Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR VERTEBRA THORACAL


A.

Definisi
Fraktur adalah diskontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan (R.Syamsuhidayat,
1997). Tanda-tanda khas terjadinya fraktur adanya krepitasi, disfungsi serta dislokasi.
Fraktur vertebra adalah terputusnya discus invertebralis yang berdekatan dan berbagai
tingkat perpindahan fragmen tulang(Theodore, 1993).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Lewis, 2000).
Fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada
tulang yang berlebihan (Brunner and Suddarth 2002).

B.

Etiologi Fraktur Vertebra


Fraktur vertebra thorakal bagian atas dan tengah jarang terjadi, kecuali bila trauma
berat atau ada osteoporosis. Karena kanalis spinal di daerah ini sempit, maka sering
disertai gejala neurologis. Mekanisme trauma biasanya bersifat kompresi atau trauma
langsung. Pada kompresi terjadi fraktur kompresi vertebra, tampak korpus vertebra
berbentuk baji pada foto lateral. Pada trauma langsung dapat timbul fraktur pada elemen
posterior vertebra, korpus vertebra dan iga di dekatnya.
Fraktur dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:
1.

Kecelakaan
Kebanyakan fraktur terjadi karena kecelakaan lalu lintas

2.

Cidera olah raga


Saat melakukan olah raga yang berat tanpa pemanasan sehingga terjadi cedera
olah raga yang menyebabkan fraktur

3.

Osteoporosis
Lebih sering terjadi pada wanita usia di atas 45 tahun karena terjadi perubahan
hormone menopause

4.

Malnutrisi
Pada orang yang malnutrisi terjadi deficit kalsium pada tulang sehingga tulang
rapuh dan sangat beresiko sekali terjadi fraktur

5.

Kecelakaan
Kecerobohan di tempat kerja biasa terjadi, yang dapat menyebabkan fraktur.
(Reeves, 2000)

C.

Patofisiologi Fraktur Vertebra


Menurut chairudin Rasjad (1998) menegaskan bahwa semua trauma tulang
belakang harus dianggap sebagai trauma yang hebat. Oleh karena itu, klien harus
diperlakukan secara hati hati saat pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit
dengan menggunakan transportasi. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai
jaringan lunak pada tulang belakang (ligamen dan diskus), tulang belakang dan sumsum
tulang belakang.
Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas, kecelakaan
olahraga, kecelakaan industri, kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan,
luka tusuk, luka tembak, trauma kerana tali pengaman (fraktur chance), kejatuhan benda
keras. Sebagian besar trauma tulang belakang yang mengenai tulang tidak disertai
kelainan pada sumsum tulang belakang disertai kelainan pada sumsum tulang belakang.
Mekanisme trauma yang terjadi pada trauma tulang belakang adalah:
a. Fleksi. Trauma terjadi akibat fleksi dan diserta dengan sedikit kompresi pada
vertebra. Vertebra mengalami tekanan berbentuk remuk yang dapat menyebabkan
kerusakan atau tanpa kerusakan ligamen posterior. Apabila terdapat kerusakan
ligamen posterior, fraktus bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi.
b. Fleksi dan rotasi. Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama sama
dengan rotasi. Pada trauma ini terdapat strain dan ligamen dan kapsul serta
ditemukan fraktur faset. Pada kejadian ini terjadi pergerakan ke depan atau dislokasi
vertebra diatasnya. Semua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil.
c. Kompresi vertikal (aksial). Trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra
akan menyebabkan kompresi aksial. Nukleus polposus akan memecahkan permukaan
serta badan vertebra secara vertikal. Material diskus akan masuk dalam badan
vertebra dan menyebabkan vertebra bisa menjadi rekah (pecah). Pada trauma jenis
ini elemen posterior masih utuh sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil.
d. Hiperekstensi atau retroekstensi. Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi
kombinasi distraksi dan ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra
servikalis dan jarang pada vertebra torakolumbalis. Ligammen anterior dan diskus

dapat mengalami kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini
biasanya bersifat stabil.
e. Fleksi lateral. Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan
menyebabkan fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra dan
sendi laser.
f.

Fraktur dislokasi. Trauma yang menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang


dan dislokasi pada tulang belakang.
Pada pasien dengan fraktur vertebra datang dengan nyeri tekan akut,

pembengkakan, spasme otot paravertebralis dan perubahan lengkungan normal atau


adanya gap antara prosesus spinosus. Nyeri akan memberat saat bergerak, batuk atau
pembebanan berat badan (Brunner dan Suddarth, 2001; 2387). Trauma pada sumsum
tulang belakang dapat terjadi perdarahan pada sumsum tulang belakang yang disebut
hematomiela. Gejala yang penting adalah tetap adanya sensibilitas di bawah trauma
(pinprick perianal). Gejala yang paling sering terjadi adalah sindrom sentral berupa
paralisis layu yang diikuti paralisis lower motor neuron anggota gerak atas dan paralisis
upper motor neuron (spastik) dari anggota gerak bawah disertai kontrol kandung kemih
dan sensibilitas perianal yang tetap baik. Trauma tulang belakang jika mengenai
vertebra torakolumbalis dapat terjadi paraplegi dan gangguan dalam menelan.

D.

Pathway

E.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik fraktur antara lain :
a.

Edema/pembengkakan

b.

Nyeri: spasme otot akibat reflek involunter pada otot, trauma langsung pada
jaringan, peningkatan tekanan pada saraf sensori, pergerakan pada daerah fraktur.

c.

Spasme otot: respon perlindungan terhadap injuri dan fraktur

d.

Deformitas

e.

Echimosis: ekstravasasi darah didalam jaringan subkutan

f.

Kehilangan fungsi

g.

Crepitasi: pada palpasi adanya udara pada jaringan akibat trauma terbuka

Manifestasi klinis fraktur vertebra pada torakal, antara lain:


a.

T1 : gangguang fungsi tangan T1-T8 : gangguan fungsi pengendalian otot


abdominal, gangguan stabilitas tubuh

b.
F.

T9-T12 : kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang tubuh

Komplikasi
Adapun komplikasi dari fraktur vertebra, antara lain:
1.

Syok
Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan
yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar akibat trauma.

2.

Mal union
Pada keadaan ini terjadi penyambungan fraktur yang tidak normal sehingga
menimbulkan deformitas. Gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek
menyebabkan mal union, selain itu infeksi dari jaringan lunak yang terjepit
diantara fragmen tulang, akhirnya ujung patahan dapat saling beradaptasi dan
membentuk sendi palsu dengan sedikit gerakan (non union) jugadapat
menyebabkan mal union.

3.

Non union
Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan tulang. Non
union dapat di bagi menjadi beberapa tipe, yaitu:
a.

Tipe I (Hypertrophic non union), tidak akan terjadi proses penyembuhan


fraktur dan diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan fibros yang masih

mempunyai potensi untuk union dengan melakukan koreksi fiksasi dan bone
grafting.
b.

Tipe II (atropic non union), disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis)


terdapat jaringan synovial sebagai kapsul sendi beserta ronga cairan yang
berisi cairan, proses union tidak akan tercapai walaupun dilakukan
imobilisasi lama.

Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi periosteum yang
luas, hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu imobilisasi yang
tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang (fraktur
patologis).Non union adalah jika tulang tidak menyambung dalam waktu 20
minggu. Hal ini diakibatkan oleh reduksi yang kurang memadai.
4.

Delayed union
Delayed union adalah penyembuhan fraktur yang terus berlangsung dalam waktu
lama atau lambat dari waktu proses penyembuhan fraktur secara normal. Pada
pemeriksaan radiografi tidak terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung fraktur.

5.

Tromboemboli, infeksi, koagulopati intravaskuler diseminata (KID)


Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau pada
saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat seperti
plate, paku pada fraktur.

6.

Emboli lemak
Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang
lebih tinggi dari tekanan kapiler. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit
dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil, yang
memasok ke otak, paru, ginjal, dan organ lain.

7.

Sindrom Kompartemen
Terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas maupun tungkai
bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini
disebut ischemi volkmann. Ini dapat terjadi pula pada pemasangan gips yang
terlalu ketat sehingga dapat mengganggu aliran darah dan terjadi edema didalam
otot.
Apabila iskhemi dalam 6 jam pertama tidak mendapatkan tindakan dapat
mengakibatkan kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan
jaringan fibros yang secara perlahan-lahan menjadi pendek dan disebut dengan
kontraktur volkmann.

Gejala klinisnya adalah 5 P yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness
(denyut nadi hilang) dan Paralisis.
8.

Cedera vascular dan kerusakan syaraf yang dapat menimbulkan iskemia, dan
gangguan syaraf. Keadaan ini diakibatkan oleh adanya injuri atau keadaan
penekanan syaraf karena pemasangan gips, balutan atau pemasangan traksi.

9.

Dekubitus
Terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips, oleh karena itu perlu
diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol.

G.

Pemeriksaan Diagnostik
1.

Pemeriksaan radiologi.
Sebagai penunjang,pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan
sinar Rongent (Sinar-X). Untuk mendapatkan gambaran tiga dimensi dari keadaan
dan kedudukan tulang yang sulit, kita memerlukan dua proyeksi, yaitu AP atau PA
dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) jika
ada indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari karena adanya
superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan sinar-X harus atas dasar indikasi
kegunaan.
Selain foto polos sinar- X (plane X-ray) mungkin diperlukan teknik khusus,
seperti hal hal berikut:
a. Tomografi, menggambarkan tidak hanya satu struktur saja, tetapi juga struktur
tertutup yang sulit divisualisasikan. Pada kasus ini ditemukan kerusakan
struktur yang kompleks, tidak hanya pada satu struktur saja, tetapi pada
struktur lain yang juga mengalami kerusakan.
b. Mielografi, menggambarkan cabang cabang saraf spinal dan pembuluh
darah di ruang tulang vertebra yang mengalami kerusakan akibnat trauma.
c. Artrografi, menggambarkan jaringan ikat yang rusak karena rudapaksa.
d. Computed Tomography Scanning, menggambarkan potongan secara
tranversal dari tulang tempat terdapatnya struktur tulang yang rusak.
pemeriksaan ini sifatnya membuat gambar vertebra menjadi 2 dimensi .
Pemeriksaan vertebra dilakukan dengan melihat irisan-irisan yang dihasilkan
CT scan.

2.

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang lazim digunakan untuk mengetahui lebih jauh
kelainan yang terjadi meliputi hal hal sebagai berikut:
a.

Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan


tulang.

b.

Fosfatase alkali meningkat pada saat kerusakan tulang dan menunjukkan


kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.

c.

Enzim otot seperti kreatinin kinase, laktat dehidrogenase (LDH 5),


aspartat amino transferase (AST), dan .. meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.

3.

Pemeriksaan Lain lain


Pada pemeriksaan kultur mikroorganisme dan tes sensitivitas didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi
a. Biopsi tulang dan otot: pada intinya, pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan di atas, tetapi lebih diindikasikan bila terjadi infeksi.
b. Elektromiografi: terdapat kerusakan konduksi saraf akibat fraktur.
c. Artroskopi: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma
yang berlebihan.
d. Indium imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
e. MRI: menggambarakan semua kerusakan akibat fraktur. Pemeriksaan ini
menggunakan gelombang frekuensiradio untuk memberikan informasi detail
mengenai jaringan lunak di aerah vertebra. Gambaran yang akan dihasilkan
adalah gambaran 3 dimensi . MRIsering digunakan untuk mengetahui
kerusakan jaringan lunak pada ligament dan diskus intervertebralis dan
menilai cedera medulla spinalis.

H.

Penatalaksanaan
Prinsip-prinsip penanganan fraktur vertebra antara lain:
1.
Immobilisasi
Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat kejadian/kecelakaan
sampai ke unit gawat darurat.. Yang pertama ialah immobilisasi dan stabilkan
leher dalam posisi normal dengan menggunakan cervical collar. Cegah agar leher
tidak terputar (rotation). Baringkan penderita dalam posisi terlentang (supine)
pada empat/alas yang keras. Pasien diangkat/dibawa dengan cara 4 men lift atau
menggunakan Robinsons orthopaedic stretcher.

a.

Stabilisasi Medis

b.

Periksa vital signs

c.

Pasang nasogastric tube

d.

Pasang kateter urin

e.

Segera normalkan vital signs. Pertahankan tekanan darah yang normal dan
perfusi jaringan yang baik. Berikan oksigen, monitor produksi urin, bila
perlu monitor AGD (analisa gas darah), dan periksa apa ada neurogenic
shock.

2.

Mempertahankan posisi normal Vertebra (Spinal Alignment)


Bila terdapat fraktur servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield tong atau
Gardner-Wells tong dengan beban 2.5 kg perdiskus. Bila terjadi dislokasi traksi
diberikan dengan beban yang lebih ringan, beban ditambah setiap 15 menit
sampai terjadi reduksi.

3.

Rehabilitasi.
Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini mungkin. Termasuk dalam program ini
adalah bladder trainin, bowel training, latihan otot pernafasan, pencapaian
optimal fungsi fungsi neurologik dan program kursi roda bagi penderita
paraparesis/paraplegia.

I.

Pengkajian Primer
1. Respon
Cek respon, dengan memanggil nama klien, menggoyangkan badan, dan member
rangsang nyeri.
2. Airways
a. Bagaimana jalan nafas, bisa berbicara secara bebas
b. Adakah sumbatan jalan nafas (darah, lendir, makanan, sputum)
3. Breathing
a. Bagaimana frekuensi pernafasan, teratur atau tidak, kedalamannya
b. Adakah sesak nafas, bagaimana bunyi nafas
c. Apakah menggunakan otot tambahan
d. Apakah ada reflek batuk
4. Circulation
a. Bagaimana nadi, frekuensi, teratur atau tidak, lemah atau kuat Berapa tekanan
darah
b. Akral dingin atau hangat, capillary refill < 3 detik atau > 3 detik, warna
kulit, produksi urin

J.

Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan fisik:
1. Keadaan umum

2. Kepala : bagaimana bentuk kepala, rambut mudah dicabut/tidak, kulit kepala


bersih/tidak
3. Mata : konjungtiva anemis +/-, sclera icterik +/-, besar pupil, refleks cahaya
+/4. Hidung :bentuk simetris atau tidak, discharge +/-, pembauan baik atau tidak.
5. Telinga : simetris atau tidak, discharge +/6. Mulut : sianotik +/-, lembab/kering, gigi caries +/7. Leher : pembengkakan +/-, pergeseran trakea +/8. Dada
a. Paru
Inspeksi : simetris atau tidak, jejas +/-, retraksi intercostal
Palpasi : fremitus kanan dan kiri sama atau tidak
Perkusi : sonor +/-, hipersonor +/-, pekak +/Auskultasi : vesikuler +/-, ronchi +/-, wheezing +/-, crekles +/
b. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tampak atau tidak
Palpasi : dimana ictus cordis teraba
Perkusi : pekak +/Auskultasi : bagaimana BJ I dan II, gallops +/-, mur-mur +/9. Abdomen
Inspeksi : datar +/-, distensi abdomen +/-, ada jejas +/Auskultasi : bising usus +/-, berapa kali permenit
Palpasi : pembesaran hepar / lien
Perkusi : timpani +/-, pekak +/9. Genetalia : bersih atau ada tanda tanda infeksi
10. Ekstremitas :
a. Adakah perubahan bentuk: pembengkakan, deformitas, nyeri, pemendekan
tulang, krepitasi
b. Adakah nadi pada bagian distal fraktur, lemah/kuat
c. Adakah keterbatasan/kehilangan pergerakan
d. Adakah spasme otot, ksemutan
e. Adakah sensasi terhadap nyeri pada bagian distal fraktur
f. Adakah luka, berapa luasnya, adakah jaringan/tulang yang keluar
11. Psikologis :
a. Cemas
b. Denial
c. Depresi
K.

Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler

L.
No.

Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan NOC


NIC
Rasional
1. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan 1. Pertahankan jalan nafas; posisi 1. Pasien dengan cedera vertebra
berhubungan
kelumpuhan
diafragma

dengan keperawatan,
otot menjadi

pola

efektif

napas

kepala tanpa gerak.

dengan 2. Berikan oksigen dengan cara

kriteria hasil:

yang tepat

a. Respiratory

status
status

untuk

mencegah

aspirasi/

mempertahankan jalan nafas.

: 3. Lakukan penghisapan lendir bila 2. Jika

Ventilation
b. Respiratory

akan membutuhkan bantuan

batuk

tidak

efektif,

perlu, catat jumlah, jenis dan

penghisapan dibutuhkan untuk

karakteristik sekret.

mengeluarkan

Airway patency

4. Kaji fungsi pernapasan.

mengurangi

c. Vital sign Status

5. Auskultasi suara napas.

pernapasan.

Dengan kriteria hasil:

6. Observasi warna kulit.

a. Mendemonstrasikan

7. Lakukan pengukuran kapasitas

3. Trauma

sekret,
resiko

dan
infeksi

pada

menyebabkan

C5-6
hilangnya

batuk efektif dan suara

vital, volume tidal dan kekuatan

fungsi

nafas yang bersih, tidak

pernapasan.

partial, karena otot pernapasan

ada sianosis dan dyspneu 8. Pantau analisa gas darah.


(mampu

mengeluarkan 9. Kaji tanda-tanda vital

pernapasan

secara

mengalami kelumpuhan.
4. Hipoventilasi biasanya terjadi

sputum, mampu bernafas

atau menyebabkan akumulasi

dengan mudah, tidak ada

sekret

yang

berakibat

pursed lips)

pnemonia.

b. Menunjukkan jalan nafas

5. Menggambarkan

adanya

yang paten (klien tidak

kegagalan pernapasan yang

merasa tercekik, irama

memerlukan tindakan segera.

nafas,

frekuensi

6. Menentukan fungsi otot-otot

pernafasan dalam rentang

pernapasan. Pengkajian terus

normal, tidak ada suara

menerus

nafas abnormal)

adanya kegagalan pernapasan.

c. Tanda Tanda vital dalam

7. Untuk

untuk

mendeteksi

mengetahui

adanya

rentang normal (tekanan

kelainan fungsi pertukaran gas

darah, nadi, pernafasan

sebagai contoh : hiperventilasi


PaO2

rendah

dan

PaCO2

meningkat.
8. Memaksimalkan
2. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan,
dengan agen injuri fisik: nyeri akut berkurang dengan
reflek

spasme

terhadap fraktur

otot kriteria hasil:


Pain level, pain control dan

oksigen
1. Kaji karakteristik nyeri yang 1. Untuk
dialami klien
2. Observasi

ketidak

suplai
mengevaluasi

efektivitas nyeri
nyamanan 2. Untuk

non verbal terhadap nyeri

mengetahui

pasien terhadap nyeri

respon

comfort level dengan criteria:


a.

c.

lingkungan

yang 3. Memberikan

Menggunakan

skala

nyeri

untuk

4. Kolaborasi pemberian analgetik

mengidentifikasi

nyeri

untuk mengurangi rasa nyeri

yang dirasakan
b.

3. Ciptakan

nyaman untuk klien

intervensi

yang

Mendiskripsikan

cara

dapat

4. Mengurangi rasa nyeri

untuk mengatasi nyeri

nyeri

dan

ketidaknyamanan

manajemen nyeri

6. Kaji tipe dan sumber nyeri

Mengungkapkan

7. Monitor

ttv

cara

mengurangi sensasi nyeri

5. Ajarkan tehnik nonfarmakologi 5. Mengatasi

kemampuan tidur dan

6. Agar dapat mencegah dan

sebelum

dan

sesudah pemberian analgetik

istirahat
d.

berbagai

menghilangkan

penyebab

nyeri
7. Mengetahui adanya perubahan

Mendiskripsikan

terapi

pada

non farmakologi untuk

tanda-tanda

vital

terhadap respon nyeri

mengontrol nyeri
e. TTV dalam batas normal
3. Kerusakan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi
berhubungan

dengan keperawatan, mobilitas fisik

kerusakan neuromuskuler baik dengan kriteria hasil:


a. Mampu

meminta

bantuan untuk mobilisasi

klien

terhadap 1. Menilai

kelemahan
2. Ajarkan

kemampuan

anggotagerak klien
untuk

melakukan 2. Mengoptimalkan

anggota

latihan tentang gerak aktif pada

gerak yang sehat, mencegah

anggota

penurunan

gerak

yang

sehat

perfusi

jaringan

sesuai kebutuhan

sedikitnya 4x sehari.

anggota gerak yang sehat.

b. Mampu memaksimalkan 3. Posisikan tubuh untuk mencegah 3. Mencegah komplikasi


fungsi ekstrimitas yang

komplikasi, ubah posisi tiap 2-4 4. Membantu mobilisasi secara

sehat.

jam.

mandiri.

4. Ajarkan penggunaan alat bantu 5. Mencegah


yang sesuai.
5. Ajarkan
tindakan

individu

injuri

karena

kerusakan mobilitas fisik.


melakukan 6. Meningkatkan
kewaspadaan

keamanan.
6. Kolaborasi untuk fisioterapi.

kemampuan

mobilitas secara bertahap.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 3.
Jakarta : EGC
Mansjoer,Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta:Media
Aesculapius.
McCloskey&Bulechek. 2004. Nursing Intervention Classification : Fourth
Edition. Mosby : USA
Moorhead,

Johnson,

L.Maas,

&

Swanson.

2008.

Nursing

Outcomes

Classification: Fourth Edition. Mosby : USA


Mursada.

2011.

Laporan

Pendahuluan

Fraktur

Vertebra.

www.scribd.com./doc/60966817/Laporan-Pendahuluan-Fraktur-Vertebra
(Akses:10 Juni 2013)
Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika.
NANDA. 2009-2011. Nursing Diagnosis : definitions and Classification.
Philadephia : USA
Potter, & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Vol. 1. Jakarta :
EGC
Price, Sylvia. 2003. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6.
Jakarta: EGC
Priharjo, Robert. 2006. Pengkajian Fisik Keperawatan Edisi 2. Jakarta : EGC