Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam industri pembuatan semen,komposisi bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan
semen yang berkualitas baik harus tepat. Bahan baku yang digunakan adalah batu kapur (lime stone),
tanah liat (clay), pasir besi (iron sand), pasir silika (silica sand) , dan dicampur dengan bahan adiktif.
Komposisi dari setiap material yang digunakan dalam pembuatan semen adalah batu kapur (lime stone)
80%, tanah liat (clay) 16%, pasir besi (iron sand) 1%, pasir silika (silica sand) 3%, bahan adiktif 1%.
Agar komposisi dari bahan tersebut tercapai, pada batu kapur (lime stone) dan tanah liat (clay) yang
memiliki komposisi yang besar, dibutuhkan alat penimbang agar dapat mencapai set point atau
komposisi yang tepat dalam pembuatan semen. Alat penimbang tersebut biasanya disebut Weight
Feeder.
Dalam industri pembuatan semen, weight feeder memegang peranan yang penting dalam
menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Pada prinsipnya weight feeder dapat dianggap sebagai
suatu timbangan elektris-mekanis berbentuk conveyor yang secara otomatis menentukan berat material
penyusun yang akan diumpankan ke proses. Sebagai contoh pada bagian pengolahan bahan mentah
dalam industri semen, weight feeder bertugas mencampur komponen penyusun semen seperti: batu
kapur (lime stone), tanah liat (clay), pasir besi (iron sand), pasir silika (silica sand), sebelum bahanbahan itu diumpankan ke kiln dan suspension preheater untuk proses pemanasan lanjut. Sedangkan
pada bagian finish mill, weight feeder bertugas mencampur material setengah jadi (clinker), tras,
gypsum, sebelum material tersebut digiling di finish mill.
Karenanya maka kesalahan (ketidak akuratan) kerja weight feeder dapat mengakibatkan mutu
produk yang dihasilkan kurang baik, atau rusak. Sebaliknya respon weight feeder yang akurat akan

menghasilkan suatu komposisi bahan baku penyusun produk yang mendekati desain yang diinginkan,
sehingga akan dihasilkan produk yang berkualitas baik pula. Untuk mengurangi kesalahan
(ketidakakuratan) kerja weight feeder maka perlu dilakukannya kalibrasi pada weight feeder.
1.2 Maksud dan Tujuan Praktek Kerja Lapangan
Adapun tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada POLITEKNIK KOTABARU
2. Mempraktikan secara langsung teori yang didapatkan dari bangku kuliah dilapangan.
3. Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang dunia industri.
4. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa khususnya mengenai teknologi
kelistrikan yang digunakan dalam dunia industri.
5. Sebagai bentuk aplikasi perkuliahan yang didapat khususnya dalam teknik kelistrikan.
6. Untuk melatih kemandirian mahasiswa dalam mengarungi persaingan dunia kerja diindustri.
Sehingga mahasiswa Politeknik Kotabaru memiliki mentalitas dan daya pikir yang kuat dan jauh
kedepan guna menyongsong masa depan yang lebih baik.
1.3 Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1. Bagi Mahasiswa
a. Membantu pembekalan keteranpilan dan wawasan untuk mempersiapkan diri mengenai kondisi
yang terdapat di dunia kerja secara nyata.
b. Mengetahui kondisi dan segala aktivitas yang terjadi didalam sebuah perusahaan.

c. Mengembangkan sikap profesional yang dibutuhkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja.
2. Bagi Kampus
a. Dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas baik dan siap untuk bekerja.
3. Bagi Perusahaan
a. Mendapatkan bantuan tenaga SDM sukarela, serta untuk membantu pekerjaan-pekerjaan yang
membutuhkan tenaga lebih, sehingga pekerjaan dapat lebih ringan dikerjakan tanpa harus
melakukan open recruitment.
b. Membantu menjadi sumber informasi dan ide-ide baru yang dibutuhkan perusahaan.

1.4 Batasan Masalah


Dalam kegiatan kerja praktek ini hanya membahas mengenai : kalibrasi weigh feeder, analisa
faktor-faktor penyebab error pengukuran pada weigh feeder.
1.5 Metode Penulisan
Adapun metode penulisan laporan praktek kerja lapangan ini adalah, sebagai berikut:
1. Metode Literatur
Metode literatur merupakan metode yang digunakan dengan cara mengumpulkan data tertulis
yang berkaitan dengan masalah penulisan dan matrin yang akan dibahas.
2. Metode Observasi
Metode observasi adalah kegiatan kerja di lapangan yang dilaksanakan secara langsung untuk
memperoleh data secara aktual di PT Indocement Tunggal Prakarsa Plant-12 Tarjun Kecamatan
Kotabaru.

3. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah dengan cara melakukan tanya jawab dengan karyawan untuk
memperoleh informasi yang berhubungan dengan judul yang diambil.
4. Metode Dokumenter
Metode dokumenter adalah dengan cara mengambil foto atau gambar dilapangan yang
berhubungan dengan judul yang diambil. Baik berupafoto-foto peralatan maupun proses kalibrasi.

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Perusahaan Indocement Plant 12 Tarjun


1. April 1992
Dikeluarkan izin prinsip BKPM mengenai pendirian pabrik semen dengan kapasitas 1.5 juta
ton per tahun kepada PT. Indo Kodeco Cement di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan
Selatan.
2. 1993
Dilakukan studi kelayakan pertama oleh Nihon Cement di lokasi yang direncanakan untuk
penambahan kapasitas 2.45 juta ton per tahun. Pada awal 1994 ditanda tangani oleh Join Venture
Company.
3. 19 April 1995
Sebagai tindak lanjut dari Memorandum of Underpendent ( MoU ) maka pada tanggal 19
April 1995 ditandatangani perjanjian Join Venture dengan nama PT. Indo Kodeco Cement ( PT.
IKC ) dan pada tanggal 29 Mei 1995 BKPM menyetujui penambahan kapasitas yang awalnya 1.5
juta ton per tahun menjadi 2.45 juta ton per tahun.
4. 8 Februari 1996

Upacara peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Executive Commite PT. Indo Kodeco
Cement dan upacara pemasangan tiang pancang pertama yang dihadiri oleh Duta Besar Republik
Korea, Gubernur Kalimantan Selatan dan Executive Commite PT. Indo Kodeco Cement untuk
menandai dimulainya kegiatan fisik bangunan pabrik dan pada tanggal 23 Juni 1998 Kiln Firing
pertama mulai beroperasi.
5. 30 Juni 1999
Proyek pembangunan pabrik selesai dikerjakan.
6. Januari 2000
PT. Indo Kodeco Cement ( Merger ) mulai bergabung dengan

PT.

INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk Plant12 Tarjun yang menjadi PT. Unit Produksi
Tarjun Plant12.
2.2 Latar Belakang Pendirian Pabrik
1. Kelayakan sumber daya alam di daerah Kalimantan Selatan seperti batu bara dan bahan baku semen.
2. Berdasarkan proyeksi kebutuhan semen domestik pada tahun 1995 ke depan yang tidak akan
terpenuhi oleh pabrik dalam negeri.
3. Adanya dukungan dari pemerintah daerah terhadap pembangunan pabrik

di Kotabaru,

Kalimantan Selatan.
2.3 Keuntungan Lokasi Pabrik
1. Ketersediaan bahan baku seperti : limestone, clay, iron ore dan silica yang berlebih dengan kualitas
tinggi.
2. Ketersediaan sumber energy ( coal ) yang cukup.
3. Areal yang cukup luas untuk pembangunan pabrik.
4. Tersedianya pelabuhan / terminal untuk transportasi.
Lokasi yang berada di pertengahan Kepulauan Republik Indonesia, strategis untuk kemudahan
pemasaran.

2.4 Struktur Organisasi

Gambar 2.4
Struktur Organisasi PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Plant 12 Tarjun
2.5 Strategi Bisnis
Strategi bisnis yang dilakukan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. Dengan
melakukan beberapa strategi seperti fokus pada home market, efisiensi biaya operasional, dan
meningkatkan penjualan beton siap pakai. Beberapa cara yang dilakukan perusahaan untuk
meningkatakan efisiensi biaya operasional adalah dengan penyesuaian volume produksi semen.
Perusahaan berupaya untuk mengoptimalkan dan menyesuaikan permintaan pasar dengan kapasitas dan
persediaan semen yang diproduksi. Sehingga tidak ada kelebihan persediaan semen yang beredar
dipasaran.

Optimalisasi tenaga kerja dilakukan oleh perusahaan agar karyawan dapat bekerja secara
optimal dan mengoptimalkan biaya operasional. Selain itu, perusahaan mulai meningkatkan penjualan
beton siap pakai dan lebih mentargetkan pada proyek pembangunan seperti gedung perkantoran dan
apartemen di wilayah jabodetabek yang membutuhkan beton siap pakai dalam jumlah besar.
Indocement merupakan salah satu anggota dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang terdiri
Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa, Semen Holcim Indonesia, Indocement Tunggal
Prakarasa, Semen Baturaja, Lafarge Cement Indonesia, Semen Kupang dan Semen Bosowa Maros. ASI
mempunyai standart yang digunakan oleh perusahaan - perusahaan semen yang ada di Indonesia, selain
itu ASI memiliki standart harga tertinggi dan terendah untuk penjualan semen. Strategi yang digunakan
oleh Indocement adalah selalu menjual semen rata - rata dengan harga tertinggi dengan kualitas yang
terbaik. Selain itu indocement memiliki segmentasi yang berbeda untuk tiap target pasarnya dengan
menyediakan berat isi kantong semen yang berbeda mulai dari 40 kg, 50 kg, 60 kg dan 1,5 ton.

2.6 Aspek Manajemen


1.

Aspek Produksi
Proses produksi Indocement terdiri dari 4 proses yaitu sebagai berikut :
Persiapan Bahan Baku
Bahan Baku
Limestone (Batu Kapur)
Clay (Tanah Liat)
Silica Sand (Pasir Silika)
Laterite-iron ore (Pasir Besi)

Komposisi
80 %
15%
4%
1%

Tabel 2.6aa Bahan Baku pembuatan semen

Setelah bahan baku disiapkan sesuai dengan komposisinya, batu kapur

dihancurkan

menggunakan limestone crusher dengan kapasitas 1.800 ton/ jam. Kemudian pasir besi dan tanah
liat dihancurkan di Additive Crusher dengan kapasitas 500 ton/ jam. Kemudian bahan baku
tersebut diangkut menggunakan mesin bernama Overland Belt Conveyor-OBC (4 Section) untuk
dibawa ke tempat penyimpanan.
Quarry terletak didaerah perbukitan kurang lebih 26 Km dari Plant Site yang terdiri dari :

Areal
Tambang
Limestone

Luas

Deposi
Umur Tambang

Keterangan

100 Tahun

Sesuai design

(HA)
1000

t (Ton)
360

(Batu kapur)
Clay (Tanah

1000

Juta
114

200 Tahun

Liat)
Laterite

1000

Juta
18

400 Tahun

Iron Ore

Capacity

Juta

(Pasir Besi)
Silica Sand

1000

13

48 Tahun

(Pasir Silica )
Silica Sand

99.7

Juta
2.6

10 Tahun

(Pasir Silica)
Silica Sand
(Pasir Silica)

Juta
300

Berada

di

Desa

sungai Dua
Tabel 2.6ab Luas area dan umur tambang

Penggilingan Awal
Bahan- bahan baku yang telah di simpan di tempat penyimpanan batu kapur dan pasir besi
di timbang sesuai dengan komposisi yang telah ditentukan. Setelah ditimbang bahan baku
dihancurkan menggunakan raw mill dan dikeringkan. Kemudian bahan baku yang sudah

dikeringkan disimpan ditempat penyimpanan yang bernama Homogenezing Silo atau Silo

Pengaduk.
Pembakaran
Silo yang berbentuk seperti tepung baku diumpankan kedalam api pra-pemanas bertingkat
yang kemudian dibakar didalam tanur putar. Kemudian hasil pembakaran didinginkan hingga

2.

menjadi terak. Kemudian terak tersebut disimpan kedalam tempat penyimpanan terak.
Penggilingan Akhir
Terak dengan komposisi 96% dan gypsum dengan komposisi 4 % dicampur dan

dihancurkan hingga memiliki derajat kehalusan 3.200 cm2/ g hingga menjadi semen
Aspek Keuangan
PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk mengalami penurunan pendapatan dalam hal keuangan
perusahaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah yang
mengharuskan perusahaan semen di Indonesia untuk menurunkan harga penjualan semen sekitar Rp.
3.000 per kantong 50 kilogram sehingga berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan selain itu
penurunan pendapat dipengaruhi oleh peningkatan persaingan dengan masuknya pemain baru di
industri semen, penurunan permintaan semen baik domestik maupun global yang berpengaruh pada
kelebihan pasokan semen dipasaran.
PT Indocement memiliki berbagai cara untuk melakukan transaksi dengan supplier seperti
melakukan pembayaran 30 hari setelah material tiba di pabrik sesuai dengan spesifikasi, tidak ada
kerusakan material maupun packaging, invoice lengkap dan sudah diterima di bagian accounting.
Bagian purchasing melakukan negosiasi dengan supplier agar pembayaran material yang dipesan

3.

dapat dibayarkan 30 hari setelah material tiba di pabrik.


Aspek Pemasaran
Proses pemasaran yang dilakukan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki metode
pemasaran terpusat. Pemasaran dan strategi pemasaran hanya dilakukan di Indocement Pusat yang
berada di Jakarta. Pabrik 12 yang berlokasi di desa tarjun Kalimantan Selatan hanya melakukan
distribusi semen sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh pihak Indocement Jakarta.

Pabrik 12 mendistribusikan hasil produksi ke Indonesia Bagian Timur dan untuk diekspor.
Sedangkan pabrik yang berada di citeureup dan palimanan mendistribusikan hasil produksi untuk
daerah Jawa dan Indonesia Bagian Timur.

Distribusi dilakukan dengan menggunakan Truk,

kontainer, dan Kapal.


Pemasaran yang dilakukan menggunakan beberapa cara seperti iklan melalui media
elektronik, papan iklan, melakukan tender untuk project yang berskala besar, dan melakukan
kegiatan CSR sebagai salah satu sarana untuk melakukan pemasaran. Pada tahun 2015 PT
Indocement Tunggal Prakarsa mengalami penurunan penjualan untuk pasar domestik sebesar 8 %,
sehingga dilakukan

peningkatan strategi pemasaran. Salah satu cara yang dilakukan dengan

memasang logo indocement di container dan truk pengangkut semen yang akan mendistribusikan
semen

ke

daerah-daerah

sesuai

dengan

tujuannya.

Strategi

tersebut

dilakukan

untuk

memperkenalkan semen tiga roda kepada masyarakat dan agar merek tigaroda memiliki brand
4.

equity yang kuat di masyarakat.


Aspek SDM
Dalam menjalankan bisnisnya, PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk memiliki strategi yang
dilakukan untuk menjaga kualitas mutu karyawan dan meningkatkan motivasi karyawan agar
loyalitas terhadap perusahaan. PT Indocement memiliki motto yaitu ASIST yang terdiri dari
Accountability, Strive for Excellence, Integrity, Service Mindedness, Teamwork.
Accountability adalah bagaimana karyawan dapat bertanggung jawab terhadap kewajiban dan
keinginan individu untuk menerima dan melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawab yang
telah diberikan. Strive for Excellence adalah bagaimana cara perusahaan untuk dapat meningkatkan
semangat karyawan untuk bekerja melebihi apa yang diharapkan dan dapat dicapai dengan hasil
terbaik. Integrity adalah bagaimana karyawan melakukan sesuatu secara benar, jujur, transparan, dan
patuh terhadap kesepakatan dan tetap menjaga keselarasan dalam berfikir, berkata dan bertindak.
Service Mindedness adalah sikap karyawan yang berorientasi pada pelayanan dan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan. Teamwork adalah bagaimana karyawan dapat saling bekerja sama,
memberikan umpan balik yang konstruktif, menghindari konflik pribadi, dan fokus pada usaha

untuk mencapai tujuan perusahaan. Untuk mencapai ASIST perusahaan memiliki metode untuk
mencapai motto tersebut. Berikut kegiatan yang untuk mencapai ASIST :
Memberikan training kepada seluruh karyawan. Training dilakukan setiap satu tahun sekali yang

bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan karyawan.


Memberikan dan berbagi pengetahuan melalui email.
Mengadakan gathering setiap satu tahun sekali. Tempat gathering disesuaikan dengan keinginan
dan kesepakatan karyawan, tujuan diadakannya gathering agar dapat meningkatkan loyalitas dan

kinerja karyawan terhadap perusahaan.


Mengadakan lomba pengembangan organisasi setiap satu tahun sekali. Tujuan diadakannya
pengembangan organisasi agar karyawan dapat berkontribusi dan memberikan saran terhadap

perusahaan.
Mengadakan outbond dan kegiatan lomba setiap 4 tahun sekali yang bertujuan agar karyawan
tetap berperilaku dan memegang motto ASIST

2.7 Visi dan Misi Perusahaan


1.

Visi
Pemain terkemuka dalam bisnis semen dan beton siap pakai, Pemimpin pasar di Jawa, pemain
kunci di luar jawa, memasok agregat dan pasir untuk bisnis beton siap pakai secara mandiri.

2.

Misi
Kami berkecimpung dalam bisnis penyediaan semen dan bahan bangunan berkualitas dengan
harga kompetitif dan tetap memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

2.8 Hasil Produksi


Produk yang dihasilkan oleh Indocement antara lain :

Gambar 2.7a Semen Portland Composite Cement (PCC)


PCC dibuat untuk konstruksi umum seperti rumah, bangunan tinggi, jembatan, jalan beton, beton
pre-cast dan beton pre-stress. PCC mempunyai kekuatan yang sama dengan portland cement tipe 1.

Gambar 2.7b Ordinary Portland Semen (OPC)


OPC juga dikenal sebagai semen abu-abu, terdiri dari lime tipe semen standart. Indocement
memproduksi OPC tipe I, II dan V. OPC Tipe 1 merupakan semen kualitas tinggi yang sesuai untuk
berbagai penggunaan, seperti konstruksi rumah, gedung tinggi, jembatan, dan jalan. OPC tipe II dan V
memberikan perlindungan tambahan terhadap kandungan sulfat di air dan tanah.

Gambar 2.7c Semen Sumur Minyak


OWC adalah tipe semen khusus untuk pengeboran minyak dan gas baik di darat maupun lepas
lantai. OEC dicampur menjadi suatu adukan semen dan kemudian disuntikan diantara pipa bor dan
cetakan sumur dimana semen tersebut dapat mengeras dan kemudian mengikat pada cetakannya. OWC
diproduksi dengan standart mutu sesuai API (American Petroleom Institute).

Gambar 2.7d Semen Putih


Semen putih digunakan untuk dekorasi eksterior dan interior gudang.Sebagai satu-satunya
produsen semen putih di Indonesiaan, saat ini Indocement dapat mencukupi kebutuhan semen putih
untuk pasar domestic.

Gambar 2.7e Acian Putih TR-30


Acian Putih TR-30 sangat sesuai untuk pekerjaan acian dan nat. Komposisi Acian Putih TR-30
antara lain semen putih tiga roda, kapur dan bahan aditif khusus lainnya. Keuntungan menggunakan
Acian Putih TR-30 adalah menghasilkan permukaan acian yang lebih halus, mengurangi retak dan

terkelupasnya permukaan karena mempunyai sifat plastis dengan saya rekat tinggi, cepat dan mudah
dalam pengerjaan, hemat dalam pemakaian bahan serta dapat dipergunakan untuk permukaan beton
dengan menambahkan bonding agent.

Gambar 2.7f Beton Siap Pakai


Beton siap pakai diproduksi dengan mencampur OPC dengan bahan campuran yang tepat (pasir
dan batu) serta air kemudian dikirimkan ke tempat pelanggan menggunakan truk semen untuk
dicurahkan.Sebagai nilai tambah produk, beton siap pakai mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi
dari produk semen lainnya.

Gambar 2.7g Agregat


Agregat digunakan dalam proses produksi RMC. Pengembangan di Rumpin dan Purwakarta,
Jawa barat dengan total cadangan 80 juta ton andesit.

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian Weigh Feeder


Weight feeder adalah suatu timbangan elektris-mekanis berbentuk conveyor yang secara langsung
melakukan pengontrolan berat material penyusun yag akan diumpankan ke proses produksi. Weight
feeder bertugas untuk mengatur aliran bahan baku yang akan dicampur menjadi penyusun semen
seperti : batu kapur (lime stone), tanah liat (clay), pasir besi (iron sand), pasir silika (silica sand), dan
sebelum bahan bahan tersebut diumpakan ke kiln dan suspension preheater untuk proses pemanasan
lanjut. Sedangkan pada bagian finish mill bertugas mencampur material setengah jadi (clinker), tras,
gypsum, sebelum material tersebut di giling di finish mill.

Gambar 3.1 Weigh Feeder


3.2 Prinsip Kerja Weigh Feeder
Weight feeder adalah suatu timbangan elektris-mekanis berbentuk conveyor yang secara langsung
melakukan pengontrolan berat material penyusun yang akan diumpankan ke proses produksi. Weight
Feeder diatur ke dalam operasi set point jarak jauh oleh sinyal digital dari CCR. Selama berlangsung
mode ini, controller weight feeder akan menggunakan set point remote dari CCR untuk mengontrol
kecepatan dan juga jumlah bahan baku yang masuk ke dalam ke dalam proses selanjutnya.
Ketika kecepatan dan berat beban telah mencapai set point, maka proses penimbangan berat
beban dan kecepatan akan berlangsung. Jika beban material bahan baku pada weight feeder berlebih,
motor akan berjalan lebih pelan agar menyesuaikan pada set point beban yang telah diatur. Dan apabila
beban material bahan baku pada weight feeder kurang (tidak mencapai set point), maka motor akan
berputar lebih cepat agar mencapai set point yang diinginkan.
Saat terjadi masalah pada weight feeder, maka dapat diubah ke dalam bentuk local (dapat diatur
pada lokasi weight feeder tersebut). Sehingga pada CCR harus dirubah dalam mode lokal agar dapat
diperbaiki secara manual gangguan tersebut.

Gambar 3.2 diagram blok weigh feeder


3.3 Bagian-bagian Weigh Feeder
1. Motor AC 3 Phasa
Motor AC 3 Phasa

berfungsi untuk menggerakan weigh feeder untuk mendistribusikan

material bahan baku yang berasal dari storage hall, agar dapat di proses ke tahap selanjutnya.
Kecepatan dari motor ini bergantung pada masukan dari beban yang ditimbang oleh load cell. Oleh
karena itu kecepatan motor konveyor ini dapat berjalan dengan cepat maupun lambat.

gambar 3.3a Motor AC 3 phasa


2. Load Cell
Load cell berfungsi untuk menimbang beban material bahan baku agar sesuai dengan set point
yang diinginkan oleh CCR. Sehingga komposisi dari setiap bahan baku akan seimbang dan
menghasilkan kualitas semen yang baik.

Gambar 3.3b load cell


3. Sensor kecepatan
Sensor kecepatan pada weight feeder, berupa transduser listrik yang menghasilkan frekuensi
pulsa keluaran sebanding dengan besar kecepatan sudut poros motor. Dalam weight feeder,
pemasangan sensor kecepatan bertujuan agar pengamat (ruang kontrol) dapat mengetahui kecepatan
dari putaran motor agar bahan baku sesuai set point yang diinginkan secara efisien. Hal ini mampu

menolong pengamat dalam menyeleksi akselerasi yang pas dan pengaturan rotasi mesin untuk
segala macam kondisi.

Gambar 3.3c sensor kecepatan weigh feeder


4. Controler
Controler dari weight feeder schenck ini berfungsi sebagai panel untuk pengoperasian dari
weight feeder sendiri. Controler ini digunakan untuk proses kalibrasi dari pada weight feeder.
Berikut ini merupakan gambar dari controler weight feeder schenck (341 WF2).

Gambar 3.3d controler


5. Inverter

Inverter / variable frequency drive / variable speed drive merupakan sebuah alat pengatur
kecepatan motor pengerak untuk weigh feeder dengan mengubah nilai frekuensi dan tegangan yang
masuk ke motor. pengaturan nilai frekuensi dan tegangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan
kecepatan putaran dan torsi motor yang di inginkan atau sesuai dengan kebutuhan. Secara sederhana
prinsip dasar inverter untuk dapat mengubah frekuensi menjadi lebih kecil atau lebih besar yaitu
dengan mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC kemudian dijadikan tegangan AC lagi dengan
frekuensi yang berbeda atau dapat diatur.

Gambar 3.3e Rangkaian motor dengan inverter


3.4 Transduser Pada Weigh Feeder
Dalam menjalankan proses penimbangan bahan material bahan baku, weigh feeder memerlukan
alat yang berupa transduser. Pada weigh feeder ini terdapat 2 transduser dalam membantu proses

penimbangan material bahan baku. Transduser itu adalah load cell (untuk menimbang berat material)
dan sensor kecepatan (untuk mengukur kecepatan weigh feeder).
1. Load Cell
Load Cell adalah komponen utama disistem timbangan, tingkat keakurasian timbangan
tergantung dari jenis/tipe/merek Load Cell yang dipakai, sedangkan keakurasian timbangan
menentukan efisiensi pada dunia industri. Sensor load cell apabila diberi beban pada inti besi maka
nilai resistansi di strain gaugenya akan berubah. Tingkat keakurasian dari Load Cell, harus
dilaksanakan kalibrasi menggunakan test weigh. Kalibrasi tersebut adalah untuk menyamakan
tegangan Load Cell dibandingkan dengan test weigh yang dibaca di indikator timbangan. Sebuah
Load Cell terdiri dari konduktor, strain gauge, dan wheatstone bridge.
a. Konduktor
Sebuah konduktor atau kawat memiliki sejumlah resistansi. Tergantung pada
diameternya. Semakin besar diameter, makin rendah resistansinya. Jika kita meregangkan
kawat, kawat akan berkurang diameter atau luas penampangnya, sehingga akan meningkatkan
resistansi. Demikian juga untuk sebaliknya juga sama. Jika kawat kita tekan/kompres,
diameternya akan meningkat dan resistansinya menurun. Karena itu diperlukan kekuatan
untuk perhitungan regangan atas kawat untuk proses penekanan dan peregangan tersebut,
kawat dapat dikonfigurasi untuk mengukur kekuatan konfigurasi kawat ini disebut Strain
Gauge.
b. Strain Gauge
Strain Gauge terdiri dari kawat panjang yang sangat halus yang ditenun bolak-balik
didalam suatu dalam kotak dan diletakkan diatas selembar kertas atau plastik yang disebut
basis. Sebuah kawat yang umum digunakan adalah paduan tembaga-nikel, dengan diameter
sekitar satu seperseribu inci (0,001). Kawat dibentuk zig-zag untuk membentuk suatu grid
sehingga akan meningkatkan panjang efektif dari kawat yang berada di bawah pengaruh gaya
yang diterapkan untuk itu kawat tersebut. Diletakkan diatas dan melekat ke ujung pengukur.

Strain gauges dapat dibuat sangat kecil, kadang-kadang lebih kecil dari 1 / 64 . Ini adalah
sebuah ukuran yang disemen atau dicetak ke benda logam yang kuat, biasanya disebut sebagai
beban penerima elemen, untuk membuat sebuah load cell. Alat pengukur dikonfigurasi ke
dalam rangkaian yang disebut JembatanWheatstone/wheatstone Bridge.

gambar 3.4ab strain gauge


c. Wheatstone Bridge
Jembatan wheatstone digunakan sebagai pengkondisi sinyal yang di hasilkan oleh sensor
load cell. Berikut gambar jembatan wheatstone :

gambar 3.4ac jembatan wheatstone saat seimbang


Bila daya digunakan untuk menjembatani ini, arus yang mengalir dicabang R1/R3 sama
dengan arus yang mengalir di R2/R4 cabang. Hal ini benar karena semua resistor adalah sama.
Karena tidak ada perbedaan tegangan antara titik 1 dan 2 pada aliran arus melalui ampermeter
tersebut. Jembatan ini berada dalam kondisi seimbang.

Gambar 3.4ad jembatan wheatstone saat tidak seimbang

Seperti pada gambar diatas, jembatan menjadi tidak seimbang. Sebenarnya ada tiga jalur
untuk aliran arus dalam rangkaian ini.
Jalur 1 terminal baterai negatif melalui R2 dan R4 kembali keterminal baterai positif
Jalur 2 terminal baterai negatif melalui R1 dan R3 kembali keterminal baterai positif.
Jalur 3 terminal baterai negatif melalui R2, ampermeter, R3 dan kembali ke positif
terminal baterai.
Perhatikan saat ini terdapat aliran arus melalui amperemeter tersebut. Aliran arus ini adalah
hasil dari perbedaan potensial antara poin 1 dan 2. Semakin besar beda potensial, aliran arus
semakin besar yang melalui ampermeter tersebut.
Dengan teori tentang strain gauge dan teori-teori jembatan Wheatstone, prinsip kerja Load
Cell ini terbangun. Seperti berat ditempatkan di atas garis, panjang garis akan menurun. garis ini
juga akan menjadi besar, atau menonjol keluar. Dua strain pengukur ditempatkan berlawanan satu
sama lain untuk menanggapi secara proporsional terhadap perubahan panjang. Dua alat pengukur
lainnya ditempatkan pada sisi berlawanan dari garis dan merespon perubahan tonjolan garis itu.
Sejak sepasang alat ukur regangan dipasang mereka (kawat) menjadi lebih pendek diameter kawat
menjadi lebih besar dan mengurangi resistensi mereka. Yang lainnya sepasang pengukur regangan
diposisikan yang akan memperpanjang kabel tersebut, sehingga akan menurunkan diameter dan
meningkatkan Resistansi kawat tersebut. Jika menggantungkan berat yang sama dari bagian bawah
garis, bukan menekan garis. Alat pengukur garis dan regangan akan bertindak dalam arah yang
berlawanan tapi masih dalam peregangan dan penekanan.
Load Cell harus dikalibrasi terlebih dahulu untuk membaca dalam Kilogram bukannya
ampere. Load Cell dibuat dalam berbagai bentuk dan konfigurasi. Ukuran alat strain ditempatkan
secara strategis untuk kinerja puncak. Setiap Load Cell dilengkapi dengan lembar data atau sertifikat
kalibrasi. Lembar ini memberikan data yang relevan. Lembar data disesuaikan dengan Load Cell
dengan nomor model, nomor seri dan kapasitasnya. Informasi lainnya yang ditemukan pada lembar
data kalibrasi yang khas adalah output dinyatakan dalam mV/V, tegangan eksitasi, non-linieritas,

histeresis, Zerro, resistansi input, resistansi output, pengaruh suhu pada kedua output, tahanan isolasi
dan panjang kabel. Kode warna kabel juga disertakan pada lembar data kalibrasi.
a. Sensor Kecepatan
Sensor kecepatan pada weight feeder, berupa transduser listrik yang menghasilkan frekuensi
pulsa keluaran sebanding dengan besar kecepatan sudut poros motor. Dalam weight feeder,
pemasangan sensor kecepatan bertujuan agar pengamat (ruang kontrol) dapat mengetahui kecepatan
dari putaran motor agar bahan baku sesuai set point yang diinginkan secara efisien. Hal ini mampu
menolong pengamat dalam menyeleksi akselerasi yang pas dan pengaturan rotasi mesin untuk
segala macam kondisi.
Sensor kecepatan pada weigh feeder ini bekerja dengan cara mendeteksi adanya logam yang
ada didepannya. Apabila dia mendeteksi sebuah logam maka dia akan mengeluarkan output signal I
dan apabila dia tidak mendeteksi sebuah logam dia akan mengeluarkan output sinyal O. kemudian
sinyal tersebut akan diterima oleh controler dan akan dirubah menjadi signal analog untuk dikirim
ke PLC. Kemudian PLC akan menampilkannya pada HMI.
Sensor kecepatan pada weigh feeder ini memiliki tegangan input sebesar 12v dc, dan output
signal sebesar 8v dc. Dan didalamnya ada sebuah magnet yang stator dibuat dari kumparan yang
dililitkan pada magnet permanen. Magnet inilah yang akan mendeteksi ada atau tidaknya besi yang
ada didepannya. Jarak sensor kecepatan dengan roda besi bergerigi haruslah sangat dekat, kira-kira 1
mm.

Gambar 3.4b sensor kecepatan tipe induktor

3.5 Pengertian Dasar Instrumentasi


Instrumentasi adalah kajian tentang berbagai peralatan yang tersusun dalam suatu sistem kerja
dan membentuk suatu sistem kerja dalam sistem tersebut. Sedangkan sistem instrumentasi yang
digunakan untuk melakukan pengukuran adalah untuk memberikan suatu nilai numerik yang sesuai
dengan variabel yang diukur. Sebagai contoh, thermometer dapat digunakan untuk memberikan suatu
nilai numerik dari temperatur sebuah cairan. Namun harus dipahami karena berbagai alasan, nilai
numerik ini mungkin tidak mempresentasikan nilai variabel yang sebenarnya. Jadi, dalam kasus
thermometer, sangat mungkin terdapat sejumlah error pengukuran yang disebabkan oleh keterbatasan
akurasi dalam kalibrasi skala, atau error pembacaan dikarenakan nilai pembacaan yang jatuh antara
dua tanda skala, atau mungkin juga terjadi error karena pencelupan thermometer dingin kedalam suatu
cairan panas, yang menyebabkan terjadinya penurunan temperatur cairan sehingga temperatur yang
sedang diukur pun berubah. Dengan demikian, suatu sistem pengukuran akan dipandang memiliki
masukan berupa nilai sebenarnya dari variabel yang sedang diukur, dan keluaran berupa nilai variabel
yang terukur.

Gambar 3.2 Beberapa contoh sistem instrumentasi : (a) speedometer, (b) Pengukuran Tekanan

3.6 Karakteristik Dasar Alat Ukur


Fungsi alat ukur adalah untuk meraba atau mendeteksi parameter yang terdapat dalam proses
industri atau penelitian ilmu pengetahuan seperti : tekanan temperatur aliran, gerakan, tegangan, arus
listrik, dan daya. Alat ukur harus mampu mendeteksi tiap perubahan dengan teliti dan dapat
membangkitkan sinyal peringatan yang menunjukan perlunya dilakukan pengaturan secara manual atau
mengaktifkan peralatan otomatis. Untuk mendapatkan sifat untuk kerja yang optimum maka perlu
diperhatikan sejumlah karakteristik dasar. Akan dijelaskan masing-masing karakteristik yang sesuai
untuk pengukuran.
1. Ketelitian (accuracy)
Ketelitian pengukuran atau pembacaan merupakan hal yang sifatnya relatif pada pengukuran,
ketelitian dipengaruhi kesalahan statis, kesaIahan dinamis, drift/sifat berubah, dan reproduksibilitas.
Ketelitian didefinsikan sebagai kedekatan (closeness) pembacaan terhadap harga standar yang
diterima atau harga benar.
2. Ketepatan
Karakteristik lain pada instrumen adalah ketepatan alat. Ketepatan adalah merupakan
kedekatan pengukuran masing-masing yang didistribusikan terhadap harga rata-ratanya. Maksudnya
merupakan ukuran kesamaan terhadap angka yang diukur sendiri dengan alat yang sama, jadi tidak
dibandingkan dengan harga standar/baku. Ketepatan ini, berlainan dengan ketelitian, dan ketepatan
yang tinggi tidak menjamin ketelitian yang tinggi (ketelitian dibandingkan dengan harga baku).
3. Kesalahan
Terdapat hubungan antara yang diukur (measurand) dengan output teoritis atau ideal dari
sebuah transduser. Pada transduser ideal outputnya memberikan harga yang benar. Harga output
ideal tidak memperhatikan keadaan lingkungan (ambient environ-mental) seperti kondisi instrumen
sebenarnya.

Pada kenyataannya output transduser memiliki sifat non ideal, maka terdapat deviasi yang
diukur dengan harga yang benar, perbedaan dari harga yang dibaca dengan harga yang benar disebut
kesalahan (error). Biasanya kesalahan dinyatakan dalam persen terhadap output skala penuh (full
scale output/FS). Perbandingan kesalahan ini terhadap skala penuh output adalah merupakan
ketelitian alat.
4. Linieritas
Kebanyakan transduser dirancang untuk mendapatkan output terhadap input yang diukur
dengan hubungan Iinier, pertama karena ini cenderung dapat lebih teliti. Linieritas didefinisikan
sebagai kemampuan untuk mereproduksi karakteristik input secara simetris.
5. Resolusi dan kemudahan pembacaan skala
Resolusi adalah kemampuan sistem pengukur termasuk pengamatannya, untuk membedakan
harga-harga yang hampir sama. Dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara dua besaran input
yang menghasilkan perubahan terkecil informasi output, perubahan input dilakukan secara searah.
BiIa input diubah perlahan-lahan dari sembarang harga yang bukan nol, maka pada output terlihat
tidak berubah sampai harga perubahan input tertentu dilampaui. Perubahan ini disebut resolusi.
Maka resolusi dapat didefinisikan sebagai perubahan input yang dapat memberikan perubahan
output terkecil yang dapat diukur
6. Kemampuan ulang (repeatability)
Kemampuan ulang didefinsikan sebagai ukuran deviasi dari hasil-hasil test terhadap harga
rata-ratanya (mean value).
7. Bentangan (Span)
Jangkauan (range) variabeI pengukuran pada instrumen yang direncanakan dapat mengukur
secara linier, disebut bentangan (span).

3.7 Pengertian Transduser


Transduser dapat didefinisikan sebagai suatu peranti yang dapat mengubah suatu energi ke
bentuk energi yang lain. Bagian masukan dari transduser disebut sensor, karena bagian ini dapat
mengindera suatu kuantitas fisik tertentu dan mengubahnya menjadi bentuk energi yang lain.

Gambar 3.7 masukan dan keluaran transduser


Sebenarnya, energi adalah salah satu bentuk informasi, sistem transmisi atau keadaan fisik
diteruskan ke keadaan atau sistem lain. Alat yang bersangkutan mungkin termasuk mekanik, listrik,
optik, kimia, panas, nuklir atau kombinasi dari itu. Sebagai contoh transduser mekanik misalnya
barometer dengan jarum penunjuk sebagai pemeraganya, alat ini telah lama dipakai.
Umumnya transduser mekanik mempunyai ketelitian tinggi, kokoh, harga lebih murah dan tidak
memerlukan catu daya, tetapi alat itu mungkin tidak menguntungkan bila dipakai pada pengukuran
ilmiah modern dan untuk pengaturan proses karena bekerjanya lambat, perlu gaya besar untuk
mengatasi gesekan, tidak cocok untuk pengukuran jarak jauh. Kelemahan-kelemahan itu banyak dapat
diatasi memakai transduser listrik.
3.8 Transduser listrik
Dengan transduser listrik, besaran fisika, mekanik atau optik ditransformasikan langsung menjadi
besaran listrik yang berupa tegangan atau arus sebanding dengan besaran yang diukur. Hubungan
antara input dan output merupakan fungsi tertentu yang reproduktif. Sifat input-output dan output
dengan waktu dapat diperkirakan derajat ketelitiannya, kepekaan dan ketanggapannya dalam keadaan

lingkungan tertentu. Parameter penting untuk menilai kemampuan transduser yaitu: linieritas, sifat
pengulangan, resolusi (ketajaman) dan keandalan.

Gambar 3.8 Contoh transduser listrik


Keuntungan transduser listrik ialah :
a. Output listrik dapat diperkuat menurut keperluan.
b. Output dapat dilihat dan direkam secara jarak jauh, kecuali dapat dibaca/dilihat juga beberapa
transduser dapat diproses bersama-sama.
c. Output dapat diubah tergantung keperluan pemeragaan atau mengontrol alat lain. Besarnya sinyal
dapat dinyatakan dengan tegangan atau arus. Informasi frekuensi atau pulsa.
e. Ukuran dan bentuk transduser dapat disesuaikan dengan rancangan alat untuk mendapatkan berat
serta volume optimum.
f. Dimensi dan bentuk desain dapat dipilih agar tidak mengganggu sifat yang diukur.
Walaupun adanya keuntungan-keuntungan tersebut di atas, terdapat pula. kerugian yang didapat pada
sensor/peraba listrik, yaitu menimbulkan soal pada pengukuran presisi.

Umumnya alat kurang handal dibanding dengan jenis mekanik karena umur dan drift komponen
aktif yang digunakan dapat mempengaruhi besaran listrik. Elemen sensor dan pengkondisi sinyal-sinyal
relatif mahal, beberapa hal ketelitian dan resolusi tidak setinggi alat mekanik yang dapat mempunyai
ketelitian hingga 0,01%. Tetapi sekarang dengan peningkatan teknologi dan rangkaian maka ketelitian
dan stabilitasnya naik pula.
3.9 Klasifikasi Tranduser
Semua transduser listrik dapat dibagi dalam dua katagori yaitu transduser aktif dan pasif.
Transduser aktif adalah device yang dapat membangkitkan sendiri, bekerja menuruti hukum kekekalan
energi.
Mereka dapat membangkitkan sinyal output listrik yang ekuivalen tanpa adanya sumber energi
luar. Transduser pasif bekerja berdasarkan prinsip pengontrolan energi, Mereka bekerja tergantung pada
perubahan parameter listrik (resistansi, induktansi dan kapasitansi), untuk dapat bekerja. Contoh yang
khas antara lain pemakaian strain gauge yang digerakkan sumber listrik arus searah.

Gambar 3.9a tranduser aktif

Gambar3.9b tranduser pasif

3.10 Keperluan Dasar Tranduser


Biasanya transduser dirancang untuk meraba besaran ukur yang spesifik atau hanya tanggap
terhadap besaran ukur tertentu saja. Pengetahuan yang lengkap pada karakteristik transduser listrik dan

mekanik sangat penting dalam pemilihan pemakaian transduser tertentu, misalnya dalam instrumen
suatu penelitian, dasar keperluan-keperluan itu ialah :
a. Kokoh (ruggedness) kemampuan untuk bertahan pada beban lebih, dengan pengaman yang dapat
menghentikan memakai proteksi beban lebih.
b. Linieritas, Kemampuan menghasilkan karakteristik input-output yang simetris dan Iinier, Linieritas
menyeluruh mempunyai faktor yang diperhatikan.
c. Kemampuan ulang. Kemampuan menghasilkan sinyal output yang tepat sama bila mengukur besaran
ukur sama secara berulang dalam kondisi lingkungan sama pula.
e. Stabilitas dan keandalan tinggi: Kesalahan pengukuran minimum, tidak terpengaruh temperatur,
getaran dan variasi keadaan lingkungan.
3.11 Pengertian Kalibrasi
Pengertian Kalibrasi ( Calibration ) menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of
International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan
ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui, yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi
tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukan alat ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukurnya (yang telah diketahui
nilainya) yang mampu tertelusur ( traceable ) ke Standar Nasional untuk satuan ukuran dan atau
internasional. Sedangkan, mampu tertelusur ( traceable ) menurut Dewan Standarisasi Nasional adalah
kemampuan dari suatu hasil ukur secara individu untuk dihubungkan ke Standar-standar Nasional /
Internasional untuk satuan ukuran atau sistem pengukuran yang disahkan secara Nasional maupun
Internasional melalui suatu mata rantai perbandingan yang tak terputus. Konsep ketertelusuran
pengukuran (traceability of measurement) dapat diartikan secara sederhana bahwa alat ukur yang
digunakan untuk melakukan suatu pengukuran harus terkalibrasi terhadap alat ukur lain yang sejenis

dan dapat berfungsi sebagai acuan. Alat acuan tersebut harus terkalibrasi terhadap acuan yang lebih
akurat, demikian seterusnya sehingga sampai pada acuan yang paling akurat yang biasanya adalah
Standar Nasional/Internasional. Kalibrasi akan dikatakan tertelusur bila setiap mata rantai pengukuran
yang menuju kestandar nasional terdokumentasi serta terdapat bukti mengenai siapa yang melakukan
kalibrasi, alat ukur apa yang digunakan dan bagaimana hasil kalibrasi ( koreksi dan ketidakpastian).
Setiap pekerjaan kalibrasi dalam rantai pengukuran tersebut harus dilakukan oleh organisasi yang
terbukti memiliki kompetensi teknis sebagaimana yang dipersyaratkan serta mempunyai perlengkapan
yang memadai dan menjalankan sistem mutu yang efektif.
3.12 Tujuan Kalibrasi
Adapun tujuan dari kegiatan kalibrasi secara garis besar adalah:
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat dikaitkan / ditelusur sampai ke
standar yang lebih tinggi

/teliti (standar primer nasional dan internasional), melalui

rangkaian perbandingan yang tak terputus.


2. Menentukan deviasi kebenaran konvensional nilai penunjukan suatu instrument ukur terhadap nilai
nominalnya.
3. Menjamin hasilhasil pengukuran sesuai dengan standar nasional dan internasional.
4. Menjamin dan meningkatkan nilai kepercayaan didalam proses pengukuran.
3.13 Manfaat Kalibrasi
1. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada peralatan laboratorium dan
produksi yang dimiliki.
2. Dengan melakukan kalibrasi, bisa diketahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan) antara harga
benar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.
3. Secara umum menjaga kondisi instrumen ukur/bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesifikasinya.
4. Menjaga konsistensi mutu hasil produk yang dihasilkan.

5. Mengurangi kegagalan hasil produk.


6. Meningkatkan daya saing dalam pasar global.
3.14 Prinsip Dasar Kalibrasi
Beberapa hal yang harus disiapkan sebelum kegiatan kalibrasi dilakukan adalah:
a. Obyek Ukur ( Unit Under Test )
b. Standar Ukur (Alat standar kalibrasi, Prosedur / Metode standar yang mengacu ke standar kalibrasi
internasional atau prosedur yang dikembangkan sendiri oleh laboratorium yang sudah teruji /
diverifikasi)
c. Operator/Teknisi ( Dipersyaratkan operator / teknisi yang mempunyai kemampuan teknis kalibrasi /
bersertifikat)
d. Lingkungan yang dikondisikan ( Suhu dan kelembaban selalu dikontrol, Gangguan faktor
lingkungan luar selalu diminimalkan sebagai sumber ketidakpastian pengukuran).
Hasil kalibrasi dikatakan memenuhi standar apabila berisi informasi sebagai berikut:
(a)
(b)
(c)
(d)

Nilai Obyek Ukur


Nilai Koreksi/Penyimpangan.
Nilai Ketidakpastian Pengukuran
Sifat metrologi lain,faktor kalibrasi, kurva kalibrasi.

3.15 Interval / Periode Kalibrasi


Jangka waktu atau selang waktu kalibrasi harus ditetapkan pada suatu instrumen ukur. Secara
umum selang / interval kalibrasi dapat ditentukan berdasarkan :
1. Jenis alat ukur
2. Frekuensi pemakaian
3. Stabilitas
4. Kondisi pemakaiaan
5. Batas kesalahan yang ada hubungannya dengan akurasi alat.

Selang kalibrasi biasanya dinyatakan dalam beberapa cara yaitu :


1. Dinyatakan dalam waktu kalender, misalnya 6 (enam) bulan sekali, 1(satu) tahun sekali, dst.
2. Dinyatakan dalam waktu pemakaian, misalnya 1000 jam pakai, 5000 jam pakai, dst.
3. Kombinasi cara pertama dan kedua, misalnya 6 bulan atau 1000 jam pakai,tergantung mana yang
lebih dulu tercapai.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 SOP Kalibrasi Weigh Feeder
SOP KALIBRASI WEIGHING FEEDER
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Plant 12 Tarjun
1. Nama Alat
INTECONT PLUS WEIGHFEEDER
2. Penjelasan Singkat Tentang Fungsi
Weighing Feeder adalah suatu alat kontrol otomatis untuk umpan material.
3. Syarat Pengerjaan
1. Schedule Maintenance minimal setahun sekali.
2. Permintaan oleh pihak pengguna alat.
4. Pelaksana dan Pengawas
A. Pelaksana
2 orang Instrument technician
B. Pengawas
Tidak ada

5. Peralatan dan APD yang dibutuhkan


A. Peralatan yang dibutuhkan
1 set Standart Test Chain
1 buah Stop Watch
1 set Meter Standart
1 buah Reversible Screw Driver
1 buah calculator
1 buah Adjustable Wrench
1 buah Insulation Tape
B. APD yang dibutuhkan
Helm
Sepatu Keselamatan
Masker
Sarung tangan
APD lainnya sesuai rambu yang terpasang di area kerja.
6. Prosedur Kerja
A. Persiapan sebelum memulai pekerjaan
1. Utamakan faktor keamanan dan keselamatan serta gunakan alat pelindung diri sesuai dengan
tanda tanda yang dipasang pada area kerja Weigh Feeder.
2. Pada saat melakukan pekerjaan yang menyentuh atau berdekatan dengan belt pastikan
emergency switch diaktifkan atau mengisolasi tegangan sumber untuk menghindari belt
dioperasikan pada saat melakukan pekerjaan tersebut.
3. Gunakan sarung tangan setiap kali mengangkat atau menurunkan Standart Test Chain.
4. Pada saat mengoperasikan belt pastikan tidak ada orang yang menyentuh atau sedang bekerja
didekat belt tersebut dan jika Standart Test chain diatasnya pastikan tali pengikat dan
penguncinya terpasang dengan kuat sehingga tidak terbawa oleh belt.
B. Persiapan di Panel Controler.
1. Pindahkan togle switch yang ada dalam panel Controler pada posisi kalibrasi.
2. Rubah Mode ke Start Keyboard Mode ( supaya bisa dioperasikan dari Controler ).
3. Rubah Mode ke Start Volume Mode ( Supaya bisa masuk ke program kalibrasi ).
4. Rubah Mode ke Stop Prefeeder ( supaya apron tidak ikut running ).
5. Masukkan data Nominal Feed Rate ( B 02 ) pada Set Pointnya ( P ).
C. Persiapan Belt Conveyor.
a. Ambil data belt speed actual, dengan cara sbb :
1. Ukur panjang belt.
2. Jalankan belt dan ukur belt revolution time untuk putaran yang diinginkan.
3. Hitung belt speednya dengan rumus sbb :

V = ( S x n )/t
Keterangan :

V = speed belt ( m/s )


S = panjang belt ( m )
n = jumlah putaran belt ( belt revolution )
t = waktu yang diperlukan ( s ), minimal 3 menit

b. Ambil data untuk Zero Check, dengan cara sbb:


1. Reset counter untuk melakukan Zero cek dengan tombol =0 , 1, Enter ( Angka 1 berarti
Z1 ).
2. Cek perubahan counter selama waktu yang ditentukan ( measured time ).
3. Catat errornya. Data diambil sebanyak 4 kali.
1) Ambil data untuk Span Check, dengan cara sbb:
1. Tentukan Counter yang diinginkan setiap pengecekan ( counter yang tercapai hendaknya
memerlukan waktu lebih dari 3 menit ).
2. Ukur Set Time dengan rumus sbb :
Set = Z1/{( C09 : C06 ) x B05 x 60}
Set = waktu yang diinginkan
Z1 = Counter yang diinginkan
C09 = Cek Weight
C06 = Eff. Platform
B05 = Nominal Speed
60 = untuk menjadikan satuan detik menjadi menit.
3. Naikkan standart test chain seberat Cek Weigh/Eff. Belt length (C09/C06).
4. Reset counter untuk melakukan Span cek dengan tombol
=0, 1, Enter ( Angka 1
berarti Z1 ).
5. Ukur waktu yang diperlukan weigh feeder untuk mencapai counter yang diinginkan (
Actual Time ). Bandingkan waktunya dengan set time hasil perhitungan ( Langkah 3.b. ).
Hitung errornya.
Catatan: Apabila besarnya error untuk zero cek maupun span cek lebih dari 0.5% maka weigh
feeder perlu dikalibrasi atau apabila Belt Speed Actual tidak sama dengan Nominal Belt Speed yang
tertera di parameter B05, meskipun besarnya Error Zero/Span tidak sampai 0.5%.
D. Kalibrasi.

1. Sebelum melakukan kalibrasi apabila Belt Speed Actual tidak sama dengan Nominal Belt Speed
yang tertera di parameter B05, maka speed disesuaikan dulu dengan cara merubah harga di
parameter B04 yaitu I/m dengan perhitungan sbb:
B04 ( Baru ) = B04 ( Lama ) x ( Va/Vg )
B04 ( Baru ) = harga I/m baru yang akan dimasukkan dalam Controler
B04 ( Lama )= harga I/m lama di Controler
Va = speed pada parameter B05
Vg = speed hasil pengukuran, langkah 2b.
Apabila harga B04 baru sudah dimasukkan pada paramater, speed aktual dan belt circuit time
perlu ukur ulang.
2. Masukkan hasil pengukuran belt circuit time baru ke parameter C03.
3. Masuk ke program Impulse/Belt Circuit Cek LB. Setelah program selesai, catat hasilnya. Keluar
dari menu dengan menggunakan tombol Enter. Cek data diparameter D06 untuk memastikan data
pengecekan LB sudah masuk. Masukkan data baru pada parameter D06 apabila belum.
4. Kosongkan belt dari test chain maupun kotoran lainnya.
5. Jalankan WF dan masuk ke program Taring TW. Catat hasilnya dan masukkan datanya dengan
menggunakan tombol enter.
6. Stop WF dan naikkan test chain ke atas belt.
7. Jalankan WF dan masuk ke program Weight Check CW. Catat hasilnya ( faktor koreksi ). Keluar
dari menu dengan tombol Enter. Cek data di parameter D02 untuk memastikan data faktor
koreksi sudah masuk. Masukkan data baru apabila belum.
8. Ambil data Span Check after Calibration dan hitung errornya.
9. Stop WF.
10. Rubah mode menjadi Gravimetric Mode.
11. Ubah setpoint untuk pemeriksaan linieritas masing-masing untuk 25%, 50%, 75 % dan 100%
kapasitas WF, masing masing 3 kali pengambilan data.
12. Turunkan test chain.
13. Jalankan WF dan ambil data Zero Check after Calibration dan hitung errornya.
14. Kembalikan toggle switch di panel local pada posisi normal.
Catatan: Apabila error untuk Span maupun zero melebihi 0.5% maka ulangi langkah kalibrasi.

E. Kalibrasi selesai, kembalikan kondisi WF seperti semula / sebelum kalibrasi.


4.2 Analisa Faktor- faktor Penyebab Error Pengukuran Pada Weigh Feeder
Weigh feeder adalah suatu timbangan eletris mekanis yang berguna untuk menimbang material
bahan baku. Dalam melakukan proses pengumpanan bahan baku, weigh feeder tidak mungkin selalu
presisi dalam melakukan pengukuran. Hal ini karena adanya faktor-faktor penyebab error. Sebagai
seorang teknisi instrument, kita harus bisa mengetahui faktor-faktor penyebab error pada pengukuran
dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam analisa ini, saya menggunakan diagram tulang ikan
(fishbone diagram) dalam melakukan proses analisanya. Berikut ini adalah proses analisanya.
Dalam analisa saya, saya telah mengkatagorikan sebab utama terjadinya error pengukuran pada
weigh feeder. Faktor-faktor tersebut adalah metode, pekerja, mesin/sensor, mekanis, elektris, dan
lingkungan. Kemudian faktor-faktor tersebut kita masukan dalam diagram tulang ikan.
SEBAB
Metode

Pekerja

AKIBAT
mesin
Error

Mekanis

Elektris

Lingkunga

Gambar 4.2 diagram tulang ikan


Kemudian mencari sebab-sebab potensial. Dalam mencari sebab-sebab potesial ini saya gali dari
pemikiran-pemikiran para karyawan dan pemikiran saya sendiri.
No.
1.

Kategori utama
Metode

2.

Pekerja

1.
2.
1.
2.
3.
4.
5.

Sebab-sebab potensial
SOP sulit untuk dipahami
SOP sulit untuk dilakukan
Salah membaca data
Salah menulis data
Salah memasukan data
Salah menghitung
Salah memakai rumus

3.

Mesin/sensor

6.
7.
8.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pekerjaan tidak sesuai SOP


Tidak memahami SOP
Pekerja belum terlatih
Sensor tidak sensitif
Sensor tidak akurat
Kabel sensor terkelupas
Kabel sensor putus
Kabel sensor terjepit
Kabel sensor terputar
Analog input atau output

controler bermasalah
8. Kabel sensor dipotong
9. Tidak pernah dimaintenance
4.
Mekanis
1. Elastisitas belt berubah
2. Penggantian bagian-bagian WF
3. Roller kotor
4. Rubber skirt terlalu menekan belt
5. Ada benda yang mengganjal load cell
6. Pemasangan load cell tidak seimbang
7. Salah memasang load cell
8. Load cell mendapat tekanan dari samping
9. Roda gigi tidak tepat didepan sensor kecepatan
10. Roda gigi kurang dekat dengan sensor kecepatan
Load cell

pada