1]
Kv [dyne/cm2]
30
40
50

50,80
40,20
32,80

100
100
100

118,11
149,25
182,93

Penentuan sifat alir dispersi Gom arab dengan Viskometer Stormer


Berat [gram]
Waktu [sekon]
Putaran
Rpm[menit-1]
Cc
80
100

58,00
38,00
37,00

50
50
50

51,73
78,95
81,08

225,98
214,17
210,00

[cps]
251,37
219,60
267,29

80
60

41,20
46,10

50
50

72,82
65,08

Penentuan sifat alir dispersi HPMC dengan Viskometer Brookfield


Spindel Rpm
Skala
Faktor
(skala faktor)
[cps]
2
12
20,50
25
512,50
2
30
46,60
10
466,00
2
60
89,00
5
445,00
2
30
50,90
10
509,00
2
12
21,50
25
537,50
VII. Perhitungan
Penimbangan
Gom Arab ditimbang sebanyak 40 gram + aquades sebanyak 100 ml
Kadar Gom Arab
= 40 %
HPMC ditimbang sebanyak 4,5 gram + aquades sebanyak 300 ml
Kadar HPMC
= 1,5 %
Viskositas () Olive Oil dengan Viskometer Brookfield
KV Brookfield : 673,70 dyne/cm2
1. pada RPM 12
= skala x factor = 11,60 x 5 = 58,00 cP
2. pada RPM 30
= skala x factor = 26,40 x 2 = 52,80 cP
3. pada RPM 60
= skala x factor = 60,20 x 1 = 60,20 cP
4. pada RPM 30
= skala x factor = 29,00 x 2 = 58,00 cP
5. pada RPM 12
= skala x factor = 11,60 x 5 = 58,00 cP
olive oil rata-rata =
= 57,40 cP
Gaya (F) Olive Oil
1. Gaya (F) pada RPM 12
F = skala x KV
= 11,60 x 673.70
= 7.814,92 dyne/cm2

238,09
199,80

F= (skala Kv)
[dyne/cm2]
13.810,85
31.394,42
57393,00
34.291,33
14.484,55

2. Gaya (F) pada RPM 30


F = skala x KV
= 26,40 x 673.70
= 17.785,68 dyne/cm2
3. Gaya (F) pada RPM 60
F = skala x KV
= 60,20 x 673.70
= 40.556,74 dyne/cm2
4. Gaya (F) pada RPM 30
F = skala x KV
= 29,00 x 673.70
= 19.537,30 dyne/cm2
5. Gaya (F) pada RPM 12
F = skala x KV
= 11,60 x 673.70
= 7.814,92 dyne/cm2
Viskometer Stormer
Nilai RPM (Olive Oil)
1. Nilai RPM dengan beban 30 gram (RPM30)
RPM30 =
=
= 118,11 menit -1
2. Nilai RPM dengan beban 40 gram (RPM40)
RPM40 =
=

25 menit

-1

3. Nilai RPM dengan beban 50 gram (RPM50)


RPM50 =
=
= 182,93 menit -1
KV Stormer
1. Konstanta Viskometer dengan beban 30 gram (KV30)
KV30 =
=
= 225,98 cps/menit.gram
2. Konstanta Viskometer dengan beban 40 gram (KV40)
KV40 =
=
= 214,17 cps/menit.gram

3. Konstanta Viskometer dengan beban 50 gram (KV50)


KV50 =

00 cps/menit.gram
KV rata-rata = = 216,72 cps/menit.gram
Nilai RPM (Gom Arab) dengan menggunakan Viskometer Stormer
1. Nilai RPM dengan beban 60 gram (RPM60)
RPM60 =
=
= 51,72 menit -1
2. Nilai RPM dengan beban 80 gram (RPM80)
RPM80 =
=
= 78,95 menit -1
3. Nilai RPM dengan beban 100 gram (RPM100)
RPM100 =
=
= 81,08 menit -1
4. Nilai RPM dengan beban 80 gram (RPM80)
RPM80 =
=
= 72,82 menit -1
5. Nilai RPM dengan beban 100 gram (RPM60)
RPM100 =
=
= 65,08 menit -1
Viskositas () Gom Arab dengan menggunakan Viskometer Stormer
1. dengan beban 60 gram
=

41 cP
2. dengan beban 80 gram
=
=
= 219,60 cP
3. dengan beban 100 gram

=
=
= 267,29 cP
4. dengan beban 80 gram
=
=
= 238,09 cP
5. dengan beban 60 gram
=
=
= 199,80 cP
Viskositas () HPMC dengan menggunakan Viskometer Brookfield
1. pada RPM12
= skala x factor
= 20,50 x 25
= 512,50 cP
2. pada RPM30
= skala x factor
= 46,60 x 10
= 466,00 cP
3. pada RPM60
= skala x factor
= 89,00 x 5
= 445,00 cP
4. pada RPM 30
= skala x factor
= 50.9 x 10
= 509,00 cP
5. pada RPM 12
= skala x factor
= 21,50 x 25
= 537,50 cP
Gaya (F) HPMC
1. F pada RPM12
F = skala x KV
= 20,50 x 673,70
= 13.810,85 dyne/cm2
2. F pada RPM30

F = skala x KV
= 46,60 x 673,70
= 31.394,42 dyne/cm2
3. F pada RPM60
F = skala x KV
= 89,00 x 673,70
= 59.959,30 dyne/cm2
4. F pada RPM 30
F = skala x KV
= 50,90 x 673,70
34.291,33 dyne/cm2
5. F pada RPM 12
F = skala x KV
= 21,50 x 673,70
= 14.484,55 dyne/cm2

VIII.

Satuan untuk viskositas () adalah centipoises (cP, dalam jamak cps)


Satuan untuk gaya (F) adalah dyne/cm2
Satuan untuk RPM adalah menit -1
Pembahasan
Rheologi dalam sediaan farmasi berguna untuk menentukan sifat alir dari suatu zat yang
digunakan untuk membuat Produk sediaan farmasi
Viskometer Brookfield dan Stormer termasuk ke dalam viskometer banyak titik yang dapat
digunakan untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton dan non Newton.
Pada percobaan ini digunakan cairan minyak nabati (Olive oil) sebagai cairan Newton yang
dicari nilai viskositasnya dengan menggunakan Viskometer Brookfield. Viskositas yang didapat
dari Viskometer Brookfield digunakan untuk menentukan nilai KV dari Viskometer Stormer.
Pada percobaan dengan menggunakan Viskometer Brookfield, penggunaan spindel harus
menyesuaikan dengan kekentalan suatu bahan yang diuji. Ada 4 bagian, yaitu: Spindel 1-4
(semakin besar no spindel, semakin kecil bentuk fisiknya).Spindel no.1 untuk cairan dengan
viskositas rendah (encer), no. spindel yang lebih besar untuk cairan yang lebih tinggi
viskositasnya (lebih kental).
Pada Viskometer Brookfield terdapat 3 komponen penting dalam pengukuran viskositas yaitu
RPM, skala, dan nomor spindel. Pada saat melakukan pengukuran dengan menggunakan
Viskometer Brookfield, skala yang dibaca harus 10, jika skala yang terbaca kurang dari 10,
maka pengukuran harus diulangi dengan cara menaikkan RPM nya. Dan apabila skala yang
terbaca lebih dari 100, maka pengukuran harus diulangi dengan mengganti nomor spindel yang
lebih besar. Dengan diketahuinya angka-angka dari 3 komponen tersebut kita dapat membaca
faktornya.
Pada Viskometer Stormer terdapat 3 komponen penting dalam pengukuran viskositas yaitu
waktu, putaran, dan beban. Pada saat melakukan pengukuran dengan menggunakan Viskometer
Stormer, waktu yang diperlukan hingga putaran ke-50 harus 30 detik, jika waktu kurang dari
30 detik, maka pengukuran harus diulangi dengan cara menaikkan putaran menjadi 100 kali. Dan
apabila waktu yang diperlukan lebih dari 60 detik maka bebannya yang harus ditambahkan.
Dengan diketahuinya angka-angka dari 3 komponen tersebut kita dapat menghitung nilai RPM
dan KV.

IX.

Pada saat pengulangan percobaan dengan menggunakan Viskometer Brookfield atau Stormer,
cairan yang telah diukur harus didiamkan terlebih dahulu 5 menit dengan tujuan agar cairan
tersebut dapat kembali kebentuk semula dan pengukuran dapat dilakukan secara akurat.
Pada pengukuran Olive oil menunjukan aliran Newton, itu dapat dilihat dari grafik yang apabila
diekstrapolasikan ke sumbu x, maka akan bepotongan dengan titik (0,0). Hal ini sesuai dengan
teori yang menyatakna bahwa Olive oil atau minyak nabati merupakan cairan Newton, sama
seperti air, parafin cair, bahan pelarut organik, Etil alkohol, kloroform, dan leburan vaselin.
Viskositas dengan sifat alir Newton bernilai tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak
tergantung pada kecepatan geser.
Pada pengukuran Gom Arab menunjukkan aliran non Newton yang memiliki sifat pseudoplastis,
itu dapat dilihat dari tidak ada bagian kurva yang linear, namun grafik tidak menunjukkan
kesempurnaan garis melengkung seperti teori pada aliran pseudoplastis. Hal ini mungkin
dikarenakan kesalahan pada pengukuran atau belum stabilnya cairan saat dilakukan pengukuran
ulang.
Pada pengukuran HPMC menunjukkan aliran non Newton yang memiliki sifat pseudoplastis.
Sediaan farmasi yang baik adalah mempunyai sifat alir pseudoplastis, itu dapat dilihat dari obat
sirup yang perlu dikocok sebelum digunakan, jika dikocok dengan kuat maka viskositas cairan
tersebut akan turun, sehingga ini memudahkan sirup tersebut dituang.
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Viskositas minyak nabati (Olive oil) dengan Viskometer Brookfield adalah sebesar 57,40 cps.
Kv Viskometer Stormer rata-rata yang didapat dari nilai viskositas absolut dari minyak nabati
yaitu 216,72 cps/menit.gram
Terdapat 5 nilai viskositas dari Gom Arab yang diukur dengan Viskometer Stormer yaitu:

Pada 3 titik beban yang menaik


Viskositas Gom arab pada beban 60 gram yaitu 251,41 cP
Viskositas Gom arab pada beban 80 gram yaitu 219,60 cP
Viskositas Gom arab pada beban 100 gram yaitu 267,29 cP
Pada 2 titik beban yang menurun
Viskositas Gom arab pada beban 80 gram yaitu 238,09 cP
Viskositas Gom arab pada beban 60 gram yaitu 199,80 cP
Nilai viskositas dari Gom arab tidak dapat dirata-ratakan karena mempunyai perbedaan nilai
yang berubah-ubah (selisihnya besar) sesuai dengan sifat aliran non Newton.
Terdapat 5 nilai viskositas dari HPMC yang diukur dengan Viskometer Brookfield yaitu:
Pada 3 titik RPM menaik
Viskositas HPMC pada RPM 12 yaitu 512,50 cP
Viskositas HPMC pada RPM 30 yaitu 466,00 cP
Viskositas HPMC pada RPM 60 yaitu 445,00 cP
Pada 2 titik RPM menurun
Viskositas HPMC pada RPM 30 yaitu 509,00 cP
Viskositas HPMC pada RPM 12 yaitu 537,50 cP

X.

Nilai viskositas dari HPMC tidak dapat dirata-ratakan karena mempunyai perbedaan nilai yang
berubah-ubah (selisihnya besar) sesuai dengan sifat aliran non Newton.
minyak nabati mempunyai sifat alir Newton dengan grafik linear.
Gom Arab dan HPMC berdasarkan percobaan mengikuti sifat alir non Newton.
Gom arab mempunyai sifat plastis dan HPMC mempunyai sifat pseudoplastis.
Daftar Pustaka
Martin, Alfred dkk. 1990, Farmasi Fisika edisi ketiga, Jakarta: UI-Press
J.Sinko, Patrick. 2012, Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika, Jakarta: EGC
Ansel, H.C. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat. Jakarta.UI Press.
Diposkan oleh @SusantocR7 di 18.04
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar

Laporan Resmi Farmasi Fisika (Penentuan Viskositas Larutan Newton Dan


Larutan Non Newton)
PENENTUAN VISKOSITAS LARUTAN NEWTON DAN LARUTAN NON NEWTON
A.
1.
2.
3.

TUJUAN
Mampu menentukan viskositas larutan Newton dengan Viskosimeter Ostwald.
Mampu menjelaskan pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan Newton.
Mampu menentukan sifat alir beberapa cairan dengan viskosimeter stormer

B.

DASAR TEORI
Istilah reologi berasal dari bahasa yunani rheo (menggalir) dan logos (ilmu penggetahuan).
Digunakan oleh Bingham dan Crawford untuk memberikan aliran zat cair dan deformasi zat
padat. Visositas adalah suatu ungkapan yang menyatakan tahanan yang mencegah zat cair untuk
mengalir. Makin tinggi viskositasnya, makin besar tahanannya. Zat cair sederhana dapat

diberikan dengan viskositas absolut. Tapi sifat-sifat reologik dari sistem dispersi heterogen lebih
kompleks dan tidak dapat dinyatakan dengan satuam tunggal.
Dalam tahun-tahun terakhir ini, prinsip-prinsip dasar reologi telah digunakan untuk mempelajari
cat, tinta, adonan, bahan-bahan pembanggun jalan, kosmetik, produk sehari-hari dan lain-lain
bahan.

Scott-Blair

menyadari

pentingnya

reologi

dalam

farmasi

dan

mengusulkan

penggunaannya didalam formulasi dan analisa produk farmasi emulsi, pasta, suppositoria dan
dragee (tablet bersalut).
(Moechtar, 1989)
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai berikut : sistem
Newton dan sisten non Newton. Pemilihan bergantung pada sifat-sifat alirannya apakah sesuai
dengan hukum aliran dari Newton atau tidak.

SISTEM NEWTON
Perbedaan kecepatan (dy) antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil
sekali (dr) adalah perbedaan kecepatan atau nate of shear, dy/dr. Gaya persatuan luas F/A
diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini disebut Shearing Stress. Makin besar viskositas suatu
cairan akan makin besar pula gaya persatuan luas (Shearing Stress) yang diperlukan untuk
menghasilkan suatu nate of shear tertentu.
SISTEM NON NEWTON
Non Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton,
dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair, salep dan
produk-produk serupa masuk dalam kelas ini. Jika bahan-bahan non Newton dianalisis dalam
suatu viskometer putar dan hasilnya diplot, diperoleh bagian kurva konsistensi yang
menggambarkan adanya 3 kelas yaitu : plastis, pseudoplastis dan dilatan.
(Martin, 1995)
PENGUKURAN VISKOSITAS
Koefisien viskositas secara umum diukur dengan 2 metode :
1. Viskometer Ostwond
Waktu yang di butuhkan untuk mengalirnya sejumlah tertentu cairan dicatat dan dihitung
dengan hubungan:

2. Metode Bola Jatuh

Menyangkut gaya gravitasi yang seimbang dengan gerakan aliran pekat, dan hubungannya
denganya adalah:

Dalam viskometer Ostwold, air membutuhkan waktu 25 detik untuk mengalir melalui tanda
bawah dan atas.
(Dogra, 2008)
C. ALAT dan BAHAN
Alat
1. Viskosimeter Ostwald

7. Piknometer

2. Bekerglass 250 ml

8. Baskom

3. Batang pengaduk

9. Termometer

4. Pipet Ukur 5 ml

10. Viskosimeter Stormer

5. Stopeatch

11. Anak Timbangan

6. Pro Pipet
Bahan
1. Alkohol

4. Larutan gula 20%, 40%, 60% dan x%

2. Aquadest

5. Larutan CMC 1%

3. Es batu

6. Larutan CMC 0,1% dengan veegum 2%

D. CARA KERJA SKEMATIS


a.

Penentuan Viskositas Larutan Newton

Ditentukan kerapatan dari cairan (aquadest, alkohol dan larutan gula 20%,
40%, 60% dan x%) dengan menggunakan alat Piknometer

Dihitung secara teoritis viskositas larutan gula 45%.


b. Penentuan Viskositas Larutan non Newton
Ditent
2. Penentuan kerapatan zat cair
ukan
sifat
alir zat
(laruta
n
CMC
1%
dan
larutan
CMC
0,1%
dengan
veegu
m 2%
mengg
unakan
viskosi
tas

1. Penentuan volume picnometer pada suhu percobaan


Ditimbang picnometer yang bersih dan kering dengan seksama
Diisi picnometer dengan aquadest hingga penuh, ditutup kapilernya
Direndam dalam air es hingga suhunya turun kira-kira 20 C
dibawah suhu percobaan
Ditambahkan aquades hingga piknometer kembali penuh
Diangkat dari air es, dibiarkan suhu naik hingga suhu percobaan,
kemudian tutup pipa kapiler dengan cepat
Diusap air yang menempel, kemudian ditimbang dengan seksama
Dilakukan penimbangan zat cair yang akan dicarikan kerapatannya
dengan piknometer sama dengan percobaan 1. Ditentukan dengan
viskositas cairan-cairan tersebut dengan viskosimeter Ostwold,
dengan cara dimasukkan 3,0 ml cairan dalam viskosimeter
Ostwold, dihisap hingga cairan berada diatas garis batas. Dihitung
waktu yang dibutuhkan oleh cairan untuk turun ke bawah melewati
2 tanda batas.

Stomer.
Dikalibrasi alat menggunakan aquadest
Ditentukan beban pada saat rotor mulai berputar
Dicatat beban awal sebagai titik 0
Dilakukan penambahan berat beban anak timbangan tiap kali 5-10
gram (agar terjadi aliran tubuler) dan kecepatan putar rotor
melaampaui 150 rpm
Ditentukan waktu yang diperlukan rotor untuk memutar 25x
putaran untuk menghitung kecepatan tersebut

E. HASIL PERCOBAAN
A. Penentuan Viskositas Larutan Newton dengan Viskosimeter Ostwald
tpercobaan
: 30o C
air
: 0,99567 g/ml
Vpiknometer
: 34,3540 ml
Bobot

Kerapatan
Bobot

pikno

pikno + zat

(g/ml)

alir (dt)

Air
Alkohol
Larutan

kosong (g)
34,3540
34,3540
34,3540

(g)
58,9433
56,2663
60,5489

0,99567
0,8915
1,0698

gula 20 %
Larutan

34,3540

62,3914

gula 40 %
Larutan

34,3540

gula 60 %
Larutan

34,3540

Zat

Waktu

Viskositas ()

Log

12
27
17

0,7975
1,6066
1,2138

0,0841

1,1298

29

2,1869

0,3398

64,0931

1,1960

68

5,4284

0,7347

62,0788

1,1177

30

2,2381

0,3499

gula x %

B. Penentuan Viskositas Larutan non-Newton dengan Viskosimeter Stromer


1. Larutan CMC 1%
Beban (gram)
Beban awal :
+ 10
20
30
40
50
40
30
20
10
0

t (menit)

Rpm

0,55
0,275
0,18
0,15
0,18
0,275
0,55
-

45,45
90,91
136,36
166,67
136,36
90,91
45,45
-

2. Larutan CMC 0,1 % dengan veegum 2 %


Beban (gram)
Beban awal :

t (menit)

rpm

+10

20

30

0,25

100

40

0,16

150

50

0,17

214,3

40

0,16

150

30

0,25

100

20

10

F. PERHITUNGAN
A. Penentuan Viskositas Larutan Newton dengan Viskosimeter Ostwald
Kerapatan ()
1. Air
t percobaan = 30C
Kerapatan air
air 30C = 0,99567
Bobot piknometer + air
Bobot piknometer kosong
Bobot air

= 58,9433 g
= 33,3540 g
= 25,5893 g

V. piknometer

= V. Air
=

= 25,7006 mL
(bobot pikno + zat) (bobot pikno kosong)
=
58,9433 33,3540
= 25,5893 gram
Kerapatan air
= = 0,9957 mL-1
2. Alkohol
Bobot pikno kosong
Bobot pikno + alkohol
Bobot alkohol
Kerapatan
=
= 0,8915 g/ml

= 33,3540 g
= 56,2663 g
= 22,9123 g
=

3. Larutan gula 20 %
Bobot pikno kosong
Bobot pikno + lar. gula 20%
Bobot lar. Gula 20%
Kerapatan
=
= 1,0698 g/ml
4. Larutan gula 40 %
Bobot pikno kosong
Bobot pikno + lat. gula 40 %
Bobot lar. Gula 40 %
Kerapatan
=

= 33,3540 g
= 60,8489 g
= 27,4949 g
=

= 33,3540 g
= 62,3914 g
= 29,0374 g
=

= 1,1298 g/ml
5. Larutan gula 60 %
Bobot pikno kosong
Bobot pikno + lar. gula 60 %
Bobot lar. Gula 60 %
Kerapatan
=
= 1,1960 g/ml
6. Larutan gula x %
Bobot pikno kosong
Bobot pikno + lar gula x %
Bobot lar. Gula x %
Kerapatan
=
= 1,1177 g/ml

= 33,3540 g
= 64,0931 g
= 30,7391 g
=

= 33,3540 g
= 62,0788 g
= 28,7248 g
=

Viskositas
air
: 0,7975 (pada suhu 300C)
tair
: 12 detik
air
: 0,99567 g/ml
=
1. Alkohol
=
19,1962
zat

=
=
=

11,94804 . zat
1,6066 g/cm det

2. Larutan gula 20 %
=
14,5038
=
11,94804 . zat
zat
=
=
1,2138 g/cm det
3. Larutan gula 40 %
=
26,1294
=
zat
=
=
4. Larutan gula 60 %
=
64,8591
=
zat
=
=

11,94804 . zat
2,1869 g/cm det
11,9480 . zat
5,4284 g/cm det

5. Larutan gula X %
=
26,7409
=
11,9480 . zat
zat
=
=
2,2381 g/cm det

Perhitungan prosentase larutan gula x % (konsentrasi larutan gula Vs log Viskositas)


Konsentrasi
20%
40%
60%

A
B
r
Maka,

= - 0,2644
= 1,6265
= 0,9925
y
0,3499
0,6143
X

Viskositas
1,2138
2,1869
5,4284

log
0,0841
0,3398
0,7347

y = 1,6265 x 0,2644
= bx + a
= 1,6365 x + (- 0,2644)
= 1,6265 x
= 0,3777

Jadi prosentase larutan gula x sebesar 37,78 %


Untuk kadar 45 %
Maka, y

= bx + a
= (1,6365 . 0,45) + (- 0,2644)
= 0,7319 0,2644
= 0,4675
= log.
= anti log. Y
= 2,9343

B. Penentuan viskositas larutan non-Newton


1. Larutan CMC 1%
rpm

= , karena sudah dalam menit maka tidak perlu dikalikan 60.

Pada beban 20 g ; t = 0,55 menit ; rpm

= = 45,45 rpm

Pada beban 30 g ; t = 0,275 menit ; rpm

= = 90,91 rpm

Pada beban 40 g ; t = 0,18 menit ; rpm

= = 136,36 rpm

Pada beban 50 g ; t = 0,15 menit ; rpm

= = 166,67 rpm

Pada beban 40 g ; t = 0,18 menit ; rpm

= = 136,36 rpm

Pada beban 30 g ; t = 0,275 menit ; rpm

= = 90,91 rpm

Pada beban 20 g ; t = 0,55 menit ; rpm

= = 45,45 rpm

2. Larutan CMC 1 % dengan veegum 2 %

Pada beban 30 g ; t = 0,25 menit ; rpm

= = 100 rpm

Pada beban 40 g ; t = 0,16 menit ; rpm

= = 150 rpm

Pada beban 50 g ; t = 0,17 menit ; rpm

= = 214,3 rpm

Pada beban 40 g ; t = 0,16 menit ; rpm

= = 150 rpm

Pada beban 30 g ; t = 0,25 menit ; rpm

= = 100 rpm

GRAFIK
Larutan Gula
Larutan CMC 1 %
Larutan CMC 1 % dengan veegum 2 %

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan dengan penentuan viskositas larutan newton dan
non newton. Percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan viskositas larutan Newton dengan
viskositas Ostwald. Dapat menjelaskan pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan
Newton dan mampu menentukan sifat alir beberapa cairan dengan viskosimeter stormer.
Berdasarkan viskositasnya, penggolongan bahan dibagi atas 2 tipe aliran, yaitu sistem newton
dan non newton.
Rheology adalah ilmu yang mempelajari sifat aliran zat cair atau deformasi zat padat. Pada
dasarnya rheologi mempelajari hubungan antara shearing sterss dengan kecepatan gesek pada
cairan atau hubungan strain dan deformasi yaitu sistem Newton dan sistem non Newton. Sistem
non Newton terbagi menjadi 3 kelas : Plastis, Pseudoplastis, dan Dilatan. Viskositas adalah
ukuran resistensi atau tahanan suatu zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zat cair

untuk mengalir, maka semakin besar

pula viskositasnya. Berdasarkan viskositasnya,

penggolongan bahan dibagi atas 2 tipe aliran, yaitu sistem newton dan non newton. Viskosimeter
Ostwald digunakan untuk larutan Newton karena mempunyai aliran lurus tetapi tidak dapat
digunakan untuk Non Newton karena sifat alirnya tubuler / zig-zag. Dimana untuk sistem newton
yang dilakukan pada percobaan berdasarkan bahan adalah air, alkohol, serta larutan gula dengan
berbagai konsentrasi, yaitu 20%, 40%, 60%, serta larutan gula sebagai pengukuran terhadap
berat zat. Sedangkan untuk sistem non newton digunakan CMC dan veegum yang biasa
digunakan sebagai surfaktan emulsi. Viskosimeter ostwald sebagai pengukuran kekentalan
berdasarkan waktu untuk mengalirnya suatu zat cair, viskositas dapat diketahui dengan
membandingkan viskositas zat dengan viskositas air yaitu dengan membandingkan BJ zat dan
waktu alir zat, maka terlebih dahulu dicari BJ zat menggunakan piknometer.
Sebelum menentukan viskositas suatu cairan terlebih dahulu ditentukan kerapatan masingmasing cairan yang diuji dengan menggunakan piknometer. Piknometer yang digunakan harus
kering dan bersih agar didapat bobot piknometer yang sebenarnya. Pertama dengan menimbang
piknometer yang kosong dan kering beserta tutup dan termometernya. Tujuannya agar dapat
diketahui berapa berat pikno ketika kosong sehingga dapat dicari berat dari cairan yang akan
ditimbang dengan piknometer. Setelah didapat berat dari piknometer kosong maka piknometer
kemudian dapat diisi dengan aquadest hingga terisi dengan penuh, sebelum ditimbang
piknometer dibersihkan terlebih dahulu agar aquadest yang menempel diluar piknometer dapat
dibesihkan agar tidak mempengaruhi penimbangannya. Suhu dalam piknometer yang telah diisi
cairan diturunkan 2C dibawah suhu percobaan (30C), yang bertujuan agar suhu zat/cairan di
dalam piknometer sesuai dengan suhu yang tertera didinding kaca piknometer yang berarti pada
suhu itulah volume zat pada piknometer benar-benar penuh. Kemudian dihangatkan agar suhu
kembali pada suhu percobaan. Tutup kapiler yang semula terbuka ditutup secepatnya agar suhu
zat cair tersebut sama dengan suhu pada piknometer. Persamaan antara T piknometer dengan T
air (percobaan) dimaksudkan untuk mempermudah perhitungan, karena kerapatan (air) yang
digunakan sebagai pembanding diketahui pada T percobaan.
Untuk menentukan viskositas larutan dilakukan dengan mengambil masing-masing 5 mL.
Larutan yang dimasukkan dalam viskosimeter Ostwald (bersih dan kering) atau sebelum
percobaan viskosimeter Ostwald dibilas dengan cairan yang akan digunakan agar viskositas
yang dihitung adalah murni dari sampel. Pada viskosimeter Ostwald cairan dihisap sampai keatas
sampai pada garis batas atas dari viskosimeter Ostwald agar memudahkan dalam menghitung

waktun alir sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat. Dalam hal ini air digunakan sebagai
pembanding yang waktu alirnya ditentukan dari viskosimeter Ostwald. Kemudian kerapatan dan
viskositasnya dari tabel pada suhu percobaan.
Untuk mengetahui viskositas cairan dicari dengan interpolasi / membandingkan viskositas
air dikali kerapatan dan waktu alir zat dengan kerapatan air dan waktu alir air.
zat = air =
Dalam percobaan dapat diketahui hal-hal yang dapat mempengaruhi viskositas suatu larutan
adalah tingkat kepekatan, kerapatan, dan waktu alir. Hal yang harus diperhatikan adalah alat
harus tegak lurus, penekanan stopwatch harus benar dan tepat serta saat pengukuran waktu alir,
pompa hisap harus dilepas karena akan mempengaruhi tekanan. Cairan dihisap dengan karet
hisap hingga cairan berada di atas garis batas. Perhitungan waktu selesai ketika cairan telah
melewati garis batas bawah.Secara praktik dan teoritis tingkat kadar suatu larutan berbanding
lurus dengan viskositasnya.
Hal ini dikarenakan
kerapatan =
Kadar =
Sehingga dapat disamakan kerapatan, dan kerapatan zat berbanding lurus dengan viskositas
zat tersebut. Sehingga kadar suatu zat juga berbanding lurus dengan viskositas zat tersebut.
Semakin besar kadar suatu larutan maka semakin besar pula viskositas kelarutannya.
Untuk menghitung larutan % dan viskositasnya menggunakan sistem regresi linier dengan
memasukkan data sebagai % larutan gula dan y sebagai log dari viskositas. Sehingga diperoleh
persamaan : y = 1,6265 x 0,2644, sehingga penentuan viskositas larutan gula % = 2,2381
dengan waktu alir 30 detik diperoleh kadar viskositas larutan gula % adalah 37,78 %. Dari
hasil percobaan diperoleh sesuai dengan teori yaitu semakin tinggi kadar maka viskositasnya
juga semakin tinggi.
Persamaan grafik diambil dari hubungan antara logaritma viskositas dengan % kadar.
Karena dari hubungan grafik ini didapat nilai r yang mendekati nilai 1 maka garis pada kurva
semakin lurus. Dari hasil percobaan diperoleh sesuai dengan teori yaitu semakin tinggi kadar
maka viskositasnya juga semakin tinggi.
Percobaan kedua yaitu penentuan viskometer larutan non Newton Stormer. Larutan yang
dihitung viskositasnya adalah larutan CMC 1% dan larutan CMC 0,1% dengan veegum 2%. Alat
yang digunakan adalah viskosimeter stormer. Viskosimeter stormer merupakan viskositas cup
and bob. Alat di kalibrasi terlebih dahulu dengan aquadest agar dapat menentukan pada beban
awal berapa viskosimeter dapat berjalan. Pada penggunaan viskosimeter stormer diletakkan pada

ruang antara cup and bob. Selanjutnya dibiarkan hingga mencapai keseimbangan. Dilakukan
kalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mengetahui pada beban berapa bob akan
memutar. Setelah dikalibrasi, larutan zat diletakan pada ruang cup dan diletakkan rotornya
kemudian diangkat naik ke atas. Beban diletakkan pada beban penggantung beban dan ditambah
anak timbang tiap 10 gram. Hal ini bertujuan untuk menghitung waktu yang diperlukan oleh
larutan untuk memutar rotor sebanyak 25x putaran. Setelah itu kunci pengait dibuka secara
bersamaan dengan menekan tombol start dan stopwatch untuk menghitung waktu dalam 25
putaran. Beban awal sebagai titik 0. Penambahan berat beban (anak timbangan) setiap 10 gram
tidak terjadi aliran tuburan, serta kecepatan putaran rotor jangan sampai melampaui 150 rpm (10
detik/25x putaran). Aliran tubuler adalah tidak adanya keteraturan dalam lintasan fluidanya,
aliran banyak bercampur, kecepatan tinggi dan viskositasnya rendah. Ternyata bob masih
berputar pada beban 40 gram, dan pada beban 10 gram bob tidak dapat berputar. Jarum petunjuk
pada viskosimeter diarahkan pada angka nol (angka mempengaruhi perhitungan) dan zat cair
dimasukkan dalam cup sebelum mencapai mulut cupnya agar cairan tidak tumpah saat bob
dimasukkan.
Klip pada viskosimeter stormer ditekan agar roda berputar. Waktu untuk rotor berputar 0-25,
dicatat waktunya dengan penambahan beban berturut-turut hingga mencapai beban 50 gram dan
dilakukan percobaan yang sama dengan mengurangi beban 10 gram berturut-turut hingga
kembali ke beban awal. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sifat aliran zat yang diuji. Zat yang
diuji pada percobaan ini adalah larutan CMC 1% dan larutan CMC dengan Veegum 2%. Untuk
menentukan viskositas kedua larutan uji diukur dengan mengukur waktu yang dibutuhkan
larutan untuk melakukan gerakan gravitasi secara vertikal. Untuk menentukan viskositas larutan
(rpm) larutan digunakan rumus :
rpm = x 60 dimana t adalah waktu (detik)
Saat bob berputar ketikan diberi beban yang putarannya selama 25 kali, hasil menunjukkan
bahwa kenaikan tahanan terhadap aliran dengan bertambah kecepatan geser adalah :
1. Semakin banyak beban yang ditambahkan maka jumlah putaran semakin banyak, tatapi waktu
ya ng diperlukan sedikit
2. Semakin tinggi viskositas suatu larutan maka jumlah aliran lebih kecil dari larutan dengan
kekentalan kecil
Pada sistem Non Newton alat yang digunakan harus mampu bekerja pada macam-macam
kecepatan geser untuk memperoleh reogram lengkap untuk sistem tersebut.

Untuk sampel CMC 1% diperoleh data yang menunjukkan semakin berat beban yang
diberikan menyebabkan rotor berputar semakin cepat, artinya semakin tinggi shearing stress,
viskositas menurun. Ketika beban dikurangi, rotor berputar semakin lambat, artinya pengurangan
shearing stress diiringi peningkatan viskositas . Berdasarkan hal ini, dan gambar grafik yang
diperoleh, sampel 1% mempunyai tipe tiksotropi pseudoplastis. Sampel kedua campuran CMC
0,1% dengan veegum 2%, tipe aliran sampel ini adalah anti tiksotropsi pseudoplastis dilihat dari
grafik.

H. KESIMPULAN
1. Yang mempengaruhi viskositas adalah tingkat kerapatan, tingkat kepekaan, dan waktu alir
2. Zat cair yang diuji pada sistem Newton adalah air, alkohol, larutan gula 20% 40% 60% dan %
3. Konsentrasi semakin tinggi, maka waktu alirnya semakin lama dan viskositasnya semakin
4.
5.

tinggi. Larutan gula 60% memiliki viskositas tertinggi dan air sebaliknya
Larutan gula x mempunyai kadar 37,78 % dengan viskositasnya sebesar 2,2381 g/cm det
Larutan yang diuji pada sistem Non Newton = Larutan CMC 1% dan larutan CMC 0,1 %

6.

dengan veegum 2%
Semakin berat beban yang diberikan pada viskosimeter stormer maka semakin cepat putarannya

7.
8.

waktun yang dibutuhkan semakin sedikit


Semakin tinggi viskositas larutan Non Newton maka semakin kecil sifat alirnya
Pada percobaan diperoleh tipe aliran tiksotropi pseudoplastis untuk larutan CMC 1% dan aliran
anti tiksotropsi pseudoplastis pada larutan CMC 1% dengan veegum 2%.

I.

DAFTAR PUSTAKA
Dogra, S dan Dogra S.K, 2008, Kimia Fisika dan Soal-Soal, UI press,
Jakarta.
Martin, A, 1995, Farmasi Fisika Edisi Tiga jilid 2, UI press, Jakarta.
Moechtar, Drs. Apt, 1989, Farmasi Fisika, UGM press, Yogyakarta.