Anda di halaman 1dari 4

PERALATAN ZAMAN PRASEJARAH

1. MOKO
Moko adalah semacam nekara dari zaman
perundagian yang banyak ditemukan di Alor dengan
bentuk kecil tapi memanjang. Nekara ialah semacam
berumbung dari perunggu yang berpinggang di
bagian tengahnya dan sisi atapnya tertutup dan
terdapat pola hias yang beraneka ragam. Pola hias
yang dibuat yaitu pola binatang, geometrik, gambar
burung, gambar gajah, gambar ikan laut, gambar
kijang, gambar harimau, dan gambar manusia.
Hiasan-hiasan yang ada pada nekara di Alor ini
merupakan hiasan jaman Majapahit.
Moko ataudisebut nekara perunggu merupakan benda budaya zaman
pra-sejarah. Menurut para ahli Arkeologi dan sejarah, teknologi pembuatan
Moko Alor berasal dariteknologi perunggu di Dongson, Vietnam bagian Utara
Kemudian teknologi inimenyebar ke berbagai daerah di Asia Tenggara,
termasuk ke pulau Alor. Secarafisik, moko berbentuk seperti drum dengan
diameter 40 sentimeter hingga 60sentimeter dan tinggi 80 sentimeter hingga
100 sentimeter dan memiliki bentukyang beragam. Pada umumnya Moko
berbentuk lonjong seperti gendang kecil,namun ada pula yang berbentuk
gendang besar. Pola hiasannyapun bermacam-macamtergantung jaman
pembuatannya dan sangat mirip dengan benda-bendaperunggu di Jawa pada
jaman Majapahit. Dalam penggunaannya, Moko memilikiberbagai fungsi.
Namun dahulu, Moko berfungsi sebagai alat musik tradisionalyang digunakan
pada waktu upacara adat dan acara kesenian lainnya. Biasanyaalat musik
gong dan Moko dimainkan untuk mengiringi tari-tarian tradisional. Selain
sebagai alat musik tradisional, Moko juga berfungsi sebagai alat
tukarekonomi masyarakat Alor.
2. KAPAK GENGGAM
Kapak genggam yang disebut pebble
atau
kapak
genggam
Sumatera
(Sumeteralith) sesuai dengan tempat
penemuannya. Kapak tersebut terbuat dari
batu kali yang dibelah dua dan teksturnya
masih kasar. Kapak lain yang ditemukan
pada zaman ini adalah bache courte
(kapak pendek) yang berbentuk setengah lingkaran seperti kapak genggam
atau chopper.

3. KJOKKENMODDINGER
Kjokkenmoddinger
adalah
sampah
dapur dari zaman
mesolitikum
yang
ditemukan
di
sepanjang
pantai
timur
Pulau
Sumatera. Menurut
penelitian oleh Dr. P. V. van Stein Callenfels
pada tahun 1925, kehidupan manusia pada
saat itu bergantung dari hasil menangkap
siput dan kerang karena ditemukan
sampah kedua hewan tersebut setinggi 7 meter. Sampah dengan ketinggian
tersebut kemungkinan telah mengalami proses pembentukan cukup lama,
yaitu mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Di antara tumpukan sampah
tersebut juga ditemukan batu penggiling beserta landasannya (pipisan) yang
digunakan untuk menghaluskan cat merah. Cat tersebut diperkirakan
digunakan dalam acara keagamaan atau ilmu sihir. Di tempat itu juga
ditemukan banyak benda-benda kebudayaan seperti Berdasaran pecahan
tengkorak dan gigi yang ditemukan pada Kjokkenmoddinger, diperkirakan
bahwa manusia yang hidup pada zaman mesolitikum adalah bangsa Papua
Melanesoide.(nenek moyang suku Irian dan Melanesoid).
4. ALAT DARI TULANG
Salah satu alat peninggalan zaman
paleolithikum yaitu alat dari tulang
binatang. Alat-alat dari tulang ini termasuk
hasil kebudayaan Ngandong. Kebanyakan
alat dari tulang ini berupa alat penusuk
(belati) dan ujung tombak bergerigi. Fungsi
dari alat ini adalah untuk mengorek ubi dan
keladi dari dalam tanah. Selain itu alat ini
juga biasa digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan.
Tulang yang panjang lagi besar mungkin bisa menjadi pemukul, lainnya
dipotong menjadi bentuk yang berguna, menjadi pisau, panah, tombak
bahkan menjadi mata kail, sendok dan jarum jahit. Pada perkembangan
selanjutnya mereka juga membuat alat musik dari tulang, seperti seruling
atau pluit, serta bahkan menjadi mainan. Beberapa alat yang cukup rumit
seperti sisir rambut, liontin dan tusuk konde berukir mungkin hadir
belakangan.

5. KAPAK PERIMBAS
Secara
umum,
kapak
perimbas
diartikan sebagai kapak yang tidak
mempunyai tangkai; digunakan dengan
cara menggenggamnya langsung oleh
tangan. Kapak Perimbas disebut juga
chopper (kapak penetak). Para Arkeolog
mengidentifikasikan Kapak Perimbas sebagai alat batu masif yang masih
kasar dalam pembuatannya.Semua batu secara kasat mata dapat
diklasifikasikan sebagai kapak perimbas jika pada tepinya menunjukan tandatanda telah digunakan. Dalam budaya kapak perimbas dikenal istilah
Oldowan, sebuah istilah para arkeolog untuk menyebut kelompok alat-alat
batu yang digunakan selama periode 2.6 Juta tahun yang lalu hingga 1.7 juta
tahun yang lalu.
Tempat temuan-temuan kapak perimbas di Indonesia eperti; di wilayah
Lahat (Sumatra Selatan), Kalianda (Lampung), Awangbangkal (Kalimantan
Selatan), Cabbege (Sulawesi Selatan), wilayah Sembiran dan Trunyan (Bali),
di Batutring (Sumbawa), di Wangka, Maumere, dan di Ruteng (Flores), dan di
wilayah Atambua, Kefanmanu, Noelbaki (NTT). Dari semua tempat temuan
kapak perimbas di nusantara, Punung (Pacitan) merupakan daerah terkaya
dan terpenting sebagai tempat diketemukannya kapak perimbas di
Indonesia.
Kapak perimbas dari budaya Pacitan bahkan oleh Heekeren dibagi dalam
beberapa jenis atas dasar ciri-ciri pokok yang sudah digolongkan Movious.
Diantaranya:
Iron-heater Chopper (tipe setrika). Tipe ini bentuknya menyerupai
setrika, berpenampang cembung, dan memperlihatkan penyerpihan
yang tegas.
Tortoise (tipe kura-kura). Tipe ini mempunyai penampang yang
membulat dengan permukaan bagian atas yang cembung dan
meninggi.
Side scraper (tipe serut samping), Tipe ini bentuknya tidak teratur,
tajamnya dibuat pada sebelah sisi.
SUMBER:
http://www.gurusejarah.com/2015/01/masa-perundagian.html
http://kupang-airport.com/detail/wisata/moko-dalam-tradisi-masyarakatalorhttps://id.wikipedia.org/wiki/Mesolitikum
http://www.wacana.co/2012/10/alat-tulang-prasejarah/
http://www.wacana.co/2009/11/kapak-perimbas/

DISUSUN OLEH:
AFIF DWIKY N.
7E/02